← Daftar isi Kepengurusan Penatua atas Gereja · bab 1/15

PENGENALAN PENATUA

Pembacaan Alkitab:

1 Tim. 5:17 — “Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar.”

1 Tim. 3:5 — “Jikalau seseorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimana ia dapat mengurus jemaat Allah?”

Kis. 20:17, 28 — “Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus . . . Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi pengawas untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri.”

Ayat-ayat Alkitab yang kita baca di atas semuanya menyinggung tentang gereja diurus oleh para penatua. Kita telah menerima terang mengenai kepengurusan penatua atas gereja dan juga telah melaksanakannya. Syukur kepada Tuhan, dalam tahun-tahun ini Allah tidak saja telah mendirikan banyak gereja lokal di China, Dia juga telah mengangkat banyak penatua di setiap gereja lokal. Lebihlebih dalam belasan tahun ini, di berbagai tempat di Taiwan pekerjaan Allah ini lebih nyata, di mana-mana ada saudara-saudara yang mengasihi Tuhan, mau membayar harga, memperhatikan anak-anak Allah, dengan rajin dan setia mengurus rumah Allah, sungguh membuat orang menundukkan kepala menyembah kepada Allah.

Tetapi dipandang dari aspek yang lain, meskipun saudara-saudara karena dorongan kasih Tuhan mau mengurus rumah Allah, namun karena belum pernah melakukannya, mereka merasa belum jelas terhadap prinsip Alkitab dan cara pelaksanaannya, tidak tahu bagaimana mengurusnya. Dalam gereja tidak bisa memakai siasat duniawi, hikmat alamiah juga tidak berharga, lalu di manakah jalan yang tepat untuk mengurus gereja? Karena itu para saudara yang menjadi penatua di setiap tempat sering mengeluh kepada saya, meminta saya berbicara sedikit tentang kepengurusan penatua atas gereja. Seruan permintaan ini, karena jumlah gereja bertambah dengan cepat, terasa sangat mendesak.

Untuk itu, selagi hampir semua penatua gereja dari berbagai tempat berada di sini, saya sangat merasakan, dalam pelatihan kali ini kita harus membicarakan masalah ini secara menyeluruh, mungkin bisa membantu dalam hal kepengurusan gereja-gereja lokal. Tentunya karena keterbatasan waktu, sulit untuk memperhatikan setiap aspek, sebab itu kita hanya bisa memilih butir-butir yang penting, dibagi menjadi lima belas bab untuk dibicarakan lebih dulu di sini.

Dalam bab pertama ini, kita lebih dulu membicarakan pengenalan penatua, yaitu pengenalan yang seharusnya dimiliki oleh penatua. Meskipun judul ini sangat sederhana, tetapi isi yang terkandung di dalamnya sangat luas. Pengenalan yang seharusnya dimiliki oleh seorang penatua sebenarnya banyak sekali, tetapi kita tidak bisa membicarakan semua, hanya bisa memilih beberapa yang berkaitan dengan penatua yang mengurus gereja.

I. RENCANA ALLAH TERHADAP GEREJA

Pertama, Penatua harus mengenal rencana Allah terhadap gereja. Seorang penatua yang hendak mengurus gereja, dengan sendirinya harus mengenal maksud hati dan rencana Allah terhadap gereja. Kalau penatua kurang mengenal hal ini, dalam mengurus gereja tentu tidak bisa memuaskan hati orang, lebih-lebih tidak bisa memuaskan hati Allah. Sering kali, meskipun para penatua rajin dan setia mengasuh gereja, tetapi kepengurusannya tidak bisa memuaskan Allah, karena mereka kurang mengenal rencana Allah terhadap gereja. Sebenarnya mengapa Allah ingin mendapatkan gereja di bumi? Dalam zaman Perjanjian Baru, mengapa Allah ingin mendirikan gereja-Nya di setiap tempat? Jika para penatua dalam hal ini tidak mempunyai visi yang jelas, tidak mempunyai sasaran yang tegas, urusan-urusan yang lain akan sulit ditangani dengan tepat.

Orang yang menjadi penatua tidak bisa hanya merasa: Hari ini Tuhan membelaskasihani aku, mengangkat aku menjadi orang yang mengasuh gereja. Aku menerima pengaturan Tuhan ini, dengan setia rajin melayani. Meskipun sikap ini sangat berharga, tetapi dipandang dari aspek pengenalan, masih sangat kurang. Orang yang menjadi penatua harus mempunyai visi yang jelas, harus melihat dengan jelas kedudukan, nilai, proses, dan kesudahan gereja dalam rencana Allah; setelah itu baru bisa mengetahui gereja yang dia urus itu sebenarnya apa, bagaimana kedudukan dan sifatnya. Kalau telah mengenal hal-hal ini, barulah kepengurusannya bisa mencapai standar Allah.

Rencana Allah terhadap gereja adalah satu judul yang sangat besar, kita harus jelaskan lebih ringkas lagi.

