KOORDINASI PENATUA
Dalam bab bagaimana menjadi kekuasaan, kita pernah berkata bahwa menjadi kekuasaan perlu berada dalam koordinasi. Sebab itu koordinasi penatua berhubungan erat dengan penatua menjadi kekuasaan. Penatua gereja lokal mana pun, kalau tidak ada koordinasi, tidak peduli berapa kuat para penatua itu, tidak akan ada gunanya. Sebaliknya, asal ada koordinasi, meskipun para penatua itu agak lemah, tetap bisa maju. Kuat tetapi tidak ada koordinasi, tidak berguna; lemah tetapi ada koordinasi, masih bisa maju. Sebab itu di sini kita nampak bahwa koordinasi penatua sangatlah penting.
I. KEJAMAKAN PENATUA
Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa penatua di setiap gereja adalah jamak. Dalam gereja tidak bisa hanya ada satu penatua. Kalau dalam satu gereja lokal hanya ada satu penatua, itu keadaan tidak normal dan sepenuhnya tidak sesuai dengan Alkitab. Tidak peduli gereja itu kecil dan muda, perlu ada dua atau tiga orang yang menjadi penatua. Untuk berkoordinasi, penatua perlu jamak. Kalau satu orang bisa berbuat apa saja, bisa memikul apa saja, bisa menghadapi apa saja, itu sama dengan main sandiwara dengan pemain tunggal. Tetapi, penatua mengurus gereja bukan sandiwara pemain tunggal, melainkan semua bersama bermain dalam satu pertunjukan, sebab itu penatua harus berkoordinasi. Begitu penatua kehilangan koordinasi, hampir semuanya menjadi tidak ada nilainya. Nilai penatua terdapat pada koordinasi. Sebab itu, penatua harus jamak.
II. MINIATUR TUBUH
Gereja adalah Tubuh Kristus. Satu gereja lokal adalah perwujudan Tubuh Kristus di tempat itu. Penatua dalam gereja lokal adalah satu miniatur perwujudan Tubuh itu. Kalau penatua berkoordinasi menjadi satu, jadilah bentuk Tubuh yang paling mini, juga satu miniatur Tubuh Kristus.
Dalam zaman ini, keperluan Allah yang paling besar adalah gereja terbangun. Kalau tidak ada pembangunan, boleh dikatakan tidak ada gereja. Melalui penyusunan kelompok dalam Kitab Bilangan, kita nampak betapa perlunya gereja berada dalam pembangunan. Dan dalam pembangunan, para penatua menduduki satu posisi yang sangat khusus. Kalau dalam gereja tidak ada penatua, jangankan tentang pembangunan, untuk menjadi satu gereja saja sudah sangat sulit. Kalau tidak ada penatua, tidak bisa berbicara tentang pembangunan.
Tetapi, supaya gereja terbangun, yang harus terbangun lebih dulu adalah para penatua. Kalau para penatua tidak bisa terbangun, bagaimana gereja bisa terbangun? Pembangunan gereja adalah koordinasi semua orang beriman. Kalau para penatua gereja tidak bisa berkoordinasi, bagaimana bisa mengkoordinir semua saudara saudari? Sebab itu, pembangunan gereja, koordinasi gereja, sepenuhnya berada di tangan para penatua, juga bertumpu pada diri para penatua. Tidak saja demikian, pembangunan gereja juga dengan para penatua sebagai pemulai, sebagai contoh. Kalau di atas diri para penatua tidak bisa ada pembangunan, tidak ada koordinasi yang sesungguhnya, maka koordinasi dan pembangunan gereja pasti tidak ada permulaan, tidak ada yang memulai, dan tidak bisa terwujud. Sebab itu, supaya gereja bisa terbangun, para penatua harus menjadi model koordinasi, menjadi teladan koordinasi. Dan model ini, teladan ini, adalah pemulai gereja lokal. Hanya dengan demikian, beberapa penatua ini baru bisa dengan riil membangun, mengkoordinir semua saudara saudari. Mereka bisa melakukan pekerjaan ini, karena ada satu model telah terwujud pada diri mereka. Demikian, dengan sendirinya mereka bisa membawa kaum saleh bersama-sama menempuh jalan koordinasi membangun.
Jadi, kita nampak kehendak Allah ada pada gereja, gereja sepenuhnya tergantung pada koordinasi dan pembangunan, dan koordinasi serta pembangunan gereja sepenuhnya terkait pada diri para penatua. Penatua adalah miniatur terkecil gereja yang sebagai Tubuh ini, kalau para penatua tidak bisa berkoordinasi dan terbangun, maka koordinasi dan pembangunan gereja sama sekali tidak ada jalan.
III. PERLU MEMILIKI BERBAGAI KEMAMPUAN
Kalau para penatua hanya memiliki sedikit kemampuan, itu tidak cukup; kalau hanya mempunyai satu aspek kemampuan, itu tidak cukup; para penatua perlu memiliki berbagai kemampuan. Para penatua perlu mampu berpikir, mampu berinisiatif, mampu melihat, mampu memperkirakan, mampu melakukan. Para penatua perlu mampu berjaga-jaga, mampu melawan?, juga perlu mampu membangun, benar-benar perlu mempunyai berbagai kemampuan dan keterampilan. Di sini banyak saudara-saudara yang pernah menangani perkara menjadi penatua, sering kali pasti merasakan tidak cukup menghadapi berbagai aspek keperluan gereja. Ada perkara yang harus kita lihat atau temukan, tetapi tidak kita temukan; ada perkara yang seharusnya kita pikirkan, tetapi tidak juga kita pikirkan; ada perkara yang harus kita jaga, tetapi karena ceroboh kita tidak berjaga-jaga; ada perkara yang seharusnya kita ketengahkan, tetapi malah kita abaikan. Ada perkara yang seharusnya kita kerjakan, tetapi kehilangan kesempatan; ada perkara yang seharusnya kita bicarakan, tetapi tidak kita bicarakan; ada perkara yang seharusnya kita tangani, tetapi kita tidak mengerti harus bagaimana menanganinya. Banyak perkara yang seharusnya kita bereskan, seharusnya kita bantu, seharusnya kita pimpin, tetapi kita tidak mengerti harus bagaimana melakukannya. Kita jelas-jelas tahu harus membaca sedikit Alkitab, tetapi kita tidak bisa; kita sudah jelas merasakan harus memberitakan Injil, tetapi kita tidak tahu harus bagaimana memberitakannya. Dalam pengalaman kita, sungguh-sungguh menemukan penatua perlu mempunyai berbagai kemampuan, namun dalam banyak hal kita tidak mampu mengatasi tuntutan keperluan. Sebab itu, di sini kita nampak, para penatua harus berkoordinasi, karena tidak ada satu orang pun yang mampu dalam segala bidang.
