← Daftar isi Kepengurusan Penatua atas Gereja · bab 5/15

PENGENALAN TERHADAP KEKUASAAN I. KEKUASAAN DAN KEPENGURUSAN

Begitu menyinggung kepengurusan gereja, kita semua akan memikirkan masalah kekuasaan. Kalau tidak ada kekuasaan, tidak ada kepengurusan. Baik Anda mengurus sekelompok orang atau mengurus satu tempat, perlu ada kekuasaan. Kalau Anda dengan teliti mengamati perkara di antara umat manusia, Anda akan menemukan hampir tidak ada satu perkara yang tidak mengandung masalah kekuasaan, ini satu perkara yang sangat mengherankan. Sebenarnya, ini tidak mengherankan, karena ini adalah ketetapan Allah. Misalnya, Anda mengundang seorang pembantu untuk membantu mengurusi pekerjaan di dapur, di sini juga ada masalah kekuasaan. Di satu pihak Anda menyerahkan kekuasaan kepadanya, menyuruh dia mengurusi perkara di dapur, di pihak lain Anda juga menjadi kekuasaannya. Meskipun dia melakukan perkara di dapur yang termasuk kecil, tetapi dia juga mempunyai kekuasaan di atasnya, bersamaan dengan itu juga ada satu kekuasaan di tangannya. Sebenarnya, kekuasaan di tangannya adalah kekuasaan yang di atasnya. Kalau dia tidak mengakui kekuasaan di atasnya, segera akan kehilangan kekuasaan di tangannya. Ini sangat jelas sekali. Kalau dia tidak mengakui Anda adalah tuannya, kalau dia menyangkal kekuasaan Anda atas dirinya, segera ia akan kehilangan kekuasaan bekerja di dapur. Seperti perkara mengatur dapur, memasak nasi, meskipun perkara yang sangat kecil, di dalamnya juga ada masalah kekuasaan.

Misalnya lagi, di balai sidang ada satu atau dua saudara tua yang bertanggung jawab dalam hal kebersihan. Kalau Anda dengan teliti mengamati, Anda akan tahu bahwa di sini juga ada masalah kekuasaan. Ketika saudara pewajib mengatur mereka melakukan kebersihan, dengan sendirinya memberi kekuasaan kepadanya, sehingga mereka bisa membuka pintu, menutup pintu, mengatur tempat itu. Ketika mereka akan menutup pintu, Anda dan saya tidak bisa menghalangi, karena mereka mempunyai kekuasaan. Dari manakah kekuasaan ini? Dari saudara pewajib. Saudara pewajib memberi kekuasaan ini kepada mereka, bersamaan dengan itu saudara pewajib juga menjadi kekuasaan mereka. Kalau mereka tidak menerima kekuasaan saudara pewajib, segera akan kehilangan kekuasaan melakukan pembersihan. Begitu mereka tidak mau kekuasaan di atas, segera akan kehilangan kekuasaan di tangan mereka. Dalam hal ini, Anda tetap melihat di dalamnya ada masalah kekuasaan.

Tidak saja di rumah atau di gereja, di mana saja juga sama; baik di sekolahan, perdagangan, perusahaan, perkantoran, tidak bisa terhindar dari masalah kekuasaan. Kalau menghapus masalah kekuasaan dari antara umat manusia, maka manusia tidak bisa hidup berkelompok, ini pasti.

Di antara kelompok manusia, tidak ada satu perkara yang lebih tinggi daripada mengurus dan mengatur rumah Allah. Tentunya perkara yang tinggi ini lebih-lebih tidak bisa terlepas dari masalah kekuasaan. Kalau menghilangkan masalah kekuasaan dari gereja, Anda tidak bisa mengurus gereja, juga tidak bisa mengatur gereja, segalanya tidak perlu dibicarakan lagi. Mengurus dan mengatur gereja perlu ada kekuasaan. Kalau tidak ada kekuasaan, Anda tidak bisa mengurus gereja dengan baik, dengan teratur. Kalau ingin mengurus gereja dengan baik, tidak bisa terlepas dari masalah kekuasaan.

Sayang sekali, hari ini dalam kalangan Protestan, karena latar belakang pengaruh buruk Katolik (kekuasaan dalam Katolik tidak tepat), sehingga memberi satu kesan yang jelek kepada beberapa orang milik Allah, mereka mengira bahwa di tengah-tengah anak-anak Allah tidak seharusnya ada kekuasaan, begitu ada kekuasaan berarti menjadi Katolik, menjadi organisasi kekristenan. Anakanak Allah, karena latar belakang Katolik dan Protestan yang kurang tepat, lalu terpengaruh, terjadi salah paham dan sangat alergi terhadap kekuasaan. Tetapi saudara-saudara, bagaimanapun, kita di hadapan Tuhan harus mengakui, kalau ada gereja, perlu ada kepengurusan; kalau ada kepengurusan, perlu ada kekuasaan. Kekuasaannya itu tepat atau tidak, itu masalah yang lain; perlu ada kekuasaan, itu masalah yang lain lagi. Sebab itu, kalau tidak menyinggung masalah kepengurusan, tidak perlu kita bicarakan masalah kekuasaan, tetapi begitu menyinggung masalah mengurus gereja, tidak bisa mengabaikan atau memandang ringan masalah kekuasaan.

