← Daftar isi Keselamatan DI dalam Rencana Allah · bab 8/24

SUMBER KESELAMATAN—KASIH ALLAH

Pembacaan Alkitab

Ef. 2:4-5; Tit. 3:4-7; Yoh. 3:16; 1 Yoh. 3:11; 4:9-10;

Rm. 5:8; 1 Yoh. 3:1; 1 Ptr. 1:3; Yoh. 17:23;

2 Tes. 2:16-17; 2 Kor. 5:14-15; Gal. 2:20.

Garis Besar

I. Kondisi manusia yang tidak ada harapan

II. Kasih Allah kepada manusia

III. Belaskasihan melebihi kasih

IV. Kasih Allah—sumber keselamatan

V. Kasih Allah adalah kekal

I. KONDISI MANUSIA YANG TIDAK ADA HARAPAN

Kita telah nampak gambaran secara umum dari kondisi kejatuhan manusia. Dia telah berdosa karena tidak menaati perintah Allah dan berada di bawah kutukan Allah. Sekarang di dalamnya juga mempunyai hayat yang penuh dosa dari musuh Allah, Satan. Manusia tidak berdaya, tak mampu menolong dirinya sendiri atau orang lain dari penghukuman Allah yang akan datang. Dia juga tidak dapat memelihara dirinya untuk tidak berdosa dan untuk tidak melukai hati Allah. Tempat tujuan akhirnya adalah telaga api, yang telah disediakan Allah untuk Satan dan semua yang mengikuti dia. Jadi, manusia itu tidak berdaya dan juga tidak berpengharapan.

II. KASIH ALLAH KEPADA MANUSIA

Ya, dalam diri manusia tidak ada harapan. Tetapi Allah mengasihi manusia karena hati Allah adalah hati yang kasih. Dia mengasihi manusia di dalam tujuan-Nya sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Dia mengasihi manusia setelah Dia menciptakannya dan menaruhnya di depan pohon hayat. Dan sekarang, setelah kejatuhan, Dia masih mengasihi manusia. Allah masih menginginkan manusia untuk dijenuhi dengan Dia sehingga manusia dapat secara penuh memuaskan hati Allah dengan mengekspresikan Dia.

Mari kita membaca Efesus 2:4-5: ”Tetapi Allah yang kaya dengan belaskasihan, oleh karena kasih-Nya yang besar yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus (oleh kasih karunia kamu telah diselamatkan), sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita.”

Ayat 4, yang memberitahu kita bahwa Allah itu kaya dengan belaskasihan, dimulai dengan kata ”tetapi Allah.” Ini adalah suatu fakta yang dapat membelokkan posisi kita. Kita berada di dalam situasi yang celaka, tetapi Allah datang dengan kekayaan belaskasihan-Nya untuk membuat kita sesuai dengan kasih-Nya.

III. BELASKASIHAN MELEBIHI KASIH

Allah itu kaya dengan belaskasihan ”karena kasih-Nya yang besar yang dilimpahkan kepada kita” (ay. 4). Obyek kasih harus berada di dalam situasi patut menerima kasih, tetapi obyek belaskasihan adalah selalu di dalam situasi yang kasihan. Maka, belaskasihan Allah melebihi kasih-Nya. Allah mengasihi kita karena kita adalah obyek pemilihan-Nya. Tetapi kita menjadi kasihan karena kejatuhan kita, bahkan mati di dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita; maka kita perlu belaskasihan Allah. Karena kasih-Nya yang besar, Allah itu kaya dengan belaskasihan untuk menyelamatkan kita dari situasi kita yang celaka kepada suatu kondisi yang sesuai dengan kasih-Nya.

IV. KASIH ALLAH—SUMBER KESELAMATAN

Kasih ini adalah sumber keselamatan kita. Dia menyatakan kasih ini dengan mengirimkan Putra-Nya yang tunggal untuk mati bagi keselamatan kita. Dia tidak perlu menyelamatkan kita. Dia boleh melemparkan kita ke dalam telaga api, tetapi kasih-Nya membuat Dia datang dan mati bagi kita. Betapa kasih yang menakjubkan!

Dia, Gembala yang Baik itu, dapat meninggalkan segalanya dan pergi untuk mencari seekor domba yang hilang; Roh kudus dapat mencari satu dirham yang hilang; dan Bapa dapat menyambut keluar seorang anak yang hilang. Di dalam perumpamaan Lukas 15 kita nampak bahwa kasih ilahi itu memberikan dirinya sendiri dengan gratis hanya untuk menebus satu jiwa. Apakah kita tidak dapat nampak kehebatan kasih Allah kepada manusia?

Tuhan Yesus datang ke bumi adalah untuk manusia, dan Dia datang untuk tujuan yang tertentu yaitu melayani manusia. Kepentingan-Nya terhadap manusia membawa Dia dari langit ke bumi untuk melayani manusia bahkan untuk mencurahkan hayat-Nya bagi mereka. Tenaga penggerak ini adalah suatu kasih yang bergelora kepada manusia. Ministri-Nya kepada manusia adalah hasil dari kasih-Nya kepada manusia; dan karena kasih-Nya tak terbatas, Dia dapat melayani bahkan sampai mati di atas kayu salib.

V. KASIH ALLAH ADALAH KEKAL

Karena kasih ini, kita dapat menjadi anak-anak Allah untuk bertumbuh menjadi putra-putra-Nya. Satu Yohanes 3:1 berkata, ”Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.”

Sekarang Anda dapat nampak bahwa karena Allah mengasihi kita, kita bukanlah ras orang yang tidak berpengharapan. Dia ingin menyelamatkan kita dan memberikan hayat-Nya kepada kita. Tujuan-Nya terhadap manusia adalah kekal, demikian juga dengan kasih-Nya. Dia tidak pernah berubah. Bila Dia mengasihi kita, Dia mengasihi kita sampai kekekalan. Bahkan ketika kita jatuh ke dalam dosa dan maut, belaskasihan-Nya mendapatkan kita. Haleluya! Karena begitu besar kasih-Nya kepada kita, maka terjaminlah sudah bahwa kita akan dipenuhi dengan hayat-Nya dan menggenapi tujuan kekal-Nya.

Pertanyaan

1. Mengapa Allah mengasihi manusia?

2. Dengan kasih yang bagaimana Allah mengasihi manusia?

3. Bagaimana Allah menunjukkan kasih-Nya kepada manusia?

4. Apakah yang telah dirampungkan oleh kasih Allah bagi kita menurut Efesus 2:4-5 dan 1Yohanes 3:1?

5. Karena Allah mengasihi kita dan merampungkan demikian banyak hal bagi, bagaimana seharusnya respon kita pada kasih yang demikian?