KARAKTER PENATUA I. PENTINGNYA KARAKTER
Dalam beberapa berita yang di depan, kita terlebih dulu melihat orang yang menjadi penatua, kemudian baru bisa melihat seluk-beluk beberapa prinsip mengurus gereja. Saya ingin dengan khidmat sekali lagi memberi tahu saudara saudari, perkara apa saja, dikerjakan dengan sukses atau gagal, mempunyai hubungan yang mutlak dengan orangnya. Sukses atau gagalnya satu perkara, delapan puluh atau sembilan puluh persen tergantung pada orangnya, sisa sepuluh atau dua puluh persen baru tergantung pada cara atau prinsipnya. Sebab itu, untuk menjadi orang yang mengurus gereja, kebanyakan masalahnya tergantung pada orang. Dalam bab ini kita akan membahas masalah karakter.
Karakter dan kebiasaan mempunyai hubungan yang sangat besar, membicarakan karakter bisa dikatakan adalah membicarakan kebiasaan. Dalam pelatihan pada tahun 1953, kita pernah dengan sangat dalam membahas masalah karakter. Kemudian dalam pelatihan di Manila, kita membicarakan seluk-beluk karakter, selain itu ditambah lagi beberapa butir, seluruhnya berjumlah tiga puluh butir, setiap tiga butir merupakan satu kelompok, semuanya terbagi dalam sepuluh kelompok. Kita pernah mengatakan, karakter dengan sifat ada sedikit perbedaan. Sifat sepenuhnya adalah masalah bawaan, dimiliki sejak lahir; karakter bukan hanya dari kelahiran, tetapi masih ada lagi masalah kebiasaan.
Sebab itu kalau dianalisis dengan sungguh-sungguh dari pengalaman, karakter manusia terbentuk dari sifat bawaan ditambah dengan kebiasaan. Sifat bawaan ditambah kebiasaan, menjadi karakter “tetap” seseorang. Hanya saja dalam karakter, perbandingan kadar kebiasaan lebih banyak daripada kadar sifat bawaan, mungkin enam puluh sampai tujuh puluh persen kadar kebiasaan, hanya tiga puluh atau empat puluh persen terdiri dari kadar sifat bawaan. Misalnya, ada dua anak yang sama-sama dilahirkan oleh orang Asia, bahkan dilahirkan oleh ibu dan bapa yang sama, tetapi kakaknya begitu lahir ditaruh dalam lingkungan orang Barat, dibesarkan dan dididik dalam keluarga orang Barat, tetapi adiknya sejak lahir tetap berada di Asia, dibesarkan dalam keluarga orang Asia. Sampai kedua kakak beradik ini dewasa, Anda akan melihat karakter kakaknya sepenuhnya adalah karakter orang Barat, karakter adiknya sepenuhnya adalah karakter orang Asia. Saya yakin semua saudara saudari bisa menerima fakta ini. Sebab itu dalam karakter, meskipun masih ada kadar sifat bawaan, tetapi kebanyakan terbentuk oleh kebiasaan. Ada orang sejak lahir sifatnya pelan, ada orang sejak lahir sifatnya cepat, ini adalah perbedaan bawaan. Tetapi ada orang yang kebiasaannya pelan, ada orang yang kebiasaannya cepat, ini kebanyakan terbentuk oleh kebiasaan. Sebab itu karakter yang kita bicarakan ini sangat berhubungan dengan kebiasaan.
Tidak ada orang yang perilakunya tidak terpengaruh oleh karakternya. Perilaku seseorang mutlak terbatas dalam karakternya, ini tidak bisa dihindari. Tentunya, kalau seseorang tidak remuk, sulit menjadi rohani; kalau hati seseorang tidak pernah melewati penanggulangan yang hebat, kurang lapang, jujur, lurus, kesemuanya itu bisa mempengaruhi perilakunya; tetapi masih ada satu hal lagi, tidak peduli bagaimana perilaku seseorang, pasti tidak bisa terlepas dari batasan karakternya. Diri Anda pasti terbatas dalam karakter Anda. Kalau karakter Anda tergesa-gesa, Anda tidak bisa melakukan pekerjaan yang tidak tergesagesa. Kalau karakter Anda pelan, Anda juga tidak bisa melakukan pekerjaan yang tidak pelan. Kalau karakter Anda sembarangan, Anda tidak pernah melakukan satu perkara yang serius. Kalau karakter Anda tidak tepat, Anda tidak akan pernah menyampaikan satu berita yang tepat. Ini sudah pasti demikian. Karakter Anda bukan hanya seperti hati Anda yang dengan ketat mengatur diri Anda, bahkan adalah dunia Anda, ruang lingkup Anda, wilayah Anda. Anda tidak dapat beraktivitas di luar ruang lingkup ini. Perbuatan Anda, perilaku Anda, bagaimanapun tidak bisa terlepas dari wilayah karakter.
Sebab itu pengalaman memberi tahu kita, kalau benarbenar ingin supaya gereja mendapatkan faedah yang sejati, karakter orang yang menjadi penatua sangatlah penting. Kita semua tahu, semakin tinggi pekerjaan yang ditangani, permintaan terhadap karakter juga semakin tinggi. Kalau Anda menjadi penarik gerobak di pinggir jalan, atau menjadi tukang sapu jalan, tidak perlu ada persyaratan yang terlalu banyak, tetapi kalau Anda melakukan pekerjaan yang lebih tinggi, misalnya menjadi dokter, dosen, maka permintaan terhadap karakter Anda segera lebih tinggi. Hari ini saudara-saudara di dalam gereja menjadi penatua, mengurus rumah Allah, ini adalah menjamah perkara yang paling tinggi dalam alam semesta, sebab itu mau tidak mau harus memperhatikan masalah karakter.