Maafkan saya berkata, ketika saya baru menjadi orang Kristen, saya juga sedikit berangan-angan bahwa di tengahtengah anak-anak Allah tidak seharusnya ada masalah kekuasaan. Saya mengira dalam Matius 20, Tuhan Yesus dengan jelas memberi tahu kita: di antara bangsa-bangsa ada pemerintah dan pembesar yang bertindak sebagai tuan atas mereka, tetapi tidaklah demikian di antara kamu, karena kamu semua adalah saudara. Di satu pihak ini benar, tetapi kita harus mengakui bahwa semua kebenaran di dalam Alkitab memiliki dua aspek. Kedua aspek ini saling mengimbangi. Pada mulanya, karena pengaruh kekuasaan dalam Katolik dan Protestan yang tidak tepat, lalu kita mengira kekuasaan boleh diabaikan; lagi pula berdasarkan Alkitab kita menemukan firman Tuhan berkata, di depan Allah kita semua adalah saudara, tidak ada orang yang boleh mengatur Anda, juga tidak ada orang yang boleh mengatur saya. Kalau ada orang yang mengatur, itu hanya Tuhan sendiri. Siapa yang yang bisa menggantikan Tuhan mengatur orang lain? Kalau ada orang yang mengatur, berarti melanggar otoritas Tuhan, merebut kedudukan Tuhan, itu sungguh-sungguh menghujat Tuhan. Perkataan ini ada benarnya, tidak bisa dikatakan salah, tetapi Anda harus melihat lagi aspek yang lain. Pelan-pelan, karena mengasihi Tuhan, mengenal sedikit hayat rohani, ditambah lagi nampak terang gereja, nampak masalah Tubuh Kristus, lalu kita pun nampak, kalau Anda dan saya hanya menjadi saudara, mungkin tidak perlu ada masalah kekuasaan, tetapi kita juga saling menjadi anggota Tubuh, sebab itu ada masalah koordinasi. Tentunya saya tidak berkata, menjadi saudara tidak perlu kekuasaan, lambat laun Anda akan nampak, menjadi saudara pun perlu kekuasaan. Tetapi yang kelihatan lebih nyata adalah dalam saling berkoordinasi menjadi anggota Tubuh, ini adalah masalah korporat, masalah gereja. Dalam gereja harus ada kekuasaan. Begitu kita memperhatikan masalah gereja, tidak bisa tidak mengenal masalah kepengurusan. Begitu ada masalah kepengurusan, tidak bisa tidak bertemu dengan kesulitan konkret.

Saya masih ingat dengan jelas, 30 tahun yang lalu, kami di Utara (ada sekelompok orang) bangkit meninggalkan kekristenan, semua datang berkumpul menjadi satu. Ketika kami berkumpul, kami berkata, “Kita semua adalah saudara, hanya Tuhan barulah Tuan kita, kita jangan mengatur orang lain. Tetapi lambat laun masalah yang konkret mucul. Misalnya, bagaimana mengatur tempat duduk sidang? Saudara berkata harus begini, saudari berkata harus begitu; beberapa saudara saudari saja sudah ada beberapa cara pengaturan, lalu bagaimana menyelesaikannya? Kalau kita memakai cara demokrasi, semua mengeluarkan pendapat, lalu dengan angkat tangan voting, yang lewat setengah dari jumlah berarti disetujui, dalam Alkitab tidak ada cara yang demikian, dalam kami pun merasa tidak nyaman, tidak tenteram. Di sini dengan jelas kita bertemu dengan satu masalah yang konkret, kita tidak bisa menyangkal hal ini.

Lewat sejangka waktu, kami membawa beberapa orang beroleh selamat, lalu akan membaptis mereka. Segera timbul lagi masalah yang konkret, dibaptis di laut, atau di sungai, atau di kolam dalam rumah? Saya ingin berkata dengan saudara saudari, tidak perlu terlalu banyak orang, hanya belasan orang dalam sidang, satu per satu mengeluarkan pendapatnya, sampai “akhir zaman” pun tidak habis dikatakan. Ada orang, begitu diberi kesempatan menyatakan pendapat, langsung memberi usul: Harus membaptis orang di sungai. Ada orang yang mungkin berkata, “Tidak perlu demikian repot, tidak perlu tergantung pada formalitas, tetapi tergantung pada realitas rohani, asal dipercik dengan air saja sudah cukup. Saya tidak perlu panjang lebar, saudara-saudara bisa membayangkan, perkara kecil ini saja, kalau memberi kesempatan kepada setiap saudara saudari untuk berbicara, pasti banyak pendapat, dan tidak habis dibicarakan. Lalu bagaimana? Di sini Anda terbentur dengan satu masalah yang konkret lagi.

Masalah-masalah konkret ini harus diselesaikan dengan cara apa? Di antara orang dunia dapat diselesaikan dengan cara rapat dewan, tetapi di dalam gereja tidak bisa berbuat demikian. Orang dunia dapat mengadakan pemilihan, semua berlomba dalam pemilihan, tetapi dalam gereja tidak boleh demikian. Namun sayang sekali dalam kekristenan justru ada yang berbuat demikian, itu tidak bisa tidak dikatakan sebagai satu hal yang memalukan. Ada organisasi kekristenan tertentu mengadakan pemilihan pengurus sinode, majelis daerah. Orang-orang yang ingin terpilih secara diam-diam mengadakan kampanye. Saya bertanya kepada saudara saudari, apakah dalam gereja Allah boleh ada tindakan yang demikian? Sama sekali tidak boleh! Kalau ada kampanye, Paulus, Yakobus, Yohanes, semua akan mengundurkan diri, hanya Yudas yang akan tampil berkampanye. Akhirnya gereja terpaksa diserahkan untuk diurus oleh orang-orang seperti Yudas. Orang yang makin rohani, makin mengenal Tuhan, makin tidak mau memakai tangannya sendiri untuk berebut sesuatu bagi diri sendiri. Sebab itu sistem rapat dewan tidak bisa dilakukan dalam gereja. Jangankan berkampanye, ketika kita bersama membicarakan masalah, kalau terjadi perselisihan, orang yang semakin mengenal Allah akan semakin tidak mau bertengkar; orang yang semakin mengenal Allah, semakin menahan perkataan, menunggu sampai perkataan orang selesai, barulah dia memberi kesempatan Allah berbicara. Sebab itu cara rapat dewan tidak tepat, tidak saja dalam Alkitab tidak ada contohnya, dalam roh kita juga merasa tidak mantap. Lalu harus bagaimana menyelesaikan masalah? Di sini dengan sendirinya membawa masuk masalah kekuasaan.

