MEMILIH SALIB
1. Lebih baik engkau mendengarkan dia
Ketika Saudara Watchman Nee masih muda, begitu mulai melayani Tuhan, ia sudah belajar pelajaran salib. Saat itu ada tujuh sekerja. Setiap hari Jumat mereka berkumpul bersama, tetapi kebanyakan waktunya habis oleh perdebatan antara Saudara Watchman Nee dengan seorang sekerja yang lain. Sekerja itu lebih tua lima tahun daripada Saudara Watchman Nee. Tidak peduli bagaimana Saudara Watchman Nee menjelaskan, saudara itu tidak mau mendengarkan, satu-satunya alasan adalah saudara itu lebih tua lima tahun daripadanya. Masa itu, hampir setiap hari Sabtu Saudara Watchman Nee pergi ke tempat Miss Barber. Ia merasa tidak bisa menerima, lalu mengadukan sikap saudara itu kepada Miss Barber, memberi tahu Miss Barber apa yang mereka perdebatkan, minta Miss Barber memberi penilaian, siapa yang benar? Namun dia (Miss Barber) tidak mengatakan benar atau salah. Sebaliknya, kedua matanya menatap Saudara Watchman Nee dan berkata, “Lebih baik engkau mendengarkan dia.” Hati Saudara Watchman Nee tidak menerima dan berkata, “Kalau aku benar, katakan benar. Kalau aku tidak benar, katakan tidak benar. Mengapa mengatakan, ‘Lebih baik mendengarkan dia?’” Miss Barber berkata, “Di dalam Tuhan, orang yang lebih muda seharusnya mendengarkan perkataan orang yang lebih tua.” Ia sangat jengkel dan berkata, “Di dalam Tuhan, kalau yang muda benar, apakah harus mendengarkan perkataan orang yang salah meskipun usianya lebih tua?” Masih dengan tersenyum Miss Barber berkata, “Lebih baik engkau mendengarkan dia.” Saudara Watchman Nee membela diri, “Kalau demikian, aku tidak mampu. Orang Kristen harus bertindak menurut aturan juga.” Miss Barber berkata, “Bukan alasannya benar atau salah, tetapi melihat bagaimana Alkitab berkata. Alkitab berkata bahwa yang muda harus taat kepada yang tua.” Mendengar ini, Saudara Watchman Nee hanya bisa pulang dengan menangis, menyesal mengapa dirinya tidak lahir lebih dulu daripada saudara itu.
2. Apakah kamu masih tidak tahu salib
Musim semi tahun 1923, ada delapan belas orang muda baru percaya Tuhan dan akan dibaptis. Ada tiga orang yang membicarakan perihal baptisan: Saudara Watchman Nee yang paling muda, Saudara Wang yang lebih besar lima tahun daripada Watchman Nee, masih ada Saudara Wu, yang lebih besar tujuh tahun daripada Saudara Wang. Saudara Watchman Nee berpikir, Saudara Wang lebih besar lima tahun daripada saya, sebab itu dalam hidup sehari-hari saya harus mendengarkan dia (Saudara Wang); sekarang Saudara Wu lebih besar daripada dia, coba lihat, apakah dia mendengarkan Saudara Wu. Kemudian mereka kumpul bersama, ternyata, apa yang dikatakan Saudara Wu dan apa yang dikatakan Saudara Watchman Nee, semuanya tidak dia dengarkan. Tak peduli bagaimana mereka berbicara, dia tetap tidak mau mendengarkan. Sampai akhirnya, dia berkata, “Kalian tidak mengerjakan, aku saja yang mengerjakan.” Saudara Watchman Nee berpikir, mana boleh demikian; kalau bisa demikian, di dunia ini tidak ada lagi benar-salah. Lalu Saudara Watchman Nee pergi ke tempat Miss Barber yang sering membimbing dia, menyampaikan kepadanya, “Sekarang ada satu perkara yang demikian, bagaimana tanggapan Anda; yang membuat saya kesal adalah orang ini tidak tahu benar-salah.” Miss Barber berdiri dan berkata, “Sampai hari ini kamu belum tahu apa yang disebut hayat Kristus? Beberapa bulan ini kamu terus mengatakan bahwa kamu benar, saudaramu yang salah; tetapi apakah terpikir olehmu bahwa ketika kamu mengatakan hal ini, benarkah dirimu? Bagaimana keadaan di dalammu? Apakah kamu masih belum tahu salib? Yang kamu permasalahkan adalah benar salahnya perkara; yang aku permasalahkan adalah hayat salib.” Dia bertanya lagi kepada Saudara Watchman Nee, “Kamu kira kamu berbuat demikian itu benar; kamu kira kamu berkata kepadaku ini benar; secara doktrin, memang semuanya benar. Tetapi aku bertanya kepadamu, di dalammu bagaimana? Perasaanmu bagaimana?” Saudara Watchman Nee terpaksa mengakui, “Secara doktrin memang benar, tetapi secara hayat batiniah, memang salah.”
Kemudian, Saudara Watchman Nee dalam seri berita Pembinaan Dasar “Reaksi Orang Beriman” mengatakan: Pelajaran pertama salib adalah mengajar kita tidak beralasan. Kita sebenarnya bukan berdasarkan alasan benar-salah berurusan dengan orang. Semua alasan bukan berada dalam lingkungan kaum beriman. Kalau Anda jatuh ke dalam membicarakan alasan dengan orang, Anda telah meninggalkan kedudukan sebagai orang Kristen.
