TELADAN-TELADAN
Pembacaan Alkitab:
Luk. 1:39-45, 46-55
Doa: Tuhan, betapa kami berterima kasih kepada-Mu karena setiap kali kami datang kepada Firman-Mu, kami bertemu Engkau di hadirat-Mu. Kami sepenuhnya memustikakan kehadiran-Mu. Tuhan, kami berterima kasih karena Engkau telah mengumpulkan kami dalam nama-Mu. Kami menyembah Engkau karena nama-Mu begitu almuhit, agung, tinggi, dan kaya. Kami menyembunyikan diri kami dan tetap menjaga diri kami dalam nama ini. Tuhan, bukalah rahasia-rahasia Firman-Mu agar kami dapat belajar bagaimana bernubuat sehingga gereja-gereja dapat terbangun. Kalahkanlah si musuh pada hari-hari ini. Engkau sedang bekerja dan terus bekerja dengan kami. Kami damba melihat kekalahan musuh. Permalukan dia, bahkan remukkan dia di bawah kaki kami. Tuhan, bersertalah dengan kami dalam sidang ini dengan penuh kemenangan, dan naungilah kami dengan darah-Mu yang menang. Amin.
Seperti telah kita lihat pada berita sebelumnya, bernubuat adalah berbicara bagi Tuhan dan berbicara menyampaikan Tuhan. Pada tahun 1937 Saudara Nee melihat wahyu dalam 1 Korintus 14 mengenai semua orang kudus bernubuat dalam sidang gereja. Pada sari berita yang diterbitkan dalam Church Affairs, dia mengutuk praktek satu orang berbicara kepada jemaat sementara semua orang lainnya mendengarkan. Ia menyebutnya sebagai suatu tradisi menurut adat istiadat bangsa-bangsa (2 Raj. 17:8). Dia mendorong semua gereja mempraktekkan 1 Korintus 14:26 bilamana mereka berkumpul bersama. Satu Korintus 14:26 mengatakan, "Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan...." Bilamana kita berkumpul, masing-masing seharusnya memiliki sesuatu. Saudara Nee memberi tahu bahwa kita perlu mengganti "pelayanan" Minggu pagi tradisional itu dengan sesuatu yang lain, tetapi pada saat itu kami tidak menemukan jalan untuk melakukannya. Kami mulai mengadakan sidang-sidang yang terpisah dengan saudara-saudara dalam gereja pada hari Sabtu pagi untuk mendorong mereka belajar bagaimana berbicara. Dalam sidang itu tidak ada pemimpin yang telah ditentukan untuk memilih kidung atau mempersembahkan doa; sidang itu terbuka bagi setiap orang. Tetapi cara sidang seperti itu tidak berhasil, sehingga akhirnya kami menghentikannya.
Pemulihan Tuhan sampai ke Amerika pada tahun 1962, tetapi saat itu kami masih tidak jelas mengenai perkara bernubuat dalam sidang-sidang. Sampai tahun 1970 barulah praktek bernubuat mulai dipulihkan. Pada saat itu sidang-sidang dalam pemulihan Tuhan membubung tinggi. Sejak saat itu, perkara bernubuat sesuai dengan Alkitab menjadi jelas bagi kami. Tetapi kami masih belum mempraktekkannya secara memadai.
DUA TELADAN BERNUBUAT
Lukas 1:39-45 dan 46-55 menggambarkan dua teladan bernubuat—nubuat Elisabet dan nubuat Maria. Pada zaman Lukas 1, orang-orang kudus masih berada dalam atmosfir Perjanjian Lama: Yesus belum dilahirkan, murid-murid Tuhan belum dipilih, dan tidak ada kaum beriman Perjanjian Baru. Namun pada zaman itu ada dua teladan yang sangat baik mengenai bernubuat. Banyak di antara kita tidak bisa mencapai standar nubuat Elisabet dan nubuat Maria yang begitu tinggi. Elisabet dan Maria belum masuk ke dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah. Sebagai keturunan orang kudus Perjanjian Lama, mereka masih berada dalam atmosfir Perjanjian Lama, tetapi mereka bernubuat dengan standar tinggi. Kita semua seharusnya merasa malu.
