HAYAT ILAHI (1)
Pembacaan Alkitab:
1Yoh. 1:1-2; 2:25; 3:15; 5:11-13, 20; Yoh. 1:4; 3:15-16, 36; 5:24; 6:47, 63;
8:12; 10:10, 28; 11:25; 14:6; Kis. 11:18; Rm. 5:10, 17, 21; 6:23;
Ef. 4:18; Kol. 3:4; 1Tim. 6:12, 19; 2Tim. 1:10; Tit. 1:2; Ibr. 7:16;
2Ptr. 1:3; Why. 2:7; 22:1-2, 14, 17, 19; Mat. 19:16, 29
Dalam berita ini kita akan mulai membahas hayat ilahi seperti yang diwahyukan dalam 1:1-2. Kemudian dalam berita selanjutnya kita akan membahas persekutuan hayat ilahi. Hayat ilahi dan persekutuan ilahi sama pentingnya. Menurut Surat 1Yohanes, pertama-tama kita memiliki hayat kekal, dan kemudian kita memiliki persekutuan hayat kekal ini.
YANG ADA SEJAK SEMULA
Satu Yohanes 1:1 mengatakan, “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan, dan yang kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup — itulah yang kami tuliskan kepada kamu.” Surat ini dimulai dengan kata-kata “apa yang”. Rasul Yohanes menggunakan ungkapan “apa yang” untuk memulai suratnya dan mengungkapkan misteri persekutuan dalam hayat ilahi. Ia tidak menggunakan kata ganti orang dalam mengacu kepada Tuhan, ini menyiratkan bahwa apa yang hendak dia ungkapkan itu misterius.
Ministri Paulus adalah untuk melengkapi wahyu ilahi ekonomi Perjanjian Baru Allah (Kol. 1:25-27), yaitu Allah Tritunggal dalam Kristus sebagai Roh pemberi-hayat menghasilkan anggota-anggota Kristus untuk menyusun dan membangun Tubuh Kristus, agar Allah Tritunggal mendapatkan ekspresi yang penuh — kepenuhan Allah (Ef. 1:23; 3:19) — di dalam alam semesta. Tulisan Paulus diselesaikan sekitar 67 M. Sebelum dan sesudah Paulus meninggal, ministri pelengkapnya telah dirusak oleh kemurtadan. Seperempat abad kemudian, sekitar 90 M, tulisan Yohanes muncul. Ministri Yohanes tidak hanya untuk menambal ministri Paulus yang telah dirusak, tetapi juga untuk merampungkan seluruh wahyu ilahi baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, baik kitab-kitab Injil maupun Surat-surat Kiriman. Dalam ministri yang demikian, pusatnya adalah misteri hayat ilahi. Injil Yohanes, sebagai perampungan kitab-kitab Injil, menyatakan misteri persona dan pekerjaan Tuhan Yesus Kristus. Surat Yohanes (khususnya 1Yohanes), sebagai perampungan dari Surat-surat Kiriman, membuka misteri persekutuan hayat ilahi, yaitu persekutuan anak-anak Allah dengan Allah Bapa dan dengan sesama anak-anak Allah. Kemudian Kitab Wahyu Yohanes, sebagai perampungan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, mewahyukan misteri Kristus sebagai suplai hayat bagi anak-anak Allah untuk ekspresi-Nya, dan sebagai pusat administrasi alam semesta Allah Tritunggal.
Dalam 1:1 Yohanes membuka suratnya dengan menggunakan ungkapan apa yang telah ada sejak semula. Ini berbeda dengan “pada mulanya” dalam Injil Yohanes (1:1). Pada mulanya menelusuri kembali kepada kekekalan yang lampau sebelum penciptaan; “sejak semula” adalah dimulai dari penciptaan. Ini menunjukkan bahwa Surat Yohanes adalah lanjutan dari Injilnya, yang membahas pengalaman kaum beriman terhadap hayat ilahi. Dalam Injilnya, Yohanes menunjukkan jalan bagi orang-orang dosa untuk menerima hayat kekal, yaitu percaya ke dalam Anak Allah. Dalam suratnya ia menunjukkan jalan bagi kaum beriman, yang telah menerima hayat ilahi, untuk menikmati hayat itu dalam persekutuan — tinggal dalam Anak Allah. Dan dalam Kitab Wahyunya, ia menyingkapkan perampungan hayat kekal sebagai kenikmatan penuh kaum beriman dalam kekekalan.
