← Daftar isi Kepengurusan Penatua atas Gereja · bab 9/15

PENGENALAN TERHADAP BATASAN

Dalam bab ini kita akan membahas satu butir lain dari kepengurusan penatua atas gereja, yaitu pengenalan terhadap batasan. Mungkin kita semua belum pernah memikirkan bahwa pengenalan terhadap batasan mempunyai hubungan yang sangat besar bagi penatua. Juga tidak begitu memahami, sesungguhnya batasan mengacu pada apa. Tetapi saya yakin, setelah membaca berita ini, perlahanlahan kita semua akan jelas. Terlebih dulu kita semua akan melihatnya dari pekerjaan Allah. Baik penciptaan Allah atau penebusan Allah, terhadap batasan selalu sangat jelas. Misalnya, Kitab Kejadian 1 membicarakan penciptaan Allah, sering terdapat kata-kata: “segala jenis”. Meskipun hayat nabati banyak macamnya, tetapi dari segala jenis. Hayat hewani juga tidak sedikit, tetapi juga dari segala jenis. Walaupun semuanya adalah hayat, tetapi dari segala jenis. Tidak peduli itu nabati atau hewani ada batasannya. Jika melewati batasan itu, segera menjadi kacau. Karena itu, ketika Allah mengajar umat-Nya pada Kitab Imamat dan Kitab Bilangan, terdapat banyak perkataan yang membicarakan masalah batasan, yang tidak mengizinkan dua macam hayat campur aduk manjadi satu. Misalnya, Allah tidak mengizinkan dua macam benih ditanam di satu petak sawah; tidak mengizinkan lembu dan keledai, dua macam ternak, bersama-sama menanggung satu kuk; juga tidak mengizinkan manusia memakai baju yang ditenun dengan dua macam bahan; bahkan Allah melarang laki-laki memakai baju perempuan dan perempuan memakai baju lakilaki. Sampai Perjanjian Baru, terutama dalam Surat-surat Kiriman, juga dapat ditemukan banyak ajaran mengenai batasan.Saat ini kita tidak mempunyai waktu untuk melihat semua itu. Namun dari sini kita menemukan satu perkara, yaitu dalam pekerjaan Allah, Allah sudah menetapkan berbagai batasan, jika batasan ini rusak, saat itu juga ada kekacauan, pekerjaan Allah akan dirusak.

Kepengurusan gereja juga ada berbagai macam batasan, kalau tidak, tidak perlu diurus, juga tidak ada orang yang bertanggung jawab. Alkitab menampakkan kepada kita bahwa di dalam gereja ada penatua, ada diaken, ada bermacam-macam orang yang mempunyai karunia, setiap pelayanan teratur, tertib masing-masing ada batasannya yang pasti. Karena itu, jika kita ingin mengurus gereja, terhadap batasan harus mempunyai pengenalan yang jelas dan transparan. Sekarang kita akan mengemukakan dua belas macam batasan.

I. BATASAN PENATUA DENGAN DIAKEN

Penatua dalam gereja adalah penyelenggara pemerintahan gereja, adalah pengatur, pengurus, dan pelaksana pemerintahan. Diaken dalam gereja adalah melayani mirip dengan yang umum disebut tenaga serabutan. Segala urusan dalam gereja diprakarsai, ditetapkan oleh para penatua, dan segala pekerjaan serabutan dalam gereja dipikul dan dilaksanakan oleh para diaken. Kedua batasan ini harus dibagi dengan sangat jelas, jika tidak, adakalanya para penatua mengerjakan urusan diaken, dan sebaliknya para diaken mengerjakan urusan penatua.

Ada urusan yang harus dikerjakan oleh diaken, namun para penatua mengerjakannya, hal ini berarti penatua menginjak bagian diaken. Misalnya, penataan sidang, harus ditata bagaimana, kapan saatnya ditata, prakarsa dan ketetapan ini adalah urusan penatua; sampai waktunya menata, urusan ini seharusnya diserahkan kepada para diaken untuk dikerjakan. Jika urusan penataan ini penatua sendiri yang turun tangan mengerjakan, ini berarti penatua menjadi diaken. Hal ini di satu aspek membuat para diaken tuna karya, di aspek lain pekerjaan penting yang seharusnya dikerjakan oleh penatua malahan tidak ada yang mengerjakan. Sebab itu di sini kita nampak cara seperti ini terhadap gereja adalah pengrusakan.

Selain itu, asal-usul urusan gereja seharusnya diprakarsai, ditetapkan oleh para penatua, tetapi kalau para penatua melalaikan tanggung jawabnya, sebaliknya membiarkan para diaken untuk menetapkan, akhirnya oleh karena mereka tidak berada dalam batasan kekuasaan kepengurusan, tidak mengetahui kondisi segenap gereja, begitu mereka memprakarsai urusan gereja, maka membuat atmosfir gereja terganggu. Hal yang tidak normal ini bisa terjadi dikarenakan para penatua tidak mengenal dengan jelas terhadap batasan. Semua urusan dalam gereja yang harus diprakarsai, ditetapkan dan menjadi tanggung jawab penatua; semua urusan pelayanan dalam gereja harus sebisanya diserahkan kepada diaken untuk dikerjakan.

Para penatua menjaga batasannya sendiri, selalu mengerjakan urusannya dalam batasannya dan menyerahkan urusan yang harus dikerjakan oleh para diaken untuk dikerjakan oleh para diaken, hal ini sangatlah sulit bagi para penatua, sebab para penatua harus bertangung jawab menghasilkan (membawa masuk) diaken. Banyak orang merasa, kalau banyak urusan bisa dikerjakan sendiri, maka lebih leluasa ditangani sendiri, mau dikerjakan bagaimana saja boleh. Kalau apa saja harus dikerjakan melalui orang lain, itu sangat tidak leluasa, bukan saja tidak bisa semaunya, bahkan harus belajar rendah hati, menerima penanggulangan. Sebab itu, sering kali para penatua menempuh jalan pintas, segala sesuatu dikerjakan sendiri. Satu kali demikian, dua kali demikian, tiga, empat kali terus demikian, akhirnya para diaken tidak berdaya dibina.