Saudara Watchman Nee berkata: Setiap kali kita membuka mulut, hendak memutuskan satu perkara, marilah kita bertanya kepada Tuhan, “Apakah ini ketetapan dari benar-salah atau hayat yang memimpin di dalam kami. Tuhan, biarlah kami nampak sifat rohani berbeda dengan sifat daging; supaya kami dengan tuntas nampak perbedaan terang batiniah dengan hukum Taurat. Tuhan, selamatkan kami dari jalan maut. Kalau kami hidup dalam membedakan benar-salah, itu keliru, biarlah kami nampak membedakan benar-salah adalah perkara dosa, membedakan benar-salah itu maut; karena hanya orang yang tinggal dalam maut baru bisa melakukan hal ini. Orang yang tinggal dalam hayat akan dipimpin oleh hayat, hayatlah yang memimpin. Tuhan, sekiranya Engkau ada di tengah-tengah kami, membuat kami melihat perkara ini dengan tuntas.”
3. Saya menghendaki dia yang membaptis
Saudara Witness Lee berkata: Saudara Watchman Nee lebih muda lima tahun daripada seorang saudara. Miss Barber melihat pemuda Watchman Nee ini perlu ditekan, sebab itu, dalam segala hal, selalu ditaruh di bawah saudara yang lebih tua lima tahun itu. Saudara Watchman Nee sangat tidak tahan; tetapi semakin dia tidak tahan, Miss Barber semakin menekan dia, menyuruh dia tunduk. Pada suatu hari, ada beberapa orang beroleh selamat melalui Saudara Watchman Nee. Dia membawa orang-orang ini ke hadapan Miss Barber, siap untuk dibaptis. Saudara Watchman Nee mengira, karena orang-orang ini beroleh selamat melalui pemberitaan Injilnya, dengan sendirinya dirinyalah yang akan membaptis mereka. Tetapi Miss Barber mengatur saudara yang lebih tua itu untuk membaptis. Saudara Watchman Nee tidak terima, lalu bertanya mengapa demikian. Miss Barber menjawab, “Dia itu lebih tua daripadamu.” Saat itu bersama mereka masih ada Saudara Wu Dan-she yang lebih tua daripada Saudara Leland Wang. Saudara Watchman Nee mengusulkan, “Saudara Wu lebih tua daripada Saudara Leland Wang, maka seharusnya dia yang membaptis.” Tetapi Miss Barber tetap berkata, “Biar Saudara Leland Wang yang membaptis.” Miss Barber berbuat demikian, supaya Saudara Watchman Nee belajar pelajaran salib, belajar tidak beralasan, hanya taat.
Kemudian hari, di tempat lain, ada satu baptisan. Saudara di tempat itu lebih muda dua tahun daripada Saudara Watchman Nee. Dia mengira kali ini seharusnya bagian dia yang membaptis. Siapa tahu, Miss Barber tidak mengatur dia, sebaliknya mengatur saudara yang lebih muda daripadanya untuk membaptis. Saudara Watchman Nee bertanya lagi, “Mengapa demikian? Dia lebih muda dua tahun daripadaku.” Miss Barber berkata, “Tidak mengapa, aku menghendaki dia yang membaptis.” Pada saat itu, Saudara Watchman Nee benar-benar tertekan. Setelah urusan itu lewat dan situasi berubah, seumur hidup dia tidak lupa kebaikan yang dia terima dari pelajaran itu.
Kemudian, pada tanggal 18 Oktober 1936, ketika berada di Kulangsu Propinsi Fukien, Saudara Watchman Nee berkata: Sekarang saya bisa berkata kepada sekerja yang muda, kalau Anda tidak tahan gilingan salib, Anda tidak bisa menjadi bejana yang berharga. Hanya Roh Anak Domba — lemah lembut, rendah hati, damai sejahtera, baru diperkenan oleh Allah. Ambisi, tekad besar, dan kemampuan Anda, di hadapan Allah tidak berguna. Saya pernah menempuh jalan ini. Saya harus sering mengakui kesalahan saya. Segala urusan saya berada di tangan Allah. Masalahnya bukan benar atau salah, melainkan seperti orang yang memikul salib atau tidak. Dalam gereja, benar dengan tidak benar sama-sama tidak ada kedudukan; yang terhitung adalah mau memikul salib, dan menerima peremukan dari salib; demikian baru bisa mengalirkan hayat Allah dan menggenapkan kehendak Allah.
4. Saya senang mengantar diri saya untuk dimarahi
Saudara Watchman Nee memberi tahu Saudara Witness Lee: Saat itu di Foochow ada beberapa orang muda dibangkitkan oleh Tuhan, sekitar dua puluh, tiga puluh saudara saudari muda datang ke tempat Miss Barber untuk menerima bantuan. Miss Barber adalah seorang yang sangat dalam dan ketat, begitu ketatnya sehingga hampir setiap perkara pasti dia tegur. Sebab itu, tidak ada seorang pun yang datang kepadanya yang tidak dimarahi. Akhirnya (tidak sampai lima tahun), semua menyingkir, tinggal Saudara Watchman Nee seorang diri. Suatu hari, Saudara Witness Lee pergi ke Asia Tenggara dan bertemu dengan orang yang dulu pernah dimarahi Miss Barber, dan dia membuktikan hal ini. Saudara tersebut mengatakan bahwa Miss Barber benar-benar ketat, selalu memarahi orang, sehingga akhirnya semuanya pergi, tinggal Saudara Watchman Nee seorang diri.
Saudara Watchman Nee berkata: Saya senang mengantar diri saya untuk dimarahi. Saya pergi ke sana khusus untuk dimarahi. Saudara Watchman Nee pernah memberi tahu Saudara Witness Lee, kapan saja dia bertemu dengan Miss Barber, selalu ditegur olehnya, tidak ada yang lain. Tetapi semakin ditegur oleh Miss Barber, Saudara Watchman Nee semakin sering ke sana untuk dimarahi, dan melalui hal itu mendapatkan banyak bantuan. Saudara Watchman Nee berkata: Meskipun dalam kebenaran dia mengakui dengan mutlak bahwa saudari harus menudungi kepalanya; tetapi dia beroleh selamat melalui saudari, mendapatkan pembinaan juga melalui saudari. Dia beroleh selamat melalui Saudara Dora Yu, setelah beroleh selamat mendapatkan bantuan paling besar dari Miss Barber.
