← Daftar isi Kepengurusan Penatua atas Gereja · bab 12/15

PEMERINTAHAN PENATUA (2)

9. Membantu Membereskan Kesulitan

Dalam melayani Tuhan, cepat atau lambat setiap orang pasti akan bertemu dengan kesulitan, dan kesulitan itu meliputi berbagai aspek. Misalnya, ada saudari yang sungguhsungguh mau melayani, bahkan sudah dipimpin sampai tingkat kedelapan, tetapi suaminya sangat menentang, ini adalah satu kesulitan. Menurut penentangan suaminya, dia sebaiknya tinggal di rumah, tidak lagi bersidang, juga tidak lagi melayani. Bagaimana Anda membantu dia menghadapi kesulitan yang demikian ini?

Misalnya lagi, ada seorang saudara yang benar-benar telah terpanggil, tetapi dalam perihal pekerjaan ada masalah, yaitu apakah dia perlu tetap bekerja atau tidak? Apakah dia harus segera melepaskan pekerjaannya atau masih tetap membawa pekerjaan melayani Tuhan? Memang ini adalah persoalan dia sendiri dengan Allah, tetapi Anda telah melihat hal ini, di sini dia perlu mendapatkan bantuan.

Misalnya lagi, ada saudara yang menurut perasaan Anda benar-benar adalah seorang yang layak menjadi penatua, menurut keadaan beroleh selamatnya, keadaan hayatnya, dia benar-benar adalah satu bahan untuk menjadi penatua, tetapi pekerjaan yang dia kerjakan mulai pagi sampai malam telah menyita waktunya, sehingga dia tidak bisa datang ke gereja untuk menjadi penatua. Bagaimana Anda membantu dia menyelesaikan perkara ini?

Misalnya lagi, ada saudara saudari angkatan kerja yang bisa melayani, tetapi pendapatannya kurang, tidak cukup untuk keperluan hidup sehari-hari, bagaimana menanganinya? Mungkin Anda bisa berkata sedikit perkataan rohani: harus menengadah kepada Allah! Harus ada iman! Saya paling tidak suka mendengarkan orang mengucapkan perkataan rohani yang mengambang gersang tanpa realitas seperti ini. Karena kesulitan masih ada di sini; Anda harus membantu mereka menyelesaikan perkara ini.

Misalnya lagi, ada orang yang benar-benar ada hati, juga banyak belajar di aspek rohani, tetapi kesehatannya ada masalah, berdasarkan penerimaannya, kurang mampu membeli makanan yang bergizi, bagaimana Anda membantunya? Kita tidak bisa hanya berdiri pada pendirian sebagai penonton lalu mengucapkan perkataan rohani, ini tidak berguna, ini tidak bisa membantu orang. Ini bukan berarti kita tidak seharusnya bersandar kepada Allah, tetapi ada masalah yang harus dilakukan di sini. Sebab itu perlu membantu saudara saudari menyelesaikan kesulitan mereka. Mengurus gereja bukan satu hal yang mudah dan sederhana. Perkara-perkara di atas itu boleh saja sama sekali tidak kita kerjakan, dan kita masih bisa menjadi penatua; tetapi kalau ingin sungguh-sungguh mengurus gereja, kesemuanya itu adalah masalah yang harus dihadapi.

Ini sama seperti Anda mengurus satu keluarga. Hari ini anak Anda tidak mempunyai pakaian, Anda tidak bisa berkata, berdoalah! Percayalah kepada Tuhan! Tidak bisa berkata demikian. Hari ini cuaca berubah menjadi dingin, Anda perlu memberi pakaian tebal kepadanya. Tidak bisa kakak sulung berkata, berdoalah, ibu juga berkata berdoalah, demikian tidak tepat. Ini bukan masalah berdoa, kita juga tidak bisa menengadah kepada Allah untuk bertindak menggantikan Anda. Anda yang menjadi orang tua harus mempunyai tanggung jawab. Kalau Anda tidak mengurus keluarga Anda, tiap hari menonton film, tiap hari berjudi, tiap hari pelesiran, membiarkan anak-anak tinggal di rumah, itu juga boleh; dari musim semi sampai musim dingin mereka juga masih tetap bisa hidup. Tetapi kalau demikian, coba pikirkan, bagaimana keadaan rumah tangga Anda? Kalau ingin keluarga Anda mempunyai keadaan yang tepat, Anda mau tidak mau harus memperhatikan setiap aspek dari keluarga. Anda harus melakukan sesuatu, karena dalam keluarga mempunyai berbagai macam keperluan.

Sama prinsipnya dalam satu gereja yang besar ini, ada saudara yang benar-benar telah belajar di hadapan Tuhan, telah terpanggil, tetapi di hadapannya ada beban keluarga, ada kesulitan atas kesehatan tubuhnya, ada keperluan keuangan, atau menerima tentangan dari famili, dan lain-lain perkara yang sejenis, semuanya adalah kesulitan. Anda tidak bisa hanya berkata, “Berdoalah!” Tentunya harus berdoa, tetapi Anda harus nampak bahwa di sini tetap ada bagian tanggung jawab dari manusia. Bila ingin koordinasi dalam gereja bisa kuat, terus maju, Anda tidak bisa mengabaikan hal-hal ini. Anda telah membawa orang sampai tingkat kedelapan, saat ini atas keperluan riil dalam kehidupan, Anda perlu memberikan pengaturan.

