← Daftar isi Kepengurusan Penatua atas Gereja · bab 7/15

DAYA PEMBEDA PENATUA I. DAYA PEMBEDA DAN KEPENGURUSAN

Daya pembedaan penatua terhadap kepengurusan gereja juga mempunyai hubungan yang mutlak. Seorang penatua yang tidak mempunyai daya pembeda terhadap orang, terhadap urusan, pasti juga tidak bisa mengurus gereja. Dengan kata lain, orang yang ceroboh tidak bisa mengurus gereja. Bila ingin mengurus, mengatur, harus sebagai orang yang sangat jelas. Kalau Anda melihat tiga adalah empat, juga bisa menganggap empat adalah tiga, Anda sama sekali tidak bisa mengatur gereja, kalaupun mengatur, akan mengatur dengan ceroboh. Sebab itu kalau tidak menyinggung penatua mengurus gereja, ya sudah; tetapi begitu menyinggung penatua mengurus gereja, keperluan yang mendasar adalah harus mempunyai daya pembeda.

II. RUANG LINGKUP PEMBEDA

Ruang lingkup pembeda para penatua berbeda dengan orang dunia pada umumnya. Ruang lingkup pembeda orang dunia itu duniawi, meterialis; ruang lingkup pembeda para penatua adalah rohani. Ini adalah satu prinsip yang besar.

1. Pembeda yang Rohani

Yang harus diperhatikan lebih dulu dalam pembeda para penatua terhadap orang atau perkara adalah apakah orang atau perkara itu rohani. Misalnya, ada seorang saudara datang mengajukan usul kepada Anda yang menjadi penatua. Pertama, jangan membedakan atau menilai urusan ini betul atau tidak, baik atau tidak, tetapi bedakan dulu apakah perkara ini rohani atau tidak. Gereja bukan satu organisasi masyarakat, juga bukan satu kantor yang menangani urusan, gereja adalah keluarga rohani, taman rohani, menangani urusan hanyalah sedikit pelengkap saja. Pengurusan gereja adalah supaya orang-orang dalam keluarga ini, satu per satu bisa mendapatkan perawatan dan suplai dalam hayat, sehingga bisa bertumbuh besar; atau dengan kata lain, supaya setiap pohon dalam taman ini bisa mendapatkan pemupukan dan penyiraman, sehingga bisa bertumbuh besar. Sebab itu semua perkara dalam gereja harus dibedakan dengan pandangan rohani. Meskipun ada saudara saudari yang mengusulkan untuk membeli tanah membangun balai sidang, atau mengusulkan model dari tempat sidang, para penatua harus memiliki daya pembeda rohani. Ada saudara mengusulkan untuk membuat suatu pemberitahuan, mengirim satu undangan, para penatua harus lebih dulu membedakan apakah tindakan ini rohani? Ini adalah satu prinsip yang sangat hebat.

2. Pembeda yang Mati dan Bangkit

Penatua masih perlu bisa membedakan, apakah seorang saudara atau saudari telah melewati kematian salib, apakah dia berada di dalam kebangkitan. Mungkin dia masih tetap tinggal di dalam alamiah, karena semua perkataannya penuh dengan konsepsi alamiah, konsepsi moralitas. Mungkin dalam dirinya masih ada nafsu daging, tubuh daging, merasa tidak terima, bahkan masih ada motivasi yang lain. Mungkin dalam dirinya masih ada liku-liku, masih ada ambisi. Ketika Anda berkontak dengan orang, mendengarkan perkataan, bertemu dengan perkara, harus ada daya pembeda ini. Anda tidak saja di sana membedakan apakah dia takut kepada Allah atau tidak, masih perlu mampu membedakan dalam perkara ini, dalam butir ini, dalam hal ini, dalam percakapan ini, dalam usulan ini, apakah dia adalah orang yang melewati kematian salib dan hidup dalam kebangkitan. Penatua seharusnya memiliki daya pembeda ini.

Usulan yang sama, pendapat yang sama, kalau berasal dari orang yang telah melalui kematian salib dan hidup dalam kebangkitan, Roh Kudus akan memberikan satu reaksi, atau satu respon di dalam Anda; sebaliknya, kalau ada orang yang tidak melewati kematian salib dan tidak berada dalam kebangkitan, melainkan berada dalam alamiah, atau konsepsi moralitas, bahkan dalam nafsu daging, ketidakterimaan, liku-liku, atau ada motivasi yang lain, dan ia memberi usulan kepada Anda, maka Roh Kudus di dalam Anda juga akan memberikan satu reaksi yang lain. Inilah satu seluk beluk yang sangat besar dalam kepengurusan penatua atas gereja.