Saudara Witness Lee berkata: Kita harus menekan diri sendiri, jangan membiarkan diri sendiri ringan, jangan membiarkan diri sendiri bebas, jangan menyelamatkan diri sendiri, harus seperti yang dikatakan dalam Kidung nomor 465 bait 1, 3,
Mari merenungkan s’panjang hidup anggur;
Jalannya tak mudah, tempatnya tak nyaman;
Tak seperti bunga liar, yang seenaknya berkembang;
Menjalar semaunya, jadi banyak ragam.
Ia terikat pasak, tak tumbuh semaunya;
Kalaupun menjalar, tertahan rangkanya;
Demikian ia terpancang, menyesap suplai makanan;
Tak ada pilihan, t’rima susah, senang.
(Kidung, Yasperin, 1998:554-555)
Kita jangan seperti bunga liar, bertumbuh sendiri, berkembang seenaknya sendiri. Kita seharusnya seperti pohon anggur, diikat pada kerangkanya. Kita rela tertekan, terikat, tidak mau bebas, tidak mau menyelamatkan diri.
Orang muda harus mencari seseorang untuk menekan dirinya, “Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya” (Rat. 3:27). Jangan menunggu orang lain menekan, kita harus menekan diri kita sendiri. Saudara Watchman Nee mengantar dirinya ke tempat Miss Barber untuk menerima teguran berarti mencari orang untuk menekan dirinya sendiri.
5. Rela tunduk menerima peremukan salib
Pada mulanya di antara sekerja Saudara Watchman Nee, ada lima orang yang adalah teman sejak kecilnya, dan ada seorang lagi yang datang dari luar, yang lebih tua lima tahun daripadanya. Kelima orang itu selalu berdiri pada pihak yang satu itu untuk menentang Saudara Watchman Nee. Tidak peduli bagaimana, mereka selalu mengatakan dia salah. Banyak perkara yang jelas-jelas dia yang mengerjakan, tetapi jasanya diambil oleh mereka. Adakalanya dia ditolak oleh mereka, dia hanya bisa pergi ke bukit, menangis di depan Allah. Dulu ketika bersekolah, dia selalu nomor satu; sekarang melayani Allah, ditaruh di tempat kedua; dia tidak terima. Setiap hari berkata kepada Allah, tidak tahan menjadi yang kedua; karena otoritas dan kemuliaan yang dia terima terlalu sedikit. Mereka semua berdiri pada sisi sekerja yang lebih tua lima tahun daripadanya, dia tidak tahan akan hal ini. Kemudian oleh rahmat Tuhan, dia mau ditaruh di tempat kedua. Saat mau tunduk, sukacita yang dia terima lebih dalam dan luas daripada sewaktu dia beroleh selamat. Dia rela diremukkan, tidak melakukan perkara yang ingin dia lakukan; sebab itu dalam perjalanan kerohaniannya, terus penuh dengan sukacita dan damai sejahtera. Dia ingat Tuhan Yesus sepenuhnya tunduk di bawah tangan Allah; dia juga mau demikian tunduk kepada Tuhan. Tuhan, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan (lihat Flp. 2:6). Bagaimana dia berani meninggikan diri melampaui Tuhannya! Ketika dia mulai belajar tunduk, pertama-tama merasa tidak nyaman; tetapi kemudian berangsur-angsur merasa mudah, sehingga dia bisa di hadapan Allah berkata kepada Allah, “Aku rela memilih salib, menerima peremukan, melepaskan semua opini diri sendiri.”
6. Saya mau memilih salib
Tanggal 21 Oktober 1936, Saudara Watchman Nee di Kulangsu, Propinsi Fukien, bersaksi tentang dia memilih salib. Dia berkata: Seorang beriman boleh saja membaca, mempelajari, dan menerangkan pelajaran salib, tetapi belum tentu ia benar-benar telah menerimanya, atau benar-benar mengenal jalan salib. Sewaktu saya berkoordinasi dengan para sekerja, Tuhan mengatur banyak salib untuk saya. Sering saya merasa sulit, tidak mau menerima penanggulangan salib, dan merasa susah untuk menaatinya. Tetapi dalam batin saya merasakan, jika salib itu adalah pengaturan Tuhan, meskipun sulit, patutlah saya menaati dan menerimanya. Ketika Tuhan di bumi, Ia pun belajar taat melalui salib yang diderita-Nya (Ibr. 5:8; Flp. 2:8). Bagaimana saya boleh terkecuali? Pada awal belajar pelajaran salib, kira-kira delapan atau sembilan bulan, saya tidak mau taat. Saya tahu, terhadap salib yang diatur Tuhan, saya harus menerima tanpa melawan sedikit pun. Saya bertekad, tetapi tekad saya hanya bertahan sebentar saja. Ketika urusan datang, sulit sekali untuk taat, dan di dalam saya penuh dengan pikiran yang memberontak. Hal itu membuat saya sangat sedih.
Kemudian saya menemukan, salib yang Tuhan atur untuk saya, sangat berfaedah bagi saya. Di antara sekerja saya, ada lima orang yang merupakan teman sekolah saya sejak kecil; yang seorang lagi berasal dari kota yang berbeda, dia lebih tua lima tahun daripada saya. Lima sekerja itu selalu berdiri di pihaknya dan menentang saya. Apa pun yang saya perbuat, mereka selalu menyalahkan saya. Banyak hal saya yang melakukannya, tetapi hasilnya mereka yang mengambil. Kadang-kadang, bila mereka menolak pandangan saya, saya pergi ke bukit yang sepi untuk menangis di depan Allah. Saat itu saya menulis beberapa syair tentang memikul salib, untuk kali pertama saya mengalami apa yang disebut “persekutuan dalam penderitaan Kristus” (Flp. 3:10). Ketika saya tidak bisa bersekutu dengan dunia, saya bisa menikmati persekutuan surgawi. Dua tahun setelah saya beroleh selamat, saya belum tahu apa yang disebut salib. Tetapi pada saat itu, saya mulai belajar pelajaran salib.
