← Daftar isi Kepengurusan Penatua atas Gereja · bab 2/15

DIRI PENATUA I. PENTINGNYA PENATUA

Jika kita membaca seluruh Alkitab dengan seksama, kita akan nampak rencana dan kehendak Allah akan tergenapi atas gereja. Tanpa gereja, rencana Allah tidak akan bisa digenapi, kehendak Allah tidak mungkin terwujud. Karena itu, boleh dikatakan rencana dan kehendak Allah seluruhnya diamanatkan kepada gereja. Alkitab juga menampakkan kepada kita bahwa inti gereja terletak pada penatua. Jika sebuah gereja lokal tidak mempunyai penatua, secara serius dapat dikatakan, itu sama dengan tidak ada gereja. Hal ini bagaikan sebuah negara, jika hanya ada rakyat tanpa ada pemerintah, maka tidak dapat dihitung sebagai sebuah negara. Dengan prinsip yang sama, atas satu tempat, tidak peduli ada berapa banyak saudara saudari, jika tidak ada penatua yang dibangunkan, juga masih belum terhitung ada gereja. Sebuah negara selain mempunyai rakyat, juga harus mempunyai satu pemerintah yang sah; demikian pula suatu gereja, selain ada sekelompok kaum saleh yang beroleh selamat, masih perlu ditetapkannya penatua.

Terhadap hal ini, diharapkan saudara saudari mempunyai perasaan yang dalam. Bukan hanya Alkitab yang mengatakan hal ini, sejarah gereja juga menjelaskan hal ini. Bahkan pengalaman kita pun dapat membuktikan bahwa di mana ada penatua yang kuat, di sana ada gereja yang kuat; di mana ada penatua yang rohani, di sana pasti ada gereja yang rohani. Kuat atau lemah, rohani atau karnalnya gereja, semuanya tergantung pada penatua. Karena itu ke mana pun kita pergi, asalkan melihat keadaan penatua di sana, kita bisa memastikan bagaimana gereja di sana. Ini adalah satu hal yang sangat riil.

Karena itu kita harus nampak, dalam seluruh alam semesta, sekelompok orang yang paling penting adalah penatua. Kalau tidak ada gereja, alam semesta kosong melompong, bagi Allah sama sekali tidak berguna. Penatua adalah inti gereja, tanpa penatua, gereja pun kosong. Karena itu, penatua adalah sekelompok orang yang paling penting dalam alam semesta.

Mungkin saudara saudari akan berkata, bukankah Alkitab mengatakan bahwa rasul lebih tinggi, lebih penting daripada penatua? Memang, rasul adalah orang yang mendirikan gereja, bahkan penatua dalam gereja pun ditetapkan olehnya, tetapi ingatlah, kunci keadaan gereja tidak terkait pada rasul, melainkan terkait pada penatua. Saya bisa berkata dengan yakin, kalau penatua suatu gereja lokal kuat, rasulnya agak kurang kuat, gereja di sana masih tetap kuat; sebaliknya jika penatua di sana lemah, walaupun rasulnya kuat, gereja di sana masih tetap lemah. Kuat atau lemahnya gereja secara langsung bergantung pada penatua.

Dalam ketujuh surat yang Tuhan tulis dalam Kitab Wahyu, kita juga dapat melihat dengan jelas betapa pentingnya kedudukan penatua. Pembukaan Kitab Wahyu menampakkan kepada kita, kesaksian Allah dalam seluruh alam semesta adalah melalui gereja-gereja di tiap-tiap lokal, yang telah menjadi kaki pelita-Nya di tiap tempat. Ketujuh kaki pelita adalah ketujuh gereja lokal, di alam semesta bercahaya bagi Allah, bersaksi bagi Allah. Surat yang ditulis Tuhan kepada ketujuh gereja tidak ada satu pun yang ditulis untuk rasul, semuanya ditulis untuk ketujuh malaikat (utusan) gereja. Dalam keadaan yang normal, penatua dalam gereja adalah malaikat gereja. Memang gereja di tiap-tiap lokal menjadi kaki pelita Allah, tetapi ketika Tuhan datang dan berbicara, Tuhan tidak secara langsung berbicara kepada gereja, melainkan berbicara kepada malaikat gereja.

