TIDAK MENJELASKAN, TIDAK MEMBELA DIRI, TIDAK BERBICARA APA-APA
UNTUK DIRI SENDIRI
1. Mengira dia pergi bermain
Saudara Watchman Nee adalah seorang yang sangat pandai, bahasa Inggris dan Mandarinnya sangat baik. Orang tuanya mengundang guru privat untuk mengajarinya bahasa China kuno. Begitu beroleh selamat, ia sudah mulai mengasihi Tuhan, mau bekerja bagi Tuhan. Lalu, belajar kepada siapa? Dia ingin meninggalkan sekolahnya (Anglican Trinity College) dan pergi ke Shanghai, mengikuti Sekolah Alkitab yang dikelola oleh Saudari Dora Yu untuk melatih orang muda. Ibu Saudara Watchman Nee juga mengasihi Tuhan, juga sangat menghormati Saudari Dora Yu, lalu menyetujui dia pergi ke sana. Pada suatu hari, Saudari Dora Yu menyuruh dia pergi ke kantor pos yang di pinggiran Kota Shanghai mengirim beberapa surat. Waktu yang dia pakai lebih lama sedikit dari perkiraan Saudari Dora Yu. Saudari Dora Yu mengira dalam jangka waktu itu dia pergi bermain, lalu menegurnya dengan keras, dan mengantarnya pulang ke rumah ibunya. Tetapi Saudara Watchman Nee tidak putus asa, setelah kembali ke Foochow, dia meneruskan sekolahnya, dan lebih mengasihi Tuhan. Dia jelas, pengalaman ini adalah pemberian Tuhan kepadanya.
Saudara Watchman Nee berkata: Siapa yang dalam kegelapan, kekeringan, kebosanan, bisa tidak mempedulikan diri sendiri, bisa menyenangi segala yang datang dari Tuhan, orang itu adalah orang yang hidup bagi Tuhan. Bagaimana hayat seorang beriman, dapat dilihat dari bagaimana ia menghadapi tekanan.
“Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya” (Yes. 42:4). Ini mengacu kepada Tuhan kita. Saudara Watchman Nee mengikuti jejak Tuhan, meskipun menghadapi pukulan, tetapi tidak putus asa, juga tidak patah terkulai. Dia mempersilakan Allah merampungkan pengukiran di atas dirinya, agar di kemudian hari dia bisa menyuplaikan firman kepada orang lain.
2. Mengapa tidak memberi tahu
bahwa ia adalah ibu Anda
Kali pertama Saudara Witness Lee pergi ke Shanghai, ia memakai waktu yang panjang bersama Saudara Watchman Nee. Saudara Watchman Nee memberi tahu Saudara Witness Lee, kira-kira tahun 1930, pada suatu hari Miss Groves, sekerja Miss Barber, mencari dia. Ia mendengar desas-desus, lalu datang menjumpai Saudara Watchman Nee, dengan nada menegur berkata kepadanya, “Aku mendengar ada seorang perempuan tinggal bersamamu.” Saat itu Saudara Watchman Nee masih bujangan. Miss Groves adalah salah seorang yang pernah membantu Saudara Watchman Nee dalam hal rohani. Jadi, ia mempunyai kedudukan untuk menegur Saudara Watchman Nee. Saudara Watchman Nee memberi tahu Saudara Witness Lee bahwa ia menjawab, “Benar.” Perhatikan, Saudara Watchman Nee menjawab, “Benar.” Lalu Miss Groves berkata, “Bagaimana boleh seorang perempuan tinggal bersamamu?” Miss Groves sangat tidak senang, dan dengan sangat kecewa meninggalkan Saudara Watchman Nee. Sebenarnya, saat itu badannya kurang sehat, tidak ada orang yang merawatnya, sebab itu ibunya dari tempat yang jauh datang tinggal bersamanya, untuk merawatnya. Memang benar, ada seorang perempuan (ibunya) tinggal bersamanya, karena dia sedang sakit. Dengan penasaran Saudara Witness Lee berkata, “Mengapa Anda tidak memberitahunya bahwa itu adalah ibu Anda?” Bagaimana jawaban Saudara Watchman Nee? Dia menjawab, “Dia tidak bertanya siapa perempuan itu?” Selanjutnya dia memberi tahu Saudara Witness Lee, “Saudara, kita harus belajar