PEMERINTAHAN PENATUA (1)
Dalam bab ini kita akan melihat satu judul lain yang besar, yang merupakan pelajaran yang paling inti dari kepengurusan penatua atas gereja, yaitu pemerintahan penatua.
Pemerintahan penatua adalah kepengurusan penatua, pengaturan penatua, pembangunan penatua, kepemimpinan penatua. Kepengurusan, pemerintahan, pembangunan, kepemimpinan, dan pengaturan penatua terhadap gereja, beberapa cara pembicaraan ini semua mengacu kepada satu hal; hanya dalam pelajaran ini, kita lebih cenderung memakai istilah pemerintahan.
Seluk beluk dalam pemerintahan penatua sangatlah besar. Kalau kita mengatakan pembangunan, pemahaman kita hanya sampai pembangunan saja, tidak akan memikirkan tentang pengaturan. Kalau mengatakan tentang pengaturan, tidak akan memikirkan bahwa di dalamnya ada pembangunan. Tetapi kalau mengatakan tentang pemerintahan, akan mencakup seluruhnya. Dalam pemerintahan ada pengaturan, ada pembangunan, mencakup segalanya. Memimpin, membangun, mengatur, maknanya seperti hanya satu aspek, tetapi dalam istilah pemerintahan, begitu mendengar segera memahami bahwa hal ini mempunyai banyak aspek. Itulah sebabnya kita lebih cenderung memakai istilah pemerintahan. Kepengurusan penatua terhadap gereja sesungguhnya mempunyai banyak aspek, dengan perkataan dunia, di dalamnya mempunyai banyak bagian (departemen).
Pemerintahan penatua memiliki satu sasaran dan tiga aspek pelayanan, juga mencakup berbagai macam seluk beluk dalam koordinasi. Sekarang kita akan melihat satu per satu.
I. SATU SASARAN DAN TIGA ASPEK PELAYANAN
1. Satu Sasaran
Gereja di bumi, tidak peduli ada di mana, selalu hanya mempunyai satu sasaran, yaitu bersaksi bagi Kristus, yaitu membiarkan Kristus terekspresi di tengah-tengah kaum saleh. Kristus bisa diperhidupkan dan diekspresikan dari orang-orang milik-Nya, inilah kesaksian gereja, inilah sasaran keberadaan gereja di bumi. Sasaran Allah menghendaki adanya gereja di alam semesta ini ialah agar gereja mengekspresikan Kristus. Allah di satu tempat demi satu tempat mendirikan gereja, menghendaki kaum saleh di tempat-tempat itu mengekspresikan Kristus. Inilah sasaran gereja, juga sasaran kepengurusan penatua atas gereja.
Para penatua harus nampak, kita bersidang di sini bukan mewakili kebenaran tertentu, juga tidak mewakili gerakan apa pun dalam kekristenan. Dalam organisasi kekristenan, ada yang mewakili kebenaran baptisan, lalu menyatakan diri sebagai gereja baptis. Ada yang mewakili satu gerakan Pentakosta, mereka menyebut diri sebagai gerakan Pentakosta. Tetapi saudara-saudara, kita di sini sama sekali tidak bermaksud demikian. Kita adalah bersandarkan belas kasihan Tuhan, memulihkan kesaksian gereja di bumi. Kita hanya ingin Allah di atas diri kita mempunyai lebih banyak belas kasihan, bisa memulihkan kesaksian gereja, supaya Anak Allah, Kristus kita yang mulia, bisa terekspresikan. Setiap gereja lokal seharusnya mempertahankan satu kesaksian, seharusnya memperhatikan satu sasaran, yaitu supaya Kristus bisa diperhidupkan dan diekspresikan di tengah-tengah saudara saudari.
2. Tiga Aspek Pelayanan
Dari pengalaman kita dan pengenalan kita terhadap kebenaran Alkitab, dalam pelaksanaannya kita dengan jelas menjamah bahwa realitas pelayanan gereja dapat dibagi menjadi tiga aspek:
Pertama, gairah memberitakan Injil. Kalau gereja menghendaki di bumi mengekspresikan Anak Allah, tidak boleh mengabaikan perihal pemberitaan Injil. Gereja harus memberitakan Injil kepada orang dosa yang berada dalam kegelapan. Kalau kita menghendaki kesaksian gereja makin kuat, makin terbangun, harus terus-menerus membawa masuk jiwa baru melalui Injil. Dalam hal pemberitaan Injil, gereja harus ada kegairahan, ada kekuatan, juga ada hasilnya.
