← Daftar isi 1 Yohanes (1) · bab 17/24

SYARAT-SYARAT PERSEKUTUAN ILAHI (9)

Pembacaan Alkitab: 1 Yoh. 2:7-11

Dalam berita ini kita akan membahas 1 Yohanes 2:7-11, bagian terakhir Surat 1 Yohanes yang menyinggung syaratsyarat persekutuan ilahi.

SATU PERINTAH LAMA

Dalam ayat 7 Yohanes berkata, “Saudara-saudara yang terkasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu sejak semula. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar.” “Perintah lama” di sini mengacu kepada perintah-perintah yang diberikan oleh Tuhan dalam Yohanes 13:34, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Perintah ini adalah firman yang telah didengar dan dimiliki oleh kaum beriman sejak semula.

Dalam ayat 7, frase “sejak semula” digunakan dalam hal yang relatif. Kita telah menunjukkan bahwa frase ini digunakan dua kali dalam Injil Yohanes, delapan kali dalam surat ini, dan dua kali dalam Surat 2 Yohanes. Dalam Yohanes 8:44; 1Yohanes 1:1; 2:13-14; dan 3:8, frase ini digunakan dalam arti yang mutlak; sedangkan dalam Yohanes 15:27; 1 Yohanes 2:7, 24 (dua kali); 3:11; dan 2 Yohanes 5-6 frase ini digunakan dalam arti yang relatif. Yohanes tidak menu-liskan satu perintah baru kepada kaum beriman, dia menuliskan satu perintah lama, yang telah mereka miliki sejak semula, yaitu dari waktu Tuhan Yesus di bumi dan memberi mereka perintah untuk saling mengasihi. Perintah lama itu adalah firman yang telah mereka dengar.

Perintah Tuhan adalah firmanNya. Ini berarti perintahNya bukan hanya satu perintah semata; perintah Tuhan juga adalah satu firman yang menyampaikan suplai hayat. Dalam Yohanes 6:63 Tuhan Yesus berkata, “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” Karena itu, dalam 2:7 “firman” menyatakan suplai hayat. Apa pun yang Tuhan katakan adalah satu firman yang menyuplai kita dengan hayat dan roh. Apa yang Tuhan katakan mungkin juga sebuah perintah yang meminta kita melakukan satu hal tertentu. Namun, sepanjang perintah itu adalah sesuatu yang diucapkan oleh Tuhan, sesuatu yang keluar dari mulutNya, ini adalah satu firman yang menyuplai kita dengan hayat. Karena itu, kapan saja kita menerima firman Tuhan dan memeliharanya, kita menerima suplai hayat.

PERINTAH LAMA MENJADI BARU

Dalam ayat 8 Yohanes selanjutnya mengatakan, “Namun kutuliskan kepada kamu perintah baru juga, yang benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya.” Perintah mengenai kasih persaudaraan bersifat lama, juga baru; lama, karena kaum beriman sudah memilikinya sejak permulaan kehidupan kristiani mereka; baru, karena dalam kehidupan kristiani mereka perintah ini berulang-ulang bersinar dengan terang yang baru dan memancar dengan penerangan baru dan kuasa yang segar.

Kata ganti relatif “yang” dalam ayat 8 adalah berjenis netral. Ini tidak mengacu kepada “perintah” yang berjenis fe-minin. Tentunya ini mengacu kepada fakta bahwa perintah lama tentang kasih persaudaraan itu baru dalam kehidupan kristiani kaum beriman. Perintah lama itu juga sesuatu yang baru dalam Tuhan, karena Dia tidak hanya memberikannya kepada kaum berimanNya, tetapi juga terus-menerus memperbaruinya dalam kehidupan mereka sehari-hari.Demikian pula dalam kaum beriman, karena mereka tidak hanya telah menerimanya sekali untuk selamanya, melainkan juga berulang-ulang diterangi dan disegarkan olehnya.

Dalam ayat 8 Yohanes mengatakan kepada kita bahwa kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. Sedang lenyapnya kegelapan adalah karena bersinarnya terang yang benar. Terang yang benar adalah terang perintah Tuhan. Karena sorotan terang ini, perintah mengenai kasih persaudaraan memancar dalam kegelapan, membuat perintah yang lama ini menjadi selalu baru dan segar dalam seluruh kehidupan kristiani.

