PEMERINTAHAN PENATUA (3)
Kepengurusan penatua atas gereja mempunyai satu pekerjaan inti, yaitu mengkoordinasikan saudara saudari. Sesungguhnya, kepengurusan adalah suatu koordinasi, dan koordinasi adalah pembangunan. Para penatua mengurus gereja berarti mengkoordinasikan dan membangun saudara saudari. Di mana ada kepengurusan yang sejati, di sana baru ada koordinasi yang sejati; di mana ada koordinasi yang sejati, di sana baru ada pembangunan yang sejati. Kita telah membicarakan sekian banyak tentang kepengurusan gereja, intinya adalah untuk berbicara tentang koordinasi. Dalam seluk-beluk koordinasi ini, kita telah berbicara panjang lebar, juga untuk tujuan ini. Untuk mengejar waktu, kita hanya membicarakan enam belas butir. Sesungguhnya mengenai seluk-beluk koordinasi, masih banyak yang perlu dibicarakan, dan keenam belas butir di depan, setiap butir perlu dengan riil dan rinci diberi contoh untuk dijelaskan, barulah bisa dimengerti. Semua pekerjaan kita, yang rinci, yang banyak seluk-beluk, semua berada dalam seluk beluk koordinasi.
Misalnya, kita ingin membantu saudara saudari menyelesaikan kesulitan, hanya satu butir ini saja di dalamnya mengandung banyak hal yang perlu kita pelajari. Dalam hal mengikuti Tuhan, di atas jalan melayani Tuhan, kita sering bertemu dengan banyak kesulitan, misalnya kesulitan dalam keluarga, kesulitan dalam kesehatan, kesulitan dalam usaha, kesulitan dalam pendidikan, kesulitan dalam pernikahan, kesulitan dalam kerohanian, kesulitan dalam pembacaan Alkitab, kesulitan dalam doa, masalah-masalah ini sungguh terlalu banyak, sebenarnya bagaimana menyelesaikannya? Kalau ada kesempatan, kita perlu mengeluarkan banyak waktu untuk membicarakan satu per satu dengan contoh yang konkret. Sekarang kita hanya bisa secara garis besar menyinggung sedikit, sisanya saudarasaudara sendiri yang harus menjamahnya. Sesungguhnya, dalam hal menyelesaikan kesulitan ini saja, kita perlu berkali-kali melatih diri.
Misalnya, ada saudara ketika akan mendengarkan Injil, berkenalan dengan seorang gadis. Sekarang, saudara ini telah beroleh selamat, namun gadis itu belum percaya. Masalah ini dibawa ke depan penatua, bagaimana Anda membantu dia menyelesaikannya? Para penatua tidak bisa hanya berkata, “Saudara, berdoalah!” Dia tentu perlu berdoa, tetapi Anda harus memberi satu jalan kepadanya yang sesuai dengan keadaan yang nyata, yang tidak melanggar prinsip kebenaran Alkitab, sehingga terhadap jalannya mengikuti Tuhan di kemudian hari tidak ada halangan, dan juga supaya keluarganya tidak merasa kesulitan. Ini bukan masalah yang terlalu mudah.
Misalnya, ada seorang muda yang mungkin baru lulus sekolah menengah atas, dan sedang menuntut Tuhan, dia mungkin datang bersekutu dengan Anda tentang bagaimana memilih perguruan tinggi yang tepat. Sebaiknya sekolah kedokteran, atau tehnik, atau jurusan yang lain? Jangan sekali-kali menganggap ini adalah masalah yang mudah. Sering kali pilihan mereka mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbuhan hayat dan fungsi pelayanannya di kemudian hari. Anda tidak bisa dengan sembarangan berkata, “Pilihlah ini!” Atau Anda agak sedikit rohani berkata, “Berdoalah, Tuhan pasti bisa membimbingmu.” Tidak bisa demikian. Anda harus menjamah keadaan yang riil, membawa dia ke hadapan Tuhan, di hadapan Tuhan menyelesaikan hal ini.
Ada orang sebelum beroleh selamat telah mempunyai dua istri, sekarang dia telah beroleh selamat, bagaimana menyelesaikan masalah keluarga ini? Hal ini mempunyai pengaruh apa dalam pelayanannya terhadap Tuhan? Selanjutnya, dia harus mengambil sikap apa? Harus berdiri pada kedudukan apa? Hal-hal semacam ini sungguh terlalu banyak. Kalau dalam hal-hal ini para penatua tidak bisa memberikan satu jalan keluar untuk membantu mereka, itu berarti kekurangan kepengurusan, saudara saudari ini benar-benar menderita kerugian, sama seperti sekelompok anak-anak yang tidak memiliki orang tua yang merawat.
Kalau anak-anak dalam keluarga Anda hari ini digigit oleh anjing, lalu dengan menangis pulang memberi tahu Anda, “Papa, Mama, kakiku digigit anjing.” Apakah Anda menepuk bahunya dan berkata, “Berdoalah! Tuhan itu Mahakuasa”? Tentu tidak demikian. Memang perlu berdoa, tetapi Anda tidak bisa tidak menghadapi masalah konkret. Ada anak yang pulang berkata, “Catatan harianku hilang di tengah jalan, aku perlu membeli lagi buku catatan harian.” Anda juga tidak bisa berkata, “Berdoa saja.” Ini bukan mengurus rumah. Anak-anak ada masalah, Anda harus memberi satu jalan keluar, mengatur mereka, menyelesaikan masalah mereka. Ini adalah contoh yang sangat dangkal.