Pemulihan Tuhan telah ada di negara ini selama hampir dua puluh delapan tahun, dan Tuhan telah melepaskan banyak firman-Nya kepada kita, khususnya dalam enam belas tahun belakangan ini. Banyak butir yang telah dilepaskan itu merupakan sesuatu yang baru bagi orang-orang Kristen, seperti ekonomi Perjanjian Baru Allah, dispensi ilahi dari Trinitas ilahi, perbauran keilahian dengan keinsanian, dan Roh itu sebagai perampungan Allah Tritunggal. Kita telah mendengar butir-butir tersebut berkali-kali, tetapi doa dan puji-pujian kita masih tradisional dan usang. Butir-butir dari fakta-fakta ilahi itu belum dibawa masuk ke dalam pembicaraan kita, dan kita jarang mendengar hal-hal tersebut dalam doa dan pelayanan kita. Karena itu, kami terpaksa masih menerbitkan buku-buku yang berisi "ABC", hal-hal yang mendasar dari Firman kudus. Tetapi, isi dari teladan nubuat dalam Lukas 1 tidaklah bersifat mendasar.
TELADAN NUBUAT ELISABET
Hidup dalam Hadirat Allah dan dalam Persekutuan dengan Tuhan
Teladan nubuat Elisabet terlihat dalam Lukas 1:39-45. Isi dari ketujuh ayat itu menunjukkan bahwa Elisabet, ibu Yohanes Pembaptis, hidup dalam hadirat Allah dan dalam persekutuan dengan Tuhan, dalam komunikasi yang konstan dan berkesinambungan dengan Tuhan. Tanpa hidup dalam hadirat Allah dan dalam persekutuan dengan Tuhan, tidak seorang pun dapat mengutarakan suatu pujian dan berkat yang seperti itu, disertai suatu nubuat yang berisi ramalan. Elisabet adalah seorang yang sudah siap berbicara bagi Tuhan. Ketika Maria datang dan memberi salam kepadanya, bayi Elisabet melonjak di dalam kandungannya, dan dia mulai bernubuat. Jika dia belum siap berbicara bagi Tuhan, dia hanya akan mengucapkan beberapa perkataan alamiah.
Karena Elisabet hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, tidaklah mungkin dia dapat berbicara secara sembarangan atau bergosip. Tetapi dalam kehidupan gereja hari ini ada banyak gosip, khususnya di telepon. Ada yang mengatakan bahwa mereka terlalu sibuk dan lelah untuk berdoa, namun mereka mampu menghabiskan banyak waktu untuk bergosip di telepon. Beberapa menyatakan bahwa mereka tidak memiliki waktu dua puluh menit untuk mengunjungi orang-orang guna memberi mereka makan dengan Kristus, tetapi mereka sepertinya memiliki cukup waktu untuk bergosip. Alasan bahwa banyak orang kudus tidak dapat bernubuat di dalam sidang adalah karena mereka telah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bergosip. Bahkan bertengkar sebentar dengan pasangan kita dapat menahan kita dari bernubuat dalam sidang-sidang selama beberapa hari.
Roma 6:19 mengatakan, "Sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan." Banyak di antara kita yang perlu membuat keputusan untuk mempersembahkan lidah dan bibir kita kepada Tuhan, disertai suatu ikrar untuk membicarakan Dia dan berhenti bergosip. Ikrar sedemikian akan melepaskan kita dari gosip. Bilamana perkataan gosip hendak keluar dari mulut kita, kita akan ingat bahwa mulut kita sudah diserahkan kepada Tuhan untuk membicarakan Dia. Jika kita bisa menghentikan gosip dengan cara yang demikian, maka tidak hanya kita tetapi juga seluruh gereja akan dipulihkan. Jika gosip dalam semua gereja dapat dihentikan, semua gereja akan dipulihkan.
Memiliki Pengetahuan Rohani dan Perhatian terhadap Pergerakan Tuhan
Nubuat Elisabet juga dengan jelas menunjukkan bahwa dia memiliki banyak pengetahuan rohani. Semua perkataan dan ekspresinya sangatlah rohani. Dia juga memiliki perhatian yang sungguh-sungguh terhadap pergerakan Tuhan. Dia begitu memperhatikan pergerakan Tuhan di bumi pada zamannya sehingga dia tidak memperhatikan kesehatannya sendiri. Ketika bayi di dalam rahimnya melonjak (Luk. 1:44), dia tidak memperhatikan kesehatannya atau kehamilannya. Sebaliknya, dia sepenuhnya memperhatikan kepentingan Tuhan.