Puji Tuhan, di tengah-tengah kita pada awalnya meskipun tidak ada pimpinan yang demikian, juga tidak ada pembicaraan tentang hal ini, tetapi pada kenyataannya benar-benar ada masalah kekuasaan. Baik kita yang di Utara, atau di Selatan, pada awalnya keadaannya sama. Di Utara, pada awalnya saya sungguh melihat keadaan itu, bukan rapat dewan, juga bukan perundingan, melainkan dengan sendirinya di sana terbentuk satu kekuasaan. Misalnya, soal mengatur tempat duduk, saudara saudari berkumpul bersama, bukan berdebat, juga bukan berebutan, tetapi dengan sendirinya mengutarakan perasaan, setelah berbicara, lalu ada satu dua saudara yang menjadi kekuasaan berkata, baiklah, pengaturan tempat duduk kita demikian. Setelah saudara-saudara itu berbicara, yang lainnya tidak berbicara lagi. Sampai waktu membaptis orang juga memberi saudara saudari satu kesempatan untuk mempersekutukan perasaannya, ada yang berkata, lebih baik di sungai, ada orang berkata, lebih baik di laut, ada orang yang berkata, seharusnya di dalam rumah. Tetapi sampai akhirnya, selalu ada saudara berdiri berkata, menurut keadaan sekarang, kita cukup menyediakan air satu kolam di dalam rumah saja sudah cukup. Saat itu, orang yang berkata di laut tidak berbicara lagi, orang yang berkata di sungai juga tidak berbicara, semua dengan sukacita melayani pembaptisan. Anda di sini melihat masalah kekuasaan. Saya mengambil sedikit contoh untuk memperlihatkan kepada Anda semua, kalau tidak ada kekuasaan, semuanya akan kacau, begitu ada kekuasaan, semuanya akan berada di atas rel.

Kita ambil contoh gereja di Taipei, saudara saudari yang terdaftar ada 8.000 orang, yang sering bersidang ada 2.000 sampai 3.000 orang, bagaimana caranya mengatur gereja yang cukup besar ini? Di sini sepenuhnya adalah masalah kekuasaan. Saya harap saudara saudari nampak, untuk mengurus gereja, tidak bisa terlepas dari masalah kekuasaan; begitu terlepas dari masalah kekuasaan, lebih baik tidak ada gereja. Anda lebih baik menjadi orang Kristen Anda sendiri, saya juga menjadi orang Kristen saya sendiri, sampai waktunya kita saling menjadi teman; pada suatu hari Anda mempersekutukan pembacaan Alkitab Anda kepada saya, saya juga mempersekutukan pembacaan Alkitab saya kepada Anda; Anda mengundang saya makan, saya juga mengundang Anda makan, kita saling bersekutu. Begitu terlepas dari kekuasaan, hubungan Anda dengan saya hanya bisa sampai di sini saja. Kalau Anda masih mau ada gereja, Anda tidak bisa terlepas dari kepengurusan gereja, begitu ada kepengurusan, segera timbul masalah kekuasaan.

Sampai di sini kita seharusnya sudah jelas, terlepas dari gereja, kehendak Allah selamanya tidak bisa tergenapi di bumi; terlepas dari gereja, kita juga sulit menjadi anakanak Allah, sulit menerima anugerah Allah, sulit menikmati kekayaan Allah. Semua perkara ini tergenapi dalam gereja, kalau tidak, semuanya tidak akan ada. Saya percaya saudara saudari bisa memahami, tidak perlu banyak bicara lagi. Sebab itu harus ada kepengurusan, tentunya bersamaan dengan itu perlu ada kekuasaan. Para penatua mengurus gereja tidak bisa terlepas dari kekuasaan, begitu terlepas dari kekuasaan, segera tidak ada kepengurusan, juga tidak ada gereja.

II. HARUS MENGENAL KEKUASAAN

Mengenal kekuasaan yang dibicarakan di sini mengacu kepada bertemu dengan kekuasaan. Jadi, ini adalah satu istilah yang khusus pemakaiannya. Saya mau dari kesungguhan batin bersaksi kepada saudara saudari, dari pengalaman saya yang sedikit, saya benar-benar mengakui ada perkara kekuasaan. Seorang anak Allah, kalau benar-benar ingin maju mengikuti Tuhan, cepat atau lambat, pada suatu hari dalam pengalaman pasti akan bertemu dengan masalah kekuasaan. Ada satu hal yang bernama kekuasaan, pasti akan Anda temui. Umumnya kita berkata mengenal kekuasaan, hanya supaya kita mengenal sedikit doktrin tentang kekuasaan. Ini bukan yang kita bicarakan di sini. Mengenal kekuasaan yang kita bicarakan di sini mengacu kepada Anda bertemu dengan kekuasaan itu. Orang yang benar-benar bisa mengurus gereja, benar-benar bisa membangun gereja, cepat atau lambat Allah pasti menyuruhnya bertemu dengan kekuasaan. Dia akan menemukan satu fakta, yaitu tidak peduli kapan saja, begitu dia bersalah kepada kekuasaan, merusak kekuasaan, dia sama seperti kehilangan nyawa. Begitu ia melukai kekuasaan, berbentrokan dengan kekuasaan, tidak saja pelayanannya sulit maju, bahkan untuk menjadi orang Kristen pun ia merasa sulit.