Para penatua telah mengerjakan pekerjaan diaken, hasilnya melalaikan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh penatua. Misalnya, bagaimana seharusnya memimpin berbagai macam orang di dalam gereja, bagaimana seharusnya memegang kesempatan untuk memperluas Injil, membangun kaum saleh, terhadap semuanya ini penatua harus secara positif menerima bimbingan Tuhan, sama seperti berdagang, di sana menghitung dan merencanakannya. Namun para penatua tidak meluangkan waktu dalam hal ini, sebaliknya malah menata bangku, mengatur meja, mengurusi pembersihan, hanya mengatasi keperluan yang nyata, ini adalah kesalahan yang amat besar.

Misalnya, gereja di sini ada tiga puluh lebih sidang distrik. Menurut keadaan yang normal, setiap distrik harus kuat, hal ini bukan hanya perlu pewajib distrik memimpin, lebih-lebih perlu para penatua memperhatikan. Para penatua harus meneliti, bagaimana keadaan distrik ini? Bagaimana kondisi distrik itu? Jika keadaannya tidak baik, di mana penyebabnya? Apakah atas hal penyuplaian firman tidak mencukupi? Ataukah atas hal kepengurusan dan koordinasi tidak baik? Mungkin atas hal pelayanan dan penginjilan ada kelemahan? Begitu ditemukan, harus segera memimpin menurut keperluan yang sesungguhnya. Kalau distrik ini kekurangan suplai firman, maka di antara para penatua yang ministri firmannya agak nyata, harus ada satu orang yang menerima beban, membantu distrik ini dengan baik, memperkuat penyuplaian firmannya. Mungkin pada distrik lain atas penanganan urusan yang tidak baik, di antara para penatua ada orang yang mahir dalam hal menangani urusan, haruslah ke sana membantu mereka. Para penatua demikian menggunakan keahlinya, tenaganya, waktunya, untuk memperkuat sidang di masing-masing distrik, tiga puluh lebih sidang distrik, setiap distrik dipimpin dengah baik, inilah pekerjaan yang harus dikerjakan oleh para penatua.

Misalnya lagi, dalam gereja masih ada sidang di balai sidang gereja, seperti sidang penyampaian berita pada hari Minggu, atau sidang penelaahan Alkitab di tiap pertengahan minggu. Para penatua juga harus memperhatikan bagaimana atmosfir sidang, bagaimana penyampaian firman, berapa jumlah orang yang hadir, bagaimana suasana yang hadir, semua ini perlu diperhatikan. Mengenai bangku, meja dilap bersih atau tidak, para penatua hanya perlu mengawasi saja sudah cukup, semua itu harus secara keseluruhan diserahkan para diaken untuk dikerjakan.

Ini hanyalah beberapa contoh. Pokoknya para penatua harus selalu memperhatikan hal-hal yang besar, tinggi, penting, perintis, perluasan, mendorong, membangun, mengenai urusan yang lain, hanya perlu menetapkan sedikit prinsip, kemudian diserahkan kepada para diaken untuk dikerjakan, demikian baru ada hasil bagi tugas kerja sama, baru dapat menghasilkan orang yang berbakat.

Dalam gereja seharusnya ada pemandangan yang indah ini, para penatua bisa belajar menjadi kekuasaan, rendah hati, sabar, juga bisa mendidik orang lain, memimpin orang lain, para diaken juga belajar taat kepada kekuasaan, menerima pimpinan, melayani dengan baik, semua orang berdiri pada posisinya masing-masing, menunaikan fungsinya. Ini memerlukan para penatua mengenal batasan di antara keduanya.

II. BATASAN PENATUADENGAN SAUDARA SAUDARI

Batasan penatua dengan saudara saudari juga merupakan satu seluk beluk yang besar. Memang, kita semua adalah anak-anak Allah, orang yang menjadi penatua dengan segenap saudara saudari bersama-sama menjadi anak Allah. Dari aspek ini, tentunya tidak ada batasan. Tetapi dari aspek lain, di atas diri orang yang menjadi penatua tertanggung beban berat gereja, dengan saudara saudari di antaranya terdapat batasan ada kewajiban dengan tidak ada kewajiban. Ini bukan berarti timbul tingkatan, mempunyai kedudukan yang tinggi, sepertinya penatua lebih tinggi satu tingkat daripada orang lain. Tidak, perasaan semacam ini sangat buruk. Batasan yang dibicarakan di sini secara mutlak adalah perkara kewajiban.

Misalnya, ada urusan yang bisa dibicarakan antar penatua, namun tidak leluasa dibicarakan dengan saudara saudari yang lain, sebab di sini ada masalah kewajiban. Dengan sebuah keluarga sebagai contoh, juga demikian. Sebuah rumah tangga mempunyai delapan sampai sembilan saudara saudari, tanggung jawab keluarga tentunya dipikul juga oleh kakak laki-laki dan kakak perempuan yang tertua. Dari aspek menjadi anak, mulai yang besar sampai yang kecil semuanya sama, tidak ada batasan. Tetapi berdasarkan kewajiban keluarga, kakak-kakak yang lebih tua ikut memikul beban berat keluarga, segala urusan yang berhubungan dengan kewajiban, hanya kakak-kakak yang lebih tua yang saling mengetahui, saling berunding, terhadap adik-adik kecil, harus ada batasan. Seperti keluarga, satu lingkungan yang kecil ini, sudah demikian, apa lagi rumah Allah yang lingkungannya begitu besar, tentunya tidak setiap urusan yang diketahui oleh para penatua boleh sembarangan dibicarakan dengan saudara saudari siapa pun. Jika demikian, itu tidak ada batasan, akibatnya sangat menyulitkan.

