UNSUR-UNSUR DASAR DARI SUATU NUBUAT
Pembacaan Alkitab:
Mat. 4:4, 7, 10; Rm. 1:17; 3:4, 10-18; Mat. 22:31-32;
Ibr. 2:5-9; Kis. 13:33; Gal. 4:22-26; Ef. 4:8-10; 1 Kor. 14:26;
Why. 1:11; Ef. 1:10; 3:9; 1 Tim. 1:4; Rm. 15:16; 1 Ptr. 2:5, 9
Dalam berita ini kita akan melihat unsur-unsur dasar dari suatu nubuat.
PENGENALAN PRIBADI TERHADAP ALKITAB
Mengenal Firman Allah secara Harfiah
Unsur-unsur dasar pertama dari suatu nubuat adalah pengenalan pribadi terhadap Alkitab. Untuk mendapatkan pengenalan demikian, kita perlu mengenal Firman Allah secara harfiah. Kita bahkan harus banyak menghafalkan ayat penting dalam Alkitab. Misalnya, kita seharusnya menghafalkan ayat pertama dari kitab-kitab seperti Kejadian, Mazmur, Matius, Yohanes, dan Ibrani. Kita juga harus menghafalkan ayat-ayat seperti Yohanes 3:6, 16, dan 36; Yohanes 14:26 dan 15:26; dan Yohanes 15:16 dan Roma 15:16. Selain itu, kita perlu merancang cara tertentu yang dapat memudahkan kita untuk menghafal kitab, pasal, dan nomor ayat dari ayat-ayat penting tersebut.
Seperti yang Dilakukan Tuhan dalam Matius 4:4, 7, 10
Menurut Matius 4:4, 7, dan 10, Tuhan Yesus mengenal Firman Allah secara harfiah. Ketika Tuhan menghardik Satan dalam Matius 4, Dia mengemukakan tiga ayat dari Kitab Ulangan (8:3; 6:16, 13). Hal ini menunjukkan bahwa Dia sangat mengenal kitab tersebut.
Seperti yang Dilakukan Rasul dalam Roma 1:17; 3:4, 10-18
Rasul Paulus juga mengenal Firman Allah secara harfiah. Perkataan Paulus dalam Roma 1:17 dan 3:4, 10-18 merupakan kutipan-kutipan dari Perjanjian Lama. Entah saat itu Paulus memiliki Perjanjian Lama di hadapannya atau dia telah menghafal ayat-ayat itu, yang jelas dia sangat mengenal ayat-ayat tersebut.
MENGENAL ISI DAN MAKNA MAKNA ROHANI
DARI FIRMAN ALLAH
Untuk memiliki pengenalan pribadi terhadap Alkitab, kita harus mengenal bukan hanya teks Alkitab yang terdiri atas huruf-huruf, tetapi juga isi dan makna-makna rohani dari Firman Allah. Banyak orang dapat memahami ayat-ayat tertentu seperti Yohanes 3:16 secara dangkal, namun mereka tidak mengenal isi ayat-ayat ini. Hampir setiap orang dapat memahami suatu ayat secara harfiah, dalam huruf-huruf hitam dan putih, tetapi seseorang harus memiliki penglihatan batin, penglihatan yang lebih dalam, untuk melihat isinya. Hampir semua ayat dalam Alkitab mengandung isi yang dalam. Ayat-ayat seperti Yohanes 3:16 tidak hanya mengandung isi di permukaannya saja, tetapi juga mengandung sesuatu yang lebih dalam. Alkitab itu dalam dan tidak ada seorang pun yang dapat memahaminya dengan tuntas. Di bawah permukaannya ada banyak rahasia dan misteri. Jika kita berusaha memahami Alkitab secara dangkal, kita tidak akan sampai pada pemahaman yang memadai. Kedalaman Alkitab itu tidak ada habisnya.