Frase “sejak mulanya” digunakan dua kali dalam Injil Yohanes, delapan kali dalam surat ini, dan dua kali dalam 2Yohanes. Dalam Yohanes 8:44; 1Yohanes 1:1; 2:13-14; dan 3:8, frase ini digunakan dalam arti yang mutlak; sedangkan dalam Yohanes 15:27; 1Yohanes 2:7, 24 (dua kali); 3:11; dan 2Yohanes 5-6, frase ini digunakan dalam arti yang relatif.
MAKAN DAN KENIKMATAN
Tulisan-tulisan Yohanes terutama bukanlah untuk penyelidikan dan pemahaman; melainkan untuk kenikmatan anak-anak Allah. Bila Anda datang ke suatu pesta, tujuan Anda bukanlah untuk menyelidiki macam-macam makanan. Menyelidiki pada saat seperti itu akan membuat Anda tidak bisa menikmati makanan. Demikian juga, kita harus membaca tulisan-tulisan Yohanes — kitab Injilnya, surat-suratnya, dan Kitab Wahyunya — menganggapnya sebagai berbagai hidangan dari suatu pesta rohani. Beberapa orang mendengar ini, mereka mungkin heran, bagaimana kita dapat menga-takan bahwa tulisan-tulisan Yohanes adalah suatu pesta. Jawabannya adalah tidak ada tulisan-tulisan lain dalam Alkitab menekankan masalah makan sebanyak yang ada dalam tulisan-tulisan Yohanes. Memang, Paulus membicarakan makanan rohani, tetapi dia tidak membicarakannya sebanyak yang dilakukan Yohanes. Salah satu pasal dalam Injil Yohanes, pasal 6, hampir seluruhnya membahas makanan. Di sana Tuhan Yesus berkata, “Akulah roti kehidupan (hayat)” (ayat 35, 48). Kemudian Dia mengatakan bahwa Dia adalah roti hidup dan jika seseorang makan roti ini, dia akan hidup selamanya (ayat 51); kalau kita tidak makan daging Anak Manusia dan minun darah-Nya, kita tidak mempunyai hayat di dalam kita (ayat 53); orang yang makan daging-Nya dan minum darah-Nya memiliki hayat kekal (ayat 54) dan tinggal di dalam Dia (ayat 56); orang yang makan Dia juga akan hidup karena Dia (ayat 57), karena yang “makan roti ini akan hidup selamanya” (ayat 58). Sesungguhnya, perihal makan ditekankan dengan kuat dalam Yohanes 6. Makan Tuhan sebagai roti hayat adalah berpesta makan Dia.
Yohanes juga berbicara banyak tentang makan dalam Kitab Wahyu. Dalam Wahyu 2:7 Tuhan Yesus berkata, “Siapa yang menang, dia akan Kuberi makan dari pohon hayat, yang ada di Taman Firdaus Allah.” Makan pohon hayat adalah menikmati Kristus sebagai suplai hayat kita. Tujuan semula Allah adalah manusia harus makan pohon hayat (Kej. 2:9, 16). Tetapi karena kejatuhan manusia, pohon hayat ditutup bagi manusia (Kej. 3:22-24). Melalui penebusan Kristus, jalan untuk menjamah pohon hayat, yang adalah Allah sendiri di dalam Kristus sebagai hayat bagi manusia, telah dibuka kembali (Ibr. 10:19-20).