Kekuasaan adalah satu hal yang sulit dibicarakan. Saya terlebih dulu membicarakan apa itu bertemu dengan kekuasaan. Misalnya, beberapa hari yang lalu di koran memuat satu berita tentang penyelundupan besar. Anda tentu tahu, ketika orang itu menyelundupkan barang, dia juga mempunyai perasaan kekuasaan. Dia tahu dirinya melakukan penyelundupan, dia tahu melakukan hal itu adalah melanggar kekuasaan. Meskipun dia mempunyai perasaan itu, tetapi dia tidak bertemu dengan kekuasaan. Sampai suatu hari, ketika kasus penyelundupannya terbongkar, pemerintah akan menangkap dia, saat itu dia bertemu dengan kekuasaan. Dia harus menyembunyikan diri, terus menghindari dari kejaran petugas keamanan, dia paling takut kepada polisi. Sebenarnya polisi tidak ada hubungan apaapa dengan dia, tetapi polisi adalah wakil kekuasaan. Dia telah merugikan kekuasaan, sebab itu dia tidak bisa hidup dengan normal.

Misalnya lagi, seorang yang menjadi anak, ketika dia hidup dengan baik di depan orang tuanya, mungkin tidak merasakan kekuasaan orang tuanya; tetapi ketika dia bermasalah di depan orang tuanya, segera bertemu dengan kekuasaan. Jangankan anak berusia 10 tahun ketika bermasalah dengan orang tuanya tidak bisa dengan baik menjadi orang; orang dewasa yang berusia 50 tahun pun kalau bermasalah dengan orang tuanya, menjadi orang di dalam alam semesta pun merasa ada sedikit masalah. Karena orang tua di atas dirinya adalah kekuasaannya, di atas diri orang tuanya ia bertemu dengan satu kekuasaan.

Saya tidak tahu apakah dengan berkata demikian saudara saudari bisa mengerti? Ingatlah, kalau Anda benarbenar maju dalam hal mengikuti Tuhan dan melayani Tuhan, cepat atau lambat Tuhan akan mengatur Anda untuk bertemu dengan kekuasaan. Perkara apa saja Anda boleh ribut, tetapi ketika Anda bertemu dengan kekuasaan, Anda sendiri tahu, kalau Anda tetap ribut, dalam hayat Anda tidak bisa maju, di depan Allah Anda juga tidak bisa menempuh hidup dengan baik. Mungkin Anda masih bisa memaksa melayani, tetapi cita rasanya sudah tidak enak. Mungkin Anda masih bisa membaca Alkitab, berdoa, bahkan berkhotbah, tetapi Anda sendiri tahu, bagaimana cita rasanya. Kalau dikatakan dengan perumpamaan, itu adalah cita rasa yang sangat tidak enak, sama seperti hendak mencabut nyawa kita saja. Terpidana penyelundupan itu juga makan, berpakaian, tidur, bahkan mandi membersihkan diri, tetapi hanya dia yang tahu betapa tidak enaknya cita rasa itu. Dia pernah melakukan beberapa perkara yang jahat, tetapi tidak sepahit kali ini, karena dia telah bertemu dengan kekuasaan.

Dalam perkara rohani juga demikian. Kalau di tengahtengah kita benar-benar ada realitas gereja, kalau benarbenar ada penyertaan Tuhan, di sini pasti ada satu kekuasaan. Kalau Anda bertanya kepada saya, apakah kekuasaan ini? Saya tidak bisa menjelaskannya. Sama seperti asal ada negara, di sana pasti ada pemerintahan, Anda pasti melihat ada kekuasaan. Cepat atau lambat Anda pasti akan bertemu dengan kekuasaan. Begitu Anda melanggar kekuasaan, di hadapan Allah Anda tidak bisa mempunyai kehidupan yang normal. Mungkin Anda masih bisa berdoa, masih bisa membaca Alkitab, masih bisa melayani, tetapi cita rasa di dalam sudah berbeda, Anda merasa tidak damai.

O, saudara-saudara, ada satu perkara di dalam gereja, di antara umat Allah, yang disebut kekuasaan. Pada suatu hari Anda pasti akan bertemu dengan perkara ini. Sekalikali jangan berkata, “Siapa yang menjadi kekuasaanku?” Anda mungkin bisa berkata bahwa di dalam negara ada pejabat tinggi yang menjadi kekuasaan Anda, tetapi sesungguhnya bukan demikian.Pejabat bisa diganti, tetapi kekuasaan masih tetap berada di sana. Bertemu kekuasaan ini sulit dijelaskan, ini bukan satu pengenalan doktrinal yang biasa. Kalau kita setia mengikuti Tuhan, ingin benar-benar menempuh jalan Tuhan, cepat atau lambat dalam rumah Tuhan, dalam Kerajaan Tuhan, dengan riil bertemu dengan satu hal yang disebut kekuasaan. Kalau Anda tidak ingin bertemu dengan hal ini, sebaiknya Anda menempuh jalan Katolik, atau menjadi anggota organisasi kekristenan dalam Protestan, demikian Anda pasti tidak bertemu dengan kekuasaan. Karena di sana tidak ada hal ini, sama sekali tidak membicarakan hal ini. Maafkan saya berkata, saya pernah sejangka waktu yang lama menjadi anggota satu denominasi, saya sangat jelas cerita di dalam denominasi, di sana Anda tidak akan bertemu dengan kekuasaan. Setelah saya berada di jalan ini, tidak beberapa lama, saya menyentuh satu hal yang membuat saya tidak bisa menentangnya; kalau saya menentangnya, saya tidak bisa hidup lagi di hadapan Alah. Tidak bisa hidup lagi ini bukan berarti akan mati, melainkan sama seperti penyelundup yang melarikan diri itu, meskipun masih bisa makan, berpakaian, tetapi kehidupannya adalah kehidupan yang sangat tidak nyaman untuk ditempuh.