selamanya tidak berkata apa-apa untuk membela diri sendiri. Apa pun yang ditanyakan orang, kita hanya bisa memberitahukan faktanya, memberitahukan apa adanya.” Dia melanjutkan, “Miss Groves menegurku, aku harus belajar satu pelajaran, tidak menjelaskan apa-apa untuk diri sendiri. Aku harus menerima teguran itu.” Saudara Witness Lee berkata, “Mengapa Anda tidak berkata kepadanya bahwa itu adalah ibu Anda?” Dia menjawab, “Dia tidak bertanya siapa perempuan itu. Jika dia bertanya, aku akan memberi tahu dia. Namun dia tidak menanyakan hal itu, maka aku tidak perlu memberi tahu dia. Jika aku memberi tahu dia, itu berarti membela diri.” Melalui kejadian ini tahulah kita mengapa Saudara Watchman Nee, dalam abad ini, merupakan sebuah bejana yang sangat berguna dalam tangan Tuhan.
3. Kalau menjelaskan, saya tidak memiliki salib
Saudara Watchman Nee sering difitnah, disalahpahami orang; tetapi dia tidak membela diri, tidak menjelaskan persoalannya. Dia dengan senang hati menerima salib. Pada suatu hari, seorang sekerja di Shanghai mendengar beberapa saudara saudari membicarakan perkaranya, semua mengatakan dia salah. Sekerja itu, setelah mendengar, juga menganggap Saudara Watchman Nee tidak seharusnya demikian. Lalu sekerja itu ingin mempraktekkan Matius 18, menegur saudara yang salah, di bawah empat mata. Kemudian sekerja itu datang ke rumah Saudara Watchman Nee, menunjukkan kesalahannya, mengatakan banyak orang berkata Saudara Watchman Nee demikian. Setelah sekerja itu selesai berkata, Saudara Watchman Nee dengan singkat menjelaskan, barulah sekerja itu tahu kejadiannya berbalikan dengan fitnahan. Saudara sekerja itu menyalahkan Saudara Watchman Nee, “Kalau demikian, mengapa Anda tidak berkata apa-apa? Mengapa tidak menjelaskan?” Dengan serius Saudara Watchman Nee berkata kepada sekerja itu, “Kalau aku menjelaskan, aku tidak memiliki salib.” Setelah mendengar perkataan itu, sekerja itu seperti menerima terang yang besar, lalu pulang dengan malu. Saudara itu mengira akan datang membantu Saudara Watchman Nee, tetapi sebaliknya dia menerima bantuan yang besar.
Saudara Watchman Nee pernah berkata, “Kalau salib bocor, akan terbang tertiup angin.” Perkataannya itu menyiratkan, ketika memikul salib, jangan berkata apa-apa kepada orang lain. Begitu berkata kepada orang lain, makna salib akan hilang.
4. Memukul meja memaki dia
Saudara Chang Yilan pada tahun 1942 di Chungking bertemu dengan Saudara Watchman Nee. Saudara Chang bersaksi: Secara luaran penampilan Saudara Watchman Nee tidak begitu elok, memakai jubah kain yang panjang, biasa saja, bersih, dan rapi, tetapi di dalamnya penuh dengan hayat Kristus. Kalau Anda menjamah orang ini, Anda dapat menjamah Kristus sendiri. Dia benar-benar seperti yang dikatakan Alkitab, “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam” (lihat 1 Ptr. 2:23). Pada suatu kali, seorang karyawannya yang berposisi rendah, karena menuntut kenaikan gaji, menunjuk-nunjuk ke mukanya, memukul meja memaki-makinya, memukul meja dengan keras, sampai-sampai tas kerja Saudara Watchman Nee yang terletak di atas meja jatuh ke tanah. Karyawan ini terus memaki-maki dia sampai empat jam. Orang-orang yang melihatnya merasa tidak terima; tetapi Saudara Watchman Nee tidak membalas sepatah kata pun. Ia duduk di kursi, memegang koran untuk dibaca, seperti tidak ada apa-apa, adakalanya masih mengangguk-anggukkan kepala.