Ada saudara berkata kepada penatua, “Saya rasa, minggu depan perlu mengabarkan Injil.” Kalau penatua itu memiliki daya pembeda, ia tidak akan menerima usulan ini. Ini bukan karena perkara pemberitaan Injil itu salah, tetapi karena orang yang memberi usulan itu, setelah dijamah oleh penatua, ternyata dalamnya tidak bersih. Mungkin orang lain datang memberi usulan yang sama, penatua bisa menerima; karena orang lain itu telah melewati salib dan berada dalam kebangkitan, rohnya murni, di dalamnya tidak ada campur aduk. Hanya melewati daya pembeda penatua yang demikian, barulah pelayanan dalam gereja bisa murni, tidak berada dalam alamiah, tidak berada dalam konsepsi manusia, tidak berada dalam kecenderungan manusia, tidak berada dalam usulan manusia, melainkan di dalam kebangkitan.

Misalnya, ada saudara datang berkata, “Saudara, sekarang adalah saat terbaik untuk mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani. Saya menerima kabar, lewat sepuluh hari lagi, organisasi tertentu akan mengadakan KKR, kita seharusnya melakukan lebih dulu, jangan membiarkan mereka melakukan lebih dulu.” Saya bertanya kepada kalian, apakah angan-angan ini baik? Sungguh tidak baik. Meskipun perkara yang ia katakan kepada Anda itu baik, mungkin motivasinya juga baik, tetapi Anda bisa menjamah saudara ini belum melewati penanggulangan salib, masih berada dalam alamiah, masih berada dalam perlombaan dengan orang lain. Ini adalah satu perkara yang cukup baik, tetapi dalam hal ini, Anda bisa menjamah bahwa dia adalah seorang yang belum melewati kematian salib.

Sebab itu, semua perkara yang disampaikan oleh saudara saudari, meskipun baik, untuk gereja, para penatua harus membedakan apakah orang ini telah melewati salib, apakah berada dalam kebangkitan.

3. Pembeda Tulus atau Tidaknya Roh dan Hati

Para penatua masih perlu bisa membedakan roh dalam orang itu murni atau tidak, hatinya tepat atau tidak. Siapa saja yang datang kepada Anda untuk mengatakan benar atau salahnya orang lain, Anda tidak bisa segera menerima. Menerima atau tidak perkataan orang, tidak bisa berdasarkan baik buruknya perkataannya, tetapi berdasarkan roh orang yang berbicara itu murni atau tidak, hatinya tepat atau tidak? Adakalanya perkataannya baik, memuji saudara saudari, tetapi di depan perkataan pujiannya Anda dapat menyentuh satu roh yang campur aduk, menjamah satu hati yang tidak tepat. Sebaliknya, mungkin ada saudara datang kepada penatua berkata tentang kekurangan seorang saudari pewajib distrik, berkata tentang kesalahan seorang saudara yang melayani, tetapi Anda bisa menjamah roh di dalamnya sangat besih, motivasinya juga murni. Meskipun dia dari awal sampai akhir membicarakan kesalahan orang lain, tetapi rohnya murni, motivasinya bersih. Sebab itu para penatua tidak bisa hanya membedakan berdasarkan perkataan orang itu mengkritik saudara saudari atau memuji saudara saudari; membicarakan kebaikan saudara saudari atau kejelekan saudara saudari. Bukan membicarakan kebaikan bisa diterima, membicarakan kejelekan tidak bisa diterima, melainkan harus membedakan, orang yang membicarakan ini, rohnya murni atau tidak, hatinya tulus atau tidak.

