← Daftar isi Kepengurusan Penatua atas Gereja · bab 6/15

BAGAIMANA MENJADI KEKUASAAN

Dalam berita yang lalu telah kita bicarakan secara ringkas mengenai pengenalan terhadap kekuasaan. Kita sudah membicarakan sedikit tentang menjadi kekuasaan, juga membicarakan sedikit memakai kekuasaan. Sesungguhnya, memakai kekuasaan tercakup dalam menjadi kekuasaan. Kalau seorang penatua bisa menjadi kekuasaan, dengan sendirinya ia bisa memakai kekuasaan. Karena itu, dalam bab ini kita akan secara khusus membicarakan bagaimana menjadi kekuasaan. Mengenal kekuasaan adalah untuk menjadi kekuasaan.

I. HARUS DI DALAM KASIH

Surat Efesus 5 menyinggung tentang suami menjadi kekuasaan, khususnya membicarakan suami adalah kekuasaan. Pembicaraan di sana sangatlah khusus, dikatakan bahwa yang menjadi istri harus tunduk kepada suaminya. Kita tahu, lawan dari “tunduk” adalah “mengendalikan”. Tetapi Allah tidak memerintahkan suami untuk mengendalikan istri, melainkan memerintahkan untuk mengasihi istri. Suami adalah kekuasaan, adalah kepala. Namun bagaimana orang yang menjadi suami ini menjadi kepala? Bagaimana menjadi kekuasaan? Efesus 5 dengan jelas memberi tahu kita: harus di dalam kasih.

Efesus 6 mengatakan pula bahwa yang menjadi orang tua, khususnya yang menjadi ayah juga merupakan satu kekuasaan. Tetapi di sana juga dikatakan bahwa orang tua jangan membangkitkan amarah anaknya. Ini pun merupakan masalah kasih. Karena itu, kita nampak, orang yang menjadi suami harus mengasihi istrinya, orang yang menjadi ayah jangan membangkitkan amarah anaknya. Suami atas diri istri adalah wakil kekuasaan, ayah atas diri anaknya juga adalah wakil kekuasaan, namun kedua wakil kekuasaan ini hanya bisa dilakukan di dalam kasih, tidak di dalam membangkitkan amarah.

Kita dengan jelas nampak satu perkara, Allah menetapkan kita menjadi kekuasaan, tetapi Allah tidak ingin kita mengambil satu cara pengendalian. Dalam satu keluarga, jika orang yang menjadi orang tua kurang mengasihi anaknya, hanya mengendalikan dengan ketat, akibatnya pasti tidak baik. Orang tua yang baik bukannya tidak mengendalikan anaknya, namun cara pengendaliannya seluruhnya adalah kasih. Orang yang menjadi anak sedikit pun tidak merasa orang tuanya mengekang mereka, sebaliknya merasa orang tuanya mengasihi mereka, memperhatikan mereka, mempedulikan mereka, untuk mereka; orang tuanya di sana merencanakan untuk mereka, mengatur untuk mereka. Pengasuhan dalam kasih ini, di dalamnya adalah pengekangan, adalah kekuasaan. Perlakuan orang yang menjadi suami terhadap istrinya juga demikian.

Pernah terjadi, setelah seorang saudara mendengar khotbah tentang istri tunduk kepada kekuasaan, suami menjadi kepala; lalu berkata, dahulu aku tidak menjadi kepala, mulai saat ini aku mau pulang menjadi kepala. Kemudian dia sangat memandang penting hal ini, berlagak, pasang aksi, pulang menjadi kepala. Sesungguhnya, menjadi kepala bukan dibuat-buat, bukan pasang aksi, juga bukan berlagak; menjadi kepala seperti ini, sungguh keliru.

Di suatu gereja lokal, saya juga melihat ada saudara yang “berbuat” menjadi penatua. O, aku adalah penatua! Merknya benar-benar merk penatua, nada bicaranya juga nada bicara penatua. Saya beri tahu Anda, dalam gereja tidak ada satu suasana yang lebih buruk daripada ini. Ingatlah, berapa banyak kasih, berapa banyak pula kekuasaan. Anda hanya bisa memakai kekuasaan di atas diri orang yang Anda kasihi. Tanpa kasih, tidak ada dasar kekuasaan. Jangan Anda berpikir memakai kekuasaan di atas diri orang yang tidak Anda kasihi, itu mustahil. Mengapa seorang ibu tiri sering kali tidak mempunyai kedudukan di atas diri anak tirinya untuk memakai kekuasaan? Kalaupun si ibu memakai kekuasaan, anak tirinya nampaknya tidak menerima. Itu dikarenakan dia tidak memiliki kasih ibu. Kasih ibu adalah dasar bagi ibu untuk memakai kekuasaan atas diri anaknya. Tanpa kasih, tidak ada tumpuan untuk memakai kekuasaan. Sebab itu perlu nampak, berapa banyak kasih, sebanyak itulah dapat memakai kekuasaan. Kasih adalah dasar dan kekuatan kekuasaan.

