← Daftar isi Memilih Salib · bab 3/4

BERBAGAI PENDERITAAN

1. Penderitaan membuat dia memiliki ministri

Seumur hidup Saudara Watchman Nee tidak pernah nyaman. Dia telah mengalami banyak penderitaan. Penderitaan-penderitaan itu adalah untuk ministrinya. Ministri berasal dari dua hal: Wahyu dan penderitaan. Tanpa wahyu, tidak mungkin ada ministri; karena tidak ada sesuatu yang bisa diberikan kepada orang. Tetapi kalau hanya ada wahyu, tetapi tidak ada penderitaan, Anda belum bisa menjadi ministri. Mungkin yang Anda miliki hanyalah semacam pengajaran, atau semacam karunia. Karunia berbeda dengan ministri. Ministri lebih tinggi, lebih dalam, lebih milik Tubuh; tetapi karunia itu di permukaan, dangkal, tidak berharga. Kalau Anda telah mendapatkan wahyu, Allah akan menaruh Anda dalam perapian, melewati segala macam penderitaan, lalu Anda akan memiliki ministri. Sama seperti karya keramik yang dibuat oleh seorang penjunan, harus dibakar. Setelah karya keramik itu dibakar, gambar yang dilukiskan di atasnya baru menjadi satu dengan keramik itu, tidak bisa dihapus lagi. Mendapatkan satu wahyu, sama seperti melukis di atas keramik. Wahyu ini harus diolah melalui penderitaan, baru menjadi satu dengan orangnya. Tidak ada satu minister Allah yang sejati yang luput dari penderitaan. Berapa banyak hayat yang Anda miliki, berapa banyak realitas kelimpahan Kristus yang dapat Anda layankan kepada orang, semuanya berdasar pada berapa banyak wahyu yang Anda dapat, dan setelah mendapatkan wahyu mengalami berapa banyak penderitaan. Wahyu ditambah penderitaan baru membuat orang memiliki ministri. Setelah Saudara Watchman Nee menerima wahyu, mulailah ia mengalami penderitaan. Dia mengalami banyak penderitaan, kemudian dari dirinya timbul satu ministri. Berdasarkan ministri ini timbullah pekerjaan, dan pekerjaan menghasilkan gereja-gereja.

Saudara Witness Lee berkata: Saya mengenal beberapa penginjil yang ternama pada hari ini. Mereka memberitakan cukup banyak, juga menulis tidak sedikit berita tentang pelajaran salib; tetapi ketika saya tinggal bersama mereka, dari diri mereka tidak terlihat pelajaran salib. Saya juga pernah berkumpul bersama Saudara Watchman Nee selama hampir lima belas tahun. Adakalanya Saudara Watchman Nee membicarakan salib, meskipun tidak terlalu panjang, tetapi dari dirinya saya nampak salib. Saudara Watchman Nee adalah seorang yang menerima salib, penderitaan yang berasal dari berbagai arah. Salib telah tergarap ke dalam Saudara Watchman Nee. Sebab itu, apa yang dia kerjakan, tidak hanya sebuah pengajaran, juga bukan hanya semacam karunia, tetapi semacam ministri, yaitu apa adanya dia.

Jangan terlalu menghargai karunia, sama seperti keledai mengucapkan beberapa kata manusia. Memang itusangat ajaib, tetapi jangan terlalu tercengang terhadapnya. Anda harus memiliki ministri yang tepat, kemudian Anda melayankan apa adanya Anda kepada orang. Hari ini pembangunan gereja tidak memerlukan karunia atau pengajaran, melainkan memerlukan ministri; tidak perlu Anda memakai kemampuan Anda berbicara begitu banyak, melainkan menyuplaikan hayat kepada orang.

Lukisan di atas vas bunga harus melewati pembakaran di perapian baru bisa melekat kukuh di atasnya; kalau tidak, begitu dicuci, segera terhapus. Saudara Watchman Nee berkata: Barang yang tidak terbakar dan menetap di atas diri kita, hanya disentuh sedikit saja sudah rontok. Barang yang digosok sedikit saja sudah rontok, tidak memiliki kegunaan rohani. Perkataan dalam ministri firman Allah tercipta melalui ujian yang diatur Allah dalam lingkungan sehari-hari. Berapa banyak penanggulangan, sebanyak itu pula firman. Allah akan mengukir tubuh daging Anda, supaya diri Anda menjadi satu dengan firman-Nya.

Saudara Watchman Nee berkata: Nama seseorang yang benar-benar menderita bagi Allah mungkin tidak dikenal orang, tetapi dikenal oleh Tuhan. Dia tidak pernah lupa kepada nama orang yang tidak ternama, yang tidak muncul di permukaan. Siapa yang secara diam-diam menderita bagi Allah, selalu dikenal oleh Allah, dan diingat oleh Allah. Tuhan berkata kepada malaikat gereja di Smirna, “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu” (Why. 2:9). Mazmur 56:9 mengatakan, “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” Allah tahu bahwa penderitaan pada diri orang bisa membuat tujuan Allah tercapai.

2. Kematian Yesus menghasilkan ministri hayat

Tanggal 27 April 1948, dalam Sidang Sekerja yang diadakan di jalan Hardoon Shanghai, Saudara Weigh Kwang Hsi bertanya kepada Saudara Watchman Nee, apa pandangannya tentang menuntut karunia? Saudara Watchman Nee memberikan jawaban sebagai berikut:

Surat Korintus membicarakan perbedaan karunia dengan ministri. Surat 1 Korintus membicarakan tentang karunia, Surat 2 Korintus membicarakan tentang ministri. Dasar ministri adalah kematian dan kehidupan Yesus; karunia hanyalah Roh Kudus menambah kekuatan di luar kita. Kata “kematian” dalam Surat 2 Korintus, dalam bahasa aslinya berarti satu kematian yang khusus. Bahasa Yunani memiliki dua kata yang berarti kematian: yang pertama adalah kematian yang berkaitan dengan mati atau hidupnya manusia. Misalnya mengatakan satu orang hidup, atau mengatakan satu orang mati, ini adalah pemakaian yang umum. Yang kedua adalah kematian karena pembunuhan, misalnya saya membunuh (mematikan) satu orang, ini adalah pemakaian yang lain. Kematian dalam 2 Korintus 4, dalam bahasa Yunani mengandung arti membunuh, sebab itu boleh diterjemahkan menjadi pembunuhan oleh Yesus (the killing of the slaying of Jesus). Ketika di London, saya pernah berkata kepada saudara saudari, kematian dalam Surat 2 Korintus boleh diterjemahkan deathize. Kematian ini adalah kematian yang mematikan orang, yang menyebabkan Anda mati. Di sini dikatakan pembunuhan oleh Yesus diterapkan ke atas diri kita, kematian-Nya yang membuat orang mati itu telah diterapkan ke atas diri kita, supaya kehidupan Yesus terwujud di atas diri kita.

Ministri hayat berasal dari Allah, dihasilkan melalui Allah berkali-kali menanggulangi diri kita. Karunia rohani hanyalah hal-hal dalam permulaan gereja. Hari ini yang Tuhan perhatikan adalah melayani gereja dengan ministri, bukan melayani gereja dengan karunia.