Mengenal Isi
Pemahaman Tuhan terhadap Keluaran 3:6 seperti yang diwahyukan dalam Matius 22:31-32 merupakan suatu ilustrasi dari pengenalan terhadap isi firman Allah. Keluaran 3:6 mengatakan, "Akulah...Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub." Mudah untuk melihat isi yang dangkal mengenai ayat ini, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat melihat isi yang lebih dalam hingga Dia yang paling bijaksana, yaitu Tuhan Yesus datang. Dalam Matius 22:31-32 Tuhan berkata, "Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup." Menurut penafsiran Tuhan terhadap ayat ini, Allah adalah Allah dari orang yang hidup dan bukan Allah dari orang yang mati, karena itu, walaupun Abraham, Ishak, dan .Yakub telah mati dan dikubur, mereka akan bangkit. Mereka adalah orang-orang yang hidup, dan Allah adalah Allah mereka. Melalui perkataan pendek ini kita dapat melihat bahwa Tuhan Yesus memahami Firman Allah menurut isinya.
Pemahaman Rasul Paulus terhadap Mazmur 8:5-7 seperti yang diwahyukan dalam Ibrani 2:5-9 merupakan ilustrasi lain dari pemahaman terhadap isi firman Allah. Mazmur 8:5-7 mengatakan, "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya." Kita mengira bahwa kita memahami ayat-ayat ini. Tetapi, ungkapan "memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat" mengacu kepada sesuatu yang sangat tinggi dan sangat dalam, yang sulit untuk dipahami. Allah memberi kuasa atas segala sesuatu kepada Adam, namun Dia tidak memahkotai Adam dengan kemuliaan dan hormat. Selain itu, Allah juga tidak menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Adam. Ayat-ayat ini membicarakan Seseorang yang kepala-Nya dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat dan segala sesuatu ditaklukkan di bawah kaki-Nya. Paulus memahami ketiga ayat ini lebih dalam dibandingkan pengajar-pengajar Yahudi. Pengajar-pengajar Yahudi mengatakan bahwa ayat-ayat ini mengacu kepada Adam, tetapi Paulus menyadari bahwa ayat-ayat itu pasti memiliki makna yang lebih tinggi dan lebih jauh. Jadi dalam Ibrani 2 dia menafsirkan bagian Firman Allah ini sesuai dengan isinya yang lebih dalam. Menurut penafsiran Paulus, ayat-ayat ini mengacu kepada Kristus dalam kenaikan-Nya, dalam kedatangan-Nya yang kedua dan kerajaan seribu tahun, dan dalam kekekalan. Dalam kenaikan-Nya, Kristus dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, dan dalam kerajaan-Nya dan dalam kekekalan, Allah akan menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki-Nya. Paulus memahami bagian Firman Allah menurut isinya.
Kita juga dapat melihat pengenalan Paulus terhadap isi Firman Allah dalam pemahamannya terhadap Mazmur 2:7 seperti yang diwahyukan dalam Kisah Para Rasul 13:33. Mazmur 2:7 mengatakan, "Aku mau menceritakan tentang ketetapan Tuhan; Ia berkata kepadaku: Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini." Kelihatannya ini adalah firman yang diucapkan oleh Allah kepada Daud, raja Israel. Tetapi Kisah Para Rasul 13:33 mengatakan, "Telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini." Menurut isinya, Mazmur 2:7 mengacu kepada kebangkitan Kristus. Paulus dengan jelas memberi tahu kita bahwa kebangkitan Kristus adalah kelahiran-Nya. Kristus diperanakkan oleh Allah dalam kebangkitan-Nya. Kristus adalah Putra tunggal Allah (Yoh. 3:16) ketika datang untuk berinkarnasi, namun Dia dilahirkan sebagai Putra sulung Allah dalam kebangkitan-Nya. Kelahiran Kristus sebagai Putra sulung Allah menunjukkan bahwa masih banyak yang lain yang akan mengikuti Dia untuk dilahirkan dari Allah dan menjadi banyak putra Allah (Rm. 8:29). Melalui penafsiran ini, kita dapat melihat betapa dalamnya pemahaman rasul terhadap Alkitab. Dibandingkan dengan pemahamannya, pemahaman kita terhadap Alkitab sangat dangkal.
