PERSEKUTUAN HAYAT ILAHI
Pembacaan Alkitab: 1Yoh. 1:3-7
Dalam berita-berita yang lalu kita telah melihat perkara dasar yang pertama dalam surat ini — hayat ilahi. Sekarang kita melihat perkara dasar yang kedua, yaitu persekutuan hayat ilahi. Sebenarnya, persekutuan hayat ilahi adalah pokok dari seluruh Surat 1Yohanes. Dalam Injil Yohanes, Yesus Kristus diwahyukan sebagai hayat ilahi untuk kita terima. Ketika kita percaya kepada Dia, Dia masuk ke dalam kita, dan kita memiliki Dia sebagai hayat di dalam kita. Sebagai kelanjutan Injil Yohanes, Surat ini memperlihatkan bahwa setelah menerima hayat ilahi, kita dapat mempunyai persekutuan hayat sebagai aliran atau hasil dari hayat ilahi. Persekutuan hayat ilahi adalah kenikmatan yang nyata dari hayat ilahi. Dengan kata lain, jika kita ingin mengalami hayat ilahi, kita perlu memperhatikan dengan teliti persekutuan hayat ini.
Dalam 1:3 Yohanes mengatakan, “Apa yang telah kami lihat dan telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.” Dalam ayat 1 mula-mula dikatakan “telah kami dengar”, kemudian “telah kami lihat”. Namun, di sini disebutkan sebaliknya. Dalam hal menerima wahyu, pendengaran adalah perkara yang dasar; dalam hal pemberitaan, pemberitahuan, melihat adalah perkara yang dasar. Yang kita beritakan seharusnya merupakan pemahaman dan pengalaman atas hal-hal yang telah kita dengar.
Rasul-rasul mendengar dan melihat hayat kekal. Kemudian mereka memberitahukan tentang hayat kekal itu kepada kaum beriman agar kaum beriman juga bisa mendengar dan melihatnya. Melalui hayat kekal, para rasul menikmati persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Tuhan Yesus. Mereka mengharapkan agar kaum beriman juga menikmati persekutuan ini.
ALIRAN DAN PENGALIRAN HAYAT ILAHI
Istilah Yunani untuk persekutuan adalah koinonia, berarti berpartisipasi bersama, berpartisipasi secara umum. Persekutuan adalah pengaliran hayat kekal, dan sebenarnya merupakan aliran hayat kekal dalam semua orang beriman, yang telah menerima dan mendapatkan hayat ilahi. Hal ini digambarkan dengan aliran air hayat dalam Yerusalem Baru (Why. 22:1). Semua orang beriman sejati ada di dalam persekutuan ini (Kis. 2:42). Persekutuan ini dibawakan oleh Roh itu dalam roh kita yang dilahirkan kembali. Sebab itu, per-sekutuan ini disebut “persekutuan Roh Kudus” (2Kor. 13:13) dan “persekutuan roh (kita)” (Flp. 2:1). Dalam persekutuan hayat kekal inilah kita, kaum beriman, berbagian dalam segala apa adanya Bapa dan Anak dan segala sesuatu yang telah dilakukan oleh Bapa dan Anak bagi kita; yaitu kita menikmati kasih Bapa dan anugerah Anak melalui persekutuan Roh itu (2Kor. 13:13). Persekutuan semacam ini pertama-tama adalah bagian para rasul dalam kenikmatan mereka atas Bapa dan Anak melalui Roh itu; karena itu, dalam Kisah Para Rasul 2:42, persekutuan ini disebut “persekutuan rasul-rasul”, dan dalam 1Yohanes 1:3 disebut “persekutuan kami (rasul)”, yaitu persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Ini adalah suatu misteri ilahi. Persekutuan misteri dari hayat kekal ini seharusnya dipandang sebagai pokok dari surat ini.
Persekutuan adalah suatu pengambilan bagian bersama. Karena itu, mempunyai persekutuan adalah mempunyai satu partisipasi korporat dalam suatu hal. Persekutuan hayat ilahi adalah aliran dan pengaliran hayat ilahi. Karena hayat ilahi bersifat organik, kaya, bergerak, dan aktif, ia memiliki satu aliran yang khusus, semacam hasil yang tertentu. Aliran, hasil dari hayat ilahi adalah persekutuan hayat.
