HATI PENATUA I. PENTINGNYA HATI BAGI PARA PENATUA
Telah kita katakan, tidak peduli apa saja yang hendak dikerjakan, orang yang akan mengerjakannya haruslah benar. Tidak ada orang, atau orangnya tidak benar, maka tidak dapat diharapkan pekerjaannya bisa benar. Semua perkara besar dan penting di seluruh dunia dapat membuktikan prinsip ini. Kita ambil sebuah negara sebagai contoh, bagaimanapun baiknya undang-undang sebuah negara, sistem pemerintahannya sangat unggul, kalau orang yang menjalankan pemerintahan itu tidak karuan, maka negara itu masih belum diurus dengan baik. Keadaannya akan sama sekali berbeda jika orang yang menjalankan pemerintahan itu diganti, meskipun undang-undang dan sistem pemerintahannya sama. Perihal rohani juga tidak terkecuali. Sebab itu kita harus nampak, yang terpenting dalam pemerintahan gereja adalah manusianya. Saya tidak mengatakan bahwa cara tidak penting, tetapi cara adalah tergantung pada manusia. Jika orangnya melenceng, bagaimanapun baik caranya, semua tidak berguna. Harus ada orang yang benar, barulah berguna caranya.
Selain masalah orang (manusia) perlu dibereskan, masalah hati juga sangat perlu ditanggulangi. Atas perkara duniawi, mungkin masih boleh hanya memperhatikan seluk beluk aspek manusia; namun dalam gereja, seluk-beluk mengenai hati harus dituntut sampai taraf yang cukup, barulah boleh, karena dalam gereja semuanya harus jelas, semuanya di dalam terang, tidak boleh ada perbedaan antara yang di dalam dan yang di luar. Secara tegasnya, bahkan atas perkara di dunia, jika seseorang ingin bekerja dengan baik, hatinya harus sangat tepat. Nyatalah bahwa hati dan manusia mempunyai hubungan yang mutlak. Begitu hati seseorang menyimpang sedikit, ia bukan lagi orang yang tulus.
Kalau mau ada orang yang benar, harus ada hati yang benar. Begitu hatinya menyimpang, orangnya pasti menyimpang. Terutama dalam hal menjadi penatua, hati harus ditanggulangi sampai taraf yang sangat tepat. Jika hati penatua menyimpang sedikit saja, maka selamanya tidak bisa diharapkan diri penatua tersebut adalah benar. Saya yakin, saudara-saudara yang cukup berpengalaman atas perihal tanggung jawab penatua bisa memberi tahu kita, penatua harus belajar pelajaran peremukan yang sangat hebat. Tetapi peremukan hanya menanggulangi diri penatua. Atas perihal tanggung jawab penatua, hati pun adalah satu unsur yang sangat hebat. Seorang saudara yang menjadi penatua, walaupun sangat mencintai Tuhan, takwa kepada Tuhan, juga belajar perkara rohani, atas banyak perkara mau menerima peremukan, namun kalau mengabaikan penanggulangan hati, atas dirinya masih mudah timbul kesulitan.
Saya ingin berkata demikian kepada saudara saudari: Kerohanian seseorang memang bisa mempengaruhi keadaan hatinya di hadapan Allah, tetapi kerohanian tidak bisa menggantikan keadaan hati seseorang. Rohani adalah satu hal, keadaan hati adalah satu hal lain. Tentunya kita mengakui kedua perkara ini saling mempengaruhi, tetapi tidak berarti asalkan seseorang rohani, hatinya pasti tidak bermasalah, tidak ada perkara demikian. Saya tegaskan, hal ini sangat berbeda. Saya tidak ingin dalam pembahasan kepengurusan penatua atas gereja ini banyak menyinggung hal-hal di aspek rohani, karena semua itu dalam berita-berita yang lalu sudah dibicarakan cukup banyak. Di sini saya ingin khusus menyinggung masalah hati. Hati penatua adalah satu perkara yang sangat serius; atas diri penatua, hati adalah satu unsur yang sangat penting. Tidak peduli seberapa rohaninya Anda, kalau hati Anda kurang tepat, maka Anda tidak bisa menjadi penatua dengan baik, hal ini mutlak bisa kita saksikan dari pengalaman.