Karena itu, kalau orang yang menjadi penatua memaksakan kekuasaan di dalam gereja, itu sedikit pun tidak akan manjur. Bukan saja orang lain merasa tidak indah, Roh Kudus juga tidak merestui. Anda boleh saja menjadi kekuasaan, namun Roh Kudus tidak di dalamnya.Hanya di satu tempat bisa menjadi kekuasaan, yaitu di dalam kasih. Anda sunguh-sungguh mengasihi saudara saudari, kasih itu adalah pengekangan, adalah kekuasaan Anda di atas diri mereka. Baik terhadap segenap gereja, atau terhadap sebagian kecil saudara saudari, Anda harus ingat satu hal, jika Anda sedikit pun tidak mengasihi mereka, Anda mutlak tidak boleh memakai kekuasaan Anda. Jangan ikut campur urusan mereka. Ikut campur itu adalah pengendalian, adalah menjadi kekuasaan. Anda mau ikut campur, mau mengendalikan, mau menjadi kekuasaan, pertamatama harus ada kasih yang digelar di sana, itu adalah tempat berpijak. Jika Anda tidak mempunyai kasih sebagai dasar kekuasaan, Anda tidak mempunyai tumpuan untuk berpijak, Anda menjadi kekuasaan pasti tidak manjur. Anda boleh berkata kepada Allah, “Ya Allah, aku tidak berdaya, sebab masih belum ada satu batu dasar didirikan di sini, aku tidak bisa membangun di atasnya. Masih belum ada sebuah papan untuk berpijak yang diletakkan di sini, aku tidak bisa menginjakkan kaki di atasnya.” Semoga orang-orang yang menjadi penatua tahu diri atas hal ini. Atas gereja, perorangan, atau sebagian orang, kalau Anda belum pernah memakai kasih, belum pernah menggelar kasih, Anda tidak usah ikut campur urusan mereka, kalau tidak, Anda tidak tahu diri. Menjadi kekuasaan yang kita bicarakan di sini sesungguhnya ialah kasih. Mengasihi gereja, mengasihi saudara, mengasihi saudari, maka kasih ini menjadi kekuasaan Anda.

Misalnya, di sini ada seseorang yang mengalami masalah, memerlukan Anda untuk membereskan. Tetapi kalau dalam diri Anda tidak ada hati yang mengasihinya, hal ini tidak dapat Anda bereskan. Anda bukannya harus membereskan, melainkan harus mengasihinya, memperhatikannya, memikul bebannya. Bukan hanya masalahnya, bahkan dirinya adalah pikulan di atas diri Anda. Hanya di bawah suasana demikianlah baru Anda dapat membereskan masalahnya, membawanya berlalu. Jika kekurangan ini, walaupun kepalanya terpukul sampai bocor, berlepotan darah, saya anjurkan saudara yang menjadi penatua, lebih baik Anda tidur di rumah, jangan mengatur dia. Anda tahu maksud pembicaraan saya, sebab pengaturan Anda tidak berguna. Pengaturan Anda adalah menjadi kekuasaan yang kosong melompong, menjadi kekuasaan tanpa dasar, secara mutlak sama dengan usil. Meskipun Anda adalah penatua dalam gereja, tetap tidak akan jalan, karena di sini kekurangan kasih. Menjadi kekuasaan hanya dapat dilakukan di dalam kasih. Dengan kata lain, jelmaan kekuasaan ialah kasih. Kasih Anda di atas diri saudara saudari adalah kekuasaan. Kalau tidak ada kasih ini, menjadi kekuasaan sedikit pun tidak manjur.

Tuhan berfirman bahwa penatua dalam gereja bagaikan gembala dari kawanan domba. Lihatlah orang yang menggembalakan domba, Anda pasti memahami, walaupun di sana dia mengendalikan dombanya, namun kasihnya sangat membara, mengasihi domba-domba itu. Makanan yang dimakan domba, air yang diminum domba, tempat peristirahatan domba, perlindungan domba, semuanya dia persiapkan dengan matang, sungguh merupakan satu aliran kasih, karena itu domba-domba pun mendengarkan dia.

