KEPERLUAN MANUSIA AKAN KESELAMATAN
Pembacaan Alkitab
Rm. 5:18; Yoh. 3:36; Ibr. 9:27; Mat.25:41;
Why. 20:15; Ef. 2:1-2; 4:17-18a; 2 Tim. 3:2-4;
Rm. 7:17-18a; 6:6b; 7:24; Yoh. 8:44.
Garis Besar
I. Masalah obyektif di hadapan Allah
A. Di bawah kutukan Allah
B. Di bawah murka Allah
C. Menunggu penghakiman Allah
II. Masalah subyektif di dalam dirinya sendiri
A. Rohnya dimatikan
B. Jiwanya dicemari
C. Tubuhnya dirusak
I. MASALAH OBYEKTIF DI HADAPAN ALLAH
Sebagai hasil dari kejatuhan, masalah manusia yang pertama adalah di hadapan Allah, dan masalah itu obyektif. Obyektif itu berarti sesuatu yang berhubungan dengan kita tetapi di luar kita. Apakah Anda ingat ilustrasi dari anak yang tidak menaati ibunya dan mengambil racun itu? Masalah ketidak-taatannya kepada ibunya adalah obyektif, berhubungan dengan dia tetapi bukan sesuatu di dalam dia. Dengan tidak menaati ibunya, ia sekarang berada di dalam kesulitan dengan ibunya dan akan dihukum. Karena kejatuhan kita di dalam Adam, masalah obyektif kita di hadapan Allah sangatlah besar, sehingga kita akan segera menghadapi penghukuman Allah.
A. Di Bawah Kutukan Allah
Karena ketidaktaatan, atau pelanggaran Adam, kita semuanya telah berada di bawah kutukan Allah (Rm. 5:18a). Ketika Allah menciptakan manusia, Dia tidak menciptakan banyak manusia, tetapi hanya seorang manusia. Semua manusia tercakup di dalam manusia yang satu ini. Jadi dalam pandangan Allah, ketika Adam berdosa, kita tercakup di dalam satu dosa ini, walaupun kita sendiri mungkin tidak pernah berbuat dosa. Akibatnya, ketika Adam dihakimi dan berada di bawah kutukan Allah, kita semua dihakimi dan berada di bawah kutukan Allah bersama dengannya.
B. Di Bawah Murka Allah
Karena kita dikutuk oleh Allah di dalam Adam, kita semua berada di bawah murka Allah (Yoh. 3:36b). Karena dosa Adam, semua manusia hari ini berada di bawah murka Allah dan menunggu penghakiman-Nya yang terakhir.
C. Menunggu Penghakiman Allah
Akhirnya, karena dosa Adam, manusia akan dihakimi oleh Allah dan dilemparkan ke dalam telaga api untuk mengalami penghakiman Allah sampai kekekalan (Ibr. 9:27). Alkitab memberitahu kita bahwa Allah mempersiapkan telaga api bukan untuk manusia tetapi untuk Satan dan malaikat-malaikat yang jatuh yang mengikuti dia untuk memberontak melawan Allah (Mat. 25:41).
Tetapi karena manusia ditipu dan mengikuti Satan untuk memberontak melawan Allah dengan tidak menaati-Nya, manusia juga harus mengalami penghakiman Allah di dalam telaga api bersama Satan (Why. 20:15).
Dari luar, dan di hadapan Allah, hal ini adalah kondisi yang mengerikan di mana manusia jatuh karena pelanggaran Adam. Manusia bukannya menikmati hayat Allah dan mengekspresikan Dia, malah telah dikutuk untuk mati dan mengalami penghakiman bersama Satan.
II. MASALAH SUBYEKTIF
DI DALAM DIRINYA SENDIRI
Masalah manusia yang kedua yang dihasilkan dari kejatuhan itu adalah subyektif, yaitu di dalam dirinya. Dari ilustrasi kita yang sebelumnya mengenai ketidaktaatan anak itu, ini adalah masalah racun yang dimakan manusia, bukan masalah ketidaktaatannya. Dengan makan dari pohon pengetahuan, manusia tidak hanya melakukan sesuatu yang salah yang dapat diselesaikan oleh Allah dengan pengampunan. Dia sebenarnya telah memasukkan hayat Satan itu. Ketika hayat Satani ini masuk ke dalam manusia, seluruh dirinya dimatikan, dicemari, dan dirusak.
A. Rohnya Dimatikan
Pertama, ketika hayat Satani masuk ke dalam manusia, rohnya dimatikan. Dia menjadi mati di dalam dosa-dosa (Ef. 2:1). Karena roh manusia dimatikan, roh itu kehilangan fungsinya untuk berkontak dengan Allah dan untuk menerima Dia sebagai hayat. Hari ini, karena roh manusia telah dimatikan, manusia telah kehilangan kemampuan mereka untuk berkontak dengan Allah, dan banyak yang tidak percaya kepada-Nya.
B. Jiwanya Dicemari
Ketika hayat Satani masuk ke dalam manusia, hayat itu mencemari jiwa manusia dari tujuan Allah. Pikirannya, yang diciptakan Allah untuk mengenal Allah, menjadi gelap dan buta, tidak dapat mengenal Dia (Ef. 4:17-18a). Pikirannya dipenuhi dengan pemikiran yang sia-sia dan alasan-alasan yang bodoh yang menjauhkan dirinya dari Allah dan tujuan-Nya. Emosinya, yang diciptakan untuk mengasihi Allah, dijauhkan dari mengasihi Dia. Sekarang, emosi manusia mengasihi segala sesuatu yang lain dari Allah dan bahkan membenci Dia (2 Tim. 3:2-4). Akhirnya, tekadnya, yang diciptakan Allah bagi manusia untuk memilih Dia dan menaati Dia, menjadi memberontak melawan Allah (Ef. 2:2b). Sekarang tekad (kehendak) manusia telah meninggalkan Allah dan telah menjadi satu dengan kehendak musuh Allah, Satan. Akibatnya, manusia sendiri telah menjadi musuh Allah.
C. Tubuhnya Dirusak
Ketika Adam memakan buah pohon pengetahuan ke dalam dirinya, hayat Satan yang penuh dosa masuk ke dalam tubuhnya dan mengubahnya menjadi daging yang penuh dosa. Sekarang, hayat Satan yang penuh dosa itu berada di dalam tubuh manusia (Rm. 7:17-18a). Hayat inilah, yang penuh dengan nafsu dan setiap hal yang jahat, yang membuat tubuh manusia menjadi suatu tubuh dosa, begitu kuat untuk berbuat dosa, dan suatu tubuh kematian, begitu lemah untuk melayani Tuhan dan untuk menyenangkan Dia (Rm. 6:6b; 7:24).
Kita dapat melihat dari sini bahwa manusia dikutuk oleh Allah dari luar, atau secara obyektif, dan dicemari oleh hayat Satani di dalam, atau secara subyektif. Karena hayat yang penuh dosa ini telah masuk ke dalam manusia, dia bahkan telah menjadi anak Iblis (Yoh. 8:44; Ef. 2:2b). Di dalam kondisi yang demikian kasihan dan cemar, manusia tidak berdaya untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan tidak ada harapan sama sekali. Semua yang harus dia nampak adalah suatu hayat yang penuh dengan dosa dan penghukuman Allah yang kekal di masa yang akan datang. Inilah kondisi di mana semua manusia termasuk Anda dan saya, jatuh sebagai hasil dari dosa Adam. Kondisi yang demikian mengerikan inilah yang menyebabkan Allah, dalam kasih-Nya, datang untuk menyelamatkan kita.
Pertanyaan