← Daftar isi Kepengurusan Penatua atas Gereja · bab 10/15

PERSEKUTUAN PENATUA

Pada permulaan, kita terlebih dulu membicarakan sedikit tentang persekutuan. Kalau kita mengenal prinsip Allah bekerja, kita akan melihat dengan jelas adanya satu prinsip dasar bagi Allah untuk memberi berkat, yaitu melalui persekutuan. Baik Allah datang menyelamatkan seseorang, atau datang membina seseorang, atau membangunkan seseorang, selalu tidak bisa meninggalkan persekutuan. Jarang sekali Anda bisa mendapatkan satu contoh bahwa di atas diri manusia, Allah melakukan satu perkara anugerah (kasih karunia) yang di dalamnya tidak ada prinsip persekutuan. Anda tidak bisa menemukan satu orang yang langsung diselamatkan oleh Allah. Meskipun semua orang yang beroleh selamat mendapatkan keselamatan dari Allah, tetapi semuanya secara tidak langsung, atau sedikitnya melalui satu orang. Melalui orang, inilah satu prinsip persekutuan.

Bacalah sejarah gereja atau biografi orang rohani, Anda akan melihat bahwa terpanggilnya seseorang oleh Allah juga demikian. Di satu pihak, memang Allah secara langsung memanggil orang, tetapi selalu terkandung prinsip persekutuan di dalamnya, selalu ada sedikit kontak antara orang yang terpanggil dengan orang-orang yang melayani Tuhan. Kontak ini adalah persekutuan yang menjadi satu faktor sehingga dia bisa terpanggil oleh Allah. Pembinaan, perawatan, perlengkapan, atau karunia yang Allah berikan kepada kita, juga tidak mudah terlepas dari prinsip persekutuan. Rasul Paulus menulis surat memberi tahu Timotius bahwa karunia yang ia terima adalah melalui penumpangan tangan dari rasul dan penatua. Ini sepenuhnya adalah masalah persekutuan. Timotius mendapatkan karunia juga melalui persekutuan. Dalam pemerintahan anugerah Allah, ada satu prinsip yang sangat mendasar, yaitu persekutuan. Di mana tidak ada persekutuan, di sana anugerah akan berhenti; di mana tidak ada persekutuan, di sana arus Roh Kudus akan putus. Persekutuan adalah satu prinsip yang sangat besar.

Sebab itu, kalau para penatua ingin baik-baik mengurus gereja dengan kuat, terang, segar, dan limpah, para penatua haruslah sebagai orang-orang yang bersekutu. Kalau di suatu tempat penatua kurang bersekutu, penatua di tempat itu pasti gelap, kering, lemah, juga salah. Karena kalau tidak ada persekutuan, tidak ada keseimbangan; kalau tidak ada persekutuan, pasti akan kering; begitu kering, segera menjadi miskin, lemah. Lagi pula kalau kekurangan keseimbangan, akan berat sebelah, atau menjadi ekstrim, ini tidak bisa dihindari. Kalau para penatua bisa sekuatnya dan memakai semua kesempatan bersekutu, ia pasti mendapatkan pendirisan, terang, segar, dan seimbang, tidak akan sampai berat sebelah, juga tidak akan ekstrem. Sebab itu, begitu menyinggung kepengurusan penatua atas gereja, kita tidak bisa hanya memperhatikan koordinasi para penatua, namun mengabaikan membicarakan persekutuan para penatua.

Saudara-saudara di setiap tempat, dalam tahun-tahun ini sudah mempunyai perasaan terhadap koordinasi yang seharusnya dimiliki dalam kepengurusan para penatua, tetapi kurang begitu ada perasaan terhadap persekutuan. Semoga dalam hari-hari selanjutnya, para penatua di setiap tempat bisa mempunyai satu perasaan yang berat bahwa kalau mau menjadi penatua harus bersekutu, kalau tidak ada persekutuan, pasti tidak bisa menjadi penatua yang baik. Jangankan perkara rohani, perkara duniawi saja perlu ada komunikasi dengan orang lain. Apa yang disebut pertukaran kebudayaan atau pertukaran ilmu pengetahuan, semuanya mengarah ke sini. Kalau Anda ingin menutup pintu, menjadi seorang yang duduk di dalam sumur melihat langit, hasilnya pasti hanya memiliki sedikit terang, hanya mengenal sedikit hal saja, orang lain sudah banyak maju, Anda masih menyeret-nyeret kaki, tetapi mengira diri sendiri lumayan. Hari ini, baik di bidang politik, militer, ilmu pengetahuan, atau seni budaya, semuanya perlu ada pertukaran, kalau ada pertukaran segera menjadi kaya. Belum tentu selalu harus Anda yang mendapatkan sesuatu dari orang lain, ketika Anda mendapatkan sesuatu dari orang lain, Anda juga menyuplai orang lain. Persekutuan adalah satu prinsip yang besar dalam alam semesta, prinsip ini berasal dari Allah, prinsip ini adalah ketetapan Allah.

Dalam Tubuh Kristus, tidak bisa menghindari persekutuan. Lihatlah tubuh Anda sendiri, Anda pasti mengetahuinya. Dalam tubuh, semuanya adalah cerita persekutuan.