Kalau kita melihat hal ini, kita akan bersujud kepada Allah, tersungkur di antara debu tanah serta mengakui bahwa dalam pandangan dan rencana Allah tidak ada manusia kelompok kedua yang pentingnya melampaui penatua. Dalam seluruh alam semesta, sekelompok orang yang paling penting adalah penatua dalam gereja. Mengapa? Sebab rampungnya rencana Allah dalam alam semesta, tercapainya kehendak Allah, semuanya terkait dengan penatua dalam gereja.

Saya berkata demikian, bukan supaya orang yang menjadi penatua boleh menjadi sombong, melainkan agar semua nampak bahwa karunia Allah menaruh penatua pada kedudukan yang sangat penting. Selain itu, diharapkan saudara saudari yang tidak berada pada kedudukan penatua menghormati penatua dalam gereja. Hari ini saya berbicara di hadirat Tuhan, saya senantiasa mempunyai satu hati yang menghormati penatua dalam gereja di setiap lokal. Setiap kali saya mendengar suatu urusan ditetapkan oleh para penatua, saya tidak berkomentar, secara mutlak menghormati apa yang ditetapkan para penatua. Meskipun itu satu gereja lokal yang kecil, asalkan perkara tersebut ditetapkan oleh para penatua di sana, Anda dan saya patut belajar menghormati. Kita harus mengetahui bahwa ini menghormati satu pengaturan yang sangat besar dari Allah dalam alam semesta. Jika kita mempunyai terang, kita akan nampak bahwa dalam seluruh alam semesta, Allah mempunyai satu pengaturan yang sangat ilahi dan sangat besar, yaitu menghendaki di dalam gereja-Nya ada penatua. Ini adalah satu perkara yang sangat besar. Dari pengalaman, saya bisa memberi tahu saudara saudari, di sinilah berkat Allah. Meskipun para penatua ada sedikit kekurangan, apa yang mereka tetapkan tidak begitu tepat, kalau Anda dan saya menghormati ketetapan tersebut, akibatnya adalah beroleh berkat. Bukan saja Anda dan saya secara individu beroleh berkat, gereja juga akan beroleh berkat, bahkan para penatua pun diperlengkapi karena ini.

Kalau penatua tidak begitu penting, maka Petrus, Yakobus, dan Yohanes, para rasul ini, tatkala mereka lama tinggal di Yerusalem, tidak perlu menjadi penatua di sana. Dikarenakan penatua begitu penting, maka Petrus, Yakobus, dan Yohanes (sekelompok rasul tahap pertama ini), saat mereka tinggal di Yerusalem cukup lama, mereka menjadi penatua di sana.

Jangan sekali-kali mengira penatua lebih rendah daripada rasul, tidak sepenting rasul. Tidak. Kita perlu meneruskan melihat bahwa kunci keadaan gereja bukan di atas diri rasul, melainkan di atas diri penatua. Kalau seorang rasul ingin tinggal lama di suatu tempat, ia pun harus menaruh diri di antara penatua. Ingin rencana dan kehendak Allah rampung di atas gereja, semuanya tergantung pada penatua. Kekuasaan gereja tidak berada di tangan rasul, kekuasaan gereja berada di tangan penatua. Penatualah tokoh inti dalam gereja. Secara menyeluruh, kehendak Allah dalam seluruh alam semesta terkait pada gereja, dan inti gereja adalah penatua. Di sini Anda nampak pentingnya penatua.

II. DIRI PENATUA

Kita semua tahu, melakukan pekerjaan apa pun, selalu terlebih dahulu perlu ada orang yang mengerjakan, selanjutnya baru cara mengerjakannya. Karena itu, ada pepatah mengatakan, “pekerjaan tergantung pada orang yang melakukan”. Dengan cara yang sama, Anda kerjakan berhasil, saya kerjakan tidak berhasil; Anda kerjakan hasilnya sangat baik, saya kerjakan hasilnya tidak baik. Jadi, permasalahannya bukan tergantung pada caranya, melainkan tergantung pada orangnya. Mengenai kepengurusan penatua atas gereja, yang kita perhatikan bukan cara mengurus, melainkan orang yang mengurus. Bukan karena cara Anda benar maka gereja dapat diurus dengan baik, melainkan diri Anda ini benar barulah gereja dapat diurus dengan baik. Karena itu, yang terutama adalah orangnya, kemudian barulah caranya. Tanpa orang yang mengurus, cara sama dengan nol. Setelah ada orang yang mengurus ditambah dengan cara, baru sangat berguna. Manusia adalah dasarnya.