1. Allah Menghendaki Anak-NyaMendapatkan Satu Tubuh untuk Pengekspresian

Pertama, kita harus mengenal bahwa dalam kekekalan yang lampau Allah sudah berkehendak mendapatkan satu Tubuh untuk pengekspresian Anak-Nya. Dengan kata lain, Allah ingin mendapatkan satu Tubuh untuk Anak-Nya, dan Tubuh ini adalah untuk mengekspresikan Anak-Nya. Wahyu Alkitab memperlihatkan kepada kita, Anak Allah terlalu besar, kaya, limpah, karena segala apa adanya Allah berada di dalam Anak-Nya. Semakin membaca Alkitab, kita akan semakin merasakan bahwa kekayaan Allah, kelimpahan Allah sungguh tidak terbatas. Kalau kita berbicara tentang kasih-Nya, sungguh limpah tidak terbatas; tentang hikmat-Nya, sungguh limpah tidak terbatas; tentang kemuliaan-Nya, sungguh limpah tidak terbatas; tentang kekuatan-Nya, sungguh limpah tidak terbatas; tentang hakiki-Nya, juga limpah tidak terbatas; semuanya tidak dapat dibayangkan, tidak dapat diukur oleh manusia. Kolose 2:9 memberi tahu kita bahwa semua kelimpahan ini secara jasmaniah berdiam di dalam Kristus, Anak Allah. Sebab itu Allah menghendaki Anak-Nya yang limpah ini mendapatkan satu Tubuh, untuk mengekspresikan segala kelimpahan-Nya dalam seluruh alam semesta. Tubuh ini adalah gereja. Jadi, tujuan rencana Allah mendapatkan gereja, tidak lain supaya gereja di dalam alam semesta ini bisa menjadi Tubuh Anak-Nya, supaya Anak-Nya dalam Tubuh ini, melalui Tubuh ini, bisa mendapatkan ekspresi yang penuh.

Saudara-saudara, kalau kalian melihat visi ini, kalian akan mendapatkan pertolongan yang sangat besar. Kalian akan terlepas dari konsepsi agamis kekristenan yang umum. Banyak orang Kristen mengira bahwa orang yang percaya Tuhan akan beroleh selamat, tidak masuk neraka, bisa masuk surga; kalau hari ini takwa kepada Alah, berkenan kepada Allah, akan mendapatkan berkat Allah, mendapatkan sedikit rejeki dan keselamatan. Ada orang Kristen yang mengenal agak banyak merasa bahwa dirinya masih perlu giat mengasihi Tuhan, belajar hal rohani. Semua ini adalah konsepsi agamis yang umum dari orang Kristen. Tetapi kalau kita memiliki visi rencana Allah terhadap gereja, kita akan nampak dengan jelas, hanya membawa orang beroleh selamat masih kurang, hanya membawa orang menuntut hal rohani, mengasihi Tuhan, juga masih kurang; rencana Allah ingin mendapatkan gereja dalam alam semesta, dan gereja ini adalah Tubuh yang hidup dari Anak-Nya, supaya Anak-Nya mendapatkan pengekspresian di dalam Tubuh tersebut. Perkara ini tidak ada perbedaan di bumi hari ini, maupun di surga kelak.

Hari ini di kalangan kekristenan ada satu konsepsi yang sangat salah, yaitu selalu menganggap gereja adalah satu hal yang berada di bumi hari ini, dan berada di surga kelak. Saya mutlak mengakui bahwa dalam karunia keselamatan Allah, menurut perkataan manusia yang awam, ada masalah naik ke surga. Saya tidak menyangkal hal ini, tetapi saya tidak senang memakai pengutaraan naik ke surga. Allah menghendaki Anak-Nya mendapatkan satu Tubuh, supaya Tubuh ini menjadi ekspresi Anak-Nya; dalam pikiran Allah sama sekali tidak ada masalah ruang dan waktu. Ia sama sekali tidak memikirkan berada di bumi atau di surga, juga tidak memikirkan pada hari ini atau kemudian hari. Dia hanya mempunyai satu konsepsi, yaitu ingin mendapatkan sekelompok orang menjadi Tubuh ajaib Anak-Nya dalam alam semesta yang Ia ciptakan (termasuk ruang dan waktu), supaya Anak-Nya mendapatkan pengekspresian di dalam Tubuh ini. Ia tidak mempedulikan berada di bumi atau di surga, pada hari ini atau kemudian hari, pada-Nya sama sekali tidak ada konsepsi ini. Kalau dikatakan bahwa kelak Anak Allah perlu mendapatkan pengekspresian di dalam Tubuh ini di surga, maka hari ini di bumi lebih-lebih diperlukan. Setiap saudara yang menjadi penatua harus mengenal sampai tahap yang demikian, gereja dalam rencana Allah adalah Tubuh yang ingin Allah dapatkan untuk Anak-Nya, supaya Anak-Nya mendapatkan pengekspresian dalam alam semesta. Ini tidak perlu menunggu kelak, hari ini juga sudah demikian; pula tidak perlu menunggu sampai di surga, di bumi ini juga seharusnya sudah ada.