Saudara-saudara, saya berkata lagi sedikit perkataan yang berat. Kalau gereja di mana Anda berada tidak bisa membuat orang bersentuhan dengan kekuasaan, saya akan berkata dengan tegas, tempat itu bukan satu gereja. Kalau gereja itu benar-benar didirikan oleh Allah, Anda di sana pasti bertemu dengan satu perkara yang disebut kekuasaan. Kita mendengar orang berdebat, “Apakah hanya kalian itu gereja, yang lain bukan gereja?” Saudara-saudara, berdebat tidak ada gunanya. Anda boleh mencoba sendiri. Anda pergi ke suatu tempat, di sana Anda tidak bertemu dengan kekuasaan; tetapi ada tempat di mana Anda bertemu dengan kekuasaan. Anda bertemu dengan satu barang, barang itu sukar dijelaskan, tetapi pelan-pelan Anda akan mengerti, itulah masalah kekuasaan. Anda jangan membentur barang itu. Anda harus hidup di bawahnya, baru Anda bisa hidup, baru ada damai, baru ada berkat, baru ada penyertaan Allah. Kalau Anda melawannya, menentangnya, tidak taat kepadanya, mungkin Anda masih bisa berdoa, bisa membaca Alkitab, bisa menjadi orang Kristen, tetapi Anda sendiri tahu cita rasa apa yang ada di dalam Anda. Di dalam Anda bertemu dengan satu barang, yaitu kekuasaan yang sedang kita bicarakan.

III. HARUS TUNDUK KEPADA KEKUASAAN

Begitu Anda bertemu dengan kekuasaan, Anda tidak bisa tidak harus tunduk kepada kekuasaan. Tidak peduli ribuan bahkan jutaan alasan yang tepat, tidak ada gunanya, hanya tunduk baru ada hayat, hanya taat baru bisa hidup, hanya tunduk baru ada berkat, hanya tunduk baru ada jalan. Ingatlah, kita di sini bukan menyinggung masalah taat atau menuruti, melainkan menyinggung masalah tunduk. Saya pernah melihat ada anak-anak yang melakukan sesuatu menuruti usulan orang tuanya, tetapi sama sekali tidak tunduk kepada orang tuanya. Apa saja yang dikatakan orang tuanya, anak-anak selalu mengerjakannya, tetapi sama sekali tidak tunduk. Saya juga pernah melihat perkara yang berkebalikan, ada orang sedikit pun tidak bertindak menuruti maksud orang tuanya, tetapi sangat tunduk kepada orang tuanya. Sering kali yang Anda lakukan bisa saja berbenturan dengan kekuasaan, tidak bisa menurutinya, tetapi roh Anda, sikap Anda adalah tunduk. Mungkin sering kali Anda menuruti kekuasaan melakukannya, tetapi keadaan sesungguhnya Anda tidak tunduk. Di sini kita tidak menyinggung masalah menurut, melainkan masalah tunduk. Yang kepadanya kita taat belum tentu kekuasaan, yang kepadanya kita tunduk barulah kekuasaan.

Jangan salah memahami, mengira tunduk kepada kekuasaan adakalanya melakukan kesalahan, belum tentu. Meskipun usulan kekuasaan salah, Anda boleh tunduk bersamaan dengan itu juga tidak melakukan perkara yang salah. Ini bukan masalah menuruti, sepenuhnya adalah masalah kekuasaan. Orang yang menjadi penatua harus mengenal hal ini. Pada diri penatua seharusnya penuh dengan satu roh yang tunduk, kemudian dalam segenap gereja baru bisa ada satu roh yang tunduk. Apakah gereja ada roh yang tunduk, kuncinya ada pada diri para penatua. Orang yang tidak tunduk hanya bisa menghasilkan satu gereja yang tidak tunduk, tidak bisa mengurus dan menghasilkan gereja yang tunduk. Ada orang berkata, hanya Tuhan adalah Kepala kita, ini memang benar. Tetapi Anda dan saya masih perlu belajar bertemu dengan satu barang yang disebut kekuasaan, dan tunduk di depan kekuasaan ini. Demikian baru bisa membawa masuk suasana tunduk dan roh tunduk ke dalam gereja, sehingga gereja yang Anda urus dan atur memiliki jalan. Kalau tidak, tentu gereja yang Anda urus dan atur tidak memiliki jalan. Anda boleh saja menyatakan kemampuan Anda, kepandaian Anda, tetapi Anda harus sudah siap, pada suatu hari segenap gereja akan memiliki satu roh yang tidak tunduk terhadap Anda. Hanya orang yang tunduk baru bisa membawa masuk roh yang tunduk, baru bisa mengurus dan menghasilkan satu gereja yang tunduk.