Persekutuan hayat ilahi dilukiskan dengan jelas dalam Wahyu 22:1. Dalam ayat ini kita nampak bahwa dalam Yerusalem Baru sungai air hayat mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba. Takhta Allah dan Anak Domba adalah takhta Allah penebus, Anak Domba Allah. Dalam Kejadian 1:1 kita memiliki Allah, tetapi dalam Wahyu 22:1 kita memiliki Allah bersama Anak Domba. Dalam Kitab Kejadian kita memiliki Allah Pencipta, tetapi dalam Kitab Wahyu kita memiliki Allah Penebus. Dari Allah Penebus ini sebagai sumber mengalir sungai air hayat. Aliran sungai air hayat adalah persekutuan hayat. Ini berarti persekutuan ini adalah aliran hayat ilahi yang keluar dari dalam Allah Penebus.
Menurut gambaran dalam Kitab Wahyu, sungai dalam Yerusalem Baru mengalir ke bawah seperti spiral sampai ia mencapai kedua belas pintu gerbang kota itu. Dengan ini kita dapat melihat bahwa seluruh Kota Yerusalem Baru disuplai oleh aliran air hayat ini; yaitu disuplai oleh persekutuan hayat. Persekutuan hayat ilahi mengalir keluar dari Allah dan melalui umat-Nya untuk mencapai setiap bagian Tubuh Kristus, yang akan menjadi sempurna di dalam Yerusalem Baru.
PERSEKUTUAN ROH
Persekutuan hayat ilahi atau aliran hayat ilahi, adalah persekutuan Roh itu. Dua Korintus 13:13 mengatakan, “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Di sini kita melihat bahwa kasih Allah adalah sumber, anugerah Kristus adalah saluran, dan persekutuan Roh itu adalah aliran. Aliran inilah yang membawa anugerah Kristus dan kasih Allah kepada kita untuk kenikmatan kita. Karena itu, persekutuan hayat ilahi disebut persekutuan Roh Kudus.
ANTARA KAUM BERIMAN DENGAN PARA RASUL
Persekutuan hayat ilahi adalah persekutuan antara kaum beriman dengan para rasul (1Yoh. 1:3b; Kis. 2:42). Ini berarti ada satu kenikmatan bersama atas Allah Tritunggal di antara kaum beriman dengan para rasul. Kaum beriman dan para rasul perlu saling berkontak. Bila ada kontak yang tepat, akan ada satu lalu lintas dua arah, dan lalu lintas ini adalah persekutuan, satu partisipasi bersama. Bila kita memiliki lalu lintas dua arah ini, kita menikmati hayat ilahi yang ada di dalam kita. Ini berarti bila kita mempunyai persekutuan, kita mempunyai kenikmatan atas hayat ilahi.
Semakin banyak kita mempunyai lalu lintas dua arah ini, keadaannya akan lebih baik. Semakin banyak kita berkontak dengan rasul-rasul, kita akan semakin banyak menikmati hayat ilahi. Akan tetapi, beberapa orang mungkin mengatakan bahwa para rasul tidak lagi bersama kita. Ini benar, tetapi kita masih memiliki tulisan-tulisan para rasul. Setiap kali kita membaca tulisan-tulisan para rasul, kita bisa memiliki perasaan dibawa ke dalam persekutuan dengan para rasul dan menikmati lalu lintas dua arah antara kita dengan mereka. Demikian, dalam lalu lintas ini kita menikmati hayat ilahi bersama mereka.
ANTARA KAUM BERIMAN DENGAN BAPA
DAN DENGAN ANAK-NYA, YESUS KRISTUS
Persekutuan hayat ilahi adalah antara kaum beriman dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Yohanes mengatakan bahwa pertama-tama kaum beriman memiliki persekutuan dengan para rasul melalui hayat ilahi. Kemu-dian dia mengatakan bahwa para rasul mempunyai persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak. Dari hal itu kita nampak bahwa persekutuan menghubungkan kaum beriman dengan para rasul dan dengan Bapa dan dengan Anak. Ka-rena itu, dalam persekutuan ini ada kesatuan yang sempurna dari hayat ilahi.