Isi dari Alkitab juga dapat ditemukan dalam Yohanes 3:16 yang telah dipahami secara dangkal oleh banyak kaum beriman selama berabad-abad. Yohanes 3:16 adalah salah satu ayat yang paling dalam di dalam Alkitab. Untuk memahami ayat manapun dalam Alkitab, kita harus memperhatikan konteks dari ayat tersebut. Yohanes 3:16 berada dalam suatu pasal yang terdiri atas tiga puluh enam ayat. Jadi untuk memahami ayat ini kita harus memperhatikan seluruh pasal tersebut.
Subyek dari Yohanes 3 adalah kelahiran kembali. Untuk dilahirkan kembali, kita perlu dua hal—salib dan Roh itu. Ayat 14-15 dari pasal ini mengatakan, "Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup (hayat—Tl.) yang kekal." Kita dapat dilahirkan kembali karena Tuhan Yesus tersalib bagi kita. Karena kita telah menjadi ular-ular melalui digigit oleh si ular tua, si iblis, Satan (Kej. 3:1, 13-15; Why. 12:9a), Tuhan Yesus mati di atas salib dalam bentuk seekor ular, yaitu dalam bentuk kita. Dia mati sebagai pengganti kita sehingga kita bisa memiliki hayat yang kekal. Ayat 6 dari pasal ini mengatakan, "Yang dilahirkan dari Roh adalah roh." Roh yang disebut di sini adalah Roh pemberi hayat. Jadi kita dilahirkan kembali melalui penyaliban Kristus dan melalui diri Kristus sendiri menjadi Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45b).
Yohanes 3 juga dengan jelas memberi tahu kita bahwa kelahiran kembali adalah untuk pertambahan Kristus. Ayat-ayat sebelum ayat 16 memberi tahu kita jalan yang olehnya kita dapat dilahirkan kembali, dan ayat-ayat setelah ayat 16 memberi tahu kita bahwa orang-orang yang dilahirkan kembali adalah pertambahan Kristus, dan bahwa pertambahan ini adalah pasangan Kristus, mempelai-Nya. Jadi ayat-ayat ini mewahyukan bahwa Tuhan Yesus datang dalam bentuk seekor ular, yaitu dalam "daging yang serupa dengan daging yang dikuasai oleh dosa" (Rm. 8:3) untuk mati bagi kita, dan setelah mati dan dibangkitkan, Dia sekarang adalah Mempelai laki-laki yang sedang menunggu untuk mendapatkan kita sebagai mempelai perempuan-Nya. Perkawinan Mempelai laki-laki dan mempelai perempuan akan terjadi dalam Wahyu 19, namun persiapan untuk perkawinan tersebut terlihat dalam Yohanes 3.
Yohanes 3:16 mengatakan bahwa Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal bukan kepada manusia tetapi kepada dunia. Ayat ini mengatakan bahwa Allah mengasihi dunia, bukan mengasihi manusia. Dunia bukan tersusun dari manusia tetapi dari "ular-ular". Setiap bangsa di bumi ini adalah bangsa "ular-ular". Dunia yang disebut dalam Yohanes 3:16 bukan menandakan bumi melainkan manusia yang jatuh, yang telah ditelan oleh Satan, si ular, dan telah dijadikan suatu sistem setan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia akan ditinggikan dan akan mati sebagai seekor ular, sebagai Pengganti kita. Jadi, Allah mengasihi "ular-ular", dan Dia mengaruniakan Putra-Nya kepada "ular-ular" ini. Selain itu, Putra-Nya menjadi seekor ular sehingga semua ular yang sekarat ini dapat dihidupkan melalui mendapatkan hayat yang kekal. Hayat yang kekal ini menghasilkan kaum beriman dalam Kristus dan membentuk serta membangun Tubuh Kristus sebagai mempelai-Nya.