Gereja adalah rumah Allah, di dalamnya ada sekian banyak saudara saudari, ada yang tua, muda, yang senior, yang yunior, yang berpengalaman, yang tidak berpengalaman, masih ada yang bermasalah, ada juga yang keadaannya sangat sulit di hadapan Tuhan, semua saudara saudari ini sering menemui kesulitan. Kalau para penatua tidak menyelesaikan masalah-masalah ini, maka sama sekali tidak ada kesulitan bagi penatua, karena semua saudara saudari tahu bahwa para penatua tidak menyelesaikan masalah, sebab itu tidak perlu mencari penatua. Tetapi kalau Anda di hadapan Tuhan benar-benar mengetahui bagaimana mengurus gereja, memikul tanggung jawab, saya tahu, rumah Anda pasti setiap hari penuh dengan orang. Saudara ini datang mencari Anda bersekutu tentang pernikahannya, saudara itu datang mencari Anda bersekutu tentang pekerjaannya, ada seorang saudari datang kepada Anda bersekutu masalah sekolahnya, ada yang memiliki kesulitan dalam pembacaan Alkitab, ada yang memiliki kesulitan dalam berdoa, juga masih ada yang bermasalah dalam panggilan untuk melayani Tuhan, tidak tahu sebenarnya sudah terpanggil atau belum, bagaimana sebaiknya menjawab panggilan Tuhan; orang-orang ini akan mencari Anda. Menurut aturan, semakin banyak saudara saudari yang mencari penatua akan semakin baik. Kalau saudara saudari tidak mencari penatua, berarti penatua di sini sudah kehilangan pekerjaannya. Kehilangan pekerjaan sama dengan tidak menunaikan tugas. Kalau Anda menunaikan tugas, Anda akan nampak setiap hari ada saudara saudari yang mencari Anda, karena mereka mempunyai banyak kesulitan. Saya hanya menyebut salah satu butir dari enam belas butir seluk-beluk koordinasi. Para penatua benar-benar perlu berlatih, dan membawa kesulitan saudara saudari untuk bersama-sama diselesaikan. Kalau demikian akan membawa gereja ke dalam keadaan yang sangat tepat.
Saudara-saudara, saya boleh bersaksi kepada kalian. Ketika kami pada mulanya dibangunkan oleh Tuhan, kami dipimpin oleh Tuhan, merasakan bahwa seluruh kekristenan telah menyimpang, telah meninggalkan jalan Tuhan, kehilangan kedudukan yang semula diatur oleh Tuhan dan sifat yang harus dimilikinya, maka begitu kita keluar, segera membuang seluruh kekristenan yang pernah kami lihat. Saat itu, ketika kami berkumpul, kami tidak mengetahui cara apa pun, juga tidak mengerti harus bagaimana bersidang, bahkan tidak mengerti harus bagaimana memilih nyanyian dalam sidang; demikianlah kami kemudian menjamah satu per satu. Kami terlebih dulu menjamah bagaimana bersidang, kemudian menjamah lagi bagaimana memilih nyanyian, menjamah sampai suatu saat, nampak bahwa kepengurusan gereja menjadi satu masalah yang besar, masalah yang serius. Karena pada awalnya hanya enam, tujuh orang, kami semua berbaik hati berpendapat sepertinya tidak perlu ada kepengurusan. Kemudian ada sepuluh, dua puluh, tiga puluh orang. Saat itu kami memberitakan Injil, kalau ada orang beroleh selamat, kami membaptis mereka. Kemudian dari lima puluh menjadi seratus, dua ratus, jumlahnya semakin besar. Saat itu timbul satu masalah yang sangat serius, yaitu bagaimana mengurus saudara saudari ini.
Saat itu timbul masalah kepengurusan. Kami tidak menemukan buku referensi, juga tidak menemukan tempat untuk dijadikan contoh, benar-benar tidak ada tempat untuk mencari tahu. Akhirnya, kami harus kembali kepada Allah, mengeluarkan banyak waktu dan tenaga, dari pengalaman yang riil menjamah sedikit demi sedikit. Kami sedikitnya telah menjamah belasan tahun, sampai tahun 1944-1945, perkara tentang kepengurusan atas gereja baru kami jamah sampai tuntas.
Saya selalu berkata, dalam kepengurusan atas gereja, unsur yang yang paling penting adalah para penatua bisa membawa saudara saudari setahap demi setahap memasuki koordinasi. Karena waktunya tidak cukup, kita tidak bisa menguraikan dengan rinci. Sekarang marilah kita melihat arah koordinasi.
IV. ARAH KOORDINASI
Arah koordinasi adalah tiga butir hal yang kita bicarakan, yaitu penginjilan, pembinaan, dan pelayanan. Dalam tiga butir pelayanan gereja ini, setiap butir merupakan arah koordinasi. Ketika penatua mengurus gereja, membawa saudara saudari masuk ke dalam koordinasi, pertama harus dengan penginjilan sebagai arah mengkoordinasi mereka untuk memberitakan Injil. Kedua, dengan pembinaan sebagai arah, terus-menerus membina mereka dalam koordinasi. Ketiga, dengan pelayanan sebagai arah, terusmenerus membawa mereka mempunyai pelayanan gereja. Arah koordinasi selalu ada tiga: penginjilan, pembinaan, dan pelayanan. Enam belas butir yang dibicarakan di depan, membicarakan bagaimana setahap demi setahap membawa saudara saudari ke dalam koordinasi. Yang dibicarakan di sini adalah kita harus mengarah ke mana ketika kita mengkoordinasikan mereka.
1. Penginjilan
Arah koordinasi yang pertama adalah membawa saudara saudari memberitakan Injil, terus-menerus memimpin dan mengkoordinasikan mereka kepada Injil, giat bekerja dalam penginjilan menghasilkan buah Injil, melalui penginjilan membawa orang baru ke dalam gereja. Dengan kata lain, dalam penginjilan terus-menerus meluaskan Kerajaan Tuhan.