Di sekolah, di dalam kelas, saya selalu nomor satu. Dalam hal melayani Tuhan, saya juga ingin nomor satu. Sebab itu, ketika saya ditaruh di tempat nomor dua, saya tidak mau taat. Berulang-ulang saya berkata kepada Allah, ini terlalu berat untuk saya, kehormatan dan wewenang yang saya terima terlalu sedikit, dan semua sekerja memihak sekerja yang lebih tua daripada saya. Tetapi hari ini, dari lubuk hati, saya menyembah Allah dan bersyukur kepada-Nya bahwa semua yang terjadi atas diri saya adalah pelatihan yang terbaik bagi saya. Allah menghendaki saya belajar taat, maka Ia mengatur banyak kesulitan menimpa saya. Akhirnya, saya menyatakan kepada-Nya, saya rela ditaruh di tempat yang kedua. Ketika saya rela taat, sukacita yang saya alami berbeda dengan sukacita saya pada saat beroleh selamat; sukacita ini tidak saja luas, juga dalam. Delapan atau sembilan bulan kemudian, dalam banyak perkara, saya rela diremukkan dan tidak mau melakukan pekerjaan yang ingin saya kerjakan; tetapi pada jalan kerohanian saya, saya penuh dengan sukacita dan damai sejahtera. Tuhan taat di bawah tangan Allah, saya juga mau taat. Tuhan asalnya memiliki rupa Allah, tetapi Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan (lihat Flp. 2:6). Bagaimana saya berani melebihi Tuhan? Pada awal saya belajar taat, memang sangat sulit, tetapi makin lama makin terasa mudah. Akhirnya, saya berkata kepada Allah, saya mau memilih salib, menerima peremukan salib, dan mengesampingkan maksud diri sendiri.
7. Yang penting memikul salib
Allah menaruh Saudara Watchman Nee dalam keadaan itu, supaya dia dibatasi oleh Roh Kudus. Allah mengikis tonjolan dalam karakternya, supaya dalam melayani Tuhan, dia bisa mempunyai satu roh yang lemah lembut, rendah hati, dan damai sejahtera. Kalau orang tidak mau memikul salib, maka apa yang ia lakukan, termasuk tekad, tujuan, dan kekuatannya, semua tidak begitu bernilai. Masalahnya tidak tergantung pada benar atau salah, tetapi tergantung pada apakah Anda adalah seorang yang memikul salib. Dalam gereja, benar atau tidak benar tidaklah penting, yang penting adalah mau memikul salib, menerima peremukan; karena demikian baru bisa mengalirkan hayat-Nya, menggenapkan kehendak Allah.
Karena sejak awal Saudara Watchman Nee sudah belajar pelajaran yang berharga, memahami makna salib, belajar taat, menerima peremukan, di kemudian hari dia bisa mempunyai puluhan sekerja, dan bisa bekerja sama dengan siapa pun. Salib adalah untuk pengaliran hayat, salib juga untuk pembangunan gereja, supaya orang bisa berkoordinasi, bisa kerja sama. Semoga kita semua bisa dari lubuk batin yang terdalam berkata, “O, salib, aku menerimamu ke dalamku.”
8. Selanjutnya apakah kamu mau di tangan-Ku
Saudara Watchman Nee pernah dengan rinci menceritakan seluruh proses dia dikucilkan kepada Saudara Witness Lee. Waktu itu ia meninggalkan Foochow untuk pelayanan di Hangchow. Ada orang menulis surat (telegram) kepadanya, memberi tahu bahwa dia telah dikucilkan. Saat itu perkara ini membuat dia sangat gusar; tetapi Tuhan datang bertanya kepadanya, “Selanjutnya, apakah kamu mau di tangan-Ku atau di tanganmu sendiri?” Sebab itu, Saudara Watchman Nee tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah pekerjaan di Hangchow selesai, dia pulang. Di Foochow saudara saudari kebanyakan adalah murid-murid, juga dibawa beroleh selamat oleh Saudara Watchman Nee. Mereka sangat marah terhadap pengumuman itu, mereka tidak terima, bahkan berdiri di pihak Saudara Watchman Nee. Mereka pergi ke dermaga menjemput Saudara Watchman Nee. Begitu dia turun dari kapal, orang-orang muda itu berkata kepadanya, “Saudara Watchman Nee, Anda harus bertindak, Anda tidak bisa menerima pengucilan ini.” Tentunya dia sedikit terangsang juga melihat orang-orang yang datang berdiri di pihaknya. Namun dia berkata kepada mereka bahwa dia sedang tidak enak badan, mabuk laut, kemudian meminta beberapa orang dari antara mereka pada malam hari datang ke rumahnya. Malam itu banyak orang yang datang ke rumahnya. Sebelum mereka datang, ada perkataan Tuhan kepada Saudara Watchman Nee, menyuruh dia jangan berbuat apa-apa, jangan membela diri. Banyak orang datang ke rumahnya, semua berdesak-desakan, mengharapkan dia memberikan suatu reaksi. Namun dia sangat tenang. Dia memberi tahu mereka, “Saudara-saudara, aku tidak dapat berbuat apa-apa, karena Tuhan tidak mengizinkan aku berbuat sesuatu. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah mengemas barang-barangku malam ini, dan besok aku akan meninggalkan tempat ini. Kalian harus tenang.” Banyak orang menangis, sangat kecewa, ada orang karena hal ini tidak bersidang lagi. Demikianlah dia meninggalkan Foochow. Ini terjadi pada tahun 1924.
Syair Kidung nomor 468 “Bila ku jalan menyimpang, cari kesedapan” ditulis pada waktu itu. Setelah lewat lima puluh tahun lebih, sampai hari ini, kidung ini masih sangat mengharukan orang, membuat roh orang terdiris. Di sini ada satu orang belajar memikul salib, belajar tidak membela diri, belajar menderita tetapi tidak buka mulut.