Mengenai karakter, pembahasan kita dalam bab ini hanya bisa membicarakan beberapa butir yang secara langsung berkaitan dengan penatua mengatur gereja. Kalau Anda mengabaikan beberapa butir ini, tidak peduli Anda bagaimana berdoa, bagaimana rohani, bisa dipastikan, Anda tidak bisa menjadi penatua dengan baik, gereja berada di tangan Anda pasti tidak ada jalan. Beberapa butir ini ialah harus sungguh-sungguh, rajin, stabil, memperhatikan orang, dan luwes. Sekarang kita akan melihat satu per satu:
II. HARUS SUNGGUH-SUNGGUH
Karakter penatua yang pertama adalah harus sungguh-sungguh, tidak sembarangan. Saudara saudari, kalau Anda pernah berlatih atas hal sungguh-sungguh, barulah Anda menemukan bahwa banyak orang yang tidak sungguh-sungguh. Adakalanya, penatua-penatua dalam gereja menyebabkan perkara di antara saudara saudari menjadi kacau karena mereka terlalu tidak sungguh-sungguh. Misalnya, ada saudara saudari memberi tahu Anda satu perkara, Anda secara sepintas mendengarkannya lalu mengira sudah mengerti, mengira sudah mendengar dengan jelas. Sebenarnya Anda tidak mendengarkan perkataan saudara itu dengan tepat, dengan jelas, juga belum benar-benar mengerti apa maksud perkataannya. Akibatnya, ketika Anda membereskan perkara itu, dengan sendirinya Anda membereskannya dengan kira-kira, Anda merasa perkara itu sudah lumayan Anda bereskan, tetapi kenyataannya masih sangat kurang.
Cobalah Anda periksa, Anda akan menemukan bahwa orang sering sangat tidak sungguh-sungguh. Misalnya, persoalan menyampaikan kabar di antara saudara saudari, Anda sulit menemukan ada orang yang bisa menyampaikan kabar dengan tepat. Anda memberi tahu saya, saya memberi tahu dia, dia memberi tahu orang lain lagi, demikian berputar tujuh belokan, sampai orang yang kedelapan, perkataan itu sudah berbeda sekali dengan perkataan yang semula. Adakalanya seorang saudara menyampaikan perkataan seorang saudara lain, lalu timbul kesulitan dalam gereja, kalau Anda berusaha mencocokkan perkataan kedua orang itu, maka mereka akan saling menuduh; yang satu akan berkata, “Waktu itu kamu berkata begitu kepadaku;” yang lain berkata, “Tidak, aku hanya berkata begini.” Akhirnya, Anda menemukan bahwa kedua orang itu tidak berdusta, dan motivasi mereka sedikit pun tidak salah, persoalannya tidak lain karena kedua-duanya sembarangan; yang menyampaikan perkataan tidak tepat, yang menerima juga tidak teliti. Dua sembarangan ini menjadi satu pasangan. Yang berbicara tidak berbicara dengan tepat, yang mendengarkan juga tidak mendengarkan dengan tepat, akhirnya timbullah masalah. Perkara demikian ini sering kita jumpai. Sebab itu, selanjutnya dari pengalaman kita mengetahui, tidak bisa dengan cepat menerima perkataan orang. Karena perkataan orang terlalu tidak tepat. Mengapa perkataan orang tidak tepat, karena karakter orang itu tidak sungguh-sungguh.
Saya rasa saudara-saudara tidak perlu memperhatikan orang lain, cukup memperhatikan diri Anda sendiri. Saya singgung satu hal, yaitu membaca Alkitab. Perhatikan pembacaan Alktiab Anda, Anda akan segera menemukan bahwa diri Anda tidak sungguh-sungguh. Coba tuliskan apa yang Anda pahami tentang Kejadian 1, Anda akan menemukan bahwa pemahaman Anda terhadap Kejadian 1 sangat tidak sungguh-sungguh.
Saya tidak bisa lupa, pada tahun 1947, ketika saya tinggal di Shanghai. Pada suatu hari, ketika saya sedang duduk di ruang tamu, tiba-tiba seorang saudari masuk dengan tergesa-gesa dan berkata, “Saudara Lee, celaka, atap rumah ini pecah dan berlubang sebesar ini.” (Ia berkata sambil membuat isyarat dengan kedua tangannya). Karena teriakannya begitu keras, saya sempat kaget karenanya. Saya bertanya, “Lubang itu sebesar apa?” Ia berkata, “Sebesar ini.” (Tanda yang ia buat dengan isyarat kedua tangannya menciut lebih kecil daripada yang ia buat pertama). Saya bertanya lagi, “Sebesar apakah sebetulnya?” “Sebesar ini,” jawabnya. Saya bertanya lagi, “Sebesar apa?” Ia menjawab, “Kira-kira sebesar ini.” Makin ditanya makin kecil. Saat itu ada orang lain yang duduk bersama di sana. Saya bertanya sampai lima atau enam kali, mereka semua tertawa. Akhirnya, setelah diperiksa, lubang itu hanya sebesar keping uang tembaga. Ini kelihatannya seperti satu lelucon, tetapi kalau kita mengambil perkara ini sebagai satu prinsip untuk mengukur, Anda akan mengetahui bahwa diri Anda sangat tidak tepat.
Pada suatu hari, ada seorang saudara berkata kepada saya, “Saudara Lee, Saudara A sakit, suhu badannya tinggi sekali.” Saya bertanya, “Berapa derajat tingginya?” “Coba kuukur,” jawabnya. Setelah mengukur, ia berkata, “37,5 0C .” Tetapi ketika saya mengukurnya ulang, hanya 37,3 0C, tidak sampai 37,5 0C. Lihatlah, mengukur suhu badan pun tidak tepat. Jangan sekali-kali mengira saya bergurau, perkara ini benar-benar terjadi.
Dulu ketika saya masih berada di daratan China, adakalanya saya pergi ke suatu tempat untuk mengadakan sidang istimewa, saya bertanya kepada saudara-saudara pewajib di situ, balai sidang mereka bisa menampung berapa orang? Seorang pewajib berkata, bisa menampung 250 orang; pewajib lainnya berkata bisa menampung kira-kira 450 orang; dan ada lagi yang lain berkata bahwa tempat duduk balai sidang itu hanya bisa menampung 220 orang. Kalau Anda mendengar perkataan-perkataan ini, Anda tentu pusing. Sebenarnya 250, atau 450, atau 220? Sebenarnya ada tempat duduk berapa? Ditanya setengah hari, akhirnya tetap tidak ada satu angka yang pasti.
Sekali-kali jangan menganggap ini adalah perkara kecil. Ketahuilah saudara saudari, orang yang menjadi penatua haruslah orang yang mempunyai karakter yang sungguh-sungguh, kalau tidak, cepat atau lambat urusan gereja di tangan Anda akan menjadi masalah. Dalam gereja, tidak peduli perkara apa saja, jika ditangani oleh orang-orang yang sembarangan, pasti akan timbul masalah yang merepotkan. Karena itu, baik dalam menyelesaikan atau menanggulangi urusan, menyampaikan perkataan atau menyelesaikan urusan orang, semuanya perlu karakter sungguh-sungguh.