Kedua, membina kaum saleh. Orang telah beroleh selamat, datang ke dalam gereja, harus segera membina mereka. Tentunya pembinaan ini meliputi banyak aspek, misalnya memimpin mereka mengasihi Tuhan, menanggulangi ego, di hadapan Tuhan ada persembahan diri, belajar membaca Alkitab, berdoa, mendekati Tuhan, ada penuntutan dalam hayat, dan lain-lain. Inilah empat tingkatan hayat yang dulu pernah kita latih.
Ketiga melayani. Kita tidak saja membawa orang-orang yang beroleh selamat mendapatkan pembinaan, perlu juga membawa orang-orang yang beroleh selamat dan mendapatkan pembinaan ini datang ke dalam gereja, memiliki pelayanan yang riil.
Ketiga hal ini digabungkan sama dengan membangun gereja. Memberitakan Injil, membina kaum saleh, dan memimpin kaum saleh yang beroleh selamat dan menerima pembinaan bersama-sama melayani, dengan demikian akan membangun gereja yang ada di tempat itu. Melalui pembangunan dari tiga aspek pelayanan ini, sasaran Allah yang mulia bisa tercapai, Kristus juga bisa terekspresi. Inilah kesaksian gereja, inilah sasaran Allah terhadap gereja.
Semua pemerintahan, semua kepengurusan para penatua terhadap gereja berada dalam satu sasaran dan tiga aspek pelayanan ini. Kesemuanya ini adalah ruang lingkup pemerintahan para penatua. Tidak peduli para penatua melakukan apa, melakukan berapa banyak, ujung akhirnya kalau bukan untuk Injil, tentu untuk pembinaan, kemudian untuk pelayanan. Ketiga hal ini digabungkan sama dengan pembangunan, demikianlah sasaran Allah di tempat itu bisa tercapai.
II. KOORDINASI DALAM PELAYANAN
Semua kepengurusan, pemerintahan para penatua tidak lain adalah Injil, pembinaan, dan pelayanan. Setelah Injil adalah pembinaan, setelah pembinaan adalah pelayanan, dan pelayanan adalah koordinasi. Dalam pelayanan seluk beluk yang paling rohani adalah koordinasi. Kepengurusan atau pemerintahan para penatua harus mencapai koordinasi, kalau tidak bisa mencapai tingkatan koordinasi, pemerintahan penatua pasti sangat kurang. Kita harus nampak, kalau menghendaki Tuhan pada zaman ini mencapai sasaran-Nya di atas gereja, kaum saleh harus terbangun, untuk pembangunan ini perlu ada koordinasi. Injil membawa masuk orang dosa beroleh selamat, begitu orang beroleh selamat perlu pembinaan, setelah ada pembinaan perlu ada pelayanan, bukan berarti pelayanan perorangan, melainkan pelayanan yang berkoordinasi. Inilah koordinasi pelayanan, juga pembangunan gereja.
III. SELUK BELUK KOORDINASI
Ada orang menganggap koordinasi yang kita bicarakan ini sama dengan organisasi kelompok masyarakat pada umumnya, sesungguhnya ini sama sekali berbeda. Pengertian “koordinasi” dapat kita temukan dalam Perjanjian Baru. Satu Korintus 12:24 mengatakan, “Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa.” Istilah “menyusun” di sini menyiratkan suatu koordinasi. Anggota-anggota Tubuh adalah tubuh, Allah yang mengkoordinasikan Tubuh. Kalau Anda berkata bahwa Tubuh ini adalah satu organisasi, ini bukan tidak boleh, karena Tubuh juga terorganisir dari setiap bagiannya; tetapi Allah berkata bahwa Tubuh ini merupakan satu koordinasi. Roma 12:5 mengatakan, “Demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.” Masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain, sehingga menjadi satu Tubuh, ini adalah berkoordinasi. Sekarang kita akan melihat seluk beluk koordinasi.
1. Ada Hayat
Para penatua harus dengan sungguh-sungguh menjamah semua orang yang ingin masuk ke dalam koordinasi ini, apakah pada diri mereka ada hayat. Ini sama seperti yang sering kita katakan, apakah mereka beroleh selamat. Tetapi di sini kita tidak membicarakan seluk beluk beroleh selamat, melainkan membicarakan seluk beluk hayat. Karena hari ini kekristenan telah merusak istilah “beroleh selamat” ini, sepertinya isitilah ini khusus mengacu kepada dosa diampuni, tidak binasa, setelah mati boleh naik ke surga. Tetapi penatua mengurus gereja adalah menuju ke sasaran koordinasi, tidak bisa hanya memperhatikan keselamatan yang tidak tepat, melainkan harus memperhatikan apakah di dalam orang itu ada hayat. Kalau hanya untuk beroleh selamat, tidak perlu ada pemerintahan, juga tidak perlu ada koordinasi. Karena pada akhirnya semua akan naik ke surga, untuk apa mengurus gereja? Untuk apa berkoordinasi? Sebab itu, untuk mengurus gereja harus dengan hayat sebagai dasar. Ada hayat adalah seluk beluk yang pertama.