Di sini kita melihat satu prinsip, memang gereja berasal dari hayat Kristus, tetapi harus melewati penderitaan. Alkitab juga mengatakan, gereja dihasilkan melalui suatu persalinan yang sulit, sama seperti seorang perempuan melahirkan anak. Sebab itu jangan mengira, kita pergi ke suatu tempat bisa dengan mudah mendirikan gereja; tidak ada hal yang demikian. Terjadinya gereja adalah berdasarkan hayat Kristus, juga melalui penderitaan dari beberapa orang; sama seperti yang Paulus katakan, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam tubuhku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk Tubuh-Nya, yaitu jemaat” (Kol. 1:24). Ia berkata pula, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu” (Gal. 4:19).
Saudara Watchman Nee berkata: Setiap kali satu orang beriman menderita tetapi tidak buka mulut, dia akan nampak salib bekerja di sana. Semua kesalahpahaman, semua gejolak, semua ketidakpuasan, bersumber dari satu hal, yaitu kita diam-diam mengasihi diri sendiri. Orang yang paling bodoh adalah orang yang menggerutu. Semakin dia menggerutu, ia makin terbenam di dalamnya; semakin dia bergejolak, ia makin terjerumus ke dalamnya; semakin menolak, kesulitan itu menekan dirinya sampai tidak bisa bernapas. Kalau Anda berkata, “Tuhan, selamatkan aku” sampai lima atau enam kali, atau lebih banyak lagi, Anda akan gagal. Kemenangan tergantung pada menundukkan kepala, memuji Tuhan, “Tuhan aku memuji jalan-Mu, apa yang Engkau aturkan untukku tidak salah, apa yang Engkau kerjakan semuanya baik.”
Mengenai kesulitan dalam lingkungan dan atas tubuh kita, biarlah kita rela taat di bawah tangan Allah. Kalau kita menggerutu, kalau kita melawan, tangan Allah akan semakin menekan kita. Pada suatu hari kita pasti mengakui, “Bapa, tangan-Mu seharusnya berada di atas diriku, Engkau selamanya benar.” Semoga sikap hati kita adalah, “Bapa, Engkau pasti tidak salah, apa yang kualami, semuanya benar; untuk semua yang terjadi di atas diriku, aku memuji Engkau.” Semoga Allah memberi kita satu wahyu, nampak tangan Allah, berlutut, berkata kepada Tuhan, “Inilah Engkau, inilah Engkau, aku menerimanya.” Sedikitnya kita harus mengenal tangan siapakah yang menanggulangi kita.
9. Menerima salib mengorbankan diri
Sekitar tahun 1930, Saudara Watchman Nee menulis sebuah syair yang indah dan gagah. Dari syair itu kita bisa mengenal dia adalah orang yang bagaimana, dia adalah orang yang mau menerima salib dan mengorbankan diri. Menurut cerita, pengarang nyanyian ini adalah St. Frances. Ketika Saudara Watchman Nee menerjemahkan, dia menambahkan beberapa baris pada penutupnya.
Mengasihi, tanpa dikasihi, melayani, tanpa diupahi;
Jerih lelah, tanpa orang ingat, menderita tanpa orang lihat.
Tuang arak tanpa meminumnya, pecah roti tanpa memakannya;
Curah hayat biar orang lain bah’gia, lepas nyaman biar orang lain tent’ram.
Tak mengharap rawat simpati, tak mengharap hibur dan puji;
Rela gersang, rela terkucil, rela diam, rela terpencil.
Air mata, darah s’bagai harga mahkota, rela merugi, hidup bagai musafir;
Kar’na saat Kau hidup di bumi, Kau pun menempuh jalan ini.
Dengan girang t’rima s’gala d’rita, agar yang dekat-Mu sentosa.
Ku tak tahu b’rapa jauh jalan ini, s’kali tempuh tak mungkin kuulangi.
Biarku b’lajar sempurna s’perti diri-Mu, dihina orang tidak mengeluh.
Mohon di masa prihatin ini, sekalah air mata batini,
B’lajar kenal Kaulah Penghiburku, biar ku jadi berkat s’panjang umur.
(Suplemen 430, Kidung, Yasperin, 1998)
10. Memperhatikan para sekerja
belajar pelajaran salib
Begitu mulai melayani, Saudara Watchman Nee sudah belajar pelajaran salib, dia sangat mengetahui hal ini sangat penting dalam pelayanan. Sebab itu, kemudian hari dia sangat memperhatikan para sekerja belajar pelajaran salib. Kita dapat mengetahuinya dari surat-suratnya.
Surat pertama
(dikirim dari Inggris).
Banyak orang di sini menyanjung saya; tetapi mata saya hanya menatap pada Tuhan. Saya menolak melakukan sesuatu yang berasal dari pergerakan yang di luar. Saya adalah orang yang belajar salib, kesemuanya ini tidak dapat membuat saya lebih menghargai diri. Kalau seseorang tahu apa yang disebut meneladani kematian-Nya, bagaimana ia bisa mencari kemuliaan di depan orang? . . . Anda tahu saya selamanya tidak memaksa menjadi guru orang lain (ini adalah sikap yang paling jelek), selalu menunggu orang lain meminta. Kali ini juga demikian, Tuhan sendiri yang menggerakkan orang meminta . . . Beberapa kali saya menerima kiriman uang, dari dua atau tiga saudara saudari yang mengeluarkan hartanya untuk membantu saya dalam keuangan. Ada yang memberi bila diminta terlebih dulu. Hal ini sama sekali bukan kebiasaan kita. Tak peduli seberapa sulitnya, kita harus menjaga apa yang kita pegang di depan Tuhan. Meskipun ujian cukup banyak, tetapi yang kita percayai adalah Allah yang hidup . . . Membaca Majalah “Pintu yang Terbuka”, sungguh membuat orang memuji Allah; tetapi yang saya minta kepada Allah adalah apakah sekerja muda mengerti bagaimana salib menanggulangi daging dan hayat alamiah . . .