Ketika seorang saudara memberi tahu Anda kesulitan rohaninya, Anda tidak bisa dengan sembarangan mendengarkan, Anda harus seperti seorang dokter, dengan sungguh-sungguh dan teliti mendengarkan. Kita sering berkata, kalau ingin menjadi seorang dokter yang baik, harus teliti dan berani, teliti adalah masalah karakter. Harus sangat teliti, sangat sungguh-sungguh. Saudara saudari memberi tahu kesulitan mereka atau kesulitan orang lain kepada Anda, dia boleh saja dengan ceroboh memberi tahu Anda, tetapi Anda harus dengan sungguh-sungguh mendengarkannya, harus dengan sungguh-sungguh bertanya. Adakalanya saudari datang kepada Anda dan berkata, “Oh, saudaraku berbuat demikian, demikian.” (Dalam arti negatif). Berkatalah kepadanya, “Tunggu sebentar, aku akan mengambil kertas dan mencatat apa yang kamu katakan.” Ingatlah, ketika Anda menaruh kertas di atas meja, dia berkata sedikit, Anda mencatat sedikit, nadanya akan berubah. Bukan berarti pada mulanya ia berniat berbohong, tetapi pada mulanya ia ceroboh. Sampai ia melihat Anda dengan teliti mencatat, ia juga mulai dengan sungguh-sungguh berbicara. Setelah ia selesai berbicara, Anda cek lagi: Kamu berkata bahwa dia kemarin pulang pukul dua belas malam? Ia berkata, ya, pukul dua belas; O, tidak, kira-kira mungkin pukul sepuluh lebih sedikit. Anda berkata: Dia menghabiskan uang dua ribu dolar? Ia berkata, kira-kira seribu dua ratus. Anda menegaskan lagi, ia akan berubah lagi, perkara ini benar-benar terjadi. Kalau tidak bersikap sungguh-sungguh, hanya duduk mendengarkan dia berbicara, dia bisa semakin bicara semakin menjadi-jadi. Kalau Anda menelan saja perkataannya, Anda selamanya tidak bisa membantu mereka menyelesaikan kesulitan keluarga mereka.
Dalam hal mendengarkan kebenaran, mendengarkan firman Tuhan, kita juga sering salah tangkap. Kalau Anda tidak percaya, silakan mengulangi lagi apa yang telah Anda dengar. Jelas sekali perkataannya begini, sampai Anda mengatakannya lagi, muncul perkataan yang lain. Di sini ada tape recorder, sebaiknya setelah Anda mendengarkan satu berita, ulangilah sendiri berita itu, selesai mengulanginya, dengarkanlah tape recorder itu untuk dicocokkan, ternyata bedanya sangat besar. Sebenarnya di mana penyebab ketidaktepatan itu? Tidak lain karena masalah karakter. Karena Anda adalah orang yang tidak sungguh-sungguh. Saya hanya bisa berbicara sedikit prinsip, saya percaya saudara saudari bisa menerapkan prinsip ini ke dalam kehidupan sehari-hari.
III. HARUS RAJIN
Orang yang menjadi penatua tidak boleh malas. Di gereja lokal mana ada seorang penatua yang malas, gereja lokal itu sama seperti mendapatkan kutukan. Sama seperti dalam satu keluarga, kalau orang tuanya malas, anakanaknya sama seperti menerima hukuman. Orang yang menjadi penatua harus mempunyai karakter rajin. Orang yang malas, perkara apa saja yang diletakkan di atas tangannya pasti akan tertunda, tidak bisa diandalkan. Orang-orang yang bekerja pasti tahu, kesuksesan suatu perkara tergantung pada bisa memegang waktu. Apa yang disebut kesempatan? Anda bisa datang pada waktunya, inilah kesempatan. Waktu telah Anda pegang, inilah kesempatan. Kalau waktu luput dari Anda, saat itulah anda kehilangan kesempatan. Orang macam apa yang bisa memegang waktu, yaitu orang yang rajin.
Kalau Anda membaca Perjanjian Lama, kemudian membaca lagi Perjanjian Baru, Anda akan nampak, setiap orang yang melayani Tuhan, pasti mempunyai satu karakter yang menonjol, yaitu rajin. Anda ingin mengatur gereja dengan baik, Anda harus melatih karakter yang rajin. Begitu perkara diserahkan kepada Anda, jangan dibiarkan saja. Perkara di tangan kita harus kita atasi dengan rajin.
Karakter rajin ini sembilan puluh persen terbina oleh kebiasaan. Ada orang bukan sejak lahir sudah malas, melainkan terbiasa malas, sebab itu terbentuk karakter malas. Malas adalah perkara yang besar, kalau Anda membiarkannya, ia akan membuat Anda lebih malas lagi. Tidak heran Salomo berkata bahwa orang yang malas akan sedemikian malas bahkan setelah mencelup tangannya ke dalam pinggan, tetapi ia terlalu lelah untuk mengembalikannya ke mulutnya (Ams. 26:15). Coba bayangkan, orang yang malas bisa berkembang sampai taraf sedemikian! Ketika saya membaca Amsal yang ditulis oleh Salomo, setiap kali membaca sampai ilustrasinya tentang orang yang malas, selalu tertawa. Ia masih menggambarkan bagaimana orang malas itu beralasan. Misalkan Anda menyuruhnya pergi ke luar untuk melakukan sesuatu, ia akan berkata, “Jangan pergi ke jalan, karena di jalan ada singa yang siap menerkam.” Setiap kali saya membaca sampai di sini selalu tertawa; bagi orang malas, ini adalah satu alasan yang baik. Tentu Anda ingat, ketika Salomo menggambarkan orang yang malas: di atas tempat tidur, orang malas seperti daun pintu berputar pada engselnya. Ini semua adalah ilustrasi yang dibuat oleh Salomo. Dia memperlihatkan kepada kita, kalau kemalasan sudah menjadi satu kebiasaan, sungguh mencelakakan orang.