Hal ini menampakkan kepada kita, mengenai perkara mengurus gereja, siapa saja yang ingin memulai dengan mengandalkan cara, itu adalah keliru; harus memulai dengan mengandalkan diri penatua, barulah benar. Mengubah cara Anda tidaklah berguna, harus mengubah diri Anda. Mungkin ada saudara yang berpikir: “Ingin mencari buku referensi mengenai penatua mengurus gereja, tidak ada buku seperti ini; ingin mencari kesaksian, juga tidak ada kesaksian demikian; membaca dari Alkitab, sepertinya juga tidak ada penjelasannya; sesungguhnya bagaimana para penatua mengurus gereja? Aku benar-benar tidak mengerti. Sekarang Saudara Witness Lee berbicara tentang ‘Kepengurusan Penatua atas Gereja’, betapa baiknya ini, sebab dengan demikian kita bisa mengetahui bagaimana mengurus gereja.” Saudara-saudara, tidak ada hal yang demikian, mungkin setelah pelajaran kepengurusan penatua atas gereja ini Anda akan lebih bingung, lebih tidak dapat menjamah ujung pangkalnya. Saya semakin mengutarakan, Anda semakin bingung; saya semakin mengutarakan, Anda semakin tidak tahu bagaimana mengurus gereja; sebab dalam hal mengurus gereja, yang terutama adalah orangnya, kemudian baru pada caranya.

Saya ingin dengan serius memperingatkan saudarasaudara yang menjadi penatua. Dalam hal mengurus gereja, jika orangnya tidak benar, maka caranya tidak dapat digunakan. Apa yang disebut cara? Dengan perkataan yang kurang enak didengar, adalah siasat. Semua kata “siasat” itu seharusnya ditambah dengan awalan “me” dan akhiran “i”, yaitu menjadi menyiasati. Menyiasati berarti bermain politik. Mengurus gereja tidak boleh menggunakan siasat. Semua orang yang mengurus gereja dengan menggunakan siasat hasilnya adalah kosong. Politikus di dunia boleh menggunakan siasat, tetapi penatua dalam gereja tidak boleh menggunakan siasat. Gereja bukanlah masyarakat, gereja adalah keluarga. Dalam satu keluarga, orang yang menjadi ayah atau kakak tidak boleh bermain politik, tidak boleh memakai siasat. Ayah atau kakak mengurus keluarga, yang terutama adalah orangnya. Orangnya yang mengurus keluarga, bukan caranya. Demikian juga gereja adalah rumah Allah, tidak memerlukan cara yang baik untuk mengurus, melainkan perlu orang yang baik untuk mengurus.

Saya ambil satu contoh: masalah hati. Yang sangat diperlukan seorang pengurus gereja adalah sebuah hati yang lapang. Hal ini mungkin kali lain akan kita bicarakan lebih rinci. Tentunya masih banyak aspek yang lain mengenai hati penatua, tetapi hati yang lapang adalah mutlak tidak boleh kurang. Begitu hati penatua sempit, segera akan timbul kesulitan. Di gereja lokal di mana saya berada, saya pernah menjumpai hal semacam ini: dalam gereja timbul masalah dikarenakan hati penatua sempit. Karena itu, sesungguhnya, orang yang sempit hatinya tidak bisa menjadi penatua. Mungkin Anda berkata, hati kita sejak lahir sudah sempit, lalu bagaimana? Silakan Anda pulang berdoa; Tuhan akan mengganti hati Anda. Hati penatua bukan saja besarnya harus bisa ditempati sebuah kepalan tangan, bahkan harus bisa menampung sebuah bumi. Hati penatua harus lapang.

Namun ingatlah, lapang hati bukan masalah cara, lapang hati adalah masalah orangnya. Jika seorang saudara yang menjadi penatua nampak problemnya sendiri bahwa hatinya sempit, lalu tunduk dan berkata, “Hatiku sungguh sempit. Sejak hari ini, jika melakukan sesuatu, aku harus berhati lapang.” Ketahuilah, bertekad demikian adalah sebuah cara kerja, bukan orangnya. Hati Anda sempit, tetapi ingin mengerjakan lebih besar sedikit, demikian ini tidak manjur.