Yohanes 3:16 menunjukkan sesuatu yang lebih jauh lagi bahwa Allah yang mengasihi dunia yang menyerupai ular itu adalah tritunggal. Fakta bahwa Putra disebutkan dalam ayat tersebut merupakan satu indikasi dari Allah Tritunggal. Allah saja tidak memiliki Putra; Allah Tritunggal itulah yang memiliki Putra.
Inilah isi dalam Yohanes 3:16. Singkatnya, isi Yohanes 3:16 adalah Allah Tritunggal, yang diwahyukan dalam Kejadian 1, begitu mengasihi umat yang menyerupai ular dari dunia setani ini sehingga Dia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, Yang Kedua dari Trinitas ilahi, kepada mereka dalam inkarnasi untuk mati bagi mereka dalam bentuk seekor ular sebagai Pengganti mereka dan menjadi Roh pemberi hayat, supaya mereka yang percaya kepada-Nya sebagai Penebus mereka dapat dilahirkan kembali dengan hayat kekal-Nya oleh Diri-Nya sendiri sebagai Roh pemberi hayat, untuk menjadi banyak putra Allah (Yoh. 1:12; Ibr. 2:10) dan banyak saudara-Nya (Rm. 8:29) guna menyusun Tubuh-Nya, gereja (Ef. 1:23), sebagai pertambahan dan mempelai-Nya, demi memuaskan dan mengekspresikan Dia; hal ini akan rampung dalam Yerusalem Baru, seperti yang diwahyukan dalam Wahyu 21-22, untuk menyatakan Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung bagi penggenapan ekonomi kekal-Nya. Jadi, isi yang demikian bukan saja dalam tetapi juga sangat luas rentangnya, suatu rentangan yang mencakup seluruh Alkitab dari pasal pertama, kitab Kejadian 1 sampai pasal terakhir, kitab Wahyu 22.
Memahami Makna-makna Rohani
Untuk memiliki pengenalan pribadi terhadap Alkitab, kita juga harus mengenal makna-makna rohani dari Firman Allah. Pengenalan Paulus terhadap makna-makna rohani dari Firman Allah dapat dilihat dalam penafsirannya terhadap Kejadian 16:15 dan 21:2 seperti yang diwahyukan dalam Galatia 4:22-26. Menurut tulisan Kejadian 16:15 dan 21:2, kita dapat melihat dua orang wanita: Sara, istri Abraham, dan Hagar, gundiknya. Tetapi, dalam Galatia 4:22-26 Paulus mengatakan bahwa kedua wanita ini adalah kiasan: Hagar menandakan perjanjian yang lama, yang menghasilkan anak-anak perhambaan, sedangkan Sara menandakan perjanjian yang baru, yang menghasilkan anak-anak merdeka. Pada kedua wanita itu terdapat makna yang dalam.
Pengenalan Paulus terhadap makna-makna rohani dari Firman Allah juga dapat dilihat dalam penafsirannya terhadap Mazmur 68:19 dalam Efesus 4:8-10. Mazmur 68:19 mengatakan, "Engkau telah naik ke tempat tinggi, telah membawa tawanan-tawanan." Secara dangkal, ayat ini mengatakan bahwa seseorang yang kuat telah naik ke tempat tinggi dan menawan para tawanan. Namun makna rohani dari ayat ini lebih sulit untuk dilihat. Dalam Efesus 4:8-10 Paulus menafsirkan bahwa Mazmur 68:19 mengacu kepada kenaikan Kristus ke puncak tertinggi alam semesta, langit ketiga, dilambangkan oleh Puncak Sion (Mzm. 68:16-17). Selain itu, dalam kenaikan-Nya Kristus menawan seluruh tawanan Satan dan membuat mereka menjadi tawanan-Nya. Alkitab versi The Amplified New Testament menerjemahkan Efesus 4:8, "Dia memimpin sederetan lawan yang telah ditaklukkan." Ini berarti bahwa Kristus menaklukkan, mengalahkan, dan menawan musuh-musuh-Nya dan membawa mereka ke tingkat-tingkat langit sebagai tawanan-Nya. Di tingkat-tingkat langit Dia mempersembahkan tawanan-tawanan ini kepada Bapa-Nya sebagai suatu pemberian, suatu persembahan. Bapa puas dan mengembalikan mereka kepada Kristus sebagai pemberian. Lalu Kristus memberikan pemberian ini, termasuk kita semua, kepada gereja. Betapa dalam makna yang dilihat oleh Paulus dalam Mazmur 68!