Adakalanya di tengah-tengah saudara saudari timbul kesulitan, ada perselisihan, kalau karunia yang mereka terima cukup banyak, tentu boleh seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 6, rela menderita rugi, rela tunduk di hadapan Tuhan, persoalannya dengan sendirinya akan selesai. Tetapi adakalanya, belum tentu kedua belah pihak mau menerima, ada pihak yang mau menerima, pihak yang lain tidak mau menerima, dengan demikian perkara ini akan dibawa ke depan para penatua. Saat ini, bagaimana Anda memutuskannya? Anda tidak bisa segera memutuskan yang itu salah, yang ini benar; kalau demikian, Anda juga terperosok ke dalam medan peperangan, terjerumus ke dalam benar salah. Kalau Anda benar-benar mengasihi Tuhan, mengasihi saudara, Anda pasti mengangap kesulitan mereka sebagai kesulitan Anda sendiri yang menyakitkan hati, membawanya ke hadapan Allah untuk diselesaikan. Anda berkata kepada Tuhan, “Tuhan, bagaimana menyelesaikan hal ini? Aku tidak tahu harus bagaimana membantu saudara ini. Aku harus bagaimana membantu mereka supaya mereka tidak terluka, supaya mereka tergenapi di dalam roh, mengenal diri sendiri, bahkan terhadap Engkau ada tuntutan yang lebih hebat?” Anda segera nampak bahwa perkara ini tidak sederhana. Ini lebih sulit daripada dokter menyembuhkan orang sakit. Sebab itu Anda tidak bisa hanya berdasarkan benar salah, Anda harus melampaui benar salah, menjamah keadaan yang di dalam mereka. Ketika Anda mendengarkan pembicaraan dua saudara itu, harus mempunyai satu daya pembeda yang rohani.

Orang dunia hanya bisa menimbang benar salah, menimbang beralasan atau tidak beralasan, siapa yang betul, siapa yang tidak betul. Tetapi dalam gereja kita harus menembus benar salah, menjamah keadaan orang di hadapan Allah. Mungkin saudara ini sangat beralasan, tetapi Anda bisa menjamah keadaannya di hadapan Allah sangat tidak benar. Saya ingin berkata kepada saudara saudari, kalau Anda dan saya di dalam gereja hendak menyelesaikan masalah di antara saudara saudari yang tidak akur, berselisih, bertengkar, jika hanya berdasarkan benar salah memutuskan masalah, hasilnya pasti mencelakakan saudara saudari. Anda pasti memutuskan saudara yang beralasan sebagai pihak yang benar. Keputusan demikian sepenuhnya mencelakakan dia. Pertama, mencelakakan keadaan rohaninya di hadapan Allah. Kedua, menjerumuskan dia ke dalam keadaan mendatangkan pukulan Allah untuk kedua kalinya, karena Allah masih akan mengulurkan tangan memukulnya. Kali ini dia bertemu dengan seorang saudara yang tidak ada alasan, ini sebenarnya adalah Allah datang memukul dia, ini adalah pendisiplinan Roh Kudus. Tetapi Anda malah membantu dia mengambil alih pendisiplinan Roh Kudus, membantu dia membenarkan diri sendiri. Di satu pihak Anda merusak keadaan rohaninya di hadapan Allah, di lain pihak Anda menjerumuskan dia ke dalam situasi yang akan mendatangkan pemberesan Allah yang lebih hebat. Ini tidak mendatangkan kebaikan baginya.