II. HATI HARUS LAPANG
Hal pertama yang diperlukan oleh orang yang menjadi penatua ialah hati yang lapang. Syarat pertama yang harus dipersiapkan bagi hati penatua adalah lapang. Dalam Alkitab, ada seorang pengurus yang sangat baik, yaitu Raja Salomo. Dalam seluruh Alkitab, dia adalah seorang tokoh yang standar yang mewakili para pengurus, seorang tipe tokoh yang standar. Semua pembaca Alkitab mengakui, jika ingin mencari tipe tokoh yang mengalami salib, carilah Daud; kalau ingin mencari tokoh standar yang bisa mengurusi umat Allah, harus mencari Salomo. Dia sungguhsungguh bisa mengurus. Tetapi ingatlah, Raja Salomo bisa mengurus karena dua hal, yaitu hati yang lapang dan hikmat kepandaian. Sesungguhnya kedua hal ini adalah dua aspek dari satu perkara.
Anda ingat, ketika masih muda, Salomo telah dinobatkan menjadi raja. Setelah dinobatkan, dia pergi ke hadirat Allah untuk mempersembahkan kurban. Pada malam hari ketika Allah menampakkan diri kepadanya, ia memohon kepada Allah, katanya, “Sekarang, ya Tuhan, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hambamu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman. Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hikmat, untuk menghakimi umat-Mu, dapat membedakan antara yang benar dan yang salah” (1 Raj. 3:7, 9. Tl.). Dia memohon hikmat kepada Allah. Setiap orang pasti berpikir bahwa hal mengurus merupakan hal yang paling memerlukan hikmat. Hanya memiliki kepandaian masih kurang, sebab kepandaian itu umum, hikmat barulah luar biasa. Salomo benar-benar merasa jika seorang muda ingin mengurus begitu banyak umat Allah, perlu Allah memberi hikmat kepadanya. Karena itu dia memohon di hadirat Allah. Namun menakjubkan sekali, ia hanya memohon hikmat, tetapi Allah bukan hanya memberinya hikmat, bahkan memberinya hati yang lapang. Satu Raja-raja 4:29 mengatakan, “Allah memberikan kepada Salomo hikmat kepandaian yang amat besar, serta hati yang lapang seperti dataran pasir di tepi laut” (Tl.). Ada pepatah mengatakan: Hati lapang bagaikan laut yang menampung, bagaikan laut yang bisa menampung segala sesuatu. Namun hati yang di sini bagaikan dataran pasir di tepi laut. Dataran pasir di tepi laut meliputi lautan. Alkitab mengatakan bahwa Allah membuat pantai pasir sebagai pembatas laut (Yer. 5:22). Jadi, hati Salomo lebih besar daripada samudra.
Ketika Allah memberi hikmat kepada Salomo, Allah memberinya hati yang lapang. Saudara-saudara harus tahu, semua orang yang berhikmat, hati mereka selalu besar. Semua orang yang berhati sempit adalah orang yang bodoh. Jika Anda mau menjadi orang yang bodoh, biarlah saya mengajarkan satu cara kepada Anda, sempitkanlah hati Anda. Prinsip yang sama, asalkan Anda memperbesar hati Anda, Anda adalah orang yang berhikmat. Hati yang lapang tidak dapat dipisahkan dengan hikmat kepandaian. Karena itu saya katakan, kedua perkara ini sesungguhnya adalah dua aspek dari satu perkara.
Kesombongan adalah satu macam wujud kebodohan. Tetapi dari manakah asalnya kesombongan itu? Datangnya dari hati yang sempit. Orang yang kecil, hati yang kecil, mudah sekali sombong.