Aliran listrik adalah satu ilustrasi yang baik dari persekutuan hayat ilahi. Listrik mengalir dari pusat pembangkit listrik ke dalam suatu gedung. Arus listrik menghubungkan pusat pembangkit dengan gedung itu. Selanjutnya, dalam penerangan salah satu ruangan di dalam gedung itu, lampu-lampu dihubungkan satu sama lain oleh arus listrik. Tanpa arus listrik, lampu-lampu di langit-langit terpisah satu dengan yang lain. Tetapi melalui arus listrik, lampu-lampu itu dibawa ke dalam satu “persekutuan” satu dengan yang lain, karena mereka semua berada di dalam satu arus listrik. Ini adalah satu ilustrasi dari fakta bahwa para rasul dan kaum beriman menikmati persekutuan bersama dalam hayat ilahi.
PERSEKUTUAN ANTAR ORANG BERIMAN
Dalam hayat ilahi, kaum beriman mempunyai persekutuan satu dengan yang lain (1:7; Flp. 2:1). Seperti lampu-lampu listrik di langit-langit satu ruangan memiliki satu arus mengalir di dalamnya, kita semua juga memiliki arus ilahi mengalir di dalam kita. Dalam hayat ilahi ini dan melalui hayat ilahi ini kita memiliki persekutuan untuk menikmati hayat ilahi. Semakin banyak kita memiliki hayat ilahi mengalir di dalam kita, semakin banyak kita menikmati hayat ilahi.
Dalam 1:3 hanya disebutkan Bapa dan Anak, Roh itu tidak disebutkan, karena Roh itu tersirat di dalam persekutuan. Sebenarnya, persekutuan hayat kekal adalah penyaluran Allah Tritunggal — Bapa, Anak, dan Roh itu — ke dalam kaum beriman sebagai bagian unik mereka untuk mereka nikmati, hari ini dan sampai selama-lamanya.
SUPAYA SUKACITA MENJADI SEMPURNA
Dalam ayat 4, Yohanes selanjutnya mengatakan, “Semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.” Sebagai ganti “kami”, beberapa naskah kuno mencantumkan “kamu”. Sukacita rasul-rasul juga merupakan sukacita kaum beriman karena kaum beriman berada dalam persekutuan para rasul.
Persekutuan adalah pengaliran hayat kekal, sukacita (kenikmatan atas Allah Tritunggal) adalah hasil dari persekutuan ini, yaitu hasil dari berpartisipasi dalam kasih Bapa dan anugerah Anak melalui Roh itu. Dengan kenikmatan rohani atas hayat ilahi semacam ini, sukacita kita dalam Allah Tritunggal dapat menjadi sempurna.
Kita biasanya tidak menganggap sukacita sebagai satu butir yang besar. Tetapi dalam surat ini, sukacita adalah perkara besar ketiga yang diungkapkan setelah hayat ilahi dan persekutuan hayat ilahi. Hayat ilahi menghasilkan persekutuan, dan persekutuan menghasilkan sukacita.
Anda seorang Kristen yang bersukacita atau seorang Kristen yang bersedih? Sedih bisa merupakan petunjuk bahwa Anda berada di luar persekutuan hayat ilahi. Tetapi jika Anda bersukacita, penuh sukacita, Anda ada di dalam persekutuan ini.
Perjanjian Baru menggunakan tiga kata untuk menggambarkan sukacita kita dalam hayat ilahi. Selain kata “sukacita”, digunakan kata “girang” dan “bersukaria”. Kita tidak hanya harus bersukacita — kita juga harus bergirang dan bersukaria. Mungkin kita bersukacita tetapi dengan diam. Tetapi dalam hal bergirang dan bersukaria, kita tidak dapat tinggal diam. Keselamatan Allah membuat kita bersukacita dan menyebabkan kita bergirang dan bersukaria. Karena itu, bila kita berkumpul bersama, kita harus bersukacita. Dalam Perjanjian Lama, umat Allah penuh sukacita bila mereka bersama-sama datang berpesta. Dalam Kitab Mazmur mereka malah disuruh bersorak-sorai kepada Tuhan (Mzm. 95:1; 98:4, 6). Agama tidak suka mendengar suara gaduh yang bersukaria, tetapi Allah menghargainya. Dia suka melihat kita penuh sukacita. Sebab itu, Rasul Yohanes mengatakan bahwa jika kita menikmati persekutuan hayat ilahi, kita akan benar-benar menjadi penuh sukacita. Selanjutnya, bila kita penuh sukacita, kita akan bergirang dan bersukaria. Kita semua harus menjadi orang-orang Kristen yang bersukacita dan bersukaria semacam ini. Mari kita datang ke sidang-sidang gereja dengan sukacita, sebab kita menikmati hayat ilahi dalam persekutuan ilahi.