2. Yang Hidup
Ada hayat adalah satu hal, hidup adalah hal yang lain. Pengalaman memberi tahu kita, banyak orang memiliki hayat, tetapi kelihatannya tidak hidup. Anda tidak bisa mengatakan dia tidak beroleh selamat, tetapi dia mati, sedikitnya sedang tidur, belum bangun.
Ada hayat sama dengan beroleh selamat yang dibicarakan dalam kekristenan, yang hidup sama dengan mengalami kebangunan rohani yang dibicarakan dalam kekristenan. Ada orang telah beroleh selamat, tetapi tidak ada kebangunan rohani. Dia benar-benar mengetahui dirinya berdosa, benar-benar percaya Tuhan Yesus adalah Juruselamat yang baginya mati di atas salib, dia benar-benar percaya darah Tuhan Yesus, juga mengetahui Tuhan mengampuninya. Perkara-perkara kasar yang tidak bermoral sudah tidak ia lakukan lagi, sebaliknya sekarang sering datang kebaktian. Tetapi dia tidak mau membaca Alkitab, tidak berdoa; tidak melakukan dosa besar, tetapi tidak mau meninggalkan dosa kecil; sama sekali tidak mengerti apa yang disebut dunia, lebih-lebih tidak tahu apa yang disebut meninggalkan dunia; dia masih hidup dalam hubungan emosi antar manusia. Memang dia telah beroleh selamat, tetapi sama sekali tidak mengalami kebangunan rohani.
Di lain pihak, kita nampak ada orang tidak hanya beroleh selamat, tetapi juga bangun. Mereka mengasihi Tuhan, mau berdoa, mau membaca Alkitab, bukan hanya tidak melakukan dosa yang kasar, tetapi juga membereskan dosa yang sekecil apa pun, misalnya mengatakan sepatah kata yang salah, mereka segera membereskan di hadapan Tuhan. Mereka telah membuang dunia, mau hidup bagi Tuhan. Inilah yang kita sebut hidup. Dia itu hidup. Begitu Anda bersentuhan dengannya, Anda dapat berkata bahwa dia adalah orang yang telah bangun. Orang yang mengalami kebangunan rohani adalah orang yang telah bangun. Dia sering mengucurkan air mata bagi jiwa orang lain, lewat dua bulan berselang dia membawa seorang beroleh selamat, lewat dua atau tiga bulan lagi, dia membawa dua orang beroleh selamat, dia adalah orang yang hidup.
Para penatua, maafkan saya berkata, kesemuanya ini baru dapat dihasilkan melalui jerih lelah kalian. Para penatua tidak bisa berkata, “Tidak ada pekerjaan yang dapat dilakukan.” Di sini ada sekian banyak saudara, berapa banyak yang hidup? Saudara saudari yang tidak hidup adalah sasaran pekerjaan Anda. Pergilah, garaplah mereka sampai mereka menjadi hidup. Inilah pemerintahan penatua. Setiap orang yang tidak hidup, perlu Anda garap, Anda harus bekerja di atas diri mereka.
Adakalanya para penatua menetapkan bahwa tempat sidang kurang besar, perlu membeli tanah untuk membangun tempat sidang! Semua berkata, “Ini sangat sulit.” Tetapi saya ingin memberi tahu saudara saudari, ini perkara yang kecil. Untuk menggarap saudara saudari yang ada hayat tetapi tidak hidup, menjadi hidup, ini barulah sangat sulit, entah berapa banyak jerih lelah, berapa banyak pengelolaan yang harus Anda kerjakan baru ada hasilnya.
Di sini Anda perlu dengan baik-baik mengeluarkan dan membaca data keadaan saudara saudari. Tidak saja Anda sendiri yang membaca, perlu juga mengundang saudarasaudara pewajib distrik bersama-sama membaca. Adakalanya perlu bersekutu dengan saudara saudari, menjamah keadaan batin mereka yang sesungguhnya. Setelah mengetahui keadaan kaum saleh, kemudian boleh membagi mereka menjadi beberapa golongan: golongan yang hidup, yang setengah mati setengah hidup, dan yang mati. Beberapa waktu ini saya memimpin pelatihan ini, adakalanya mempersiapkan bahan pelajaran sampai tengah malam, keesokan harinya perlu pagi-pagi bangun tidur, ada orang berkata bahwa saya terlalu lelah. Tetapi saya ingin memberi tahu saudara saudari, kalau saya menjadi penatua di Taipei, saya percaya setelah satu tahun, berat badan saya akan turun 15 kilo, itu akan lebih letih daripada memimpin pelatihan.