Saya tidak tahu apakah saudara-saudara dapat membedakan hal ini? Ada penatua yang hatinya lapang, karena orangnya lapang. Sementara itu ada penatua yang hatinya lapang, karena cara kerjanya yang lapang. Sebenarnya hatinya kecil, tetapi untuk menghadapi masalah nyata di depannya, ia lalu mengadakan cara kerja yang lapang. Saya ingin memberi tahu saudara saudari, akhirnya lapang yang demikian ini (lapang yang kedua) menjadilah siasatnya.

Saya kemukakan contoh ini untuk memperlihatkan kepada kita semua, hal pertama yang harus dibereskan di hadapan Allah oleh orang-orang yang menjadi penatua adalah masalah orangnya. Anda tidak bisa hanya mengubah cara kerja kemudian merasa puas. Tentu kita tidak mengatakan bahwa cara kerja tidak boleh diubah. Jangan hanya mengubah cara kerja, tetapi harus terlebih dulu mengubah orangnya. Jika Anda adalah orang yang berhati sempit, namun ingin memakai cara yang lapang untuk menjadi penatua, akhirnya pasti gagal. Anda tidak bisa hanya menanggulangi cara kerja Anda tetapi mengabaikan diri Anda.

Saya ambil satu contoh lagi. Misalnya, ada saudara penatua yang sangat mengasihi Tuhan, sangat rajin dalam pelayanan, namun dalam kehidupannya terhadap membaca Alkitab dan berdoa, ia sangat ceroboh, sangat kendor. Sampai suatu hari, ia harus memimpin saudara saudari membaca Alkitab dan berdoa. Karena selalu menjadikan dirinya sebagai tolok ukur, sebagai teladan, di antara kawanan domba, maka ia pun membaca Alkitab dan berdoa dengan baik. Ketahuilah, saudara saudari, pembacaan Alkitab dan doa ini tidak berumur panjang, dijamin tidak melebihi dua atau tiga bulan akan berakhir. Hal ini terjadi karena yang ada di sini adalah sebuah cara kerja, bukan orangnya. Jika Anda ingin memimpin orang membaca Alkitab dan berdoa, Anda sendiri haruslah orang yang membaca Alkitab dan berdoa. Anda menjadi penatua adalah demikian, tidak menjadi penatua juga demikian. Membaca Alkitab dan berdoa bukanlah cara kerja kita, membaca Alkitab dan berdoa adalah diri kita. Jika Anda membaca Alkitab dan berdoa karena Anda adalah penatua, ini adalah cara menjadi penatua, bukan orangnya. Hal ini tidak boleh. Menjadi penatua adalah masalah orangnya.

Misalnya lagi, seorang penatua harus jujur. Mungkin Anda berkata, “Apakah seorang saudara yang tidak jujur, munafik, licik, masih boleh menjadi penatua?” Ketahuilah, manusia itu tidak sederhana, manusia adalah makhluk yang rumit. Saya sungguh-sungguh melihat ada orang yang menjadi penatua di gereja sangat mengasihi Tuhan, juga sangat menuntut, hanya saja tidak jujur. Andaikata ada seorang Saudara “X” yang benar-benar bermasalah di hadirat Allah. Pada suatu kesempatan Tuhan mempertemukan saudara yang menjadi penatua ini dengan “X”, mungkin dengan sangat rendah hati “X” berkata kepadanya, “Saudara, bagaimana penilaian Anda terhadap diri saya ini?” Kalau saudara penatua ini pandai membawa diri dalam masyarakat, ia akan menjawab, “Saudara, Anda cukup baik, Anda lumayan.” Inilah tidak jujur, yaitu tidak jujur terhadap orang. Orang Kristen memang harus belajar membawa diri, tetapi bukan belajar membawa diri seperti dalam masyarakat. Membawa diri semacam itu, delapan puluh sampai sembilan puluh persen adalah munafik. Ketika seorang saudara seperti “X” itu bertanya kepada saya, jika saya tidak dapat mengatakan perkataan yang berat dan terus terang kepadanya, saya pun tidak dapat mengatakan bahwa dia baik dan lumayan. Saya harus melihat keadaannya dan daya penerimaannya. Kalau dia tidak dapat menerima teguran terus terang saya, saya akan tutup mulut tidak berbicara, menjadi orang yang tidak berbicara di hadapannya. Saya tidak bisa memberi tahu dia, “Saudara, Anda tidak bersalah, Anda sangat baik.” Bertindak demikian berarti membawa diri yang munafik.