Jangan sekali-kali berkata, masih adakah yang tidak bisa memberitakan Injil? Tidak! Dalam hal ini ada selukbeluknya. Anda harus nampak: ada orang memberitakan Injil mempunyai hasil yang baik; ada orang memberitakan Injil tidak mempunyai hasil yang baik; ada orang memberitakan Injil, orang beroleh selamat; ada orang memberitakan Injil, tidak ada orang yang beroleh selamat. Dalam hal ini ada sedikit masalah tentang tehnik dan ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan. Saya harap saudara saudari memperhatikan beberapa hal di bawah ini:
a. Gairah
Para penatua dalam gereja harus memimpin saudara saudari mempunyai kegairahan memberitakan Injil. Satu gereja lokal kalau kekurangan kegairahan memberitakan Injil, pasti ada penyakitnya. Tidak peduli gereja lokal itu besar atau kecil, harus mempunyai kegairahan memberitakan Injil. Tentunya kegairahan memberitakan Injil ini dipupuk langsung oleh para penatua sendiri.
(a) Para penatua sendiri harus berdoa untuk kegairahan memberitakan Injil.
(b) Para penatua sendiri harus mempunyai kegairahan memberitakan Injil
(c) Harus mengumpulkan saudara saudari di depan Allah, ada doa gereja untuk kegairahan pemberitaan Injil. Perlu semua saudara saudari berkumpul bersama untuk berseru di depan Allah, mohon Allah menyalakan api Injil, supaya dalam setiap batin saudara saudari ada kegairahan memberitakan Injil.
O, saudara saudari terkasih, harus menyalakan api pemberitaan Injil, kalau tidak, ia tidak akan membara. Ingatlah, menurut ketentuan Allah dalam Perjanjian Lama, api persembahan kurban bakaran di atas mezbah harus tetap menyala, mulai dari pagi hingga malam, dari malam hingga pagi, tidak boleh padam. Untuk ini, perlu orang-orang yang menjadi imam sering menambahkan kayu ke atas mezbah, sering membersihkan abu supaya api tetap membara. Demikian juga untuk kegairahan memberitakan Injil, perlu para penatua menyalakan menurut waktunya.
Saya harap saudara-saudara yang menjadi penatua akan terkesan bahwa dalam jabatan kepenatuaan ada satu perkara, yaitu harus menyalakan api Injil dalam gereja lokal. Harus menurut waktunya menambahkan kayu bakar, menurut waktunya mengobarkan api Injil, menurut waktunya mendorong saudara saudari bergerak memberitakan Injil. Ketika Anda masuk dalam satu gereja lokal, tidaklah benar jika Anda hanya melihat saudara saudari merasa tertarik dengan perkara rohani saja, tetapi merasa dingin terhadap Injil. Keadaan itu salah. Tidak peduli berapa besar, berapa senior, berapa dalam pengalaman gereja itu, harus ada api Injil, inilah perkara pertama yang harus dipikul oleh para penatua. Gereja harus mempunyai kegairahan memberitakan Injil.
b. Kekuatan
Dalam gereja tidak hanya perlu ada kegairahan memberitakan Injil, juga perlu ada kekuatan Injil. Tentunya hal ini memerlukan para penatua memperhatikan kepenuhan Roh Kudus, perlu di hadapan Tuhan belajar ada pemberesan, ada konsikrasi, dengan iman menerima Roh Kudus yang dibawa datang oleh Tuhan bagi kita melalui kematian, kebangkitan, dan kenaikan ke surga. Dalam hal ini para penatua tidak boleh kendur, harus sering membawa saudara saudari menuntut kepenuhan Roh Kudus. Di satu pihak, kita sangat tidak setuju terhadap apa yang disebut gerakan Pentakosta dalam gereja selama seratus tahun lebih ini, tetapi di pihak yang lain, kita mutlak perlu saudara saudari dalam keadaan yang normal, di depan Allah menerima kekuatan Roh Kudus. Semuanya ini tercakup dalam kepengurusan penatua.
Saya ulangi lagi, saudara-saudara, mengurus gereja sama seperti mengurus rumah tangga. Kalau ibu rumah tangga dari awal bulan sampai akhir bulan sama sekali tidak mengurus rumah, setiap hari hanya makan, tidur, pergi berpelesiran, ini bukan berarti keluarga itu tidak bisa lewat. Akan tetapi, kalau Anda ingin dengan baik mengurusi rumah ini, sejak bangun pagi sampai tidur malam, banyak perkara yang tidak habis dikerjakan. Misalnya, soal pembersihan, Anda melihat ada yang perlu diseka, ada yang perlu disapu, ada yang perlu dicuci. Gereja juga demikian, kalau benar-benar mau mengurus, pekerjaan yang harus ditangani sangatlah banyak.