Mungkin Anda akan berkata, kalau demikian harus bagaimana? Ini bukan masalah bagaimana bertindak, pertama Anda harus memiliki daya pembeda, bisa membedakan bahwa dalam hal ini saudara ini memang ada alasannya, tetapi keadaan orang ini di hadapan Allah tidak benar. Kalau Anda bisa membedakan sampai taraf ini, Anda bisa membantu dia, pelan-pelan bersekutu dengannya, memperlihatkan kepadanya, “Saudara, dalam hal ini tidak diragukan memang kamu yang benar, semua alasan ada di pihakmu, pihak lain itu tidak ada benarnya, tetapi Saudara, aku ingin bersekutu denganmu, bagaimana perasaanmu mengenai hal ini di hadapan Allah, bagaimana perasaan batinmu?” Kalau Anda demikian bersekutu dengannya, ingatlah, Anda tidak saja sebagai seorang hakim yang hebat, juga sebagai seorang dokter yang hebat; dia tidak bisa tidak tunduk di hadapan Anda. Dia akan berkata kepada Anda, “Ya, dalam hal ini, meskipun aku yang benar, tetapi beberapa hari ini persekutuanku dengan Tuhan menjadi kurang baik, aku merasa dalam batin tidak begitu manis, sepertinya Tuhan tidak suka terhadap keadaanku.” Begitu dia berkata demikian, Anda mempunyai banyak kesempatan untuk membantunya. Anda boleh segera berkata kepadanya, “Saudara, memang benar, aku juga merasa demikian. Meskipun dalam hal ini kamu tidak salah, tetapi Saudara, aku sungguh cemas akan keadaanmu, keadaanmu di hadapan Allah tidak benar. Aku tidak berani berdiri berbicara di pihakmu, takut merusak keadaan rohanimu di hadapan Allah, bersamaan dengan itu akan mendatangkan penanggulangan yang lebih hebat di kemudian hari.” Perkataan Anda tidak perlu terlalu banyak, beberapa kata ini saja sudah cukup. Anda di sana pasti sudah dengan hebat membantu saudara ini. Tidak perlu Anda memutuskan siapa yang benar, siapa yang salah, dia sendiri bisa dari dalam, di hadapan Allah menyelesaikan persoalan ini. Akhirnya dua saudara ini, yang benar dan yang tidak benar, semua terbawa ke hadapan Allah, semua dari dalam menerima satu penyelesaian. Jadi, saudara-saudara, daya pembeda mempunyai hubungan yang sangat besar terhadap kepengurusan gereja.

Kita harus percaya bahwa semua saudara saudari sangat mendapatkan anugerah, tetapi di lain pihak kita masih harus mengakui bahwa kita yang menerima anugerah ini sungguh tidak sederhana. Kita adalah Yakub yang alamiah, juga Israel yang dilahirkan kembali. Penampilan kita sering kali di luar adalah Israel, di dalam adalah Yakub. Sebab itu, ketika saudara saudari berbicara di hadapan Anda, sering kali pula Anda tidak bisa mempercayai dia hanya berdasarkan perkataannya saja, Anda masih perlu mempunyai satu daya pembeda. Anda harus masuk ke dalam roh mereka, menjamah perasaan roh mereka. Misalnya, ada saudara datang berkata, “Perkataanku ini sama sekali tidak memfitnah penatua.” Tetapi Anda di sana menjamah bahwa dia sepenuhnya memfitnah penatua. Ada orang berkata, “Aku sedikit pun tidak menentang saudara pewajib distrik. Aku lihat mereka semua baik.” Tetapi ketika dia berkata demikian, Anda bisa menjamah roh di dalam orang ini, sepenuhnya adalah roh yang melawan, roh yang menghakimi. Memang, mereka tidak bermaksud berbohong, tetapi di luar adalah satu macam orang, di dalam adalah macam orang yang lain lagi, di sini perlu memiliki daya pembeda. Penggembalaan para penatua terhadap saudara saudari, terhadap penanganan, keputusan, penetapan atas perkara umum gereja, semuanya tergantung pada daya pembeda ini. Kalau Anda mempunyai daya pembeda rohani, hampir semua orang yang datang kepada Anda, hampir semua perkara yang disampaikan kepada Anda, tidak bisa mengelabui Anda. Anda bisa membedakan hingga ke tulang dan sumsumnya, bahkan lebih hebat dari sinar X. Anda bisa dengan jelas mengetahui bagaimana motivasi orang ini, bagaimana keadaan rohnya, teduh atau tidak, lemah lembut atau tidak, bersih atau tidak, murni atau tidak; orang ini di dalam kebangkitan atau tidak, Anda bisa membedakannya dengan sangat jelas.

4. Pembeda Kebenaran

Ketika penatua bertemu dengan perkara, masih perlu bisa membedakan apakah perkara itu sesuai dengan kebenaran atau tidak. Misalnya, ada seorang saudara datang memberi usul kepada Anda, bersamaan dengan itu juga memberi banyak alasan supaya Anda mendengarkan dan merasa usulan itu baik. Tetapi apakah perkara itu tepat atau tidak dalam kebenaran, saat ini Anda harus mempunyai daya pembeda terhadap kebenaran.

Terhadap urusan gereja juga mempunyai prinsip yang sama. Terhadap jalan gereja, pendirian gereja, sifat gereja, kedudukan gereja, para penatua perlu mempunyai daya pembeda.