Dalam Wahyu 2:17 Tuhan Yesus berkata, “Siapa yang menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi.” Manna adalah satu lambang Kristus sebagai makanan surgawi yang memungkinkan umat Allah menempuh jalan-Nya. Bani Israel makan manna selama mereka di padang gurun (Kel. 16:14-16, 31). Berbagian atas manna yang tersembunyi jelas adalah menikmati Kristus melalui makan Dia.
Wahyu 3:20 mengatakan, “Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Dalam ayat ini “makan” berarti menerima makanan utama pada malam hari. Di sini Tuhan berjanji untuk makan malam dengan siapa saja yang membukakan pintu bagi Dia. Makan malam bukanlah makan makanan tertentu semata, tetapi menikmati kekayaan suatu makanan. Makan malam ini mengacu kepada makan hasil yang kaya dari tanah permai Kanaan oleh bani Israel (Yos. 5:10-12).
Ayat-ayat dari Kitab Wahyu ini menyatakan bahwa Tuhan ingin memulihkan makan makanan yang tepat oleh umat Allah seperti yang ditetapkan oleh Allah dan dilambangkan oleh pohon hayat, manna, dan hasil tanah permai, semuanya ini adalah lambang dari berbagai aspek Kristus sebagai makanan bagi kita. Dalam tulisan-tulisannya, Yohanes menekankan dengan tegas kenikmatan yang kaya atas Kristus dengan berpesta makan Dia.
Yohanes juga membicarakan makan dalam pasal terak-hir Kitab Wahyu. Wahyu 22:1-2a mengatakan, “Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon hayat...” (Tl.). Pohon hayat adalah untuk diterima dan dinikmati umat Allah. Untuk selama-lamanya semua umat tebusan Allah akan menikmati Kristus, pohon hayat ini, sebagai bagian kekal mereka. Menurut ayat-ayat ini, pohon hayat adalah suplai hayat yang tersedia di sepanjang aliran Roh sebagai air hayat. Di mana Roh mengalir, di sana ada suplai hayat Kristus.
Dalam Wahyu 22:14 ada satu janji mengenai kenikmatan atas pohon hayat, “Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon hayat dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu” (Tl.). Ayat ini dapat dianggap sebagai satu janji yang berhubungan dengan kenikmatan atas pohon hayat, yang adalah Kristus dengan segala kekayaan hayat. Melalui penebusan Kristus yang telah memenuhi semua tuntutan kemuliaan, kekudusan, dan kebenaran Allah, jalan ke pohon hayat terbuka bagi kaum beriman. Karena itu, siapa saja yang mencuci jubah mereka di dalam darah penebusan Kristus, mempunyai hak untuk menikmati pohon hayat sebagai bagian mereka.
Semua kutipan dari Injil Yohanes dan Kitab Wahyu ini menunjukkan pentingnya perkara makan dalam tulisan-tulisan Yohanes. Ini juga menunjukkan bahwa tulisan-tulisannya bersifat misterius, jauh melampaui pemahaman alamiah kita.
Tulisan-tulisan Yohanes dapat dibandingkan dengan satu perjamuan pesta bangsa China yang terdiri atas banyak hidangan. Pikiran kita akan lelah untuk mempelajari semua hidangan dan bahan-bahan dari perjamuan semacam itu. Anda datang ke pesta bukan untuk mempelajari, tetapi untuk menikmati makanan dengan memakannya. Demikian pula tulisan-tulisan Yohanes. Tidaklah mungkin kita mengatakan berapa banyak “hidangan” yang ada dalam tulisan-tulisan ini. Kita perlu mengambil tulisan-tulisan Yohanes sebagai makanan, yaitu makan dan mencerna makanan rohani yang terkandung di dalamnya.