Anggota Tubuh bukan mampu dalam segalanya, tetapi Tubuh baru mampu dalam segalanya. Mata hanya bisa melihat, telinga hanya bisa mendengar, tangan hanya bisa bekerja, kaki hanya bisa berjalan, satu anggota Tubuh tidak mungkin mampu dalam segalanya. Saudara saudari siapa saja, karunia di atas dirinya hanya itu saja, tidak bisa setiap aspeknya semua hebat. Rasul Paulus juga mengakui bahwa dia tidak bisa melakukan pekerjaan yang dilakukan Petrus, tidak bisa melakukan pekerjaan yang dilakukan Yakobus, juga tidak bisa melakukan pekerjaan yang dilakukan Yohanes. Meskipun Paulus adalah rasul yang mempunyai banyak keistimewaan, rasul yang mempunyai banyak macam karunia, tetapi selain keistimewaan yang ia miliki, perkara yang lain sangat terbatas. Dia tidak bisa mengambil alih keistimewaan Petrus, juga tidak bisa mengambil alih keistimewaan Yohanes.
Kalau para penatua dalam gereja nampak bahwa penatua perlu mampu dalam berbagai hal, mereka segera nampak perlunya koordinasi. Anda tidak mampu seorang diri mengatasi sekian banyak keperluan gereja, mungkin Anda bisa mengatur urusan, tetapi Anda tidak bisa mengerjakan sendiri semua urusan itu; mungkin Anda bisa mengerjakannya, tetapi Anda tidak bisa menangani perkara yang umum. Mungkin Anda di aspek penggembalaan mempunyai keistimewaan, tetapi dalam hal pekerjaan umum Anda sangat lemah; mungkin Anda dalam pekerjaan umum mempunyai kemampuan yang luar biasa, tetapi dalam suplai hayat Anda tidak cukup. Sebab itu Anda bisa melihat, tidak ada satu penatua yang bisa menghadapi setiap aspek keperluan gereja; untuk mengatasi semua aspek, para penatua perlu berkoordinasi.
Ada satu hal yang patut disayangkan, meskipun adakalanya para penatua bersama-sama menjadi penatua, tetapi tidak merasakan bahwa adanya berbagai kemampuan itu berasal dari berkoordinasi. Kalau kita nampak kegunaan anggota Tubuh itu berbeda-beda, kita harus mengakui karunia para penatua juga berbeda-beda. Pasti ada yang menjadi tangan, ada yang menjadi kaki, ada yang menjadi mata, ada yang menjadi mulut. Misalnya, Anda tidak bisa mengharapkan setiap penatua mempunyai daya pembeda, ada penatua yang perlu orang lain menjadi daya pembedanya. Ada juga penatua yang daya pembedanya sangat kuat, tetapi tidak gairah, dia perlu kegairahan orang lain. Sering orang yang hatinya gairah, matanya buta; orang yang matanya terang, hatinya dingin. Orang yang melihat semakin jelas, hatinya semakin dingin; semakin mengasihi dengan berapi-api, semakin ceroboh. Sebab itu semua perlu berkoordinasi. Orang yang matanya terang perlu orang lain menjadi hatinya, orang yang hatinya terlalu berapi-api, perlu orang lain menjadi matanya.
Misalnya, Anda merasakan seorang saudara sangat menyenangkan, janganlah mengasihinya dengan ceroboh, sebaiknya Anda lebih dulu membawanya dalam persekutuan penatua, biar orang yang memiliki daya pembeda membedakan untuk Anda. Kalau Anda menerima koordinasinya, maka Anda juga akan mempunyai daya pembeda ini. Begitu juga, kalau Anda mempunyai daya pembeda, jangan langsung memakainya, kalau tidak, yang Anda keluarkan itu pedang atau pisau. Karena Anda terlalu jelas, perlu orang lain berkoordinasi dengan Anda. Anda menjadi daya pembeda orang lain, orang lain menjadi mulut Anda. Mungkin ada satu berita yang harus disampaikan, tetapi Anda tidak bisa membicarakannya, karena Anda tidak mempunyai karunia sebagai penyampai firman. Anda hanya mempunyai daya pembeda, Anda tidak dapat sebagai penyambung lidah, lalu Anda boleh dalam persekutuan memberitahukan perasaan Anda kepada para penatua, biar orang yang menjadi penyampai firman di antara penatua menerima koordinasi Anda. Ketika dia menyampaikan berita itu, Anda akan merasakan bahwa ini bukan hanya dia seorang diri yang berbicara di sana, melainkan para penatua berkoordinasi mengutarakannya. Dalam penyampaian firman ini, membawa daya pembeda, juga membawa kegairahan dalam kasih. Persekutuan penatua ini, di luaran kelihatannya dia yang menyampaikan firman, sebenarnya adalah hasil dari persekutuan para penatua. Dalam persekutuan ini, ada daya pembeda, ada kegairahan, juga ada terang dan pengalaman rohani. Ini adalah satu pemberitaan, tetapi di dalamnya mencakup koordinasi berbagai kemampuan.
Saudara-saudara, saya benar-benar mengharapkan penatua di setiap tempat bisa menyatakan berbagai kemampuan dengan cara yang demikian. Kalau ingin memiliki berbagai kemampuan, harus berkoordinasi. Anda tidak bisa terus bersandarkan diri Anda sendiri, merasa bahwa Anda bisa berbicara, Anda mempunyai pandangan, Anda mempunyai kasih. Saya tidak percaya, juga mengharapkan Anda jangan percaya. Anda mungkin hanya mempunyai pandangan, tetapi kasih Anda tidak cukup. Anda mungkin hanya memiliki kasih, tetapi pandangan Anda kurang tajam. Meskipun Anda memiliki semuanya ini, mulut Anda masih tidak mampu. Anda jangan terlalu percaya diri. Para penatua harus bersekutu bersama, mempersekutukan kasih Anda, mempersekutukan pandangan Anda, mempersekutukan terang persekutuan hayat Anda, juga ada orang yang mempersekutukan pengalaman, kemudian disampaikan oleh satu dua penatua yang menjadi penyampai firman, penyampaian ini barulah mencakup semua kemampuan. Saya percaya saudara saudari bisa nampak, koordinasi yang demikian ini betapa limpah, kuat, dan indah. Karena para penatua perlu memiliki berbagai kemampuan, maka para penatua harus berkoordinasi.