Kita bersyukur kepada Allah, sekitar seratus tahun yang lalu, Dia membangkitkan para saudara di Inggris yang nampak banyak terang tentang rencana Allah, tentang gereja, tentang kedatangan kembali Kristus. Tetapi kita tidak bisa tidak menunjukkan bahwa para saudara ini memakai cara bernubuat mendorong rencana Allah sebagai hal yang akan terjadi di kemudian hari, ini keterlaluan. Sebab itu hari ini kalau Anda melihat Alkitab referensi Scofield (pengajarannya kebanyakan dari para saudara), akan nampak ia sering membicarakan perkara nubuat secara berlebihan, bahkan telah berbuat kesalahan dengan mengatakan bahwa gereja mempunyai perbedaan yang kelihatan dengan yang tidak kelihatan. Gereja yang kelihatan mempunyai unsur yang sejati juga mempunyai unsur yang palsu; gereja yang tidak kelihatan barulah semuanya sejati. Gereja yang kelihatan ada yang bersifat daging, ada yang rohani; gereja yang tidak kelihatan itu barulah mutlak rohani. Gereja yang kelihatan berada di bumi, gereja yang tidak kelihatan berada di surga. Gereja yang kelihatan ada yang bergolong-golongan, itu tidak dapat dihindari, itu dapat ditoleransi; sampai saatnya gereja yang tidak kelihatan datang, baru tidak ada bergolong-golongan. Saudara-saudara yang terkasih, ini bukan pengajaran Alkitab. Dalam seluruh Alkitab Anda tidak bisa menemukan pengajaran ini. Alkitab berkata bahwa gereja adalah Tubuh Kristus, tidak dibedakan hari ini atau kelak, di bumi atau di surga. Kalau kelak gereja adalah Tubuh Kristus, hari ini lebih-lebih adalah Tubuh Kristus.

Kita mengakui perkara kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kali, juga mengakui ada perkara gereja diangkat dan diubah, tetapi sifat gereja, fungsi gereja, bukan menunggu kelak setelah diangkat dan diubah baru bisa terealisasikan; hari ini juga sudah demikian. Setiap penatua harus mengenal rencana Allah terhadap gereja sampai tahap yang demikian, kalau tidak, akan sangat mempengaruhi kepengurusan mereka terhadap gereja, karena semua pelayanan harus dikendalikan oleh visi ini. Kalau Anda tidak mempunyai visi yang jelas terhadap rencana Allah, kepengurusan Anda atas gereja tidak mungkin mencapai rencana Allah. Supaya gereja bisa mencapai rencana Allah, dengan sendirinya Anda harus mempunyai visi ini. Di bawah pengaturan visi ini, barulah Anda bisa memiliki pelayanan yang mencapai standar visi ini.

2. Allah Menghendaki Orang-orang yang Mempunyai Bagian dalam Tubuh Ini Menjadi Gereja di Setiap Tempat

Dalam rencana Allah, Allah menghendaki mendapatkan satu Tubuh di dalam alam semesta untuk Anak-Nya. Tetapi dalam pelaksanaannya, Allah menghendaki orang-orang milik Tubuh ini menjadi satu gereja di setiap tempat. Allah menghendaki gereja-gereja ini mempunyai satu model miniatur, di satu tempat demi satu tempat, menjadi wakil miniatur Tubuh yang misteri dari Anak-Nya di tempat itu. Pengenalan di aspek ini telah diabaikan oleh orang Kristen pada hari ini. Bahkan orang-orang yang sangat menuntut kerohanian pun mengabaikan fakta ini.

Dalam butir pertama, kita membicarakan gereja universal; dalam butir kedua ini, kita membicarakan gereja lokal. Seorang yang menjadi penatua, harus mempunyai dua aspek pengenalan terhadap rencana Allah di atas gereja: mengenal gereja di aspek universal, juga mengenal gereja di aspek lokal. Dengan kata lain, harus mengenal aspek universal gereja, juga harus mengenal aspek lokal gereja. Sekali-kali jangan mengira bahwa gereja universal adalah satu macam gereja, sementara gereja lokal adalah satu macam gereja yang lain. Tidak, gereja hanya satu. Namun dikatakan dari segi totalitas, adalah gereja universal; dikatakan dari segi satu tempat demi satu tempat, adalah gereja lokal. Sesungguhnya, gereja lokal adalah gereja universal, hanya saja, gereja universal merupakan totalitas gereja-gereja lokal, dan gereja lokal adalah perwujudan gereja universal di setiap lokal. Kalau tidak ada gereja lokal, tidak ada gereja universal. Penatua-penatua mengurus gereja lokal berarti mengurus gereja universal.

Rencana Allah ialah ingin mendapatkan satu gereja dalam alam semesta untuk menjadi Tubuh Anak-Nya, supaya Anak-nya mendapatkan ekspresi; tetapi pelaksanaan rencana ini Allah lakukan dengan mendirikan gereja di setiap lokal. Kalau tidak mendirikan gereja di lokal demi lokal, rencana Allah terhadap gereja dalam alam semesta akan menjadi kosong, hanya angan-angan, tidak bisa terlaksana. Untuk melaksanakan rencana itu, Allah harus mendirikan gereja-Nya di satu lokal demi satu lokal.