Jika kita akan bernubuat dalam sidang-sidang gereja, kita harus mendapatkan banyak pengetahuan rohani dan menggunakan banyak istilah rohani, kita juga harus memiliki perhatian yang cukup terhadap pergerakan Tuhan hari ini. Ketika kita datang ke sidang Hari Tuhan di pagi hari, kita mungkin tidak memiliki sesuatu untuk dibicarakan sebab perhatian kita bukan untuk kepentingan Tuhan melainkan untuk keamanan dan kesehatan diri kita. Ketika kita datang ke sidang, seharusnya tidak ada sesuatupun dari bumi ini yang masih melekat di dalam kita. Kita harus datang dengan suatu perhatian terhadap pergerakan Tuhan, kepentingan-Nya, dan kerajaan-Nya. Jika kita melakukan hal ini, kita pasti memiliki sesuatu untuk dibicarakan.
Digerakkan Di dalam Rohnya oleh Salam Maria
Ketika Elisabet mendengar salam dari Maria dan bayi yang di dalam rahimnya melonjak, dia digerakkan di dalam rohnya (ay. 41, 44). Terbukti dari pengutaraan dan ekspresinya bahwa dia ada di dalam roh, bukan di dalam pikiran. Jika tidak berada di dalam rohnya, dia akan mengatakan sesuatu dari pikirannya atau menunjukkan emosinya. Tetapi dia berkata, "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahim-mu!" Ekspresi berkat sedemikian memperlihatkan bahwa Elisabet sepenuhnya berada di dalam roh, tidak memperhatikan hal-hal dari pikiran.
Menerima Inspirasi yang Seketika dari Roh Kudus
dan Memiliki Pengutaraan melalui Melatih Rohnya
Digerakkan di dalam rohnya, dengan segera Elisabet menerima inspirasi yang seketika dari Roh Kudus (ay. 41b), dan dia memiliki pengutaraan melalui melatih rohnya (ay. 42a). Ayat 42 mengatakan, "Lalu berseru dengan suara nyaring." Berbicara secara lantang seperti itu adalah untuk melatih roh. Dalam sidang-sidang, saudara saudari sering kali berbicara tidak dengan penuh keberanian, mereka tidak berbicara secara lantang dengan melatih roh. Berbicara tanpa melatih roh membawa maut kepada diri sendiri dan kepada mereka yang mendengarkan kita. Saat berbicara bagi Tuhan, kita perlu mengesampingkan diri kita dan berbicara secara lantang dengan melatih roh kita.
Memberkati Maria
Dalam nubuat Elisabet, dia memberkati Maria yang datang kepadanya. Ayat 42 mengatakan, "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu!" Buah rahim Maria adalah Kristus. Alkitab memberi tahu kita bahwa Kristus adalah benih (Kej. 3:15; 17:8; Gal. 3:16), tunas/taruk (Yes. 11:10; 53:2; Why. 5:5; 22:16), pohon (Yoh. 15:1; Why. 2:7; 22:2), dan ranting (Yes. 4:2; Yer. 23:5); tetapi tanpa berkat Elisabet, kita tidak akan tahu bahwa Kristus juga adalah buah; kita akan kekurangan salah satu dari gambaran yang menggambarkan apakah Kristus itu. Nubuat Elisabet merupakan satu-satunya bagian dalam Firman yang memberi tahu kita bahwa Kristus adalah buah, melengkapi gambaran mengenai Kristus. Dialah benih, tunas, pohon, ranting, dan buah. Benih, tunas, pohon, dan ranting, semuanya adalah untuk buah.
Berkat Elisabet kepada Maria menyiratkan sesuatu yang luar biasa. Bagi Elisabet untuk mengatakan, "Diberkatilah buah rahimmu!" bukanlah suatu pengutaraan yang biasa. Maria datang kepada Elisabet pada bulan keenam kehamilan Elisabet, segera setelah Maria mengandung (ay. 26, 39-40). Dia menyadari bahwa Maria sedang mengandung dan bahwa buah rahimnya adalah Kristus. Ini menunjukkan bahwa Elisabet sudah mengetahui lebih dulu. Jadi pembicaraannya mengenai Kristus sebagai buah rahim Maria adalah suatu nubuat yang berisi ramalan.