Ada orang dalam pernikahan ada masalah, dulu pernah pacaran dengan orang lain. Misalnya, seorang saudari, dulu pernah mencintai seorang laki-laki; atau ada seorang saudara, dulu pernah mencintai seorang gadis; sekarang telah beroleh selamat, lalu bagaimana menyelesaikannya? Dia benar-benar mau belajar di hadapan Allah, dia benar-benar ada kemajuan, tetapi dia mempunyai satu kisah asmara, ini adalah kesulitannya, bagaimana Anda membantu dia menyelesaikannya? Ada juga orang yang sudah tunangan, belum menikah, kemudian salah satu pihak membatalkan pertunangan mereka, bagaimana mengatasinya? Anda tidak bisa berkata, “Berdoalah, kasih karunia (anugerah) Kristus sangat besar, cukup banyak, pasti cukup kita pakai!” Ini tidak tepat. Anda perlu dengan riil membantu dia menyelesaikan perkara-perkara ini. Anda harus nampak bahwa bunga dan rumput yang bertumbuh liar mempunyai satu corak, tetapi yang ditanam di kebun dan dirawat mempunyai corak yang lain lagi.

Perkara-perkara gereja, masalah-masalah keluarga, berbagai kesulitan, pasti akan Anda temui, bagaimana Anda membantu mereka menyelesaikannya? Ketika saudara saudari datang bersekutu dengan Anda, Anda tidak bisa hanya mengucapkan perkataan yang terlalu rohani itu. Sebenarnya bantuan apa yang akan Anda berikan kepada mereka? Bagaimana membawa mereka menyelesaikan kesulitankesulitan itu? Ini adalah perkara yang sangat diperlukan. Ada orang telah Anda bawa sampai tingkat kedelapan, namun karena bertemu dengan kesulitan-kesulitan, lalu tidak bisa maju, maka semua jerih lelah yang lalu seolaholah musnah semua. Mungkin karena hal-hal ini, orang-orang yang Anda pimpin satu per satu jatuh. Sebab itu tidak boleh mengabaikan hal ini.

Ada saudara saudari yang benar-benar mendapatkan anugerah, telah Anda bawa sampai tingkat kedelapan, mempunyai pengenalan dalam kebenaran, mempunyai pengalaman dalam hayat, tetapi dia ribut dengan seseorang yang menjadi penatua, atau ribut dengan seorang saudara yang melayani, ini juga satu kesulitan; bagaimana cara Anda membantunya? Anda harus memikul sebagian tanggung jawab, membantu dia melewati kesulitan ini, supaya dia tidak jatuh merosot.

Saudara saudari yang terkasih, kita tidak bisa hanya mengucapkan perkataan rohani saja. Hal memberitakan Injil juga demikian. Anda perlu berkali-kali berlutut, keluhan Anda seharusnya sering sampai ke hadapan Allah, muka penuh peluh pergi memberitakan Injil, dengan demikian orang baru bisa beroleh selamat; Anda tidak bisa hanya berkata, “Menengadahlah kepada Allah! Berdoalah supaya Allah bekerja!” Cobalah lakukan demikian, apakah ada orang yang beroleh selamat? Saudara-saudara, bukan demikian, kita mempunyai kewajiban yang harus kita tunaikan.

Lihatlah gereja-gereja lokal di setiap tempat, kita harus mengakui kekurangan kita sendiri, kepengurusan penatuapenatua di setiap gereja sangat kurang sekali. Di sini ada beberapa saudara yang dulu pernah lama bersama saya melayani di daerah Utara, saya percaya, dari hati nurani mereka bisa bersaksi, bagaimana saat itu kami membantu saudara saudari. Kalau Anda tidak membantu saudara saudari, sampai suatu saat, begitu timbul kesulitan, pasti semua usaha yang lalu hancur semua. Ini sama seperti Anda telah melahirkan seorang anak, sudah merawat hampir sepuluh tahun, tiba-tiba sakit keras. Kalian yang menjadi orang tua pasti sangat bingung, dan berusaha cepat-cepat menyembuhkannya. Mengapa? Karena di sini ada satu kesulitan, kalau tidak dibereskan, mungkin anak itu bisa mati. Terhadap kesulitan saudara saudari, Anda seharusnya juga memiliki pandangan yang demikian. Harus menyelesaikan kesulitannya, kalau tidak, saudara saudari ini akan jatuh merosot.