Saya ingin berkata kepada saudara saudari, kalau Anda ingin mengalahkan kemalasan Anda, dan membina kebiasaan rajin, Anda harus memulai dari setiap perkara (kecil atau besar) atas diri Anda. Di suatu tempat saya pernah berkata kepada saudara-saudara remaja, kalau hari ini saya melihat sepatu kalian tidak disemir, di atasnya ada lapisan debu, saya tahu kalian pasti adalah orang-orang yang malas. Kalian berkata, karena tidak sempat. Itu adalah alasan. Ketahuilah, bagaimanapun tidak sempat, harus disempatkan. Karena menggosok sepasang sepatu itu hanya menghabiskan berapa detik saja sudah bisa bersih. Ada satu pepatah mengatakan dengan benar, “Malas dengan kotor itu saudara kembar.” Kalau Anda melihat suatu tempat kotor, Anda tahu di sana pasti ada orang yang malas. Apa yang disebut kotor? Kotor adalah semuanya terserah apa adanya. Anda pergi ke suatu gereja, melihat keadaan di sana itu kotor, (yang saya maksud bukan kotor karena kenajisan, tetapi kacau balau, tidak ada yang membenahi, tidak ada yang mengatur), keadaan itu membuktikan bahwa penatua di sana malas.
Saya pergi ke sesuatu gereja lokal, pernah bertemu dengan penatua yang demikian: kalau Anda berkata, “Hari Selasa, Kamis, dan Sabtu perlu ada sidang gereja.” Dia segera mengerutkan dahinya dan berkata, “Mungkin saudara saudari tidak tahan!” Saya beri tahu Anda, bukan saudara saudari yang tidak tahan, tetapi dia yang tidak tahan. Kalau hari Selasa, Kamis, Sabtu, terlalu banyak, maka hari Selasa dan Kamis tidak perlu bersidang, tinggal hari Sabtu. Anda berkata, satu kali sidang ini untuk berdoa atau membaca Alkitab atau bersekutu? Orang yang malas selalu mempunyai cara yang sederhana, ia akan berkata, satu setengah jam terlalu lama, cukup satu jam saja, setengah jam untuk berdoa, setengah jam untuk membaca Alkitab. Ada pembacaan Alkitab, ada berdoa, sekaligus mencapai dua hasil, demikian akan menghemat waktu saudara saudari. Perkataan ini kedengarannya memang baik, tetapi setiap kali mendengarkan perkataan yang demikian, dalam batin saya menggeleng-gelengkan kepala, saya merasa gereja di sini akan celaka, karena di sini ada penatua yang malas.
Namun, saya juga pernah bertemu dengan orang-orang yang rajin. Misalnya, Anda pergi ke satu gereja lokal, berkata kepada penatua-penatua di sana, setiap minggu sebaiknya ada dua kali sidang pada hari Selasa dan Kamis. Mereka segera bertanya, “Saudara, bagaimana dengan hari Sabtu?” Anda melihat matanya melotot. Anda berkata, “Tidakkah terlalu banyak jika ditambah hari Sabtu?” Mereka akan menjawab, “Saudara, sama sekali tidak. Malahan kalau mungkin kita adakan sidang tiap malam.” Lihatlah, terhadap perkara yang sama, komentar orang yang rajin berbeda dengan komentar orang yang malas, usulannya juga berbeda. Orang yang malas memiliki wawasan malas, orang yang rajin memiliki wawasan rajin.
Lagi pula perkara apa saja yang diletakkan di tangan orang yang malas, ia selalu “mengubah” perkara yang besar menjadi kecil, perkara kecil menjadi tidak ada perkara sama sekali. Pasti demikian. Perkara yang sama, begitu diletakkan di tangan orang yang rajin, dia akan menggarap dari tidak ada perkara menjadi perkara kecil, dari perkara kecil menjadi perkara besar. Semakin ia garap perkaranya semakin banyak. Kalau tidak percaya Anda boleh mencoba. Adakalanya, saudara saudari datang menganjuri saya, Saudara Lee, membaca Alkitab sebaiknya sederhana sedikit. Saya lalu balik bertanya, “Apakah kalian menghendaki saya menjadi orang yang malas? Saya bisa sederhana sedikit, Kitab Bilangan bisa dibaca habis dalam lima belas menit. Pasal pertama membicarakan masalah penyusunan suku-suku, pasal terakhir membicarakan pengalihan warisan kaum perempuan di sebelah timur Sungai Yordan. Setelah penyusunan, lalu mewarisi pusaka, inilah isi Kitab Bilangan.
Ingatlah, perkara apa saja dalam dunia, bisa Anda ubah menjadi selesai dalam satu jam, juga bisa Anda ubah menjadi tidak habis dilakukan dalam seumur hidup, fleksibelitasnya terlalu besar, semuanya ini tergantung pada Anda rajin atau malas. Orang yang rajin, ketika menyelesaikan kesulitan saudara, ia lakukan dengan rajin, ia tidak dengan sederhana menyelesaikannya. Tetapi bagi orang yang malas untuk menyelesaikan kesulitan seorang saudara, ia menyelesaikan dengan cara malas, semuanya kelihatannya mudah, sebentar saja sudah selesai.
Saya adalah orang yang sering menulis surat, juga sering menerima surat dari saudara saudari. Adakalanya saya menerima surat saudara-saudara, begitu membaca merasa geli, saudara ini sebaiknya jangan menulis surat, lebih baik mengirim telegram. Kalau Anda bertanya kepadanya, mengapa menulis surat sependek ini? Ia menjawab, saya tidak punya banyak perkataan, ini sudah cukup. Sebenarnya ini adalah malas. Kalau tidak malas, Anda segera mempunyai banyak perkataan yang dapat disampaikan.
Pada suatu hari seorang saudara yang mengurusi perumahan pekerja, berkata kepada orang lain di depan saya, “Siapa saja yang mengurus perumahan pekerja pasti tidak tahan terhadap Saudara Lee. Hari ini dia datang, ia pasti memeriksa semua tempat tidur dan meja; besok datang lagi, membalik semua kasur. Sungguh tidak tahan.” Saya ingin berkata kepada saudara saudari, ini bukan masalah tahan atau tidak tahan, ini sepenuhnya adalah masalah malas atau rajin. Kalau Anda malas, terhadap urusan yang lebih ringan pun, Anda akan merasa tidak tahan. Sebaliknya kalau Anda rajin, terhadap urusan yang lebih berat pun, tidak menjadi masalah.