Bukan hanya kepada saudara saudari pada umumnya, bahkan kepada para diaken, kalau tidak ada keperluan itu, banyak urusan tidak perlu diberitahukan. Ini bukan berarti di dalam gereja telah timbul hierarki, ini adalah perihal kewajiban, juga perihal taraf. Di sini sungguh-sungguh ada seluk-beluk batasan.

Misalnya, seorang saudara timbul masalah dengan istrinya di rumah, perkara itu boleh diutarakan oleh para penatua di dalam sidang penatua, merundingkan cara membantunya. Para penatua boleh mengetahui perkara itu, sebab semuanya adalah penatua dalam gereja, bertanggung jawab merawat dan menggembalakan saudara saudari. Namun bila di suatu lokasi yang lain, di sana juga mungkin ada saudara-saudara yang lain, maka para penatua tidak selayaknya menyinggung perkara itu, karena akan diketahui oleh orang lain, demikian akan bersalah kepada pasangan suami istri tadi. Pada posisi-posisi semacam ini, perlu ada satu batasan. Ingin mengurus gereja dengan baik, batasan ini harus dipisahkan dengan jelas.

III. BATASAN PENATUA DENGAN PEKERJA

Alkitab menampakkan kepada kita, penatua ditetapkan oleh rasul, rasul adalah pekerja. Tetapi kita harus mengenal dengan jelas, bukan semua pekerja adalah rasul; kalau tidak, itu sangat berbahaya. Jika asalkan seseorang sepenuh waktu melayani adalah seorang rasul, bisa menetapkan penatua, itu adalah perkara yang celaka. Karena itu, di sini, pekerja dengan pekerja ada bedanya. Ada yang menerima amanat seperti rasul, ada yang belum tentu menerima amanat rasul. Sebab itu, hubungan para penatua dengan pekerja juga harus ada satu perbedaan. Terhadap sebagian pekerja, Anda dapat melihatnya seperti rasul, menerima pimpinannya. Dan ada juga pekerja yang muda usia, baru keluar belajar melayani, dia masih harus menerima pimpinan para penatua. Di sini ada pula perbedaan batasan. Kalau batasan ini tidak bisa dikenal dengan baik, di dalam gereja pasti ada bermacam-macam suasana kekacauan.

IV. BATASAN PENATUA DENGAN FAMILI

Para penatua dengan famili, yaitu dengan keluarganya, juga harus ada satu batasan. Seorang yang menjadi penatua, kebanyakan mempunyai istri, anak, ada juga yang orang tuanya masih hidup, setiap orang mempunyai sanak famili. Batasan penatua dengan familinya juga harus dikenal dengan jelas.

Dulu bukan hanya di satu tempat saya mengatakan, asalkan ada kesempatan, saya pasti akan menyinggung butir ini. Di suatu tempat, ada seorang saudara yang menjadi penatua, bersamaan dengan itu ia juga menarik istrinya menjadi penatua; bahkan ada yang menarik masuk anakanaknya, orang tuanya, menjadi penatua. Dia seorang diri menjadi penatua, sekeluarga datang menjadi penatua. Mungkin Anda mengatakan, bagaimana ini? Misalnya, Saudara A menjadi penatua, suatu hari setelah usai sidang penatua, dia pulang, begitu masuk pintu rumah, Nyonya A segera bertanya, “Sidang penatua hari ini membicarakan apa saja?” Kemudian Saudara A mengatakan, “Wah celaka, membicarakan masalah perceraian sepasang suami istri!” Langsung putra sulungnya datang, bertanya, “Siapa?” Lalu penatua itu berkata, “Si anu.” Putrinya pun mengomentari, “O, kalau begitu, bagaimana dengan istrinya?” Ketahuilah, perkara perceraian sepasang suami istri yang dibicarakan dalam sidang penatua itu belum berlalu setengah jam, seluruh keluarga penatua A sudah ikut memberi opini. Belum sampai jam delapan malam, putranya pergi ke sekolah mengikuti pelajaran tambahan, saudara saudari di kelasnya sudah tahu semua. Belum sampai keesokan harinya, saudara saudari muda sudah tahu semuanya. Kebetulan Nyonya A ini, malam harinya menghadiri sidang saudari, begitu selesai sidang, lalu menarik saudari-saudari mengatakan, “Hai saudari-saudari berdoalah, gawat ini, saudara si anu akan bercerai dengan istrinya!” Ini memang baik hati, namun membuat kekacauan besar, berantakan. Saudara A berbuat demikian, berarti membuat seisi keluarganya menjadi penatua. Inilah beban yang membuat gereja tidak tahan.

O, saudara-saudara kalau Saudara A ini mengerti batasan penatua dengan keluarganya, ketika dia selesai menghadiri sidang penatua, dan sampai di rumah, bila istrinya bertanya tentang sidang penatua, dia seharusnya dengan lemah lembut memberi tahu saudarinya, “Kamu bukan penatua, sidang penatua bukan urusanmu.” Inilah batasan. Mau mengurus gereja dengan baik, jalur batasan ini perlu digaris dengan jelas. Kalau tidak, belum berselang satu tahun, dalam gereja pasti ada gosip, dan gosip-gosip itu semuanya bersumber dari para penatua.