MENERIMA TERANG ROHANI
DAN MELIHAT VISI ROHANI DALAM FIRMAN ALLAH
Untuk mendapatkan pengenalan pribadi terhadap Alkitab, kita juga perlu menerima terang rohani dan melihat visi rohani dalam Firman Allah.
Menerima Terang Rohani
Lebih dari lima puluh tujuh tahun yang lalu, saudara Watchman Nee menerima terang rohani mengenai bersidang dalam suasana kebersamaan sesuai dengan 1 Korintus 14:26, dan dia sangat menekankan kebenaran ini. Dia melihat bahwa menurut 1 Korintus 14:26, ketika kita semua berkumpul, masing-masing harus membawa sesuatu. Pada bulan Januari 1937 di Shanghai, Saudara Nee membagikan hal ini dalam suatu konferensi istimewa dari sekelompok kecil sekerja, dan berita-berita tersebut dihimpun menjadi buku The Normal Christian Church Life (Penghidupan Gereja yang Normal). Hampir setiap orang Kristen yang membaca 1 Korintus 14 tidak nampak apa-apa mengenai bersidang dalam suasana kebersamaan yang ada pada pasal tersebut. Tetapi Saudara Nee menerima terang rohani. Dia juga menerima terang rohani mengenai tumpuan lokal gereja dalam Wahyu 1:11.
Melihat Visi Rohani
Kita juga harus melihat visi rohani dalam Firman Allah, seperti visi ekonomi Allah, dispensi Allah, dalam Efesus 1:10; 3:9; dan 1 Timotius 1:4. Istilah Yunani untuk oikonomia dalam ketiga ayat itu menunjukkan suatu administrasi rumah tangga dalam suatu keluarga yang besar untuk mendistribusikan atau mendispensikan kebutuhan sehari-hari kepada semua anggota keluarga dari rumah tangga tersebut. Yusuf melaksanakan pendistribusian atau pendispensian yang demikian bagi Firaun. Yusuf adalah seorang pelayan (steward) yang ditunjuk untuk melaksanakan ekonomi Firaun dalam mendispensikan kekayaan persediaan untuk suplaian harian kepada rakyatnya (Kej. 41:55-57). Kami mulai melihat visi ekonomi Allah kurang dari dua puluh tahun yang lalu.
Pada bulan April 1989 kami melihat visi rohani mengenai imam injil Allah. Hal ini disinggung dalam Roma 15:16 dan ditegaskan serta diperkuat dalam 1 Petrus 2:5 dan 9. Kami telah membaca ketiga ayat dalam Alkitab ini selama bertahun-tahun, dan kami telah menguraikannya berkali-kali, namun kami belum pernah melihat imam injil Allah sampai saat ini. Inilah visi rohani.