Maafkan saya berkata, Anda pergi ke satu gereja lokal dan melihat keadaan gereja di sana, Anda segera tahu apakah penatua di sana rajin atau malas. Adakalanya Anda pergi ke satu gereja lokal, melihat keadaannya saja, seharusnya menginjil, tidak menginjil; seharusnya membina, tidak membina; seharusnya menjenguk, tidak menjenguk; seharusnya mencari orang-orang yang telah undur, tidak mencarinya; tetapi para penatua masih bisa damai sejahtera setiap hari. Menyinggung tentang sidang, sangat mengharapkan yang satu setengah jam diperpendek menjadi satu jam. Penatua yang demikian ini tidak beda dengan pekerja upahan. Orang yang bekerja di toko atau perusahaannya sendiri, dia akan mengerjakan usahanya dengan sungguhsungguh, berjerih payah, bahkan dengan sangat rajin menjalankan usahanya. Sembilan jam menjadi sepuluh jam, sepuluh jam menjadi dua belas jam, dua belas jam menjadi lima belas jam. Di Asia Tenggara, saya melihat keadaan saudara-saudara perantauan bekerja adalah demikian. Pagi hari, sebelum karyawannya datang, mereka sudah tiba di tempat usaha, sudah mulai bekerja. Mereka bekerja lebih dulu, terus bekerja sampai malam pukul sebelas atau dua belas baru pulang. Tidak heran, usaha mereka bisa sukses.
Saudara-saudara jangan mengira mengurus gereja hanya berdasarkan doa atau demi doa saja, atau berdasarkan menengadah kepada Allah, lalu Allah akan menangani urusan bagi Anda, tidak ada hal ini, Allah tidak melakukan mukjizat ini. Mengurus gereja sepenuhnya seperti mengurus keluarga. Semua saudari yang mengurus rumah tangga mengetahui, tidak peduli rumah itu besar atau kecil, Anda mengeluarkan seluruh waktu Anda pun masih tidak cukup. Namun ada orang yang setiap hari boleh tidak mengerjakan apa-apa, tetapi masih memiliki sebuah rumah. Hanya saja rumah ini dengan rumah itu ada perbedaan yang besar. Demikian juga, gereja yang diurus oleh orang yang rajin adalah gereja, gereja yang diurus oleh orang yang malas juga gereja, tetapi perbedaan gereja ini dengan gereja itu sangat besar, seperti langit dan bumi.
Begitu gereja diletakkan di atas tangan orang yang malas, pasti tidak ada jalan. Tidak peduli Anda memberikan kebenaran yang baik, prinsip yang baik, cara yang baik, kepada penatua yang demikian, gereja tetap tidak ada jalan, karena kemalasan merusak semuanya itu. Sebab itu setiap orang yang menjadi penatua harus belajar rajin. Aku menjadi penatua gereja bukan sebagai pegawai, melainkan membuka usaha. Untuk membuka usaha, tidak peduli waktu, tidak peduli jam, tidak peduli menit. Begitu satu pekerjaan jatuh ke tanganku, aku harus menghadapinya dengan rajin, harus menanganinya dengan rajin.
Hasil dari kerajinan ini bisa membuat orang yang paling lemah menjadi orang yang sukses. Ada satu pepatah yang berbunyi, “Tidak takut pelan, hanya takut berhenti.” Meskipun Anda lemah, tetapi kalau Anda dengan rajin terus maju, terus mengurus gereja, terus mengatur gereja, Anda pasti nampak bahwa gereja akan Anda pimpin menjadi teratur, sepenuhnya berada di atas rel. Sebaliknya, kalau para penatua tidak rajin, akan merusak semuanya. Tidak peduli Anda seberapa rohani, juga tidak berguna. Gereja diletakkan di atas tangan orang yang malas, pasti akan menjadi gersang.
IV. HARUS STABIL
Arti stabil adalah tidak mudah goyah, tidak mudah berubah. Misalnya, Anda tidak bisa hari ini mengatur seorang saudari menjadi pewajib distrik, dua minggu kemudian menyuruh dia berhenti sebagai pewajib distrik. Atau satu perkara telah ditetapkan harus demikian, tetapi begitu menemui kesulitan lalu goyah. Semua ini karena tidak stabil. Orang yang stabil tidak demikian. Ia tidak dengan ceroboh mempercayai orang, tetapi begitu percaya, dia tidak sembarangan mengubahnya. Ia tidak sembarangan menetapkan satu perkara; dan bila sudah menetapkannya, meskipun menjumpai kesulitan, masih dengan mantap menghadapinya, sedikit pun tidak goyah. Kalau para penatua tidak mempunyai karakter stabil yang demikian, akan merepotkan gereja, sehingga gereja sulit maju.
Karakter stabil kebanyakan tidak ada sejak lahir, hampir semua berasal dari pelatihan. Misalnya, ada satu perkataan yang sampai kepada Anda, Anda boleh menerimanya, tetapi Anda masih perlu mempertimbangkannya baik-baik, setelah memperhatikan setiap aspeknya, barulah mengambil keputusan. Sama seperti bila Anda ingin menulis sebuah karangan, setelah selesai menulis naskahnya, sebaiknya diletakkan dulu, setelah lewat beberapa hari diperiksa lagi, mungkin keadaan sudah berubah, jalan pikiran Anda juga lebih jelas, pengamatan Anda lebih akurat daripada yang lalu. Pengalaman memberi tahu kita, menghadapi perkara yang lebih besar, kita harus lebih mantap, kalau ceroboh, pasti mendatangkan kerugian yang besar, bahkan bisa terjadi malapetaka.
Kita harus mengakui, tidak peduli kita sangat teliti, ketika menjumpai suatu urusan, kita tidak mudah dengan cepat bisa melihat dengan tepat. Sebab itu harus belajar stabil. Jangan terlalu percaya diri, juga jangan terlalu tidak percaya diri. Jangan terlalu cepat percaya, juga jangan terlalu lambat percaya; jangan terlalu cepat berkata baik, juga jangan terlalu cepat berkata tidak baik. Ketika Anda percaya seorang baik, ingatlah dia juga keturunan Adam, tidak peduli seberapa baiknya, masih ada kadar yang tidak baik. Ketika Anda terus membicarakan seorang tidak baik, juga perlu ingat, dalam penciptaan Allah, dia masih memiliki bagian yang baik, apa lagi dia juga sebagai orang yang ditebus Allah? Sebab itu, siapa pun tidak ada yang mutlak baik, juga tidak ada yang mutlak jelek; kalau Anda mempunyai kepercayaan yang mutlak, Anda akan terjerumus ke dalam ketidakstabilan. Mungkin Anda berkata, inilah yang disebut hati-hati, tetapi stabil lebih dalam daripada hati-hati.