Kapan dalam tubuh seseorang kekurangan persekutuan, peredaran darah berhenti, orang ini pasti habis. Kita juga mengetahui apa yang disebut olahraga, semuanya untuk memperkuat peredaran darah, dengan kata lain, adalah memperkuat persekutuan. Semua penyakit dalam tubuh dapat dibereskan dalam peredaran darah, semua suplai juga terdapat dari peredaran darah. Prinsip yang sama, dalam Tubuh Kristus, segala kesulitan juga diselesaikan dalam persekutuan, bersamaan dengan itu juga semua suplai terdapat dari persekutuan. Para penatua mengurus gereja, sedikit pun tidak bisa terlepas dari prinsip bersekutu, begitu terlepas dari prinsip ini, segera akan mengalami kerugian yang besar.

Ada tempat, meskipun orang yang menjadi penatua tidak dengan tegas mengatakan tidak perlu bersekutu, namun sesungguhnya apa yang mereka kerjakan menyatakan tidak perlu ada persekutuan. Gereja yang demikian sering berada dalam keadaan kering. Dalam gereja, dalam Tubuh Kristus, ada satu hal yang disebut persekutuan. Baik Anda mau atau tidak mau, perlu bersekutu. Setiap orang yang mengira dirinya sudah boleh, tidak perlu bersekutu, ia adalah orang yang sangat bodoh sekali, adalah orang yang paling sombong. Sebuah pohon tidak peduli seberapa suburnya, kuatnya, selalu perlu disirami dengan air, kalau tidak, pasti akan kering. Meskipun sekaya Paulus, juga tidak bisa tidak bersekutu. Semoga para penatua bisa mempunyai perasaan yang berat terhadap hal ini. Sekarang marilah kita melihat persona yang ikut dalam persekutuan.

I. PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH

Persekutuan penatua, pertama adalah persekutuan dengan Allah. Semua orang yang menjadi penatua haruslah orang yang bersekutu dengan Allah. Orang yang persekutuannya dengan Allah sudah putus, tidak seharusnya menjadi penatua. Bukan hanya ketika menjadi penatua perlu bersekutu dengan Allah, bahkan urusan-urusan yang jatuh ke tangan Anda, juga perlu satu per satu dibawa ke hadapan Allah untuk dipersekutukan dengan Allah. Ketika para penatua bersama-sama memikul tanggung jawab di hadapan Allah, semua urusan yang berada dalam tanggung jawab penatua harus dibawa ke hadapan Allah dan dipersekutukan dengan Allah. Harus membawa semua tanggung jawab, semua perkara, semua masalah, ke hadapan Allah, dan dipersekutukan dengan Allah. Tidak hanya penatua sendiri perlu sering hidup dalam persekutuan, mengalami penanggulangan di hadapan Allah, tetapi juga ketika bersama-sama menjadi penatua dan menghadapi masalah dalam gereja, ada yang perlu diselesaikan, ada yang harus dibereskan, ada yang harus didorong, harus bersama-sama membawa perkara-perkara ini ke hadapan Allah, dipersekutukan dengan Allah. Harus seperti berunding dengan Allah, bertanya kepada Allah, ini boleh dilakukan atau tidak? Ini benar atau tidak? Harus bagaimana menanganinya? Setiap aspek perlu dipersekutukan sampai tuntas dengan Allah, baru boleh melakukannya. Para penatua mutlak tidak boleh putus persekutuan dengan Allah. Menentukan apa saja di luar persekutuan, pasti salah. Semua pemerintahan dalam gereja, ketetapan dalam gereja, pekerjaan dalam gereja, dorongan dalam gereja, pimpinan dalam gereja, segala perkara yang ditangani penatua, harus di bawa ke hadapan Allah, dipersekutukan dengan Allah. Secara perorangan, setiap penatua harus ada persekutuan dengan Allah, secara keseluruhan penatua (badan kepenatuaan), setiap kali menetapkan urusan, mendorong urusan, juga harus bersekutu dengan Allah.

II. SALING BERSEKUTU

Para penatua masih perlu saling bersekutu. Saling bersekutu ini adalah seratus persen, tidak boleh dikurangi. Dalam bab yang membicarakan koordinasi, kita sudah mengatakan bahwa untuk berkoordinasi perlu keterbukaan, keterbukaan ini adalah persekutuan. Ketika kita bersama melayani sebagai penatua, Anda tidak boleh hanya bersekutu sembilan puluh persen, dan menahan sepuluh persen. Kalau ada yang ditahan, pasti ada masalah. Para penatua bersama-sama menjadi penatua, harus bersekutu sampai satu taraf, tidak ada seorang pun yang menahan sesuatu terhadap saudara-saudara sesama penatua.

Saya ingin berkata kepada saudara saudari, pimpinan yang diterima oleh penatua berasal dari persekutuan semua penatua; beban para penatua berasal dari persekutuan semua penatua; cara penatua membereskan dan menangani kesulitan berasal dari bersama-sama bersekutu; kekuatan, terang, pandangan para penatua, semua berasal dari bersama-sama bersekutu; bahkan kepengurusan penatua atas gereja, juga berasal dari persekutuan. Di mana saja, kalau ada penatua yang sedikit menahan sesuatu, ada yang tertutup, di sana akan kekurangan satu bagian hikmat, kekurangan satu bagian terang. Sebab itu, setiap kali ada satu perkara yang membuat Anda timbul perasaan, atau ada sedikit keadaan yang Anda lihat, Anda harus seratus persen, sepenuhnya, seutuhnya, mempersekutukannya kepada sesama penatua. Kalau tidak demikian, penatua selamanya tidak bisa dengan baik mengurus gereja.