FIRMAN HAYAT
Sering kali sebelum kita makan hidangan utama pada suatu perjamuan, kita diberi makanan pembangkit selera. Dalam 1Yohanes 1, Rasul Yohanes juga memberi kita satu “makanan pembangkit selera”. Makanan pembangkit selera ini ialah firman hayat. Tidak diragukan, maksud Yohanes adalah menyuplai kita dengan hayat ilahi. Tetapi untuk merangsang selera kita, dia menyajikan firman hayat sebagai makanan pembangkit selera yang rohani. Inilah Firman yang disebutkan dalam Yohanes 1:1-4, 14, yang bersama dengan Allah dan adalah Allah di dalam kekekalan sebelum penciptaan, yang menjadi daging di dalam waktu, dan di dalam Dia ada hayat. Firman ini adalah persona ilahi Kristus, adalah penjelasan, definisi, dan ekspresi dari segala apa adanya Allah. Di dalam Dia ada hayat, dan Dia adalah hayat (Yoh. 11:25; 14:6). Frase “Firman hayat” dalam bahasa Yunani menunjukkan bahwa Firman adalah hayat. Persona itu adalah hayat ilahi, hayat kekal, yang dapat kita jamah. Penyebutan Firman di sini menunjukkan bahwa Surat ini adalah lanjutan dan perkembangan dari Injil Yohanes (lihat Yoh. 1:1-2, 14).
Jika kita dapat bertanya kepada Rasul Yohanes tentang Firman dalam 1:1, dia mungkin akan menunjukkan Injilnya kepada kita. Yohanes 1:1 dan 4 mengatakan bahwa pada mulanya ada Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah, bahwa dalam Firman ini ada hayat, dan hayat ini adalah terang manusia. Selanjutnya, menurut Yohanes 1:14, Firman menjadi daging dan berkemah (tinggal, LAI) di antara kita, penuh dengan anugerah dan kebenaran dan memiliki kemuliaan sebagai Anak tunggal Bapa. Dalam semua ayat ini kita mempunyai satu definisi Firman. Firman adalah Allah. Di dalam Firman ini ada hayat, dan hayat adalah terang yang kita perlukan. Kemudian Orang yang ajaib ini, Allah Sang Firman, menjadi daging. Ini berarti Dia menjadi seorang manusia. Sebagai seorang manusia, Dia berkemah di antara kita. Sesungguhnya, Dia adalah kemah itu. Selanjutnya, kemah ini menjadi tempat kediaman bersama, yang di dalamnya Allah dan kita berdiam. Di dalam kemah ini kita menikmati anugerah, kita menerima realitas, dan kita melihat kemuliaan. Ini adalah Firman hayat yang disebutkan dalam 1:1.
Kita telah menjelaskan bahwa ungkapan “Firman hayat” sebenarnya menyatakan bahwa Firman adalah hayat. Firman ini, yang adalah hayat kekal, menjadi seorang manusia. Sebagai seorang manusia, Dia adalah tempat kediaman, sebagai satu tempat kediaman bersama bagi Allah dan manusia. Di dalam tempat kediaman ini kita dapat menikmati Dia sebagai anugerah, menerima Dia sebagai realitas kita, dan melihat kemuliaan-Nya. Kemuliaan ini, yang adalah kemuliaan Allah, sekarang telah menjadi kemuliaan Putra tunggal Allah. Sekali lagi saya katakan, Firman ini adalah hayat, dan hayat ini adalah ekspresi Allah. Ini berarti Firman hayat adalah ekspresi Allah.
KITAB YANG MISTERI
Tulisan Yohanes adalah kitab yang misteri. Dalam surat ini, hayat yang adalah hayat ilahi, hayat kekal, hayat Allah yang disalurkan ke dalam kaum beriman dalam Kristus dan tinggal di dalam mereka, adalah misteri yang pertama (1:2; 2:25; 3:15; 5:11, 13, 20). Dari misteri ini timbul misteri yang lain, yaitu misteri persekutuan hayat ilahi (1:3-7). Setelah itu ada misteri pengurapan Allah Tritunggal (2:20-27). Kemudian ada misteri tinggal di dalam Tuhan (2:27-28; 3:6, 24). Misteri yang kelima adalah misteri kelahiran ilahi (2:29; 3:9; 4:7; 5:1, 4, 18). Yang keenam adalah misteri benih ilahi (3:9). Terakhir adalah misteri air, darah, dan Roh itu (5:6-12).