5. Pembeda Untung Rugi Rohani

Selain itu, daya pembeda terhadap untung rugi dalam kerohanian juga sangat penting. Misalnya, Anda hendak menentukan satu perkara, Anda harus bisa membedakan apakah keputusan yang hendak Anda tentukan itu dalam kerohanian menguntungkan atau merugikan bagi saudara saudari. Adakalanya kedua aspeknya ada, namun Anda masih perlu bisa membedakan lebih banyak untungnya atau lebih banyak ruginya, bisakah untung dan ruginya seimbang, Anda perlu bisa membedakan kesemuanya ini.

Saya selamanya tidak bisa melupakan. Seorang saudara di depan kami, pada suatu hari duduk bersama kami membicarakan masalah kami yang berada dalam keadaan yang sangat sulit, ingin berhenti tidak bisa berhenti, ingin maju tidak ada jalan. Kalau tidak ke kiri, tentu harus ke kanan, tetapi keduanya sama-sama sulit, harus bagaimana? Pada hari itu ia mengisahkan satu perumpamaan kepada kita, ia berkata, seperti mengendarai mobil, tiba-tiba dari depan datang satu mobil, segera akan berbenturan, kalau menyamping, di pinggir ada gerobak, begitu menyamping, pasti menabraknya, ingin mengerem sudah tidak keburu. Saat itu lebih baik menabrak mobil di depan atau menabrak gerobak yang di pinggir jalan? Ini tergantung bagaimana keputusan Anda pada saat itu. Dalam sekejap, Anda harus mengambil keputusan, menabrak mobil yang di depan atau menabrak gerobak yang di samping. Ingatlah dalam gereja adakalanya Iblis juga memaksa Anda berada dalam keadaan seperti ini, kalau maju akan menabrak mobil yang datang dari depan, menghindar ke samping akan menabrak gerobak yang di pinggir jalan, tidak mungkin menghindar dari tabrakan. Di sini Anda perlu mempertimbangkan perbedaan untung rugi. Anda harus segera mengambil keputusan, menabrak gerobak itu, tidak perlu sayang lagi, karena sudah sampai keadaan yang demikian. Anda bisa dengan cepat mengambil keputusan bahwa berbuat demikian lebih menguntungkan atau merugikan. (Tentunya untung rugi di sini harus mendahulukan untung rugi dalam kerohanian).

Saya teruskan lagi, Anda masih perlu bisa membedakan, dengan berbuat demikian ini bagaimana akibatnya kelak. Anda bisa membedakan bahwa perkara ini, orang macam ini, penanganan semacam ini, hari ini merugi tetapi kelak menguntungkan. Anda juga bisa menilai, perkara ini, orang macam ini, penanganan semacam ini, sekarang mendapatkan keuntungan, tetapi kelak akan menderita kerugian yang tidak bisa dipulihkan. Kesemuanya ini tergantung pada daya pembeda Anda. Ada gereja lokal, di tangan beberapa saudara, setelah sejangka waktu mengalami hal-hal yang sulit, akhirnya mencapai tanah lapang yang luas. Ada gereja yang lain, di tangan beberapa saudara, saat itu kelihatannya sangat lancar, tetapi makin lama makin sulit.

Dalam tahun-tahun ini, di beberapa gereja dengan serius saya memberi tahu saudara saudari, harus memperhatikan kaum remaja. Karena saya ingin menekankan hal ini, maka ada beberapa perkataan yang tidak menyenangkan orang yang berumur (tua). Bahkan ada saudara tua yang berkata, “Saudara Lee di sini menyuruh orang-orang muda memberontak.” Hari ini saya berdiri di depan Tuhan berkata, mengapa saya sangat mendorong kaum remaja, karena saya dengan jelas mengenal satu hal, kalau dalam gereja tidak bisa membawa orang muda masuk, gereja tidak ada hari depan. Satu gereja lokal yang sudah bersidang bertahun-tahun, tetapi tidak membawa masuk orang baru melayani, ini sama dengan sepasang suami istri yang telah menikah bertahun-tahun, tetapi tidak melahirkan anak. Kalau demikian, ketika sepasang suami istri ini sudah tua, coba pikirkan, bagaimana keadaan keluarga ini? Sebab itu saya memutuskan, bagaimanapun, gereja perlu orang muda, gereja perlu generasi penerus, hari depan gereja terletak pada orang muda. Di sini Anda dengan jelas melihat satu seluk-beluk pembeda. Anda tidak bisa hari ini mencari saudara tua bersekutu, besok mencari saudari tua berdoa, setiap hari menggarap saudara dan saudari tua, anak muda yang berusia 13 atau 15 tahun, biarlah mereka bersekolah saja. Akhirnya dalam gereja, saudaranya tua, saudarinya juga tua, penatua, diaken, pewajib distrik juga tua. Kalau pekerjaan Anda demikian, Anda telah “menjual” gereja Allah, Anda telah merugikan mereka. Hari ini orang yang berusia 13 tahun, lewat 10 tahun lagi sudah berusia 23 tahun. Hari ini anak yang sekolah menengah pertama, 10 tahun lagi mungkin sudah mendapatkan gelar doktor. Bersamaan dengan itu, jangan lupa, hari ini yang berusia 50 atau 60 tahun, 10 tahun lagi sudah berusia 60 atau 70 tahun. Di sini sungguh perlu ada daya pembeda.