Seorang saudara naik ke atas mimbar, Anda segera tahu dia adalah saudara yang memiliki karunia atau saudara yang memiliki ministri. Di Asia Tenggara, orang dengan pisau mengerat pohon karet, dari luka keratan itu hayat dalam pohon itu mengalir. Ini dapat dipakai untuk mengumpamakan pelayanan ministri. Orang yang melewati ujian dari api baru ada hayat untuk diberikan kepada orang lain. Ini berbeda dengan orang yang hanya memberi karunia kepada orang. Kalau kita ingin memiliki gereja yang kuat, yang diperlukan bukan karunia, melainkan ministri hayat. Satu gereja yang masih muda, mungkin terasa ramai, tetapi di dalamnya tidak begitu banyak hayat. Di pihak lain, mungkin Anda melihat seorang saudara yang tidak mempunyai kepandaian berbicara, Anda merasa cemas, ingin cepat-cepat menggantikannya; tetapi di atas dirinya ada ministri, yang ia nyatakan bukan karunia. Ketika gereja maju, gereja akan menghasilkan ministri, akhirnya menghasilkan banyak suplai hayat. Satu gereja yang masih muda memerlukan saudara yang berkarunia; tetapi kita tidak bisa membiarkan keadaan ini berkelanjutan. Karunia adalah keperluan sementara, ministrilah keperluan yang selamanya.

3. Menjadi pelayan firman Allah perlu karakter yang tersusun ulang

Saudara Watchman Nee berkata: Pelayan firman Allah adalah Allah memberi kita satu dua kalimat, supaya kita melalui satu dua kalimat ini menyampaikan banyak perkataan, yaitu diri kita mengucapkan firman yang Allah bicarakan di dalam kita. Sebab itu, ketika seseorang menjadi pelayan firman, unsur orang ini sangat penting. Orang macam apa, pasti mengucapkan perkataan macam apa. Kalau orangnya tidak tepat, perkataannya pasti rendah, lemah, kekanak-kanakan. Meskipun dia memiliki perkataan yang pintar, halus, tetapi bukan perkataan rohani. Kalau orangnya tepat, perkataannya pasti rohani, tinggi, tepat, juga menjamah Allah. Sebab itu, dirinya harus disusun oleh Allah, tersusun dengan karakter yang baru, supaya ketika perkataannya keluar, berarti perkataan Allah yang keluar. Kalau seseorang bermasalah, firman Allah tidak bisa keluar dari dirinya. Dia tidak bisa dipakai oleh Allah, tidak bisa menjadi pelayan firman Allah.

Seorang pelayan firman, ketika berdiri berbicara bagi Allah, tidak saja firmannya harus murni, rohnya juga perlu murni. Masalahnya bukan Anda bisa bicara atau tidak bisa bicara, tetapi ketika roh Anda keluar, murni atau tidak murni. Di atas diri anak-anak Allah sering ada satu kesulitan, yaitu mencampur aduk roh dan jiwa. Ketika rohnya keluar, jiwanya juga keluar, bercampur aduk, tidak murni. Syarat pertama bekerja bagi Allah adalah rohnya murni atau tidak, bukan kekuatannya kecil atau besar. Kalau rohnya campur aduk, di satu pihak, dia di dalam roh dengan kekuatannya membangun, di pihak lain, keadaan campur aduknya membongkar bangunan itu. Sebab itu, Allah tidak bisa memakainya.

Di dalam kita banyak ampas, banyak hal yang bukan berasal dari Allah, banyak hal yang tidak bisa memuliakan Allah. Allah perlu melalui salib menyingkirkannya, supaya kita menjadi emas murni. Sebab itu, kita perlu mempersilakan salib memurnikan diri kita, menyingkirkan unsur daging, ego, dan alamiah kita. “Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan kurban yang benar kepada TUHAN” (Mal. 3:2-3). Melalui penyucian, barulah ada kurban kebenaran (Kristus) yang dipersembahkan kepada-Nya, baru diperkenan Allah.

4. Roh Kudus membawa Anda keluar

Saudara Watchman Nee berkata: Banyak pengalaman kaum beriman memperlihatkan kepada kita, Roh Kudus mencapai diri orang berarti Roh Kudus membawa sifat yang khusus dari orang itu mencapai diri orang lain. Karena itu, roh kita harus dimurnikan, perlu ditanggulangi; kalau tidak, orang lain akan mendapatkan barang yang tidak tepat. Kita harus nampak, unsur manusia adalah satu masalah yang besar. Roh Kudus tidak keluar sendirian. Kita memasukkan sifat kita ke dalam-Nya. Roh Kudus tidak menyingkirkan sifat kita, Roh Kudus keluar membawa sifat kita. Tuhan berkata, “Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Siapa saja yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup” (Yoh. 7:37-38). Tuhan berkata bahwa air diminum ke dalam batin orang, lalu dari batinnya mengalir keluar sungai air hidup. Darby berkata bahwa batin adalah bagian terdalam manusia. Dari bagian terdalam Anda, mengalir Roh Kudus, Roh Kudus membawa Anda keluar. Air hidup masuk ke dalam seseorang, kemudian membawa sifat orang itu mencapai diri orang lain. Sebab itu, kita harus belajar ditanggulangi, dimurnikan.

5. Satu buku musik yang sama

tetapi alat musik yang berbeda

Saudara Watchman Nee berkata: Orang yang menjadi pelayan (minister) firman dalam Perjanjian Baru harus menyampaikan firman setelah melalui pembatasan Roh Kudus, pendisiplinan Roh Kudus, penggarapan Roh Kudus, agar semua bagian orang itu bisa dipakai oleh Allah. Yang dia sampaikan memang firman Allah, tetapi di dalam firman itu terkandung unsur manusia. Dia menggambarkan hal ini dengan satu perumpamaan. Seorang ahli musik bisa memainkan piano, organ, juga biola. Dia bisa memainkan musik yang sama dengan alat musik yang berbeda. Karena setiap alat musik memiliki ciri khas yang berbeda, maka suara yang dikeluarkannya juga mempunyai ciri khas masing-masing. Orang bisa membedakan suara piano dengan suara biola. Meskipun memakai buku musik yang sama; tetapi suara yang dihasilkan berbeda. Setiap alat musik mempunyai suara yang khusus. Piano mempunyai suara piano, organ mempunyai suara organ, biola mempunyai suara biola, masing-masing mempunyai ciri khasnya. Ciri khas itu membantu menyalurkan emosi dan cita rasa dalam buku musik itu. Pelayan firman dalam Perjanjian Baru sedikit mirip dengan ini. Ada orang seperti memainkan piano, ada orang memainkan organ, ada orang memainkan biola, meskipun buku musiknya sama, tetapi suara yang dihasilkan berbeda. Di sini ada seseorang, ketika firman Allah keluar melalui dirinya, kadar orang tersebut ikut keluar. Setiap orang yang dipakai Allah, selalu membawa unsur dirinya ke mana pun. Jika unsur perorangan tersebut berada di bawah kendali Roh Kudus, berada di bawah pengaturan Roh Kudus, berada di bawah pendidikan Roh Kudus, maka firman Allah tidak akan terhalang dan akan keluar dengan penuh mulia.