MAKAN ALLAH DAN MENGEKSPRESIKAN DIA
Jangan menghabiskan terlalu banyak waktu mempelajari Firman hayat. Sebaliknya, kita harus makan Firman dan menikmatinya. Kita perlu mengingat bahwa Yohanes memakai Firman hayat sebagai makanan pembangkit selera untuk menimbulkan selera kita. Karena itu, makanan pembangkit selera ini adalah untuk kita makan. Akan tetapi, pikiran alamiah kita ingin menyelidiki lebih lanjut dan bertanya bagaimana hayat ini mengekspresikan Allah. Kita tidak perlu menyelidiki, sebaliknya, kita perlu makan Firman. Kemudian kita akan mengetahui bagaimana Firman hayat ini dapat mengekspresikan Allah.
Macam makanan yang kita makan terpancar dari wajah kita. Seandainya Anda tidak makan dengan baik selama beberapa waktu, wajah Anda akan tampak sangat tidak sehat. Tetapi jika seseorang makan dengan teratur, wajahnya akan memancarkannya. Dengan melihat wajahnya, Anda akan mengetahui bahwa dia telah makan makanan yang bergizi, karena makanan yang dia makan menyebabkan dia mempunyai satu penampilan yang sehat. Prinsipnya sama dengan makan Allah. Semakin banyak kita makan Allah, semakin banyak kita mengekspresikan Dia.
Beberapa orang Kristen menentang perihal makan Allah dan bertanya bagaimana hal semacam ini mungkin. Akan tetapi, konsepsi makan Allah, suatu pikiran ilahi, mutlak sesuai dengan Alkitab, meskipun para agamawan sering melalaikannya. Mereka mungkin lebih suka menyembah Allah dalam cara yang obyektif, mengatakan bahwa Allah adalah kudus. Tetapi kita mau mengikuti Alkitab untuk berbagian dalam Allah dan menikmati Dia sebagai makanan kita. Ketika Anda datang ke meja makan, Anda memakan makanan yang dihidangkan di depan Anda. Demikian juga, ketika kita datang kepada Tuhan, kita harus memakan Dia sebagai makanan kita.
Hasil dari makan Allah ialah mengekspresikan Allah. Setelah kita menikmati hayat ilahi, kita mengekspresikan hayat ilahi. Allah adalah hayat, dan Firman juga adalah hayat. Firman ini membicarakan, mendefinisikan, menerangkan, dan mengekspresikan Allah. Allah berbicara untuk diri-Nya sendiri. Tetapi Dia tidak berbicara secara obyektif dari surga semata. Dia juga berbicara secara subyektif melalui kita sebagai hasil dari kita makan Dia. Hari ini Tuhan kita tidak hanya berbicara dari surga; Dia juga berbicara melalui kita, melalui diri kita. Dengan cara apa Allah berbicara melalui kita? Allah berbicara melalui kita makan dan menikmati Dia.
Pada tahun-tahun awal ministri saya, kebanyakan pembicaraan saya bersifat doktrinal. Tetapi hari ini pembicaraan saya terutama adalah ekspresi kenikmatan saya atas Tuhan. Selama bertahun-tahun saya telah makan Tuhan setiap hari. Sebagaimana makan makanan jasmaniah membuat saya kuat dan aktif, maka makan Tuhan membuat saya kuat dan aktif di dalam roh. Dengan spontan, sebagai hasil dari menikmati Allah dan mencerna Dia, saya menjadi sangat aktif di dalam roh.