Penatua mengurus gereja harus memilih persekutuan yang tuntas. Lima penatua, sama seperti lima gumpal tanah, harus diletakkan ke dalam air untuk dibaurkan, terus dibaurkan sampai lima gumpalan tanah itu menjadi satu gumpalan, yang sama sekali tidak bisa dipisahkan lagi. Pembauran ini adalah persekutuan. Lima penatua seharusnya terus bersama-sama mencari pimpinan Tuhan. Dalam mengurus gereja, kita tidak takut para penatua tidak mengetahui bagaimana menangani urusan, hanya takut semua tidak bersekutu. Kalau lima saudara mau berbaur menjadi satu, mau bersama-sama bersekutu, pagi bersekutu, malam juga bersekutu, hari ini bersekutu, besok juga bersekutu, setiap hari bersekutu, lihatlah pimpinan Allah pasti akan datang, cara Allah juga akan datang, hikmat Allah, terang Allah, wahyu Allah, dan beban Allah, semua akan datang. Anda dapat mempersekutukan pimpinan untuk memberitakan Injil, Anda bisa mempersekutukan beban membina kaum saleh, Anda bisa mempersekutukan terang dalam Alkitab, Anda bisa mempersekutukan karunia. Kalau para penatua mau bersekutu seperti ini, sampai waktunya, ada orang akan mendapat karunia.

Hari ini saya di sini boleh memberi jaminan kepada kalian, kalau ingin menjadi penatua yang baik, cara yang paling baik adalah setiap hari bersekutu. Anda mungkin akan berkata, tidak banyak yang bisa kita persekutukan. Justru karena tidak ada yang bisa kalian persekutukan, maka kalian perlu bersekutu. Datanglah bersama, lalu terus berbincang, setelah berbincang berdoa, setelah berdoa berbincang lagi; berbincang tentang kesulitan Anda, tentang kesulitan saya, tentang keadaan Anda di hadapan Allah, tentang keadaan saya di hadapan Allah; selesai membincangkan saudara-saudara sesama penatua sampai tuntas, membincangkan lagi keadaan saudara saudari, keadaan gereja, berbincang di sini ada berapa banyak orang berdosa, bagaimana memberitakan Injil. Kalau para penatua mau bersekutu demikian, pasti akan timbul banyak pekerjaan dari persekutuan ini.

Yang paling ditakuti adalah lima penatua, satu minggu bersidang satu kali, waktu-waktu yang lain, hanya ketika bertemu berjabatan tangan, menganggukkan kepala, atau menyapa selamat pagi, atau bertanya apakah sudah makan. Waktu sidang datang bersama, selesai sidang selamat berpisah, semuanya berlaku sopan, tetapi masing-masing menyimpan perkara di dalam hati, sama sekali tidak terbuka, berdoa saja hanya keluar dari tenggorokan. Kalau demikian, penatua-penatua ini pasti dari awal tahun sampai akhir tahun, tidak bisa ada satu pimpinan, tidak bisa mempunyai satu beban, juga tidak bisa mempunyai sedikit terang.

Kalau para penatua ingin mempunyai terang, pimpinan, hikmat, penanggulangan, mereka harus setiap hari menjadi satu, asal ada waktu datang menjadi satu, kapan saja, mungkin dari malam pukul tujuh sampai pukul dua belas, keesokan harinya bersekutu lagi. Kalau demikian bersekutu selama satu bulan, masih tidak terjadi apaapa, saya katakan dengan kasar, boleh memenggal kepala saya. Kalau demikian bersekutu, pasti muncul beban, pimpinan, terang, hikmat, kekuatan, dan kekuasaan. Sampai saat ini, Anda datang ke dalam sidang, begitu berkata, “Saudara saudari, kita seharusnya memberitakan Injil.” Semua saudara saudari segera memberi respon; sungguh ajaib sekali. Kalau tidak melalui persekutuan yang demikian, Anda berkata, “Kita sudah tiga tahun tidak memberitakan Injil, kita benar-benar perlu memberitakan Injil.” Yang lain masih tetap ngantuk, sama sekali tidak ada reaksi. Ini adalah usulan yang mati, bukan usulan yang hidup, karena diri Anda yang sebagai penatua ini tidak hidup. Ketika Anda datang memberi usulan, Anda hanya menyiram air dingin di atas diri saudara saudari, tidak bisa membuat mereka panas. Kalau orang yang menjadi penatua terlebih dulu bersekutu, api yang di dalamnya sudah menyala, merasa seharusnya memberitakan Injil pada dua minggu yang akan datang, ketika dia berkata kepada saudara-saudara, perkataannya akan hidup, di dalamnya ada kekuasaan, Roh Kudus juga memberi konfirmasi; ketika orang lain mendengarkan, juga merasa di dalamnya ada kekuatan Roh Kudus, ada kekuasaan Roh Kudus. Ini bukan berunding, bukan menetapkan urusan, ini adalah persekutuan.