Di hadapan Tuhan, saya ingin berbicara dari hati nurani, saya tidak bermaksud mengkritik, tetapi di beberapa tempat, ada suasana yang membuat saya tidak tahan melihatnya. Di satu aspek pelayanan dalam pengawasan gereja, nampaknya secara mutlak mengunci saudari di luar pintu, namun di aspek lainnya, para penatua yang menghadiri pelayanan gereja, membawa semua urusan gereja kepada istri mereka, membuat saudari yang menjadi istri ini mencampuri urusan gereja. Ini mutlak adalah keadaan yang tidak normal. Di sini dengan serius saya katakan, gereja di sana tidak mungkin tidak kacau. Sebab batasan para penatua dengan keluarganya tidak dibagi dengan jelas.

V. BATASAN WAKTU

Orang yang menjadi penatua masih harus bisa membedakan waktu. Ada urusan yang boleh dikerjakan pada waktu itu, lain waktu tidak bisa dikerjakan. Ada perkataan yang bisa dibicarakan secara luas dalam sidang macam ini, dalam sidang macam yang lain tidak bisa diutarakan. Tidak bisa dikatakan, karena perkara itu sudah diumumkan dalam sidang doa, maka hari ini dalam sidang pemberitaan juga saya umumkan. Tidak, disini ada batasan waktu. Atas diri para penatua, semua urusan harus berpegang teguh pada batasan waktu. Begitu tidak berada dalam waktu tersebut, maka urusan itu tidak bisa dikerjakan. Harus belajar meneliti waktu. Kalau para penatua ingin mengurus gereja dengan baik, harus selalu berpegang teguh pada batasan waktu.

Misalnya, tadi telah dikatakan ada sepasang suami istri sedang bertengkar ingin bercerai, hal itu diketahui oleh para penatua, dan para penatua ingin pergi menjenguk mereka, membantu mereka. Tetapi kapan seharusnya pergi menjenguk mereka? Ingatlah, waktunya sangat menentukan. Para penatua harus meneliti, sekarang ini, apakah sudah saatnya terbuka, apakah boleh secara resmi menjenguk mereka, mungkin masih perlu menunggu satu minggu lagi, melihat bagaimana perkaranya berkembang. Jika batasan waktunya kurang, malah akan merusak mereka. Anda harus memberi garis batasan waktu ini dengan jelas, supaya ketika Anda pergi, waktunya tepat sekali.

Setiap urusan selalu ada seluk-beluk waktunya. Sekalipun ada masalah atas diri seorang saudara, atau terjadi konflik dengan gereja, atau cenderung terhadap suatu dosa, Anda tidak bisa begitu mendengar kabar itu, segera mencari seorang saudara untuk mengunjungi dia. Tidak boleh demikian. Anda masih harus mempertimbangkan masalah waktu, melihat kapan saat yang cocok untuk mengunjunginya. Mungkin ada urusan yang telah kadaluwarsa, tentu tidak bisa apa-apa, Anda tidak bisa mengerjakannya lagi; kalau dikerjakan, malah akan berakibat fatal. Anda hanya bisa memohon kepada Tuhan untuk mengampuni, sebab perasaan Anda tumpul, tidak mengikuti waktu yang tepat itu. Ada pula yang tidak bisa didatangi waktu ini, masih perlu menunggu beberapa hari lagi, atau sejangka waktu kemudian, untuk melihat keadaan apa yang muncul, atau mewujudkan hasil yang bagaimana, pada saat itu baru dikontak kembali.

Kalau orang yang menjadi penatua sungguh-sungguh memiliki hati untuk menggembalakan kawanan domba Allah, membangun Tubuh Kristus, ia akan nampak selukbeluk waktu sangatlah penting. Bagaikan seorang dokter yang akan mengoperasi penyakit pasien, melaksanakan pembedahan, haruslah ada seluk-beluk waktu. Penatua yang tidak bisa menggarisi batasan waktu, kepengurusannya terhadap gereja pasti tidak baik. Sebab itu penatua harus mempunyai seluk-beluk atas waktu.

VI. BATASAN TEMPAT

Bukan hanya waktu ada batasannya, tempat pun harus ada batasannya. Batasan adalah satu pembedaan. Ada urusan yang bisa dikerjakan oleh penatua di tempat ini, di tempat lain tidak bisa dikerjakan. Ada perkataan yang bisa diucapkan oleh penatua di forum ini, di forum lain tidak bisa diucapkan. Hal ini bukannya berpolitik, juga bukannya licik, ini mutlak adalah pembedaan batasan.

Karena itu, secara serius, para penatua hanya dalam sidang penatua bisa dengan bebas dan terbuka, sedikit pun tidak tertutup, tidak terselubung, membicarakan masalah saudara saudari, masalah gereja, masalah kesaksian Tuhan. Selain itu, semua orang yang menjadi penatua, harus memperhatikan setiap macam batasan dan harus menggarisi batasan dengan jelas. Para penatua tidak bisa membicarakan urusan dalam sidang penatua kepada diaken, juga tidak bisa membicarakan urusan dalam sidang penatua kepada saudara saudari, terlebih tidak bisa membicarakan urusan dalam sidang penatua kepada keluarganya. Demikian, para penatua barulah merasa lega membicarakan segala masalah saudara saudari, kalau tidak, benar-benar berhutang kepada saudara saudari. Dalam sidang penatua, semua urusan yang berhubungan dengan gereja, yang berhubungan dengan kesaksian Tuhan, boleh dibicarakan, tetapi di forum lain, tidak bisa dibicarakan. Ini yang disebut seluk-beluk tempat.

VII. BATASAN URUSAN

Atas perihal batasan urusan, juga perlu dikenali oleh para penatua. Ada urusan yang tidak bisa dijamah oleh para penatua, begitu dijamah melampaui batas; ada urusan yang harus dicampuri oleh penatua, sebab adalah urusan di dalam batas kekuasaan penatua. Saya sering menerima surat dari saudara saudari di luar negeri, ketika saya membacanya, saya merasa bahwa hati mereka sungguh baik, tertuju kepada Tuhan, juga tertuju kepada pekerjaan Tuhan, lebih-lebih memperhatikan gereja Tuhan, tetapi cara bicara mereka atas suratnya, sungguh-sungguh tidak mengenal batasan. Problem dari setiap aspek, mereka campur aduk menjadi satu, tidak dibagi dengan jelas, hal ini mudah sekali menimbulkan masalah di dalam gereja.