MENIKMATI ALLAH SEBAGAI TERANG
Dalam 1:5 Yohanes mengatakan, “Inilah berita yang telah kami dengar dari Dia dan kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.” Sebagai tambahan kepada tiga hal utama dalam ayat-ayat sebelumnya — hayat, persekutuan, dan sukacita — suatu berita yang lebih lanjut, yang didengar oleh rasul-rasul dari Tuhan, adalah menyampaikan kepada kaum beriman bahwa Allah adalah terang. Pertama-tama kita memiliki hayat ilahi, kemudian berdasarkan hayat ini kita mempunyai persekutuan hayat ilahi. Persekutuan menghasilkan sukacita. Bila kita ada di dalam unsur sukacita dari persekutuan ini, kita ada di dalam terang Allah. Jadi, urutannya adalah hayat, persekutuan, sukacita, dan terang.
Dalam ayat-ayat sebelumnya, Bapa dan Anak disebutkan dengan jelas, dan Roh itu tersirat dalam persekutuan hayat kekal. Di sini Allah disebutkan untuk kali pertama dalam surat ini, dan Dia disebutkan sebagai Allah Tritunggal — Bapa, Anak, dan Roh itu. Allah ini, seperti yang diwahyukan dalam terang Injil, adalah terang.
Berita yang didengar oleh Yohanes dan murid-murid sebermula sudah pasti adalah perkataan yang diucapkan Tuhan Yesus dalam Yohanes 8:12 dan 9:5 bahwa Dia adalah terang. Namun, di sini Yohanes mengatakan bahwa berita itu ialah “Allah adalah terang”. Ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah Allah, menyatakan esens Trinitas Ilahi.
Ungkapan-ungkapan seperti “Allah adalah kasih” dalam 4:8, 16 dan “Allah itu Roh” dalam Yohanes 4:24, tidak dipakai dalam arti kiasan, melainkan dalam arti sebagai predikat untuk menyatakan dan melukiskan hakiki Allah. Dalam hakiki-Nya, Allah itu Roh, kasih, dan terang. Roh menunjukkan hakiki persona Allah; kasih menunjukkan hakiki esens Allah; dan terang menunjukkan hakiki ekspresi Allah. Kasih dan terang berhubungan dengan Allah yang adalah hayat, hayat ini berasal dari Roh itu (Rm. 8:2). Sebenarnya, Allah, Roh, dan hayat adalah satu. Allah itu Roh, dan Roh itu hayat. Dalam hayat sedemikian ini ada kasih dan terang. Ketika kasih ilahi ternyata kepada kita, kasih itu menjadi anugerah; ketika terang ilahi menyinari kita, terang itu menjadi kebenaran (truth). Injil Yohanes mewahyukan bahwa Tuhan Yesus membawakan anugerah dan kebenaran kepada kita (Yoh. 1:14, 17), supaya kita bisa memiliki hayat ilahi (Yoh. 3:14-16); Surat Yohanes menyingkapkan bahwa persekutuan hayat ilahi membawa kita kepada sumber anugerah dan kebenaran, yaitu kasih ilahi dan terang ilahi. Surat Yohanes adalah kelanjutan dari Injilnya. Dalam Injil Yohanes, Allah dalam Anak datang kepada kita sebagai anugerah dan kebenaran, agar kita bisa menjadi anak-anak-Nya (Yoh. 1:12-13); dalam Surat Yohanes, kita, anak-anak Allah, dalam persekutuan hayat Bapa, pergi kepada Bapa untuk berbagian dalam kasih-Nya dan terang-Nya. Injil Yohanes menunjukkan bahwa Allah pergi ke pelataran luar untuk memenuhi keperluan kita di mezbah (Im. 4:28-31); Surat-surat Yohanes menunjukkan bahwa kita masuk ke dalam tempat maha kudus untuk mengontak Dia pada tabut (Kel. 25:22). Ini adalah pengalaman yang lebih lanjut dan lebih dalam atas hayat ilahi. Setelah menerima hayat ilahi melalui percaya ke dalam Anak dalam Injil Yohanes, kita harus maju terus untuk menikmati hayat ini melalui persekutuan hayat dalam Surat-surat Yohanes. Seluruh suratnya menyingkapkan satu hal ini kepada kita, yaitu menikmati hayat ini melalui tinggal dalam persekutuan hayat ilahi.