Saat membaca Alkitab, kita harus selalu menjaga diri kita terbuka untuk melihat isinya dan makna-makna rohani serta menerima terang rohani dan visi rohani. Ini mungkin sulit, tetapi segala sesuatu yang bermakna selalu sulit. Kita harus berusaha sebaik mungkin untuk mempelajari dan tidak menjadi kecewa dengan keadaan kita sekarang ini. Kita seharusnya tidak melupakan bahwa kita berada dalam pemulihan Tuhan. Banyak kebenaran dalam Alkitab telah hilang, tetapi sejak abad kedua, Tuhan telah memulihkan yang hilang. Kita harus percaya bahwa hari ini Tuhan masih terus memulihkan lebih banyak kebenaran. Terjemahan Perjanjian Baru kita disebut Versi Pemulihan, karena dalam terjemahan dan catatan-catatan dalam versi ini ada lebih banyak kebenaran dari Firman Allah yang telah dipulihkan. Khususnya orang-orang muda di antara kita, mereka seharusnya terdorong untuk terus maju guna menerima terang rohani dan visi rohani yang lebih lanjut dalam Firman Allah.
PENGALAMAN PRIBADI TERHADAP HAYAT
Unsur dasar kedua suatu nubuat adalah pengalaman pribadi terhadap hayat. Kita harus memiliki pengalaman pribadi terhadap hayat. Pengetahuan itu sendiri adalah kosong; pengetahuan kita seharusnya dipenuhi dengan pengalaman kita.
Dalam hidup kristiani terdapat dua golongan pengalaman. Yang pertama adalah pengalaman-pengalaman pribadi terhadap perbuatan-perbuatan dan berkat-berkat Tuhan pada hal-hal yang bersifat fisik dan kejadian-kejadian dalam lingkungan. Pada sidang Hari Tuhan di pagi hari, banyak kesaksian yang disampaikan itu berhubungan dengan golongan pengalaman ini. Banyak orang kudus mengalami perbuatan-perbuatan Tuhan yang penuh belas kasih dan berkat-berkat Tuhan kepada mereka dalam hal-hal yang bersifat fisik atau materi. Tetapi, perbuatan-perbuatan dan berkat-berkat ini bukan kasih karunia. Kasih karunia bukan sesuatu yang berada dalam alam fisik. Kasih karunia adalah Allah Tritunggal itu sendiri yang diwujudkan dalam Kristus dan diberikan kepada kita sebagai hayat bagi kenikmatan kita.
Kita perlu memiliki golongan pengalaman yang kedua, yang adalah pengalaman pribadi terhadap penebusan dan keselamatan Allah, Kristus dan gereja, memberitakan Injil, merawat kaum beriman baru (memberi makan anak-anak domba) dalam sidang-sidang rumahan, menyempurnakan orang-orang kudus dalam sidang-sidang kelompok, bernubuat bagi pembangunan gereja, dan pengalaman-pengalaman lainnya, melalui melatih roh dalam iman. Kita seharusnya memiliki banyak kesaksian mengenai golongan pengalaman ini, pengalaman-pengalaman dalam hayat. Bahkan penyembuhan tubuh jasmani kita merupakan sesuatu yang berada dalam alam fisik. Lebih baik mendengar suatu kesaksian dari seorang saudara yang selama bertahun-tahun berada dalam kondisi mati rohani tetapi dipulihkan karena Firman kudus, menjadi meluap-luap, dan pergi mengunjungi orang-orang supaya mereka beroleh selamat. Saudara yang demikian mungkin bersaksi bahwa sebelum dipulihkan, dia tidak dapat menolong orang lain untuk menjadi hidup, tetapi sejak dipulihkan, setiap orang yang dia hubungi juga dipulihkan. Inilah nubuat berdasarkan pengalaman pribadi terhadap hayat.