10. Memimpin Menerima Beban

Para penatua tidak saja perlu membantu saudara saudari menyelesaikan kesulitan, juga perlu dengan konkret dan pasti memimpin mereka, dari tangan Allah menerima beban. Bukan menerima satu beban yang biasa, melainkan menerima satu beban tanggung jawab distrik, atau satu beban penatua. Meskipun Anda hanya seorang penatua, bukan rasul, tetapi Anda boleh memimpin dia menerima beban. Dia telah Anda genapi sampai satu taraf, dan seharusnya dia dapat menerima beban, di sini Anda harus membantunya. Tentunya ini tidak bisa dikerjakan dengan tiga atau lima patah kata, tetapi perlu dalam jangka panjang bersekutu dengan Tuhan. Anda perlu di satu pihak banyak berkontak, bersekutu dengannya, bisa menjamah keadaan hatinya, mengetahui perasaannya di hadapan Tuhan; bersamaan dengan itu Anda juga sering berdoa baginya, menjamah perasaan Tuhan, memahami maksud hati Tuhan. Dalam hal ini, lambat laun, dengan sendirinya, Anda bisa membantu dia menerima satu beban.

Anda tidak saja membawa dia masuk ke dalam pelayanan, menerima sedikit pengaturan pelayanan gereja, Anda masih perlu membawa dia memiliki koordinasi yang riil. Yang disebut pengaturan di sini sering kali masih sangat dangkal. Mungkin memberi satu kesempatan agar orang itu belajar sesuatu hal, menerima satu anugerah. Secara tegas, ini belum tentu merupakan satu koordinasi Tubuh.

Misalnya, Anda memimpin seorang saudara atau saudari untuk melayani penyambutan, Anda merasakan dia telah memasuki pelayanan, tetapi ini belum tentu adalah koordinasi yang sesungguhnya. Anda masih perlu banyak bekerja di atas dirinya, membawa dia mengalami penanggulangan, pertumbuhan, dan penggenapan di hadapan Tuhan. Pada suatu hari, keadaannya berbeda dengan ketika ia baru memasuki pelayanan. Permulaan perlayanannya, boleh dikatakan acuh tak acuh, hanya beroleh selamat saja, ada sedikit kasih, mulai terbangun, diatur untuk menyambut sidang, ia melakukan penyambutan dalam sidang; diatur untuk pembersihan, ia melakukan pembersihan; diatur piket, ia melakukan piket. Sekarang Anda yang menjadi penatua ini terus bekerja, terus menggenapi, terus memimpin, membawa dia sampai satu tingkat, di hadapan Tuhan telah memasuki satu macam corak. Demikian, di dalam gereja dia mempunyai satu beban yang jelas, tidak hanya mempunyai sedikit pelayanan yang biasa, asal ada orang memberi dia satu pemberitahuan, baik penjengukan Injil, penjengukan kaum saleh, piket, mengurus data saudara saudari, menulis catatan tertentu, pengaturan pelayanan apa saja, ia terima. Bukan demikian. Sekarang dia telah ditanggulangi, telah belajar, telah bertumbuh, dan sampai satu tingkat, sudah sangat terbentuk, seharusnya dengan riil menerima satu beban. Sampai saat ini, dia baru benar-benar Anda bawa ke dalam pelayanan. Apakah dia menerima beban menjadi pewajib distrik, memikul tanggung jawab satu distrik, atau menerima satu beban, seumur hidup mau menjadi ministri firman bagi Tuhan, atau menjadi seorang pemberita Injil. Demikian, Anda di dalam hayat membawa dia ke hadapan Allah, membantu dia dengan jelas menerima satu beban.

Saya ulangi lagi, dalam hal-hal ini tidak bisa terlalu objektif, berlaku terlalu rohani bagi orang lain. Ada orang mengetahui orang lain sakit paru-paru, lalu berkata, “Saudara, Anda harus menengadah kepada Tuhan.” Bertemu dengan seorang saudari yang sakit lambung, berkata pula, “Saudari, Anda harus bersandar Tuhan.” Tetapi begitu diri sendiri yang sakit paru-paru, ia lebih cepat daripada siapa pun untuk pergi berobat ke dokter. Percaya bagi orang lain tidak berguna, berdiri pada kedudukan yang obyektif dan mengucapkan perkataan yang mengambang dan gersang, juga tidak berguna. Anda harus membawa diri sendiri ke dalam keadaan orang lain, lalu memikirkan bagaimana sebaiknya.

Seluruh Perjanjian Baru memperlihatkan kepada kita, selain dua belas rasul yang menerima langsung pimpinan dari Tuhan Yesus ketika Dia berada dalam daging, sulit menemukan satu orang yang dipanggil melayani Tuhan yang juga secara langsung menerima pimpinan dari Tuhan seperti Paulus. Tetapi membaca ajaran Paulus, dia selalu mengajar orang-orang yang bertanggung jawab dalam gereja untuk belajar membantu orang lain, menggenapkan orang lain dalam perkara rohani. Seperti Timotius, Titus, mereka semua digenapi oleh gereja dan oleh orang-orang milik Allah. Sebab itu kita tidak boleh mengabaikan hal ini.