Allah adalah Roh. Ini mengacu kepada persona-Nya. Allah juga adalah kasih dan terang. Kasih mengacu kepada esens-Nya dan terang mengacu kepada ekspresi-Nya. Kasih dan terang Allah keduanya berhubungan dengan hayat-Nya. Hayat ini sebenarnya adalah Allah sendiri. Hayat juga adalah Roh itu.
Ketika hayat ini dinyatakan, ia datang bersama anugerah dan kebenaran. Ketika kita menerima Tuhan Yesus, kita menerima hayat, dan kita sekarang menikmati anugerah dan kebenaran. Hayat ini membawa kita kembali kepada Allah. Pertama-tama, Allah datang kepada kita sehingga kita dapat menerima anugerah dan kebenaran. Sekarang kita kembali kepada Bapa dan berhubungan dengan Dia sebagai sumber anugerah dan kebenaran, dan sumber ini adalah kasih dan terang. Dengan kembali kepada Bapa, kita dapat menikmati kasih sebagai sumber anugerah dan terang sebagai sumber kebenaran. Karena itu, dalam persekutuan hayat ilahi, kita dibawa kembali kepada Allah untuk menikmati kasih sebagai sumber anugerah dan terang sebagai sumber kebenaran.
Pengertian tentang kasih dan terang ini bukan berasal dari pemikiran manusia, melainkan dari wahyu ilahi dalam firman. Dalam wahyu ini kita mempunyai beberapa hal untuk kita nikmati, yang dapat dibandingkan dengan hidangan dalam satu pesta. Kita mempunyai Allah, Roh itu sebagai hakiki persona Allah, kasih sebagai hakiki esens Allah, terang sebagai hakiki ekspresi Allah, mempunyai hayat ilahi, anu-gerah, dan kebenaran. Setelah kita mempunyai semua hal ilahi ini, kita dibawa kembali kepada Allah Bapa. Ketika kita dibawa kembali kepada Bapa, kita bertemu dengan Dia dan menikmati Dia sebagai kasih, yang adalah sumber anugerah, dan terang, yang adalah sumber kebenaran. Betapa mengagumkan bahwa dalam persekutuan hayat ilahi kita menikmati terang ilahi!
BERSATU DENGAN PARA RASUL
DAN ALLAH TRITUNGGAL UNTUK
MERAMPUNGKAN KETETAPAN KEHENDAK ALLAH
Dalam persekutuan hayat ilahi kita bersatu dengan para rasul dan Allah Tritunggal untuk merampungkan tujuan Allah. Perkataan Yohanes dalam Yohanes 1:3 menunjukkan penanggalan kepentingan pribadi dan penyatuan dengan orang lain untuk satu tujuan bersama. Jadi, bersekutu dengan para rasul, mengadakan persekutuan dengan para rasul, dan bersekutu dengan Allah Tritunggal dalam persekutuan para rasul adalah mengesampingkan kepentingan pribadi kita, dan bersatu dengan para rasul dan Allah Tritunggal untuk merampungkan ketetapan kehendak Allah. Menurut tulisan Yohanes yang berikutnya, ketetapan kehendak ini ganda: pertama, agar kaum beriman bertumbuh dalam hayat ilahi dengan tinggal dalam Allah Tritunggal (2:12-27), dan berdasarkan kelahiran ilahi menempuh hidup yang berciri kebenaran ilahi dan kasih ilahi (2:28—5:3) untuk mengalahkan dunia, maut, dosa, Iblis, dan berhala (5:4-21); dan kedua, agar gereja-gereja lokal terbangun sebagai kaki pelita untuk kesaksian Yesus (Why. 1—3) dan rampung sempurna dalam Yerusalem Baru sebagai ekspresi penuh Allah sampai selama-lamanya (Why. 21—22). Partisipasi kita dalam kenikmatan rasul-rasul atas Allah Tritunggal adalah bersatunya kita dengan mereka dan dengan Allah Tritunggal untuk merampungkan ketetapan kehendak ilahi-Nya, yang sudah umum bagi Allah, rasul-rasul, dan semua orang beriman.