Belasan tahun yang lalu, ketika kami melayani di wilayah Utara, setiap hari Senin, mulai pukul 08.00 pagi sampai pukul 14.30 sore, selama enam, tujuh jam, semua penatua gereja serta saudara saudari yang memimpin, kurang lebih berjumlah belasan orang, semua berkumpul bersekutu, bersekutu tentang urusan saudara saudari, juga bersekutu tentang urusan gereja, atau bersekutu tentang keadaan sidang Pemecahan Roti Minggu malam, atau bersekutu tentang sidang Pengabaran Injil pada Minggu pagi, bukan bersekutu secara sembarangan, melainkan bersekutu dengan sungguh-sungguh. Adakalanya seorang saudari menyinggung nama beberapa saudari, menyinggung keadaan mereka, misalnya Saudari A sekarang mempunyai kemajuan, mempunyai daya guna, juga mempunyai satu karunia, tetapi masih kekurangan sesuatu, perlu seseorang di antara kita yang membantu kekurangan itu. Ada yang menyinggung tentang kesulitan, ada yang menyinggung tentang kekurangan, lingkupan persekutuan sangat luas, sebab itu waktunya juga sangat panjang. Karena ada persekutuan yang demikian, maka gereja di sana sangat hidup, pewajib di sana sangat transparan.

Sampai tahun 1943, gereja di sana mengalami satu kali kebangunan rohani, lalu kita merasakan bahwa satu minggu bersekutu sekali masih kurang, perlu setiap malam bersidang, setiap sore bersekutu. Setiap kali kita bersekutu, selalu membicarakan bagaimana arus Roh Kudus mengalir, siapa yang dibangunkan Tuhan, keadaan sidang kemarin bagaimana, untuk sidang malam hari ini ada perasaan apa, kita harus mencari siapa, berkontak dengan siapa, persekutuan itu benar-benar hidup. Berbicara sampai satu tingkat, ada seorang saudara berkata, kita pergi menjenguk saudara itu lagi; tetapi ada seorang saudara berkata, saya rasa masih terlalu cepat, tunggu sebentar lagi. Melalui persekutuan yang demikian, baru kemudian pergi menjenguk, benar-benar nampak berkat Tuhan. Kesemuanya ini sepenuhnya dibawa masuk melalui persekutuan. Kalau saudara yang menjadi penatua bisa terus bersekutu, gereja pasti akan mengalami kebangunan rohani. Tidak perlu mengundang rasul atau sekerja untuk membantu, asal para penatua mulai pagi sampai malam terus bersekutu selama tiga puluh hari, gereja pasti mengalami kebangunan rohani. Sekiranya saudara saudara memaafkan saya, saya mengetahui apa yang saya katakan. Di mana tidak ada persekutuan yang demikian, di sana Roh Kudus sulit untuk bekerja.

Sebab itu, harap saudara saudari jangan terlebih dulu membicarakan urusan, tetapi harus terlebih dulu bersekutu. Membicarakan urusan itu satu hal, bersekutu itu satu hal yang lain. Saya benar-benar mengetahui, meskipun para penatua adakalanya duduk bersama merundingkan satu perkara, tetapi semua tertutup, sampai akhirnya meskipun semua mengambil satu kesimpulan, tetapi di antara satu dengan yang lain tidak ada persekutuan. Sesungguhnya, semua ketentuan harus berasal dari persekutuan.

Seluk beluk persekutuan terlalu besar. Ketika para saudara bersama-sama bersekutu, Roh Kudus dapat secara menakjubkan beredar di tengah-tengah kita, semua melihat kekurangan diri sendiri, melihat kegagalan diri sendiri, melihat kelemahan diri sendiri. Semua merasa kurang setia terhadap gereja, kurang banyak belajar di hadapan Tuhan. Kalau semua mempersekutukan keadaan diri mereka sendiri, saya ulangi lagi, ada karunia yang secara demikian didapatkan oleh mereka. Melalui bersekutu dan bersekutu, ada orang mendapatkan ministri firman, ada orang mendapatkan karunia penyembuhan. Saya benarbenar tahu, satu persekutuan demi satu persekutuan, ada orang otaknya seperti berputar arah, sejak hari itu dia adalah seorang yang akalnya terbuka, dia mempunyai hikmat; terhadap setiap perkara yang dibawa ke hadapannya, ia selalu mempunyai hikmat untuk mengambil keputusan. Hikmat ini menurut 1 Korintus 12 didapatkan dari persekutuan.

Sebab itu, saudara-saudara, cobalah melakukan demikian, agar tanggung jawab penatua di tempat kalian diperkuat, tidak saja Anda pribadi perlu bersekutu dengan Allah, perkara korporat juga perlu dibawa ke hadapan Allah untuk dipersekutukan dengan tuntas, lagi pula yang lebih penting kalian yang menjadi penatua ini harus saling bersekutu. Kalian, beberapa orang ini, benar-benar seperti beberapa gumpal tanah liat, berbaur menjadi satu, tidak bisa dipisahkan. Beberapa saudara dalam persekutuan berbaur menjadi satu gumpalan, sampai taraf demikian, ada pimpinan, ada terang, ada beban, ada wahyu, ada kuasa, kekuatan, dan juga ada hikmat, semuanya ada, ini benarbenar demikian.