Elisabet juga memberkati Maria dengan mengatakan, "Dan berbahagialah ia, yang telah percaya" (ay. 45a). Ini juga merupakan pengenalan Elisabet terhadap iman Maria kepada Tuhan. Memberkati Maria secara demikian menunjukkan bahwa Elisabet memiliki penglihatan di bawah terang ilahi mengenai situasi Maria.
Mengenal Perbuatan Tuhan
Dengan melatih roh, Elisabet dapat mengenal perbuatan Tuhan. Dalam ayat 43 dia mengatakan, "Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?" Elisabet menyadari bahwa bayi di dalam rahim Maria adalah Tuhannya, Kristus, buah yang unik untuk memberi makan umat manusia. Ini pasti terjadi melalui suatu wahyu atau visi rohani. Untuk menyusun suatu nubuat yang tepat, kita harus memiliki penglihatan di bawah terang ilahi guna mengetahui situasi dan lingkungan tempat kita berada. Tanpa penglihatan di bawah terang ilahi yang demikian, Elisabet tidak akan mengenal bahwa bayi di dalam rahim Maria adalah Kristus sebagai Tuhan dan sebagai buah yang unik untuk memberi makan umat manusia. Sebaliknya dia mungkin bertanya, "Bagaimanakah keadaanmu? Apa yang terjadi padamu?" Sebenarnya, menanyakan keadaan seseorang mengindikasikan bahwa kita berada dalam kegelapan karena tidak mengetahui situasi mereka. Jika kita berada di bawah terang dan memiliki penglihatan untuk melihat mereka melalui lingkungan, maka kita akan tahu situasi dari masing-masing orang tersebut. Kita memberi seorang saudara salam dengan mengatakan, "Saudara, saya tahu bahwa Anda sedang bermasalah." Perkataan seperti itu akan menunjukkan kepada saudara tersebut bahwa seseorang mengetahui situasinya dan hal itu akan menjadi penghiburan yang sejati bagi dia. Untuk bernubuat, kita perlu penyingkapan rohani sedemikian. Melalui penyingkapan demikian, kita akan tahu situasi kita, situasi orang-orang kudus dan gereja, situasi orang-orang sekitar kita, dan bahkan situasi dunia dan negara tempat kita berada. Kita perlu menjadi orang-orang yang memiliki penglihatan batin semacam ini terhadap lingkungan sekitar kita. Hal ini akan membantu kita untuk bernubuat.
Meramalkan Penggenapan
dari Hal-hal yang Dikatakan oleh Malaikat kepada Maria,
untuk Menegaskan Hal-hal itu
Dalam ayat 45, Elisabet berkata mengenai Maria, "Sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." Dengan melatih roh, Elisabet memiliki pengutaraan untuk meramalkan penggenapan dari hal-hal yang dikatakan oleh malaikat kepada Maria dalam ayat 30-37, untuk menegaskan hal-hal itu. Penglihatan batin Elisabet membantu dia untuk menegaskan, dengan meramalkan penggenapan hal-hal yang telah dikatakan Tuhan kepada Maria melalui malaikat.
Dengan membaca nubuat Elisabet, kita dapat melihat orang macam apakah dia itu. Nubuatnya mengandung semua unsur nubuat yang tepat.
TELADAN NUBUAT MARIA
Nubuat Maria dalam Lukas 1:46-55 lebih dalam dan lebih tinggi daripada nubuat Elisabet. Walaupun Elisabet lebih tua dan lebih berpengalaman dari Maria, bobot rohani dalam pembicaraan Maria lebih tinggi dan lebih dalam.
Pertama-tama Rohnya Melonjak dalam Allah Juruselamatnya,
Kemudian Jiwanya Memperbesar Tuhan
Dalam ayat 46-47 Maria mengatakan, "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku. (Jiwaku memperbesar Tuhan, dan rohku melonjak dalam Allah Juruselamatku—Tl.)." Bentuk kata kerja (tenses) yang digunakan dalam kalimat ini menunjukkan bahwa pertama-tama roh Maria melonjak dalam Allah Juruselamatnya; kemudian jiwanya mengikuti untuk memperbesar Tuhan. Melonjak itu bukan sekadar bergembira atau bersuka cita tetapi lebih dari itu. Melonjak adalah bergembira dengan sorak-sorai dan penuh gairah. Memperbesar Tuhan adalah memperlihatkan atau mendeklarasikan bahwa Tuhan adalah agung, mulia, atau terpuji. Ekspresi puitis Maria menunjukkan bahwa dia memiliki pengalaman rohani yang tepat.
