← Daftar isi 1 Yohanes (1) · bab 4/24

HAYAT ILAHI (2)

Pembacaan Alkitab:

1Yoh. 1:1-2; 2:25; 3:15; 5:11-13, 20; Yoh. 1:4; 3:15-16, 36; 5:24; 6:47, 63;

8:12; 10:10, 28; 11:25; 14:6; Kis. 11:18; Rm. 5:10, 17, 21; 6:23;

Ef. 4:18; Kol. 3:4; 1Tim. 6:12, 19; 2Tim. 1:10; Tit. 1:2; Ibr. 7:16;

2Ptr. 1:3; Why. 2:7; 22:1-2, 14, 17, 19; Mat. 19:16, 29

HAYAT DAN FIRMAN HAYAT

Satu Yohanes 1:2 mengatakan, “Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan telah dinyatakan kepada kami.” Dalam ayat ini “hayat” bersinonim dengan “firman hayat” dalam ayat sebelumnya, keduanya menunjukkan persona ilahi Kristus, Dia bersama dengan Bapa di dalam kekekalan, dinyatakan di dalam waktu melalui inkarnasi, dan dilihat oleh rasul, juga disaksikan dan diberitakan kepada kaum beriman.

Dalam 1:2 Yohanes mengatakan bahwa hayat itu telah dinyatakan. Pernyataan hayat kekal ini adalah melalui inkarnasi Kristus, yang ditekankan oleh Yohanes dengan kuat dalam Injilnya (Yoh. 1:14) sebagai penangkal untuk menyuntik kaum beriman terhadap ajaran bidah yang mengatakan bahwa Kristus tidak datang dalam daging. Pernyataan demikian ini sesuai dengan yang dapat dijamah (1:1), sekali lagi menunjukkan sifat substansial dari keinsanian Tuhan, yaitu pernyataan hayat ilahi dalam ekonomi Perjanjian Baru.

HAYAT KEKAL

Hayat yang telah dinyatakan itu adalah hayat kekal. Kata “kekal” tidak hanya mengacu kepada tenggang waktu yang selama-lamanya, tanpa akhir, tetapi juga mengacu kepada kualitas yang mutlak sempurna dan lengkap, tanpa kekurangan atau cacat. Ungkapan semacam ini menekankan sifat kekal dari hayat ilahi, hayat Allah yang kekal. Rasul telah melihat hayat kekal ini dan kini mempersaksikan serta memberitakannya kepada orang-orang. Pengalaman rasul-rasul bukan berasal dari doktrin apa pun, melainkan dari Kristus, Anak Allah, sebagai hayat kekal dan kesaksian serta pemberitaan mereka bukan berasal dari pengetahuan teologi atau pengetahuan Alkitab, melainkan dari hayat yang sedemikian solid.

Kita telah menjelaskan bahwa hayat kekal bukan hanya kekal dari segi waktu, tetapi juga dari segi mutu. Hayat ini juga kekal dari segi ruang lingkupnya. Karena itu, kata kekal menyatakan tiga hal: waktu, ruang, dan mutu. Dari segi waktu, hayat ini akan bertahan hingga kekal. Dari segi ruang lingkup, hayat ini luas, tidak terbatas. Dari segi mutu, hayat kekal ini lengkap dan sempurna, tanpa cacat atau kekurangan. Ruang lingkup atau lingkungan hayat kekal meliputi alam semesta. Hayat kekal sangat luas sehingga melingkupi seluruh bidang kehidupan. Apa pun yang ada dalam bidang kehidupan tercakup dalam hayat kekal ini. Namun, hayat insani kita sangat berbeda. Hayat kita tidak saja sementara, tetapi juga terbatas. Tetapi hayat kekal tidak sementara dan tidak terbatas, sebaliknya kekal dari segi waktu dan tidak terbatas dari segi ruang. Selanjutnya, hayat kita mempunyai banyak cacat dan kekurangan, tetapi, hayat ilahi, hayat kekal itu, tidak mempunyai cacat dan kekurangan.

Tidak Dapat Binasa (Rusak)

Hayat kekal adalah hayat yang tidak dapat binasa (Ibr. 7:16). Tidak ada apa pun yang dapat memusnahkan atau melenyapkan hayat ini. Ini adalah satu hayat yang tanpa akhir, hayat yang kekal, ilahi, bukan ciptaan, dan hayat kebangkitan yang telah melewati ujian kematian dan alam maut (Kis. 2:24; Why. 1:18). Iblis dan pengikut-pengikutnya mengira mereka telah mengakhiri hayat ini dengan menyalibkannya. Pemimpin-pemimpin agama mempunyai konsepsi yang sama. Akan tetapi, penyaliban memberi hayat ini kesempatan yang terbaik untuk dilipatgandakan, dikembangbiakkan. Karena tidak terbatas, hayat ini tidak pernah dapat ditaklukkan, ditundukkan, atau dibinasakan.