Pada suatu kali, saya pergi ke Skotlandia. Di situ ada tempat penggembalaan yang sangat luas, memelihara banyak domba. Para penggembala juga memelihara anjinganjing gembala yang berjenis kecil, kate, pendek, untuk menjaga domba-domba itu. Anjing jenis ini sangat istimewa. Ketika penggembala membawa kawanan domba berjalan di pegunungan, domba-domba itu kadangkala ceroboh, berjalan semaunya. Sang gembala ingin dia tinggal di padang rumput, dia mungkin lari ke dalam selokan. Untuk menyuruh mereka kembali ke dalam kawanan, sang gembala memberi isyarat khusus kepada anjingnya, lalu seekor anjing keluar. Anjing berlari lebih cepat daripada domba, meskipun domba lebih besar, tetapi anjing sangat galak, maka domba tidak berdaya untuk tidak kembali ke dalam kawanan. Pada suatu kali, saya melihat ada tiga ekor domba berpencar, sang gembala tidak bisa berbuat apa-apa, menggiring yang ini, yang itu lari, menggiring yang itu, yang ini lari lagi. Kemudian sang gembala memberi satu perintah, seekor anjing sangat patuh, segera berlari ke hadapan domba itu, dengan galaknya menggonggong dua kali. Sangatlah aneh, walaupun menggonggong, namun sedikitpun tidak melukainya. Begitu digonggong, domba itu kembali. Dalam waktu yang singkat, anjing ini telah menanggulangi beberapa ekor domba yang berpencar itu untuk kembali. Tampilan anjing itu sangat galak, tetapi membuat Anda merasakan penuh dengan kehangatan. Sampai saatnya domba tersebut kembali, cita rasa sang gembala juga penuh dengan kehangatan. Di sana saya berpikir, ini sungguh bermakna, bahkan gonggongan yang ganas atas diri domba itu adalah pernyataan kasih. Ingatlah, inilah pengendalian kasih, semuanya adalah perwujudan kasih.

Perasaan anak kecil sangat tepat, ada orang tua yang memukul anaknya dengan hebat, tetapi semakin dipukul si anak semakin mendekatinya, dia tahu inilah kasih. Di dalam Anda ada kasih atau tidak, anak kecil bisa merasakannya. Ada juga orang tua mengatakan perkataan yang keras, orang lain yang mendengar merasa ini celaka, namun anak-anaknya mengatahui bahwa di dalam perkataan yang keras itu terkandung cita rasa kasih. Kadang-kadang orang yang menjadi tamu mengatakan perkataan yang indah dan manis kepada anak-anak, tetapi anak-anak tahu bahwa perkataan yang indah ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan mereka. Bahkan anak yang berumur satu atau dua tahun bisa mempunyai perasaan ini. Karena itu, saudara-saudara yang menjadi penatua perlu nampak bahwa ternyata kepengurusan gereja tergantung kepada satu kekuasaan yang tepat, kalau tidak, gereja tidak bisa diurus dengan baik. Namun ketika para penatua menjadi kekuasaan, kekuasaan ini harus berubah menjadi kasih. Sepertinya kekuasaan telah tidak ada lagi, semuanya adalah kasih. Kasih adalah jelmaan kekuasaan. Bagaikan tubuh jasmani Tuhan Yesus adalah jelmaan keilahian Allah. Dia sedikit pun tidak membuat manusia merasa kalau diri-Nya adalah Allah, melainkan membuat manusia merasa bahwa diri-Nya mutlak adalah manusia. Demikian pula, kekuasaan seharusnya membuat orang tidak merasa sedikit pun kekuasaan, sebaliknya membuat orang merasa bahwa semuanya adalah kasih. Kalau saudara saudari tidak merasakan cita rasa kasih di atas diri Anda, maka Anda tidak mempunyai kedudukan, tidak mempunyai tumpuan, tidak mempunyai tempat berpijak untuk menjadi kekuasaan. Menjadi kekuasaan haruslah di dalam hati yang mengasihi.