11. Membawa Orang Belajar

Setelah penatua membantu seorang saudara atau saudari menerima beban, segera harus membawa mereka belajar. Misalnya, Anda membantu dia menerima beban tanggung jawab satu distrik, kewajiban Anda belum selesai, Anda masih perlu membawa dia belajar memikul tanggung jawab distrik tersebut. Anda harus dengan riil melakukan sesuatu untuk dilihat olehnya, setelah dia melihat dan memahami, lalu mintalah dia melakukannya. Anda di samping mengamati dan mengoreksi, membawa dia belajar, ini pekerjaan yang harus dilakukan oleh penatua.

Saya ulangi lagi, saudara-saudara, kalau setiap penatua mau berbuat demikian, lihatlah, para penatua pasti setiap hari sangat sibuk, tidak mungkin tidak ada urusan yang perlu dikerjakan. Lagi pula saya juga bisa bersaksi, tidak ada satu pekerjaan yang lebih berhasil daripada pekerjaan ini. Melakukan demikian kelihatannya seperti melakukan pekerjaan yang pelan, tetapi pelan-pelan Anda akan nampak hasilnya. Lewat setengah tahun, seorang saudara Anda genapi, lewat satu masa lagi, ada seorang saudara Anda genapi, lima tahun yang lalu hanya tiga, lima orang saja yang berbuat demikian, lewat lima tahun lagi menjadi tiga, lima puluh orang yang berbuat demikian, hasilnya sangat limpah.

Sayang, hari ini di setiap gereja lokal, tidak ada beberapa penatua yang demikian membawa orang belajar melayani. Saudara-saudara, kalau Anda adalah orang yang pandai, seharusnya cepat-cepat mengambil cara ini. Hasil dari gereja yang kita kelola membuktikan kita harus mengubah cara yang dulu.

Hari ini semua orang mengetahui bahwa banyak tanaman perlu perbaikan mutu, benihnya perlu diperbaiki, cara penanamannya juga perlu diperbaiki, cara penuaiannya juga perlu diperbaiki. Hanya yang mengadakan perbaikan baru menuai hasil yang baik. Kekerasan kepala, kesombongan, ketidakmauan berubah, semua itu adalah kebodohan. Kita harus belajar ada perbaikan. Saya tidak berkata bahwa apa yang saya katakan di sini adalah yang paling baik, sudah mencapai puncaknya. Tidak, di sini saya hanya membuka satu jalan, saudara-saudara kalau mau menerima, melangkahkan kaki pada jalan ini, Anda akan melihat, Anda sendiri bisa belajar banyak pelajaran, bersamaan dengan itu, gereja yang Anda kelola dan atur, juga akan berubah penampilannya.

Ada satu perkara yang ingin saya tambahkan. Semoga di tengah-tengah kita, baik penatua, maupun sekerja, semua harus terlepas tuntas dari gaya kekristenan yang merosot, yaitu sangat bersandar kepada orang yang berkhotbah. Hari ini mereka senang mengundang Doktor A berkhotbah, esok mengundang Pendeta B berkhotbah, kesempatan lain lagi mengundang seorang pengkhotbah ternama. Coba pikirkan, mereka berkhotbah ini dan itu, sebenarnya apa hasilnya? Boleh dikatakan tidak ada hasilnya. Sebab itu saya tidak setuju kalau satu sidang distrik atau satu gereja lokal, hari ini mengundang sekerja A, esok mengundang sekerja B untuk berkhotbah, ini tidak berguna. Saudarasaudara yang terkasih, sekalipun Anda telah mengundang semua sekerja datang berkhotbah di tempat Anda, Anda masih Anda, tetap tidak berubah. Paling banyak bertambah beberapa orang yang diselamatkan, lebih baik lagi hanya tambah beberapa orang yang mengasihi Tuhan, apa gunanya itu? Anda selamanya tidak bisa nampak pembangunan dan koordinasi gereja. Pembangunan dan koordinasi perlu pewajib gereja berjerih lelah.

Kalau Anda bermotivasi rendah hati, berdiri pada kedudukan menerima pengajaran, mendengarkan orang menyampaikan satu makalah ilmiah masih boleh. Tetapi masalahnya adalah apakah Anda mempunyai loboratorium untuk percobaan? Apakah Anda sendiri mempunyai ladang untuk praktek? Pekerjaan yang sesungguhnya adalah pekerjaan di ladang, bukan mendengarkan ceramah ilmiah. Sebab itu saya dengan sungguh-sungguh berkata, Anda dan saya sebagai orang-orang yang bekerja bagi Tuhan, selamanya harus membenci pekerjaan ceramah ilmiah semacam itu. Kita bukan pergi ke mana-mana untuk mengadakan satu ceramah ilmiah, kita perlu sungguh-sungguh secara resmi memikul pekerjaan membangun gereja. Hanya mendengarkan orang berkhotbah tidak berguna. Jangankan delapan atau sepuluh berita, seratus atau dua ratus berita sekalipun, juga tidak ada gunanya. Semuanya itu adalah cara kekristenan yang merosot, Anda dan saya tidak seharusnya menirunya. Pewajib gereja di setiap tempat harus berjerih lelah, jangan berharap mengundang sekerja ini datang berkhotbah, mengundang sekerja itu datang berkhotbah.