III. PERSEKUTUAN DENGANORANG YANG MELAYANI

Dalam gereja selain penatua masih ada banyak orang yang melayani, yaitu orang yang menjadi diaken. Misalnya, di Taipei, ada pewajib distrik, ada yang piket, ada pewajib kelompok, masih ada pewajib penjengukan, pembersihan, tata ruang, penyambutan, surat menyurat. Para penatua perlu sering mempertahankan persekutuan dengan orang-orang yang melayani ini. Sebab itu saya pernah berkata, para penatua harus mengeluarkan semua waktu untuk aspek yang positif, jangan memakai waktu untuk aspek yang harus dikerjakan oleh diaken. Jangan sekali-kali mengira, oh, para penatua tidak melihat bagaimana mereka mengatur tempat duduk, menata ruangan, lalu para penatua melakukan apa? Tidak, perkara yang harus ditangani terlalu banyak. Harus menjenguk, bersekutu dengan orang yang melayani. Para penatua harus dibagi untuk bersekutu dengan setiap orang yang melayani. Perlu bersekutu sampai tuntas, lagi pula perlu berulang-ulang bersekutu. Kalau demikian, hasilnya pasti besar sekali, juga banyak sekali.

Sekali-kali jangan mengira, mereka sudah mengerjakan dengan baik, kaca sudah ada yang membersihkan, lantai juga ada yang membersihkan, kursi ada yang membersihkan, penyambutan sidang juga sudah ada yang bertanggung jawab, bukankah sudah lumayan? Tidak, masih kurang banyak. Sama seperti satu pot bunga, kalau Anda menurut waktunya setiap hari menyiram, memberi pupuk, dia akan tumbuh baik; kalau Anda tidak memberi pupuk, tidak menyiram, dia juga masih bisa hidup, tetapi modelnya sangat berbeda. Kalau ingin pelayanan gereja penuh dengan kegairahan hidup, di dalamnya tidak banyak kesulitan, dan bisa terus menggenapi orang, membawa orang maju, terus naik ke atas, perlu para penatua sering bersekutu dengan orang yang melayani. Ini tidak habis dibicarakan, asal Anda melakukannya, barulah nampak ini mendatangkan banyak sekali berkat.

Ada yang menjadi penatua merasa bahwa begitu dalam gereja diadakan pembagian distrik, maka semua sidang diserahkan kepada pewajib distrik, maka penatua menjadi penganggur. Memang, kalau para penatua tidak menempuh jalan penatua, masih dalam alamiah menjadi penatua, pada suatu hari, begitu gereja menjadi besar, dibagi menjadi beberapa distrik, Anda, penatua yang alamiah ini pasti akan menjadi pengangguran. Kalau Anda mau belajar tidak berdasarkan alamiah menjadi penatua, tetapi menerima pimpinan Tuhan menjadi penatua, Anda akan nampak banyak hal yang dapat dikerjakan. Memang sidang-sidang semua berada di tangan pewajib distrik, tetapi bagaimana pekerjaan pewajib distrik, masih perlu Anda bersekutu dengan mereka. Di Taipei ada tiga puluh lebih distrik, ada seratus enam puluh tujuh pewajib distrik, kalau para penatua mau bersekutu secara tuntas dengan mereka, itu satu perkara yang menuntut harga, juga satu tanggung jawab yang besar, lebih-lebih satu berkat yang sangat besar! Belasan penatua bisa bersekutu tuntas dengan seratus enam puluh tujuh pewajib distrik, dan selanjutnya bisa mempertahankan persekutuan ini menurut jadwalnya, bukankah satu perkara yang besar, juga perkara yang mulia!

Misalkan, di sini ada dua penatua yang mempunyai keistimewaan dalam hal kepengurusan, kedua penatua ini seharusnya berkoordinasi bersekutu tentang kepengurusan gereja dengan pewajib-pewajib dari tiga puluh lima distrik. Atau di antara penatua, masih ada satu atau dua orang yang mempunyai keistimewaan dalam membaca Alkitab, seharusnya bersekutu dengan pewajib-pewajib dari tiga puluh lima distrik tentang membaca Alkitab, sehingga seratus enam puluh tujuh pewajib distrik ini satu per satu mampu memimpin orang membaca Alkitab. Atau di antara penatua ada satu atau dua yang lebih banyak belajar bersekutu dan berdoa, mereka seharusnya bersekutu dengan seratus enam puluh tujuh pewajib distrik ini tentang bagaimana hidup di hadapan Tuhan. Atau di antara penatua ada satu atau dua yang bisa memberitakan Injil, mereka seharusnya khusus meniup sangkakala Injil, bersekutu tentang penginjilan dengan pewajib-pewajib dari tiga puluh lima distrik ini. Saudara-saudara, coba pikirkan, hasilnya akan betapa indahnya! Persekutuan ini akan menyalurkan kekayaan di antara penatua ke dalam sidang-sidang setiap distrik.