Orang yang berhati besar tidak mudah sombong. Saya tunjukkan sebuah contoh. Sekarang di rumah kami tinggal seorang tamu kecil, ia sering menyombongkan diri kepada saya, seratus persen tipe seorang tokoh yang sombong. Dia memakai sepasang sepatu kecil, kalau berjalan gaya sekali. Ketahuilah saudara-saudara, seorang yang besar, jangankan memakai sepasang sepatu, sekalipun diberi dua buah mobil, ia tidak akan merasakan apa-apa. Ini dikarenakan dia besar. Kesombongan adalah satu macam wujud manusia yang kecil. Misalnya, pada suatu hari setelah Anda menyampaikan sebuah berita dengan sangat baik, lalu Anda menjadi sombong. Kesombongan ini membuktikan bahwa diri Anda kecil. Kalau diri Anda besar, jangankan menyampaikan sebuah berita, walaupun menyampaikan laksaan berita dengan baik, anda tidak akan merasakan apa-apa. Semua kesombongan membuktikan bahwa hatinya sempit, semua kesombongan membuktikan manusianya terlalu kecil.
Manusianya kecil berarti hatinya kecil. Apa yang disebut manusianya besar? Itu mengacu pada hatinya besar. Mengerjakan banyak urusan, namun tidak merasakan apa-apa; menikmati banyak sekali, juga merasa tidak terhitung apaapa; ini dikarenakan orangnya besar. Siapa pun yang merasa sekejap saja sudah melakukan sesuatu, itulah ciri khas orang yang kecil.
Seorang yang mengurus umat Allah, sangat perlu memiliki hikmat, namun rahasia hikmat tergantung pada hati yang lapang. Sungguh saya ingin menggunakan banyak waktu di sini, membicarakan masalah hati yang lapang dengan saudara saudari. Anda tidak tahu betapa besar pengaruh hal ini terhadap orang yang menjadi penatua. Banyak keputusan Anda yang kurang tepat dikarenakan hati Anda sempit. Banyak perkara ditangani tidak pas, mungkin Anda mengatakan bahwa itu dikarenakan Anda ceroboh, tetapi sebenarnya ceroboh disebabkan hati Anda sempit. Asal Anda memperbesar hati Anda, Anda segera menjadi orang yang berhikmat.
Karena itu saudara-saudara, harus belajar atas setiap perkara berlatih memperbesar hati Anda. Berpura-pura besar adalah sombong, selalu ingin besar adalah takabur, semuanya tidak boleh; namun ketika menangani urusan, harus belajar memperbesar diri. Baik menelaah kebenaran, menuntut kerohanian, berhubungan dengan saudara saudari, memberi keputusan, menangani urusan, harus belajar besar. Begitu menjamah urusan gereja, Anda harus belajar memperbesar hati. Harus selalu besar, besar bisa membereskan banyak masalah.
Andaikata hari ini di gereja ada satu urusan, semua orang sudah tahu hanya Anda yang tidak diberi tahu, bagaimana hati Anda? Akan menyalahkan orang lain atau tidak? Jika hati Anda lapang, Anda tidak akan menyalahkan orang lain; jika hati Anda tidak lapang, Anda pasti menyalahkan orang lain. Mungkin hari ini ada seorang saudara bersalah kepada Anda, maukah Anda melewatkannya? Itu pun dapat dilihat dari hati Anda, besar atau kecil. Kecil tidak bisa membiarkannya lewat, besar bisa membiarkannya lewat; itu sudah pasti. Anda bisa membawa segala urusan gereja ke dalam prinsip ini.
Antara tahun 1936 sampai 1937, kira-kira dalam waktu satu atau dua tahun, saya sering bekerja ke suatu tempat di daerah Utara. Pada saat itu di sana ada sekelompok saudara yang sungguh-sungguh patut dikasihi, hampir semuanya mencintai Tuhan. Tetapi mengherankan, gereja di sana selalu ribut. Bahkan orang-orang yang ribut bukan saudara saudari pada umumnya, melainkan beberapa orang pewajib. Waktu itu, hampir tiga atau empat minggu sekali saya datang ke sana, setiap kali pergi selalu ada sidang selama beberapa hari, menyampaikan sedikit berita. Sering kali setelah menyampaikan berita, saya lalu mencari beberapa orang pewajib di sana untuk berbincang-bincang, berdoa, membereskan masalah di antara mereka. Tetapi begitu saya meninggalkan mereka, tidak lama kemudian di antara mereka timbul masalah lagi.