6. Dalam penderitaan telah belajar pelajaran

yang sesungguhnya

Penderitaan lain yang dialami oleh Saudara Watchman Nee, sebagian besar adalah penderitaan karena penyakit pada tubuhnya. Tubuhnya tidak sehat. Mula-mula dia sakit TBC paru-paru. Bertahun-tahun dia menderita penyakit ini. Tahun 1929 dia sakit sampai hampir meninggal, kemudian Allah menyembuhkannya. Lambungnya juga sakit. Selain itu, dia juga terkena sakit jantung. Dia sering memberi tahu Saudara Witness Lee bahwa dia bisa meninggal dunia sewaktu-waktu. Beberapa kali Saudara Witness Lee melihat Saudara Watchman Nee memakai tongkat dan tampak sangat menderita. Ia lebih menderita saat berbicara. Dia memberi tahu Saudara Witness Lee, beberapa kali ketika ia berdiri berbicara, ia mengeluarkan keringat dingin. Dia juga beberapa kali memberi tahu Saudara Witness Lee, ketika mengadakan sidang istimewa, ia selalu berbaring di tempat tidur, sampai waktu sidang tiba, ia berdiri mengikuti sidang, selesai menyampaikan berita, kembali lagi berbaring. Dia terus membawa penyakit jantungnya selama 40 tahun lebih, akhirnya di dalam penjara meninggal karena penyakit jantungnya. Dia terus menderita.

Saudara Watchman Nee baru menikah pada tahun 1934. Paling tidak sejak tahun 1923 dia sudah memulai ministrinya, selama sebelas tahun tidak ada istri yang membantunya. Selama membujang, dia juga terus menderita.

Dalam kehidupan yang miskin, dia belajar pelajaran iman. Dia sama seperti sebuah bunga bakung, hidup di bumi tidak memiliki sandaran, hanya bersandar kepada Allah, demi iman hidup bersandar Allah. Karena tubuhnya sakit, dia juga telah belajar banyak pelajaran bersandar Allah, bahkan dia belajar bagaimana hidup bersandar hayat kebangkitan, untuk memenuhi keperluan tubuhnya. Sering kali dia melayani tidak bersandar kekuatan tubuh, melainkan bersandar hayat kebangkitan. Puji Tuhan, melalui semua penderitaan ini, dia telah belajar pelajaran yang riil. Sebab itu, dia bisa memberi bantuan yang sangat besar kepada orang lain.

7. Melalui mengeluarkan harga belajar sesuatu

Saudara Watchman Nee benar-benar telah mengeluarkan harga yang besar. Dia telah belajar suatu pelajaran, kemudian menyalurkannya kepada kita. Saudara Watchman Nee berkata kepada sekerja yang dia latih, “Jangan memegang doktrin, harus belajar pelajaran. Ketika Anda mengajar orang, di dalam doktrin harus ada realitas. Anda tidak bisa hanya mengajar orang dengan doktrin. Anda perlu beberapa hal yang sejati. Hal sejati ini hanya didapat dari pengalaman Anda.” Dari sini kita bisa nampak bahwa Saudara Watchman Nee telah mengeluarkan harga, telah belajar sesuatu.

8. Penderitaan membuat orang solid dan berguna

Setelah diolah, besi baru bisa menjadi baja. Untuk memikul tanggung jawab besar, kita harus terlebih dulu menerima ujian penderitaan. Penderitaan adalah suatu hal yang mutlak bagi orang yang melayani, tidak boleh dikurangi dari mereka. Orang yang telah melewati penderitaan baru bisa memikul beban berat, mengerjakan perkara besar, baru bisa berbuah, “Selama umurmu kiranya kekuatanmu” (Ul. 33:25). Setelah melalui penderitaan selama 40 tahun hidup di padang gurun, Musa baru bisa memikul tanggung jawab besar, memimpin orang Israel keluar dari Mesir dan melewati padang gurun. Karena bergoyang-goyang dalam hujan dan angin besar, pohon oak baru bisa berakar dalam, berbatang panjang dan kuat, baru menjadi raja pohon. Untuk menciptakan satu bahan yang bisa dipakai, Allah juga membiarkan bahan itu melewati hujan dan angin dalam kehidupan.

Saudara Watchman Nee berkata: Tidak ada segumpal emas yang tidak dimurnikan lewat api; tidak ada batu permata yang tidak melewati tekanan tinggi dan suhu tinggi; tidak ada sebutir mutiara yang dihasilkan tanpa melewati penderitaan. Semua pengaturan Allah yang khusus di masa lalu adalah untuk kepentingan khusus di kemudian hari. Ingatlah, kalau tidak ada duri, tidak ada anugerah, juga tidak ada kekuatan, ruang lingkup pelayanan Anda juga akan sangat kecil.

Banyak orang Kristen menempuh hidup yang nyaman tanpa masalah, akhirnya kerohanian mereka miskin. Lebih baik dalam penderitaan mendapatkan penghiburan Tuhan, daripada tidak ada penghiburan dari Tuhan, juga tidak ada penderitaan. (Siapa yang bisa mengetahui kemanisan penghiburan Tuhan?) Kita tidak seharusnya takut menderita, tidak seharusnya mendambakan jalan yang datar. Hari-hari penderitaan membuat kita bisa bercahaya. Kita tidak meminta Allah dengan kuat kuasa-Nya campur tangan untuk menghentikan lingkungan penderitaan kita, tetapi mohon Allah dengan kuat kuasa-Nya menjaga kita, supaya kita bisa tahan terhadap ujian penderitaan.

Tak peduli dalam gereja, dalam masyarakat, dalam keluarga, Allah membuat Anda mengalami perkara yang menyebabkan Anda dipermalukan, menderita, dan tidak senang, semua adalah salib yang Allah berikan kepada kita, supaya kita belajar memikul salib, menyangkal diri, taat kepada Allah. Kalau Anda berjumpa dengan perkara yang demikian, berkatalah kepada Allah, “Ya Allah, kalau Engkau senang aku menghadapi hari-hari yang sulit, aku juga senang menempuh hari-hari yang sulit. Kalau Engkau senang aku menderita, aku tidak memohon kenyamanan.” Kita harus belajar memuaskan hati Allah, karena kita tidak saja percaya kepada Tuhan, juga mengasihi Tuhan.

9. Kematangan hayat

adalah dengan mutlak menerima pendisiplinan Roh Kudus

Mengenai perkara kematangan hayat, Saudara Watchman Nee mengucapkan perkataan yang demikian:

Kematangan hayat memerlukan waktu. Orang muda hanya memiliki otak yang besar, belum sungguh-sungguh matang. Matang tergantung pada perluasan kapasitas. Anda harus membiarkan Allah memiliki lebih banyak waktu, memberi Anda penderitaan yang tidak bisa Anda tanggung, untuk memperluas kapasitas Anda. Ada orang rugi lima dolar, bisa mengampuni, tetapi kalau rugi lima ribu dolar, tidak bisa mengampuni. Ada orang bisa mengampuni orang dua kali, tiga kali, tetapi sampai kali kelima sudah tidak bisa mengampuni lagi. Buah yang matang berbeda rasanya dengan buah mentah. Yang mentah, asam, pahit, getir, keras; tetapi yang matang, manis dan harum. Madame Guyon mempunyai cita rasa kematangan. Dia adalah guru dari orang tua, juga teman bagi anak-anak.

