← Daftar isi Ratapan · bab 1/4

PENDAHULUAN RATAPAN PERTAMA— SUATU RATAPAN ATAS PERUSAKAN KOTA KUDUS,

DAN

RATAPAN KEDUA—

SUATU RATAPAN ATAS PENGHANCURAN KOTA KUDUS

Pembacaan Alkitab: Rat. 1—2

Dalam berita ini pertama-tama kita akan memberikan satu kata pendahuluan untuk pelajaran-hayat Ratapan kita, dan kemudian kita akan memperhatikan ratapan pertama dan kedua.

I. PENDAHULUAN

A. Penulis—Yeremia

Penulis kitab Ratapan adalah Yeremia, nabi yang menangis dan meratap (cf. 2 Taw. 35:25).

B. Subyek

Subyek Ratapan adalah ekspresi penderitaan dan kasih Yeremiaa atas kota kudus dan tempat kudus Allah.

C. Isi

Isi kitab Ratapan ada lima ratapan penderitaan dan kasih.

D. Bagian-bagian

Kitab Ratapan memiliki lima bagian: suatu ratapan atas perusakan kota kudus (ps. 1); suatu ratapan atas penghancuran kota kudus (ps. 2); suatu ratapan atas penderitaan nabi merasakan hukuman umatnya (ps. 3); suatu ratapan atas umat yang dihukum (ps. 4); dan suatu ratapan sebagai satu doa bagi umat kudus sebagai kesimpulan empat ratapan (ps. 5).

Ini adalah sulit untuk mendapatkan sesuatu di dalam Ratapan yang berhubungan dengan ekonomi Allah. Ratapan 3:22-25 melibatkan ekonomi Allah, meskipun tidak secara terarah tetapi secara langsung melalui rahmat Allah. Menurut urusan Allah dengan Israel. Israel seharusnya telah dihabisi. Tetapi Yeremia berkata, "Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, / Tak habis-habisnya rahmat-Nya" (ay. 22). Israel jatuh, tetapi rahmat Allah tidak jatuh. Karena rahmat Allah menjaga sisa Israel di atas bumi untuk melaksanakan ekonomi Allah, kita tidak berani mengatakan bahwa Ratapan tidak memiliki hubungan dengan ekonomi Allah. Namun, ada sedikit yang berhubungan dengan ekonomi Allah.

Allah dipercayai di dalam Yeremia sampai akhirnya. Yeremia sangat setia kepada Allah, tetapi antara Allah dan Yeremia ada beberapa ketidaksesuaian, beberapa perbedaan. Kita mungkin berkata bahwa ada beberapa perselisihan di antara mereka. Kita melihat ketidaksesuaian ini di dalam reaksi Yeremia terhadap penghukuman Allah atas Israel.

Allah murka dan marah atas Israel dan datang untuk memberitahu Yeremia bahwa Dia akan menghakimi umat ini sampai puncaknya. Ketika Yeremia mendengar dengan mendetail mengenai urusan pemerintahan Allah dengan Israel, dia mulai agak berselisih dengan Allah. Dia berpikir bahwa Allah melaksanakan penghukuman-Nya. Sebab alasan ini, dalam Yeremia 15:10 Yeremia memiliki kekuatan untuk mengatakan, "Celaka aku, ya ibuku, bahwa engkau melahirkan aku, / Seorang yang menjadi buah perbantahan dan buah percederaan bagi seluruh negeri." Ini menunjukkan bahwa dia tidak bahagia tentang nubuat bahwa Allah menginginkan dia berbicara. Maka, berdasarkan dirinya dalam satu dilema. Pada satu pihak, Yehova menekan Yeremia untuk bernubuat mengenai penghancuran Israel, dan Yeremia merasa bahwa penderitaan Israel adalah sangat berat. Di pihak lain, umat yang tersisa jahat, dan mereka bahkan mulai menganiaya Yeremia. Ini meletakkan Yeremia ke dalam satu dilema.