Saya masih ingat dengan jelas, di sanalah saya saya membicarakan Daud untuk kali pertama sebagai tokoh yang mengalami salib. Kali itu Tuhan sungguh-sungguh memberi terang kepada saya, melepaskan perkataan yang hebat. Tema berita ialah tentang seorang pemimpin harus belajar mengalami salib, memilih salib. Setelah berita ini disampaikan, beberapa pewajib itu memuji Tuhan, merasa masalah mereka sudah beres. Mereka semua bersama-sama berdoa, saling berjabat tangan. Saya pun dengan girang meninggalkan tempat itu, sangat gembira karena kesulitan di antara mereka telah berlalu. Tetapi belum sampai dua atau tiga minggu kemudian, datang berita bahwa mereka ribut lagi.
Ketika diselidiki dengan teliti penyebabnya, ternyata, sedikit pun bukan karena mereka tidak mencintai Tuhan; mereka satu per satu mencintai Tuhan. Namun keganjilannya di sini, tiga atau lima saudara pewajib itu semua sempit hatinya, baik urusan besar maupun kecil harus diperhitungkan. Kadangkala mereka ribut gara-gara membuka sebuah pintu di balai sidang. Misalnya seorang mengatakan harus dibuka sebesar tiga meter, yang lain mengatakan harus dibuka empat meter, tidak ada yang mau mengalah, lalu terjadilah keributan. Sayangnya, meskipun saat itu saya sedikit menjamah kesulitan di antara mereka, tetapi masih belum bisa mengatakan dengan perkataan yang jelas, sebab waktu itu pengalaman saya masih kurang. Kalau hari ini, saya bisa dengan jelas berkata kepada mereka, tidak perlu memilih salib, juga tidak perlu menerima peremukan, asalkan memperbesar hati sudahlah cukup.
Saudara-saudara, hari ini banyak kesulitan dalam gereja-gereja lokal juga dikarenakan hati para penatua kurang besar. Karena itu saya mutlak setuju, para penatua dari masing-masing lokal bisa keliling keluar. Yang di Taipei bisa keliling Tainan, Kaoshiung, Hualien; yang di tempat lain juga bisa keluar berkeliling, begitu berkeliling, hati Anda segera menjadi besar. Jika kondisi mengizinkan, bisa keliling ke luar negeri, itu lebih baik. Begitu manusia keluar dan berkeliling, hatinya segera menjadi besar. Sombong, tidak patut; membesarkan diri, tidak patut; ingin menjadi besar juga tidak patut, tetapi harus belajar memperbesar hati. Orang yang kendor tidak berarti hatinya besar. Orangnya tetap ketat, namun hatinya besar.
Tentunya pelajaran ini tidak bisa dipelajari oleh hayat alamiah.Manusia alamiah ingin memperbesar hati, tetapi sering kali adalah semu. Ingin memperbesar hati diri sendiri, memerlukan karunia yang sangat besar dari Tuhan. Ingatlah, bisa memaafkan orang lain, ini adalah masalah kebesaran hati; bisa memberkati orang yang mengutuki Anda, juga masalah kebesaran hati.
O, hikmat yang diberikan kebesaran hati kepada Anda tidaklah ternilai. Atas segala hal, perilaku kita, ketat itu harus, takabur tidak patut, tetapi yang terutama hatinya harus lapang. Bila hati Anda tidak diperbesar, Anda harus siap, nanti pasti salah, dan tentu akan menyesal. Misalnya, hari ini seorang saudara mempunyai permohonan kepada Anda, karena kurang besar hati, anda tidak memenuhinya, kelak Anda akan menyesal. Atau hari ini seorang saudara mohon diampuni, Anda pun karena kurang besar hati, tidak mau mengampuni, kelak juga akan menyesal. Karena itu saudara-saudara, hati Anda harus besar. Tadinya kita semua adalah orang-orang yang berhati kecil, harus belajar memperbesar hati. Kalau Anda bertikai dengan saudarasaudara, delapan puluh atau sembilan puluh persen dikarenakan hati Anda kecil. Belakangan ini kita jarang menemukan orang yang berhati besar.