Orang yang mengurus gereja sama sekali tidak boleh santai, sepertinya tidak ada urusan sedikit pun. Jangan merasa: Minggu pagi ikut sidang pemberitaan firman, malam hari ikut sidang pemecahan roti, Selasa malam sidang doa, Kamis malam pembacaan Alkitab, Sabtu malam persekutuan. Puji Tuhan, dalam satu minggu ada sekian banyak sidang, sudah termasuk baik. Saudara saudari tidak ada yang sakit keras, juga tidak ada yang meninggal dunia, yang terkena putus hubungan kerja juga tidak banyak. Puji syukur kepada Tuhan, di sini seluruhnya hanya ada tiga puluh orang saudara saudari, hampir semuanya bersidang, juga sedikit yang ada masalah, kita sangat baik sekali. Saya beri tahu Anda, Anda bisa tidur nyenyak, tetapi Tuhan tidak. Anda bersidang sudah dua, tiga tahun, masih tetap tiga puluh saudara saudari bersidang; sudah lebih dari satu tahun jumlah saudara saudari tidak bertambah, tidak boleh terus begini. Anda yang menjadi penatua harus menyalakan api penginjilan, Anda tidak bisa tidur nyenyak. Anda perlu tidur agak malam sedikit, bangun agak pagi sedikit, harus berdoa kepada Tuhan, berseru kepada Tuhan, mohon Tuhan memberi gereja kegairahan memberitakan Injil, mendorong saudara saudari satu per satu dalam batin membara. Kalau Anda bisa menyalakan api ini, lihatlah, selanjutnya pasti banyak hal yang perlu dilakukan.
c. Kebenaran
Ketika memberitakan Injil, saudara saudari tidak bisa hanya ada kegairahan dan kekuatan, tetapi tidak ada kebenaran. Para penatua harus mengeluarkan waktu memimpin mereka mengenal kebenaran. Ajarlah mereka supaya mengerti apa itu pertobatan, penebusan, penggantian, kelahiran kembali, pembenaran, Roh Kudus tinggal di dalam roh manusia, membuat manusia menjadi insaf. Ketika saudara saudari bergairah, berkekuatan memberitakan Injil, mereka tidak hanya pergi memberitakan dengan seenaknya, perlu juga ada dasar kebenaran.
d. Menerima Pimpinan
Para penatua masih perlu memimpin saudara saudari menerima pimpinan Tuhan dalam pergerakan pemberitaan Injil. Mereka jangan pergi semuanya sendiri, jangan kerja dengan sia-sia, bukan seperti memukul udara, tetapi mau dan bisa menerima pimpinan Tuhan.
e. Sasaran
Saudara saudari telah bangun memberitakan Injil, bergairah, memiliki kekuatan, kebenaran, dan pimpinan, tetapi harus memberitakan Injil kepada siapa, siapa orang-orang yang sebagai sasarannya, ini masih perlu para penatua yang memimpin. Penatua harus menunjukkan, ada yang dengan keluarga sebagai sasaran, ada yang dengan sekolahan sebagai sasaran. Suruhlah saudara saudari dari sasaran-sasaran ini mencari sasaran pemberitaan Injil. Harus memimpin saudara saudari untuk menjadikan orang-orang yang mereka kenal, tempat mereka tinggal, sebagai sasaran Injil. Kalau Anda sebagai guru, maka sekolah Anda, sekerja Anda, murid Anda, adalah sasaran Injil; kalau Anda membuka pabrik, karyawan dalam pabrik Anda adalah sasaran Injil. Ada lagi, semua famili dan teman seharusnya menjadi sasaran Injil.
f. Tehnik
Para penatua harus memimpin saudara saudari belajar tehnik memberitakan Injil. Kalau saudara saudari tidak bisa memberitakan Injil, dalam hal pemberitaan Injil tidak ada tehnik, ini tidak seperti gereja. Ini sepertinya dalam satu keluarga, ada anak-anak yang tidak bisa masak bubur, bahkan tidak bisa memasak air, ini sangat ganjil sekali. Dalam satu gereja lokal, setelah melewati kepengurusan, pembangunan, dan koordinasi, seharusnya hampir semua saudara saudari bisa memberitakan Injil, dan menguasai tehnik memberitakan Injil.
Sebab itu, para penatua dalam hal ini harus mengeluarkan tenaga untuk mengajar saudara saudari bagaimana memberitakan Injil, bagaimana berdoa untuk orang, bagaimana mengunjungi orang, bagaimana membawa orang datang ke dalam sidang pemberitaan Injil, bagaimana mengajak saudara saudari mengadakan wawancara Injil dengan orang. Semuanya ini masih yang di luar, yang kasar; masih ada yang lembut, yang batini, seperti bagaimana berkontak dengan orang, dalam wawancara Injil bagaimana menjamah perasaan orang, bagaimana menggerakkan hati orang, bagaimana mengerti pikiran orang, bagaimana membuka akal rohani orang, bagaimana membawa orang berdoa; dalam kesempatan apa perlu berdebat, perlu menyerang, dia tidak mau berdebat, tetapi Anda perlu mendebat, sampai taraf apa sudah tidak seharusnya berdebat; sampai kapan perlu memakai firman Alkitab, sampai kapan perlu menyuruh dia mengaku dosa, sampai kapan perlu menyuruh dia berdoa, kesemuanya ini ada tehniknya.
g. Sarana
Enam butir di atas masih kurang, perlu mempersiapkan sarana pemberitaan Injil. Harus mempersiapkan berbagai macam Alkitab: yang besar, yang kecil, Perjanjian Lama dan Baru, Perjanjian Baru, traktat Injil; ada yang mahal, ada yang murah, semuanya ini perlu dipersiapkan sebelum pemberitaan Injil. Untuk memberitakan Injil, perlu mempersiapkan Alkitab. Sangat disayangkan, ada gereja, ketika ada orang ingin membeli Alkitab, pewajib gereja berkata, “Belilah di Lembaga Alkitab!” Perkataan ini kelihatan enak didengar, tetapi ini membuktikan bahwa gereja ini bermasalah dalam pemberitaan Injilnya.