Dulu ketika kita mengurus gereja di Utara, pernah membagi-bagi golongan. Kita membagi saudara saudari menjadi dua belas tingkatan, tingkat yang paling rendah adalah tingkat yang mati, tingkat yang paling tinggi, adalah tingkat yang hidup, di tengahnya masih ada yang setengah mati setengah hidup, masih ada yang sudah mati terlalu lama yang hampir hidup. Kita mencari orang-orang yang golongan ini, bersekutu satu per satu dengan mereka, mengundang mereka perjamuan kasih, membantu mereka menyelesaikan berbagai macam kesulitan. Adakalanya kita sendiri tidak mampu membantu mereka, lalu mengundang seorang saudara yang banyak belajar membantu dia. Demikian lewat sejangka waktu membawa orang-orang ini menjadi hidup. Asalnya mereka di tingkat kesebelas, sekarang naik sampai ke tingkat kedua belas. Kemudian kita mencari lagi mereka yang keadaannya lebih jelek sedikit, yang dibagi dalam tingkat kesepuluh. Lewat sejangka waktu, orang-orang ini hampir-hampir menjadi tingkat kedua belas. Sampai saat ini di dalam gereja orang yang hidup cukup banyak, gereja hampir menjadi kurban unjukan, kalau bersidang sangat hidup. Begitu menggarap yang di tingkat kesebelas dan kesepuluh menjadi hidup, gereja akan bergerak. Misalnya, dalam satu keluarga yang menjadi ayah berada di tingkat kesebelas, yang menjadi ibu berada di tingkat kesepuluh, yang menjadi anak perempuan berada di tingkat kesembilan. Ketika Anda menggarap ayah dari tingkat kesebelas menjadi hidup, juga menggarap ibu yang di tingkat kesepuluh menjadi hidup, anak perempuannya pun akan menjadi lumayan. Dia akan berkata, “Ayah dan ibu sudah mengasihi Tuhan, aku juga mau mengasihi Tuhan!” Dalam keluarga mereka ada seorang anak lelaki yang di tingkat kedelapan, juga akan terbawa menjadi hidup. Kalau kita terus menggarap demikian, sampai menjamah yang berada di tingkat keenam, gereja tidak saja menjadi persembahan unjukan, juga menjadi persembahan khusus, sungguh-sungguh adalah satu kebangunan rohani. Sebagian besar saudara saudari sudah hidup, sisa sedikit yang tidak hidup, mereka akan ikut hidup, itu mudah sekali. Saya ingin bersekutu dengan saudara saudari, inilah kebangunan rohani besar di Cheefoo. Satu per satu saudara saudari menjadi hidup, gereja mau tidak mau akan ada kebangunan rohani.
Para penatua harus membagi-bagi keadaan saudara saudari, lalu menggarap yang mati menjadi hidup. Coba pikirkan, bukankah mereka akan sibuk sekali! Dalam kebangunan rohani di Cheefoo kali itu, saya berbuat demikian selama tiga tahun. Setiap pagi pukul setengah sebelas saya pergi ke tempat sidang, dan baru pulang pada pukul setengah dua belas malam, sepanjang hari melakukan pekerjaan ini, melihat orang ini perlu pimpinan apa, orang itu perlu pimpinan apa, saya sendiri yang menangani atau diserahkan kepada orang lain. Hari ini saudara-saudara yang hadir di sini ada yang bisa bersaksi mengenai taraf penggarapan, penjengukan, dan persekutuan saat itu! Mengapa bisa mencapai taraf yang demikian? Karena ada orang yang terus menggarap, dengan perkataan dunia, ada orang yang terus mendorong sampai semua bergerak! Bekerja demikian sampai tiga tahun, sampai akhir tahun 1942, di antara seratus orang, sedikitnya ada delapan atau sembilan puluh orang yang menjadi hidup, maka tidak lama kemudian, terjadilah kebangunan rohani gereja.
Hari ini saya tahu dengan jelas sidang-sidang di banyak tempat, meskipun semua telah memiliki hayat, tetapi apakah mereka hidup, ini merupakan satu masalah yang besar. Jangankan yang lama tidak bersidang tidak hidup, yang sering bersidang pun tidak hidup. Kalau ingin menggarap saudara saudari ini menjadi hidup, coba pikirkan, berapa banyak pekerjaan yang perlu digarap!