Banyak dari pembaca ayat 7-8 dibingungkan oleh apa yang dikatakan Yohanes mengenai satu perintah lama dan satu perintah baru. Dalam ayat 7 dia mengatakan bahwa dia tidak menuliskan satu perintah baru tetapi satu perintah lama. Namun dalam ayat 8 dia mengatakan bahwa dia menuliskan satu perintah baru. Bagaimana satu perintah lama dapat menjadi satu perintah baru? Apakah perintah baru itu satu perintah yang berbeda dengan perintah lama, atau perintah lama menjadi baru? Jika kita membaca ayat-ayat ini dengan hati-hati di dalam konteksnya, kita akan melihat bahwa sebenarnya perintah lama dan perintah baru itu satu. Alasannya adalah perintah itu adalah firman Tuhan, dan firman Tuhan memancar seperti satu hari baru yang me-nyingsing ketika matahari bersinar di pagi hari. Ketika matahari bersinar, sinar matahari itu menelan kegelapan. Kegelapan malam selalu lenyap oleh sinar matahari pagi. Di sini Yohanes menyatakan bahwa perintah Tuhan, sebagai firman hidupNya, bersinar seperti matahari yang menyingsing, dan sinar ini menelan kegelapan.

Setelah suatu perintah manusia diberikan, ia berangsur-angsur menjadi tua. Perintah-perintah manusia tidak hidup. Karena perintah-perintah ini tidak hidup, maka mereka tidak pernah menyingsing dan mereka tidak pernah bersinar. Tetapi perintah yang diberikan oleh Tuhan adalah firman hidupNya. Karena perintahNya adalah firman hidupNya, firman ini bersinar. Bila firman hidup ini menyingsing di dalam kegelapan, ia menyingsing dengan terang surgawi. Penyinaran dari terang surgawi membuat hal-hal yang lama menjadi baru. Khususnya, ia membuat perintah lama menjadi baru, segar, dan penuh terang.

Mungkin Anda kenal dengan prinsip bahwa penyinaran dari terang menyatakan kebaruan. Misalnya, Anda mematikan lampu di dalam satu ruangan selama beberapa waktu. Ketika Anda menyalakan lampu lagi, Anda akan dengan spontan mempunyai perasaan kebaruan. Penyinaran terang membawakan kepada kita perasaan kebaruan ini. Setiap saat terang bersinar, ia mendatangkan satu situasi baru.

Karena perkataan manusia mati, maka mereka tidak dapat bersinar dan karena itu tidak dapat memberi kita satu permulaan yang baru. Tetapi perintah Tuhan, sebagai firman hidupNya, selalu memberi kita satu permulaan yang baru karena firmanNya bersinar lagi dan lagi.

Banyak dari antara kita yang dapat bersaksi bahwa kita telah mengalami penyinaran dari firman Tuhan secara demikian. Misalnya, dalam Yohanes 13:34 Tuhan Yesus menyuruh kita saling mengasihi. Kita dapat bersaksi bahwa sering kali perintah ini telah menjadi baru dan segar dalam kehidupan kristiani kita. Sepanjang tahun-tahun kita sebagai orang Kristen, sering kali perintah lama ini telah menjadi satu firman yang segar bagi kita. Kapan saja kita berkontak dengan Tuhan dan perintah lamaNya menyingsing di dalam kegelapan kita, terang bersinar. Pada terang ini ada kebaruan. Inilah proses perintah lama menjadi satu perintah baru. Perintah lama menjadi perintah baru karena perintah lama itu adalah firman yang hidup dan bersinar. Penyinaran ini membuat perintah lama menjadi baru dan segar.

Sekarang kita dapat mengerti mengapa Rasul Yohanes mengatakan, “Bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu . . . Namun kutuliskan kepada kamu perintah baru juga.” Dalam ayat-ayat ini Yohanes seolah-olah mengatakan, “Aku per-caya bahwa apa yang aku tuliskan kepadamu bersinar di atas dirimu dan menelan kegelapan. Kegelapan sekarang sedang lenyap, hilang, di dalam sinar dari terang yang baru ini.”

BENAR DI DALAM DIA DAN DI DALAM KITA

Dalam ayat 8 Yohanes mengatakan bahwa fakta dari perintah lama kasih persaudaraan menjadi baru dalam pe-rilaku kristiani kaum beriman adalah benar di dalam Tuhan dan di dalam kita. Ini benar di dalam Tuhan karena Dia memberi perintah dan karena Dia memperbarui dan menyegarkan lagi perintah ini. Ini juga benar di dalam kita karena kita bukan hanya telah menerima perintah lama, tetapi juga mempunyai satu penerangan yang baru dan segar dari perintah ini. Di bawah sorotan terang ini, kita merasakan firman ini baru dan menyegarkan kita. Firman ini pun menjadikan kita baru. Karena itu, ini benar di dalam kita karena kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya.