IV. BERBAGAI KARUNIA
Satu gereja seperti satu keluarga, tidak saja perlu memiliki berbagai kemampuan, juga perlu memiliki berbagai karunia. Saudari yang menjadi ibu rumah tangga mengetahui berapa banyak keperluan satu keluarga. Yang menjadi orang tua harus bisa mengerjakan perkara apa saja dalam keluarga. Harus bisa masak, menjahit, mencuci baju, menggosok baju, menata rumah, mengajar pelajaran anak, menulis surat, mengirim telegram; bukan itu saja, perlu juga menjadi dokter, juru rawat, pekerja kasar. Adakalanya, kalau dalam rumah perlu ditanam sedikit tanaman bunga, Anda perlu menjadi tukang kebun; kalau jendela rusak, Anda perlu menjadi tukang kayu; kalau lampu tidak nyala, sekringnya putus, pergi mencari tukang listrik tidak ada, Anda perlu menjadi tukang listrik. Dalam satu keluarga ada banyak perkara yang tidak bisa selalu bersandar pada tukang, dalam sehari-hari kita perlu mengerjakannya sendiri. Begitu juga para penatua tidak bisa terus bersandar pada orang yang disebut rasul, atau pekerja yang mempunyai karunia khusus mengerjakan segalanya. Mungkin dalam tiga atau lima tahun tidak pernah ada rasul yang datang, segalanya harus dikerjakan oleh penatua sendiri. Penatua harus memimpin saudara saudari membaca Alkitab, membawa mereka mempunyai penuntutan rohani, membawa mereka belajar berdoa, membawa mereka di depan Tuhan ada pemberesan, membawa mereka belajar bagaimana berkoordinasi, bersama-sama melayani, bagaimana dari satu rumah ke rumah lain membuka pintu Injil, kesemuanya ini adalah pekerjaan yang harus dikerjakan oleh penatua. Adakalanya masih ada pengaturan pekerjaan umum. Dalam hal ini ada yang menyangkut kecakapan, ada yang menyangkut karunia.
Saudara yang menjadi penatua di tengah-tengah kita ada yang juga menjadi pelayan firman, tetapi tidak mempunyai karunia mengurus. Saudara semacam ini harus selalu menyadari bahwa dirinya telah mendapatkan keuntungan dari terang atau kemampuan orang lain. Orang lain membangun satu kerangka bagi dia, lalu dia menumpang pada kerangka itu, demikian baru bisa mengerjakan sedikit pekerjaan, bagian ministri firmannya itu baru bisa sedikit berguna. Tetapi saya khawatir, saudara-saudara semacam ini tidak mempunyai perasaan yang demikian. Mungkin dia masih merasa bahwa ministri firmanya telah mencakup segala-galanya. Siapa tahu, ketika ministri orang lain disisihkan, keadaan aslinya muncul, barulah dia nampak bahwa segala miliknya melayang di udara, kalau tidak ditunjang dengan kerangka, tidak bisa berdiri sendiri.
Di samping itu, orang yang bisa mengurus juga harus nampak bahwa kepengurusan itu juga hanyalah satu kerangka saja, hanya suatu pengaturan saja, hanya sedikit garis yang diletakkan di sana, Anda kekurangan minyak urapan yang hidup, Anda kekurangan firman yang kaya. Kesemuanya ini membuat kita di hadapan Tuhan melihat bahwa karunia itu mempunyai banyak macam. Setiap orang yang menjadi penatua dalam gereja harus mengetahui apa bagiannya itu, juga harus menghormati bagian orang lain. Demikian, di tengah-tengah para penatua baru bisa terwujud banyak macam karunia, ini adalah satu perkara yang indah!
Ada saudara begitu buka mulut adalah Injil, ada saudara begitu buka mulut adalah pembinaan, orang lain tidak mampu begitu, karena itu adalah karunia saudara tersebut. Ada orang hampir tidak pernah membuka mulut, tetapi dia bisa mengontak orang. (Tentunya kontak ini bukan dengan cara manusia menarik orang, melainkan dengan persekutuan rohani mengontaki orang). Tidak peduli ada kesulitan apa, begitu saudara ini datang bersekutu, kesulitan itu segera ditelan oleh hayat. Tidak peduli bagaimana lemahnya seseorang, begitu didatangi oleh saudara ini, kelemahannya segera sirna. Tidak peduli ada opini apa pun, begitu didatangi oleh saudara ini, opini segera hilang. Tidak peduli ada kematian yang bagaimana tersebar di tengah-tengah saudara saudari, atau ada berapa banyak isu, kritikan, oleh persekutuan saudara ini, semuanya bisa terbawa lewat. Dia mempunyai kerunia ini. Kalau menyuruh dia berkhotbah, dia tidak bisa, menyuruh dia memberitakan Injil, dia juga tidak bisa, menyuruh dia mengurus gereja, dia juga tidak bisa, tetapi dia mempunyai satu keistimewaan, yaitu pandai bersekutu. Begitu dia bersekutu, bisa menyuplai hayat, bisa menelan maut.
Ada orang yang terhadapnya Anda tidak bisa tidak mengakui, Alkitab di tangannya sangat terang. Tidak peduli kitab yang mana, tidak peduli pasal yang mana, tidak peduli paragraf yang mana, dia selalu bisa membaca dengan teratur dan sangat jelas. Anda sendiri membaca berulang kali, sepertinya makin membaca makin berputarputar di dalam otak, tetapi dia berdiri berbicara tiga atau lima kata, semuanya menjadi jelas. Ini tidak lain karena dia mempunyai karunia pengajar. Tidak perlu sombong, ini adalah masalah karunia. Orang yang mengurus dalam rumah Allah harus nampak bahwa rumah Allah memerlukan berbagai macam karunia.
Hati saya sering bergembira dan bersyukur kepada Tuhan, dalam rumah-Nya banyak orang, juga banyak macam karunia. Banyak hal yang tidak bisa saya lakukan, bisa dilakukan oleh saudara lainnya; banyak perkara yang tidak bisa saya tangani, ada saudara lainnya bisa menanganinya; banyak yang tidak bisa saya suplai, ada saudara lainnya bisa menyuplai; inilah koordinasi. Saudara-saudara yang terkasih, kalau kita makin mengenal semua ini, koordinasi kita baru bisa makin mantap.