Hayat orang Kristen bertumbuh dengan sendirinya, bukan seperti pisang yang matang dikarbit. Anak Manusia datang juga makan dan minum; ada orang begitu makan dan minum, segera tampak corak asalnya. Hayat itu bukan hasil dari rialat. Kalau ada roh, tidak perlu diperbaiki; kalau tidak ada roh, tidak bisa diperbaiki. Bunga bakung berbunga, burung berbulu, semua ini tidak perlu persiapan; persiapan hanya bisa menjadikan Anda orang beriman di tengah-tengah manusia, tetapi tidak bisa menjadikan Anda orang Kristen yang sejati. Asal kita di aspek negatif mempunyai tanda salib, sudahlah cukup, tidak perlu berusaha keras untuk menghasilkan buah. Kalau kita berusaha keras, hanya akan menghambat pertumbuhan hayat, tidak bisa membantu pertumbuhan hayat. Yang penting adalah menerima pengaturan Allah dalam situasi lingkungan. Pengaturan ini adalah pendisiplinan Roh Kudus. Kalau melarikan diri satu kali dari pengaturan Allah, akan kehilangan satu kesempatan untuk diperluas kapasitasnya, sehingga waktu untuk mencapai kematangan hayat akan tertunda, bahkan harus mengulang pelajaran, baru bisa matang. Setelah seorang beriman mengalami penderitaan, ia pasti berbeda dengan yang dulu, kalau bukan kapasitasnya diperluas, tentu kekuatannya bertambah. Sebab itu, ketika seorang beriman mengalami penderitaan, ia harus memperhatikan bahwa kematangan hayat adalah dengan mutlak menerima pendisiplinan Roh Kudus. Orang hanya nampak kematangan hayat seseorang, tetapi tidak nampak jumlah pendisiplinan Roh Kudus yang dikerjakan secara diam-diam dari hari ke hari dalam jangka waktu yang lama.

10. Lebih baik menambah tinggi air lima kaki

Ketika Saudara Watchman Nee membicarakan kekuatan Allah ternyata atas diri orang yang lemah, ia memakai satu perumpamaan. Pada suatu kali ia sakit serius. Selama dua bulan paru-parunya dirontgen tiga kali. Hasilnya jelek. Ia berdoa, ia juga percaya, ia juga mengharapkan Allah menyembuhkan penyakitnya. Ada beberapa kali kekuatannya lebih baik daripada hari-hari biasa; tetapi di hadapan Allah ia mengakui masih agak jengkel. Kejengkelannya disebabkan, meskipun hari ini keadaan kesehatannya lebih baik, kekuatannya juga lumayan, tetapi apa gunanya Allah memperlakukan dia demikian? Karena akar penyakitnya masih ada di sini. Dia bisa rubuh kapan saja. Apa gunanya Allah memberi dia kekuatan sementara? Ia sudah bosan sakit. Pada suatu hari, ia membaca Alkitab sampai Surat 2 Korintus pada pasal yang mengatakan tentang Paulus tiga kali meminta Allah mencabut duri yang ada pada dirinya, satu kesempatan untuk diperluas kapasitasnya, sehingga waktu untuk mencapai kematangan hayat akan tertunda, bahkan harus mengulang pelajaran, baru bisa matang. Setelah seorang beriman mengalami penderitaan, ia pasti berbeda dengan yang dulu, kalau bukan kapasitasnya diperluas, tentu kekuatannya bertambah. Sebab itu, ketika seorang beriman mengalami penderitaan, ia harus memperhatikan bahwa kematangan hayat adalah dengan mutlak menerima pendisiplinan Roh Kudus. Orang hanya nampak kematangan hayat seseorang, tetapi tidak nampak jumlah pendisiplinan Roh Kudus yang dikerjakan secara diam-diam dari hari ke hari dalam jangka waktu yang lama.

10. Lebih baik menambah tinggi air lima kaki

Ketika Saudara Watchman Nee membicarakan kekuatan Allah ternyata atas diri orang yang lemah, ia memakai satu perumpamaan. Pada suatu kali ia sakit serius. Selama dua bulan paru-parunya dirontgen tiga kali. Hasilnya jelek. Ia berdoa, ia juga percaya, ia juga mengharapkan Allah menyembuhkan penyakitnya. Ada beberapa kali kekuatannya lebih baik daripada hari-hari biasa; tetapi di hadapan Allah ia mengakui masih agak jengkel. Kejengkelannya disebabkan, meskipun hari ini keadaan kesehatannya lebih baik, kekuatannya juga lumayan, tetapi apa gunanya Allah memperlakukan dia demikian? Karena akar penyakitnya masih ada di sini. Dia bisa rubuh kapan saja. Apa gunanya Allah memberi dia kekuatan sementara? Ia sudah bosan sakit. Pada suatu hari, ia membaca Alkitab sampai Surat 2 Korintus pada pasal yang mengatakan tentang Paulus tiga kali meminta Allah mencabut duri yang ada pada dirinya, pernah menyatakan kekurangan kepada orang. Dia percaya Allah bisa menyuplai semua keperluannya. Ini bukan berarti dia tidak pernah kekurangan. Dia juga sering mengalami pengujian, mengalami banyak penderitaan. Saudara Witness Lee berkata: Pada permulaan Saudara Watchman Nee di Shanghai, adakalanya sepanjang hari selain sedikit mantho (bakpao tanpa isi), tidak ada makanan apa-apa lagi. Keadaan demikian bukan hanya satu kali. Adakalanya dia tidak tahu nanti akan makan apa.

Pada suatu kali, kata orang, dia di Shanghai pernah tidak makan apa-apa selama tiga hari, karena tidak ada uang. Kemudian, di kamar dia menemukan beberapa uang logam tembaga. Ia membawa uang logam itu untuk membeli roti bakar. Tetapi karena tubuhnya terlalu lemah, di tengah jalan ia terjatuh, seperti mau pingsan. Tetapi sejenak kemudian, ia bangun dan bersandar pada tembok, tidak mau ketahuan orang kalau ia jatuh. Kebetulan ada seorang saudara lewat di sana, bertanya kepadanya apa yang terjadi, mengapa dia jatuh. Dia segera menjawab, tidak apa-apa! Dia tidak mau menyatakan kekurangan dirinya. Dia benar-benar seorang yang bisa menderita. Seumur hidup dia menderita bagi Tuhan, boleh dikatakan melebihi siapa pun yang ada di tengah-tengah kita. Karena penderitaannya paling banyak, paling dalam, sebab itu dia memiliki paling banyak hal rohani yang diberikan kepada orang.