III. HATI HARUS JUJUR
Jujur di sini bukan mengacu kepada tidak berbohong menipu orang, melainkan mengacu kepada ketulusan, tidak mengatakan perkataan yang berliku-liku, tidak menggunakan rekayasa, dan tidak memakai siasat. Pekerjaan bisa dilakukan ya dilakukan, tidak bisa dilakukan ya tidak dilakukan, mutlak tidak memakai siasat untuk melakukannya. Selama ini, di antara anak-anak Allah saya melihat banyak perkara yang tidak jujur. Kadang-kadang, bahkan tindakan seorang saudara memberi Anda sepotong pakaian itu pun terhitung tidak jujur. Anda mengerti maksud perkataan saya. Dia bukan karena mengasihi Anda atau karena merasa Anda perlu pakaian itu lalu memberi Anda sepotong pakaian. Dia memberi Anda sepotong pakaian karena dia ingin Anda melakukan suatu hal. Dia khawatir Anda tidak melakukan sesuatu untuknya, maka, dia membawa sepotong pakaian untuk Anda. Ingatlah, inilah sesuatu yang keluar dari hati yang tidak jujur. Di antara orang-orang kafir ini tidak terhitung licik, namun di dalam gereja ini adalah tidak jujur.
Sering kali orang yang menjadi penatua terlalu kawakan. Maafkan saya berkata demikian, demikian kawakan sehingga menjadi si licik tua. Di dalam, ia tidak puas terhadap Anda, tetapi di luar, ia masih tertawa-tawa. Anda tidak puas terhadap orang lain, tidak bisa marah kepada orang lain, itu betul, tetapi pura-pura senang dan tertawa itu tidak patut, itu palsu. Anda seharusnya mempunyai sikap yang serius di hadapannya, memberi perasaan kepadanya bahwa Anda merasa tidak senang kepadanya, itu barulah betul. Amarah tidak dilampiaskan itu betul, tetapi berpura-pura dengan tersenyum itu tidak betul. Anda harus menjadi orang dengan hati yang jujur. Dalam organisasi masyarakat apa pun boleh berpura-pura, memakai siasat, ada rekayasa; namun di tengah-tengah saudara saudari, terlebih lagi orang yang menjadi penatua, hanya boleh ada ketulusan. Harus belajar mempunyai hati yang jujur di hadirat Allah. Perkataan Anda, pernyataan Anda, sikap Anda, hubungan Anda dengan saudara saudari, semuanya harus tulus.
Saudara-saudara, bila Anda tidak tulus, pasti ada motivasi tertentu, ada politik, ada siasat. Dengan kata perlambangan, itulah yang dibicarakan di Imamat 13, yakni kusta pada pakaian. Jika saya memberi sesuatu kepada seorang saudara dikarenakan saya mempunyai beban, mempunyai perasaan, mempunyai kasih di hadirat Allah, maka apa yang saya perbuat di luar ialah apa yang ada di dalam, ini adalah perkara yang sangat indah. Tetapi kalau saya sama sekali tidak ada beban, tidak ada pimpinan, juga tidak ada kasih, hanya karena menginginkan saudara tersebut mengerjakan sesuatu untuk saya, dan karena itu tidak bisa tidak harus membawa sesuatu untuknya, hal ini adalah kusta di hadapan Allah. Ini tidak boleh dilakukan. Di dalam masyarakat boleh, di dalam gereja tidak boleh. Saya tegaskan lagi, tidak boleh marah semaunya, tidak boleh bicara sembarangan, ini betul, tetapi tidak boleh memakai siasat. Bagaimana keadaan di dalam hati Anda, begitulah seharusnya tampilan sikap Anda. Jangan sekali-kali mengira perkara ini sepele. Kalau Anda ingin menjadi penatua yang sejati, Anda akan tahu, pelajaran ini sulit dipelajari. Bisa tanpa siasat, juga bisa tidak kehilangan kendali di hadirat Allah, ini adalah perkara yang tidak mudah.