Saudara Watchman Nee meneladani Kristus, “Tetapi aku ini seperti orang tuli, aku tidak mendengar, seperti orang bisu yang tidak membuka mulutnya; ya, aku ini seperti orang yang tidak mendengar, yang tak ada bantahan dalam mulutnya” (Mzm. 38:14-15); inilah orang yang di bawah salib.
Masih ada satu peristiwa, pada suatu kali pabrik obat Shen Hua dari luar negeri mengirim obat ke Chungking. Direktur di Chungking secara diam-diam menyisipkan satu koper alas sepatu karet di antara obat-obat itu. Akhirnya terbongkar oleh pihak bea cukai, dihukum berat. Meskipun Saudara Watchman Nee rugi banyak, tetapi dia tidak berbicara apa-apa.
5. Dicaci maki hanya
mengangguk-anggukkan kepala
Saudara Watchman Nee tidak saja sering difitnah, disalahpahami, dikritik orang, adakalanya juga dicaci maki secara terang-terangan. Pada suatu kali di Peibing, ada seorang saudara secara terang-terangan menanggulangi dia, terus memaki-makinya sampai tiga jam; tetapi dia tidak membela diri, tidak berdebat, tidak membalas sepatah kata pun; hanya mengangguk-anggukkan kepala, adakalanya tersenyum. Seorang saudara bernama Yi Chung Jie, yang saat itu berada di tempat tersebut melihat sikap Saudara Watchman Nee selama tiga jam dicaci maki tidak membalas, hatinya sangat terjamah. Tadinya Saudara Yi Chung Jie setuju dengan saudara itu, tetapi sejak hari itu, dia berbalik, bekerja sama dengan Saudara Watchman Nee. Saudara kita tidak mengucapkan alasan untuk diri sendiri, tidak membela diri sendiri, tidak berbicara untuk diri sendiri, tidak menjelaskan untuk diri sendiri, dengan diam menerima perlakuan buruk orang lain, inilah Roh Anak Domba. “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya”(Yes. 53:7).
6. Mengapa tidak memberi penjelasan,
sebaliknya hanya mengatakan terima kasih
Pada suatu kali, Nyonya Chiang mendengar Saudara Watchman Nee menerima satu telepon, pihak sana terus berbicara, suaranya terdengar keras, sepertinya tidak terima. Saudara Watchman Nee hanya mendengarkan, sekali-sekali menjawab, “Ya, ya, terima kasih, terima kasih!” Setelah telepon ditutup, Nyonya Chiang bertanya, “Siapa yang menelepon Anda?” Dia menjawab, “Seorang saudara, yang menganggap diriku bersalah.” Nyonya Chiang bertanya, “Apakah Anda mengaku salah?” Jawabnya, “Tidak.” Ia dengan tidak sabar berkata, “Mengapa Anda tidak menjelaskan kepadanya? Anda hanya berkata terima kasih?” Saudara Watchman Nee menjawab, “Kalau ada orang mengangkat Watchman Nee ke langit, dia tetap adalah Watchman Nee; kalau ada orang menginjak-injak dia sampai ke neraka, dia tetap adalah Watchman Nee.”
Pada kesempatan yang lain, ada orang bertanya kepada Saudara Watchman Nee, “Orang lain demikian salah paham kepada Anda, mengapa Anda tidak memberi penjelasan?” Dia berkata, “Kalau orang lain mempercayai aku, tidak perlu aku memberi penjelasan; kalau orang lain tidak mempercayai aku, memberi penjelasan juga tidak berguna.”