Hayat Allah

Hayat kekal adalah hayat Allah (Ef. 4:18; 2Ptr. 1:3). Kita dapat mengatakan bahwa hayat ini sebenarnya adalah Allah sendiri dengan kasih ilahi dan terang ilahi sebagai isi. Lagi pula hayat ini juga milik Roh Allah (Rm. 8:2), khususnya ketika hayat ini menjadi hayat kita bagi kenikmatan kita.

Putra Allah

Hayat kekal juga adalah Putra Allah. Hayat ini bukan hanya satu benda atau perkara; hayat ini adalah satu persona. Hayat ilahi adalah Allah sendiri terekspresi dalam Putra-Nya. Satu Yohanes 5:12 mengatakan, “Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup (hayat).” Dalam pengalaman kita, kita tahu bahwa hayat kekal adalah Putra Allah sendiri.

Bersama Bapa dalam Kekekalan

Satu Yohanes 1:2 mengatakan bahwa hayat kekal ada bersama Bapa. Bahasa Yunani untuk kata “bersama-sama dengan” menyiratkan hidup dan bertindak dalam kesatuan dan persekutuan dengan Bapa. Hayat kekal yang adalah Anak, dalam kekekalan bukan hanya bersama Bapa, tetapi juga hidup dan bertindak dalam kesatuan dan persekutuan dengan Bapa. Perkataan ini sesuai dengan Yohanes 1:1-2.

Bapa adalah sumber hayat kekal; dari Dia dan bersama Dia Anak dinyatakan sebagai ekspresi hayat kekal untuk dinikmati dan dimiliki oleh orang-orang pilihan Bapa.

Daripada mencoba menganalisis aspek-aspek hayat kekal ini, kita harus menikmatinya sebagai “hidangan” makanan rohani. Hayat kekal adalah hayat Allah, adalah Putra Allah, dan bersama Bapa dalam kekekalan. Di sini kita sedikitnya mempunyai empat hidangan untuk kenikmatan kita: Allah, Putra Allah, Bapa, dan kekekalan.

Ada orang mungkin ingin tahu bagaimana menikmati semua hidangan yang ajaib ini. Menurut pengalaman saya, cara yang terbaik untuk menikmatinya adalah mendoa-bacakan firman. Contohnya, mendoa-bacakan kata-kata “hayat Allah” yang ada dalam Efesus 4:18. Ketika Anda mendoa-bacakan, Anda dapat mengatakan, “Oh, hayat Allah! Amin! Sekarang, aku menikmati Allah, dan aku menikmati Dia sebagai hayatku. Haleluya atas Allah! Haleluya atas hayat! Haleluya atas hayat Allah! Haleluya atas kenikmatan atas hayat Allah dan bagi kenikmatan atas Allah sebagai hayat!”

Dinyatakan kepada Rasul-rasul

Yohanes mengatakan bahwa hayat yang bersama-sama Bapa itu dinyatakan kepada rasul-rasul. Pernyataan hayat kekal meliputi mewahyukan dan menyalurkan hayat kepada manusia, dengan maksud membawa manusia ke dalam hayat kekal, ke dalam kesatuan dan persekutuan hayat dengan Bapa.

Apa yang tersembunyi telah dinyatakan kepada rasulrasul. Yohanes, salah satu dari rasul-rasul, sekarang membukakan misteri-misteri ilahi bagi kita. Jika kita makan firman melalui doa-baca, kita akan menerima manfaat dari pernyataan hayat kekal.

Dilihat, Disaksikan, dan Diberitakan kepada Kaum Beriman oleh para Rasul

Para rasul telah melihat hayat kekal, hayat yang telah dinyatakan, dan kemudian mereka bersaksi dan memberitakan hayat ini kepada kaum beriman. Apa yang mereka beritakan bukanlah suatu teologi atau doktrin yang telah mereka dengar dan hal-hal yang telah mereka ajarkan, melainkan hayat ilahi yang telah mereka lihat dan saksikan dengan pengalaman-pengalaman riil mereka. Hayat ilahi ini adalah satu persona, Putra Allah sebagai perwujudan Allah Tritunggal, menjadi hayat kita.