Tahun 1930-an, di bawah keadaan ekonomi China yang begitu jelek, menempuh hidup bersandar Allah, tanpa gaji, tanpa jabatan, tanpa jaminan, sungguh sulit sekali. Boleh dikatakan di seluruh China, Saudara Watchman Nee adalah perintis jalan hidup bersandar iman. Dia mengalami berbagai penderitaan. Puji Tuhan, dia telah membuka jalan. Tuhan Yesus sungguh-sungguh memerlukan dia, juga memakai dia untuk membuka jalan ini; kita hanya mengikuti jejaknya. Saudara Witness Lee berkata: Adakalanya orang berkata, “Anda pengikut Watchman Nee.” Saudara Witness Lee berkata, “Ya, sangat baik!” Sampai selamanya dia akan berkata, “Ini sangat mulia.”

Saudara Watchman Nee berkata: Orang yang miskin karena Tuhan akan nampak dirinya lebih kaya daripada orang-orang yang di dunia, lebih diperkenan Tuhan. Tujuan Allah adalah melalui penderitaan membawa anak-anak-Nya ke tempat yang lapang, melalui kemiskinan membuat anak-anak-Nya kaya dalam iman.

12. Sebuah tempat tidur, sebuah meja, sebuah kursi,

satu mantho (bakpao tanpa isi)

Ketika Saudara Watchman Nee baru tiba di Chungking, dia tinggal di satu sudut loteng. Di kamarnya hanya ada sebuah tempat tidur, sebuah meja, sebuah kursi. Ketika Saudara Chang Yi Lan menjenguk dia, tangga kayu menuju loteng bisa bergoyang dan berbunyi cit, cit, cit. Kemudian Saudara Watchman Nee pindah ke loteng besar pabriknya sendiri; bagi dia tidak ada bedanya, sikapnya masih seperti dulu. Tentang makanan, adakalanya hanya makan satu bakpao tanpa isi, minum air putih; adakalanya juga mengikuti perjamuan kasih yang limpah. Dia tidak mempedulikan kondisi kehidupannya, dia tetap tenang. Dia telah belajar apa yang Paulus pelajari, “Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan. Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:11-13).

Orang yang dipakai Allah harus lulus ujian kemiskinan, juga lulus ujian kelimpahan. Saudara Watchman Nee telah melewati dua macam ujian ini, dan tidak bercacat cela. Dia adalah orang yang telah dimurnikan.

13. Menerima berbagai macam penganiayaan

dari kalangan kekristenan

Penderitaan Saudara Watchman Nee juga ada yang berupa berbagai macam penganiayaan dari kalangan kekristenan, misalnya, dipandang rendah dan dihina. Pada tahun-tahun awal, ada orang berkata, “Siapa itu Watchman Nee? Hanya anak muda yang berusia dua puluh tahun lebih.” Bahkan ketika dia menerbitkan buku “Manusia Rohani”, ada seorang pendeta kenamaan berkata kepada orang, “O, Watchman Nee adalah seorang yang pandai, dia membaca banyak buku bahasa Inggris, dia hanya mengutip isi buku-buku itu, kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Mandarin.” Saudara Watchman Nee menerima penghinaan ini. Dia belajar apa yang disebut dihina oleh orang. Saat itu, tidak hanya dia seorang diri, juga ada beberapa orang yang suka memakai perkataan dalam Ibrani 13:13, “Karena itu, marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya.” Dia berlatih ini, ada beberapa sekerja juga bersama dia menerima penghinaan, menganggap penghinaan adalah salib, semakin dihina semakin sukacita; karena telah memikul salib.

Kedua, kritik. Setelah dipandang rendah, kemudian dikritik. Ini dikarenakan dia menolak seluruh kekristenan. Kalau Anda membaca majalah yang ia terbitkan pada tahun 1925 sampai 1926, Anda akan menemukan saat itu dia benar-benar membongkar seluruh kekristenan. Karena dua puluh empat jilid majalahnya, seluruh kekristenan terbongkar habis. Mereka tidak saja sering mengkritik, bahkan membela diri, mengeluarkan banyak karangan untuk mengkritik. Karena dikritik orang, Saudara Watchman Nee belajar pelajaran menanggulangi daging. Meskipun dia dikritik, tetapi selamanya tidak ada reaksi yang bersifat daging. Jangan mengira dia adalah malaikat, bukan orang yang berdarah daging; sedangkan kita semua berdarah daging. Tetapi karena dikritik orang, ia belajar pelajaran menanggulangi daging.

Ketiga, penentangan. Setelah kritik, datanglah penentangan. Seluruh kekristenan bangkit menentang dia. Di China, di kalangan kekristenan ada semacam majalah kumpulan berita-berita, hampir setiap edisi menentang dia. Anda tidak bisa membayangkan penentangan ini; tetapi saudara kita sama seperti syair Kidung nomor 330, bait 7,

“D’rita, lawan, c’laka, tidak kupeduli;

Mohon roh, jiwa, tubuhku, Kau curahi kasih.”

Keempat, penyerangan. Setelah penentangan, ada penyerangan. Mereka sekuatnya menyerang Saudara Watchman Nee, ingin sekali menjatuhkan dia. Lagi pula serangan yang paling hebat bukan berasal dari orang Kristen di China, tetapi berasal dari misionaris Barat. Karena misionaris Barat menganggap mereka meninggalkan negara dan keluarganya, berkorban begitu banyak bagi Tuhan Yesus, datang ke China tempat yang memeluk agama lain, membantu orang beroleh selamat, dan meletakkan dasar gereja misi. Misionaris dari Misi Presbiterian membantu mendirikan gereja Presbiterian. Misionaris dari Misi Baptis membantu mendirikan gereja Baptis. Sekarang orang muda Watchman Nee ini, yang belum pernah ke luar negeri, belum pernah bersentuhan dengan agama Kristen, menulis karangan yang membongkar dasar berbagai denominasi yang didirikan oleh misionaris! (Sebenarnya tidak benar. Melalui buku-buku sejarah, Saudara Watchman Nee telah berkontak dengan kekristenan, tetapi mereka mengira Saudara Watchman Nee belum tahu tentang kekristenan.) Orang muda ini memberi tahu orang-orang Kristen di China, termasuk semua misionaris Barat, bahwa semua denominasi salah, seharusnya hanya ada satu gereja, yaitu yang berada di lokal. Dia berkata, “Kita harus berterima kasih kepada misionaris Barat yang datang ke China; tetapi kalian telah melakukan satu kesalahan. Kalian tidak seharusnya membangun gereja dari misi kalian. Sebutan “Gereja Presbiterian” harus dihapus, merek “Gereja Baptis” juga harus diturunkan.” Karena hal itu, ia mendapatkan serangan.

14. Pelajaran bermotivasi bersih murni

Karena diserang, Saudara Watchman Nee belajar satu pelajaran, yaitu menjaga motivasinya murni. Dia pernah berkata kepada Saudara Witness Lee: Ketika dia diserang, khususnya ketika diserang oleh misionaris Barat, dia bertanya kepada diri sendiri, “O, mungkin aku telah salah. Kalau tidak, mengapa sedemikian banyak hamba Tuhan menyerang aku?” Lihatlah, karena serangan itu, dia terjaga, terus bertanya kepada diri sendiri, apakah motivasinya murni. Di sini dia belajar satu pelajaran bermotivasi murni.