Akhirnya, Allah melaksanakan penghukuman-Nya. Dia menghancurkan Yerusalem, membakar bait, mengutus raja ke dalam pembuangan, dan menghancurkan seluruh negeri. Yeremia melihat semua hal ini terjadi di hadapan matanya. Semua hal ini—pengrusakan, penghancuran, pencemaran, penawanan, dan keruntuhan—teringat secara jelas dalam ingatan dari penderitaan dan simpatik nabi ini. Oleh kekuasaan Allah, Yeremia bebas dari penawanan. Sejarah memberitahu kita bahwa Yeremia duduk di satu bukit memandang Yerusalem, melihat semua keruntuhan-keruntuhan di bawah. Dia mulai menangis, dan dia tidak dapat menghindari menulis perasaan-perasaannya. Lima ratapan pertama, ditulis dengan cara yang baik (bersama dengan empat ratapan pertama mengikuti urutan abjad Ibrani), di mana mengekspresikan perasaannya yang menderita, menyedihkan, dan simpati mengenai umat kudus, negeri kudus, kota kudus, tempat kudus, dan bejana-bejana kudus Allah.

Kita mengetahui dari kitab Yeremia bahwa Yeremia, seorang nabi yang baik dan setia, yang dianiaya. Dia dianiaya sampai suatu tingkat tertentu sehingga dia berdoa, “Biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka” (Yer. 11:20; 20:12). Ini adalah kebalikan dengan pengajaran Perjanjian Baru, yang memberitahu kita untuk mengasihi musuh kita dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (Mat. 5:44). Maka, tidak peduli betapa baik dan setianya Yeremia, dia masih insani. Ketika dia berjalan di bukit di atas Yerusalem, semakin banyak melihat perusakan itu, semakin banyak air matanya mengalir dan semakin banyak meratap. Kemudian dia menulis ratapan-ratapannya.

Mari kita sekarang memperhatikan, gambaran singkat, dua ratapan yang pertama.

II. RATAPAN PERTAMA—SUATU RATAPAN ATAS PENGRUSAKAN KOTA KUDUS

A. Keadaannya yang Sulit

Di dalam pengrusakannya, kota kudus berada dalam keadaan yang sulit (1:1-11). Dia tidak memiliki kesenangan, perhentian, atau padang rumput (ay. 2-3, 6, 9) karena pelanggaran-pelanggran, dosa-dosa, kotor, dan najis (ay. 5, 8-9).

B. Dia Memohon Simpati dari Orang yang Lewat

Ayat 12 sampai 19 membicarakan dia memohon simpati dari orang yang lewat. Keadaannya yang menyedihkan (ay. 13-17) karena dia memberontak melawan perintah Yehova, yang adalah benar (ay. 18).

C. Doanya kepada Yehova

Ayat 20 sampai 22 adalah doanya kepada Yehova. Dalam ayat 20 dan 21a dia meminta Dia untuk melihat dia dalam keadaan yang sukar. Kemudian dalam 21b dan 22 dia menanyakan Dia untuk menanggulangi mereka yang tidak menyenangkannya.

III. RATAPAN KEDUA—SUATU RATAPAN ATAS PENGHANCURAN KOTA KUDUS

A. Yehova Tuhan atas Pengrusakan Kota Kudus

Dalam 2:1-10 kita memiliki firman mengenai Yehova Tuhan atas pengrusakan kota kudus. Pengrusakan ini adalah dalam awan murka-Nya, dalam kemarahan murka-Nya (ay. 1-2, 6). Pengrusakan itu termasuk bait, mezbah, raja-raja, imam-imama, pengeran-pangeran, nabi-nabi,dan tua-tua (ay. 6-7, 9-10).

B. Ratapan Nabi

Ayat 11 sampai 19 adala ratapan nabi. Dalam ayat 11 sampai 12 kita mendapati nabi menangis dan perasaan batinnya pedih karena penderitaan umatnya; dalam 13 dan 14, “penyakit” yang serius dari umat Yerusalem; dalam ayat 15 dan 16, bersuit-suit dan penghinaan orang yang lewat; dan dalam ayat 17, penggenapan perintah penghukuman Yehova. Kemudian ayat 18 dan 19 memberitahu perlu berteriak pada Tuhan dengan air mata yang senantiasa mengalir dan dengan tangan yang diangkat kepada Tuhan.

C. Doanya kepada Yehova

Tiga ayat terakhir dari ratapan ini adalah doanya kepada Yehova. Dia memohon Dia melihat pembantaiannya (ay. 20a) dan pembunuhannya yang dilaluinya (ay. 20b-22).