II. HARUS DI DALAM ROH

Menjadi kekuasaan bukan hanya di dalam kasih, juga harus di dalam roh. Kita semua mengerti apa yang disebut di dalam roh. Anda tidak bisa mengatakan, “Aku adalah penatua, aku adalah kekuasaan gereja. Karena itu aku harus menjadi kekuasaan. Aku mau menangani begini, mau mengurusi begitu.” Ini tidak boleh. Anda harus belajar hidup di dalam roh. Keputusan dan penanganan setiap perkara, semua harus di dalam roh. Walaupun aku adalah seorang penatua, kalau di dalam rohku tidak ada gerakan, tidak ada perasaan, tidak ada beban, maka aku tidak melakukan. Aku tidak bisa menjadi penatua hanya di atas kedudukan, aku harus belajar menjadi penatua di dalam roh. Haruskah aku ikut campur dalam perkara ini, atau tidak?; perkataan ini harus atau tidak kuucapkan; saudara ini harus atau tidak kutemui, untuk bersekutu sedikit dengannya? Semuanya ini tidak bisa diputuskan dengan kedudukanku sebagai penatua. Tidak bisa mengatakan, o, inilah adalah perkara intern penatua, ini adalah perkara yang harus diurus penatua, karena itu aku melakukannya. Tidak, harus belajar hidup di dalam roh. Anda mengatakan ini adalah bimbingan, adalah beban, tetapi saya mengatakan, ini adalah di dalam roh.

Ketika Anda mendengar seorang saudara mengalami masalah, Anda seharusnya memikul beban beratnya ke hadirat Allah, menjamah perasaan Allah, di dalam roh bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, bagaimana ini? Apakah urusan ini boleh tetap ada di sini? Atau aku harus pergi untuk menangani perkara ini? Atau para penatua harus bersamasama pergi untuk menangani?” Anda harus menjamah perasaan di dalam roh, kemudian melakukan menurut perasaan itu.

Tidak ada perkara kedua yang menuntut Anda hidup di dalam roh lebih hebat daripada menjadi penatua. Tetapi sayang, saya melihat orang-orang yang menjadi penatua di banyak lokal, dalam kehidupan insani mereka, semua mau menjamah apakah di dalam roh atau tidak, namun begitu terbentur dengan kepengurusan perkara gereja, mereka semua merasa bahwa ini adalah perkara intern mereka, mereka harus mengurusi, lalu mengabaikan perihal di dalam roh. Karena itu, sering kali atas kepengurusan tersebut orang tidak merasa ada urapan minyak di dalamnya, tidak menjamah suplaian hayat.

Saya harap saudara-saudara yang menjadi penatua nampak, terhadap semua perkara intern penatua, setiap kali ingin menangani, harus kembali ke dalam roh sejenak. Anda ingin mengucapkan beberapa kata menegur saudara, perlu di dalam roh; Anda ingin mengutarakan beberapa kata yang memuji saudara saudari, juga perlu di dalam roh. Penanganan Anda terhadap semua perkara di dalam gereja, harus kembali ke dalam roh. Kalau dalam roh tidak ada perasaan, tidak ada gerakan, lebih baik tidak melakukan. Saudara-saudara, ini bukan teori. Supaya gereja yang Anda tangani menjadi hidup dan penuh urapan minyak, semua penanganan Anda di dalam gereja harus di dalam roh.

Bahkan sidang penatua, harus belajar di dalam roh. Sering kali karena sudah terbiasa setiap minggu berkumpul satu kali membicarakan perkara, maka para penatua tidak memperhatikan hidup di dalam roh, sidangnya terasa mati, membuat orang merasa di dalamnya kering, tidak segar, kekurangan urapan minyak.

Di dalam roh berarti beserta dengan Allah, yaitu membiarkan Allah mengurusi kita di dalam batin kita. Begitu di dalam roh, tidak perlu menjadi kekuasaan, sudah sebagai kekuasaan. Di mana ada penyertaan Allah, di situ ada kekuasaan. Jangan sekali-kali lupa, kekuasaan adalah diri Allah sendiri. Tanpa penyertaan Allah, kita kehilangan kekuasaan. Karena itu, kita terus belajar hidup di dalam roh, menjamah perasaan di dalam roh, bergerak di dalam roh, berbicara di dalam roh.