Kita seharusnya merasa: Saudara A memberitakan Injil, ada banyak orang beroleh selamat, ini adalah satu hal yang indah; Saudara B berdiri berbicara beberapa patah, semuanya menjadi jelas, ini adalah perkara yang indah; begitu banyak kesulitan, melalui penjengukan dan persekutuan dari beberapa saudara, semuanya menjadi beres, ini adalah perkara yang indah. Bukan yang kulakukan baru terhitung indah, dan kalau dilakukan oleh orang lain tidak terhitung indah. Bukan masalah aku yang melakukan, atau orang lain yang melakukan, melainkan apakah dalam gereja ada perkara-perkara ini. Ada beberapa hal, aku yang melakukan itu indah, orang lain yang melakukan itu lebih indah, inilah koordinasi. Bagianku harus dengan setia kutunaikan, bagian orang lain, aku tidak saja menghormati, juga menganggapnya indah. Aku bisa memuji Tuhan untuk bagian orang lain, meskipun bagian yang paling ringan, aku tidak memandah remeh.
Minggu pagi, saya selalu melihat ada beberapa saudara saudari di balai sidang membersihkan jendela, lantai, dari awal tahun sampai akhir tahun terus demikian, dalam hati saya sungguh merasa indah. Saya rasa pelayanan mereka dalam pandangan Allah mungkin lebih indah daripada saya menjadi ministri firman di atas mimbar. Saya juga melihat ada saudari-saudari yang tua, dari awal tahun sampai akhir tahun, hampir setiap minggu datang melakukan pembersihan, Tuhan bisa bersaksi bagi saya, dari dalam saya sangat menghormati saudari-saudari yang demikian. Ini adalah satu koordinasi.
Dalam gereja perlu ada berbagai macam karunia, dan miniatur gereja adalah para penatua, sebab itu para penatua perlu memiliki berbagai macam karunia. Dalam keadaan yang normal, karunia saudara saudari seharusnya bisa ditemukan di tengah-tengah para penatua, para penatua adalah orang-orang yang menjadi wakil. Ada orang mewakili pelayanan, ada orang mewakili kepengurusan, ada orang mewakili ministri firman, ada orang mewakili pembinaan pertumbuhan hayat, ada orang mewakili pengajar. Para penatua seharusnya memiliki berbagai macam karunia, di sini mewakili, juga memberi bimbingan. Dengan demikian, berkat dalam gereja baru bisa kaya, banyak kekayaan rohani baru bisa terekspresikan, lagi pula pembangunan gereja baru bisa kukuh, koordinasi baru bisa harmonis.
V. MAKNA KOORDINASI
Bila ingin memiliki berbagai kemampuan, perlu ada koordinasi, bila ingin mempunyai berbagai macam karunia, perlu ada koordinasi. Sering kali terhadap para penatua di beberapa tempat, saya merasa sangat sedih karena tidak menemukan koordinasi di tengah-tengah mereka. Tiga atau lima penatua mengadakan rapat, diskusi, bersama-sama merundingkan masalah, tetapi tidak ada koordinasi. Apa yang disebut koordinasi? Yaitu bagian Anda di sini, bagian saya di sini, bagiannya juga ada di sini. Bagian setiap orang ada di sini dan berkoordinasi menjadi satu. Tetapi ada tempat yang tidak demikian. Keadaan mereka seperti demikian: kalau bagianku tidak bisa seluruhnya dikembangkan, aku sama sekali tidak mau mengeluarkan bagianku. Kalau tidak bisa seratus persen, lebih baik aku menjadi nol. Kalau bukan bagianku, bagian Anda saja yang keluar; kalau bukan bagian Anda, ya bagianku saja; kalau tidak menghendaki aku yang menangani semua, aku tidak mau datang sama sekali. Ini bukan koordinasi. Koordinasi yang sesungguhnya adalah: bagian Anda di sini, bagianku juga di sini, bagian orang lain semua ada di sini.
Saya pernah melihat semacam koordinasi yang terjadi di gereja lokal tertentu, benar-benar adalah Anda di dalam, aku juga ada di dalam; ketika seseorang mengerjakan satu perkara, bagian orang lain juga ada di dalamnya. Tidak ada orang berkata, “Kalau menyuruh aku yang mengerjakan, maka seluruhnya akulah yang mengerjakan; kalau tidak menyuruh aku yang mengerjakan, aku tidak mau tahu sama sekali.” Namun setiap orang berkata bahwa bagian setiap saudara ada di dalamnya. Meskipun hari ini bukan aku yang berbicara, tetapi ketika seorang saudara berbicara, di dalam persekutuannya juga ada penglihatanku, juga ada perasaanku. Meskipun bukan aku yang mengatur, bukan aku yang mengatur distrik ini, atau balai sidang ini, tetapi dalam pengaturan itu ada bagianku, karena ada bagian yang berasal dari pandanganku, usulanku, persekutuanku. Bukan karena balai sidang ini tidak diserahkan kepadaku untuk kuurus, lalu aku sama sekali tidak mau tahu. Tidak bisa berkata bahwa tanggung jawab bagian ini ada di atas diri penatua tertentu, tanggung jawab perumahan itu ada di atas diri penatua yang lainnya. Kita harus nampak, tanggung jawab seluruh gereja ada di atas diri setiap penatua. Sebab itu di sini perlu ada persekutuan, perlu ada koordinasi.
Ketika para penatua bersama-sama membicarakan masalah, sama sekali tidak boleh ada perasaan aku adalah penanggung jawab distrik tertentu, atau aku adalah penanggung jawab balai sidang tertentu. Para penatua seharusnya hanya mempunyai satu perasaan, aku adalah pewajib gereja. Semua penatua seharusnya adalah pewajib gereja, sebab itu kita semua berkoordinasi dan bersekutu di sini. Setelah semua bersekutu sampai tuntas, sudah menjamah perasaan Allah, dan menentukan untuk melaksanakan, tentu bukan semua penatua yang mengerjakan, harus membagi tugas. Ada urusan yang dikerjakan oleh Anda, ada urusan yang dikerjakan oleh dia, ada urusan yang dikerjakan oleh saya. Tetapi tidak peduli siapa yang melakukan, semua dilakukan oleh keseluruhan.