Ini sama seperti mereka yang menjadi orang tua, kalau tidak mau dari pagi sampai malam baik-baik mengurus keluarganya, tetapi selalu mengharapkan orang lain menggantikan dia berbicara, menggantikan dia mengajar, apa gunanya? Kalau Anda sendiri mau berjerih lelah, meskipun asalnya Anda tidak bisa memasak, lewat setengah bulan, Anda pasti bisa memasak; meskipun asalnya Anda tidak bisa menjaga anak, lewat sebulan pasti bisa menjaga anak. Asal mau belajar, tidak lama kemudian, Anda bisa melakukan pekerjaan yang diperlukan.

Saya ulangi lagi, mengurus gereja, membangun gereja, tidak tergantung pada mengundang orang berkhotbah. Ini bukan cara bekerja di tengah-tengah kita. Saya harap semua mau mengubah konsepsi, mengubah pandangan, menerima satu cara yang lain. Anda harus meletakkan diri sendiri di dalam gereja, bekerja keras membanting tulang, selain itu tidak ada jalan yang lain. Meskipun Anda mengundang datang rasul Paulus, Petrus, Apolos, orang-orang setingkat itu datang berkhotbah di tempat Anda, Anda masih tetap Anda, tidak ada gunanya. Yang berguna adalah Anda sendiri mau tunduk, melihat gereja adalah ladang Allah, perlu orang yang menjadi petani, maka penuh peluh, berjerih lelah mencangkul tanah. Juga melihat gereja adalah satu keluarga Allah yang diserahkan kepada Anda untuk diurus, Anda harus seperti seorang ibu rumah tangga, perlu mengelap kaca, membersihkan lantai, menjahit pakaian, menambal baju, memasak nasi, bekerja keras, barulah keluarga ini ada jalan. Kalau tidak, sekalipun Anda mendengarkan ribuan khotbah, tetap tidak ada gunanya.

Ada satu hal yang membuat saya sedih, meskipun saya dulu sering mempersekutukan perkataan ini, tetapi setelah bersekutu, saudara-saudara masih tetap seperti dulu, masih senang dengan cara pekerjaan kekristenan yang merosot. Saudara-saudara, untuk apa mengadakan begitu banyak sidang, apa gunanya? Lihatlah gedung-gedung kebaktian besar dari denominasi-denominasi yang besar, Doktor besar mana yang tidak pernah berkhotbah di sana? Penginjil ternama mana yang tidak pernah berkhotbah di sana? Misionaris keliling dunia ternama mana yang tidak pernah berkhotbah di sana? Bertitel Doktor, berpetah lidah, berilmu tinggi, orang-orang itu pernah berkhotbah di sana, tetapi bagaimana keadaan saudara saudari di sana? Masih tetap kersang. Kalau demikian, masihkah kita mau menempuh jalan itu? Tidak, kita harus menempuh satu jalan yang riil. Baik-baik kembali kepada gereja kita sendiri, semuanya harus kita sendiri yang turun tangan; pelan-pelan Anda akan nampak bahwa gereja lokal atau sidang distrik di tempat Anda berada ada bentuknya. Biarlah mereka melakukan ceramah ilmiah, tidak peduli ceramahnya seberapa tinggi, seberapa rohani, biarlah mereka terbang ke angkasa, namun Anda di sini dengan mantap melakukan sedikit pekerjaan yang riil. Inilah kepengurusan dan pembangunan gereja.

Saudara-saudara, jangan berharap ada seorang malaikat datang ke tempat Anda untuk mengadakan serangkaian sidang selama satu minggu, lalu gereja di tempat Anda langsung bangun; jangan menaruh pengharapan yang demikian. Segeralah tunduk dan melakukan pekerjaan secara perlahan sampai satu per satu dijamah, membawa saudara saudari hidup di hadapan Allah, menikmati Kristus. Ketika ada kesulitan yang riil, bantulah mereka. Saya sungguh ingin berkata, kalau mereka ada keperluan dalam keuangan, dan Anda mempunyai kemampuan ini, bantulah mereka. Tidak perlu mengatakan itu persembahan atau bantuan. Kalau seorang saudara tidak mempunyai nasi untuk dimakan, dan di tempat Anda ada sepiring nasi, makanlah setengah piring, dan bagikan kepadanya yang setengah lainnya. Ini tidak terhitung persembahan, tetapi Anda dan dia saling merasa senasib dalam melayani Tuhan. Anda ada makanan, dia juga ada makanan; kalau demikian, sangatlah baik. Kalau mungkin, Anda dapat mencari akal berusaha mendapatkan sedikit uang untuk keperluannya. Inilah prinsip Paulus membuat kemah. Paulus berkata, “Dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawankawan seperjalananku.” Anda perlu memikul kesulitan saudara saudari yang sama-sama menjadi anggota Tubuh, kalau Anda mau memikul sedemikian, lihatlah, Allah mau memberkati pekerjaan Anda atau tidak! Anda mengundang orang lain berkhotbah tidak ada gunanya, kalau Anda mau melakukan demikian, Anda akan nampak berkat segera datang.