Ada orang berkata bahwa ini terlalu banyak pekerjaan manusia. Kalau kalian berkata demikian, saya hanya dapat mengucurkan air mata memohon di hadapan kalian, kalian terlalu rohani. Cobalah, kalau tidak ada orang yang di depan Allah dengan sungguh-sungguh mengucurkan air mata, menangis memohon, kalau tidak ada yang tidak mempedulikan badai atau hujan untuk tetap pergi mencari orang yang berdosa, memberitakan Injil kepada mereka, kalau semua hanya demikian rohani tetapi tidak keluar mencari orang, apakah orang bisa beroleh selamat? Saya beri tahu Anda, kalau Anda menangis tiga hari tiga malam, kemudian mengeluarkan waktu tiga hari membawa seorang beroleh selamat, sekalipun itu adalah pekerjaan manusia, masih layak dilakukan. Allah bekerja, pasti perlu manusia untuk kerja sama. Kita belum pernah melihat ada tempat di mana Allah bekerja, tetapi orang yang berada di tangan-Nya malas-malasan. Sebaliknya saya pernah melihat, di mana-mana orang yang dipakai Allah, satu per satu adalah orang yang rajin. Pekerjaan Allah perlu kerja sama manusia.
Di Taipei, sedikitnya ada tiga ribu saudara saudari yang jarang bersidang. Mereka yang bersidang pun mungkin tidak ada setengah yang hidup. Inilah satu perkara utama dalam pemerintahan penatua. Kalian tidak bisa melihat sekian banyak saudara saudari yang tidak hidup, masih bisa dengan tenang menjadi penatua. Di dalam kalian harus ada satu beban, harus memohon dengan sungguh-sungguh di hadapan Allah, harus mencari jalan keluarnya. Ketahuilah saudara-saudara, kalau kalian benar-benar demikian menjadi penatua, tidak lama lagi, yang gemuk akan menjadi kurus. Ini bukan bergurau, mengurus gereja itu tidak mudah. Ini bersangkut-paut dengan mati, hidupnya atau celaka, bahagianya banyak orang.
3. Membawa Masuk Pelayanan
Penatua juga perlu berjerih lelah dalam hal ini, tidak bisa sembarangan. Ketahuilah, setiap orang yang hidup, bagaimana keadaan hatinya terhadap Tuhan, bagaimana tingkat pendidikannya, bagaimana latar belakang keluarganya, bagaimana pengaturan keuangannya, bagaimana keadaan keluarganya, bagaimana hubungannya dengan sekelilingnya, bahkan keadaan fisik, kesehatan, jalan pikirannya, semua harus dalam pertimbangan. Untuk membawa orang ke dalam pelayanan, Anda harus seperti seorang mandor, tidak hanya memanggil pekerja datang, juga perlu ada cetak biru, perlu ada lapangan kerja, perlu ada pengaturan. Orang macam apa diutus ke mana, harus bagaimana mengatur pekerjaannya, kesemuanya ini harus dipertimbangkan. Lihatlah, kalau melakukan demikian, harus mengeluarkan banyak tenaga, banyak waktu, banyak perhatian! Inilah pemerintahan gereja.
Dari sudut kerohanian, Anda perlu banyak menengadah di hadapan Allah untuk mengetahui maksud hati Allah, harus bagaimana menangani pekerjaan, harus mengerjakan yang mana dulu, harus bagaimana mengaturnya, siapa yang harus dibawa masuk lebih dulu. Anda tidak saja seorang diri menengadah, perlu juga bersekutu dengan orang yang bersama melayani. Sering kali Anda sendiri tidak bisa melihat dengan jelas. Misalnya, Anda ingin membawa seorang saudara masuk dalam pelayanan, tidak hanya perlu bersekutu dengan para penatua, juga perlu bertanya kepada orang-orang yang sering berhubungan dengan saudara tersebut. Perlu bertanya siapa yang membawa dia beroleh selamat, siapa yang sering berkontak dengannya, bertanyalah kepada mereka bagaimana perasaan mereka terhadap saudara tersebut. Harus melakukan demikian tuntas baru bisa mantap.
Saya ingin saudara saudari tahu, jerih payah semacam ini sedikit pun tidak sia-sia. Ketika Anda melakukan demikian, meskipun hanya membawa satu orang masuk ke dalam pelayanan, tetapi dengan tidak sengaja akan memberi pengaruh yang tidak dapat diutarakan terhadap orang-orang yang membawanya beroleh selamat, dan orang-orang yang sering berkontak dengannya. Karena Anda bekerja demikian, gereja menjadi hidup. Bukan karena Anda mengajar, menganjuri, atau mendorong mereka agar bisa hidup, itu tidak berguna, melainkan karena Anda bekerja sedemikian rupa, sehingga satu per satu menjadi hidup, demikian dalam gereja penuh dengan roh pelayanan.