Apakah terang yang benar ini? Terang ini adalah terang di dalam firman Tuhan yang bersinar di atas kita. Penyinaran ini dapat dibandingkan dengan satu hari baru (fajar) yang sedang menyingsing.

TERANG DAN KEGELAPAN

Dalam ayat 9 Yohanes melanjutkan, “Siapa yang berkata bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudara seimannya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.” Terang adalah ekspresi esens Allah dan sumber kebenaran. Kasih ilahi berhubungan dengan terang ilahi dan berlawanan dengan kebencian setani, yang berhubungan dengan kegelapan setani. Membenci saudara dalam Tuhan adalah tanda dari berada dalam kegelapan (ayat 11). Demikian pula, mengasihi saudara adalah tanda dari tinggal di dalam terang (ayat 10).

Dalam pasal 1 Yohanes membicarakan terang dan ke-gelapan berkenaan dengan syarat pertama dari persekutuan ilahi. Ketika dalam pasal 2 dia membicarakan syarat kedua, dia juga menyebutkan terang dan kegelapan. Kebencian adalah satu tanda bahwa kita ada di dalam kegelapan, sedangkan kasih adalah satu tanda bahwa kita ada di dalam terang.

Dalam ayat 10 Yohanes selanjutnya berkata, “Siapa yang mengasihi saudara seimannya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.” Tetap berada di dalam terang tergantung pada tetap berada di dalam Tuhan (ayat 6), yang menghasilkan kasih terhadap saudara-saudara. Penyesatan berasal dari kebutaan, dan kebutaan berasal dari kegelapan.

Kedua syarat persekutuan ilahi itu tergantung pada terang ilahi. Jika kita tidak di dalam terang ilahi, kita secara otomatis berada di luar persekutuan hayat ilahi. Kapan saja kita tanpa terang, secara otomatis kita berada di dalam kegelapan. Kapan saja terang lenyap, kegelapan hadir. Dengan demikian, sepanjang kita tinggal di dalam terang ilahi, kegelapan akan lenyap.

Ketiadaan terang ilahi adalah satu tanda yang kuat bahwa kita tidak di dalam persekutuan ilahi. Dalam pasal 1, mengenai syarat pertama dari persekutuan ilahi, entah kita di dalam terang atau di dalam kegelapan ditentukan oleh penanggulangan kita atas dosa. Jika kita berdosa, kita berada dalam kegelapan. Tetapi jika kita menanggulangi dosa dengan mengakuinya dan mengalami pengampunan dan penyucian Allah, kita akan berada di dalam terang. Dalam pasal 2, mengenai syarat kedua dari persekutuan ilahi, entah kita di dalam kegelapan atau di dalam terang ditentukan oleh kasih kita kepada saudara-saudara. Jika kita membenci, kita berada dalam kegelapan. Tetapi jika kita mengasihi, kita berada dalam terang. Bila kita berada dalam terang, kita pun ada di dalam persekutuan ilahi. Tetapi bila kita di dalam kegelapan, kita tidak ada hubungan dengan persekutuan ini.

Dalam ayat 11 Yohanes berkata, “Tetapi siapa yang membenci saudara seimannya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.” Dalam Yohanes 12:35 dan 40, kegelapan adalah hasil dari kebutaan; di sini dikatakan sebaliknya. Kegelapan mendatangkan kebutaan, dan kebutaan adalah penyebab tersandung. Bagaimana mungkin seorang Kristen dapat tersandung? Seorang Kristen dapat tersandung oleh kebutaan yang berasal dari kegelapan. Kegelapan adalah akibat dari satu gangguan dalam persekutuan kita. Kapan saja persekutuan kita di dalam hayat ilahi terputus, dengan segera kita berada di dalam kegelapan. Kegelapan ini menyebabkan kebutaan. Lalu kita mudah tersandung.