Para penatua tidak saja bersekutu dengan orang yang melayani, juga perlu melihat bagaimana hasil dari persekutuan itu. Misalnya, penatua yang membicarakan kepengurusan gereja, setelah mempersekutukan hal-hal itu, masih perlu melihat bagaimana pelaksanaannya. Mungkin Anda menyuplai mereka sedikit, hasilnya mereka jauh lebih maju daripada Anda, maka Anda perlu belajar kepada mereka. Terus mengevaluasi, kepengurusan atas gereja pasti maju tidak ada batasnya.

Saya sering menyalahkan diri sendiri. Di depan rumah saya ada satu kebun bunga yang jelek. Saya tidak menyirami, tidak memberi pupuk, juga tidak membersihkannya, membiarkan bertumbuh sendiri. Adakalanya orang lain berkata, kebun Anda ini baik, masih lumayan. Saya jawab, memang belum mati semua, masih ada yang hidup; tetapi lihatlah, yang seharusnya bertumbuh besar tidak bertumbuh besar, yang seharusnya berbunga tidak berbunga. Kalau saya bisa menyirami, memberi pupuk, membersihkan, dan sering memindahkan tanaman tersebut, adakalanya ditaruh di bawah air hujan, adakalanya ditaruh di bawah sinar matahari, adakalanya ditaruh di bawah air embun, bungabunga tersebut pasti bisa bertumbuh lebih baik lagi. Orang seperti saya yang malas menangani bunga, membiarkan bunga di sana, dari awal tahun sampai akhir tahun tidak pernah mempedulikannya, bunga-bunga tersebut memang tidak mati, tetapi juga tidak hidup, tidak mungkin bisa indah.

Ada gereja keadaannya juga demikian, para penatua masih merasa bahwa tidak ada perkara yang perlu dikerjakan. Siapa tahu, untuk membenahi kebun bunga supaya menjadi lebih baik sedikit saja, perlu sibuk seharian, belum juga selesai. Apa lagi gereja? Terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan dalam gereja. Sekian banyak anak-anak Allah di sini, kalau orang yang menjadi penatua mau menerima beban bersekutu dengan mereka, maka orang yang perlu dipimpin, dikontaki, dibantu untuk dibukakan akal rohaninya, dibina, dan digenapi, sangatlah banyak. Sebab itu, saya ulangi lagi, para penatua perlu bersekutu dengan Allah, perlu saling bersekutu, juga perlu bersekutu dengan orang yang melayani, dengan demikian gereja baru bisa dikelola dan diurus dengan baik.

IV. PERSEKUTUAN DENGAN KAUM SALEH

Para penatua masih perlu sebisanya berkontak dan bersekutu dengan saudara saudari; perlu bersekutu dengan yang berdiri teguh, bersekutu dengan yang jatuh, bersekutu dengan yang lemah, bersekutu dengan yang kuat, bersekutu dengan yang tidak ada karunia, bersekutu dengan yang berkarunia; yang menjadi penatua mempunyai urusan yang tidak ada habisnya. Di sini ada yang menjadi ibu rumah tangga, kita semua tahu, dalam satu keluarga, tidak peduli ada berapa anak, urusannya tidak habis dikerjakan. Setiap hari Anda tidak mempedulikan rumah, itu bisa saja; sebaliknya setiap hari Anda bekerja, juga tidak habis dikerjakan. Gereja lebih-lebih demikian. Anda membiarkannya gersang, membiarkannya tumbuh atau hidup sendiri, setiap minggu para penatua datang bersama, mengadakan satu rapat, mengambil satu keputusan, diumumkan dalam sidang doa, cara yang demikian ini juga bisa lewat. Kalau Anda menjadi penatua yang model lain, Anda setiap hari ada beban, setiap hari sibuk. Kalau penatua tidak ada pekerjaan, gereja itu pasti tidak ada berkat; semakin ada berkat, semakin sibuk, sama seperti pasar. Kalau Anda bisa membuat seorang saudara hidup, dia akan membawa masuk banyak orang! Kalau Anda tidak sibuk, gereja yang menjadi mati. Ini dingin, itu mundur, ini kering, itu mati, terakhir sisa Anda seorang diri, sedikit pun tidak sibuk. Kalau Anda ingin membawa masuk berkat Allah, Anda setiap hari tentu sibuk.

Saudara-saudara, saya tidak mendorong orang dengan sembarangan melepaskan pekerjaannya sepenuh waktu melayani Tuhan. Tetapi saya ingin memberi tahu saudara saudari, Anda dan saya yang ada di sini, kalau semua bisa menerima beban melakukan ini, meskipun semua menjadi tenaga sepenuh waktu, masih tidak cukup untuk mengatasi keperluan ini. Anda membawa satu orang menjadi hidup, dia membawa tiga atau lima orang masuk; Anda membawa orang-orang itu menjadi hidup, orang-orang itu mungkin membawa masuk dua puluh orang, lihatlah bagaimana Anda bisa menyelesaikan pekerjaan itu?