Sangat sayang sekali, ada gereja lokal yang tidak demikian. Ada perkara ketika dikerjakan oleh penatua ini, lalu menjadi tanggung jawab penatua ini. Ketika satu perkara dikerjakan oleh penatua itu, lalu menjadi tanggung jawab penatua itu. Ketika aku yang mengerjakan, menjadi tanggung jawabku; ketika dia yang mengerjakan, menjadi tanggung jawab dia, tidak ada hubungan dengan yang lain. Perasaan yang demikian tidak seharusnya ada. Seharusnya satu penatua berbicara di satu distrik tertentu, berarti seluruh penatua berbicara di sana; satu penatua mengatur di satu balai sidang, berarti seluruh penatua mengatur di sana, karena ini dikerjakan dengan koordinasi. Kalau tidak melalui persekutuan dan koordinasi, tidak ada satu penatua yang berbicara seorang diri, menyelesaikan urusan seorang diri, karena itu akan menjadi bukan penatua jamak. Para penatua bukan tunggal, tetapi jamak. Pergerakan setiap penatua, begitu buka mulut berarti semua ada di sana. Tidak saja masalah perwakilan, tetapi semua ada di sana. Setiap pengumuman juga mewakili seluruh penatua, karena seluruh penatua telah bersekutu tentang hal-hal itu, dan dikerjakan dengan berkoordinsi. Sebab itu para penatua harus berkoordinasi.
VI. JALAN KOORDINASI
Jalan koordinasi penatua ini sangat penting, juga sangat sulit dijelaskan, kita akan membaginya menjadi beberapa butir:
1. Belajar Menerima Kekuasaan
Begitu menyinggung koordinasi, kita harus melihat bahwa koordinasi itu bukan dua dimensi (bidang), tetapi tiga dimensi (bangunan). Tidak peduli barang apa pun, kalau hanya bidang tidak begitu berguna, tetapi begitu menjadi bangunan, sangatlah berguna. Misalnya, sebuah rumah itu bangunan, tubuh juga bangunan. Gereja adalah sebuah rumah, sebab itu harus bangunan. Gereja juga merupakan satu Tubuh, sebab itu juga harus bangunan. Penatua mewakili gereja, sebab itu tidak peduli dipandang dari sudut mana pun, harus bangunan. Kalau di tengah-tengah penatua diterapkan demokrasi, itu adalah satu hal yang sangat gagal. Apa yang disebut demokrasi? Yaitu asal mengikuti persetujuan banyak orang sudah boleh. Sebaliknya, kalau di tengah-tengah penatua diterapkan kekuasaan tunggal (diktator), hanya satu orang yang memberi perintah, ini juga merupakan keadaan dunia. Pemerintahan gereja bukan demokrasi, juga bukan diktator; bukan pendapat semua orang, juga bukan pendapat satu orang; sepenuhnya adalah penyertaan Allah. Penyertaan Allah adalah kekuasaan. Sebab itu harus ada koordinasi, para penatua harus menerima kekuasaan, menerima urutan. Para penatua harus tahu, urutan dirinya di mana. Anda menjadi penatua, di tengah-tengah beberapa penatua ini, harus menemukan kekuasaan Anda. Koordinasi dalam gereja bukan demokrasi, juga bukan diktator, melainkan prinsip Tubuh.
Orang yang menjadi kekuasaan perlu koordinasi orang lain untuk merasakan maksud Allah. Kepala bisa mempunyai perasaan adalah melalui tubuh. Orang yang menjadi kekuasaan bisa menjamah perasaan, sering kali bukan secara langsung, melainkan melalui orang yang bersama berkoordinasi. Orang yang bersama-sama berkoordinasi menjadi penatua, meskipun bukan kekuasaan, tetapi adalah satu organ perasaan. Anda yang menjadi kekuasaan, kalau kekurangan organ perasaan ini, tidak bisa menjamah perasaan Tubuh. Sebab itu di sini kita tidak dapat sombong, kita adalah senasib. Aku bisa menjamah perasaan ini, tetapi aku juga bukan kekuasaan. Aku adalah kekuasaan, tetapi aku tidak bisa menjamah perasaan. Jadi, semua orang harus saling bersandar, menjadi satu nasib.
Keadaan yang normal, ketika sepuluh atau delapan penatua berkumpul, bukan memakai sistem rapat, dengan cara demokrasi menyelesaikan masalah, melainkan dalam Roh Kudus membuka diri, saling bersekutu. Setiap penatua harus belajar takwa kepada Tuhan, hidup di depan Tuhan, mempersekutukan perasaan mereka tentang beberapa hal. Satu atau dua penatua yang menjadi kekuasaan, juga harus belajar takwa kepada Tuhan, tidak subyektif, tidak berat sebelah, baik-baik mendengarkan persekutuan, menjamah perasaan. Di sinilah menjamah maksud Roh Kudus, lalu orang yang menjadi kekuasaan boleh mengambil keputusan, perkara ini harus demikian menyelesaikannya. Dengan demikian hasil ini baru bukan demokrasi, juga bukan diktator, melainkan berasal dari Roh Kudus.
Keadaan dalam Kisah Para Rasul 15, bukan demokrasi, juga bukan diktator, keadaannya seperti yang kita bicarakan di atas. Semua berada di dalam Roh Kudus membuka diri, mempersekutukan apa yang mereka temui, rasakan, dan amati, sampai akhirnya, Yakobus yang menjadi kekuasaan, setelah mendengarkan perkataan-perkataan itu, berdiri berkata, kita harus demikian. Ketika Yakobus berdiri berbicara, yang lain tidak berbicara lagi. Inilah prinsip otoritas.
Orang yang menjadi penatua harus mengenal, sebenarnya kedudukan yang Tuhan berikan kepada Anda itu menjadi kekuasaan, atau menjadi yang tunduk kepada kekuasaan? Urutan yang Tuhan berikan kepada Anda itu yang nomor satu, atau yang nomor dua. Di sini kita perlu mengenal urutan. Mengenal urutan adalah mengenal kekuasaan. Harus menerima kekuasaan ini, kalau tidak, koordinasi penatua tidak bisa berjalan dengan baik. Kalau Anda merasa diri Anda adalah penatua, dia juga merasa dirinya adalah penatua, semua mempunyai perasaan ini, maka itu sama dengan rapat pengurus dari organisasi duniawi. Anda adalah pengurus, saya juga pengurus, semua pengurus sederajat kedudukannya, ketua juga tidak lebih tinggi dari kita, dia hanya mempunyai sedikit kekuasaan mengumpulkan rapat atau mewakili pengurus saja, sesungguhnya keputusan dari organisasi harus ditetapkan bersama. Ini adalah cara dunia. Para penatua bukan sistem pengurus organisasi, melainkan semua hidup di dalam Roh Kudus, menerima kekuasaan, mengenal urutan diri sendiri. Kalau tidak, koordinasi para penatua selamanya tidak akan mantap.