Saya sering menjumpai peristiwa seperti ini. Adakalanya, setelah saudara yang bersangkutan pergi, penatua yang mengatakan bahwa dia baik dan lumayan itu segera berkata kepada saya, “Saudara Lee, keadaan saudara itu sungguh tidak karuan.” Begitu saya mendengar perkataan ini, muka saya segera berubah. Saya berkata, “Saudara, Anda bukanlah seorang penatua. Anda benar-benar Yudas! Tadi Anda berbicara dengannya selama 20 menit, selalu mengatakan dia cukup baik; tetapi baru saja dia pergi, Anda segera memberi tahu saya bahwa dia tidak karuan. Anda sama sekali tidak mirip dengan orang Kristen, Anda membohongi saudara Anda.” Adakalanya saudara yang menjadi penatua itu masih juga bisa memberi penjelasan, katanya, “Oh, Anda tidak tahu, temperamen saudara ini buruk sekali. Begitu Anda mengatakan dia tidak baik, dia segera naik pitam. Lebih hebat lagi, dia bisa memukul orang.” Saya berkata, “Saudara, meskipun Anda takut dia memukul Anda, Anda pun tidak selayaknya mengatakan dia baik. Itu adalah berdusta. Kalau Anda merasa dia tidak bisa menerima, ketika dia bertanya, Anda boleh berdiam diri. Kadang-kadang khasiat berdiam diri lebih mujarab daripada berkata terus terang. Anda tidak usah mengusik amarahnya, tetapi Anda juga tidak bisa memujinya.”

Saudara-saudara, perkara di bawah kolong langit ini, kecuali Anda tidak melakukannya, asalkan Anda melakukannya, bagaimanapun ditutupi, cepat atau lambat akan ada orang yang mengetahui. Di depan seorang saudara, Anda memberi tahu bahwa dirinya cukup baik, tetapi begitu dia pergi, segera memberi tahu orang lain bahwa dia tidak karuan. Ingatlah, Anda mengira ini Anda katakan di belakangnya, bukan di depannya, tetapi tidak lebih dari setengah tahun, ia akan mengetahuinya. Dia akan berkata, “Pada hari itu saudara penatua tersebut di depanku mengatakan bahwa aku cukup baik, begitu aku pergi, dia berkata kepada orang lain bahwa aku tidak karuan. Ia di depan satu corak, di belakang satu corak lagi.” Cara Anda “membawa diri” telah menjual diri Anda sendiri.

Karena itu, para penatua harus selalu belajar menjadi orang yang jujur. Secara mutlak kita tidak bisa mengucapkan sepatah kata yang berasal dari perkataan yang tidak jujur. Tatkala kita tidak bisa mengatakannya, boleh tidak mengatakan, namun tidak boleh mengatakan perkataan yang tidak seharusnya.

Saya pernah didesak oleh beberapa saudara. Mereka bertanya, “Saudara Lee, dulu aku pernah bertanya kepada Anda mengenai kondisiku, mengapa saat itu Anda tidak mengatakan apa-apa?” Saya berkata, “Saudara, Anda tentu tahu keadaan Anda pada waktu itu. Jika pada waktu itu saya mengatakannya kepada Anda, coba Anda pikirkan, bagaimana akibatnya?” Setelah berpikir sejenak, dia menjawab, “Benar, pada waktu itu daya penerimaanku kurang. Anda tidak mengatakannya karena Anda telah mengukur keadaanku.”

Saya katakan lagi satu butir tentang kepalsuan. Misalnya, penatua harus memiliki kasih, harus memiliki perhatian dan perawatan terhadap saudara saudari. Kasih dan perawatan ini pun haruslah diri manusianya, bukan hanya cara kerja. Kalau karena kasih Tuhan, diri saya ini sungguh-sungguh mengasihi saudara saudari, Tuhan menaruh hati yang mengasihi saudara saudari ini dalam diri saya, maka saya tidak berdaya untuk tidak mengasihi mereka. Begitu saya melihat saudara A sakit, dengan sendirinya merasa sedih; melihat saudara B kehilangan pekerjaan, dengan sendirinya merasa prihatin, melihat saudara yang lain kekurangan, juga mempunyai rasa duka dan perhatian; semua itu membuktikan bahwa kasih dan kepedulian saya adalah diri manusia saya, inilah yang benar.