Tunduk adalah satu hal, taat adalah satu hal yang lain. Syukur kepada Allah, dalam Alkitab menyinggung masalah terhadap Allah, kedua istilah ini dipakai semua. Perlu tunduk kepada Allah, juga perlu menaati Allah. Tetapi Alkitab tidak berkata, istri harus menaati suami. Kalau Alkitab menyuruh istri menaati suami, ini adalah perkara yang merepotkan. Ada suami yang menyuruh istrinya menyembah berhala, apakah ia harus menaatinya? Tentunya tidak bisa menaatinya. Alkitab hanya menyuruh kita tunduk kepada kekuasaan yang di atas, tidak menyuruh kita menaatinya. Kalau Allah menyuruh kita menaati kekuasaan yang di atas, itu akan sangat merepotkan. Raja Nebukadnezar memberi perintah kepada tiga teman Daniel untuk menyembah berhala, kalau mereka menaatinya, itu celaka. Allah berkata harus tunduk. Berhala tidak bisa disembah, perintah tidak bisa ditaati, tetapi harus tunduk kepada kekuasaan. Di sini ada satu kekuasaan, Anda harus tunduk kepadanya.

Kalau para penatua hendak mengurus gereja, dirinya sendiri harus bertemu dengan satu hal yang disebut kekuasaan. Kekuasaan adalah mewakili Allah. Dalam gereja ada satu hal yang disebut menjadi wakil kekuasaan Allah. Kalau kita mengabaikannya, tidak akan ada kepengurusan gereja, bersamaan dengan itu juga tidak ada realitas gereja. Hari ini banyak denominasi yang menyebut dirinya gereja, tetapi Anda boleh mengecek apakah ada realitas gereja di tengah-tengah mereka? Sedikit sekali. Mengapa? Karena di tempat-tempat itu tidak bisa bertemu dengan kekuasaan. Kelompok orang Kristen yang mana pun, kalau Anda pergi ke tengah-tengah mereka dan Anda tidak dapat bertemu dengan kekuasaan, Anda perlu memberi tanda tanya yang besar terhadap kelompok itu. Mengapa di suatu tempat ada kekuasaan, ketahuilah, di sana ada gereja. Meskipun tidak bisa menghitungnya sebagai keseluruhan gereja, tetapi sedikitnya adalah wakil gereja.

Mengenai perkara ini saya di depan Tuhan berani berkata dengan tegas, karena dari pengalaman saya mengetahui hal ini. Ketika kita mulai dibangkitkan di China Utara, saya pernah mengalami hal ini. Ketika Anda datang ke satu sidang, di sana ada satu perkara yang tidak boleh Anda bentur. Kalau Anda membenturnya, Anda akan bermasalah dengan Allah; kalau Anda membenturnya, Anda tidak bisa berdoa dengan baik, menjadi orang Kristen pun tidak nyaman; kalau Anda membenturnya, hayat rohani Anda tidak bisa maju; kalau Anda membenturnya, pelayanan Anda juga tidak akan beres; Anda tidak bisa tidak harus tunduk di depan perkara ini. Dulu saya tidak bisa berkata demikian, hari ini saya mengetahui, perkara ini adalah wakil dari penyertaan Allah, yaitu kekuasaan.

Orang yang menjadi wakil kekuasaan, belum tentu dalam setiap hal selalu benar. Dari pengalaman saya, saya nampak ada banyak hal yang tidak benar. Tetapi Anda terhadapnya hanya bisa tidak menuruti, tetapi tidak bisa tidak tunduk. Begitu Anda tidak tunduk, akan mencelakakan diri Anda sendiri. Wakil kekuasaan itu dalam beberapa hal mungkin pandangannya tidak sebaik pandangan Anda, pendapatnya, keputusannya, belum tentu tepat. Tetapi Anda hanya bisa tidak menuruti; tidak menuruti tidak akan mencelakakan Anda. Kita semua mengerti, arti celaka ini ialah tidak bisa hidup di hadapan Allah. Kapan saja begitu Anda tidak tunduk, Anda sendiri tahu, segera sama seperti meminta nyawa Anda. Dalam hayat Anda akan timbul masalah, dalam pelayanan akan timbul masalah, dalam persekutuan juga akan timbul masalah. Tidak saja persekutuan dengan Allah akan timbul masalah, persekutuan dengan saudara saudari juga akan timbul masalah. Orang yang menjadi penatua harus bertemu dengan kekuasaan, saudara-saudara harus tunduk kepada kekuasaan.

Jangan sekali-kali menganggap kekuasaan hanya berupa satu orang, atau beberapa orang, atau sekelompok orang. Tidak demikian. Misalnya, di sini ada satu pejabat pemerintahan, dia adalah kekuasaan. Tetapi kalau Anda menganggap kekuasaan itu adalah orangnya, itu salah. Pejabat pemerintahan dipandang dari satu sudut adalah kekuasaan, tetapi dipandang dari sudut yang lain, meskipun pejabat ini diganti, kekuasaan ini masih ada di sana. Karena ini adalah negara, adalah pemerintahan. Dalam prinsip yang sama, di sini adalah gereja, tempat pemerintahan Allah di bumi, di sini Allah dapat menitipkan penyertaan-Nya, bisa mendapatkan wakil-Nya. Sebab itu, meskipun berganti orang, penyertaan Allah tetap ada di sini, wakil kekuasaan Allah masih ada di sini.