Kalau Anda memegang kedua butir ini, lalu kembali melihat Perjanjian Baru, Anda akan jelas. Dalam Perjanjian Baru ada satu visi yang besar, membicarakan bagaimana gereja menjadi Tubuh Kristus, menjadi ekspresi Anak-Nya, itu semua membicarakan aspek rencana Allah dalam alam semesta. Di samping itu, Perjanjian Baru juga memperlihatkan kepada kita bahwa gereja muncul secara lokalitas, di satu tempat demi satu tempat, supaya rencana Allah dapat terwujud. Setiap saudara yang menjadi penatua harus mempunyai pengenalan yang jelas terhadap hal-hal ini. Inilah pengenalan penatua terhadap gereja. Tentunya, di dalamnya tercakup banyak masalah, misalnya masalah denominasi, masalah tumpuan pendirian, masalah sifat, semuanya ini tidak kita bicarakan. Di sini kita hanya memperhatikan pengenalan, gereja dalam rencana Allah menjadi Tubuh Kristus, untuk mengekspresikan Kristus, dan juga melaksanakan di satu tempat satu jemaat di bumi.

II. PEMERINTAHAN ALLAH

Setiap orang yang menjadi penatua harus memahami dengan mendalam dan sungguh-sungguh bahwa penatua dalam gereja adalah masalah pemerintahan. Kita semua tahu bahwa masih ada sebutan lain bagi penatua, yaitu penilik. Penatua ditujukan kepada orangnya, sedangkan penilik ditujukan kepada jabatannya. Dari segi perorangan, di tengah-tengah kaum saleh, mereka adalah yang lebih tua dan matang; dari segi jabatan, mereka di sana menjadi penilik. Jabatan penilik ini adalah satu bagian dari pemerintahan Allah dalam alam semesta. Sebab itu penatua harus mengenal pemerintahan Allah.

Dalam Perjanjian Baru ada beberapa minister (pelayan) firman, mereka masing-masing mempunyai cirinya sendiri. Ministri firman Paulus, intinya membicarakan gereja. Ministri Yohanes, intinya membicarakan rumah Allah, membicarakan bagaimana Allah menjadi Bapa, bagaimana orang-orang yang beroleh selamat menjadi anak-anak Allah. Meskipun Surat Kiriman yang ditulis oleh Petrus tidak sebanyak yang ditulis oleh Paulus dan Yohanes, tetapi ia juga merupakan satu minister firman yang besar. Ministri Petrus khusus membicarakan pemerintahan Allah, yaitu membicarakan pengaturan Allah. Hari ini di tengah-tengah anak-anak Allah, cukup banyak orang mengenal ministri Paulus membicarakan tentang gereja, juga cukup banyak orang mengenal ministri Yohanes membicarakan tentang rumah Allah, tetapi yang mengenal ministri Petrus membicarakan tentang pemerintahan Allah sangat sedikit sekali.

Karena gereja telah mengalami kejatuhan, maka begitu membicarakan pemerintahan dan pengaturan, orang segera berangan-angan, kalau demikian bukankah ini adalah gereja Roma Katolik? Sebab itu sampai hari ini, di tengahtengah kaum beriman Protestan, mereka yang agak rohani umumnya mempunyai satu konsepsi, sebaiknya jangan ada pemerintahan, jangan ada pengaturan, asal mengenal gereja adalah Tubuh Kristus, rumah Allah, sudahlah cukup; asal memimpin orang mengasihi Tuhan, rohani, sudahlah cukup; asal memimpin orang mempunyai hayat Allah, hidup di depan Allah, sudahlah cukup; tidak perlu pemerintahan.Tetapi saudara-saudara, Anda dan saya tidak lebih hikmat daripada Allah. Dalam alam semesta benar-benar ada pemerintahan Allah, pengaturan Allah. Inilah ketentuan Allah, Anda dan saya tidak boleh mengabaikannya.

Dalam Alkitab, masalah kerajaan adalah masalah pemerintahan; Kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah, pengaturan Allah. Hari ini dalam alam semesta ada masalah, karena pemerintahan Allah ada masalah. Orang yang menjadi penatua tidak saja harus nampak dalam alam semesta ada karunia keselamatan Allah, ada gereja Allah, ada rumah Allah, lebih-lebih harus nampak dalam alam semesta ada pemerintahan Allah, pengaturan Allah. Allah bukanlah Allah yang kacau, Allah bukanlah Allah yang tidak mempunyai peraturan, tidak mempunyai prinsip. Allah adalah Allah yang mempunyai peraturan, mempunyai prinsip, sama sekali tidak kacau, malahan sangat tertib. Sebab itu dalam alam semesta Allah pasti memiliki satu pengaturan, memiliki satu pemerintahan.

Pada setiap kitab dalam Alkitab ada pemerintahan dan pengaturan Allah. Coba lihat kisah orang Israel keluar dari Mesir, melewati padang gurun, masuk Tanah Kanaan, baik dalam Kitab Keluaran maupun dalam Kitab Bilangan, ada koordinasi dan pembangunan yang ketat. Koordinasi dan pembangunan ini sepenuhnya berada dalam pemerintahan pengaturan Allah. Di tengah-tengah orang Israel, penuh dengan pemerintahan dan pengaturan Allah, tidak ada satu perkara yang dilewatkan oleh Allah dengan kendur dan sembarangan. Allah tidak pernah berkata kepada orang Israel, satu perkara ini terserah bagaimana kalian menanganinya. Tidak, baik perkara besar maupun kecil, semua berada dalam pemerintahan dan pengaturan Allah, sampai-sampai bagaimana membersihkan diri, mencuci pakaian, mencukur rambut, perkara-perkara kecil ini, Allah tidak memberi orang Israel kebebasan untuk melakukan dengan semaunya. Kalau dalam Perjanjian Lama demikian, apakah dalam gereja Allah tidak ada pemerintahan dan pengaturan? Tentu tidak. Dalam Perjanjian Baru, Allah selalu mempunyai pemerintahan, mempunyai pengaturan terhadap gereja. Ketika Alkitab Perjanjian Baru membicarakan gereja, meskipun juga penuh dengan firman hayat, firman rohani, tetapi juga penuh dengan firman di aspek pemerintahan, di aspek pengaturan.