Ada orang mungkin mengatakan bahwa mengajarkan perihal Allah dapat kita cerna adalah bidah. Tetapi saya ingin mengatakan bahwa menyangkal perihal Allah dapat dimakan dan kita dapat memakan Dia serta mencerna Dia adalah bidah. Alkitab mewahyukan bahwa Yesus adalah Allah. Selanjutnya, menurut Yohanes 6, kita tahu bahwa Tuhan Yesus dapat dimakan. Dalam pasal ini Dia mengatakan dengan jelas mengenai kita makan Dia. Jika kita menelusuri kembali dari Yohanes pasal 6 ke pasal 1, kita akan tahu siapakah Yesus itu. Yesus yang berbicara dalam Yohanes 6 mengenai makan Dia adalah Orang yang dalam Yohanes 1 disebut Firman yang bersama dengan Allah, yang adalah Allah, dan yang menjadi daging. Kalau Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia dapat dimakan, berarti Allah sendiri dapat dimakan. Karena itu, kita dapat dengan berani mengumumkan bahwa Allah kita dapat dimakan dan bahwa kita dapat berbagian dalam Dia, makan Dia, dan mencerna Dia. Bila kita makan Allah dan mencerna Dia, Dia berbicara melalui kita secara subyektif.
Kita dapat mengatakan bahwa makanan yang kita makan dan cerna berbicara untuk dirinya sendiri tidak secara obyektif, tetapi secara subyektif; yaitu wajah kita menyatakan apakah kita telah makan makanan yang bergizi. Prinsipnya sama dengan Firman hayat sebagai ekspresi Allah. Hayat ilahi sebenarnya adalah Allah sendiri. Bila kita makan Allah sebagai hayat dan mencerna Dia, dalam pengalaman kita hayat ini menjadi Firman untuk mendefinisikan, menerangkan, dan mengekspresikan Allah yang kita nikmati.
Jika kita menikmati Allah sebagai gizi kita, Dia akhirnya akan menjadi unsur penyusun diri kita. Para pakar diet mengatakan bahwa kita adalah apa yang kita makan. Ini berarti makanan yang kita makan menjadi unsur atau penyusun diri kita. Contohnya, seseorang yang makan daging sapi dan minum susu dalam jumlah banyak akhirnya akan disusun secara jasmaniah oleh daging sapi dan susu. Dengan cara yang sama, jika kita makan dan minum Allah hari demi hari, kita akan tersusun dengan Allah. Lalu Allah yang dengan-Nya kita telah disusun akan mengekspresikan diri-Nya sendiri dari dalam kita.
Dengan cara apa Allah yang kita makan dan cerna dan yang menyusun kita diekspresikan dari dalam kita? Allah diekspresikan dalam kita melalui atribut-atribut-Nya. Allah adalah kasih, adalah terang, Dia juga adalah kudus dan benar. Bila kita makan dan minum Allah, kita akan memperhidupkan Dia sebagai kasih, terang, kudus, dan benar. Atribut-atribut ilahi ini akan menjadi kebajikan-kebajikan kita sebagai ekspresi Allah. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa seseorang telah makan dan mencerna Allah? Kita dapat mengatakan hal ini melalui ekspresi Allah dari dalam dia. Ekspresi Allah ini adalah pembicaraan Allah. Kebajikan manusia yang dihasilkan melalui menyerap Allah beserta atribut-atribut ilahi-Nya menjadi ekspresi Allah, dan ekspresi ini sebenarnya adalah pembicaraan Allah.
Inilah cara kita menjadi saksi-saksi Allah. Satu kesaksian adalah satu masalah berbicara atau bersaksi. Menjadi saksi Allah berarti Allah sebagai Firman membicarakan diri-Nya sendiri dari diri kita. Ini adalah ekspresi hayat ilahi.
FIRMAN TERNYATA DENGAN SOLID
DAN DAPAT DIJAMAH
Firman dalam 1:1 adalah Logos yang kekal, ekspresi Allah. Dari Yohanes 1:1 dan 14 kita tahu bahwa Firman ini, Firman hayat ini, berinkarnasi dan menyatakan diri dalam daging. Lagi pula, Firman ini telah ada “sejak semula”.