Pembangunan gereja adalah pekerjaan yang pelan, perlu mengeluarkan banyak tenaga, Anda tidak bisa untung-untungan, juga tidak bisa berharap kepada orang lain. Saya rasa saudari-saudari yang menjadi ibu rumah tangga bisa bersaksi bahwa pekerjaan rumah tangga itu sangat melelahkan, Anda selamanya tidak bisa mengharapkan orang lain menggantikan Anda mengurus rumah tangga Anda. Hanya Anda sendiri yang berjerih lelah, menggarap, mengerjakan pekerjaan rumah, barulah rumah tangga Anda rapi. Keluarga Allah ini, gereja ini, diserahkan kepada penatua untuk diurus dan diatur, para penatua ibarat ibu rumah tangga yang harus berjerih lelah, berusaha, dan bekerja keras untuk mengurusnya. Pembangunan gereja tergantung pada kerja keras para penatua. Hanya bersandar kebaktian kebangunan rohani tidak bisa berjalan, Anda harus bekerja keras. Setelah bekerja keras, Anda baru bisa seperti petani, nampak tuaian Anda.

Saya harap penatua di setiap gereja lokal bisa memegang prinsip ini, berjerih lelah di setiap tempat. Bisa berkhotbah belum tentu ada hasil, ada tempat yang semakin berkhotbah semakin jelek keadaannya. Semakin sedikit sidang istimewa semakin baik, keluarkan waktu untuk berkontak dengan saudara saudari satu per satu, berjerih lelah di atas diri orang satu per satu, membawa mereka belajar.

12. Membantu Orang Menjadi Bejana yang Baik

Para penatua tidak saja harus dengan sabar membawa saudara saudari belajar, tetapi juga perlu membantu mereka menjadi bejana yang baik. Jangan takut fungsi mereka akan lebih besar daripada Anda, Anda harus mengharapkan di antara murid Anda ada yang menjadi sarjana nomor satu. Ada pepatah mengatakan, hanya ada murid yang menjadi sarjana nomor satu, tidak ada guru yang menjadi sarjana nomor satu.

Guru yang mengajar belum tentu adalah sarjana nomor satu, tetapi di antara muridnya bisa muncul sarjana nomor satu. Anda jangan takut kalau orang yang Anda pimpin akan lebih berguna daripada Anda, lebih hebat daripada Anda. Kalau memang ada yang demikian, seharusnya Anda merasa bangga. Di antara orang yang Anda pimpin bisa timbul satu Petrus, satu Paulus, satu bejana yang besar, ini adalah perkara yang mulia. Anda harus semampunya menggenapi mereka, membantu mereka menjadi satu bejana yang berguna.

Saya percaya saudara saudari bisa merasakan bahwa menjamah seseorang memiliki hayat atau tidak, ini agak mudah tetapi mulai butir kedua dan seterusnya, setiap butir semuanya sulit. Tidak ada satu butir yang mudah. Saya ulangi lagi, ini adalah perkara berjerih lelah.

Kita tidak ada waktu juga tidak ada sarana untuk menjelaskan satu per satu cara pelaksanaannya. Bertahuntahun saya mengharapkan bisa duduk bersama para penatua, satu minggu satu kali, khusus membicarakan bagaimana membantu orang menjadi bejana yang berguna. Ada seseorang mengasihi Tuhan, bagaimana Anda membantunya menjadi satu bejana yang berguna, ini sangat banyak seluk-beluknya.

Saya selamanya tidak bisa melupakan saudara-saudara tua yang membantu saya. Saya tidak bisa melupakan penggenapan yang mereka kerjakan di atas diri saya; kalau tidak ada penggenapan itu, saya tahu, diri saya akan menjadi rupa yang lain. Hari ini saya bisa sedikit berguna di tangan Tuhan, karena mereka menggenapkan saya.

Saya kira saya boleh sedikit bersaksi. Tahun 1930 sampai 1934, saat itu saya masih muda, baru terpanggil keluar untuk melayani. Saya pergi ke Shanghai, pusat pekerjaan di seluruh China pada saat itu. Ketika saya baru sampai di sana, orang yang memimpin saya menyerahkan seluruh tanggung jawab mimbar gereja ke atas diri saya. Anda bisa melakukan atau tidak, harus tetap melakukan. Saya tahu, itu adalah satu kesempatan, satu penggenapan yang mereka berikan kepada saya. Tidak hanya demikian, Perpustakaan Injil di tengah-tengah kita (sampai sekarang sudah hampir 40 tahun), pada tahun 1933 sampai 1934, hanya saudara terkemuka kita, Saudara Watchman Nee seorang diri yang memikul tanggung jawab redakturnya. Saat itu dia dengan cepat memberikan sebagian tanggung jawab redaktur kepada saya. Saya mengakui, mulanya saya tidak bisa mengerjakannya, karena belum pernah mengerjakannya, tetapi itu adalah satu kesempatan. Saya berterima kasih kepada Tuhan, dan dari lubuk batin yang terdalam saya juga berterima kasih kepada saudara kita, itu adalah satu penggenapan. Di bawah belas kasihan Tuhan, hari ini saya dapat melihat hasil dari penggenapan 20 tahun lebih yang lalu. Hari ini di sini bisa ada satu perpustakaan yang terus menerbitkan buku-buku, ini dikarenakan penggenapan itu.