Surat kedua
(dalam perjalanan pulang).
Semoga Tuhan menganugerahi, besok kapal bisa sampai di Bombay, kira-kira bisa singgah di India dan Singapura beberapa hari, lalu segera kembali ke Shanghai . . . Membaca Majalah “Pintu yang Terbuka”, di satu pihak menggembirakan, di pihak yang lain merasa takut. Kalau para sekerja kekurangan syarat dasar bekerja, maka apa bedanya pekerjaan mereka di masa yang akan datang dengan pekerjaan mereka yang “lampau”? Semoga Tuhan menganugerahi. Anda telah pergi ke sekian banyak tempat, apakah Anda bisa percaya? Semua tergantung salib bagaimana membereskan kekuatan alamiah . . .
Surat ketiga
(dikirim dari Inggris)
Saya semakin merasakan, pentingnya manusia alamiah dibatasi. Kalau kita kehilangan kebebasan, kita akan memiliki kekuatan hayat. Apakah Anda juga merasa demikian? Yang menjadi kekhawatiran dalam hati saya adalah tidak begitu banyak sekerja yang mengetahui kekuatan alamiah itu apa, sehingga tidak ada yang menolaknya . . . Tetapi untuk diri sendiri, saya dengan mengeluh menuntut bersih, tidak ada campuran. Semoga Tuhan menganugerahi . . .
Surat keempat
(dikirim dari Inggris)
Dalam tahun ini yang saya khawatirkan, saudara yang datang kemudian hari, tidak melewati salib, juga tidak tahu kebobrokan daging. Mereka kekurangan pengalaman sendi pangkal paha Yakub terpelecok. Mereka perlu wahyu dan dijamah oleh Allah, sehingga tubuh daging menerima pukulan yang seumur hidup tidak bisa pulih — seumur hidup berjalan pincang. Kita dulu ditanggulangi oleh Allah, mungkin tidak merasa kemustikaannya, sekarang melihat keperluan orang lain, bisa mengetahui kemustikaannya . . .
Surat kelima
(dikirim dari Inggris)
Dalam tahun ini pekerjaan saya dengan sendirinya menitikberatkan pada Honor Oak (tempat Tuan Austin Spark dari Inggris berada) . . . Keadaan Eropa sama dengan China. Banyak pekerjaan dan sekerja yang baik, tetapi bukan berasal dari wahyu, melainkan berdasarkan menerima dari orang saja. Mengenai mengenal daging dan menolak alamiah, sama seperti di China, hampir tidak kelihatan . . . Honor Oak tempat Tuan Austin Spark juga perlu bantuan baru bisa sempurna . . . Bersamaan dengan itu, Anda mengetahui, saya tidak menganggap diri sebagai guru. Saya tahu banyak hal yang akan Allah pakai untuk membantu tempat itu, tetapi saya sendiri tidak tahu apakah saya tidak bisa salah? Manusia sangat mudah terkendali oleh angan-angan yang menipu diri, dan menganggap diri mereka sangat penting! Sebab itu saya menunggu, saya menunggu dengan sabar . . .”
11. Ingin menjadi satu orang
yang sangat diberkati Allah
Tanggal 27 Nopember 1950, Saudara Watchman Nee menyampaikan satu berita dalam Sidang Sekerja. Dari mukjizat lima roti dan dua ikan, dia membicarakan tentang berkat Allah. Dia berkata, “Segala pekerjaan tergantung pada berkat Allah. Tak peduli kita bagaimana setia, bagaimana rajin, kita mungkin percaya Dia bisa melakukan, juga berdoa mohon Allah melakukan; tetapi kalau Allah tidak memberkati, semua kesetiaan, kerajinan, iman, dan doa kita akan sia-sia. Di pihak lain, sepertinya kita salah, sepertinya tidak ada pengharapan, asal Allah mau memberkati, pasti ada buahnya.”
“Lihatlah mukjizat lima roti dan dua ikan, masalahnya bukan terletak pada berapa banyak roti yang ada di tangan, melainkan tergantung pada tangan yang memberi berkat.Cepat atau lambat kita semua bisa mengenal, bukan tergantung seberapa banyak karunia kita, seberapa besar kekuatan kita, melainkan tergantung pada Tuhan memberi kita seberapa banyak berkat. Roti sedikit atau banyak tidak begitu berperan, yang bisa memelihara dan menghidupi orang adalah berkat Tuhan.”
“Pelajaran ini tidak mudah, banyak orang masih tidak menengadah pada berkat Allah, malah berharap pada beberapa roti yang di tangan, sementara roti yang di tangan sangat sedikit. Semakin Anda berencana, semakin sulit pekerjaan itu terwujud; kadang kala bahkan menjadi tidak mungkin dilakukan. Tetapi mukjizat muncul dalam keadaan yang sulit, muncul dalam keadaan yang tidak mungkin. Mukjizat adalah hasil dari berkat Tuhan. Kesulitan hari ini, tidak bisa kita atasi berdasarkan diri kita sendiri; tetapi Tuhan ada jalan. Dalam pekerjaan Allah, masalah yang utama adalah berkat Allah.”
“Kita perlu tahu, yang tidak bisa kita cukupi, bisa dicukupi oleh berkat. Yang tidak bisa kita atasi, bisa diatasi oleh berkat. Berkat adalah ukuran yang tidak bisa kita capai, kapasitas yang tidak bisa kita capai. Ketika kita melihat hal ini, dalam setiap hal kita akan mencari berkat Allah. Permainan politik tidak bisa dipakai, hikmat manusia, perkataan manis manusia, semua tidak bisa dipakai. Percaya saja kepada berkat Allah. Berharaplah mendapat berkat Allah.”