Saudara Watchman Nee berkata: Semua tergantung pada motivasi. Pada diri orang yang bersih, semuanya bersih; pada diri orang yang najis, semuanya najis (Tit. 1:15). Yang dilihat Tuhan, bukan pekerjaan, melainkan motivasi pekerjaan kita — untuk apa melakukannya? Tuhan tidak bertanya seberapa besar pekerjaan di luar, Tuhan hanya tanya kebersihan hati yang di dalam.

Kita harus mengetahui, yang Allah inginkan bukanlah iman yang campur aduk, tetapi iman yang murni. Allah akan menyelamatkan kita sedemikian rupa sehingga yang kita inginkan adalah diri Allah, bukan pekerjaan yang Allah suruh kita lakukan. Tuhan yang kita layani itu setia, yang Dia kehendaki adalah hati kita yang tulus, yang setia. Dia tidak melihat kesuksesan. Kita seharusnya memiliki doa yang demikian, “Tuhan, bagi diriku sendiri, aku tidak meminta apa-apa, aku minta segalanya untuk Engkau, aku menghendaki apa yang Engkau kehendaki, selain kehendak-Mu, aku tidak mau apa-apa.”

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm. 139:23-24). Kita harus memeriksa apakah motivasi kita bersih? Begitu ada hati yang tidak bersih, tidak berada di bawah salib, berarti kita tidak berada pada jalan hayat. “Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin . . .”(Mzm. 51:8). Sekiranya kita dengan tulus mau Allah dan mau kehendak Allah.

15. Ini adalah cara politikus

Saudara Watchman Nee belajar pelajaran bermotivasi bersih. Dia juga memimpin para sekerja belajar pelajaran bermotivasi bersih. Tahun 1935, Saudara Witness Lee pergi ke Hangchow memimpin sidang beberapa hari, melakukan sedikit pekerjaan Tuhan. Setelah kembali dari sana, Saudara Watchman Nee memanggilnya untuk berbincang-bincang (mereka tidak pernah mengobrol yang tidak ada artinya). Saudara Witness Lee mengira Saudara Watchman Nee pasti menerima gerakan dari Tuhan, khusus hendak menguji dia. Saudara Watchman Nee bertanya kepadanya, “Untuk apa Anda pergi ke Hangchow? Untuk apa pergi ke Hangchow?” Saudara Witness Lee sangat terkejut, mengapa Saudara Watchman Nee mengajukan pertanyaan seperti ini. Dia menjawab, “Aku merasa ada beberapa saudara di Hangchow perlu bantuanku, sebab itu aku khusus pergi ke sana membantu mereka.” Saudara Watchman Nee berkata dengan terus terang, “Inilah gaya politikus Anda.” Saudara Witness Lee menjawab, “Apa? Bisakah Anda menjelaskan, karena aku tidak paham.” Dia benar-benar tidak paham. Dia mengira dirinya adalah hamba kecil Tuhan, pergi ke sana melayani, mengapa Saudara Watchman Nee berkata bahwa ini gaya politikusnya? Saudara Watchman Nee berkata, “Anda pergi dengan satu tujuan.” Dia menjawab, “Tujuanku tidak jelek. Aku pergi untuk membantu mereka.” Saudara Watchman Nee berkata, “Tidak salah, itulah politik.” Dia berkata, “Saudara Watchman Nee, kalau demikian aku tidak bisa melayani Tuhan.” Kemudian Saudara Watchman Nee membantu dia untuk memahami, “Kalau Anda hendak pergi ke suatu tempat, tidak seharusnya mempunyai satu tujuan. Mengapa Anda hendak pergi ke sana? Seharusnya karena Tuhan memimpin Anda ke sana. Tuhan memimpin Anda pergi, maka Anda pergi. Apa yang akan Anda kerjakan, Anda tidak tahu; Tuhan yang tahu.”

Saudara Witness Lee berkata, “Ini benar-benar pelajaran berharga. Sampai hari ini, aku masih belajar pelajaran ini. Menurut apa yang dipelajari oleh Saudara Watchman Nee, asal Anda mempunyai satu tujuan, tidak peduli tujuan itu baik atau jelek, Anda adalah politikus, sedang berpolitik. Ini adalah satu pelajaran yang sulit; tetapi ini membantu aku, mempertanyakan kepadaku apa motivasiku.”

Tuhan Yesus berkata, “. . . Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh. 5:30). Begitu menuruti kehendak diri sendiri, motivasinya menjadi tidak murni. “Siapa saja yang berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi siapa saja yang mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya” (Yoh. 7:18). Begitu mencari hormat bagi diri sendiri, begitu mencari keuntungan bagi diri sendiri, motivasinya sudah tidak murni.

16. Pendapat berbeda memberi dia penderitaan

Penderitaan Saudara Watchman Nee, ada yang berasal dari kalangan kekristenan, juga ada yang berasal dari saudara saudari. Pendapat saudara saudari yang berbeda dengan Saudara Watchman Nee, juga merupakan salah satu penderitaan yang dialami oleh Saudara Watchman Nee. Ada beberapa saudara saudari meskipun tidak menolak Saudara Watchman Nee, tetapi selalu mempunyai pendapat yang berbeda. Misalnya, sejak permulaan ada seorang saudari (ketika Anda akan mengatakan kekurangan seseorang, sebaiknya tidak menyebut namanya), usianya lebih besar lima atau enam tahun daripada Saudara Watchman Nee. Ia adalah seorang yang menuntut Tuhan, mengasihi Tuhan, juga memiliki karunia. Dari berbagai aspek ia dihormati oleh orang, akhirnya menjadi satu penginjil keliling perempuan. Ketika masa perang, ia mengajar di satu sekolah teologi di ibu kota China. Ia adalah seorang yang luar biasa. Pada permulaan hidup gereja, ia ada di dalamnya, tetapi kemudian keluar. Ia terus menyatakan pendapat yang berbeda dengan Saudara Watchman Nee, bersama enam orang yang mengucilkan Saudara Watchman Nee. Januari tahun 1934, ketika di Shanghai ada Sidang Pemenang kali ketiga, Saudara Witness Lee melihat dia ada di dalam sidang itu, dan terus menyatakan pendapat yang berbeda. Saudara Watchman Nee sedang berkhotbah, ia terus menggelengkan kepala. Hal ini adalah satu macam penderitaan bagi seorang pengkhotbah. Saudari ini boleh dikatakan adalah seorang yang paling berbeda pendapat dengan Saudara Watchman Nee. Pendapat yang berbeda dari saudara saudari, bagi Saudara Watchman Nee benar-benar merupakan penderitaan, penderitaan dalam batin.