Selain Alkitab, masih ada traktat Injil, buku kecil tentang berita Injil, cerita Injil, kesaksian Injil, slogan Injil, semuanya ini adalah sarana pemberitaan Injil yang harus dipersiapkan dalam pemberitaan Injil.
h. Tujuan
Sebenarnya untuk apa kita memberitakan Injil? Tujuan Injil kita di mana? Hal ini perlu tergarap ke dalam setiap saudara saudari. Beri tahu saudara saudari yang memberitakan Injil bahwa tujuan Injil adalah supaya orang mendapatkan hayat Tuhan, supaya roh orang hidup, supaya roh dilahirkan kembali, supaya orang mendapatkan Tuhan sebagai hayatnya.
Injil kita tidak seharusnya hanya mendapatkan beberapa orang yang hanya beroleh selamat, yang tidak jelas tentang hayat. Kelihatannya telah percaya Yesus, telah mendapatkan pengampunan dosa, tetapi di dalamnya sepertinya belum dilahirkan kembali. Perkataan ini kelihatannya tidak sesuai dengan kebenaran, tidak ada orang yang telah beroleh selamat yang di dalamnya belum dilahirkan kembali; tetapi dilihat dari keadaan yang nyata, ada orang yang keadaannya benar-benar demikian. Ada beberapa orang yang percaya Tuhan Yesus, sudah berdoa mengaku dosa, juga berkata bahwa dosanya telah diampuni, telah beroleh selamat, tetapi bagaimanapun Anda menjamah dia, Anda tidak dapat menemukan bahwa di dalamnya hidup. Ini dikarenakan ketika kita memberitakan Injil, tidak baik-baik memperhatikan tujuan Injil. Pemberitaan Injil tidak saja membawa orang mendapatkan pengampunan dosa, juga perlu membawa orang mendapatkan hayat Tuhan, supaya batin orang itu hidup.
i. Aktivitas
Ketika para penatua telah melatih baik kesemuanya ini, selanjutnya perlu mengembangkan aktivitas pergerakan Injil, perlu mengadakan sidang Injil di balai sidang, perlu pergi memberitakan Injil ke rumah saudara saudari, perlu mengadakan aktivitas di jalan, juga perlu setiap hari membawa traktat Injil, membagi-bagikannya di stasiun kereta api, di terminal bus, di atas bus, di atas kereta api, inilah aktivitas Injil.
j. Penuaian
Setelah tanaman matang, pasti dituai; setelah Injil diberitakan, juga perlu membawa masuk orang ke dalam gereja, ini juga ada seluk-beluknya. Saya hanya bisa menunjukkan bahwa pemberitaan Injil perlu ada penuaian.
k. Koordinasi
Pemberitaan Injil harus berkoordinasi, ada yang memberitakan firman, ada yang memimpin nyanyian, ada yang menjadi penyambut sidang, ada yang menemani duduk, ada yang membagi selebaran. Orang-orang ini perlu dipimpin oleh penatua; penatua mengkoordinasikan mereka.
l. Berdoa
Terakhir, perlu membawa saudara saudari berdoa untuk hal-hal di depan ini; berdoa untuk kegairahan memberitakan Injil, berdoa untuk kekuatan Injil, berdoa untuk kebenaran Injil, berdoa untuk pimpinan pemberitaan Injil, berdoa untuk sasaran Injil, berdoa untuk sarana pemberitaan Injil, berdoa untuk setiap Alkitab, mohon Tuhan memberkatinya, juga mohon Tuhan memberkati setiap traktat Injil.
Saya benar-benar merasakan bahwa cita rasa dalam sidang doa kita terlalu tawar, karena sasarannya tidak khusus. Adakalanya tidak perlu berdoa untuk begitu banyak urusan, mintalah saudara saudari khusus berdoa untuk sasaran Injil, demikian sudah cukup. Di sini ada sekolahan, ada pabrik, ada penjara, ada saudara saudari yang bekerja di dalamnya, perlu secara khusus berdoa untuk sasaran-sasaran Injil ini. Demikian, Anda akan merasakan sidang doa menjadi hidup. Sidang doa ada bobotnya. Kesemuanya ini adalah perkara dalam kepengurusan penatua. Penatua adalah orang yang mengurus, sebab itu perlu seperti orang yang berdagang, perlu ada ide-ide. Kalau dalam hal ini Anda mau berusaha, setiap butir ada yang perlu dipelajari. Saya hanya menyinggung sedikit saja.
Yang lain masih ada mimbar Injil, nyanyian Injil, wawancara Injil, penjengukan Injil, empat butir besar ini juga sangat penting. Kesemuanya ini menuntut para penatua mempunyai banyak kemampuan. Sebab itu kita berkata, tidak ada seorang pun yang bisa sendirian menjadi penatua, perlu semua berkoordinasi. Di antara penatua seharusnya ada orang yang memberitakan Injil, melatih saudara-saudara menyampaikan berita Injil, memimpin nyanyian Injil, melakukan wawancara Injil, dan penjengukan Injil, kesemuanya ini termasuk dalam memimpin melakukan pemberitaan Injil. Ketika penatua mengurus gereja, begitu mengkoordinasikan saudara saudari, arah pertama adalah pemberitaan Injil.