Dijanjikan oleh Allah

Hayat kekal ini telah dijanjikan oleh Allah. Satu Yohanes 2:25 mengatakan, “Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup (hayat) yang kekal.” Dalam Injil Yohanes hayat kekal dijanjikan dalam ayat-ayat sebagai berikut: 3:15; 4:14; dan 10:10. Dalam Titus 1:2 Paulus membicarakan “pengharapan akan hidup (hayat) yang kekal, yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta.” Janji tentang hayat kekal ini tentu adalah janji yang dijanjikan oleh Bapa kepada Putra dalam kekekalan. Dalam kekekalan lampau Bapa telah berjanji kepada Putra bahwa Dia akan memberikan hayat kekal-Nya kepada kaum beriman-Nya.

Dibebaskan Melalui Kematian Kristus

Hayat kekal tidak hanya dijanjikan dan dinyatakan, tetapi juga dibebaskan melalui kematian Kristus (Yoh. 3:14-15). Hayat ilahi telah tersembunyi, terkurung dalam Kristus. Tetapi melalui kematian-Nya, hayat ilahi ini dibebaskan dari dalam diri-Nya.

Disalurkan kepada Kaum Beriman

Melalui Kebangkitan Kristus

Hayat kekal yang telah dibebaskan dari dalam Kristus melalui kematian-Nya telah disalurkan ke dalam kaum beriman melalui kebangkitan-Nya. Mengenai ini, 1Petrus 1:3 mengatakan, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah membuat kita lahir kembali melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada hidup yang penuh pengharapan.”

Diterima oleh Kaum Beriman

Melalui Percaya kepada Putra

Hayat kekal yang telah dibebaskan melalui kematian Kristus dan disalurkan melalui kebangkitan-Nya telah diterima oleh kaum beriman melalui kepercayaan mereka kepada Putra. Menurut Yohanes 3:15-16 dan 36, setiap orang yang percaya kepada Putra memiliki hayat kekal.

Menjadi Hayat Kaum Beriman

Setelah kaum beriman menerima hayat kekal, hayat ini menjadi hayat mereka (Kol. 3:4). Inilah tujuan penyelamatan Allah, yaitu membuat hayat-Nya menjadi hayat kita sehingga kita dapat menjadi anak-anak-Nya, berbagian dalam sifat ilahi-Nya untuk menikmati segala apa ada-Nya Dia dan menempuh hidup yang mengekspresikan Dia.

Kaum Beriman Diselamatkan oleh Hayat Kekal dan Memerintah dalam Hayat Ini

Dalam Roma 5:10 Paulus mengatakan, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya (hayat-Nya)!” Diperdamaikan dengan Allah melalui Kristus itu sudah rampung, tetapi diselamatkan dalam hayat-Nya dari banyak hal yang negatif masih merupakan masalah sehari-hari. Hari demi hari kita dapat diselamatkan dalam hayat kekal.

Dalam Roma 5:17 Paulus selanjutnya berkata, “Sebab, jika karena pelanggaran satu orang, maut telah berkuasa melalui satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan anugerah dan karunia kebenaran, akan hidup dan berkuasa karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.” Setelah mempunyai hayat ilahi di dalam kita, kita dapat diselamatkan oleh hayat ini dan juga memerintah (berkuasa) dalamnya. Kita dapat menjadi raja-raja yang memerintah dalam hayat ilahi atas segala hal yang negatif. Misalnya, mungkin kita sulit menguasai temperamen kita. Kebanyakan dari kita akan berkata, “Aku tidak seperti seorang raja yang berkuasa mengendalikan temperamenku, sebaliknya terperamenku selalu menguasaiku.” Banyak orang beriman tidak dapat menguasai temperamen mereka karena mereka tidak menikmati hayat kekal. Jangan berpikiran dan berkeputusan bahwa sejak sekarang Anda tidak akan marah-marah lagi. Cara itu tidak manjur. Sebaliknya, lupakan temperamen Anda dan nikmatilah perjamuan atas hayat ini. Saya mendorong Anda membaurkan menyeru nama Tuhan dengan doa-baca firman. Jika Anda melakukan hal ini, Anda akan menikmati Tuhan. Ketika Anda menikmati Dia, Dia akan menjadi Orang yang memerintah atas segala hal yang negatif. Kemudian ketika Dia memerintah di dalam Anda, Anda akan memerintah dalam pemerintahan-Nya. Inilah cara yang tepat untuk memerintah dalam hayat atas temperamen Anda.

Anda tidak dapat memerintah temperamen Anda hanya dengan mempelajari doktrin dan pengajaran Alkitab. Bila seseorang mendengar ini, mereka mungkin berkata, “Anda mengabaikan doktrin Alkitab dan meninggikan menyeru Tuhan dan makan firman. Menurut Anda, kita dapat menjadi pemenang dengan menyeru dan makan demikian.” Saya ingin menjawab dengan bertanya kepada orang itu, berapa banyak mereka telah dibantu oleh doktrin dan pengajaran untuk mengalahkan temperamen mereka. Kebanyakan mereka yang mengenal doktrin Alkitab masih sering kali marah-marah.