Dalam pengalaman beberapa puluh tahun yang silam, melalui masalah kekuasaan saya tahu bahwa dalam alam semesta benar-benar ada satu Penguasa, satu Allah. Kalau yang kita layani hanya berupa satu sebutan saja, satu istilah doktrin, di tengah-tengah kita tidak akan ada realitas kekuasaan. Tetapi karena Allah yang kita layani adalah Allah yang benar, hidup, dan ada di tengah-tengah kita, maka ada masalah kekuasaan. Karena itu, di antara bangsa-bangsa membicarakan demokrasi, membicarakan pertemuan dewan, tetapi dalam gereja tidak bisa membicarakan hal-hal itu. Karena orang kafir tidak memiliki Allah, mereka hanya sekelompok orang saja. Tetapi dalam gereja membicarakan masalah penyertaan Allah, pergerakan Allah, operasi Allah. Sebab itu dalam gereja tidak bisa membicarakan demokrasi, namun juga bukan otoriter. Otoriter itu masalah perorangan. Dalam gereja bukan masalah orang banyak, juga bukan masalah perorangan, tetapi sepenuhnya adalah masalah penyertaan Allah, masalah perwakilan penyertaan Allah. Perwakilan ini di atas dua tiga orang, maka dua tiga orang inilah wakil kekuasaan; kalau wakil ini berada di atas sepuluh orang, sepuluh orang inilah wakil kekuasaan; di atas satu orang, satu orang inilah wakil kekuasaan. Wakil penyertaan Allah adalah Allah sendiri berada dalam kekuasaan ini. Perkara ini tidak bisa sembarangan disentuh; di depannya Anda tidak bisa tidak tunduk. Sebab itu para penatua harus belajar menjadi orang-orang yang tunduk kepada kekuasaan.

IV. HARUS MENJADI KEKUASAAN

Dalam Gereja tidak saja ada masalah tunduk kepada kekuasaan, juga ada masalah menjadi kekuasaan. Tunduk kepada kekuasaan adalah mengacu kekuasaan ada pada diri orang lain, lalu menghendaki Anda tunduk kepada kekuasaan itu; menjadi kekuasaan mengacu kepada kekuasaan ada pada diri Anda, lalu menghendaki Anda menjadi kekuasaan. Para penatua di satu pihak adalah tunduk kepada kekuasaan, di pihak lain juga menjadi kekuasaan. Sesungguhnya, tidak saja dalam gereja demikian, wakil kekuasaan di tengah-tengah kelompok masyarakat juga di satu pihak tunduk kepada kekuasaan, di pihak lain menjadi kekuasaan.

Ada penatua di gereja lokal tertentu, sifat bawaannya sangat rendah hati, juga terpengaruh oleh zaman, sebab itu menjadi sangat demokrasi, selamanya tidak pernah mengerti apa itu kekuasaan. Percayalah, gereja lokal itu di tangannya pasti tidak bisa kuat. Kalau satu gereja lokal ingin kuat, perlu ada saudara-saudara yang tunduk kepada kekuasaan dan menjadi kekuasaan. Bukan mengabaikan perasaan orang lain, tetapi juga tidak membiarkan orang lain berbicara sembarangan. Sebaliknya ada gereja lokal, di sana Anda tidak menjamah adanya kekuasaan, yang Anda temui adalah pertengkaran, banyak opini. Keadaan ini, menggambarkan penatua di sana, di satu pihak dalam hal tunduk kepada kekuasaan belum pernah belajar dengan baik, di pihak lain dalam hal menjadi kekuasaan lebih-lebih tidak belajar dengan baik.

Di beberapa gereja lokal saya pernah bertemu dengan penatua yang demikian, karena dia tidak bisa tunduk kepada kekuasaan, lalu khusus berlaku agak demokrasi. Anda tentunya mengerti maksud perkataan saya. Dia menghakimi kekuasaan yang kepadanya seharusnya dia tunduk, dia tidak mau kekuasaan, sebab itu dia juga tidak menjadi kekuasaan, semuanya selalu demokrasi. Ketahuilah saudara saudari, gaya yang demikian ini adalah menjual gereja, mengorbankan gereja. Untuk membenarkan ketidaktundukannya kepada kekuasaan, ia pun bertindak tidak menjadi kekuasaan. Tidak peduli perkara apa, asal saudara saudari melihat baiknya begini, lalu disetujui. Arti cara demikian, dengan pengutaraan yang kampungan, aku tidak mau mengurus orang lain, orang lain juga jangan mengurus aku. Aku tidak mau menjadi kekuasaan orang lain, aku juga tidak mau tunduk kepada kekuasaan orang lain. Ketahuilah saudara saudari, ini sepenuhnya adalah perkara dari Babel, sepenuhnya berasal dari roh Babel. Gereja yang demikian seharusnya disebut Babilon, karena telah kacau balau, dialek bahasanya telah berubah, tidak mengucapkan perkataaan yang sama. Banyak macam perkataan, dialek bahasa telah kacau, ini adalah hukuman Allah, menandakan di sana tidak ada kekuasaan. Di Israel tidak ada raja, masing-masing bertindak semaunya sendiri, itu bukan satu tanda yang baik.

Saudara-saudara, kapan Anda di dalam gereja berpendirian untuk demokrasi atau diktator, Anda telah menyangkal kekuasaan Allah. Dalam gereja tidak ada demokrasi, juga tidak ada diktator. Dalam gereja hanya ada penyertaan Allah, hanya ada wakil kekuasaan Allah. Yang menjadi penatua harus belajar bertemu dengan kekuasaan, tunduk kepada kekuasaan, dan juga belajar menjadi kekuasaan. Di sini bukan tempat semua orang mengutarakan pendapatnya sendiri, juga bukan tempat untuk bertengkar, melainkan tempat untuk takwa kepada Allah, membiarkan Allah menjadi Tuan, supaya penyertaan Allah bisa mendapatkan tempat bersemayam, juga bisa mendapatkan tempat untuk diwakili. Ini barulah gereja.

Saya ulangi lagi, di dalam gereja ada penyertaan Allah, dalam penyertaan ini ada perwakilan, perwakilan ini adalah kekuasaan. Kalau Anda tunduk kepadanya, membiarkan dia terwujud di atas diri Anda, hasilnya Anda pasti menjadi kekuasaan. Kalau Anda menjadi penatua di satu gereja lokal, tetapi selalu tidak bisa mejadi kekuasaan, seharusnya Anda tahu bahwa Anda sangat gagal.