Saudara-saudara, maafkanlah saya, kadangkala Anda terlalu kawakan dalam menangani urusan, sehingga Anda menjadi orang berwajah dua, satu aspek dingin, satu aspek panas; satu aspek hitam, satu aspek putih. Itu tidak patut. Tidak seorang pun yang menjadi penatua boleh berbuat demikian. Itu berarti orang yang menjadi penatua bercabang lidah, mengucapkan dua macam perkataan. Penatua hanya boleh memiliki perwujudan dan pernyataan yang selaras dalam dan luarnya. Saya ingin saudara-saudara belajar pelajaran ini.
Semua orang yang memakai siasat, memakainya untuk menghadapi kesulitan, untuk menghindari kesulitan. Tetapi kesulitan dalam gereja semakin dihadapi, semakin dihindari, akan semakin sulit ditangani. Kalau Anda tidak bisa secara positif menanganinya, lebih baik Anda tinggalkan kesulitan itu di sana, biarkan kesulitan itu bereaksi, tidak perlu Anda hadapi. Begitu Anda menjadi orang yang sejati, sering kali kesulitan malahan akan berlalu. Saya sangat menyukai Musa dalam Kitab Bilangan, ia selamanya tidak pernah menggunakan siasat di tengah-tengah bani Israel. Anda harus mengakui bahwa dia adalah orang yang cerdik, sangat berhikmat, berwawasan, berpendidikan, dan berbakat. Meskipun demikian, Anda melihat dia seperti orang yang sederhana di antara bani Israel. Dia adalah orang yang sejati, hatinya jujur. Ada orang mengatakan bahwa orang yang sederhana adalah orang yang bodoh, perkataan ini juga saya akui, tetapi ingatlah, kebodohan di sini bukanlah kebodohan yang buruk, melainkan kebodohan yang baik. Anda harus belajar membiarkan hati Anda jujur.
Ada saudara yang menjadi penatua, sudah jelas tidak puas terhadap seseorang, namun tidak mengatakan di depannya, melainkan di belakangnya, ini tidak jujur. Kalau di depannya tidak bisa mengatakannya, di belakangnya juga tidak boleh mengatakannya; terang-terangan tidak bisa mengatakannya, sembunyi-sembunyi juga tidak boleh mengatakannya. Orang yang menjadi penatua harus belajar jujur sampai tahap ini barulah boleh. Di depan tidak bisa mengatakannya, tidaklah salah, karena mungkin situasi tidak mengizinkan, kondisi tidak mengizinkan. Pula, kita masih perlu belajar hidup di hadapan Allah, adakalanya Allah memang tidak mengizinkan kita berbicara. Namun, jika di sini tidak berbicara, di sana berbicara; di sini mengatakan putih, di sana mengatakan hitam, ini mutlak tidak boleh. Sebab itu, penatua yang ingin mendatangkan faedah bagi gereja, hatinya harus tulus dan setia. Kalau bisa mengatakan di dalam juga ada pimpinan, maka aku mengatakan. Jika tidak bisa mengatakan, di dalam juga tidak ada pimpinan, maka aku tidak mengatakan. Apa saja yang aku katakan, terhadap siapa saja selalu sama. Berkata kepada orang demikian, berkata kepada Allah juga demikian, bahkan berkata kepada Iblis pun demikian. Inilah penatua. Orang yang jujur selamanya tidak takut dikonfirmasi. Terhadap orang yang menentang berkata demikian, terhadap orang yang menyanjung juga berkata demikian, maka tidak takut dikonfirmasi kedua belah pihak.