Mari kita membaca 1:1 sekali lagi, “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup — itulah yang kami tuliskan kepada kamu” (Tl.). Ayat ini menyatakan bahwa Firman hayat telah dinyatakan dengan solid dan dapat dijamah, karena Firman itu telah didengar, dilihat, disaksikan, dan diraba oleh para rasul. Urutan di sini adalah “telah didengar”, “telah dilihat”, “telah disaksikan” (dipandang dengan tujuan tertentu), dan “telah diraba”, yaitu dijamah dengan tangan. Ungkapan ini menunjukkan bahwa Firman hayat tidak hanya misterius, tetapi juga dapat dijamah, sebab Dia telah berinkarnasi. Firman hayat yang misterius ini dapat dijamah oleh manusia, tidak hanya dalam keinsanian-Nya sebelum Dia bangkit (Mrk. 3:10; 5:31), tetapi juga dalam tubuh rohaniah-Nya (1Kor. 15:44) setelah kebangkitan-Nya (Yoh. 20:17, 27). Pada masa Yohanes menulis surat ini, ada ajaran bidah yang menyangkal inkarnasi Anak Allah (1Yoh. 4:1-3). Karena itu, diperlukan ungkapan kuat semacam ini untuk menunjukkan substansi solid dari Tuhan dalam keinsanian-Nya yang dapat dijamah.
Menjelang akhir abad pertama, konsepsi-konsepsi filsafat aliran Gnostik mulai menyerbu gereja. Satu konsepsi Gnostik mengajarkan bahwa materi (benda) adalah jahat. Orang yang memegang konsepsi ini tidak percaya bahwa Kristus benar-benar datang dalam daging. Bagi mereka, Kristus itu abstrak, sesuatu yang seperti hantu. Pandangan sedemikian terhadap Kristus adalah bidah. Rasul Yohanes berbeban dalam kitab Injil dan surat-suratnya untuk menentang bidah tersebut. Karena itu, dalam Yohanes 1:14 dia sengaja memakai kata “daging”. Dalam Yohanes 1:1 dia mengatakan bahwa Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ini abstrak dan agak misterius. Tetapi kemudian Yohanes mengatakan bahwa Firman ini menjadi daging. Karena menjadi daging, Firman itu menjadi solid dan dapat dijamah. Lalu dalam suratnya yang pertama Yohanes menjelaskan bahwa para rasul mendengar Firman hayat dan kemudian melihat, menyaksikan, dan meraba Firman ini. Rasul Yohanes bahkan bersandar pada dada Tuhan. Ungkapan yang digunakan Yohanes mengenai mendengar, melihat, menyaksikan, dan meraba Firman adalah satu penangkal untuk menyuntik kaum beriman melawan ajaran-ajaran bidah mengenai persona Kristus.
Di satu aspek, hayat ilahi bersifat abstrak dan tidak terlihat. Tetapi di aspek lain hayat ilahi bersifat solid dan dapat dilihat, karena Firman hayat telah berinkarnasi. Firman yang berinkarnasi ini dapat didengar, dilihat, disaksikan, dan diraba.
Surat 1Yohanes adalah lanjutan dan perkembangan dari Injil Yohanes. Dalam Injil Yohanes kita nampak bagaimana menerima hayat ilahi melalui percaya kepada Tuhan Yesus. Namun, dalam Injil Yohanes kita tidak dapat melihat banyak hal tentang bagaimana menikmati apa yang telah kita terima dari hayat ilahi. Karena itu, dalam Surat 1Yohanes, Rasul Yohanes memberi kita satu lanjutan dan perkembangan dari kitab Injilnya, menampakkan kepada kita bahwa setelah menerima hayat ilahi kita dapat menikmati kekayaan hayat ilahi. Seperti yang akan kita lihat dalam berita selanjutnya, kita menikmati kekayaan hayat ilahi melalui persekutuan.