Di depan, kita telah menyinggung tentang di dalam kasih, jelmaan kekuasaan ialah kasih. Sekarang kita menyinggung tentang di dalam roh, jelmaan kekuasaan ialah hayat. Ketika Anda belajar menjamah perkara gereja di dalam roh, menangani perkara gereja, perasaan yang Anda berikan kepada orang ialah hayat. Begitu Anda menjamah, yang orang lain rasakan adalah hayat; begitu Anda menangani, yang orang lain rasakan adalah hayat; begitu Anda berdiri berbicara, yang orang lain rasakan adalah hayat; begitu Anda mengumumkan, yang orang lain rasakan adalah hayat; begitu Anda berdiri memberi pernyataan, mengatur, yang orang lain rasakan adalah hayat; sebab semuanya Anda lakukan di dalam roh. Jelmaan kekuasaan ialah hayat. Pada diri siapa ada hayat, padanya juga ada kekuasaan; ini pasti. Hayat melimpah kepada siapa, kelompok mana, wilayah mana, maka kekuasaan pun mencapai tempat itu. Hayat ialah jelmaan kekuasaan.

Jadi, penatua harus belajar menjadi kekuasaan, juga harus belajar hidup di dalam roh. Bukan hanya dalam kehidupan Anda saja di dalam roh, bahkan semua kepengurusan dan pergerakan, perkataan dan pernyataan, serta sikap Anda, harus di dalam roh.

III. HARUS DI DALAM KEBANGKITAN

Arti di dalam kebangkitan adalah mengacu kepada semua pergerakan Anda telah melalui salib. Misalnya, ada perkataan yang ingin Anda sampaikan kepada saudara saudari, Anda harus terlebih dulu meletakkannya di dalam kematian salib untuk diuji, untuk disaring. Sering kali begitu disaring, ternyata perkataan Anda tersaring habis. Tadinya begitu ada perkataan segera Anda ucapkan, itu di dalam alamiah, tidak di dalam kebangkitan. Sekarang perkataan yang akan Anda ucapkan, maksud, angan-angan, motivasi, tujuan, semuanya Anda letakkan di dalam kematian salib untuk disaring, maka semua yang alamiah akan tersaring habis. Yang tersisa setelah melewati ujian salib, barulah dapat Anda ucapkan. Sampai waktu itu, Anda berbicara dalam kebangkitan.

Misalnya, Anda mendengar ada dua orang saudara di satu distrik sedang berselisih. Anda adalah salah satu penatua, maka Anda merasa harus pergi melihat kedua saudara tersebut. Tetapi Anda tidak bisa begitu cepat melihat mereka, Anda harus bertanya kepada diri sendiri, angan-angan Anda untuk melihat saudara-saudara ini di dalam alamiah atau di dalam kebangkitan? Anda harus meletakkannya di dalam kematian salib untuk diuji, membiarkan kematian salib menyaringnya. Banyak kali, setelah melalui penyaringan, tidak tersisa apa pun. Walaupun Anda mengetahui mereka berdua sedang ribut, namun karena di sini Anda tidak memiliki sesuatu yang di dalam kebangkitan, Anda tidak berdaya menemui mereka.

Sering kali kita merasa ada orang yang harus ditemui, ada perkataan yang harus dikatakan, ada perkara yang harus ditangani, ada pendapat yang harus diutarakan, tetapi begitu melalui ujian salib, habislah semuanya; orang tidak perlu ditemui, perkataan tidak perlu diucapkan, perkara tidak perlu ditangani, pendapat tidak perlu diutarakan. Kita merasa tidak boleh, sebab semuanya alamiah. Kadangkadang kita bisa menemukan bukan saja alamiah bahkan emosional, adalah kecenderungan dan kegemaran kita sendiri. Semua itu tidak tahan uji oleh salib, begitu sampai pada salib, semuanya habis. Orang dunia mengatakan, “pikir dahulu tindak kemudian”, ini adalah perihal mempertimbangkan untung atau rugi, aman atau berisiko, tetapi di sini bukan perihal demikian. Setiap kali Anda beraktivitas di dalam gereja, ada sikap untuk dinyatakan, ada pendapat untuk diucapkan, haruslah menerima prinsip salib. Anda harus meletakkan semuanya di dalam kematian salib, melakukan suatu ujian, dapat atau tidak melewati salib.

Bahkan dalam hal menyampaikan berita di mimbar (berkhotbah), juga harus terlebih dulu diujikan pada salib. Ada khotbah yang begitu melalui ujian salib, segera habis, Anda menemukan bahwa khotbah Anda seluruhnya adalah benda-benda asing, masih alamiah, masih emosional, masih daging, masih merupakan barang di Timur Sungai Yordan, belum sampai ke dalam kebangkitan. Karena itu terhadap banyak perkara, jika kita tidak secara pasti mengetahui sudah melalui salib, lebih baik tidak kita lakukan. Mau melakukan, mau berbicara, harus melalui ujian salib. Yang bisa melewati salib barulah di dalam kebangkitan.