Kalau orang yang menjadi penatua ingin mengatur gereja dengan baik, ia harus mengenal bahwa Allah akan melaksanakan pemerintahan-Nya dalam alam semesta ke dalam gereja. Gereja bukanlah satu tempat yang tidak mempunyai pemerintahan, tidak mempunyai pengaturan. Gereja dalam Perjanjian Baru sangat mempunyai pemerintahan, sangat mempunyai pengaturan. Dari Surat Roma Anda dapat menemukan pemerintahan gereja, dari Surat Korintus Anda juga dapat menemukan pemerintahan gereja, dari Surat Efesus, Surat Timotius, Surat Titus, Anda pun dengan jelas menemukan pemerintahan gereja. Dalam Surat-surat Kiriman Perjanjian Baru, sulit ditemukan ada Surat Kiriman yang tidak menyinggung pemerintahan gereja.

Jangankan Surat Kiriman, dalam kitab-kitab Injil pun sudah disinggung tentang pemerintahan. Secara garis besar Tuhan Yesus dua kali menyinggung tentang gereja. Pertama di Matius 16, mengatakan bahwa Dia akan membangun gereja di atas diri-Nya, batu karang ini, yang tidak bisa dikalahkan oleh pintu alam maut; yang satu lagi dalam Matius 18, membicarakan kalau ada saudara berdosa, setelah dinasihati masih tidak mau bertobat, beritahukanlah kepada gereja; kalau tetap tidak mau mendengar, pandanglah orang itu seperti orang yang tidak mengenal Allah. Apakah yang dikatakan oleh Tuhan dalam Matius 18 ini bukan pemerintahan? Sampai hari ini, di antara anak-anak Allah sulit disingkirkan satu perasaan, yaitu merasa, oh, saudara ini lemah, semoga Tuhan membelaskasihaninya. Saudara itu berbuat dosa, mohon Tuhan membelaskasihani dia. Tetapi dalam Matius 18, ada belas kasihan Tuhan, ada pemimpin rohani, dan akhirnya diselesaikan dengan pemerintahan. Kalau seorang saudara berdosa, tegurlah dia di bawah empat mata, inilah yang rohani. Kalau dia tidak mau bertobat, bawalah seorang atau dua orang lagi untuk memimpin dia, di sini ada aspek rohani juga ada aspek pemerintahan. Kalau dia masih tidak mendengarkan, sampaikanlah kepada gereja, di sini unsur pemerintahan lebih banyak daripada unsur rohani. Gereja menanggulangi masalah ini, kalau dia tetap tidak mau bertobat, harus memandangnya sebagai orang yang tidak mengenal Allah. Lihatlah, ini sepenuhnya adalah pemerintahan, sepenuhnya adalah pengaturan.

Saya takut, hari ini orang yang menjadi penatua jarang yang mempunyai konsepsi pemerintahan, mereka hanya mengira bahwa kita di sini bersama-sama dengan saudara saudari melayani Tuhan, semua hanya mempunyai persekutuan rohani. Perasaan rendah hati ini, di satu aspek, memang benar; tetapi di aspek lain, sangat salah. Setiap orang yang menjadi pentua harus nampak bahwa dalam alam semesta, Allah mempunyai pemerintahan, dalam gereja pun Allah mempunyai pemerintahan. Orang yang tidak mempunyai visi tentang pemerintahan Allah, tidak bisa menjadi penatua yang memuaskan Allah. Dalam alam semesta Allah mempunyai pemerintahan, sebab itu dalam gereja pun Allah mempunyai pemerintahan.

III. KEKUASAAN ALLAH

Kalau penatua ingin mengenal pemerintahan Allah, harus mengenal kekuasaan Allah. Kalau tidak ada kekuasaan, tidak ada pemerintahan. Pemerintahan sepenuhnya adalah masalah kekuasaan. Coba Anda pikirkan, kalau tidak ada kekuasaan, bagaimana bisa ada pemerintahan? Bagaimana ada pengaturan? Pengaturan adalah satu masalah kekuasaan. Dalam seluruh alam semesta, pengaturan Allah bertumpu pada kekuasaan. Sebab itu menyinggung kepengurusan penatua atas gereja, kita segera harus mempunyai konsepsi kekuasaan. Tetapi hari ini, di satu pihak, karena ada latar belakang kejatuhan gereja Roma Katolik (yang dilambangkan oleh Gereja di Tiatira dalam Wahyu 2. Red.), di pihak lain karena apa yang disebut zaman demokrasi, maka anak-anak Allah selalu merasa tidak suka mendengarkan masalah kekuasaan. Begitu menyinggung kekuasaan, langsung berkata, apakah itu bukan Roma Katolik? Bukankah itu Paus? Sepertinya di antara anak-anak Allah, begitu ada kekuasaan berarti tidak demokrasi. Ada pula yang berkata, orang-orang ini ingin berkuasa di sini? Sepertinya hal berkuasa itu harus dihakimi. Saudara saudari, kekuasaan oleh satu orang tertentu harus dihakimi, autokrasi harus dihakimi, tetapi kekuasaan itu sama sekali tidak bisa dihapus. Anda dan saya harus nampak, dalam alam semesta ada pengaturan Allah, ada kekuasaan Allah.