17. Menderita karena orang yang tidak matang

dan orang yang berkemampuan rendah

Saudara Watchman Nee juga mengalami penderitaan dari orang yang tidak matang atau berkemampuan rendah. Dia bekerja sama dengan saudara-saudara, memikul tanggung jawab; tetapi saudara-saudara yang lain tidak sebanding dengannya. Dia begitu matang, begitu cekatan, tetapi orang lain tidak matang, tidak cekatan, ini benar-benar merupakan penderitaan baginya. Dia pernah menulis surat kepada seorang saudara yang lebih tua daripadanya, “Anda tahu, karena saudara-saudara di sini kurang matang, maka apa saja yang aku katakan yang terhitung, mereka sendiri tidak bisa mencari kehendak Tuhan.” Ini menyatakan penderitaan dari seorang pemimpin berupa kesepian. Tahun 1930-an, Saudara Watchman Nee adalah seorang yang istimewa. Dia mengetahui lebih banyak daripada orang lain. Banyak hal yang sudah dia lihat, belum pernah dilihat oleh saudara-saudara yang lain. Mereka tidak matang, tidak cakap; hal ini bagi Saudara Watchman Nee adalah suatu penderitaan. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi suka berbicara, akhirnya menjadi kesulitan bagi orang lain. Kita seharusnya tahu bahwa pekerja yang baik tidak seharusnya banyak berbicara. Siapa yang banyak bicara, sering kali tidak bisa mengerjakan apa-apa.

18. Orang yang tegar tengkuk

menyebabkan dia menderita

Orang yang tegar tengkuk, juga menyebabkan Saudara Watchman Nee menderita. Saudara Witness Lee menceritakan satu peristiwa. Saudara Watchman Nee mengundang Saudara Witness Lee berkunjung ke Shanghai, dan menahan Saudara Witness Lee tinggal di sana selama empat bulan lebih. Pada akhir potongan waktu itu, Saudara Watchman Nee mencari Saudara Witness Lee dan berkata, “Saudara Witness Lee, kami para sekerja merasa bahwa Anda harus membawa keluarga pindah ke sini, tinggal bersama kami, bekerja bersama kami. Datanglah ke hadapan Tuhan, lihat bagaimana Tuhan memimpin.” Lalu Saudara Witness Lee pergi ke hadapan Tuhan, juga jelas harus melakukan apa, demikian Saudara Witness Lee masuk ke dalam pekerjaan. Saudara Watchman Nee segera menempatkan Saudara Witness Lee dalam satu kedudukan yang memikul tanggung jawab. Saudara Witness Lee merasa heran, mengapa demikian? Saudara Witness Lee adalah orang baru, orang lain sedikitnya sudah lima atau enam tahun. Meskipun Saudara Witness Lee adalah orang baru, tetapi Saudara Watchman Nee mengatur dia memikul tanggung jawab yang besar, dan menentukan dia bersama Saudara Watchman Nee melakukan beberapa hal. Saudara Witness Lee menemukan bahwa saudara-saudara lain sibuk dengan pekerjaannya sendiri-sendiri, hanya seorang yang terkecuali, dia lebih tua daripada Saudara Witness Lee, juga lebih tua daripada Saudara Watchman Nee. Saat itu Saudara Witness Lee berusia dua puluh enam tahun, Saudara Watchman Nee sekitar dua puluh delapan tahun, tetapi saudara ini sudah tiga puluh lima tahun. Sebelum ia masuk ke dalam pekerjaan, ia adalah kepala kantor pos, memiliki sedikit pengalaman hidup. Pada satu hari datanglah seorang yang sangat pandai, berpengetahuan tinggi. Dia berencana pergi ke Amerika Serikat untuk meneruskan sekolah. Saat itu dia baru beroleh selamat, mengharapkan sebelum pergi ke Amerika Serikat sudah dibaptis. Dia pernah datang bersidang satu dua kali, Saudara Watchman Nee jelas akan keadaannya; tetapi Saudara yang pernah menjadi kepala kantor pos ini berkata, “Tidak boleh, kita belum terlalu kenal dia. Dia baru datang satu dua kali, kita tidak seharusnya membaptis orang yang demikian.” Saudara Watchman Nee berkata, “Apakah Anda khawatir?” Jawabnya, “Aku khawatir dia belum beroleh selamat.” Saudara Watchman Nee berkata, “Anda boleh menyerahkan tanggung jawab ini kepadaku. Kelak kalau perkara ini salah, aku mau memikul tanggung jawab di hadapan Tuhan.” Tetapi ia masih mengatakan, “Tidak.” Tak peduli Saudara Watchman Nee berkata apa, ia masih tetap tidak setuju. Hal ini benar-benar membuat Saudara Watchman Nee menderita. Ini hanya satu contoh.

Masih ada satu perkara. Setelah tahun 1932, tahun Saudara Witness Lee masuk ke dalam pekerjaan, Saudara Watchman Nee merasa dalam sidang tidak ada saudari yang berdoa, itu merupakan kerugian yang besar bagi gereja. Dia dengan jelas melihat bahwa saudari-saudari boleh berdoa dalam sidang, juga perlu berdoa dalam sidang; tetapi kebanyakan saudara yang memimpin mempunyai satu kesan, yaitu saudari-saudari tidak seharusnya berbicara dalam sidang, harus tutup mulut. Saudara Watchman Nee bersekutu dengan mereka, “Dalam sidang kita seharusnya membebaskan saudari-saudari, mengizinkan saudari-saudari berdoa.” Hampir semua berkata, “Tidak boleh!” Kemudian Saudara Witness Lee datang ke Shanghai, berangsur-angsur menemukan masalah ini. Dalam hal ini mungkin Saudara Witness Lee yang pertama berkata, “Amin.” Sejak itu Saudara Witness Lee mengetahui, mengapa Saudara Watchman Nee menaruh dia pada kedudukan ini, karena Saudara Watchman Nee terlalu sendirian.

Jangan mengira hanya saudara-saudara yang tegar tengkuk, adakalanya pada diri saudari-saudari, kesulitan serupa ini lebih besar. Ketegartengkukan ini mendatangkan penderitaan yang besar kepada orang yang memimpin dan orang yang berkoordinasi. Sebab itu kita harus belajar, selain sabar terhadap ketegartengkukan orang lain, di samping itu selamanya tidak bersikeras terhadap orang lain. Harus belajar berkata kepada orang, “Baiklah. Kalau Anda merasakan demikian, aku tidak berkata apa-apa. Aku ikut Anda!” Jangan terlalu percaya diri, harus belajar mempercayai orang lain, mempercayai saudara Anda, mempercayai saudari Anda. Ini adalah satu pelajaran yang indah.

19. Saudara yang berambisi

menyebabkan dia menderita

Saudara-saudara yang mempunyai ambisi terhadap kedudukan juga mendatangkan semacam penderitaan bagi Saudara Watchman Nee. Ada seorang saudara, ia adalah orang ketiga yang masuk ke dalam hidup gereja. (Yang pertama adalah saudara yang tegar tengkuk, mantan kepala kantor pos; yang kedua adalah Saudara Yu, dokter mata; yang ketiga ini berasal dari China Inland Mission di Shanghai). Ia sangat aktif, juga sangat menuntut kemajuan, dalam segala hal selalu menyatakan dia mengasihi Tuhan. Tetapi ia terus berambisi untuk menjadi penatua, menjadi orang yang memimpin. Sesungguhnya ia adalah orang yangtidak cocok menjadi pemimpin, ia bukan bahan untuk itu. Saudara Watchman Nee berkali-kali berkata kepada orang, gereja adalah satu Tubuh organik, bukan satu organisasi, tidak ada kedudukan apa-apa untuk orang. Gereja tidak bisa melakukan apa yang dilakukan oleh dokter gigi, memberi kedudukan kepada gigi palsu. Dalam hidup gereja, siapa yang ingin mendapatkan kedudukan, selamanya tidak akan mendapatkan kedudukan itu. Saudara ini sudah berada dalam hidup gereja selama dua puluh satu tahun. Karena tidak mendapatkan yang diharapkannya, ia meninggalkan hidup gereja, mulai mengadakan sidang di rumahnya, mengundang penginjil keliling, dan menjadi orang yang menentang jalan ini, terus mengkritik dan menyerang.