Ketika saya di Shanghai menerima amanat ini, saya benar-benar takut dan gentar, karena boleh dikatakan saya belum pernah bekerja sama dengan orang, belum pernah menerima bimbingan dengan baik, hanya di Cheefoo, satu kota kecil, saya membangun satu sidang yang kecil. Sekarang, tiba-tiba satu sidang yang besar dipercayakan kepada saya. Saya selamanya tidak bisa melupakan, setiap hari, saya sering hanya memanjatkan satu doa, yaitu doa Salomo, “Tuhan, aku adalah seorang muda, Engkau membangkitkan aku berada di tengah-tengah umat-Mu. Tuhan, mohon Engkau memberiku hikmat.” Sekarang saya berpaling melihat ke belakang, banyak pelajaran yang saya dapatkan pada masa itu, banyak pelajaran yang tertekan keluar pada masa itu. Itu adalah satu pekerjaan penggenapan, itu adalah kesempatan yang sulit didapat, itu adalah kesempatan yang tidak bisa dibeli dengan triliunan uang.

Sebab itu saudara-saudara, kalian harus belajar untuk Tuhan, untuk kerajaan, untuk pekerjaan Tuhan di bumi, menggenapkan sekelompok orang supaya mereka menjadi bejana yang baik. Jangan hanya ada satu penggenapan yang kecil, juga perlu ada penggenapan yang besar. Harus menyiapkan satu ladang untuk memberi kesempatan kepada mereka, menggenapkan mereka, untuk keperluan di kemudian hari.

13. Memimpin Menerima Salib

Ini adalah pelajaran yang mutlak tidak bisa dikurangi. Saya meletakkan ini pada butir yang ketiga belas ada maknanya tersendiri. Sampai saat ini, Anda perlu dengan konkret, serius, dan dalam, memimpin saudara saudari belajar pelajaran salib. Sasaran penanggulangannya adalah nafsu, darah daging, ambisi, tekad besar, hati yang ingin mendapatkan kesuksesan bagi diri sendiri. Harus menerima salib untuk meremukkan “kebesaran” orang. Karena sampai di sini dia telah menjadi bejana yang berguna. Menjadi berguna ini sangatlah bahaya, merupakan satu godaan yang hebat. Dari berguna menjadi ternama, secara makro dalam kalangan kekristenan berarti sudah ada nama; secara mikro, dalam satu gereja lokal berarti menjadi orang yang sangat penting. Dia bisa mengarahkan situasi, bisa mempengaruhi saudara saudari. Saat ini, Anda harus memimpin dia belajar pelajaran salib. Nafsu, darah daging, ambisi, tekad besar, tujuan diri sendiri, dan hati yang ingin menjadi besar, semuanya harus diakhiri di atas salib.

Saudara-saudara, saya pernah dengan serius menerima pendidikan ini, saya tahu, perlu pelajaran ini; kalau tidak, usaha yang lalu akan habis semua. Kalau tidak ada salib butir satu sampai dua belas akan sia-sia,, orangnya akan terbuang, karena telah dirusak oleh “besar”. Anda menghabiskan sekian banyak perhatian, tenaga menggenapkan dirinya, akhirnya karena ambisi besar, semua jerih lelah menjadi sirna. Tidak saja sirna, bahkan menambah satu kesulitan untuk gereja, karena ia telah belajar banyak, bisa mengendalikan situasi, mempengaruhi banyak orang. Coba Anda pikir, kesombongan, tujuan pribadi, ingin besar, ingin yang dipermukaan saja, ingin ternama, apakah semuanya itu hanya akan merugikan dirinya sendiri? Itu akan merugikan seluruh gereja. Sebab itu sampai di sini Anda harus belajar pelajaran ini, juga membawa dia belajar pelajaran ini, kalau tidak koordinasi akan terpengaruh.

Kalau koordinasi tidak ada salib, gereja tidak ada perlindungan. Bagi Anda, mungkin Anda adalah orang yang menerima belas kasihan, orang yang besar, maupun orang yang kecil, siapa saja baik, Anda selalu menyuplai anugerah kepada orang. Tetapi bagi dia, ini adalah perusakan; bagi gereja, kerugian yang diderita terlalu besar! Sebab itu untuk dia, untuk gereja, Anda harus memimpin dia belajar pelajaran salib.