Tidak peduli bagaimana orang-orang hari ini membicarakan masalah demokrasi, dalam seluruh alam semesta Anda sewaktu-waktu dapat bertemu dengan kekuasaan. Adakalanya, orang membicarakan demokrasi sampai taraf yang semaunya sendiri, tetapi tetap tidak bisa menghapus kekuasaan. Di antara langit dan bumi, di tengah-tengah umat manusia, di dalam semua perkara, ada masalah kekuasaan. Dalam keluarga ada kekuasaan, dalam sekolah ada kekuasaan, dalam perdagangan ada kekuasaan, dalam pemerintahan ada kekuasaan, tidak ada satu tempat yang tidak ada kekuasaan. Anda yang menjadi anak, di atas Anda ada kekuasaan orang tua; Anda yang menjadi rakyat, di atas Anda ada pemerintah sebagai kekuasaan; Anda yang menjadi murid, di atas Anda ada guru, kepala sekolah menjadi kekuasaan; bahkan Anda yang berjalan di jalan pun ada polisi lalu lintas sebagai kekuasaan. Dalam seluruh alam semesta, di mana saja Anda selalu bertemu dengan kekuasaan. Tetapi hari ini anak-anak Allah justru berkata bahwa di dalam gereja tidak perlu ada kekuasaan, semua sama rata. Ini sungguh mengherankan! Sebab itu kita harus nampak, kalau tidak menyinggung kepengurusan atas gereja habis perkara. Namun begitu menyinggung kepengurusan atas gereja, perkara pertama yang disentuh adalah kekuasaan, kalau tidak ada kekuasaan, tidak ada kepengurusan. Penatua akan mengurus gereja, di satu pihak harus mengenal pemerintahan Allah dalam alam semesta, di pihak lain juga harus mengenal kekuasaan Allah dalam alam semesta.

IV. PEMERINTAHAN GEREJA

Kita telah membicarakan bahwa dalam alam semesta ada pemerintahan Allah, sekarang kita akan nampak dalam gereja juga ada pemerintahan. Wahyu Perjanjian Baru menampakkan kepada kita bahwa pemerintahan gereja sangatlah sederhana namun riil. Pemerintahan gereja sepenuhnya diberikan kepada penatua, penatua adalah pemerintahan gereja. Menurut taraf kerohanian, penatua adalah yang tua dan matang, tetapi pekerjaan yang mereka lakukan dalam gereja adalah mengawasi, memerintah, mengatur. Sering kali kita menganggap penatua adalah orang yang memimpin, orang yang menggembalakan, orang yang mengasuh dalam gereja, tetapi jarang memikirkan mereka adalah orang yang menjalankan pemerintahan dalam gereja. Ingatlah, menggembalakan, mengasuh, memimpin, semua untuk pemerintahan. Alkitab tidak menyebut penatua sebagai pengajar, juga tidak menyebutnya sebagai gembala. (Meskipun 1 Petrus menyebut perihal penatua menggembalakan kaum saleh, tetapi tidak dengan jelas menyebut penatua sebagai gembala). Alkitab dengan jelas menyebut penatua sebagai pengawas (Flp. 1:1). Pengajar bukan sebutan untuk penatua, gembala juga bukan sebutan untuk penatua, pengawas barulah sebutan untuk penatua, karena penatua adalah pemerintah dan pengatur. Allah dalam gereja mengangkat penatua supaya penatua mengatur pemerintahan.

Saya ingin memberi tahu saudara saudari, kalau penatua benar-benar mengatur pemerintahan dalam gereja, gereja pasti kuat. Kalau penatua hanya menggembalakan dan mengajar, kekurangan pengaturan, bahkan tidak bisa mengatur, gereja pasti lemah. Meskipun sesaat kuat dan hidup, namun tidak bisa diandalkan dan tidak bertahan lama. Kalau menginginkan gereja lokal kuat dan hidup, penatua-penatua harus bisa mengatur pemerintahan.

Mungkin saudara-saudara akan bertanya, di bagian mana dalam Alkitab kita bisa nampak penatua mengatur gereja? Dalam Perjanjian Baru tidak saja ada contoh juga ada pengajaran yang jelas. Satu Korintus mengatakan tentang pengucilan, ini adalah masalah pengaturan. Satu Timotius 3 dengan jelas mengatakan, penatua adalah orang yang mengatur gereja. Satu Korintus 12 mengatakan, Allah menetapkan orang-orang sebagai rasul, nabi dan pengajar, dan lain sebagainya, juga ada yang untuk memimpin dalam gereja. Roma 12 mengatakan, siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin. Memimpin yang dibicarakan di beberapa tempat ini adalah pemerintahan.