Gereja adalah sesuatu yang bersifat abadi, bukannya hari ini ada dan besok sudah tidak ada, bukannya muncul sebentar segera sirna. Gereja selalu ada di sini. Jika Tuhan “terlambat” datang, mungkin 50 tahun, 80 tahun, terus berada di sini. Kita yang dibangkitkan menjadi penatua pada usia 45 tahun, sedikitnya akan menjadi penatua selama 10, 20 tahun. Kalau batasan urusan dalam gereja tidak bisa dibagi dengan jelas, bulan demi bulan, tahun demi tahun terus berlanjut, akhirnya pasti mengakibatkan bermacammacam kekacauan. Sebab itu, harus selalu belajar menggarisi dengan jelas batasan urusan.

Mohon kita semua ingat, semakin Anda menggarisi batasan dengan jelas, perpaduan gereja akan semakin teguh, koordinasi gereja akan semakin padat, bahkan pembangunan gereja baru sungguh-sungguh di atas rel. Karena atas perihal waktu, tempat, urusan, para penatua telah belajar dengan baik, semuanya sudah menggarisi batasan, maka begitu ada urusan sampai ke hadapan para penatua, para penatua segera dapat mengatakan, ini adalah urusan para saudara, kita sementara tidak ikut campur. Ada juga urusan sampai di hadapan para penatua, para penatua segera bisa menggarisi batasan mengatakan bahwa ini adalah pekerjaan Tuhan, ini adalah urusan pihak ministri, ini adalah urusan para sekerja. Anda cukup menggarisi dengan jelas batasan urusan, barulah mengetahui urusan mana termasuk dalam batasan urusan para penatua. Bahkan Anda bisa menggarisi berbagai macam urusan dengan batasan kebenaran, bisa membeda-bedakan hal ini sudah menyalahi kebenaran, hal itu berada di dalam batasan kebenaran. Dengan demikian Anda tahu Anda harus atau tidak mencampuri urusan tersebut. Jika tidak, Anda akan sering mengerjakan urusan yang tidak seharusnya dikerjakan. Semuanya ini adalah seluk-beluk pengenalan.

VIII. BATASAN GEREJA DENGAN GEREJA

Antara gereja dengan gereja juga ada batasannya. Memang, gereja di tiap-tiap lokal semuanya di dalam Tuhan, harus saling bersekutu, juga harus saling sekuat tenaga membantu, tetapi begitu ada masalah, masih perlu menggarisi batasan dengan jelas. Apakah urusan gereja lokal ini, atau urusan gereja lokal itu, bagaimanapun harus dibagi dengan jelas. Ada lokal lain yang para penatuanya terlalu baik hati, merasa bahwa dirinya sangat berdekatan dengan suatu tempat di luar kota, seharusnya membantu kesibukan mereka, ada urusan yang ditetapkan bagi mereka! Meskipun ini adalah berhati dan bermaksud baik, tetapi sering kali merusakkan urusan. Jangan mengira hal ini bukan satu perkara yang penting. Harus selalu belajar menggarisi batasan dengan jelas: ini adalah urusan gereja lokal lain, sekalipun kita repot, tetap harus menyerahkan urusan ini kepada para pewajib di sana, agar pewajib di sana mengetahui hal ini, menangani perkara ini. Antara gereja dengan gereja, walaupun harus ada persekutuan, di dalam Tuhan harus saling membantu, akan tetapi batasan gereja harus dibagi dengan jelas.

IX. BATASAN GEREJA DENGAN PEKERJAAN

Batasan gereja dengan pekerjaan adalah satu judul yang amat besar. Selama dua ribu tahun ini gereja di atas bumi, ada dua masalah yang selalu tidak bisa diselesaikan dengan baik: satu adalah masalah menerima orang, satu lagi adalah hubungan gereja dengan pekerjaan. Bagaimana boleh menerima seseorang menjadi saudara? Masalah ini sampai hari ini masih belum terselesaikan. Di aspek lain, batasan gereja dengan pekerjaan juga merupakan satu masalah yang sangat sulit diselesaikan, sebab seluk-beluk di dalamnya terlalu rumit, sering membuat orang tidak dapat membedakan dengan jelas.

Namun kalau kita kembali kepada Alkitab untuk membaca firman Allah dengan tidak subyektif, tidak membawa latar belakang agama, memakai kepala yang dingin, roh yang cemerlang, maka kita bisa nampak jelas batasan gereja dengan pekerjaan. Dari satu aspek, gereja meliputi segala sesuatu, semua orang yang bekerja, termasuk rasul Paulus, berada di dalam gereja. Dia tiba di Korintus, adalah saudara di gereja di Korintus; tiba di Efesus, adalah saudara di gereja di Efesus; tiba di Antiokhia, adalah saudara di gereja di Antiokhia. Mengenai dia berkarunia, bisa menggunakan, menyuplai, itu adalah urusan lain. Dengan posisinya sebagai saudara, dia adalah satu bagian dari gereja. Tetapi di aspek lain, dengan posisinya sebagai seorang rasul, dia adalah seorang pekerja, menanggung sebagian pekerjaan Tuhan, dia mutlak di luar gereja. Jika tidak, kalau pekerja dan pekerjaan semuanya tunduk di bawah gereja, maka gereja boleh mempunyai pekerja, boleh mengatur pekerja, mengutus pekerja, juga boleh memperluas suatu pekerjaan, ini telah melangkahi ajaran Alkitab. Karena itu di sini kita nampak, seorang pekerja, dengan dirinya menjadi saudara, dia berada di dalam gereja; dengan dirinya menerima amanat dari Tuhan, dia berbeda dengan gereja.