Saudara-saudara, saya ulangi lagi, dalam gereja menjadi penatua bukanlah hal yang mudah. Kalau menyimpang sedikit, satu jiwa akan hilang; salah sedikit, ratusan orang tidak beroleh selamat. Sudahkah Anda melihat keseriusannya? Beroleh selamat atau binasa berkaitan dengan sekilas pikiran penatua. Bagaimana Anda melakukan dengan tepat, memutuskan dengan tepat? Ini tergantung pada bagaimana daya pembeda Anda. Kalau Anda mempunyai daya pembeda, gereja baru bisa berada di atas rel yang tepat. Ini barulah mengurus gereja.

III. BAGAIMANA BARU BISAMEMILIKI DAYA PEMBEDA

Pembinaan atau pembentukan daya pembeda adalah berdasarkan pelajaran dan pengalaman. Ini adalah satu prinsip yang pasti. Berapa banyak pelajaran Anda, berapa banyak pengalaman Anda, sebanyak itu juga daya pembeda Anda. Dalam hal ini tidak ada jalan pintas, tidak ada jalan alternatif lain. Kalau kita tidak beroleh selamat, selamanya tidak bisa membedakan siapa yang beroleh selamat, siapa yang tidak beroleh selamat. Kalau kita tidak pernah mempersembahkan diri, kita tidak bisa menjamah siapa yang mempersembahkan diri, siapa yang tidak mempersembahkan diri. Anda di hadapan Tuhan belajar sampai taraf apa, daya pembeda Anda sampai ke taraf itu juga. Daya pembeda yang paling hebat berasal dari penanggulangan yang paling hebat. Kalau atas setiap perkara Anda selalu menghakimi motivasi dan maksud hati Anda di hadapan Allah, begitu menemukan hati tidak tulus, motivasi campur aduk, segera menghakiminya, menyalahkannya, maka ketika Anda menjamah motivasi dan maksud hati saudara saudari, itu mudah sekali Anda lakukan, begitu menjamah sudah mengetahuinya. Demikian juga, kalau Anda belajar menghakimi daging, membereskan nafsu, kapan Anda bertemu dengan orang yang dagingnya besar, yang sangat Anda rasakan adalah daging dari orang itu. Pada diri Anda ada satu indra penciuman rohani yang hebat, indra penciuman ini adalah daya pembeda Anda. Kita tahu dari Alkitab bahwa seorang imam yang melayani Allah tidak boleh sumbing atau cacat hidungnya. Cacat hidung itu mengacu kepada tidak mempunyai perasaan rohani, tidak mempunyai daya pembeda rohani.

Kalau Anda dalam hal konsikrasi pernah belajar dengan hebat, sepenuhnya tunduk di bawah kekuasaan Tuhan, indra penciuman Anda di aspek ini menjadi sangat hebat. Begitu Anda berkontak dengan seseorang, segera Anda tahu apakah orang itu telah menyerahkan hak utamanya kepada Allah. Meskipun seseorang telah menjadi penginjil, tetapi hak utamanya tetap belum diserahkan. Meskipun seseorang telah menjual semua warisannya dan karena Allah membagi-bagikannya kepada orang lain, tetapi hak utamanya masih belum diserahkan. Meskipun seseorang rela mengorbankan diri, mau berkorban untuk orang lain, mau mati martir bagi Tuhan, tetapi hak utamanya masih ditahan di tangannya. Kalau dalam hal konsikrasi ini pernah melatih diri dengan baik, dalam hal ini indra penciuman Anda lebih tajam daripada orang lain, tidak ada orang yang bisa mengelabui Anda. Perasaan yang sangat sensitif ini adalah daya pembeda Anda.