TIDAK TERPENGARUH OLEH
PENGALAMAN, KESAKSIAN, PERASAAN, PEMIKIRAN, OPINI, KASIH,
DAN REAKSI PRIBADI TERHADAP ORANG, PERKARA, DAN HAL APA PUN
Dalam menyampaikan nubuat yang tepat, kita seharusnya tidak terpengaruh oleh pengalaman, kesaksian, perasaan, pemikiran, opini, kasih, dan reaksi terhadap orang, perkara, dan hal apa pun. Ketika bernubuat, kita seharusnya menolak perasaan-perasaan, pemikiran-pemikiran, opini-opini, dan bahkan kasih-kasih pribadi. Kita juga seharusnya menghindari reaksi-reaksi kita terhadap pasangan, tetangga, para penatua, dan saudara saudari. Secara prinsip, bernubuat bukan berbicara untuk diri sendiri, bukan menyampaikan diri sendiri, dan lebih-lebih, bukan untuk mendispensikan diri sendiri ke dalam orang-orang. Seringkali kita mendispensikan diri sendiri kepada orang-orang dalam pembicaraan kita untuk mengesankan mereka dengan pengalaman-pengalaman dan kasih-kasih kita. Pembicaraan sedemikian ini tidak membicarakan Tuhan melainkan membicarakan diri sendiri, dan tidak berhubungan dengan Kristus melainkan dengan diri kita sendiri. Ini bukan bernubuat melainkan mempromosikan diri sendiri.
Bernubuat terutama adalah berbicara bagi Allah dan Kristus, menyampaikan Allah dan Kristus, dan mendispensikan Allah dan Kristus ke dalam orang-orang untuk perawatan dan suplai mereka. Kadang-kadang, kita menggunakan pengalaman-pengalaman kita untuk mengilustrasikan apa yang sedang kita bicarakan. Sebenarnya, bernubuat adalah menyampaikan beberapa visi rohani sebagai wahyu dan beberapa terang rohani sebagai terang untuk menyinari orang lain, baik untuk membawa hal-hal tertentu dari Allah kepada terang, yaitu memberi tahu orang-orang mengenai perkara-perkara tertentu, ataupun membawa orang-orang ke dalam terang Allah. Inilah prinsip utama yang mengendalikan nubuat kita. Kita seharusnya melakukan yang terbaik untuk berbicara bagi Allah dan Kristus; semakin sedikit kita membicarakan diri sendiri, semakin baik.
Unsur-unsur dasar sebuah nubuat itu akan membuat nubuat kita berstandar sangat tinggi. Itulah sebabnya hampir tidak ada kelompok kekristenan hari ini yang mempraktekkan bernubuat menurut cara dalam 1 Korintus 14. Tetapi sangatlah memalukan jika kita tidak dapat mempraktekkan bernubuat. Kita adalah kaum beriman Perjanjian Baru dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah. Elisabet, Maria, dan Zakharia adalah orang-orang kudus dalam bagian akhir zaman Perjanjian Lama, namun mereka bernubuat secara mengagumkan. Nubuat mereka dalam Lukas 1:42-45, 46-55, dan 68-79 mengandung semua unsur dasar sebuah nubuat yang tepat. Demikian juga, dalam nubuat-nubuat orang-orang kudus di kitab Mazmur, kita dapat melihat unsur-unsur dasar yang tepat.
Bernubuat dengan menggunakan unsur-unsur dasar sebuah nubuat itu sulit. Tetapi, kita seharusnya berusaha sebaik mungkin untuk berbicara. Berita-berita yang disampaikan melalui ministri ini dicetak menjadi buku-buku dan direkam dalam kaset-kaset. Saya percaya bahwa seluruh berita ini akan tetap ada dan suatu hari orang-orang Kristen akan mempraktekkan apa yang sedang kita bicarakan di sini Sebelum tahun 1960-an orang-orang menertawai gagasan untuk mendaratkan manusia di bulan. Tetapi, melalui tenaga manusia, waktu, pengetahuan, teknologi, uang, dan kesabaran mereka, orang-orang Amerika mendarat di bulan pada tahun 1969. Demikian pula halnya dengan kita, kita juga harus sabar dan melakukan yang terbaik. Akhirnya, kita akan mencapai standar bernubuat yang mengandung unsur-unsur dasar seperti yang diwahyukan dalam Firman kudus.