Ketika di gereja timbul satu kesulitan, perlu segera diatasi, meskipun Anda harus menangani, tetapi jangan bingung, jangan tergesa-gesa, harus lebih dulu stabil, kemudian baru mengurusinya. Ketika Anda belum stabil, jangan mengurusinya dulu. Khususnya orang yang menjadi penatua dalam gereja yang besar, harus melatih karakter stabil ini. Semua perkara yang melewati tangan Anda, jangan membuat Anda gugup atau tergesa-gesa, harus terus mempertimbangkannya. Meskipun seratus persen mempercayai seorang saudara, tetapi sambil mempercayai, perlu juga terus mempertimbangkannya. Bukannya langsung memberikan kepercayaan itu kepada orang, melainkan memberikan sebagian demi sebagian kepada orang. Ada tempat yang masih perlu membiarkan dia menyatakan keadaannya, kemudian baru diberikan sedikit demi sedkit, kalau kelihatan ada yang tidak mantap, segera ditarik kembali. Kita harus belajar pelajaran stabil ini.
Dalam gereja, yang paling ditakutkan adalah berbolak balik, berubah-ubah. Jika belum jelas melihat suatu urusan, lebih baik pelan sedikit. Jangan terlalu cepat menetapkannya. Kalau sudah ditetapkan, sulit untuk diubah. Dalam suatu sidang distrik, saudara saudari pewajib juga perlu memegang prinsip ini. Harus cepat mendengarkan perkataan orang, tetapi jangan terlalu cepat mempercayainya. Harus cepat mendengar perkara apa yang terjadi, tetapi jangan terlalu cepat menyampaikan kepada orang lain. Berita kejadian dalam gereja boleh saja disampaikan kepada kita, tetapi jangan terlalu mudah disebarkan kepada orang lain. Kalau kita belum mantap, belum melihat dengan tepat, kita seharusnya tidak berkata apa-apa. Kesemuanya ini tercakup dalam prinsip stabil.
Kalau Anda memegang teguh prinsip ini, Anda menjadi penatua dalam gereja, tidak akan jatuh ke dalam keadaan yang tidak menentu. Orang boleh menyampaikan banyak usulan kepada Anda, tetapi pendapat Anda tidak mudah dengan cepat diutarakan. Selain sudah melihat dengan tepat, Anda tidak berbicara. Terhadap betul salahnya suatu perkara, Anda juga tidak segera mengambil keputusan. Bukan karena perkara itu sangat sulit, tetapi karena karakter Anda stabil.
Saudara-saudara, jangan mudah memandang urusan itu sepele. Saya sendiri dalam tahun-tahun yang silam pernah mengalami kerugian yang besar, juga mengalami penderitaan yang besar dikarenakan dalam beberapa perkara ada sedikit perselisihan. Begitu ada perubahan, terjadi kerugian yang besar. Kalau diri sendiri rugi, pengaruhannya tidak terlalu besar, tetapi kalau gereja rugi, itu adalah satu perkara yang luar biasa. Sebab itu harus terus belajar hatihati, sampai mempelajari urusan itu dengan tuntas, melihat dengan jelas, barulah mengambil keputusan, jangan mudah berubah-ubah.
Kita berkoordinasi sebagai sekerja dengan saudara saudari, juga dalam prinsip yang sama. Sekali-kali jangan mengira hari ini berkoordinasi dengannya, besok boleh berubah berkoordinasi dengan orang lain, ini tidak betul. Kecuali tidak berkoordinasi; kalau mau berkoordinasi, harus seperti Kaleb dan Yosua, terus berkoordinasi sampai mati. Kalau ada seorang saudara melayani dalam gereja, bulan ini akrab dengan Saudara A, bulan depan jauh dengannya, tetapi sangat baik dengan Saudara B, Anda tahu bahwa saudara ini tidak stabil, tidak banyak kegunaannya. Orang yang stabil tidak sembarangan berkoordinasi dengan orang, tetapi begitu berkoordinasi, sampai mati tidak berubah.
Adakalanya berhembus berita penganiayaan, penentangan, dan berbagai isu, jangan terlalu cepat menerimanya. Orang yang tidak stabil, begitu di luar ada sedikit angin, segera jatuh. Pada tahun 1943 ketika kami di daerah utara, di sana ada sebagian pekerjaan yang sangat diberkati Tuhan. Tetapi ketika mencapai puncaknya, tiba-tiba datang badai masuk ke dalam telinga kita. Saat itu kalau tidak berlatih stabil, jangankan satu orang, sepuluh orang pun akan terkejut dan roboh. Terhadap perkara demikian, sikap kita harus tidak gugup. Karena gugup tidak akan mengurangi kesulitan, malah akan menambah kesulitan. Dalam gereja, semakin ada kesulitan, perlu semakin stabil. Tidak peduli kesulitan itu berasal dari dalam atau dari luar, begitu kesulitan itu tiba, harus belajar stabil. Begitu stabil, situasi dengan sendirinya akan jernih.
Sering kali kesulitan dalam gereja timbul karena karakter para penatua tidak stabil. Semestinya suatu perkara itu tidak begitu serius, tetapi karena karakter Anda kurang stabil, perkara itu semakin ditangani semakin kacau, berita yang disebarkan semakin lama semakin banyak. Sebaliknya, kalau Anda stabil, tidak banyak bicara, pelanpelan Anda akan nampak, segala isu akan reda. Sampaisampai ada seorang saudara jatuh pun Anda tidak perlu bingung. Jangan sebentar saja sudah memberi tahu orang, Saudara A itu pewajib distrik, tetapi pergi menonton bioskop. Mungkin dia hanya satu kali menonton bioskop, namun Anda berkata kepada orang seratus kali, sehingga menjadi berita yang hangat. Anda tidak perlu berbuat demikian, belajarlah stabil, tunggulah sejangka waktu. Ketika Anda stabil, Anda akan menerima pimpinan Tuhan, mengetahui bagaimana membantu dia. Semua pimpinan, perasaan, dan beban yang tepat, didapatkan karena orang itu stabil di hadapan Allah.