Misalnya, dalam masalah kebenaran, kalau Anda terhadap kebenaran tidak mempelajari dengan sungguh-sungguh, tidak belajar dengan riil, begitu bertemu dengan masalah kebenaran, dengan sendirinya tidak bisa membedakan, selalu merasa tidak banyak perbedaannya. Tetapi bagi orang-orang yang berperang bagi kebenaran, orang-orang yang menerapkan kebenaran, kematangan mereka dalam kebenaran adalah daya pembeda mereka terhadap kebenaran. Sama seperti orang yang mengoreksi naskah, mudah sekali melihat huruf atau perkataan yang mirip, tetapi berbeda. Bagi orang biasa kelihatannya tidak ada perbedaan, mudah sekali mengabaikannya, bahkan salah membacanya. Karena pengoreksi naskah setiap hari melakukan hal ini, dalam pembedaan huruf atau kata sangatlah mahir. Demikian juga, dalam kebenaran rohani, banyak tempat yang hampir sama, banyak yang mirip, untuk membedakannya banyak seluk-beluknya.

Ketika saya muda, pernah sekali mendengarkan seorang saudara senior menjawab suatu pertanyaan kebenaran, sehingga saya sangat mengaguminya. Ada satu masalah, kedua perkara itu sangat mirip, Anda tidak bisa membedakannya. Tetapi baru saja pertanyaan ini diucapkan, saudara itu segera memberi jawaban, membedakan dua hal itu dengan sangat jelas sekali. Tidak peduli dalam masalah itu ada berapa banyak bom asap, begitu ditembakkan, dia sudah mengerti. Daya pembeda tentang kebenarannya sangatlah hebat, Anda bertanya satu masalah, dia sudah tahu persoalan di belakang masalah yang Anda ajukan itu. Banyak orang bersaksi, sebenarnya kami ingin bertanya lagi pertanyaan selanjutnya, tetapi ketika dia menjawab pertanyaan yang pertama, itu telah menyumbat mulut kami, sehingga kami tidak perlu bertanya lagi. Daya pembedanya begitu dalam, sehingga Anda tidak bisa sembarangan di hadapannya.

Dalam satu gereja lokal, juga ada banyak kesulitan, banyak masalah yang kelihatannya benar, namun salah. Kalau kita tidak memiliki daya pembeda, tidak bisa menghadapinya, terpaksa membiarkan perkara itu terus terjadi. Ingatlah, inilah sebab utama mengapa gereja lemah dan lemah lagi, sakit dan sakit lagi. Segala perkara kelihatannya tidak ada jalan keluar, tidak ada jawaban, semuanya mengambang. Kalau ingin gereja kuat, setiap hal harus berada di atas rel. Penatua harus mempunyai daya pembeda yang jelas. Dan daya pembeda ini bukan pandangan yang bersifat duniawi, juga bukan kepandaian manusia, melainkan seorang di hadapan Tuhan telah banyak belajar, banyak dibereskan, dalam kebenaran juga mengeluarkan banyak tenaga untuk mempelajarinya.

Tentunya, hal seperti mengurus gereja tidak mungkin dibicarakan begitu mutlak, selalu relatif. Misalnya, seorang manusia juga bersifat relatif, tidak mutlak; di antara seribu orang ada seribu macam modelnya. Mengurus rumah juga demikian, tidak ada yang mutlak, satu keluarga satu model. Demikian juga, mengurus gereja pun relatif, tidak mutlak. Dan kerelatifan ini sepenuhnya berdasarkan kondisi para penatuanya. Kalau para penatuanya bermutu tinggi, kepengurusan gerejanya pasti juga bermutu tinggi; kalau para penatuanya rendah, kepengurusan gerejanya juga rendah. Semoga Tuhan membelaskasihani kita, supaya kita dalam hal-hal ini tidak putus asa, juga tidak sombong. Permintaan di sini bersifat relatif, tidak mutlak. Di aspek lain, juga tidak terbatas, tidak ada kesudahannya.