7. Menyebarluaskan karangan panjang
yang mengkritik dan menuduh dia
Tahun 1948, dalam gereja di Shanghai ada seorang saudara yang sudah lama berambisi menjadi penatua, tetapi tidak pernah tercapai, lalu menentang Saudara Watchman Nee. Saudara ini membantu seorang penginjil keliling, dan penginjil keliling ini menulis karangan panjang yang mengkritik, menuduh Saudara Watchman Nee atas beberapa hal. Karangan itu tersebar luas, tetapi Saudara Watchman Nee tidak berbuat apa-apa untuk membela diri.
8. Tidak mengatakan
saudara pewajib salah paham dan merugikannya
Saudara Watchman Nee adalah seorang yang meletakkan diri pada kematian. Orang memakinya, ia tidak menjelaskan, tidak membela diri; tetapi pada akhirnya, orang-orang yang salah paham kepadanya, orang-orang yang memakinya, datang kepadanya mengaku salah. Gereja di Shanghai adalah gereja yang dibina oleh Saudara Watchman Nee, dialah yang menetapkan saudara pewajib di sana. Pada suatu hari, mereka menolak dia. Dia pergi ke Chungking, hanya mengikuti sidang, tetapi tidak memecahkan roti. Saudara Chang Yi Lan, pewajib gereja di sana, bertanya, mengapa ia tidak memecahkan roti? Dia hanya menjawab bahwa urusan di Shanghai belum beres. Dia tidak mengatakan bagaimana saudara-saudara pewajib di Shanghai salah paham dan merugikannya. Tahun 1948, gereja di Shanghai meminta dia memulihkan ministrinya, Roh Kudus bekerja di sana, mereka semua datang ke depannya mengaku salah kepadanya.
9. Dia hanya tersenyum kepada mereka
Tahun 1950, ketika Saudara Watchman Nee dan Saudara Witness Lee di Hongkong, pada suatu malam setelah selesai sidang, ada dua orang pemuda berdiri di depan pintu, membagi selebaran yang mengkritik Saudara Watchman Nee. Kedua orang itu berdiri di depan Saudara Watchman Nee dan Saudara Witness Lee, tetapi Saudara Watchman Nee tidak terhasut, hanya tersenyum kepada mereka, lalu pergi.
Saudara Witness Lee berkata: Selama bersama-sama dengan Saudara Watchman Nee, saya tidak pernah melihat dia bertengkar, berselisih, atau bersikeras dengan orang lain. Penampilan dirinya memberi kesan kepada orang bahwa dia adalah orang yang mengikuti jejak Anak Domba. Dirinya juga sering membawa kematian Yesus, supaya hayat Yesus juga ternyata pada dirinya.
10. Gejolak dalam pernikahan
Saudara Watchman Nee menikah pada tanggal 19 Oktober 1934. Tak lama kemudian timbullah gejolak yang besar. Gejolak ini terjadi karena tiga hal. Pertama, bibi istrinya tidak merestui pernikahan Saudara Watchman Nee. Istrinya sejak kecil telah kehilangan orang tua dan dia diasuh oleh bibinya. Bibi ini tidak setuju dia menikah dengan seorang penginjil yang miskin. Saat itu dalam pandangan orang China, khususnya di kalangan atas, penginjil tidak jauh berbeda dengan pengemis. Latar belakang istrinya boleh dikatakan tinggi. Kedua, karena bibi ini tidak berhasil mencegah pernikahan mereka, lalu ia mengancam mereka, menyuruh mereka setelah menikah harus menurut tradisi orang China datang mengunjunginya, kalau tidak, ia akan bertindak, merusak nama baik Saudara Watchman Nee. Sebenarnya mereka bisa mengunjunginya, namun karena disertai ancaman, Saudara Watchman Nee tidak mau melakukannya. Dia tidak mau melarikan diri dari salib. Bibi ini sangat marah, lalu mulai merusak nama baik Saudara Watchman Nee. Di surat kabar terbesar di Shanghai, ia memuat pengumuman menentang pernikahan Saudara Watchman Nee, mempertanyakan berdasarkan apa penginjil yang miskin ini merebut keponakan kesayangannya? Apakah dia bisa memberi nafkah hidup kepada gadis yang terhormat ini? Bagaimana bisa membahagiakannya? Kalaupun bisa, itu pasti bersandar bantuan luar negeri. Dengan banyak perkataan yang tidak tepat, yang tidak seharusnya diucapkan, ia menyerang sebisanya, bahkan memfitnahnya. Ketiga, orang-orang dalam kalangan kekristenan yang menentang Saudara Watchman Nee ikut dalam kubu yang menentang Saudara Watchman Nee ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan banyak uang, berkali-kali memuat artikel yang menyerang Saudara Watchman Nee, beberapa hari sekali menerbitkan satu artikel.