Ada orang datang kepada saya untuk membicarakan masalah sepenuh waktu. Dia berkata, “Aku mempunyai minat ini, aku mempunyai beban ini, tetapi aku merasa belum ada keperluan ini.” Saya berkata, “Saudara, kalau Anda merasa belum ada keperluan ini, jangan memaksa.” Tetapi dalam benak saya berkata: Ada keperluan atau tidak ada keperluan, itu tergantung pada diri Anda sendiri. Kalau Anda menggarapnya, pasti ada keperluan; kalau Anda tidak menggarapnya, tidak ada keperluan. Saya percaya saudara saudari mengerti maksudnya. Coba Anda garap, kalau dengan bersekutu melayani Allah, jangankan Anda seorang diri, sepuluh orang pun tidak cukup mengatasi keperluan hari ini. Anda bersekutu sampai masuk ke dalam saudara saudari, hasilnya mereka semua bangun, Anda masih bisa menjamah perasaan kaum saleh, mengetahui di mana keperluan mereka. Setiap saudara saudari telah dijamah dengan tuntas oleh penatua, demikian, ketika para penatua datang bersama bersekutu, perasaan keluar, pimpinan juga keluar, semua mengetahui harus bagaimana bekerja bagi gereja. Pimpinan dan pengaturan penatua terhadap gereja, pasti berasal dari persekutuan yang demikian. Kalau para penatua saling tidak bersekutu, tidak bersekutu dengan orang yang melayani, juga kurang bersekutu dengan saudara saudari, hanya sampai waktunya ada satu sidang penatua, itu tidak berguna.

Sebab itu, untuk mendapatkan pimpinan, para penatua perlu bersekutu dengan Allah, perlu saling bersekutu, perlu bersekutu dengan orang yang melayani, perlu juga bersekutu dengan kaum saleh, kalau beberapa aspek persekutuan ini sudah dilakukan dengan tuntas, kemudian baru berkumpul lagi mencari pimpinan Allah. Inilah prinsip imam memutuskan perkara dengan tutup dada. Para penatua harus membawa umat Allah ke hadapan Allah, barulah bisa menerima pimpinan Allah.

V. PERSEKUTUAN DENGAN GEREJA-GEREJADI BERBAGAI TEMPAT

Meskipun setiap gereja bersifat otonom, kekuasaan pengelolaan dan pemerintahan setiap gereja berada di tangan penatua setempat, tetapi kalau para penatua itu normal, juga perlu sekuatnya bersekutu dengan gereja-gereja di lain tempat. Taipei seharusnya bersekutu dengan New York, Tokyo, Manila, Singapura, London, Prancis, dan Taiwan. Kalau para penatua bisa melakukan ini, Anda akan menemukan, faedah dari persekutuan ini sangat besar sekali. Pandangan Anda akan diperluas, berat sebelah Anda akan mendapatkan pengimbangan. Mungkin Anda lebih tinggi daripada tempat yang lain, tetapi kalau bersekutu dengan tempat lain, Anda akan lebih tinggi lagi. Anda akan mendapat dorongan dari tempat lain, jerih payah ini tidak siasia. Jangan berkata, “O, kami tidak ada waktu, kami menjadi penatua di Taipei, urusan di Taipei saja sudah tidak habis dikerjakan, mana mungkin ada kesempatan bersekutu dengan luar daerah?” Ingatlah, kalau tidak ada persekutuan dengan gereja di lain tempat, kalian pasti akan rugi. Sebab itu, tidak peduli sesibuk apa pun, masih perlu bersekutu.

Adakalanya dalam keadaan biasa ada sedikit persekutuan juga sangat baik. Misalnya, menulis surat kepada gereja di tempat yang lain, menyinggung berkat yang diterima, atau kelemahan diri sendiri, mohon mereka memberi sedikit bantuan, ini juga persekutuan yang baik. Adakalanya, terjadi kesulitan yang tidak bisa diatasi oleh setempat, juga boleh menulis surat kepada saudara di lain tempat, bertanya kepada mereka tentang hal itu dan bagaimana perasaan mereka? Apakah mereka dulu pernah mengalami kesulitan yang sama? Boleh juga mempersekutukan beban doa kepada orang lain. Adakalanya melihat sedikit terang, juga boleh dipersekutukan. Kesemuanya ini adalah perkara yang sangat indah, mendatangkan bantuan yang besar terhadap gereja-gereja di setiap tempat.

Waktu yang lalu saya ke Filipina, yang paling membuat saya merasa berat adalah gereja-gereja di Asia Tenggara, karena sudah sekian lama terputus hubungan dengan gereja-gereja di China, mereka sangat menderita kerugian. Puji Tuhan, beberapa tahun ini ada sedikit pemulihan, tetapi masih ketinggalan jauh. Gosip yang tidak ada dasarnya tersebar dengan cepat sekali, persekutuan yang harus ada malah kurang sekali. Mungkin terhadap berita gereja orang memiliki konsepsi yang kurang tepat, mengira menulis berita gereja adalah memamerkan diri sendiri. Saya kira sedikitnya orang yang mempunyai pikiran semacam ini harus terlebih dulu menghakimi diri sendiri. Apakah Anda mau memamerkan diri sendiri, sepenuhnya tergantung pada motivasi Anda. Memamerkan atau tidak memamerkan, tetapi ada satu perkara yang pasti, yaitu Anda perlu persekutuan orang lain, orang lain juga perlu persekutuan Anda, ini tidak bisa dikurangi.