Pengutaraan Nubuat Maria
Berdasarkan Pengetahuannya akan Kitab Suci--
Tersusun dari Kutipan-kutipan dari Perjanjian Lama
Pengutaraan nubuat Maria pertama-tama berdasar pada pengetahuannya akan Kitab Suci. Seluruh nubuatnya tersusun dari kutipan-kutipan dari Perjanjian Lama. Melalui hal ini kita dapat melihat bahwa Maria sebagai seorang wanita muda yang sangat mengenal Perjanjian Lama. Maria adalah persona yang tepat, bejana yang tepat, yang dipilih oleh Allah untuk menjadi saluran bagi inkarnasi Juruselamat. Pada zaman dahulu, pendidikan perempuan tidak setinggi laki-laki. Tetapi, walaupun Maria dan Elisabet adalah perempuan, keduanya telah memperoleh banyak pengetahuan dari Perjanjian Lama.
Saya berharap bahwa beberapa, khususnya orang-orang muda, akan menyusun suatu pujian atau doa dengan mengutip seluruh istilah khusus dari ministri masa kini dalam pemulihan Tuhan seperti "ekonomi Perjanjian Baru Allah", "imamat injil Perjanjian Baru", "dispensi ilahi dari Trinitas ilahi", dan "perbauran antara keilahian dengan keinsanian". Untuk melakukan hal-hal itu, kita harus mengenal dengan baik seluruh istilah rohani tersebut. Banyak orang Kristen dapat menyanyikan lagu-lagu mengenai kebaikan dan belas kasih Allah, tetapi siapa yang dapat menyusun suatu lagu mengenai imamat injil Perjanjian Baru Allah untuk menggenapkan ekonomi Perjanjian Baru-Nya? Kebaikan dan belas kasih Allah merupakan perkara-perkara dasar, imamat injil Perjanjian Baru Allah untuk menggenapkan ekonomi Perjanjian Baru-Nya jauh lebih tinggi.
Berdasarkan Pengetahuan dan Pengalamannya terhadap Allah
Pengutaraan nubuat Maria juga berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya terhadap Allah, yaitu mengenai apa yang telah Allah lakukan di atas dia dan bagi dia. Ayat 48-50 mengacu kepada penanggulangan Allah terhadap Maria secara pribadi dan khusus. Dalam ayat 48, Maria mengatakan, "Sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya." Maria menganggap dirinya bukan hanya sebagai seorang pelayan namun juga seorang hamba Allah. Selain itu, dia menganggap keadaannya rendah sebab dia miskin. Maria adalah keturunan Daud, tetapi pada saat itu dia adalah seorang dara dari golongan rendah, bukan di Yerusalem atau di Betlehem, kota Daud, tetapi di Nazaret, suatu kota yang hina di dalam wilayah yang hina. Walaupun demikian, Allah menaungi dia dalam keadaannya yang rendah, dalam situasinya yang rendah, dan memilih dia untuk menjadi bejana bagi inkarnasi-Nya.
Dalam ayat 48, Maria bernubuat dengan berkata, "Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia." Segala keturunan telah memberkati Maria. Allah meninggikan dia dari keadaannya yang rendah ke posisi yang tinggi, menjadi "ibu Tuhanku" (ay. 43). Seorang wanita muda dari Nazaret ditinggikan oleh Allah untuk menjadi ibu Tuhan. Dalam ayat 49, Maria melanjutkan, "...karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus." Ini menunjukkan bahwa Maria percaya kepada firman yang dikatakan malaikat kepadanya dalam ayat 30-37. Dalam ayat 50, dia melanjutkan, "Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia." Maria adalah seorang wanita muda yang takut kepada Allah. Karena itu belas kasih Allah sampai kepada dia sama seperti kepada generasi demi generasi yang takut akan Dia. Pemikiran di sini sangat mengagumkan, susunan dan ekspresinya sangat puitis. Maria bukanlah seorang profesor melainkan seorang "gadis desa" dari Nazaret, namun dia bisa mengutarakan suatu nubuat yang demikian puitis. Hal ini sangat memalukan kita. Kita bukan "gadis-gadis desa"; banyak di antara kita telah bergelar sarjana, dan beberapa di antara kita telah bergelar Doktor. Tetapi, tidak banyak di antara kita yang dapat menyusun nubuat sedemikian penuh makna dan puitis.