Tetapi masih ada saudara yang menjadi penatua, ketika dia menjumpai seorang saudara yang kekurangan, dia berkata, “Oh, Saudara, Anda sungguh mempunyai keperluan, semoga Tuhan memelihara Anda.” Namun begitu membalikkan badan, semuanya dia lupakan. Ketahuilah, inilah palsu. Anda sebenarnya tidak memiliki hati yang demikian, Anda tidak seharusnya mengucapkan perkataan demikian. Dia kehilangan pekerjaan, menderita, kalau Anda tidak memperhatikannya, Anda tidak perlu berpura-pura dengan mengucapkan perkataan itu, itulah kepalsuan. Jika Anda hanya satu kali saja menjadi orang yang palsu, kemudian pindah ke bulan, itu boleh saja. Kalau tidak, lambat laun orang lain akan merasa kesal begitu mendengar Anda berkata “Oh.” Orang akan berkata bahwa Anda adalah penatua yang palsu.

Saya mengakui pelajaran ini sulit dipelajari, sebab Anda dan saya adalah keturunan Adam, hati kita sulit lapang, juga mempunyai sifat bawaan yang licik. Menghendaki kita “membawa diri” itu sangatlah mudah, menghendaki kita memperlakukan orang dengan jujur, itu sangat sulit. Tetapi saudara-saudara, Anda dan saya telah beroleh rahmat Tuhan, di antara umat Tuhan ditetapkan oleh-Nya menjadi penatua, maka haruslah menjadi orang-orang yang jujur. Di sini Anda dan saya bukannya ingin belajar dengan cara apa menjadi penatua, melainkan ingin diterangi, tunduk di bawah tangan-Nya, menerima penanggulangan-Nya. Bukan masalah mempelajari cara apa, melainkan masalah orangnya menerima penanggulangan-Nya. Menjadi penatua berhubungan dengan masalah orangnya, begitu jatuh ke dalam cara, itulah kepalsuan.

Saudara-saudara, bahkan rasa sungkan Anda, sopan santun Anda, seharusnya tulus, benar. Ada yang menjadi penatua, rasa sungkannya terhadap saudara saudari adalah palsu. Dalam kalangan dunia, diperlukan kepura-puraan sopan santun, tetapi menjadi penatua di dalam gereja, tidak seharusnya ada kepura-puraan sopan santun. Tidak hanya demikian, bahkan temperamen Anda juga harus benar. Memang, orang yang menjadi penatua harus mengekang temperamennya, ini benar; tetapi jangan ada pengekangan yang palsu. Pengekangan yang palsu adalah membawa diri, adalah siasat. Mungkin Anda bertanya kepada saya, apa yang disebut pengekangan temperamen yang palsu? Apa yang disebut pengekangan temperamen yang benar? Saya boleh mengiaskan sedikit. Misalnya, saya adalah orang yang bertemperamen meledak-ledak, namun Tuhan membelaskasihani saya, menyuruh saya menjadi penatua di suatu gereja. Ketika di antara saudara saudari saya menemukan kesulitan, sesungguhnya sering bisa marah-marah. Tetapi saya sadar bahwa orang yang menjadi penatua tidak boleh marah-marah, kalau marah-marah semua urusan akan berantakan, karena itu saya tunduk di bawah tangan Tuhan, menerima pengendalian Tuhan, menanggulangi temperamen saya. Saya bukan hanya menanggulanginya di depan saudara saudari, ketika pulang ke rumah, saya pun menanggulanginya di depan Tuhan. Dengan merendah saya berkata kepada Tuhan, “Engkau tahu betapa celakanya temperamenku, aku membenci diriku sendiri; kalau Engkau tidak membelaskasihani aku, gereja akan berantakan di tanganku.” Ini adalah pengekangan temperamen yang benar.