IV. HARUS DI DALAM KESABARAN

Kesabaran adalah sesuatu yang sulit dibahas. Saya percaya kita semua mengerti apa yang disebut sabar, tetapi izinkanlah saya mengatakan sepatah kata: semua orang yang mengira dirinya sabar, sembilan di antara sepuluh orang, telah salah menafsirkan kesabaran. Kesabaran yang ditafsirkan oleh sebagian besar orang adalah mengacu kepada tidak tergesa-gesa, perlahan-lahan. Contohnya, Anda menyalahi saya, tetapi saya tidak mempunyai tindakan apa-apa; inilah kesabaran. Kalau ada orang berjanji akan datang pukul 12:00, sampai pukul 12:15 masih belum datang, maka saya bersabar dan bersabar lagi. Inilah kesabaran yang ditafsirkan oleh kebanyakan orang. Tetapi ini bukan kesabaran yang kita bahas. Kesabaran yang kita bahas di sini adalah mengacu kepada tidak peduli berapa banyak Anda tertimpa kesulitan, Anda masih tetap menaruh pengharapan atas diri orang lain. Entah berapa banyak waktu yang Anda keluarkan atas diri orang itu, hasilnya gagal, namun atas diri mereka Anda masih menaruh pengharapan. Entah Anda sudah bekerja berapa banyak, terus bekerja, bekerja lagi, sama sekali tidak ada hasilnya, Anda belum juga putus asa. Orang itu hari ini Anda jenguk, dia tidak bereaksi, besok dijenguk dia masih tidak bereaksi, dijenguk satu tahun, dua tahun, tetap tidak bereaksi, Anda masih harus menjenguknya. Inilah kesabaran yang kita bicarakan di sini.

Saya pernah bertemu dengan seorang saudara, dilihat dari satu sisi, dia sungguh adalah satu model dari orang yang sabar; namun dilihat dari sisi lain, ia juga adalah satu model dari orang tidak sabar. Sebab dilihat dari satu sisi, dia selamanya tidak pernah tergesa-gesa, bicaranya pelan, bekerjanya pelan, kontak dengan orang juga pelan, dia sungguh-sungguh orang yang sabar. Tetapi dilihat dari sisi lain, dia sangat tidak sabar. Kalau berkhotbah, tiga kalimat, lima kalimat, sudah selesai. Perkara gereja yang ditangani juga demikian, berhasil syukur, tidak berhasil juga tidak apa-apa. Mungkin Anda berkata dia adalah orang yang cekatan, namun sebenarnya dia mutlak tidak sabar. Apa yang disebut sabar? Sabar bukan bekerja pelan, sabar bukan menunggu waktu, sabar adalah Anda dalam pekerjaan Anda bisa bertahan terhadap gangguan. Anda terus dikikis masih belum menyerah, ini disebut sabar.

Dahulu di Cingdao (baca Jing tao) ada seorang saudara sekerja, dia benar-benar telah belajar sabar. Pada tahun 1934 dia menerima pimpinan untuk bekerja di Cingdao, setelah tinggal selama setengah tahun, belum ada hasilnya, tinggal selama satu tahun, masih belum ada hasilnya. Tahun 1935, sekitar bulan Juli atau Agustus, Saudara Watchman Nee membawa kita beberapa saudara, dari Zinan ke Cingdao, melihat keadaan di sana kosong, tanpa hasil. Kita semua mempunyai satu perasaan, saudara ini mungkin tidak seharusnya terus tinggal di Cingdao. Terus tinggal di sana tanpa hasil sungguh menderita. Waktu itu ia di sana sungguh dalam keadaan yang sulit; menyewa sebuah bilik kecil di bawah tangga, hanya ada sebuah ranjang yang reyot, sebuah kursi butut, sungguh tidak karuan, pekerjaannya sedikit pun tanpa hasil, siapa saja berkata kepadanya bahwa lebih baik dia pindah ke tempat lain, namun dia tetap bertahan di sana.