V. HARUS TIDAK MEMAKAI KEKUASAAN

Penatua adalah kekuasaan, lalu bagaimana memakai kekuasaan? Ingatlah, Anda tidak memakai kekuasaan, itulah memakai kekuasaan. Kalau penatua di dalam gereja mempunyai satu sikap: aku adalah penatua, aku mempunyai kekuasaan! Aku akan memakai kekuasaanku! Ini adalah satu perkara yang paling buruk, paling memalukan. Ada satu perkara yang sangat mengherankan, yaitu sikap Musa dalam Kitab Bilangan. Dia benar-benar adalah orang yang menjadi kekuasaan, tetapi lihatlah bagaimana ia memakai kekuasaannya? Di satu pihak dia menjadi kekuasaan, di pihak lain dia tidak memakai kekuasaan. Memakai kekuasaan yang saya katakan, bukan tidak memakai kekuasaan, tetapi juga bukan memakai kekuasaan. Ini sangat mengherankan. Di antara orang Israel Musa selalu menjadi kekuasaan, tetapi dia juga tidak pernah memakai kekuasaan. Dia tidak memakai kekuasaan berarti memakai kekuasaan. Saya percaya saudara saudari bisa mengerti beberapa perkataan ini. Siapa saja yang memakai kekuasaan dan berkata, “Aku adalah penatua! Aku mempunyai kekuasaan mengurus perkara ini! Aku akan memakai kekuasaan melakukan ini!” Dia telah salah menggunakan kekuasaan. Ketahuilah, Anda hanya bisa menjadi kekuasaan, tidak bisa memakai kekuasaan. Ketika Anda menjadi kekuasaan dan tidak memakai kekuasaan, saat itu barulah Anda memakai kekuasaan. Memakai kekuasaan yang dibicarakan di sini mengacu kepada hal yang demikian.

Anda bisa membacanya, Musa pemimpin ini berbeda dengan pejabat pemerintahan di dunia. Hari ini pejabat atau pembesar di negara mana pun di dunia ini, semua memakai kekuasaan mereka, tetapi Musa tidak memakai kekuasaannya. Di pihak lain, Musa juga tidak pernah kendur, Musa terus menjadi kekuasaan. Ketika dia turun dari gunung Sinai, melihat orang Israel menari, menyembah anak lembu emas, dia tidak mengadakan satu rapat. Kali itu kalau ia mengumpulkan orang-orang untuk rapat, saya kira sembilan puluh persen orang akan setuju menyembah anak lembu emas. Tetapi Musa tidak membiarkan mereka berbicara, Musa memerintahkan untuk mengambil anak lembu emas itu, menggilingnya sampai halus dan ditaburkan ke dalam air, diberikan kepada orang Israel untuk diminum. Ini bukan berarti dia memakai kekuasaan, melainkan dia menjadi kekuasaan. Dalam catatan Musa, Anda melihat dia tidak pernah memakai kekuasaan. Dia menjadi kekuasaan namun tidak memakai kekuasaan, dengan demikianlah dia secara riil memakai kekuasaan.

Satu hal yang sangat disayangkan, juga yang sangat hina, yaitu ada beberapa gereja lokal, penatua-penatuanya kelihatannya (secara permukaan) tidak menjadi kekuasaan, tetapi kenyataannya mereka sangat memakai kekuasaan. Di permukaan mereka berlaku sangat demokrasi, tetapi kenyataannya memegang erat kekuasaan di tangannya sendiri, ini adalah satu hal yang sangat hina. Anda dan saya menjadi penatua mengurus gereja, harus belajar di satu pihak tunduk kepada kekuasaan Allah, di pihak lain menjadi wakil kekuasaan Allah, tetapi juga tidak memakai kekuasaan. Bukan berarti: saya adalah penatua, apa yang saya katakan yang terhitung, apa yang saya tentukan itulah yang dikerjakan. Anda tidak memakai kekuasaan, berarti Anda di sini menjadi kekuasaan. Perkataan ini kelihatannya bertentangan. Sebenarnya sedikit pun tidak bertentangan. Kalau dalam hal ini Anda kurang jelas, Anda boleh membaca lagi kisah Musa. Dia adalah seorang wakil kekuasaan, dia tunduk kepada kekuasaan, juga menjadi kekuasaan. Tetapi sering kali ketika ada kesulitan, dia tunduk di depan Allah, dia tidak memakai kekuasaan. Dia tidak memakai kekuasaan ini adalah satu tindakan pemakaian kekuasaan yang paling konkret. Ketika Anda di dalam gereja tunduk kepada kekuasaan, juga menjadi kekuasaan, barulah Anda bisa tidak memakai kekuasaan, tetapi melaksanakan kekuasaan. Saya percaya saudara saudari bisa mengerti maksud perkataan saya, inilah keadaan penatua yang wajar.

Semoga Tuhan membelaskasihani kita, memperlihatkan kepada kita, kalau tidak ada kekuasaan, tidak ada kepengurusan; kalau tidak ada kepengurusan, tidak ada gereja. Juga supaya kita mendapatkan belas kasihan, cepat atau lambat dalam gereja bertemu dengan wakil penyertaan Allah, yaitu kekuasaan. Begitu bertemu dengan kekuasaan ini, kita harus belajar tunduk di bawah kekuasaan, juga mewakili Dia menjadi kekuasaan. Bersamaan dengan itu, kita juga tidak memakai kekuasaan, sama seperti Musa, hasilnya adalah dengan tepat memakai kekuasaan.