Berdasarkan Pengetahuannya terhadap Penanggulangan Allah atas Umat-Nya
Nubuat Maria juga berdasarkan pengetahuannya terhadap penanggulangan Allah atas umat-Nya secara umum. Ayat 47-50 membicarakan penanggulangan Allah terhadap Maria secara khusus, sedangkan ayat 51-53 berhubungan dengan prinsip-prinsip yang dengannya Allah menanggulangi orang-orang secara umum. Dalam ayat 51-52 Maria mengatakan, "Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah." Allah mampu menanggulangi setiap orang. Mengingat prinsip-prinsip yang diungkapkan dalam ayat-ayat ini mengenai penanggulangan Allah terhadap orang-orang, kita tidak seharusnya berbangga hati. Dalam keangkuhannya, Mussolini, seorang diktator Itali, menyerbu Etiopia pada tahun 1935. Demikian juga Hitler, dalam keangkuhannya melanggar janjinya kepada perdana menteri Inggris dan menyerbu Chekoslovakia dan Polandia pada tahun 1939. Kejadian-kejadian inilah yang memulai Perang Dunia kedua. Akhirnya Allah mencerai-beraikan kedua orang yang sangat angkuh ini. Sampai hari ini, tidak ada seorang pun yang tahu tempat mayat Hitler. Allah menurunkan orang-orang yang berkuasa, termasuk Mussolini dan Hitler, dari takhta mereka dan meninggikan orang-orang yang rendah. Dalam sejarah, Allah telah sering kali melakukan hal ini.
Dalam ayat 53 Maria melanjutkan, "Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar (memenuhi orang yang lapar dengan segala yang baik—Tl, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa (hampa—Tl.)." Memberikan hal-hal yang baik itu bersifat luaran dan objektif, tetapi memenuhi itu bersifat batin dan subjektif. Allah telah memenuhi kita dengan segala yang baik, dan orang yang kaya disuruh-Nya pergi dengan hampa--bukan hanya dengan hampa tangan, tetapi hampa secara batin dan subjektif. Jika kita menganggap diri sendiri kaya, kita akan menjadi miskin; kita akan menjadi hampa dalam segala sesuatu. Tetapi jika kita miskin dan lapar, kita akan dipenuhi. Dalam Matius 5:3 dan 6 Tuhan Yesus berbicara berdasarkan prinsip ini: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.... Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan."
Berdasarkan Pengetahuannya akan Perbuatan Allah
yang Penuh Belas Kasih kepada Nenek Moyangnya
Nubuat Maria juga berdasarkan pengetahuannya akan perbuatan Allah yang penuh belas kasih kepada nenek moyangnya. Dalam Lukas 1:54-55 dia mengatakan, "Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selamalamanya." Allah mencurahkan belas kasih-Nya kepada Abraham dan keturunannya, termasuk Maria. Maria mewarisi berkat-berkat dari penanggulangan Allah terhadap nenek moyangnya.
Ayat 46-55 menyusun suatu nubuat yang lengkap dan penuh makna. Dalam pengutaraannya, Maria meliputi pengalamannya sendiri terhadap Allah, penanggulangan Allah terhadap orang-orang secara umum, dan perbuatan Allah yang penuh belas kasih kepada nenek moyangnya. Di dalam nubuat saudari muda ini terkandung suatu kekayaan-kekayaan dari pengetahuan akan Alkitab, pengetahuan akan penanggulangan Allah terhadap orang-orang, dan pengetahuan akan perbuatan Allah yang penuh belas kasih kepada nenek moyangnya. Setelah melihat semua butir yang tinggi dari nubuat Maria ini, tentunya kita harus merendah dan menyadari bahwa kita perlu banyak belajar agar dapat berbicara seperti Maria.