Bila kita menikmati Allah Tritunggal dalam persekutuan ilahi, kita akan dibawa ke dalam satu situasi di mana dengan spontan kita bersatu dengan para rasul dan Allah Tritunggal untuk tujuan bersama. Allah mempunyai satu tujuan, dan para rasul melaksanakan tujuan Allah. Dengan menikmati hayat ilahi dalam persekutuan ilahi, kita berbagian dalam ketetapan kehendak ini dan perampungannya.
Ketetapan kehendak yang ingin Allah rampungkan melalui para rasul dan juga melalui kita pertama adalah agar kaum beriman bertumbuh dalam hayat ilahi dengan tinggal di dalam Allah Tritunggal. Selanjutnya, berdasarkan kelahiran ilahi, Allah ingin agar kaum beriman menempuh hidup yang bercirikan kebenaran ilahi dan kasih ilahi untuk mengalahkan dunia, dosa, maut, Iblis, dan berhala. Kedua, ketetapan kehendak Allah adalah agar gereja-gereja lokal terbangun sebagai kesaksian Yesus dan pada akhirnya kesaksian ini akan rampung sempurna dalam Yerusalem Baru. Karena itu, ketetapan kehendak Allah adalah mendapatkan setiap anak-Nya bertumbuh dalam hayat ilahi dan menempuh hidup yang bercirikan kebenaran dan kasih untuk mengalahkan segala hal yang negatif. Kemudian gereja-gereja lokal akan dibangun sebagai kesaksian Yesus, dan akhirnya akan ada Yerusalem Baru sebagai ekspresi kekal dari Allah Tritunggal. Inilah ketetapan kehendak Allah, dan inilah beban para rasul dalam pekerjaan mereka. Mereka mempunyai ketetapan kehendak ini bersama Allah. Sekarang kita harus bersatu dengan mereka dalam persekutuan hayat ilahi, dan kenikmatan persekutuan hayat ilahi ini akan mengantarkan kita ke dalam kepentingan yang dimiliki para rasul bersama Allah Tritunggal. Bersama Allah Tritunggal dan para rasul, tujuan kita adalah pertumbuhan kaum beriman dalam hayat dan penempuhan hidup yang bercirikan kebenaran dan kasih untuk mengalahkan hal-hal negatif sehingga gereja-gereja lokal dapat terbangun dan dihasilkan Yerusalem Baru sebagai ekspresi sempurna Allah Tritunggal.
Jika kita melihat apakah sebenarnya persekutuan itu, kita akan menyadari bahwa persekutuan adalah satu perkara yang besar. Akan tetapi, selama bertahun-tahun kita mempunyai pengertian bahwa persekutuan hanyalah semacam kenikmatan dalam hayat ilahi. Kita belum melihat bahwa persekutuan juga mencakup satu kepentingan bersama. Allah tidak menyuplai kita dengan kenikmatan tanpa satu tujuan. Allah memiliki ketetapan kehendak-Nya, Dia mempunyai satu ketetapan kehendak dalam memberi kita kenikmatan persekutuan hayat-Nya. Ketetapan kehendak Allah ialah memelihara kita agar kita dapat bertumbuh dalam hayat ilahi dan dengan kelahiran ilahi sebagai dasar kita dapat menempuh hidup yang bercirikan kebenaran ilahi dan kasih ilahi untuk mengalahkan si jahat, dunia, dosa, dan semua berhala. Allah juga berkehendak agar gereja-gereja lokal dapat terbangun sebagai kesaksian Yesus. Akhirnya, kesaksian ini akan rampung dalam Yerusalem Baru sebagai ekspresi yang sempurna dan kekal dari Allah Tritunggal. Inilah tujuan persekutuan hayat ilahi.