Perkara yang paling disenangi oleh Iblis adalah kalau kita tidak stabil. Perkara yang paling Iblis senangi adalah menimbulkan kekacauan. Semakin hebat Anda bertengkar, Iblis semakin senang. Anda semakin gugup, ia semakin gembira, Anda semakin menyebarkan desas-desus, ia semakin girang. Penatua A mengetahui seorang saudara menonton bioskop, cepat-cepat memberi tahu penatua B. Lalu penatua B berkata, “Wah, celaka sekali!” Semestinya menonton bioskop itu tidak sebegitu celaka, celaka itu justru disebabkan oleh beberapa penatua yang malah membantu Iblis melempar batu, akhirnya semua orang tidak tenteram. Sebab itu, dalam menghadapi hal seperti ini, kita harus belajar melawan pengancaman dari musuh. Tidak peduli Anda melempar berapa banyak batu kepada saya, yang sebagai danau ini, tetapi air danau saya ini tetap tenang. Meskipun Anda terus mengacau, saya masih stabil, ribuan perkataan pun tidak bisa menggerakkan saya. Kita tidak seharusnya keras hati, tegar tengkuk, tetapi harus belajar stabil. Kalau kita tidak memiliki karakter yang demikian, kita sama seperti yang dikatakan oleh pepatah: orang yang tidak mempunyai tulang, datang angin Timur rebah ke Barat, datang angin Barat rebah ke Timur. Orang yang tidak mempunyai tulang, tidak bisa mengurus gereja.
Saya ingin berkata kepada saudara saudari, segala perkara, asal mau menunggu sebentar, semuanya akan beres. Waktu sering merupakan penyelamatan yang diutus oleh Allah. Misalnya, berkhotbah (menyampaikan berita), kalau karena Anda malas, lalu tidak ingin menyampaikan berita, itu adalah kerugian yang besar. Tetapi kalau Anda rajin berkhotbah, hanya karena hati-hati lalu menunggu sejenak, ini bisa mendapat faedah yang besar. Karena malas lalu tidak menyampaikan berita, itu satu hal; tetapi karena hati-hati lalu menunggu sebentar, itu hal yang lain. Pergi menjenguk pun tidak bisa terlalu tergesa-gesa, perlu menunggu sebentar, melihat perasaan ini berubah atau tidak. Pengalaman memberi tahu kita, kalau Anda dengan mantap menjenguk, sering kita menemukan waktu yang tepat dan penyertaan Allah dalam batin. Sebab itu harus senantiasa belajar tidak gugup, tidak tergesa-gesa, tidak bingung. Kecuali mempunyai kemantapan, janganlah begitu cepat mengambil keputusan. Kesemuanya ini termasuk dalam karakter stabil.
V. HARUS MEMPERHATIKAN ORANG LAIN
Seorang yang tidak memperhatikan orang lain, tidak bisa melayani Tuhan, lebih-lebih tidak bisa menjadi penatua. Kalau orang yang menjadi penatua takut repot, lebih baik tidak menjadi penatua. Menjadi penatua sama seperti menjadi orang tua, adalah perkara yang paling repot. Kalau orang yang menjadi penatua tidak takut repot, ia akan menjadi penatua yang baik. Kalau hari ini saudara mencari Anda, besok saudari mencari Anda, lusa orang yang kehilangan pekerjaan mencari Anda, orang yang bertengkar mencari Anda, orang yang sakit mencari Anda, orang yang akan membeli peti mati mencari Anda, orang yang mencari tempat kuburan mencari Anda, orang yang tidak bisa membaca Alkitab mencari Anda, orang yang doanya tidak mendapatkan jawaban mencari Anda; maka kepenatuaan Anda ini terhitung lumayan. Kalau selamanya tidak ada orang yang mencari Anda, saya kira Anda sebaiknya jangan menjadi penatua.
Supaya orang lain mencari Anda, ada satu kuncinya, yaitu memperhatikan orang lain. Begitu Anda memperhatikan orang lain, mereka pasti mencari Anda. Hari ini banyak orang perlu bantuan. Orang yang kuat tidak pernah memikirkan bahwa orang yang lemah sangat perlu bantuan. Jangankan atas perkara-perkara besar seperti pernikahan, sekolah, pekerjaan perlu bantuan, bahkan atas perkaraperkara yang kecil pun sering saudara saudari perlu bantuan orang lain. Ada orang yang sakit perlu mencari dokter, pergi ke dokter yang mana pun perlu bantuan.
Orang dunia tidak mementingkan persekutuan, tetapi kita orang Kristen sangat mementingkan persekutuan. Kalau Anda ingin pergi ke dokter, bersekutulah dengan penatua, pasti akan mendapatkan berkat. Kalau Anda ingin menyewa rumah, bersekutulah lebih dulu dengan penatua, pasti juga mendapatkan berkat. Ada orang benar-benar bisa menjadi penatua, bila ada orang bersekutu dengannya tentang menyewa rumah, ia segera menyinggung beberapa hal yang berkaitan. Misalnya, listriknya cukup atau tidak, airnya lancar atau tidak, transportasinya mudah atau tidak, dekat dengan pasar atau tidak, sekolahnya jauh atau dekat, tetangganya siapa saja? Atap rumahnya bagaimana? Lantainya bagaimana? Keluar masuknya bagaimana? Pintunya bagaimana? Bisa bertanya dengan rinci sekali. Ada saudara berkata bahwa sebelahnya adalah tempat diskotek. Segera ia berkata: Bagaimana Anda boleh menyewa rumah di sebelahnya diskotek? Bukankah nanti anak-anak Anda akan setiap hari pergi ke sana? Lihatlah, ini membantu orang. Belum tentu setiap orang mempunyai pengetahuan yang sekian banyak dan bisa memikirkan begitu rinci; dalam hal-hal ini perlu bantuan penatua.
Ada orang yang menjadi penatua, benar-benar seperti orang tua, begitu Anda meletakkan urusan Anda di depannya, dia segera memperhatikan setiap aspeknya. Mungkin Anda baru mulai menjajaki masalah pernikahan, kedua belah pihak masih menjadi teman, pergilah menemui penatua, ia bisa mengetengahkan banyak pertanyaan yang akan memberi banyak bantuan kepada Anda. Misalnya, harus memilih jodoh yang bagaimana, harus bagaimana berkontak dengan calonnya, keadaan yang bagaimana baru cocok berkontak, baik sebagai manusia, maupun karena ketakwaan kepada Allah, harus bagaimana berkontak baru pantas, kesemuanya ini bisa dia pikirkan bagi Anda. Bantuan ini benar-benar sangat besar. Dalam satu gereja lokal, kalau ada lebih banyak penatua yang demikian, benarbenar sebagai berkat bagi saudara saudari.