Dari tahun 1940 sampai 1945 saya berada di Cheefoo mengurus gereja, saku saya penuh dengan setumpuk kertas, terdiri dari berbagai macam formulir. Satu formulir menulis rencana seluruh gereja, mempersiapkan beberapa hari ini akan melakukan apa; ada formulir untuk mencatat hal-hal yang akan dilakukan dalam rencana ini; ada formulir untuk mencatat barang-barang yang diperlukan; ada formulir untuk mencatat akan dikerjakan di mana; ada formulir untuk mencatat siapa yang mengerjakan; masih ada formulir yang hanya mencatat nama-nama orang saja. Begitu ada kesempatan saya mencocokkan nama-nama tersebut dengan keperluan sumber daya manusia untuk pekerjaan-pekerjaan itu. Mungkin esok pagi ketika bangun tidur, tiba-tiba terpikirkan bahwa orang itu tidak cocok, segera mengoreksi. Begitu dikoreksi, menjadi kurang satu orang, lalu mencari di dalam daftar nama orang. Kalau dalam daftar nama itu tidak ada yang cocok, perlu mencari di tengah-tengah saudara saudari.
Saudara-saudara, pengaturan pekerjaan harus demikian baru bisa serius. Kalian tidak bisa dengan ringan berkata, “Bawa saja orang masuk ke dalam pelayanan!” Atau mengumumkan kepada semua orang: Saudara saudari, marilah datang melayani! Kalau demikian, orang-orang yang dipimpin tidak akan menaruh hormat, mereka akan merasakan kalian yang menjadi pewajib ini hanya sedemikian saja. Kalian harus seperti Raja Salomo, mengundang Ratu Syeba datang melihat, begitu dia melihat pengaturan itu, hatinya segera timbul rasa hormat. Kalau tidak, bagaimana orang lain bisa menerima pimpinan Anda? Ini membuka satu saluran, membubuhkan satu jalan supaya orang bisa masuk ke dalam kelimpahan Allah.
4. Menggenapkan Fungsi
Para penatua tidak bisa hanya membawa orang masuk ke dalam pelayanan, lalu habis perkara; masih perlu memperhatikan fungsi apa yang ada di atas diri orang tersebut. Misalnya, Anda membawa orang datang ke dalam tempat sidang untuk membersihkan kaca jendela. Anda tidak seharusnya hanya memperhatikan masalah dia membersihkan atau tidak, Anda masih perlu memperhatikan fungsi di atas dirinya. Kalau Anda hanya menyuruh dia membersihkan kaca, itu sangat membuat dia terbatas, bahkan menelantarkan fungsinya. Ada orang yang dibawa masuk ke dalam pelayanan dengan cara demikian, tidak lama kemudian dia keluar; dia tidak merasa tertarik, karena fungsinya tidak bisa disalurkan. Ini karena pimpinan terhadapnya kurang tepat. Anda tidak bisa hanya membawa dia masuk, ketika Anda membawa dia masuk, masih perlu ada pengamatan, sebenarnya dia termasuk fungsi macam apa, harus dibawa ke dalam macam pelayanan itu untuk menggenapkan dia. Inilah yang dikatakan dalam Efesus 4 tentang menggenapkan atau memperlengkapi kaum beriman. Penggenapan di sana dititikberatkan pada penggenapan fungsi. Harus mengeluarkan waktu untuk menggenapkan mereka.
5. Mematangkan Karunia
Ketika saudara saudari dalam pelayanan menunaikan fungsinya, akan terwujud karunianya, saat ini para penatua perlu mematangkan karunia mereka. Pematangan ini mempunyai banyak seluk-beluk.
Mungkin Anda harus membantu orang ini memperbarui persembahan dirinya di hadapan Tuhan. Dia adalah orang yang telah hidup, telah dibawa masuk ke dalam pelayanan, tentunya adalah orang yang telah mempersembahkan diri. Namun karena Anda telah belajar, Anda tahu bahwa persembahan dirinya masih ada masalah. Taraf, sifat, kedudukan, dan hak utama dalam persembahan dirinya masih ada masalah. Mungkin pelajaran-pelajaran ini perlu diulangi lagi. Kita semua bisa merasakan, saudara ini telah memiliki hayat, telah hidup, juga dibawa masuk ke dalam pelayanan, fungsi dan karunianya juga sedikit ternyata, tetapi persembahan dirinya masih ada yang ditahan. Dia hanya mempersembahkan diri sampai satu taraf, tidak maju lagi. Di sini para penatua perlu membantu dia sekali lagi melewati pos persembahan diri.