Selain itu, ada seorang pemuda yang sangat licik. Demi mencapai ambisinya, ia pura-pura rohani. Pada mulanya hampir semua orang di gereja Shanghai tertipu olehnya. Lama-kelamaan “ekor musangnya” muncul. Pewajib-pewajib yang di depan dan semua sekerja mengetahui kepalsuannya. Semua setuju untuk membereskan masalah ini. Lalu gereja mengadakan satu sidang secara mendadak, semua orang datang. Seorang sekerja berdiri dan mengumumkan perkara kepalsuannya. Selanjutnya banyak orang bangun menyalahkan dia, semua orang yang hadir menyalahkan dia. Lalu dia pun pergi. Setelah dia pergi, dia diundang oleh sekolah teologi tertinggi di China pada waktu itu sebagai dosen. Inilah kekristenan.

Ambisi saudara-saudara yang ingin mendapatkan kedudukan, membuat Saudara Watchman Nee menerima banyak penderitaan. Dia pernah memberi tahu Saudara Witness Lee bahwa dia tidak tahu bagaimana mengatasi perkara-perkara itu. Sampai akhirnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa, membiarkan masalah itu lewat dengan sendirinya. Dia berkata, “Aku tidak mempunyai kedudukan untuk diberikan kepada orang. Orang lain juga tidak pernah memberikan kedudukan kepadaku. Siapa yang mau tinggal, biarlah ia tinggal; siapa yang mau pergi, biarlah ia pergi.” Karena ambisi yang demikian, saat itu juga timbul beberapa perpecahan.

Kita harus belajar melayani Tuhan dengan murni, hanya mengasihi Tuhan, mengasihi gereja, tidak ada motivasi lain, tidak ada motivasi mendapatkan keuntungan, tidak ada ambisi untuk mendapatkan kedudukan. Jangan seperti Diotrefes “yang ingin menjadi orang terkemuka”. Kedudukan merupakan satu pencobaan yang besar. Kita harus mengalahkan pencobaan ini.

20. Penyakit adalah satu duri

yang Allah berikan kepadanya

Ketika Saudara Watchman Nee menderita penyakit paru-paru yang akut, tahun 1927, ia juga terkena sakit jantung koroner. Allah merahmati dia, menyembuhkan penyakit paru-parunya, tetapi masih meninggalkan penyakit jantung koronernya. Dia menderita penyakit jantung ini selama empat puluh lima tahun, terus membawa penyakit ini sampai meninggal. (Beberapa bulan sebelum meninggal, ia pernah mengirim surat dari penjara, mengatakan penyakitnya telah menggerogotinya, sering kambuh. Sakit yang ia derita adalah penyakit kronis, penyakit organ vital, kalau kambuh sangat tidak nyaman, meskipun tidak kambuh, tetapi penyakitnya masih ada di dalam tubuhnya, hanya ada perbedaan kambuh atau tidak, tidak ada perbedaan sembuh atau tidak). Penyakit ini sering membuat dia kesakitan, mengeluarkan keringat dingin. Adakalanya ketika ia menyampaikan berita di mimbar, tiba-tiba penyakitnya kambuh. Terpaksa ia menyandarkan tubuhnya pada mimbar. Dia tahu sewaktu-waktu ia bisa meninggal karena penyakitnya kambuh; tetapi dia menerima kehendak Allah, sama sekali tidak khawatir. Dia menganggap penyakit ini adalah duri yang Allah berikan kepadanya, untuk merampungkan tujuan Allah. Kita seharusnya ingat, kalau tidak ada duri, tidak ada anugerah, juga tidak ada kekuatan, ruang lingkup pelayanan kita akan sangat kecil.

Penyakit adalah sebuah duri yang tertinggal di atas dirinya, supaya pekerjaan dan pelayanannya dalam seumur hidupnya senantiasa bersandar kuasa kebangkitan, untuk menunjang tubuhnya, juga supaya seumur hidup mengalami yang dikatakan dalam Roma 8:11, “Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.”

21. Keluarganya juga melakukan sesuatu

yang membuat dia menderita

Keluarganya juga melakukan sesuatu yang membuat dia menderita. Dari pembicaraannya kepada sekerja pada bulan Juli 1940, secara tersirat ia ungkapkan hal ini. Dia berkata: Adakalanya kita merasakan lahir dalam keluarga yang salah; tetapi Allah menetapkan kita menjadi anak siapa. Allah di atas diri Yusuf ada pekerjaan yang tertentu. Mungkin kita mengira sebaiknya dia memiliki saudara-saudara yang agak baik; tetapi Yusuf berkata, “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu . . . Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (Kej. 45:5; 50:20). Seluruh kehidupan kita, tidak saja dimulai ketika kita bertobat, bahkan sejak awal sampai akhir, semua telah Allah atur untuk kita, guna mencapai tujuan-Nya yang paling tinggi. Samuel, Yesaya, Yeremia, dan Paulus, manusia-manusia Allah ini, telah disiapkan lebih dulu sebelum Allah memerlukan mereka. Yesaya berkata, “TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku . . . yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya” (Yes. 49:1,5). Yeremia berkata, “Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: ‘Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa’” (Yer. 1:4-5). Paulus juga mengatakan perkataan yang sama, “Tetapi sewaktu Allah, telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh anugerah-Nya” (Gal. 1:15).

22. Di dalam saya menciptakan satu kesempatan

supaya saya menjadi limpah

Saudara Watchman Nee berkata: Setiap perkara yang kita jumpai dari hari ke hari, perkara yang membuat kecewa, yang tidak lancar, semua adalah penanggulangan Tuhan yang serius terhadap diri kita. Kita akan menundukkan kepala menyembah Allah, “Aku bersyukur kepada-Mu. Hari ini Engkau bermaksud membuatku menjadi orang yang limpah, membawaku ke dalam kelimpahan.” Semoga kita yang belajar mengikuti Tuhan, tidak kendur terhadap pengalaman sehari-hari.

Ketika berjumpa dengan pencobaan, seharusnya kita menengadahkan kepala memuji Dia, “Tuhan, Engkau menyediakan lagi satu kesempatan supaya aku menjadi limpah. Tidak ada satu perkara yang tidak baik. Engkau sekali lagi di dalamku menciptakan satu perkara yang tidak dimiliki oleh orang lain, supaya aku boleh menyuplai gereja.” Sebab itu banyaknya urusan, banyaknya kejadian, tidak berarti Allah merugikan kita, sebaliknya, berarti Allah melakukan kebaikan kepada kita.

Kembali..