2. Pembinaan
Pembinaan lebih merepotkan daripada pemberitaan Injil. Tidak ada orang yang bisa berkata bahwa dalam hal ini ia sudah mahir, sudah lulus. Kita baru masuk, pelajaran yang harus dipelajari terlalu banyak. Hanya selukbeluk empat tingkat hayat rohani saja sudah memerlukan banyak pimpinan. Mengenai aspek pembinaan, butir yang harus kita bahas sangatlah banyak.
a. Pembinaan Dasar
Seorang saudara atau saudari beroleh selamat, dibaptis; gereja perlu memberinya pembinaan dasar, supaya dia mengetahui beberapa hal untuk orang yang baru masuk. Kesemuanya ini perlu para penatua yang melakukan sendiri, tidak bisa menunggu pekerja yang melakukan. Sama seperti anak-anak dalam rumah Anda, perlu Anda memasak untuknya, perlu Anda mengurusi pakaiannya. Anda tidak bisa terus mengharapkan restoran memasak bagi Anda, atau toko pakaian yang mengurusi pakaian Anda. Demikian juga para penatua perlu turun tangan memimpin pembinaan dasar ini.
b. Konsikrasi (Persembahan)
Para penatua juga perlu memimpin orang yang baru beroleh selamat melewati pos konsikrasi. Kalau dalam gereja di mana Anda berada banyak saudara saudari yang belum pernah berkonsikrasi, ini membuktikan gereja Anda belum banyak diurus. Gereja yang pernah dipimpin, melewati pembinaan, saudara saudari yang ada di dalamnya pasti banyak yang pernah berkonsikrasi di depan Allah. Tentunya ini bukan satu hal yang mudah, ini perlu banyak doa, perlu Roh Kudus bisa mendapatkan kesempatan bergerak di dalam hati saudara saudari. Lagi pula konsikrasi saudara saudari tidak saja perlu tulus, juga perlu sebagai suatu yang terus hidup di dalam Roh Kudus. Coba para penatua bayangkan, untuk memimpin saudara saudari benar-benar melewati pos konsikrasi, entah harus mengerjakan berapa banyak pekerjaan.
Saya ulangi lagi, gereja perlu diurus, tidak perlu khotbah-khotbah dari pengkhotbah yang ternama. Hari ini Anda mengundang seseorang untuk berkhotbah, minggu depan mengundang pengkhotbah lain untuk berkhotbah, satu minggu lagi mengundang orang lain lagi; yang ini datang memberitakan Kitab Kejadian, semua yang mendengar merasa bagus; yang itu datang memberitakan Kitab Wahyu, orang-orang juga merasa baik; satu lagi datang menceritakan Kitab Daniel, datang lagi memberitakan Mazmur, semua enak didengar, tetapi saudara saudari dikorbankan. Saudara saudari ini, dari awal tahun sampai akhir tahun, hanya mendengarkan khotbah yang baik, tetapi diri mereka sama sekali tidak ada perubahan. Para penatua mengurus gereja seharusnya seperti orang tua mendidik anak. Sekarang anak-anak sudah waktunya sekolah Taman Kanakkanak, jangan mengundang profesor perguruan tinggi mengajarnya. Di sini saya tidak perlu pengetahuan yang tinggi, saya hanya perlu guru Taman Kanak-kanak, mengajar mereka dengan jari menghitung angka. Mungkin lewat dua tiga tahun lagi, saya perlu guru Sekolah Dasar; setelah lulus Sekolah Dasar, saya perlu guru Sekolah Menengah. Saya tidak sembarangan mengundang Doktor yang ternama datang berpidato. Para Doktor bercerita dengan penuh daya tarik, tetapi anak-anak sama sekali tidak mengerti, malah merugikan mereka. Coba Anda pikir, kalau saya hari ini mengundang Doktor A, besok mengundang Doktor B, lusa mengundang Doktor C, mereka terus memberi pidato, kita juga tidak menyuruh anak-anak belajar di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Umum; lalu kalau anak-anak ini sudah mencapai umur delapan belas atau dua puluh, bagaimana keadaan mereka? Terpaksa mereka bekerja sebagai penyapu jalan. Yang menjadi orang tua tidak boleh demikian ceroboh, harus mengetahui di mana tingkatan anak-anaknya. Sekarang saudara saudari di sini perlu berkonsikrasi, saya berdoa, saya mencari pimpinan Tuhan, supaya saudara saudari melewati pos konsikrasi, ini barulah mengurus gereja.
c. Persekutuan
Setelah berkonsikrasi, masih perlu memimpin mereka bersekutu dengan Tuhan, memimpin mereka bagaimana belajar berdoa, bagaimana membaca Alkitab. Saya sungguh mengharapkan para penatua bisa mengurus gereja. Misalnya, kehidupan pembacaan Alkitab saudara saudari di sini sangat kurang, mereka tidak bisa membaca Alkitab, juga tidak ada selera membaca Alkitab. Kalau para penatua sendiri juga tidak mengerti bagaimana memimpin mereka, boleh mengundang satu atau dua saudara dari gereja yang berdekatan yang mampu membantu saudara saudari dalam pembacaan Alkitab, khusus datang untuk membantu mereka. Anda boleh mengundang mereka datang delapan atau sepuluh hari, setiap hari membahas bagaimana membaca Alkitab, dan dengan riil membawa saudara saudari membaca Alkitab, inilah pekerjaan yang dapat Anda kerjakan, inilah mengurus gereja.
Misalnya, seorang anak saya bahasa Inggrisnya baik, ilmu pengetahuannya juga baik, tetapi matematikanya tidak baik, lalu saya akan mengundang seorang guru matematika untuk memberi pelajaran tambahan kepadanya; mungkin pelajaran Kimianya jelek, lalu saya mengundang guru kimia memberi pelajaran tambahan tentang kimia. Inilah mengurus rumah. Mengurus gereja juga sama. Anda tidak bisa hanya Minggu siang memberitakan satu khotbah, ini tidak cukup. Para penatua mengurus gereja harus mengetahui sampai di mana taraf saudara saudari, apa kekurangan mereka?