Mungkin ada orang yang karunianya tidak bisa matang karena ada masalah dalam karakter. Karakter orang ini agak malas, asal membawa dia agak rajin sedikit, karunianya akan terbentuk.
Ada orang masih memendam dosa yang tersembunyi, belum secara tuntas menyingkirkannya. Anda tidak bisa berkata bahwa dia tidak mengasihi Tuhan, Anda juga tidak bisa berkata bahwa dia belum mempersembahkan diri. Dia juga dibawa masuk ke dalam pelayanan, fungsinya sedikit ternyata, karunianya juga sedikit lumayan, tetapi selalu terasa ada suatu kekurangan, sepertinya karunianya tidak bisa terbentuk, tidak bisa matang. Anda mengamati dengan teliti ternyata dia masih memiliki satu dosa yang tersembunyi. Di sini Anda perlu membantu dia, yaitu mematangkan karunianya. Kalau Anda bisa membantu dia membereskan masalah dosa itu, segera akan nampak karunianya terbentuk. Mungkin minggu selanjutnya, dalam hal memberitakan Injil dia lebih kuat daripada orang lain.
Saudara-saudara, lihatlah, meskipun gereja-gereja lokal mempunyai banyak saudara saudari, tetapi yang karunianya ternyata sedikit sekali! Mengapa bisa demikian tidak normal? Karena orang yang mengurus gereja bekerja kurang dalam, bekerja kurang sungguh-sungguh. Kalau meminta orang yang pernah belajar pelajaran rohani melihat gereja itu, gereja itu sama dengan tidak melakukan apa-apa, hanya ada kekersangan, hanya sejumlah orang yang bertumpukan di sana, semua datang hanya untuk bersidang saja. Paling-paling hanya mengatur waktu bersidang, mengumumkan sifat sidang, kepengurusan yang lebih dalam lagi tidak kelihatan, sebab itu tidak ada karunia yang ternyata. Kalau para penatua bisa seperti yang dibicarakan di sini, menjamah apakah saudara saudari ada hayat, apakah hidup, apakah dibawa masuk ke dalam pelayanan, menggenapkan fungsi mereka, mematangkan karunia mereka, pastilah dalam gereja akan muncul banyak orang yang mempunyai karunia.
6. Menyuplaikan Kristus
Ada saudara saudari yang memberi kesan baik kepada Anda, dia memiliki hayat, hidup, benar-benar dibawa ke dalam koordinasi, fungsinya telah digenapi, karunianya juga sudah matang, tetapi terhadap perkara Kristus menjadi hayat, Kristus menjadi kelimpahan di dalam, mereka belum pernah melewati pos ini. Sebab itu para penatua masih perlu mengeluarkan waktu untuk bersekutu, berdoa, berbincang-bincang, dan membaca Alkitab dengan mereka, mengharapkan Roh Kudus membuka akal rohani mereka, supaya mereka nampak bahwa karunia hanya ibarat sebuah gelas saja, Kristus barulah isinya. Persoalannya sekarang, setiap kali menerapkan karunia, gelas ini terisi apa? Harus memperlihatkan kepada mereka bahwa isi karunia seharusnya adalah Kristus. Mungkin mereka dalam hal ini perlu sekali lagi mempersembahkan diri, dulu mempersembahkan yang lain, kali ini mempersembahkan karunia. Perlu berkata kepada Tuhan, “Aku tahu, aku sudah memiliki semuanya ini, tetapi di dalamnya masih kosong, tidak memiliki kekayaan Kristus. Tuhan, di sini aku mempersembahkan diri lagi.” Bawalah mereka melewati pos ini, supaya mereka mengenal apa yang disebut Kristus menjadi hayat, untuk menikmati kekayaan Kristus.
7. Membantu Persekutuan
Sampai di sini, para penatua masih perlu memimpin saudara yang demikian ini belajar bersekutu dengan Tuhan. Inilah yang kita sering katakan, makan minum menikmati Allah, setiap hari menjamah Kristus, bersekutu dengan Kristus, menyesap Kristus, menikmati Kristus.
Sampai saat itu, ada sebagian besar saudara saudari telah Anda bawa sampai tahap ini, bisa mengekspresikan fungsinya, mematangkan karunianya, bisa menyuplaikan Kristus yang ada pada dirinya, juga terus hidup dalam persekutuan, makan minum menikmati Tuhan, inilah satu perkara yang betapa mulia dalam gereja.