Di satu aspek, pekerjaan di mana-mana adalah bagi gereja, pekerja bukan mendirikan gereja, melainkan membina gereja, membangun gereja. Di lain aspek, gereja di mana-mana juga harus tunduk di bawah pekerjaan Tuhan, gereja harus berdoa bagi pekerjaan, juga harus menyuplai dan berbagian dengan pekerjaan atas hal harta benda. Tetapi ada satu hal yang harus diketahui dengan jelas, seluruh pekerjaan perluasan, semuanya mutlak, seratus persen di tangan pekerja Tuhan, dan tidak berada di tangan gereja lokal mana pun. Gereja lokal mana saja, hanya bisa memikul pekerjaan di lokal itu. Misalnya, pekerjaan Injil di tempat itu, pekerjaan membina kaum saleh, atau pekerjaan menjenguk, pekerjaan mengajar, semua ini harus ditanggung oleh gereja di tempat itu. Semua pekerja yang bekerja di sana, harus tunduk kepada gereja di tempat itu. Tetapi pekerjaan perluasan ke luar, pekerjaan membuka lahan baru, tidak ada satu gereja lokal pun boleh mengerjakan. Dari Taipei tidak bisa mengutus seorang saudara ke Shindien, untuk membina gereja di sana. Tuhan tidak memberikan tumpuan ini kepada gereja untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Tumpuan pekerjaan perluasan ke luar berada pada diri rasul-rasul yang diutus, para pekerja Tuhan. Pekerjaan perluasan ke luar berada dalam genggaman pekerja. Inilah hubungan gereja dengan pekerja dan gereja dengan pekerjaan. Setelah kita mengenal hal ini, sampai saatnya menangani perkara, barulah bisa dengan jelas mempunyai batasan. Barulah kita dapat mengatakan ini adalah urusan gereja, juga dapat mengatakan itu urusan pihak pekerja, urusan pekerjaan.

Kadang-kadang, mungkin ada seorang sekerja tua, atau seorang sekerja yang sangat senior, datang ke sini. Para penatua harus jelas, dia datang ke sini, statusnya adalah seorang saudara. Dia mempunyai karunia dapat diterapkan di sini, itu masalah lain; dia mempunyai beban, bimbingan, bekerja di sini, itu masalah lain; tetapi pengaturan gereja di sini tetap berada dalam genggaman para penatua di sini. Pekerja siapa pun, tidak peduli betapa seniornya dia, terkemukanya dia, tidak bisa mewakili para penatua di sini untuk mengambil alih tanggung jawab gereja.

Ada juga di tempat lain, oleh karena para penatuanya kurang mengenal batasan ini, begitu gereja kedatangan seorang sekerja senior, mereka segera menyerahkan semua tanggung jawab kepadanya. Seolah-olah mengatakan: Anda lebih tua, bisa memimpin, silakan Anda menanggung kewajiban memimpin. Ingatlah, konsepsi ini kurang tepat. Rasul Paulus tidak pernah berbuat demikian, para rasul juga tidak pernah berbuat demikian. Terkecuali mereka ada pimpinan dari Tuhan, tinggal lama di lokal tertentu yang mempunyai keperluan, juga menjadi penatua di gereja lokal tersebut, itu lain ceritanya; dia selamanya tidak bisa berada di atas posisi seorang rasul, berdasarkan kualifikasi seorang pekerja, lalu mengambil alih tanggung jawab gereja. Dia paling banyak hanya bisa menaruh dirinya di antara para penatua, dengan kualifikasi seorang penatua, dengan para penatua lainnya, bersama-sama memikul tanggung jawab gereja lokal tersebut. Para penatua jika bisa belajar mengenal batasan, gereja pasti memperoleh faedah yang amat besar.

X. BATASAN GEREJA DENGAN DENOMINASI

Perbedaan gereja dengan denominasi juga merupakan satu judul yang cukup besar. Saya berkata secara terus terang, di tengah-tengah agama kristen, ada beberapa hal yang membuat pendengarnya pusing kepala. Di antaranya mengatakan bahwa semua perkumpulan kekristenan lumayan (berbeda sedikit). Di lokal lain, bahkan orang yang menjadi penatua dalam gereja juga berkata demikian. Ketika saya mendengar perkataan ini, dengan tidak sungkansungkan saya berkata kepadanya, “Kalau lumayan, mengapa Anda datang ke mari menjadi penatua?” Dia menjawab, “Ini adalah pimpinan Tuhan, pengaturan saudara-saudara, aku tidak dapat menolak, aku lihat lumayan juga.” O, saudara-saudara, orang yang menjadi penatua tidak bisa mengatakan perkataan “lumayan” ini. Ya katakanlah ya, tidak katakanlah tidak, jangan mengatakan lumayan. Jika lumayan, kita tidak seharusnya mendirikan satu perhimpunan lagi di antara sekian banyak perhimpunan yang berbeda-beda. Penatua di tengah-tengah kita, yang bertanggung jawab di masing-masing lokal, harus berkata bahwa ini berbeda sangat banyak. Apa yang disebut gereja? Apa yang disebut denominasi? Di sini ada satu batasan yang amat besar.

Ada orang merasa perkataan demikian sangat menusuk telinga, setelah mendengar terasa tidak nyaman. Tetapi saya ingin dengan rendah hati memberi tahu saudara saudari, orang-orang yang rugi, adalah orang-orang yang setelah mendengar merasa tertusuk telinganya. Kalau Anda tidak dapat membedakan apa yang disebut gereja, apa yang disebut denominasi, orang yang pertama rugi adalah Anda sendiri, gereja dicelakai itu masih nomor dua.