Mungkin Anda berkata, tidakkah hal-hal ini terlalu banyak pekerjaan manusia? Saudara saudari yang terkasih, lihatlah dalam Kejadian 1 dan 2, di satu pihak mengatakan Allah telah menciptakan berbagai macam tumbuh-tumbuhan, di pihak lain juga mengatakan belum ada semak apa pun di bumi, belum timbul tumbuhan apa pun di bumi, karena Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang yang mengusahakan tanah itu. Di sini kita nampak, menurunkan hujan adalah pekerjaan Allah, mengusahakan tanah adalah pekerjaan manusia. Kalau ingin ada hasil dari hayat, perlu pekerjaan manusia bekerja sama dengan pekerjaan Allah.
Kita semua tahu, di Taiwan tanaman padi dalam setahun bisa dituai dua kali; tetapi harus ada orang yang lebih dulu menanamnya. Kalau semua di sini makan bersandar langit, tidak mengusahakan tanah, tidak menanam, juga tidak menyiram, pasti tidak akan menghasilkan apaapa. Karena langit menurunkan hujan adalah anugerah Allah. Seperti tahun lalu hujan lebat terlalu banyak, akhirnya terjadi banjir; tahun ini kekurangan air hujan, terjadi bencana kekeringan; ini adalah urusan Allah, kita harus belajar takut kepada Allah. Tetapi bagaimanapun, diperlukan kerja sama dari pihak manusia. Rasul Paulus berkata bahwa kaum saleh adalah bangunan Allah, ladang Allah. Bangunan perlu dibangun, ladang perlu digarap, Anda tidak seharusnya mengatakan bahwa ini adalah pekerjaan manusia. Orang yang benar-benar mengenal anugerah Allah, barulah orang yang benar-benar rajin; orang yang benar-benar rajin di hadapan Allah, barulah orang yang benar-benar mengenal Allah. Sebab itu, saudara saudari yang terkasih, Anda seharusnya banyak berdoa, banyak menengadah, banyak penanggulangan, sangat rajin, jangan sekali-kali mengira dengan cara demikian mengurus gereja adalah pekerjaan manusia, adalah tangan manusia.
Saya mutlak mengakui, dalam kekristenan yang telah menyimpang sekarang ini tidak banyak doa, tidak banyak penanggulangan di hadapan Allah, juga tidak bersandar kepada Allah, hanya bersandarkan organisasi luaran, kongres luaran, aktivitas luaran, tentunya itu terlalu banyak unsur pekerjaan manusia. Tetapi hari ini kita belajar hidup di hadapan Allah, ada penanggulangan, ada persekutuan, ada penengadahan, ini tidak bisa menggantikan pekerjaan luaran yang seharusnya dikerjakan. Langit menurunkan hujan tidak bisa menggantikan orang menggarap tanah. Anda harus berjerih lelah, rajin mengurus, membawa keadaan saudara saudari ke hadapan Allah, baik-baik melihatnya, jangan menempuh jalan yang mudah. Anda harus mempunyai satu sasaran untuk membina mereka, membawa mereka berkonsikrasi, belajar bersekutu dengan Tuhan, melatih bagaimana berdoa, bagaimana membaca Alkitab, ini barulah kepengurusan yang sejati.
d. Mengalami Salib
Para penatua masih perlu membawa saudara saudari mengalami salib; perlu membawa saudara saudari nampak, manusia lama kita telah diakhiri di atas salib, nafsu kita, darah daging kita, temperamen kita, watak kita, ambisi kita, sudah diakhiri di atas salib. Di mana saja bisa ada nafsu, tetapi di dalam gereja tidak bisa, karena orang yang di dalam gereja, satu per satu sudah tersalib. Di mana saja bisa ada ambisi, tetapi di dalam gereja, hati tidak berambisi, tekad tidak bisa besar, karena orang-orangnya sudah menjadi abu, sudah diakhiri di atas salib. Dalam organisasi masyarakat apa pun boleh berebutan nama dan keuntungan, berebutan kedudukan, tetapi dalam gereja orang-orangnya sudah dimakamkan dalam kubur, sudah mati, sudah dikubur. Di sini tidak ada nama yang diperebutkan, tidak ada kedudukan yang didambakan. Harus membawa saudara saudari menerima salib. Tentunya ini adalah satu pelajaran yang lebih dalam.
Koordinasi gereja adalah dengan hal-hal ini sebagai arah. Ketika Anda memimpin saudara saudari, Anda merasakan saudara ini dalam penginjilan paling cocok, bahkan paling baik dia yang memberitakan firman Injil, lalu Anda perlu di aspek ini membantu dia, membuka akal rohaninya, mendorongnya, menggenapinya, memberi dia kesempatan berlatih. Mungkin Anda terhadap pemberitaan firman Injil tidak begitu mahir, Anda boleh memperkenalkan dia banyak berhubungan dengan saudara-saudara yang mahir dalam hal ini. Di sini Anda dapat menghasilkan orang yang bisa menyampaikan firman Injil.
Sering kali orang yang mengurus belum tentu bisa melakukan sendiri, tetapi dia bisa mengundang orang lain yang mampu untuk membantunya, inilah kepengurusan gereja. Ibu mendidik anak belum tentu bisa mengajar bahasa Inggris, pelajaran kimia, tetapi ibu mengetahui anakanak perlu bahasa Inggris, perlu pelajaran Kimia, lalu dia mengundang guru yang cocok untuk membantunya mengajar anak-anaknya. Mengurus gereja juga demikian.