Saya minta Anda memperhatikan situasi di antara kebanyakan orang Kristen hari ini. Mereka mungkin tidak kekurangan doktrin atau pengetahuan Alkitab, tetapi mereka kurang menyeru nama Tuhan dan kurang makan firman. Kita dapat bersaksi bahwa kita diselamatkan dengan menyeru nama Tuhan, dan kita dipelihara dengan makan firman.

Bila Anda tergoda untuk marah-marah, serulah nama Tuhan. Katakanlah kepada Dia. “O Tuhan Yesus, selamatkan aku dari amarahku.” Lebih baik menyeru nama Tuhan dan mendoa-bacakan firman sebelum Anda tergoda untuk marah. Jika Anda dipelihara melalui doa-baca firman, hayat kekal di dalam Anda akan memerintah sebagai raja atas hal-hal negatif. Dalam banyak kasus, ini akan menjaga temperamen Anda dari hasutan. Bila Anda mengalami pemerintahan hayat kekal di dalam Anda, temperamen Anda akan diletakkan dalam kematian.

Kaum Beriman Memegang Teguh Hayat Kekal

Sebagai kaum beriman, kita harus memegang teguh (LAI: rebutlah) hayat kekal. Dalam 1Timotius 6:12 Paulus menyuruh kita memegang teguh “hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil.” Dalam 1Timotius 6:19 dia mendorong kita untuk “memegang teguh hidup yang sebenarnya” (Tl.). Hayat ini adalah hayat kekal. Memegang teguh hayat kekal berarti dalam setiap hal — dalam hidup sehari-hari kita, dalam ministri kita, dan dalam pekerjaan kita — kita perlu mengikatkan diri kepada hayat ilahi ini dan menerapkannya dalam setiap situasi, tidak bersandar kepada hayat insani kita.

Kaum Beriman Mewarisi Hayat Kekal dalam Manifestasi Kerajaan

Dalam Matius 19:29 Tuhan Yesus berbicara tentang mewarisi hayat kekal. Mewarisi hayat kekal adalah pada zaman yang akan datang diberi pahala berupa kenikmatan atas hayat ilahi dalam manifestasi Kerajaan Surga. Kaum beriman tertentu yang telah menerima hayat kekal menikmatinya sampai suatu tingkat, akan tetapi, mereka tidak menikmatinya sampai tingkat yang seharusnya. Akibatnya, ketika Tuhan Yesus datang kembali pada waktu manifestasi kerajaan, mereka akan kehilangan kenikmatan atas Kerajaan Seribu Tahun. Kehilangan kenikmatan atas hayat ilahi dalam kerajaan yang akan datang adalah kehilangan kenikmatan atas hayat kekal selama zaman itu.

Kaum Beriman Menikmati Hayat Kekal Sepenuhnya dalam Kekekalan

Dalam kekekalan, semua orang beriman akan sepenuhnya menikmati hayat kekal. Menurut Wahyu 22:1-2, dalam Yerusalem Baru, semua orang beriman akan menikmati hayat ilahi sebagai sungai yang mengalir dan sebagai pohon yang bertumbuh. Sungai dan pohon keduanya adalah untuk kenikmatan kekal kita. Untuk selama-lamanya, kita akan menikmati hayat ilahi ini (Why. 22:14, 17, 19).

Hayat kekal berhubungan dengan zaman sekarang, zaman kerajaan yang akan datang, dan zaman kekal. Pada zaman sekarang kita menerima hayat ilahi dan memperhidupkan hayat ilahi ini. Jika kita memperhidupkan hayat ini menurut keinginan Tuhan, kita juga akan menikmati hayat ilahi pada zaman kerajaan yang akan datang. Akhirnya, semua orang beriman akan menikmati hayat kekal sepenuhnya pada zaman kekal. Akan tetapi, jika orang yang menerima hayat kekal pada zaman ini tidak memperhidupkannya dengan tepat, malah sebaliknya mengabaikannya, kemudian pada zaman yang akan datang, zaman kerajaan, mereka akan kehilangan kenikmatan atas hayat ilahi. Dengan kehilangan kenikmatan atas hayat kekal pada zaman kerajaan, mereka akan mempelajari pelajaran-pelajaran tertentu dan dilatih. Akhirnya, mereka akan dipulihkan untuk menikmati hayat kekal. Kemudian pada zaman kekal, semua orang beriman akan menikmati hayat ilahi sepenuhnya.