14. Memimpin Belajar Peremukan

Seseorang yang menerima salib, belum tentu remuk. Salib menyelesaikan kesulitan orang yang berada di tengahtengah manusia, peremukan menyelesaikan kesulitan orang di hadapan Allah. Kekuatan alamiah Anda harus diremukkan oleh Allah. Nafsu, darah daging, ambisi besar, ingin ada kesuksesan dalam gereja, ingin ternama, ingin besar, adalah kesulitan di hadapan manusia. Tetapi setelah Anda menyelesaikan hal-hal ini, ingatlah, kekuatan alamiah Anda melayani Tuhan itu masih perlu diremukkan oleh Allah. Anda masih perlu dijamah lebih dalam oleh Allah, pangkal paha Anda perlu dijamah oleh Allah supaya Anda rebah. Perlu memimpin saudara saudari sampai tahap ini, kalau tidak, koordinasi ini tidak akan panjang umur. Anda dan dia berkoordinasi, tetapi tidak lama kemudian akan rusak. Sebab itu Anda perlu memimpin saudara saudari menerima peremukan, di hadapan Allah menjadi orang yang rebah.

15. Memimpin Menerima Koordinasi

Sampai di sini baru bisa ada koordinasi yang sesungguhnya. Ini lain dengan koordinasi orang yang baru masuk dalam pelayanan, ini adalah koordinasi orang yang telah banyak belajar pelajaran rohani. Sampai di sini dia baru benar-benar mengerti apa yang disebut menerima koordinasi di hadapan Allah. Menerima koordinasi tidak lain adalah menerima pembatasan orang yang bersama menjadi anggota Tubuh, yang bersama melayani. Koordinasi adalah satu pembatasan, sepenuhnya dibatasi oleh orang lain. Saya tidak bisa melayani sendirian, saya hanya bisa melayani bersama dengan saudara saudari dalam gereja, saya hanya menerima pembatasan dari orang lain, bersama mereka berkoordinasi. Mereka rohani, saya harus berkoordinasi, mereka tidak rohani, saya juga harus berkoordinasi; mereka agak dalam sedikit, saya harus berkoordinasi, mereka agak dangkal sedikit, saya juga harus berkoordinasi dengan mereka. Saya hanya bisa berada di pihak mereka, saya tidak bisa menyuruh mereka di pihak saya. Semua penyebab tidak bisanya berkoordinasi tidak seharusnya ada di pihak diri saya. Saya telah menerima pimpinan, telah belajar pelajaran salib, juga telah menerima peremukan. Hari ini saya menerima pembatasan seluruh gereja, saya menerima koordinasi ini. Sampai saat ini barulah ada koordinasi yang sesungguhnya; sampai saat ini, orang yang berkoordinasi dengan demikian barulah sehati, bisa terikat kukuh, tersusun rapi.

Saudara-saudara, Anda dan saya berada dalam tubuh daging, kalau tidak belajar sampai taraf yang demikian, saling koordinasi kita tidak bisa bertahan lama. Banyak penyebab yang dapat menimbulkan kesulitan dalam koordinasi kita. Ada darah daging, ada opini, ada salah paham, dan banyak perkara yang dilakukan oleh musuh. Hanya sampai taraf yang demikian, darah daging, opini, salah paham, pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan musuh, baru tidak berguna. Bagi segala perkara di luar Allah, ini adalah tubuh yang kering, kuman apa saja tidak bisa mempengaruhi. Koordinasi yang demikian baru kuat, baru panjang umur.

16. Memimpin Mengenal Tubuh

Sampai di sini, sungguh-sungguh telah memasuki satu wilayah, menjamah satu hal, melihat satu fakta yang mulia, yaitu gereja adalah Tubuh Kristus. Mereka benarbenar menjamah realitas Tubuh. Pada saat ini, Anda di hadapan Tuhan baru terhitung melakukan pekerjaan yang mulia. Ini barulah pembangunan gereja, ini barulah kepengurusan gereja, ini barulah melakukan satu koordinasi yang sejati.

Mungkin tiga, lima ratus saudara saudari semua berkoordinasi melayani di sini, tetapi hanya dua, tiga puluh orang yang mencapai koordinasi yang demikian, yang lainnya hanya berkoordinasi di luaran saja. Kita sedikit pun tidak memandang rendah koordinasi luaran, karena terlebih dulu harus ada yang di luaran, baru ada yang di dalam. Tetapi dua, tiga puluh saudara saudari ini setelah dipimpin melewati belasan butir di depan, ketika mencapai butir yang terakhir, mereka benar-benar mengenal Tubuh. Koordinasi mereka ini dalam, sejati dan berbobot. Hayat gereja berada pada diri mereka, umur gereja juga berada pada diri mereka. Mereka seperti biji buah persik, adalah tempat hayat berada, adalah inti dari hayat. Gereja ini sepenuhnya tergantung pada diri mereka. Setelah ada inti ini, gereja di sini baru bisa kukuh, baru bisa berdiri teguh. Lagi pula perlu percaya, dua, tiga puluh orang ini semua bisa seperti Anda pergi memimpin orang. Lewat sejangka waktu lagi, mereka juga membawa beberapa kali lipat orang yang seperti mereka. Gereja di sini tidak hentinya melahirkan dan membangun. Inilah kepengurusan gereja. Kalau para penatua mau maju dengan cara demikian, saya percaya, sumber yang kaya akan terjamah oleh banyak orang.