“Harus belajar bersandar berkat Allah, juga belajar menyingkirkan hal-hal yang menghalangi berkat. Kalau pekerjaan tidak berhasil, jangan menyalahkan lingkungan, menyalahkan orang lain, mungkin di atas diri kita ada hal-hal yang menghalangi berkat Allah. Kalau Tuhan bisa mendapatkan jalan di atas diri kita, berkat seharusnya ‘melimpah sampai tidak bisa tertampung.”
“Setiap tindakan kita, bukan masalah betul-salah, melainkan masalah ada atau tidak ada berkat Allah. Bukan berebut betul salah, melainkan melihat apakah ada berkat Allah. Begitu sehati, berdiri pada sisi yang sama, berkat akan datang; begitu berselisih, berkat akan berhenti. Jangan sekali-kali berselisih tentang yang kita kerjakan benar atau tidak benar, harus memperhatikan apakah ada berkat Allah. Kita hidup di bumi bukan melakukan perkara yang benar, melainkan melakukan perkara yang diberkati Allah. Perkara yang dilakukan Daud sangat salah, Ishak tidak seberapa berguna, Yakub sangat licik; tetapi diberkati oleh Allah. Sebab itu, masalahnya bukan tergantung salah atau tidak salah, melainkan Allah memberkati atau tidak. Anda boleh merebut, Anda mungkin benar, tetapi kalau Allah tidak memberkati, tidak ada gunanya. Ada orang yang perkataannya, sikapnya, dan pendapatnya, bisa menghentikan berkat Allah. Di dalam kita harus ada perasaan sangat dalam, harus ada berkat Allah. Berkat itu hitungannya beberapa ratus, beberapa ribu jiwa. Begitu berkat kita rusak, dosa yang kita buat lebih besar dari apa saja. Kita harus dengan hebat menghakimi diri sendiri. Alasan Anda banyak, juga benar; tetapi kalau Allah tidak memberkati, bagaimana? Anda benar, tetapi tidak mendapatkan jiwa; Anda benar, tetapi gereja tidak terbangun; Anda benar, tetapi tidak berguna. Sebab itu, kalau kita di suatu tempat tidak mendapatkan berkat, menghalangi berkat, harus mencari penyebabnya dan menyingkirkannya. Jangan menjadi satu orang yang bersikukuh mempermasalahkan benar atau salah, melainkan harus menjadi orang yang mendapatkan berkat besar dari Allah.”
Kita semua harus menjadi orang yang sangat diberkati Allah, mau memikul salib, tidak bertanya betul-salah, tidak membela diri; hanya menengadah memohon berkat Allah.
12. Orang yang mengenal Allah
tidak akan beralasan
Saudara Watchman Nee berkata, “Ketika aku masih muda, aku sering tidak terima karena Allah melakukan perkara yang tidak masuk akal. Setelah membaca Roma 9, menjamah sedikit otoritas Allah, aku baru nampak siapakah aku ini; aku adalah ciptaan-Nya. Perkataanku yang paling beralasan pun di depan Dia adalah bantahan. Aku adalah orang yang rendah dan hina, bagaimana berani membantah-Nya?”
Dalam beberapa tahun ini saya mulai belajar sedikit pelajaran, mengenal Allah bekerja tanpa alasan. Perkara yang Ia kerjakan, meskipun kita tidak tahu semua, kita tetap harus menyembah Dia; karena kita adalah hamba. Kalau kita mengetahui dan memahami apa yang Ia kerjakan, berarti kita yang duduk di takhta. Dia selalu lebih tinggi daripada saya, hanya Dialah Allah Yang Mahatinggi, saya seharusnya merebahkan diri dalam debu, saat ini semua alasan akan sirna. Dulu saya terus hidup bersandar pikiran dan alasan. Hari ini saya rebah menyembah-Nya, asal ini dikerjakan oleh Allah, sudahlah cukup, saya akan menyembah-Nya. Orang yang mengenal Allah tidak akan beralasan. Kalau benar-benar diterangi dan diadili, alasan akan sirna.
Manusia selalu beralasan terhadap Allah, ini berarti, pekerjaan yang Allah kerjakan perlu persetujuan manusia; ini adalah perkara yang bodoh. Allah tidak perlu memberi tahu alasan pekerjaan-Nya kepada kita. Jalan Allah lebih tinggi daripada jalan kita. Kalau kita membawa turun Allah untuk membicarakan apa alasan-Nya, berarti kita tidak memiliki Allah; karena Allah dengan kita tidak berbeda. Kalau kita beralasan, juga tidak ada penyembahan; begitu ketaatan tidak ada, penyembahan juga tidak ada. Demikian, kita dengan diri kita sendiri menghakimi Allah, menganggap diri kita sendiri sebagai Allah. Lalu apakah perbedaan tanah liat dengan penjunan? Ketika penjunan bekerja, apakah perlu persetujuan dari tanah liat? Semoga pernyataan kemuliaan Allah menghentikan semua alasan kita.
Dalam Sidang Pemenang pada bulan Januari tahun 1934, ketika bersekutu dengan para sekerja, Saudara Watchman Nee berkata, “Para sekerja muda harus belajar menerima perlakuan yang tidak beralasan. Harus mengenal apa yang disebut ketaatan yang tanpa alasan. Ketaatan selalu tidak membicarakan alasan; begitu beralasan, ketaatan akan hilang.”