Namun ada penatua yang tidak demikian. Ketika di antara saudara saudari timbul persoalan dan mereka membawa persoalan itu ke hadapannya, dia tahu bahwa dirinya tidak boleh marah-marah, kalau marah-marah akan celaka; maka di depan saudara saudari dia selalu bertoleransi, selalu tersenyum. Tetapi ketika dia pulang, segera menggerutu, mendongkol setengah mati, “Aku menjadi penatua juga tidak menerima bayaran dari mereka, mereka demikian mengganggu aku, sungguh kurang ajar!” Ketauhilah, pengekangan temperamen seperti ini adalah palsu. Jangan Anda mengira bahwa apa yang saya katakan semuanya semu. Peristiwa ini benar-benar ada. Bahkan adakalanya saudara yang menjadi penatua ini baru saja menggerutu di rumahnya, kebetulan sekali saudara yang berbuat ulah itu datang mengunjunginya. Saudara penatua ini mengundangnya duduk di ruang tamu, lagi-lagi selalu tersenyum, temperamennya kembali hilang. Setelah tiga per empat jam berbicara, saudara itu pergi. Istri saudara yang menjadi penatua datang bertanya kepadanya, apa yang mereka bicarakan tadi? Ia segera dengan uring-uringan berkata, “Aku tidak makan nasi mereka, mereka selalu merepotkan aku; di ruang penatua masih kurang menggangguku, masih harus mengganggu ke rumahku!” Ketahuilah saudara-saudara, pengekangan temperamen seperti ini adalah palsu, hal ini mutlak tidak patut. Jika Anda demikian menjadi penatua, gereja pasti akan rusak seluruhnya, dari dalam sampai luar, dari luar sampai dalam. Penatua dalam gereja harus benar, harus jujur. Jika saya harus menanggulangi temperamen, saya harus menanggulanginya dari dalam sampai luar, menanggulanginya di depan Allah, juga menanggulanginya di antara saudara saudari. Mengekang temperamen tidak seharusnya merupakan sebuah cara kerja, melainkan diri saya ini harus belajar pelajaran tersebut.

O saudara-saudara, seluk beluknya di sini terlalu besar. Sering kali kerendahan hati penatua di depan orang lain juga pura-pura, dan di depan Allah mereka sangat congkak. Orangnya sombong, cara kerjanya rendah hati.

Dia adalah orang yang sombong, namun menggunakan cara kerja yang rendah hati. Dalam masyarakat, dalam perkumpulan, boleh berbuat seperti itu, tetapi dalam gereja, itu tidak boleh dilakukan.

Misalnya lagi, dalam hal rajin juga demikian. Para penatua harus rajin, tetapi haruslah diri Anda ini rajin. Anda haruslah seorang yang rajin, bukannya mempunyai cara kerja yang rajin.

Dalam kehidupan pun demikian. Ada yang menjadi penatua, di belakang satu macam kehidupan, di dalam gereja, di depan saudara saudari satu macam kehidupan lagi. Ini adalah palsu. Sebagaimana menempuh hidup di tengahtengah para saudara, demikian pula seharusnya menempuh hidup pribadi, pokoknya harus menjadi orang yang benar. Menjadi penatua memerlukan orang Anda, bukan memerlukan cara Anda. Sebab bukan cara yang mengurus gereja, melainkan manusia yang mengurus gereja.

III. PELAJARAN PENATUA

Pelajaran para penatua sedikit pun tidak tergantung pada mempelajari akal, cara, cara kerja dan siasat; pelajaran para penatua ialah tergantung pada peremukan di hadapan Allah. Orang yang pandai belum tentu bisa mengurus gereja; orang yang berbakat belum tentu bisa mengurus gereja; orang yang bisa membicarakan logika juga belum tentu bisa mengurus gereja; orang yang mempunyai akal atas berbagai hal pun belum tentu bisa mengurus gereja. Hanya satu macam orang yang bisa mengurus gereja, yaitu orang yang diremukkan. Semua pelajaran para penatua tergantung pada peremukan. Ketika Allah menghendaki Musa mengurus kawanan domba-Nya, yakni bani Israel, Allah terlebih dahulu menaruh Musa di padang gurun selama 40 tahun agar ia belajar satu pelajaran, yaitu peremukan. Sebab itu, sampai Bilangan 12, ketika Miryam dan Harun mengatai Musa, di sana Allah masih bersaksi untuk Musa, mengatakan bahwa Musa adalah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia di bumi. Selama 40 tahun di padang gurun, Musa bukan belajar cara mengurus umat Allah; yang dipelajari hanya satu: peremukan. Allah sudah meremukkan dirinya. Tatkala Musa berusia 40 tahun, dia adalah seorang yang bersiasat dan berbakat, tetapi Allah menyatakan: siasat tidak boleh, bakat tidak boleh, tinju yang memukul orang Mesir tidak boleh, cara yang menganiaya orang Mesir tidak boleh, semuanya itu harus diruntuhkan, harus diremukkan. Empat puluh tahun lamanya Allah menaruh Musa di padang gurun, hanya memberinya satu pelajaran, yaitu peremukan.