Koordinasi penatua tidak saja perlu menuntut orang tunduk kepada kekuasaan, juga perlu orang menjadi kekuasaan; kalau tidak ada orang menjadi kekuasaan, koordinasinya juga tidak normal. Misalnya, di dalam gereja lokal tertentu ada lima penatua, salah satu di antaranya sudah jelas adalah kekuasaan, yang pertama, tetapi ketika membicarakan permasalahan, penatua yang pertama ini takut-takutan, lalu ingin menyatakan satu keadaan bahwa di sini tidak ada orang yang menjadi kekuasaan, kita semua harus membiarkan Tuhan menjadi Tuan, sebab itu aku juga tidak menentukan. Satu perkara terus dibicarakan, namun tidak ada satu keputusan, sampai akhirnya tidak bisa mengambil keputusan, barulah dia berkata, kalau semua menganggap demikian, baiklah kita tentukan demikian. Semua bersama berkata, baik, lalu masalah itu diputuskan demikian. Ini adalah keadaan yang paling jelek. Karena tidak ada seorang pun yang menjadi kekuasaan. Ini bukan rendah hati, ini adalah daging, satu pernyataan lain dari daging, satu bentuk lain dari daging.
Tetapi orang yang mengenal urutan, yang benar-benar menjadi kekuasaan tidak demikian. Di sini ada satu perkara, pada permulaannya selalu mempersilakan saudarasaudara mengutarakan perasaan mereka, perasaan saudara ini begini, perasaan saudara itu begitu, setiap saudara mengutarakan perasaan mereka. Kalau aku yang menjadi pertama, yang menjadi kepala, aku harus takwa kepada Allah, tidak ada opini, tidak berat sebelah, tidak ada prasangka, aku harus dengan baik-baik menjamah perasaan semua orang, menjamah sampai akhirnya, di dalam jelas, juga damai sejahtera, lalu berkata, saudara-saudara kalau demikian, marilah kita tetapkan demikian. Setiap membicarakan masalah, semua harus belajar tidak ada perselisihan, juga tidak mengabaikan perasaan di dalam. Kalau benar-benar ada saudara yang mengambil keputusan yang kurang tepat, masih boleh mengutarakan perasaan, saudara yang memimpin seharusnya menghargai perasaan ini, dan perlu mempertimbangkan lagi. Ini barulah jalan koordinasi penatua. Di tengah-tengah penatua tidak ada demokrasi, tidak ada diktator, tetapi semua taat di bawah kekuasaan Roh Kudus. Setiap orang tidak terlalu aktif, juga tidak pasif, melainkan sepenuhnya menaruh diri sendiri di tengahtengah para penatua, setiap orang mengetahui urutannya sendiri, menerima kekuasaan, tidak mempertahankan diri, juga bukan tidak bertanggung jawab, ini barulah jalan berkoordinasi.
Koordinasi para penatua di dalam gereja menuntut setiap orang terlepas dari diri sendiri, takwa kepada Allah, hidup dalam Roh Kudus. Tidak terlalu berebut menjadi kepala, juga tidak mundur sedikit pun; tidak pura-pura rendah hati, juga tidak melewati kadar Tuhan. Semua dengan takut dan gentar hidup di depan Tuhan, masing-masing berdiri pada kedudukannya sendiri, masing-masing berdasarkan perasaan di dalam, saling bersekutu, sehingga menghasilkan satu perasaan yang tepat. Kita harus percaya perasaan yang demikian ini berasal dari Tuhan. Sebab itu dalam koordinasi kita harus memiliki perihal menerima kekuasaan dan mengenal urutan.
2. Menerima Peremukan
Para penatua harus ada koordinasi, masing-masing juga harus menerima peremukan. Kalau tidak ada peremukan, tetap tidak bisa berkoordinasi. Kalau Anda mempertahankan diri, menjaga diri, melindungi diri, Anda tidak bisa berkoordianasi dengan baik dengan orang lain. Meskipun Anda paling bisa berkhotbah, paling bisa mengurus gereja, tetapi dalam keistimewaan-keistimewaan ini, Anda harus belajar peremukan. Kalau Anda hanya bisa mengurus, tetapi tidak remuk, Anda tidak bisa berkoordinasi dengan orang yang bisa berkhotbah dan bisa berkunjung, Anda selalu merasa, kalau bukan aku yang mengurus di sini, apa gunanya khotbah-khotbah mereka? Apa gunanya penjengukan mereka? Mungkin yang lain merasa, hanya bisa mengurus gereja, bisa penjengukan, kalau tidak ada aku yang berkhotbah, apakah mereka masih bisa berjalan dengan baik? Semua cita rasa ini menyatakan belum ada peremukan. Semua ingin menonjolkan diri sendiri, mengabaikan orang lain; ingin mengangkat dirinya, menginjak punggung orang. Anda seharusnya berkata, “Puji syukur kepada Tuhan, meskipun Tuhan membelaskasihani aku, memiliki sedikit karunia mengurus gereja, tetapi gereja masih perlu firman, juga perlu penjengukan.” Yang lain juga berkata, “Mungkin Tuhan memberi aku sedikit karunia untuk berbicara, tetapi gereja perlu juga kepengurusan, perlu juga penjengukan.” Aku juga berkata, “Mungkin Tuhan memberiku satu karunia penggembalaan, tetapi aku masih benar-benar merasa, kalau tidak ada saudara yang mengurus, kalau tidak ada saudara yang menjadi penyuplai firman, penjengukanku ini tidak ada kegunaan apa-apa. Ini barulah cita rasa peremukan. Di sini Anda telah rebah, tetapi Anda tidak melepaskan bagian Anda sendiri.