Kita tidak berdaya mengakui bahwa denominasi apa pun adalah gereja. Kita hanya bisa mengakui bahwa dalam denominasi-denominasi itu ada saudara saudari kita, ada orang-orang dalam gereja, ada bagian-bagian gereja, ada anggota-anggota Tubuh Kristus; kita tidak berdaya mengakui bahwa denominasi apa pun adalah gereja. Kalau tidak, pimpinan Anda terhadap gereja akan sangat sulit. Saya mengharapkan saudara-saudara pewajib di tiap-tiap lokal bisa jelas akan hal ini. Saya juga mengharapkan, orang-orang yang tidak jelas atas hal ini, tidak seharusnya ditetapkan menjadi penatua di situ. Sebab perkara ini akan menimbulkan kesulitan yang sangat besar terhadap kepengurusannya di kemudian hari. Boleh dikatakan semua kesulitan, hampir seluruhnya ditimbulkan dari sini. Ingin mengurus gereja, di sini harus ada satu pembedaan. Sebagaimana hari ini kita bisa membedakan apa katolik itu, apa protestan itu. Kita bukan hanya bisa membedakan ini, kita juga bisa membedakan apa denominasi-denominasi itu, apa gereja yang didirikan oleh Allah satu lokal demi satu lokal di bumi. Kalau kita tidak menyinggung kepengurusan gereja, ya sudah; mau menyinggung perkara ini, perlu satu batasan yang jelas atas masalah ini.

XI. BATASAN KEBENARAN

Kita masih perlu mengenal satu batasan, yaitu batasan kebenaran. Masalah batasan mutlak berhubungan dengan pengenalan. Orang yang menjadi penatua harus sungguh-sungguh mengenal kebenaran, harus bisa menggarisi batasan pada setiap jalur kebenaran. Dengan demikian, pada aspek kebenaran, mudah sekali untuk menemukan bidat, juga mudah sekali mengenal ajaran-ajaran yang keliru.

Dalam gereja, orang-orang yang bertanggung jawab mengurus, belum tentu harus menggunakan seluruh kebenaran, tetapi terhadap seluruh kebenaran perlu ada pengenalan. Hal ini bagaikan orang meneliti ilmu pengetahuan, ada pengetahuan yang langsung diterapkan, ada pengetahuan yang akan diterapkan. Mengenal kebenaran juga demikian. Setiap hari yang kita suplaikan kepada saudara saudari, yang langsung kita terapkan dalam gereja, mungkin hanya beberapa butir yang sangat riil, sangat rohani, penuh dengan hayat, lainnya mungkin belum perlu langsung diterapkan, tetapi masih perlu dikenal, masih akan diterapkan.

Kita tahu, apa saja yang diciptakan oleh Allah tidaklah sederhana. Jangankan seorang manusia, di bagian luar ada kulit dan daging, di bagian dalam ada urat dan tulang, masih ada lagi seluk-beluk yang banyak tentang jerohan hati dan paru-paru; sebuah semangka pun banyak seluk-beluk-nya. Ketika saya makan semangka, belum tentu semuanya dimakan, kulit semangka tidak kita makan, biji semangka tidak kita makan, urat dalam daging semangka juga tidak kita makan. Tetapi bagi semangka itu sendiri, benda-benda ini masih perlu ada. Tanpa biji, tanpa kulit semangka, daging semangka tidak akan bertumbuh. Tetapi yang langsung diterapkan adalah daging semangka. Pengenalan penatua terhadap kebenaran juga demikian, harus dari banyak aspek. Walaupun yang langsung diterapkan hanya beberapa aspek, yang lain tidak begitu langsung diterapkan, tetapi masih terbentang di sana. Sebab hal ini sangat membantu dan melindungi penerapan kita. Sebab itu, orang yang mengurus gereja harus mempunyai pengenalan banyak aspek terhadap kebenaran.

Pengelompokan jenis, pembagian jenis, adalah syarat utama untuk mengenal urusan dan mengenal kebenaran. Mau mengenal urusan apa pun, atau kebenaran apa pun, harus terlebih dulu membagi jenis, mengelompokkan jenis. Anda tidak mengenalnya, begitu Anda mengelompokkan jenisnya, akan ternyatakan. Andaikata hari ini ada seseorang memberitakan sebuah khotbah, itu termasuk jenis yang mana? Begitu Anda kelompokkan ke dalam jenisnya, Anda akan tahu. Ketika Anda sungguh-sungguh bisa mengelompokkan kebenaran, barulah Anda benar-benar mengerti apakah khotbah ini berguna bagi saudara saudari atau tidak, juga baru bisa menetapkan apakah khotbah seperti ini boleh atau tidak boleh diterima. Karena itu, hal ini berkaitan erat terhadap kepengurusan gereja.

Jika para penatua tidak bisa menggarisi batasan terhadap kebenaran, kurang mengenal kebenaran, maka gereja atas hal menerima suplai firman sangatlah berbahaya. Tentunya, hari ini kita yang berada di Taiwan, karena ruang lingkupnya kecil, semua saling bersekutu, ini masih agak mudah. Tetapi, di tempat lain sangatlah sulit, semua berjauhan, setiap lokal harus bertanggung jawab sendiri dengan baik; sebenarnya suplai firman ini, minister firman yang demikian ini, harus diterima oleh gereja atau tidak? Hal ini mengharuskan para penatua bisa menggarisi batasan kebenaran. Anda tidak dapat berkata, “O, dia adalah seorang penginjil. Apa yang dia katakan berdasarkan Alkitab, sebab itu kita boleh menerimanya.” Tidak, khotbah yang diberitakannya harus digarisi batasannya, dikelompokkan, kita lihat sesungguhnya termasuk kelompok yang mana, sebenarnya berada dalam batasan yang mana. Anda bisa demikian menggarisi batasan, mengelompokkan jenis, maka segera akan mengetahui khotbah ini berbahaya atau tidak, berguna atau tidak. Ini adalah satu perlindungan yang amat besar terhadap gereja yang Anda urus.