Karena itu, begitu di suatu tempat ada kaum saleh yang berhimpun, dalam keadaan yang normal, seharusnya dengan segera menetapkan penatua. Inilah teladan dalam Kisah Para Rasul 14. Paulus memberitakan Injil di berbagai tempat di Asia Kecil, tidak lama kemudian, ia menetapkan penatua-penatua dalam gereja-gereja lokal di tempattempat itu. Kalau gereja tidak ada penatua, gereja tidak mempunyai pemerintahan, juga tidak mempunyai pengaturan, gereja itu pasti kacau, tidak bisa kuat.

V. KEKUASAAN GEREJA

Pemerintahan Allah dalam alam semesta tergantung pada kekuasaan Allah. Demikian juga, pemerintahan gereja tergantung kepada kekuasaan gereja. Alkitab Perjanjian Baru dengan jelas memperlihatkan kepada kita, kekuasaan gereja diserahkan kepada penatua, sepenuhnya berada di tangan penatua. Meskipun penatua ditetapkan oleh rasul, tetapi Allah tidak memberikan kekuasaan gereja ke tangan rasul. Rasul Paulus boleh menetapkan penatua gereja, tetapi ketika gereja di Korintus ada perkara yang perlu mengucilkan orang, Paulus tidak mempunyai kekuasaan langsung untuk mengucilkan orang, kekuasaan pengucilan itu berada di tangan penatua gereja di Korintus. Rasul tidak memiliki kekuasaan yang langsung untuk menanggulangi perkara dalam gereja, kekuasaan gereja sepenuhnya diserahkan kepada penatua.

Kisah Para Rasul 15 memperlihatkan kepada kita, kalau satu gereja lokal mengalami kesulitan yang bisa mempengaruhi gereja-gereja di tempat lain, perkara semacam ini diselesaikan oleh para rasul bersama dengan para penatua. Dalam perkara di Yerusalem kali itu, rasul-rasul tidak meninggalkan penatua-penatua dan memutuskan perkara itu sendiri. Rasul memutuskan hal itu bersama dengan penatua, karena perkara itu timbul dari gereja di Yerusalem. Kalau tidak ada para penatua di Yerusalem, rasul-rasul tidak bisa menanggulangi kesulitan yang timbul dalam gereja di sana. Sebab itu, di sini kita nampak kekuasaan penatua sangat tinggi. Rasul tidak memiliki kekuasaan yang langsung untuk menanggulangi perkara dalam gereja lokal, kekuasaan gereja lokal berada di tangan penatua.

Saya harap para pekerja yang melayani dalam gereja harus hati-hati. Selain Anda menjadi penatua di tempat itu, Anda tidak mempunyai kekuasaan langsung mencampuri perkara gereja lokal. Ada gereja lokal yang meskipun mempunyai penatua, tetapi kekuasaan berada di tangan pekerja, itu salah besar. Tidak peduli pekerja itu memberi bantuan yang besar kepada gereja lokal itu, bahkan gereja di sana didirikan olehnya, tetapi kalau dia tidak menjadi penatua gereja di sana, kekuasaan gereja di sana masih tidak berada pada dirinya.

Saudara-saudara, pikirkanlah, seandainya dalam alam semesta tidak ada pemerintahan, kekuasaan Allah disangkal, alam semesta ini pasti kacau balau. Demikian juga, kalau dalam gereja tidak ada kekuasaan, tidak ada pemerintahan, gereja pasti kacau, pasti tidak teratur, lemah, tidak berjalan di atas rel. Kalau keadaan rohani gereja normal, di dalamnya pasti ada pemerintahan, ada kekuasaan. Pemerintahan dan kekuasaan itu adalah penatua yang Allah tetapkan di tengah-tengah mereka.

Saya harap saudara-saudara bisa terlepas dari konsepsi yang tidak tepat, mengira bukankah kalau demikian di tengah-tengah kita bukankah ada pengikut-pengikut Nikolaus? Tidakkah ada Diotrefes yang suka menjadi kepala? Tidakkah kita melanggar ajaran dalam Matius 23? Di sana Tuhan dengan jelas berkata agar kita jangan seperti orang-orang kafir, mempunyai raja dan orang-orang yang memerintah mereka, karena kita semua adalah saudara. Setiap kali saya berjumpa dengan orang yang berkata demikian, saya selalu menjawab dengan satu kalimat, “Saudara, kalau Anda merasa bisa mengatur diri sendiri, aturlah diri Anda sendiri, untuk apa meminta orang lain mengatur dirinya?” Saya dorong dia menempuh jalan yang tidak perlu orang lain mengaturnya. Tentunya kalian mengerti maksud saya. Pernah sewaktu saya di Manila, ada seorang saudari tua berkata kepada saya, “Saudara Lee, tidakkah membicarakan kekuasaan itu berarti bersiasat untuk menjerat orang agar menurut?” Saya dengan tertawa berkata kepadanya, “Kalau begitu, Andalah yang pertama paling tidak menurut, mengapa Anda mau terjerat?” Saudara-saudara harus nampak, dalam konsepsi manusia sungguh-sungguh ada kesulitan. Tetapi perdebatan teori tidak berguna, Anda harus melihat keadaan yang sebenarnya. Kalau di tengah-tengah anakanak Allah tidak ada kekuasaan, Anda segera akan nampak, gereja sangat lemah. Dalam Perjanjian Baru ada satu terang yang jelas, dalam gereja ada penatua menjadi kekuasaan.