Tidak saja demikian, hanya setelah mengalami peremukan baru tidak terjadi saling mempertahankan pendapat sendiri-sendiri ketika para penatua membicarakan suatu perkara. Semua tindakan mempertahankan pendapat sendiri-sendiri adalah wujud dari tidak remuk. Tetapi seorang penatua yang remuk, tidak mempertahankan pendapatnya sendiri, dia mengenal urutannya. Dia dapat dengan serius mempersekutukan perasaannya, setelah bersekutu, kalau penatua yang menjadi kepala masih menetapkan yang lain, dia bisa tunduk. Bukan setelah menerima kekuasaan lalu tidak mengutarakan perasaan; juga bukan setelah mengutarakan perasaan, lalu tidak menerima kekuasaan. Setiap orang harus belajar tidak mempertahankan pendiriannya, belajar tunduk. Kalau semua demikian, mungkin orang yang memimpin dapat mengambil keputusan yang salah, tindakannya juga mungkin ada kesalahan, tetapi di sini masih ada satu keadaan koordinasi, masih ada satu keadaan yang diberkati, semua serasi, sepenuhnya harmonis. Keputusan-keputusan yang salah, aktivitas-aktivitas yang salah, juga dengan mudah bisa dikoreksi, karena semua telah remuk, tidak mempertahankan diri. Orang yang memimpin begitu menemukan keputusannya salah, juga bisa dengan rendah hati berkata, “Saudara, maafkan aku, keputusanku salah, mari kita segera mengubahnya.” Lihatlah, betapa indah keadaan ini!
Semoga saudara-saudara nampak, perkara apa saja, kalau kita mempertahankannya dalam suasana dan roh yang tidak remuk, meskipun mempertahankan dengan benar, di dalamnya terkandung kesulitan yang cukup banyak. Saya tidak mengatakan tidak perlu mempertahankan pendapat, tetapi Anda harus belajar menerima peremukan, dalam mempertahankan pendapat masih ada peremukan. Ada saudara meskipun tidak mempertahankan pendapat, tetapi masih ada sedikit yang tidak remuk. Dalam perkara ini pendapatku tidak bisa diterima, aku tidak mempertahankannya, tetapi aku lalu membiarkan perkara ini lewat, tidak lagi menjamah perkara ini. Ingatlah, tidak mempertahankan pendapat seperti ini berarti sangat kuat menjaga diri sendiri, melindungi diri sendiri. Sebab itu harus selalu belajar, di antara saudara-saudara, kita adalah orang yang diremukkan. Tentunya, ini perlu anugerah dan pekerjaan Roh Kudus. Kita harus pernah menerima pukulan Allah, baru bisa menjadi orang yang remuk.
3. Terbuka
Orang yang tidak terbuka kepada para saudara adalah orang yang mempertahankan keutuhannya sendiri, orang yang kalau demikian tidak dapat berkoordinasi. Tidak terbuka mempunyai banyak kekurangan, di antaranya yang paling hebat adalah mudah terjadi salah paham. Anda tidak pernah membuka diri sendiri, tidak pernah memberitahukan perasaan yang di dalam kepada orang lain, terus mempertahankan apa yang Anda anggap benar di dalam Anda, ini mudah terjadi salah paham. Kesalahpahaman ini adalah satu senjata yang paling ampuh yang dipakai oleh musuh untuk merusak koordinasi. Saya benar-benar tahu, ada penatua di gereja lokal tertentu tidak bisa berkoordinasi, dikarenakan ada salah paham. Begitu terjadi salah paham, koordinasi menjadi rusak. Memang semua masih bisa bersama-sama merundingkan urusan, masih bisa membahas urusan, tetapi itu tidak berguna, karena di dalamnya ada bakteri salah paham yang membunuh hayat koordinasi.
Terbuka bisa menyelesaikan banyak kesulitan. Adakalanya di tengah-tengah saudara-saudara ada kesulitan, jangan menghindari kesulitan itu, jangan takut kesulitan, harus menerjangnya dari depan. Kalau Anda menghindari, aku juga menghindari, akan semakin tertutup, semakin timbul kesalahpahaman. Ini masih di aspek negatip. Di aspek positif, orang yang tidak terbuka, tidak dapat menyuplai anugerah dan hayat kepada orang lain, juga tidak dapat menerima suplai dari orang lain. Karena Anda dan orang lain tidak tembus, dari dalam Anda tidak bisa mengalir keluar, juga tidak bisa mengalir masuk ke orang lain. Sebab itu kalau ingin ada koordinasi, semua orang harus terbuka.
4. Rendah Hati, tetapi Tidak Negatif
Kalau para penatua ingin berkoordinasi dengan baik, perlu rendah hati, tetapi tidak negatif. Meskipun kita adalah orang yang rendah hati, tetapi kita sangat positif. Orang yang rendah hati sering kali bisa negatif; sebaliknya orang yang positif sering kali tidak mudah rendah hati. Ini adalah keadaan umum manusia. Tetapi dalam koordinasi, harus sering belajar rendah hati, tetapi tidak negatif. Semua perkara pernah kita tanyakan, semua perkara kita ingin ada bagian, semua perkara kita ingin mempunyai usulan, semua perkara kita ingin mempersekutukan perasaan, tetapi kita rendah hati. Kerendahan hati ini positif, juga satu pelajaran yang sangat sulit dipelajari. Orang yang positif tidak mudah rendah hati, orang yang rendah hati juga sulit untuk positif. Bisa rendah hati, tetapi positif, ini perlu anugerah, perlu peremukan.
5. Selalu Menerima Pengimbangan Orang Lain
Kalau Anda adalah orang yang menjenguk, Anda harus menerima sedikit pengimbangan dari saudara yang mengurus, Anda harus menerima sedikit pengimbangan firman; kalau Anda adalah orang yang menjadi ministri firman, Anda perlu menerima sedikit pengimbangan dari orang yang mengurus; kalau Anda adalah orang yang memperhatikan pembinaan rohani saudara saudari, Anda harus menerima sedikit pengimbangan dari penginjilan; kalau Anda orang yang sangat gairah memberitakan Injil, Anda juga harus menerima sedikit pengimbangan dari orang yang mengurus gereja, diimbangi oleh orang yang membina kaum saleh. Dalam koordinasi, harus selalu belajar menerima pengimbangan. Jangan sampai seperti Marta terhadap Maria. Marta datang ke Tuhan Yesus mengadukan Maria: Semua aku sendiri yang mengerjakan, dia tidak mempedulikan sedikit pun, hanya duduk di depan kaki-Mu mendengarkan khotbah! Seimbang adalah satu faktor yang hebat dalam koordinasi. Harus menerima pengimbangan sedemikian rupa sehingga apa saja yang dilakukan oleh saudara saudari, asal jelas tidak melawan Tuhan, kita bisa menerima semua.