Saudara-saudara, rasul Paulus sangat membuka diri, khususnya dalam Surat 2 Korintus, dia sepenuhnya membuka diri, tidak menyisakan sedikit pun. Kalau dia menutup diri, gereja dari zaman ke zaman akan menderita kerugian besar! Sebab itu kita harus sekuatnya membuka diri. Kalau Anda menyalahkan diri sendiri memamerkan diri, itu boleh saja, tetapi Anda perlu melihat bahwa di lain pihak, Anda perlu bantuan dari saudara Anda, saudara Anda juga perlu bantuan Anda. Kalau saudara-saudara di gereja A sama sekali tertutup dengan dunia luar, coba pikirkan, di mana gereja di A hari ini? Kalau gereja di B sama sekali tertutup dengan dunia luar, coba pikirkan, hari ini apakah ada gereja di B? Kita harus mengakui bahwa kita menempuh hidup bersekutu dengan orang lain, kita berada di bawah naungan payung orang lain, kita hidup dalam arus besar orang lain. Kita tidak bisa sombong, tidak bisa bodoh.

Gereja adalah Tubuh Kristus, Anda dan saya harus belajar tidak kehilangan setiap berkat dalam Tubuh ini. Kita harus senang hidup di dalamnya, juga harus senang mendapatkan bantuan dari dalamnya. Saudara-saudara yang menjadi penatua, tidak peduli di mana saja, harus selalu mempunyai pandangan Tubuh ini, belajar banyak bersekutu dengan gereja-gereja di tempat lain. Anda bisa menyuplai orang, juga bisa mendapatkan suplai dari orang lain. Meskipun orang lain lebih rendah, lebih lemah, lebih miskin daripada Anda, ketika Anda bersekutu dengannya, Anda masih akan mendapatkan bantuan dari kelemahan orang lain, Anda akan mendapatkan suplai dari kemiskinan orang lain.

Di sini anak-anak Allah harus nampak, persekutuan adalah satu keperluan yang sangat besar. Saya mengatakan satu perkataan yang berat, hari ini banyak gereja tidak bisa maju justru karena kurang bersekutu dengan luar. Kalau bisa sekuatnya bersekutu dengan gereja-gereja di setiap tempat, ini adalah perkara yang sangat berharga. Ini bukan saja supaya gereja-gereja di setiap tempat mendapatkan suplai, juga supaya diri sendiri dan gereja di tempatnya mendapatkan suplai. Tentunya, ini perlu hati kita yang lapang, pandangan kita yang jauh. Kita akan nampak Barat dan Timurnya alam semesta, mempedulikan keperluan di setiap tempat.

Tentunya, persekutuan antar gereja ada banyak seluk beluknya. Sepucuk surat persekutuan tidak bisa ditulis dengan sembarangan, harus mempunyai banyak batasan, ada yang boleh dipersekutukan ke tempat ini, ada yang tidak boleh dipersekutukan, ada yang boleh dipersekutukan sekarang, tetapi lewat sejangka waktu tidak boleh dipersekutukan lagi. Ada batasan waktu, juga ada batasan tempat, ada yang sama sekali tidak boleh dipersekutukan kepada orang lain. Pelajaran-pelajaran ini harus kita pelajari.

VI. PERSEKUTUAN DENGAN PEKERJA

Para penatua juga perlu sekuatnya bersekutu dengan para sekerja yang dipakai Tuhan. Meskipun gereja secara lokal di hadapan Tuhan berdiri sendiri, tetapi perlu sering memelihara persekutuan dengan para sekerja. Ini juga satu hal yang sangat diberkati.

Untuk bersekutu dengan Allah ada setumpuk pelajaran yang harus dipelajari; saling bersekutu juga ada setumpuk pelajaran yang harus dipelajari. Setiap perkara harus dipelajari. Bagaimana supaya gereja di sini bisa mendapatkan faedah dari sekerja yang akan diajak bersekutu? Bersamaan dengan itu bagaimana supaya sekerja-sekerja ini juga mendapatkan kebaikan dari kita? Semuanya ini adalah pelajaran yang harus kita pelajari. Persekutuan para penatua dan sekerja adalah satu pelajaran yang besar.

Ketahuilah, daripada tidak sekolah, lebih baik sekolah dasar, daripada sekolah dasar, lebih baik sekolah menengah pertama, daripada sekolah menengah pertama, lebih baik sekolah menengah atas, daripada sekolah menengah atas, lebih baik perguruan tinggi, daripada perguruan tinggi, lebih baik pasca sarjana. Meskipun sekolah bisa hidup, tidak sekolah juga bisa hidup, tetapi cara hidupnya lain. Begitu juga, yang belajar pelajaran bisa menjadi penatua, yang tidak belajar pelajaran juga bisa menjadi penatua, tetapi masalahnya menjadi penatua macam apa, membina gereja yang macam apa? Yang belajar pelajaran membina satu macam gereja, yang tidak belajar pelajaran membina satu macam gereja yang lain. Kalau kita ingin dalam gereja benar-benar ada kepengurusan yang sejati, ada pembangunan yang sejati, banyak pelajaran yang harus dipelajari. Seorang tukang kayu bukan sejak lahir sudah bisa memotong kayu, menggergaji kayu, bisa memilah kayu, perlu melewati banyak pelatihan baru bisa. Yang alamiah satu macam, yang melalui pelatihan satu macam lain lagi. Demikian juga, menjadi penatua juga perlu pelatihan, perlu belajar.