13. Hanya kekuasaan yang nyata,
bukan alasan atau betul-salah
Ketika Saudara Watchman Nee membicarakan kekuasaan dan ketaatan, dia berkata, kiranya Allah membelaskasihani kita. Pada hari ini, Ia memperlihatkan kepada saya, saya adalah orang yang rendah dan hina, bagaimana berani membantah kepada Allah? Ratu Negeri Syeba datang menemui Raja Salomo, Salomo memperlihatkan sedikit kemuliaannya, dia sudah sangat tercengang. Di sini ada Seorang yang lebih besar daripada Salomo, sedikit alasan saya terhitung apa? Adam berdosa karena makan buah pohon pengetahuan hal baik dan jahat; sebab itu, alasan telah menjadi akar hidup manusia. Tetapi asal Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya kepada kita, kita akan nampak diri sendiri sama seperti seekor anjing mati, hanya segumpal tanah, sebab itu alasan akan sirna dalam kemuliaan. Semakin hidup dalam kemuliaan, orang makin tidak beralasan. Kalau ada orang yang terus beralasan, berarti dia belum pernah berjumpa dengan kemuliaan.
Begitu saya nampak bahwa Dia jauh melampaui saya, bahwa hanya Dialah Allah Yang Mahatinggi, saya seharusnya merebahkan diri dalam debu. Saat itu semua alasan sirna. Sejak hari itu hanya kekuasaanlah yang nyata, bukan alasan atau betul-salah. Orang yang mengenal Allah, pasti mengenal diri sendiri; begitu mengenal diri sendiri, alasan akan sirna. (Ayub berkata, “Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? . . . Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu”. Ayub 42:3, 5-6. — Manusia terhitung apa, hanya debu tanah, sama dengan abu, bagaimana berani membantah? Semua alasan manusia adalah perkataan yang tanpa pengetahuan, begitu bertemu dengan kemuliaan Allah, semuanya sirna).
14. Mohon Allah menyelamatkan kita
dari segala “mengapa”
Saudara Watchman Nee berdoa: Ya Allah kami, kami di depan-Mu sungguh harus rebah dan menyembah-Mu. Semua perkara yang Engkau atur, tidak ada satu pun yang tidak baik. Sering kali, kami bisa memilih jalan kami sendiri; tetapi Engkau menghalangi kami. Engkau tidak memberi kelancaran kepada kami. Engkau membuat kami sepertinya terbentur tembok. Kami akan berkata, kalau Engkau senang, itulah yang terbaik; kami tidak bisa berkata, mengapa Engkau memperlakukan saudara saudari begitu, dan memperlakukan kami begini; kami tidak bisa berkata mengapa Engkau begitu memberkati saudara saudari, tetapi tidak memberkati kami. Kami akan menerima jalan-Mu; yang beralasan kami terima, yang tidak beralasan juga kami terima; yang berfaedah kami terima, yang tidak berfaedah juga kami terima; supaya kami belajar melihat jalan kami, supaya kami belajar melihat jalan-Mu. Ya Allah, tidak perlu memberi tahu kami alasan-Mu, untuk apa demikian, asal Allah, asal yang Engkau kerjakan, semuanya benar. Ya Allah, apa yang Engkau kerjakan, semuanya benar. Supaya kami dalam segala hal tidak bergumul, tidak bertanya mengapa; selamatkan kami dari segala “mengapa”; selamatkan kami dari segala pertanyaan. Kami menengadah mohon pertolongan-Mu. Pimpinlah hati kami sampai demikian, supaya kami masing-masing menjadi tumpuan kaki di depan takhta-Mu, untuk Engkau injak, supaya kami bisa taat, bisa menyembah. Berkati saudara saudari. Semoga Engkau menganugerahi kami. Demi nama Tuhan Yesus. Amin.
15. Aku memuji jalan-Mu
Saudara Watchman Nee berkata: Seumur hidup saya, kebahagiaan yang paling besar adalah saya bisa mengenal Miss Barber. Dalam doa Miss Barber, ada puluhan kali, mungkin ratusan kali mengatakan, “Tuhan, aku memuji jalan-Mu.” Saya tahu ini adalah doa yang sangat dalam, doa yang sangat kuat. Dia puluhan kali berdoa, “Ya Allah, aku memuji jalan-Mu.”
Ingatlah, jalan Allah belum tentu semua lancar, jalan Allah belum tentu semua menguntungkan. Allah belum tentu mendengarkan doa Anda, seperti yang dialami oleh Daud. Setelah berdoa, berpuasa, anak masih mati. Pada saat itu, Anda harus berkata, “Ya Allah, aku mau menyembah-Mu.” Saat itu Anda harus menyembah jalan Allah. Kemenangan tergantung pada menundukkan kepala dan berkata, “Tuhan, aku memuji jalan-Mu; apa yang Engkau atur untukku, tidak ada yang salah; apa yang Engkau kerjakan, semuanya baik.”
Saudara Watchman Nee dari Miss Barber mendapatkan bantuan mengenal jalan menyembah Allah, lalu menyampaikan satu berita “Jalan Menyembah Allah”, dimuat dalam majalah “Kesaksian Masa Kini”. Banyak orang mendapatkan bantuan, dan belajar jalan menyembah Allah.
16. Belajar taat, tidak mengkritik, tidak menentang
Saudara Watchman Nee bersaksi: Ketika saya di London, jadwal hidup diatur oleh tuan rumah. Pukul 6 bangun pagi, pukul 12 makan siang, pukul 3 sore minum teh. Ada seorang saudara Swedia yang datang dari Jepang, setiap hari menggelengkan kepala dan mengeluh. Saya bertanya kepadanya, “Mengapa Anda tidak sukacita?” Dia lebih tua lima belas tahun daripada saya, setahun pendapatannya puluhan ribu poundsterling, di bawahnya ada ribuan buruh. Dia berkata kepada saya bahwa dirinya sangat repot, dia sudah dua puluh tahun lebih tidak menjadi murid, sekarang tinggal di tempat akomodasi ini, orang yang mengatur tempat akomodasi ini tidak begitu terpelajar. Dia merasa tidak senang diatur oleh orang yang demikian. Saya tinggal di London selama delapan belas bulan, kalau saya tidak belajar taat, di sana mengkritik, melawan, di dalam saya bagaimana bisa merasa nyaman? Taat adalah sifat hayat Tuhan, taat kekuasaan Allah adalah perlindungan kita.
Kembali..