Misalnya, seorang saudara mengusulkan harus memberitakan Injil, sedapat mungkin terimalah usul itu. Seorang saudara lain mengusulkan membaca Alkitab, juga harus sebisanya diterima. Harus menerima semua itu sampai orang lain melihat bahwa kalau Anda tidak menerima usulan memberitakan Injil, bukan karena lain, melainkan karena tidak ada waktu untuk memberitakan Injil. Juga bukan karena tidak mau membaca Alkitab, tetapi karena tidak bisa lagi meluangkan waktu. Tetapi jangan mengambil judul ini untuk menjadi politikus. Apakah artinya mengambil untuk menjadi politikus? Misalnya, ada seorang saudara mengusulkan mengadakan pembacaan Alkitab kepada Anda, sebenarnya Anda tidak suka membaca Alkitab, Anda sedikit pun tidak bermaksud untuk menerimanya. Menurut maksud Anda, lebih setuju kalau berdoa. Tetapi Anda ini politikus ulung, lalu mengambil alasan, sekarang hari Senin ada sidang para pewajib, Selasa ada sidang doa, Rabu ada pembinaan dasar, Kamis ada pemberitaan Injil, Jumat ada sidang itu, Sabtu ada sidang lain lagi, sungguh-sungguh tidak ada waktu. Anda sendiri tahu bahwa Anda berkata demikian adalah membohongi saudara Anda. Di dalam Anda bukan masalah repot atau tidak, tetapi masalah tidak mau menerima, lalu mengambi alasan ini dan itu. Ingatlah, pertama kali Anda mengambil alasan, dia mungkin masih tidak merasa, tetapi cepat atau lambat, dia akan tahu juga. Terhadap anak-anak di rumah saja, kita tidak bisa sering menipu mereka, apalagi terhadap orang dewasa? Pertama kali Anda menipu dia, dia percaya Anda benar; lain kali Anda mengatakan lagi kata-kata itu, dia sudah mengerti bahwa Anda licin sekali, semua adalah alasan saja, Anda adalah satu politikus. Sebab itu, para penatua harus belajar menerima dari lubuk hati. Kalau Anda benar-benar tidak bisa menerima, Anda boleh berdiam diri; kalau tidak, langsung saja memberi tahu dia bahwa Anda tidak setuju membaca Alkitab. Anda jangan mengambil alasan menjadi politikus, mengucapkan perkataan diplomasi. Saya ingin dengan serius memberi tahu saudara saudari, dalam tahun-tahun yang silam, saya pernah melihat hasil dari hikmat duniawi ini lebih jelek daripada berkata terus terang. Sering kali lebih baik berkata terus terang, kalau setuju katakan setuju, kalau tidak setuju katakan tidak setuju. Kalau orang lain tidak bisa menerima, kita boleh tidak menyinggungnya, tetapi jangan mengambil alasan.
VII. HASIL KOORDINASI
1. Harmonis
Setelah ada koordinasi yang demikian, hasilnya gereja pasti harmonis. Ketidakharmonisan dalam gereja, sepenuhnya berasal dari penatua. Kalau penatua tidak harmonis, di tengah-tengah saudara saudari pasti tidak ada ketidakharmonisan. Para penatua adalah sumber dari keharmonisan gereja. Saya paling tidak suka ke satu gereja yang tidak harmonis, itu adalah perkara yang paling menderita. Sesungguhnya ini adalah satu hukuman bagi saudara saudari. Dalam gereja, keharmonisan adalah perkara yang sangat indah, sentosa, dan menyenangkan.
2. Ada Kekuasaan
Kekuasaan penatua terletak pada keharmonisan. Pernah seorang saudara bertanya kepada orang yang menjadi penatua, “Kalian menghendaki aku tundak kepada kekuasaan, tetapi para penatua sendiri tidak harmonis, lalu kalian menghendaki aku tunduk kepada kekuasaan siapa? Tunduk kepada kepala yang mana? Ini benar. Kalau para penatua tidak harmonis, tidak ada kekuasaan.
3. Ada Hayat
Di mana ada keharmonisan, di sana ada kekuasaan; di mana ada kekuasaan, di sana ada hayat, ini satu hal yang pasti. Air hayat mengalir dari takhta, tunas bertumbuh pada tongkat. Hayat kebangkitan bertumpu di atas kekuasaan, dan kekuasaan para penatua sepenuhnya terletak pada keharmonisan para penatua.
4. Ada Buah
Kalau para penatua harmonis, ada kekuasaan, ada hayat, demikian, tidak peduli mereka melakukan apa saja, pasti ada hasil yang baik. Memberitakan Injil ada orang yang beroleh selamat, pembinaan ada orang yang mendapatkan bantuan, mengunjungi ada orang yang mendapatkan kebangunan rohani, dalam gereja pasti tidak hentihentinya melahirkan orang, buahnya akan berlimpah-limpah. Saya ingin memberi tahu saudara saudari, satu gereja yang tidak berbuah, menyatakan para penatuanya tidak harmonis. Begitu para penatua harmonis, segera ada kekuasaan, ada hayat, dan menghasilkan kekuatan melahirkan dan memelihara, pasti memiliki buah yang berlimpahlimpah. Sebab itu saudara-saudara harus nampak, keuntungan atau kerugian Anda dan saya adalah masalah kecil, tetapi keharmonisan adalah perkara yang sangat besar dalam gereja. Kalau Tuhan tidak memiliki jalan keluar, laksaan jiwa tidak bisa beroleh selamat, banyak orang tidak bisa menerima pembinaan, juga tidak ada pembangunan yang sejati, kesemuanya ini tergantung pada diri penatua. Begitu para penatua ada satu koordinasi yang baik, segera akan menghasilkan roh yang harmonis, itulah kekuasaan, itulah hayat, bahkan dalam keadaan yang demikian, entah melakukan apa saja, selalu berbuah lebat, karena Allah berada di dalamnya. Semoga Tuhan membelaskasihani kita, supaya kita dengan hebat belajar pelajaran ini, dengan demikian, berkat Tuhan akan dicurahkan di tengah-tengah kita.