Seluk-beluk koordinasi dititikberatkan pada membawa saudara saudari ke dalam koordinasi; arah koordinasi berarti ketika Anda membawa saudara saudari berkoordinasi, harus ada arahnya. Ada orang Anda bawa ke dalam pelayanan Injil, ada orang Anda bawa ke dalam pelayanan pembinaan. Misalnya, ada seorang saudara pernah belajar pelajaran salib, Anda yang mengurus gereja ini, ketika ingin membawanya masuk ke dalam pelayanan, Anda seharusnya membawa dia ke arah pelayanan pembinaan, membawa dia ke dalam pelayanan pembinaan, supaya dia belajar menerima beban ini, bertanggung jawab membawa saudara saudari menerima peremukan salib. Karena Anda adalah penatua, kekuasaan gereja ada di tangan Anda, Anda memberi dia kesempatan, memberi dia kedudukan, demikian menggenapkan dia. Akhirnya saudara ini sering berdiri bersaksi di dalam gereja, menyampaikan berita menerima salib, setelah tiga, lima bulan, banyak saudara saudari telah belajar menerima salib. Inilah arah koordinasi yang saya bicarakan.
Misalnya lagi, ada saudari dalam hal bersekutu dengan Tuhan telah belajar dengan baik, para penatua seharusnya sekuatnya mengadakan sidang, supaya saudari ini bisa dalam koordinasi menyatakan fungsinya, menurut arah pembinaan terus maju. Akhirnya saudara-saudara pun dalam persekutuan bisa mendapatkan bantuan dari saudara yang demikian. Karena di sini ada satu anggota Tubuh yang mempunyai sedikit keistimewaan, para penatua seharusnya dalam hal ini ada kepengurusan, baik-baik memanfaatkan keistimewaan ini. Saya percaya, dengan berkata demikian, saudara saudari seharusnya bisa memahaminya.
Kalau dari sini diteruskan lagi, itu sangat banyak. Saya harap saudara-saudara yang menjadi penatua memiliki kesan, mengurus gereja tidak ada teori yang terlalu tinggi, seluk-beluknya sepenuhnya berada dalam pelaksanaan. Kalau para penatua tidak berbuat demikian, dengan sendirinya tidak ada banyak perkara yang akan dikerjakan, paling banyak mengumumkan jadwal sidang yang rutin, memutuskan siapa yang memimpin sidang. Menjadi penatua secara demikian adalah terlalu ringan, sungguh sayang memberikan sebutan penatua kepada saudara yang demikian. Para penatua mempunyai banyak pekerjaan riil yang harus dikerjakan.
Misalnya, di gereja di tempat Anda ada saudara saudari yang biasanya dingin, dalam pekerjaan Injil sama sekali tidak ada gairah. Anda harus menggarapnya, menyalakan api Injil. Segera Anda akan nampak, di sini ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Misalnya lagi, di sini ada ratusan saudara saudari, tetapi ada berapa orang yang membaca Alkitab? Hanya beberapa gelintir saja. Banyak saudara saudari tidak memiliki kehidupan membaca Alkitab, tidak ada selera membaca Alkitab, tidak ada terang dalam pembacaan Alkitab. Lalu bagaimana? Para penatua harus berkumpul bersama beberapa jam di hadapan Allah, mohon Allah merahmati gereja, membuka firman-Nya kepada gereja; juga mohon Tuhan memberi satu selera terhadap firman Tuhan, suka firman Tuhan, damba firman Tuhan. Kalau Anda berbuat demikian, Anda akan nampak penatua mempunyai banyak pekerjaan, bahkan perlu banyak perhatian, perlu banyak tenaga. Tetapi saya memberi tahu saudara saudari, berbuat demikian sangatlah berharga, ini adalah pekerjaan yang sangat mulia.
Ada orang mengurus rumahnya, merawat tiga, lima anak, dari bayi sampai Taman Kanak-kanak, dari Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Dasar, dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi; sebagai orang tua, melihat ini, mereka sangat gembira. Saudara saudari, coba pikirkan, dalam rumah Allah ada berapa banyak anak! Tanggung jawab kepengurusan, penggembalaan, dan pendidikan ini sekarang diserahkan ke atas diri Anda, ini adalah satu hal yang mulia, kapan saja ketika Anda nampak anak-anak Allah bertumbuh besar, hidup di depan Allah, Anda akan merasa sangat manis! Tidak heran rasul Paulus berkata, “Sebab siapa pengharapan kami atau sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu? Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan sukacita kami” (1 Tes. 2:19-20). Rasul Petrus juga berkata, “Apabila Gembala Agung datang, maka kamu (penatua yang menjadi gembala) akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu” (1 Ptr. 5:4). Ini adalah satu perkara yang sangat mulia!
Saudara-saudara, inilah jalan mengurus gereja. Jangan mengharapkan kata-kata yang muluk-muluk, membicarakan teori yang terlalu tinggi. Saya hanya memberi sedikit umpan untuk memancing keluar hal-hal yang lebih baik. Kalau saudara-saudara mau menerima sedikit bantuan, begitu melaksanakan, akan menemukan di sini ada banyak kelimpahan, Anda sendiri akan mendapatkan banyak pelajaran yang riil. Setelah Anda belajar, ada pengalaman yang riil, Anda tidak hanya bisa memberi suplai yang riil kepada saudara saudari, bahkan bisa mempunyai satu daya pembeda. Saya benar-benar mengharapkan saudara-saudara bisa menerima sedikit pendapat ini, dalam hari-hari selanjutnya, dalam setiap gereja lokal, menempuh jalan kepengurusan gereja ini. Saya tahu gereja perlu kepengurusan yang demikian. Di mana ada kepengurusan semacam ini, gereja baru berjalan di atas rel, baru bisa dalam zaman ini memenuhi keperluan Allah yang sesungguhnya. Saudara saudari yang terkasih, jalan pembangunan gereja yang kita bicarakan itu adalah demikian.