Kesemuanya ini tergantung pada kita memperhatikan perkara orang lain. Kalau kita merasa: O, aku adalah penatua, sampai waktunya aku harus pergi bersidang, memberi pengumuman, itu sudah cukup. Ingatlah, kalau demikian, Anda telah kehilangan syarat sebagai penatua. Orang yang menjadi penatua bukan selalu menunggu orang lain yang bertanya, melainkan selalu memperhatikan orang lain. Kali ini ada baptisan, ada delapan saudara yang diserahkan ke wilayahku, aku adalah seorang pewajib distrik, aku harus memperhatikan kedelapan saudara ini, bagaimana keadaan rumah tangganya, bagaimana keadaan pernikahannya, bagaimana tingkatan pendidikannya, begitu memperhatikan segera menemukan bahwa dalam keluarga A ada dua saudara muda yang masih bujang dan baru lulus perguruan tinggi. Dalam hal memberi perhatian juga perlu rajin dan stabil. Aku sungguh memperhatikan, memperhatikan bagaimana perilakunya, bagaimana kehidupannya. Mungkin pada mulanya aku tidak begitu jelas terhadapnya, tetapi lewat perhatian sejangka waktu, sampai waktu tertentu, aku merasa sudah cukup mantap, lalu mencarikan satu jodoh untuknya. Jika Anda menjadi penatua seperti ini sejangka waktu lamanya, saudara saudari pasti akan mencari Anda.
Semoga dalam gereja, semua saudara saudari, baik dalam perkara rohani, perkara kehidupan sehari-hari, perkara pekerjaan, perkara dalam keluarga, urusan yang besar maupun yang kecil, bisa mencari penatua, ini baik sekali. Pewajib distrik, prinsipnya juga sama dengan penatua, harus demikian merawat saudara saudari. Ini adalah satu perkara yang sangat diberkati, entah ada berapa banyak berkat yang ada di dalamnya.
Tetapi ingatlah, ini tidak seharusnya berasal dari sifat bawaan.Sifat bawaan yang suka mengurusi urusan, suka bertanya urusan orang lain, itu adalah daging. Tetapi Anda telah belajar di depan Tuhan, menerima satu beban, mau menjadi seorang gembala di antara anak-anak Allah, menjadi seorang yang merawat jiwa orang, ini barulah benar.
Karena mengasihi mereka, memperhatikan mereka, maka selalu ada satu beban yang menekan di atas diri Anda. Dalam hal ini, kalau penatua bisa melakukannya, gereja pasti mendapatkan berkat. Hari ini setiap gereja lokal sangat kekurangan penatua yang demikian. Dia bukan senang mencampuri urusan orang lain, tetapi mempunyai satu karakter suka memperhatikan urusan orang lain. Kesemuanya ini adalah karakter yang harus dimiliki oleh penatua ketika mereka menggembalakan gereja.
VI. HARUS BISA MENYESUAIKAN DIRI, LUWES
Orang yang menjadi penatua perlu memiliki satu karakter lagi, yaitu bisa menyesuaikan diri, luwes. Dulu kita pernah menyinggung sedikit, dan memberi nama kepadanya karakter lem. Anda mengetahui orang bisa memakai lem untuk membubuhi permukaan yang datar, yang bidang, yang cekung, yang cembung, yang berbelok. Di mana saja, dia bisa menyesuaikannya. Tidak peduli itu cekung, cembung, bengkok, lurus, datar, atau miring, semuanya bisa Anda lapisi. Seorang penatua harus demikian, bisa menyesuaikan diri dengan semua orang. Meskipun harus luwes terhadap orang, tetapi bukan terpaksa.
Karakter penatua harus sungguh-sungguh, rajin, sangat stabil (teguh), selalu memperhatikan orang lain, bisa menyesuaikan diri. Setelah mempunyai lima macam karakter ini, Anda yang sebagai penatua ini pasti bisa mengatur gereja dengan baik. Saya tidak menyangkal pentingnya aspek rohani, maksud saya di aspek itu kita telah banyak membicarakannya. Meskipun Anda benar-benar telah rohani, kalau kekurangan beberapa macam karakter ini, kerohanian Anda masih tidak berguna, sama dengan nol. Rohani sama seperti satu bahan, karakter hampir-hampir adalah diri Anda sendiri. Sifat bawaan ditambah kebiasaan, membentuk karakter; karakter ini mewakili orangnya. Pelan adalah diri Anda, cepat juga diri Anda. Ceroboh adalah diri Anda, sungguh-sungguh juga adalah diri Anda. Karena diri Anda berkarakter demikian. Meskipun ada bahan belum tentu bisa menghasilkan barang yang baik, perlu melihat siapa yang mengerjakannya. Kalau karakter Anda tidak baik, meskipun Anda memiliki pengalaman rohani, pengalaman itu masih tidak bisa digunakan.
Saudara saudari terkasih, di sini sama sekali tidak ada doktrin yang besar, tetapi saya dengan yakin mengetahui, dan saya berani mempertaruhkan jiwa saya sebagai jaminan: orang yang menjadi penatua, kalau bukan orang yang sungguh-sungguh, rajin, stabil, memperhatikan urusan orang lain, juga bisa menyesuaikan diri dengan orang lain, dia pasti tidak bisa menjadi penatua yang baik. Dalam gereja ada penatua yang demikian sama seperti tidak ada penatua. Orang yang benar-benar bisa menjadi penatua yang mengurus gereja, pastilah sungguh-sungguh, rajin, stabil, memperhatikan urusan orang lain, juga sebisanya menyesuaikan diri dengan orang lain. Kalau ada penatua yang demikian, kita harus bersyukur kepada Tuhan, gereja pasti ada hari depan, banyak berkat rohani akan terbawa masuk.
Saudara-saudara, penatua di antara kita bukan bersifat profesi, sepenuhnya berasal dari kasih. Karena kita mengasihi Tuhan, mengasihi gereja, mengasihi setiap anggota Tubuh-Nya, maka kita menjadi penatua. Meskipun kita mengorbankan seumur hidup kita, mencurahkan jiwa kita, juga merasa tidak rugi, pun rela. Ini berkaitan dengan masalah keselamatan laksaan orang, juga berkaitan dengan masalah pembangunan laksaan orang di hadapan Tuhan, ini adalah satu perkara yang mulia!