Gereja lokal mana pun, sidang rumahan mana pun, hanya bisa diurus dan dibangun oleh orang yang telah diremukkan. Waktulah yang akan membuktikan. Hikmat, bakat, siasat, kepandaian Anda, tidak dapat menahan pengujian waktu. Jika Anda menggunakan bakat, siasat, kepandaian dan akal untuk mengurus gereja, mungkin pada tahun ini bisa, sampai tahun depan tidak bisa. Kalaupun sampai tahun depan masih bisa, tetapi tahun berikutnya tidak bisa. Mungkin lebih banyak lagi, sampai tahun ke empat, namun tahun kelima pasti tidak dapat dilaksanakan. Waktu adalah satu pengujian, juga satu pencobaan. Tetapi jika orang yang telah diremukkan memimpin dan mengurus gereja, itu akan tahan terhadap pencobaan waktu. Semakin lama gereja diurusnya, semakin terwujud realitas bobotnya.

Sebab itu, ingatlah, pelajaran para penatua adalah peremukan. Membicarakan logika, berperkara, sedikit pun tidak berguna. Dalam gereja, orang yang paling pandai membicarakan logika adalah orang yang paling tidak bisa mengurus gereja; orang yang paling pandai berperkara pastilah orang yang paling tidak bisa membangun gereja. Hanya satu macam orang yang bisa mengurus gereja, yaitu orang yang telah diremukkan. Dia bukannya tidak bisa berbicara, melainkan telah diremukkan, tidak mengandalkan pembicaraan; dia bukannya tidak punya cara, melainkan telah diremukkan, tidak memakai cara; dia mempunyai bakat, tetapi telah diremukkan, bakatnya tidak tersalurkan; dia mempunyai hikmat, tetapi telah diremukkan, tidak memakai hikmat itu; hanya orang yang telah diremukkan sedemikian baru bisa mengurus gereja.

Saat kita membaca Kitab Bilangan, kita melihat Musa yang hampir berusia 120 tahun, dia pernah menempuh kehidupan di istana Mesir selama 40 tahun, penggemblengan menggembala domba di padang gurun selama 40 tahun, dan lagi pengalaman memimpin orang Israel selama 38 tahun, namun setiap kali orang Israel meributinya, dia tidak pernah memakai siasat, inilah satu perkara yang mengherankan. Dia tidak mau berperkara, tidak berdebat dengan mereka. Dalam Bilangan 16:28-30, sepertinya Musa sedang berdebat, sebenarnya tidak. Dia tidak pernah menggunakan caranya sendiri. Setiap kali timbul masalah, ia selalu tidak membicarakan logika, tanpa cara, tanpa perkataan, tanpa siasat, hanya tunduk di hadapan Allah, membiarkan Allah membereskan. Dia sungguh orang yang telah diremukkan.

Alkitab memberi tahu kita bahwa Musa telah mempelajari semua ilmu pengetahuan orang Mesir. Sejarawan juga memberi tahu kita bahwa Musa bukan hanya seorang politikus, pendidik, bahkan seorang ahli militer. Dia adalah orang yang sangat berbakat. Tetapi Anda lihat, dia ditindas sedemikian rupa oleh bani Israel! Dia seperti seorang yang tidak berpengetahuan, tidak berbakat, tidak becus, hanya tahu tersungkur di hadapan Allah. Orang Israel semakin ribut, dia semakin tersungkur di hadapan Allah. Kalau ada cara, biarlah Allah yang mengatur; kalau ada perkataan, biarlah Allah yang berbicara. Anda nampak di sini ada seorang yang berhikmat, berpengetahuan, berbakat, namun adalah seorang yang telah diremukkan. Saudara-saudara, dalam tangan orang seperti ini, gereja bisa menjadi satu bejana yang sungguh-sungguh mengekspresikan Kristus. Hanya dalam tangan orang seperti ini, barulah gereja memperoleh pembangunan yang sejati. Semakin banyak para penatua diremukkan, semakin banyak pula pembangunan yang diperoleh gereja.