Ada juga tempat yang keadaan gerejanya membuat kita prihatin, dikarenakan pewajibnya tidak bisa menggarisi batasan atas kebenaran, tidak bisa mengelompokkan. Gereja dengan sembarangan menerima orang untuk berkhotbah, memberitakan, akibatnya kacau semua, porak poranda, perpecahan. Semua ini adalah seluk-beluk yang besar dari kepengurusan penatua atas gereja.

XII. BATASAN SAUDARA DENGAN SAUDARI

Masih ada satu batasan lagi yang perlu selalu dijaga dengan serius, yaitu batasan saudara dengan saudari. Ini pun adalah satu batasan yang besar. Ada satu hal yang harus kita akui, ketika orang Kristen hidup di bumi, kesempatan berkontak dengan lawan jenis yang paling banyak adalah di dalam gereja. Antara saudara dengan saudari, sidang berkontak, melayani berkontak, memberitakan Injil, bersaksi, semuanya berkontak, sebab itu ketika para penatua mengurus gereja, harus menggarisi satu batasan di antara saudara saudari. Bukan satu batasan pemisah, melainkan satu batasan pembeda. Batasan ini mutlak tidak boleh disingkirkan, mutlak tidak boleh dihapus. Jika Anda hapus batasan ini, saat itu juga Anda akan menerjang bahaya yang dahsyat.

Dalam kekristenan ada sekelompok orang yang bergairah, ada sekelompok orang yang mempunyai sedikit pengalaman rohani, mereka mengusulkan bahwa kita semua adalah saudara saudari di dalam Kristus, kita semua rohani, tidak perlu dibagi saudara, juga tidak perlu dibagi saudari. Saya ingin memberi tahu saudara saudari, saya pernah melihat akibatnya, dan yang saya dengar lebih banyak lagi, entah berapa banyak kesulitan yang ditimbulkan bagi gereja. Di tempat lain ada yang para penatuanya makan buahnya, sebab para penatua yang memimpinnya, kepengurusan mereka membuat saudara saudari tidak membagi batasan. Ini mutlak keliru.

Anda tidak berdaya mempercayai, ketika kita hidup di atas bumi, hidup di dalam daging ini, batasan laki-laki dengan perempuan boleh ditiadakan. Ini adalah teori Iblis. Di lain tempat ada orang berkhotbah, mengatakan bahwa kita semua rohani, membicarakan batasan laki-laki dengan perempuan adalah berpikiran najis. Ada juga orang yang menyalahkan saya, katanya, “Anda ini berpikiran najis, berpikiran tidak bersih, karena itu barulah di sini membicarakan saudara saudari harus ada batasan.” Tidak, saudara saudari, walaupun ribuan bahkan laksaan orang memaki saya berpikiran tidak bersih, saya masih akan berdiri teguh di sini mengatakan: saudara dan saudari harus ada batasan. Para penatua di tiap-tiap lokal harus menegakkan batasan antara saudara saudari, tidak boleh meruntuhkan batasan ini.

Galatia 3 mengatakan bahwa di dalam Kristus batasan laki-laki dan perempuan tidak dibedakan. Namun 1 Korintus 11, 14 mengatakan bahwa di dalam gereja batasan laki-laki dan perempuan masih perlu dibedakan. Di dalam Kristus laki-laki dan perempuan tidak dibedakan, di dalam gereja laki-laki dan perempuan masih perlu dibedakan. Di dalam gereja kalau laki-laki dan perempuan tidak dibedakan, maka dalam 1 Korintus 11, 14, Paulus sama dengan menampar mulutnya sendiri, karena di situ Paulus dengan jelas mengatakan, saudara berdoa jangan menudungi kepala, saudari berdoa harus menudungi kepala, masih ada lagi, saudari di dalam pertemuan harus berdiam diri. Anda lihat, di dalam gereja masih ada perbedaan laki-laki dan perempuan.

Ada orang dengan serius dan langsung bertanya kepada saya, “Saudara Lee, mengapa hari ini gereja tidak bisa mengikuti zaman? Bersidang di tengah-tengah masyarakat sekarang ini, pada umumnya laki-laki dan perempuan duduk berbaur menjadi satu, mengapa sidang gereja kita masih harus pisah duduk antara laki-laki dan perempuan?” Saudara saudari yang terkasih, Anda tidak bisa tidak mengakui bahwa Daud lebih mengasihi Tuhan daripada Anda, Daud lebih rohani daripada Anda, tetapi Daud masih mempunyai kemungkinan untuk jatuh, apalagi kita? Hari ini kita masih berada di dalam ciptaan lama, mempunyai kemungkinan untuk jatuh. Batasan laki-laki dan perempuan ini tidak dihapus oleh Allah dari tengah-tengah gereja. Ketika Anda dan saya mengurus gereja, tidak boleh membawa satu atmosfir yang mengatakan bahwa semuanya di dalam Tuhan, tidak peduli saudara atau saudari. Kata “tidak peduli” ini sungguh celaka, secara mutlak tidak boleh. Di sini harus belajar ada batasan. Sekarang saya sudah memaparkan kedua belas batasan ini di sini. Kalau semua saudara yang menjadi penatua bisa menggarisi batasanbatasan ini, kepengurusannya terhadap gereja pasti mantap, jernih, dan benar. Anda bisa menerima bermacammacam orang, bermacam-macam urusan dalam gereja, ke dalam posisi yang tepat. Dengan demikian, gereja baru memperoleh kepengurusan yang riil, pembangunan yang sejati.