Setelah menjadi pendamping mempelai, Saudara Witness Lee pergi beristirahat di daerah utara. Ada telegram memberi tahu Saudara Witness Lee perkara ini. Saudara Philip Luan pergi ke Shanghai, tidak bisa mengatasi perkara ini, lalu menulis surat meminta Saudara Witness Lee datang, karena saat itu tekanan terlalu besar. Saudara Witness Lee kembali ke Shanghai. Pada suatu pagi, Saudara Watchman Nee mengambil sebuah surat kabar, dalam surat kabar itu tercetak dengan tinta merah dalam huruf yang besar, memuat namanya, membicarakan tentang pernikahannya. Dia datang menemui Saudara Witness Lee, sepertinya hampir mengucurkan air mata, dan berkata bahwa dia tidak pernah mendengar satu pernikahan bisa menimbulkan gejolak yang sebesar itu, “Lihatlah, nama kita termuat dalam surat kabar yang paling besar dalam kota ini.” Bersamaan dengan itu, mereka juga mencetak selebaran yang bernada sama, dan disebarluaskan dalam kalangan kekristenan. Ada seorang misionaris berkata, “Aku membaca satu selebaran, begitu kejinya, sampai-sampai aku terpaksa membakarnya. Bahkan, masih perlu mandi untuk membersihkan diri.” Yang disayangkan, dalam gereja pun ada beberapa orang yang bersifat daging, para sekerja yang penting, juga ikut terlibat dalam masalah ini. Tiga pihak ini bangkit menyerang Saudara Watchman Nee.
Akhirnya Saudara Watchman Nee meninggalkan Shanghai, mengendarai mobil pergi ke Barat Tenggara China, mengasingkan diri, tidak lagi secara terbuka menunaikan ministrinya. Tak lama kemudian, Saudari Ruth Lee naik kapal pergi ke Hupei, akhirnya Saudara Philip Luan juga naik kereta api pergi; tinggal Saudara Witness Lee dan Saudari Pearl Wang masih tinggal di sana menghadapi kesulitan itu. Mereka berhadapan muka, mencucurkan air mata. Situasinya benar-benar sangat sulit. Mereka berdua, setelah berdoa, memutuskan tidak melakukan apa-apa, juga tidak mencari kabar, juga tidak berbicara apa-apa, hanya dengan positif memimpin sidang gereja maju, sampai gejolak itu lewat.
Meskipun bibi ini dan kalangan kekristenan yang menentang Saudara Watchman Nee, bertindak sekuatnya merusak namanya, tetapi Saudara Watchman Nee tidak berkata apa-apa, tidak melakukan apa-apa, hanya pergi mengasingkan diri. Dia adalah seorang yang menerima salib. Dia sama seperti hamba Allah yang disebut dalam Yesaya pasal 42 dan 50. “Siapakah yang buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang Kusuruh? Siapakah yang buta seperti suruhan-Ku dan yang tuli seperti hamba TUHAN? Engkau melihat banyak, tetapi tidak memperhatikan, engkau memasang telinga, tetapi tidak mendengar” (Yes. 42:19-20). “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi . . . Aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu . . .” (Yes. 50:6-7).
Kembali..