Keadaan seperti itu terus berlangsung selama tiga tahun, baru di sana ada sedikit perubahan. Waktu itu mereka telah mendapatkan sebuah rumah di atas bukit untuk bersidang, semua orang yang pergi bersidang harus mendaki bukit. Waktu itu saya baru berusia tiga puluhan, bahkan saya berkata kepadanya, “Anda menghendaki orang datang bersidang atau menghendaki orang datang mendaki bukit?” Hasil selama tiga tahun hanya sedikit itu. Di sana saya merasa, apakah di tempat lain tidak ada pekerjaan, mengapa harus bekerja di Cingdao? Tetapi dia masih antusias bekerja di sana, sedikit pun tidak patah semangat.

Lewat dua tahun kemudian, tempat sidang mereka pindah dari bukit ke dataran. Dari segi ilmu bumi telah tu-run, dari segi rohani telah naik. Puji Tuhan! Mulai dari sini, pekerjaan di Cingdao sudah ada sedikit permulaan. Sampai musim semi tahun 1942, di sana sudah ada 130 orang lebih yang datang bersidang. Bersidang dua bulan lagi, beberapa kali baptisan, bertambah lagi 200 orang. Sampai akhir tahun itu telah berjumlah 600 hingga 700 orang. Saat itu pekerjaan di sana sungguh-sungguh telah berkembang. Saudara kita itu tidak mempunyai karunia istimewa, namun telah belajar sabar. Dia berdiri di sana, dan berdirinya membuahkan satu hasil. Inilah kesabaran yang kita bicarakan.

Ingatlah, mengurus gereja harus memakai kekuasaan, harus menjadi kekuasaan, tetapi juga harus belajar pelajaran yang hebat, yaitu harus di dalam kesabaran. Hanya di dalam kesabaran barulah selamanya tidak kecewa terhadap gereja, tidak kecewa terhadap saudara saudari. Meskipun mereka lebih buruk lagi, tidak ada perubahan, aku masih mau pergi menjenguknya, masih mau berdoa baginya, masih mau berbeban baginya. Tidak peduli bagaimana dia, saya tidak kecewa, saya selalu mempunyai hati yang demikian di atas dirinya. Pengharapan ini adalah kekuasaan. Secara teori, Anda tidak bisa berkata bahwa ini adalah kekuasaan, tetapi faktanya, kesabaran semacam ini benar-benar adalah jelmaan kekuasaan.

Andaikata sebuah sidang distrik telah saya bantu selama tiga bulan masih juga belum menjadi baik, namun saya tidak putus asa. Saya bukannya tidak gelisah, hati saya sangat gelisah, datang ke hadirat Allah, begitu berdoa segera mencucurkan air mata, tetapi tidak putus asa. Setengah tahun berlalu masih tidak baik, saya tidak putus asa. Saudari yang piket, membuat surat referensi saja tidak bisa, diajari tetap tidak becus, saya tidak putus asa, masih tetap mengajari dia. Inilah kesabaran yang kita bicarakan. Seorang saudara membersihkan jendela kaca tidak bersih, tetapi Anda masih menyuruh dia membersihkan. Pada satu sisi, Anda mengawasi dan mendesak dia, pada sisi lain, Anda bisa menerima. Apa yang disebut tidak sabar? Tidak sabar ialah terhadapnya Anda mempunyai satu sikap: kalau Anda mau membersihkan dengan baik, datanglah membersihkan; jika tidak baik, tidak perlu datang. Apa yang disebut sabar? Sabar ialah meskipun Anda membersihkannya kurang baik, masih harus datang membersihkan. Jangan mengatakan saya tidak mengizinkan Anda pergi, sekalipun Anda sendiri mau pergi, saya tidak akan membiarkan Anda pergi.