Saudara-saudara, jangan mengira pelajaran ini mudah dipelajari. Saya percaya kita semua mau melayani Tuhan, tidak seorang pun yang tidak jujur, tetapi itu mengacu kepada kejujuran umum. Kejujuran yang kita bahas hari ini lebih maju selangkah, yaitu mengacu kepada tanpa sedikit pun liku-liku, tanpa siasat. Kita hanya belajar dikendalikan Allah, hidup di hadapan Allah, ya mengatakan ya, tidak mengatakan tidak, melakukan apa yang boleh dilakukan, tidak melakukan apa yang tidak boleh dilakukan; bahkan jika apa yang kita perbuat di tempat terbuka adalah demikian, di belakang juga adalah demikian. Inilah kejujuran yang kita bicarakan. Hanya dengan hati seperti ini, baru bisa membuat gereja memperoleh faedah yang sejati. Kepengurusan gereja bukan perihal spekulasi, tidak boleh bersiasat dengan alasan, asalkan berhasil sudah cukup. Itu tidak boleh, pasti tidak tahan diuji oleh waktu. Kalau Anda bermuka dua, pada saat itu meskipun orang lain tidak tahu, sejangka waktu kemudian setiap orang akan tahu, waktu adalah bukti atas segala sesuatu. Agar gereja beroleh faedah, penatua harus belajar menjadi orang yang berhati jujur.
IV. HATI HARUS LURUS
Hati harus lurus, ini bukan berarti hatinya tidak bengkok, melainkan mengacu kepada hatinya tanpa motivasi dan tujuan apa pun. Para penatua yang mengurus gereja harus ada hati yang bisa dibentangkan di hadapan Allah dan berkata, “Saya demikian membantu saudara-saudara, memimpin saudara-saudara bersama menuntut, tanpa motivasi apa pun.” Ini disebut lurus. Sering kali para penatua menjenguk orang karena ada motivasi tertentu. Kadang-kadang mereka mengundang saudara-saudara untuk perjamuan kasih dan bersekutu, juga ada motivasi tertentu. Sepertinya begitu penatua mengundang, maka orang tersebut akan menerima pengaturan penatua. Ini motivasi, ini politik, ini bukan lurus. Mengundang untuk perjamuan kasih dan bersekutu, harus hanya untuk perjamuan kasih dan bersekutu. Jika untuk maksud yang lain, juga harus dengan jelas memberi tahu saudarasaudara; demikian baru lurus. Di dalam gereja, terutama orang yang memimpin, orang yang bertanggung jawab mengatur, secara mutlak tidak boleh menggunakan segala kesempatan, meskipun kesempatan diberikan kepada Anda, juga tidak boleh memanfaatkannya, jika tidak, perkataan dan hati akan tidak lurus.
Para penatua yang menangani semua urusan di dalam gereja harus memiliki hati yang lurus, cara kerjanya juga harus lurus. Penatua tidak boleh menempuh jalan bengkok. Misalnya, seorang saudara ribut dengan Anda, Anda tidak berdaya untuk membereskannya, lalu mencari salah satu adik iparnya, menghendaki adik iparnya berbicara kepada istri saudara tersebut, menghendakinya berbicara kepada saudara tersebut. Hal ini mutlak tidak boleh dilakukan di dalam gereja. Kecuali Anda ada pimpinan Tuhan, merasa harus mencari adik iparnya untuk membantunya, itu adalah perkara lain. Jika tidak, kita tidak boleh seperti masyarakat pada umumnya, lewat jalan belakang, lewat jalan tikus.
Saya percaya setelah saya mengatakan semua ini, saudara-saudara bisa memahami. Orang yang menjadi penatua dalam gereja harus belajar terus-menerus memperbesar hatinya. Tidak takabur, tidak membesarkan diri, juga tidak ingin menjadi besar, semuanya ini benar, tetapi hatinya harus diperbesar. Bersamaan dengan itu hati harus jujur, lurus, tidak memperalat orang lain. Anda memerlukan orang lain melakukan sesuatu untuk Anda, berterusteranglah kepadanya. Kalau tidak leluasa, jangan dipaksakan, jangan berliku-liku, jangan memperalat orang lain. Kita harus menanggulangi hati kita sedemikian rupa di hadapan Allah.
Sebenarnya saya masih ingin mengatakan bahwa hati juga harus murni, namun sekarang tidak membahasnya pun sudah cukup, sebab murni kebanyakan tercakup dalam kejujuran dan lurus. Jika Anda bisa jujur, sejati, lurus, terus terang, hati Anda pasti murni. Hati seperti ini barulah bisa membuat Allah mempunyai jalan keluar di atas diri Anda, agar Allah memakai Anda untuk mengurus gereja, dan membuat saudara saudari benar-benar memperoleh faedah yang sejati.