8. Penggenapan atas Kebenaran
Saudara-saudara, meskipun ini berguna, tetapi Anda masih bisa merasakan bahwa pengenalan mereka terhadap kebenaran masih kurang; Anda masih perlu di berbagai aspek kebenaran menggenapkan mereka. Saya selamanya tidak bisa melupakan bantuan yang saya terima dari seorang saudara di depan. Ketika saya baru berkontak dengan saudara ini, setengah tahun berselang, dia dari tempat yang jauh mengirimi saya sebuah Alkitab, yaitu Alkitab terjemahan baru yang diterjemahkan oleh J.N. Darby. Alkitab terjemahan baru ini sangat membantu saya. Saya mengakui, dulu saya tidak pernah tahu bahwa di alam semesta ini ada Alkitab terjemahan semacam itu. Kemudian setelah saya meninggalkan pekerjaan dan sepenuh waktu melayani Tuhan, pada tahun 1933 saya pergi ke Shanghai. Saya juga tidak bisa melupakan, pada suatu hari, saudara ini datang membawa dua set buku, begitu bertemu muka ia langsung berkata, “Saudara, buku-buku ini untukmu.” Selesai berbicara, ia langsung turun tangga dan pergi. Saya melihat dua set buku, yang satu adalah New Testament for English Readers oleh Dean Alford, itu adalah buku yang berbobot mengenai makna bahasa asli Perjanjian Baru di seluruh dunia; yang lain adalah Synopsis of the Books of the Bible oleh J.N. Darby. Saat itu saya mendapatkan dua set buku yang sangat berharga. Saya boleh memberi tahu kalian, selama tiga hari lebih saya tidak makan dengan enak, bukan karena sedih lalu tidak makan dengan enak, tetapi karena terlalu gembira sehingga tidak enak makan. Setiap kata dalam kedua buku itu benar-benar adalah emas, di tahun-tahun itu saya mendapatkan banyak bantuan dari buku-buku itu. Hari ini saya benar-benar tahu apa yang digenapkan di atas diri saya oleh saudara kita pada saat itu.
Saya masih ingat, pada suatu hari, saya datang ke ruang tamu saudara ini, dia turun dari loteng, begitu duduk langsung bertanya kepada saya, “Saudara, apakah sabar itu?” Saat itu hampir seluruh tubuh saya gemetar, sama sekali tidak bisa menjawab. Dia duduk di kursi goyang, sambil menggoyangkan kursi dia bertanya, apakah sabar itu? Saya berkata, “Bukankah sabar adalah ketika orang lain mempersulit Anda, Anda bisa menerimanya?” Dia menjawab, “Bukan, sabar adalah Kristus.” Kemudian, dia berdiri dan berkata, “Mari kita pergi bersama.” Dia membawa saya naik mobilnya dan pergi. Sejangka waktu kemudian, di dalam saya sepenuhnya mengerti. O, apakah sabar itu? Kristus itulah sabar! Perkataan ini memberi bantuan yang sangat besar kepada saya.
Lewat dua hari kemudian, saya berkunjung ke rumahnya lagi. Ia bertanya, “Beberapa hari ini, Anda membaca kitab apa saja?” Saya berkata, “Membaca Kisah Para Rasul.” Dia bertanya lagi, “Membaca kitab apa lagi?” Saya menjawab, “Saya merasa Kitab Kolose juga menarik.” Dia berkata, “O, ini adalah dua kitab yang paling sulit dipadukan, tetapi sesungguhnya hanya dua kitab ini yang layak dipadukan. Kisah Para Rasul memperlihatkan kepada kita bagaimana Dia menjadi Kepala kita; Kitab Kolose memperlihatkan kepada kita siapakah Kepala ini.” Saya ingin mendengarkan lebih banyak, tetapi dia tidak berbicara lagi. Ketahuilah saudara saudari, setelah pulang saya membaca lagi, benar-benar ada terang, benar-benar hanya Kitab Kolose yang bisa dipadukan dengan Kisah Para Rasul. Kisah Para Rasul memperlihatkan kepada kita Kepala yang naik ke surga; Kitab Kolose memperlihatkan kepada kita betapa limpahnya Kepala ini, bagaimana Dia menjadi segala sesuatu. Saya hanya mengakui, saya mendapatkan penggenapan dari dia, pengaruh itu terlalu besar, dan hasil dari pengaruh itu juga terlalu besar.
O, saudara-saudara, mengurus gereja bukanlah perkara yang sederhana. Hanya seluk-beluk koordinasi saja entah mencakup berapa banyak aspek.