VI. WAKIL KEKUASAAN

Terakhir, kita masih perlu nampak bahwa dalam alam semesta, hanya Allah adalah kekuasaan langsung manusia; selain Dia, semua kekuasaan adalah wakil kekuasaan. Orang tua menjadi kekuasaan atas anak-anak, adalah mewakili Allah menjadi kekuasaan; suami menjadi kekuasaan atas istri, adalah mewakili Allah menjadi kekuasaan; pejabat pemerintah menjadi kekuasaan atas rakyat, adalah mewakili Allah menjadi kekuasaan; bahkan guru di sekolah, direktur perusahaan, polisi di jalan, semua adalah wakil kekuasaan. Penatua dalam gereja juga mewakili Allah menjadi kekuasaan. Hari ini kita hidup di dunia, jarang secara langsung hidup di bawah kekuasaan Allah. Semua kekuasaan yang kita taati, hampir semuanya adalah wakil kekuasaan. Kiranya kita semua memahami, jika dikatakan bahwa dalam gereja tidak seharusnya ada kekuasaan, itu berarti dalam alam semesta tidak seharusnya ada wakil kekuasaan. Namun jika demikian, Anda akan melihat dalam alam semesta sama dengan tidak ada kekuasaan. Karena kondisi Allah secara langsung menjadi kekuasaan tidak banyak, maka hampir semua kondisi kekuasaan Allah adalah wakil kekuasaan.

Saya ingin memberi tahu saudara saudari, hari ini orang mudah taat kepada kekuasaan langsung Allah, tetapi tidak mudah taat kepada wakil kekuasaan yang ditetapkan Allah, karena Anda melihat wakil kekuasaan itu belum tentu lebih baik daripada dirinya, belum tentu lebih kuat daripada dirinya. Tetapi di sinilah kita belajar satu pelajaran. Masalahnya adalah dalam alam semesta apakah seseorang itu adalah wakil kekuasaan. Anda tiba di satu gereja lokal, mungkin penatua di sana beroleh selamat lebih belakangan daripada Anda, kerohaniannya tidak lebih tinggi daripada Anda, pendidikannya tidak sebaik Anda, kemampuannya juga tidak sebesar Anda, tetapi Anda pergi ke sana, Anda harus taat kepada wakil kekuasaan itu, menerima wakil kekuasaan itu.

Perkataan-perkataan ini tidak diperuntukkan saudara saudari pada umumnya, tetapi disampaikan kepada orang yang menjadi penatua. Penatua-penatua seharusnya mengenal hal-hal ini, demikianlah Anda baru bisa menjadi penatua yang tepat. Tetapi ini bukan supaya Anda sombong, memegahkan diri dan berkata, “Aku adalah kekuasaan gereja! Aku adalah wakil kekuasaan!” Saya rasa berbuat demikian adalah perkara yang paling buruk. Setiap orang yang menjadi penatua harus mengetahui, mengapa dalam gereja harus ada penatua? Mengapa Allah menetapkan penatua dalam gereja? Tidak lain supaya gereja di bumi bisa kuat, bisa terlepas dari faktor kekacauan dan kebobrokan. Kalau kalian tidak percaya, saya akan menceritakan satu perkara dan coba kalian pikirkan. Kalau di satu kota tidak ada polisi, juga tidak ada pengadilan, kota itu pasti akan sangat kacau dan rusak. Sebab itu, jangan sekali-kali meremehkan masalah wakil kekuasaan. Tentu, kita semua mengakui bahwa umat manusia sudah rusak. Tetapi Anda tidak bisa menyangkal, meskipun umat manusia sudah rusak, masih ada satu keadaan yang normal yang dipertahankan di sini, dan keadaan normal ini dipertahankan bersandarkan wakil kekuasaan. Kalau Anda membubarkan polisi, seluruh kota segera menjadi kacau, banyak perkara yang menakutkan akan terjadi. Dalam prinsip yang sama, memang kita semua telah ditebus, telah beroleh kelahiran kembali, kita bersama-sama menjadi anak-anak Allah dalam rumah Allah, dalam gereja melayani Allah, tetapi kalau disingkirkan wakil kekuasaan, keadaan gereja akan menjadi kacau.

Sebab itu, seorang yang menjadi penatua harus mengenal rencana Allah atas gereja, harus mengenal pemerintahan dan kekuasaan Allah dalam alam semesta, juga harus mengenal pemerintahan dan kekuasaan Allah dalam gereja, dan akhirnya harus nampak bahwa kekuasaan gereja sama seperti kekuasaan yang lain dalam alam semesta, adalah wakil kekuasaan, bukan kekuasaan yang langsung. Penatua-penatua dalam rencana Allah ini menjadi wakil kekuasaan, adalah satu perkara yang besar, juga satu perkara yang mulia!