Saya benar-benar tahu, penatua-penatua di banyak tempat adalah politikus, selamanya tidak sabar. Seorang saudara menjadi diaken selama dua bulan, tidak begitu cocok, bagaimana? Kebetulan saudara ini sedang sakit, minta izin tidak hadir, lalu para penatua mengatakan, “Baiklah kalau demikian, tidak perlu datang lagi.” Ini adalah permainan politikus. Sebenarnya sejak awal sudah tidak mau dia, hanya saja merasa sungkan memecatnya. Sekarang dia sakit, puji Tuhan, inilah jalan yang dibuka oleh Tuhan. Ini politik. Penatua seperti ini di dalam gereja pasti tidak mempunyai kekuasaan. Jika Anda telah belajar sabar, tentunya tidak demikian. Anda harus berkata kepada saudara itu: Saudara, Anda sakit, kami berdoa untuk Anda. Tunggulah sampai Anda sembuh baru melayani lagi. Selama dua bulan ini kami tidak puas terhadap pekerjaan Anda, ini sungguh, tetapi kami masih mendorong Anda untuk datang. Demikian Anda menjenguk dia, berdoa dengannya, menasihati dia supaya tidak kecewa, menunggu sampai dia sembuh, lalu melayani kembali, masih harus mengajari dia lagi, membimbingnya lagi, demikian terus-menerus bersabar, mungkin di tahun kedua, atau ketiga, dia sudah bisa. Ingatlah, sampai hari itu, entah berapa besar kekuasaan yang dia terima di atas diri Anda. Kesabaran Anda telah menggenapi dirinya, akhirnya kesabaran ini adalah kekuasaan. Kalau dua bulan Anda melihat dia tidak becus lalu cari alasan untuk memainkan politik, akhirnya apa yang terkandung di dalam batin dilakukan di luar, orang lain mencium cita rasa politik Anda, tidak lagi mau tunduk kepada Anda, maka kekuasaan ini habislah. Karena itu harus menjadi kekuasaan di dalam kesabaran.

Dalam gereja, penatua tidak sembarangan mengundang orang untuk memikul tanggung jawab dan berkoordinasi, ini benar; namun begitu diundang untuk memikul tanggung jawab, berkoordinasi, haruslah sabar. Walaupun ada kegagalan, kesalahan, masih harus bersabar. Perlu terus bersabar. Para penatua harus menjadi kekuasaan di dalam kesabaran.

V. HARUS DI DALAM DAYA PEMBEDA

Penatua harus mempunyai daya pembeda. Anda tidak bisa menangani, memutuskan, menetapkan perkara dengan ceroboh. Harus belajar menjadi kekuasaan di dalam pembedaan. Butir ini akan kita bicarakan secara khusus dalam berita berikutnya, di sini hanya disinggung sedikit.

VI. HARUS DI DALAM KOORDINASI

Penatua juga harus menjadi kekuasaan di dalam koordinasi, bila menyendiri, bukan kekuasaan. Mengenai koordinasi penatua, nanti akan kita bicarakan dalam judul yang khusus. Penatua adalah suatu kelompok, adalah satu lembaga pemerintahan dalam gereja, sama dengan pemerintah suatu negara, mutlak tidak bisa menyendiri.

VII. MENJADI KEKUASAANDAN MEMAKAI KEKUASAAN

Penatua menjadi kekuasaan, tetapi selamanya jangan memakai kekuasaan. Kapan saja Anda memakai kekuasaan penatua, saat itu juga sudah tidak bisa menjadi penatua. Izinkanlah saya menyinggung lagi kisah Musa. Musa sungguh-sungguh menjadi kekuasaan di antara umat Allah, namun dia selamanya tidak memakai kekuasaan. Setiap kali masalah datang, kesulitan datang, urusan datang, dia hanya mempunyai satu tempat yang dituju, yaitu bersujud di hadirat Allah. Anda tidak pernah mendengar dia mengatakan: “Aku adalah kekuasaan yang didirikan oleh Allah, aku akan menanggulangi dengan kekuasaan, aku akan menangani dengan kekuasaan.” Musa tidak pernah berkata demikian. Tetapi di sisi lain, Anda nampak dia pun menjadi kekuasaan di sana. Dia menjadi kekuasaan di dalam kasih, menjadi kekuasaan di dalam kesabaran, menjadi kekuasaan di dalam pembedaan. Demikian dia menjadi kekuasaan, berarti memakai kekuasaan.

Demikian pula Anda dan saya wajib belajar menjadi kekuasaan di dalam kasih, menjadi kekuasaan di dalam roh, menjadi kekuasaan di dalam kebangkitan, menjadi kekuasaan di dalam kesabaran, menjadi kekuasaan di dalam pembedaan, menjadi kekuasaan di dalam koordinasi, namun bersamaan itu tidak memakai kekuasaan. Ingatlah selalu, jangan memakai kekuasaan penatua. Jangan mengatakan, “Aku adalah penatua, aku duduk di atas posisi penatua, aku ingin melakukan sesuatu berdasarkan status sebagai penatua.” Semua itu keliru. Kiranya sebutan penatua, kedudukan penatua, di tengah-tengah kita sama dengan nol. Di antara kita seharusnya hanya ada diri penatua, jabatan penatua, tanggung jawab penatua, beban berat penatua. Penatua menjadi kekuasaan, berarti memakai kekuasaan.