BELAJAR BERBICARA, MEMILIH KIDUNG,
DAN BERDOA DALAM SIDANG-SIDANG
Kadang-kadang kidung-kidung yang dipilih dalam sidang pemecahan roti (perjamuan kudus) tidak sesuai untuk sidang tersebut. Tujuan dari sidang pemecahan roti adalah untuk mengingat Tuhan. Tuhan Yesus mengatakan, "Perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku" (1 Kor. 11:25). Tetapi beberapa kidung yang dipilih di dalam sidang pemecahan roti bukan untuk memperingati Tuhan. Suatu kidung mungkin sangat baik, tetapi kidung tersebut tidak cocok dengan sifat sidang pemecahan roti. Ketika kidung yang demikian dipilih, kita seharusnya tidak berdebat melainkan memilih kidung yang tepat untuk menggantikannya. Dengan demikian, semua yang hadir dalam sidang tersebut akan belajar bagaimana memilih kidung yang tepat.
Selain itu, beberapa doa yang dipersembahkan pada sidang pemecahan roti tidak sesuai untuk sidang tersebut. Karena itu kita semua perlu belajar bagaimana berbicara, memilih kidung, dan berdoa. Maria tidak akan dapat mengutarakan nubuatnya dalam Lukas 1 tanpa belajar apa-apa. Dari hari ke hari dia mungkin berlatih berbicara di rumahnya di Nazaret. Kita perlu berlatih mempersembahkan doa kita dalam sidang pemecahan roti. Kita bisa belajar mengatakan, "Tuhan, kami berterima kasih pada-Mu karena kami berada di meja-Mu. Di atas meja, cawan terpisah dari roti, menandakan bahwa darah-Mu terpisah dari tubuh-Mu. Karena itu, meja ini memamerkan kematian-Mu kepada kami. Terima kasih untuk cawan ini dan terima kasih untuk roti ini." Kemudian saudara atau saudari lain dapat melanjutkan, "Tuhan, cawan ini menandakan perjanjian yang Engkau dirikan bagi kami dengan darah-Mu." Yang lain akan meneruskan, "Tuhan, roti menandakan tubuh fisik-Mu yang Engkau serahkan bagi kami di atas salib, dan roti juga menandakan Tubuh-Mu yang mistikal, yaitu gereja, termasuk saya dan semua orang kudus." Jika tiga orang kudus berdoa secara demikian pada sidang pemecahan roti, sidang itu akan naik ke langit tingkat ketiga.
Jika kidung yang dipilih dan doa yang dipersembahkan tidak sesuai dengan sidang pemecahan roti, akan sangat sulit untuk mengedarkan roti dan anggur, bahkan setelah lewat sejangka waktu sekalipun karena atmosfir yang tepat belum terbangun. Sebaliknya, jika kidung yang dipilih tepat dan doa yang dipersembahkan juga tepat, atmosfirnya akan terbangun, dan pemecahan roti mungkin akan dilakukan lebih awal dalam sidang tersebut. Kadang-kadang, dalam sidang itu sudah dipilih kidung yang tepat, tetapi setelah kidung tersebut dinyanyikan, tidak ada doa yang dipersembahkan. Ini dikarenakan yang hadir tidak memiliki kapasitas untuk mempersembahkan puji-pujian yang sesuai dengan kidung yang demikian. Karena itu, sungguh masih banyak yang harus kita pelajari.
Banyak di antara kita yang tidak menyadari betapa kita kurang belajar pelajaran rohani yang tepat. Itulah sebabnya sidang-sidang kita lesu, membosankan, kosong, dan kekurangan isi yang kaya. Kita semua harus belajar sehingga kita dapat memperbaiki situasi. Tidak banyak di antara kita, termasuk para penatua dan para sekerja, yang telah mengorbankan waktu dan energi yang cukup untuk mempelajari pelajaran-pelajaran rohani. Para penatua dan para sekerja harus menyisihkan lebih banyak waktu untuk pelajaran rohani Pelajaran ini akan membuat kita memiliki kapasitas yang diperbesar untuk sidang-sidang dan sidang-sidang kita akan lebih tinggi. Kita semua perlu belajar bukan hanya berbicara dalam sidang-sidang, melainkan juga membicarakan sesuatu yang bermakna sesuai dengan kapasitas yang telah diperbesar.