MEMELIHARA PERSEKUTUAN ILAHI

DENGAN MEMENUHI DUA SYARAT

Dalam 1Yohanes1:5-2:11 kita menyajikan syaratsyarat persekutuan ilahi. Syarat pertama adalah mengakui dosa kita, dan syarat kedua adalah mengasihi Allah dan mengasihi saudara. Untuk mengakui dosa, kita perlu menyadari bahwa kita masih mempunyai dosa yang berhuni di dalam daging kita dan yang selalu memungkinkan kita berbuat dosa. Setiap kali kita berdosa, kita perlu mengakui dosa kita. Pengakuan kita berdasar pada persediaan Allah: darah Yesus, kesetiaan dan keadilan Allah kita yang setia dan adil, pengacara, dan Kristus sebagai kurban pendamaian kita. Melalui persediaan-persediaan ini kita dapat menikmati pemulihan persekutuan kita. Pemulihan persekutuan ini seluruhnya berdasar pada pendamaian. Sebenarnya, pendamaian itu sendiri adalah persekutuan yang terpulih. Dengan pendamaian sebagai dasar, kita dapat bercakap-cakap dengan Allah, dan Dia dengan kita. Kemudian kita mempunyai lalu lintas dua arah untuk satu kenikmatan bersama antara kita dengan Allah. Inilah syarat pertama untuk memelihara persekutuan ilahi.

Kita telah menekankan fakta bahwa syarat kedua adalah mengasihi Allah dan mengasihi saudara. Untuk memenuhi syarat ini, kita perlu mengenal Allah secara terus-menerus dalam pengalaman. Mengenal Allah sejenak tidaklah cukup, dan kita tidak mengenal Dia sekali untuk selamanya. Kita perlu mengenal Dia secara pengalaman dengan terus-menerus hidup di dalam hayat ilahi. Kehidupan kita sehari-hari seharusnya menjadi satu kehidupan yang mengenal Allah secara terus-menerus, karena kehidupan kita seharusnya menjadi satu kehidupan yang memperhidupkan Allah. Asal kita memperhidupkan Allah, kita akan terus-menerus mengenal Dia.

Saya dapat bersaksi dari pengalaman bahwa setiap kali saya berbicara, saya mempunyai kesempatan untuk mengenal Allah. Ketika saya menyampaikan berita, saya berharap diri saya berbicara di dalam Allah dan dengan Allah. Akan tetapi, kadang-kadang, satu perkataan tertentu mungkin hampir keluar dari mulut saya, saat itu saya menyadari bahwa saya perlu menelannya, karena Allah yang di dalamNya dan denganNya saya berbicara mengatur apa yang saya katakan. Saya tidak ingin berbicara di dalam diri saya sendiri, saya mau berbicara di dalam Allah. Saya tidak dapat mengatakan kepada Anda berapa banyak saya telah mengenal Allah dalam hal pembicaraan saya. Setiap kali saya berbicara, saya mengenal Allah. Berbicara selalu merupakan satu kesempatan emas bagi saya untuk mengalami Dia.

Jika kita ingin mengalami dan menikmati kasih ilahi dan memilikinya sebagai kasih yang olehnya kita mengasihi Allah dan orang lain, kita perlu mengenal Allah secara pengalaman. Inilah syarat dasar untuk memiliki kasih Allah sebagai kasih kita.

Jika kita secara terus-menerus mengenal Allah dalam pengalaman, kita akan secara otomatis menuruti perintah-perintah Tuhan. Begitu kita mengenal Allah, kita akan menuruti perintah Tuhan. Menuruti perintah Tuhan berarti kita menerima firmanNya. Kita telah menunjukkan bahwa firman Tuhan bukan hanya satu komando atau perintah; tetapi juga adalah satu suplai hayat bagi kita. Firman Tuhan selalu menyuplaikan hayat di dalam roh kita. Ini dapat dibuktikan dengan pengalaman kita. Setiap kali kita menerima firman Tuhan dan melakukannya, segera kita memiliki suplai hayat di dalam kita.

Firman Tuhan berbeda dengan hukum Taurat Musa. Hukum Taurat Musa adalah satu perintah dengan permintaan dan tuntutan, tetapi tanpa suplai apa pun. Akan tetapi, apa pun yang Tuhan perintahkan kepada kita dalam Perjanjian Baru adalah satu firman yang menyuplai. Suplai hayatNya mendukung perintahNya. PerintahNya bukan hanya satu perintah yang menuntut kita melakukan sesuatu; tetapi juga adalah satu firman yang selalu menyuplai apa pun yang dimintanya. Firman Tuhan juga menyuplai kita dengan Tuhan sendiri sebagai hayat dan sebagai Roh. Karena itu, kita dapat mengalami Dia dan menikmati Dia. Jika kita mengenal Dia, kita akan menuruti firmanNya. Dengan menuruti firmanNya, kita menikmati suplaiNya.

Ketika kita menuruti firman Tuhan dan menerima suplaiNya, kasih Allah akan disempurnakan di dalam kita. Ini ber-arti selama kita menerima suplai dari firman Tuhan, kasih Allah menjadi kenikmatan kita, dan kenikmatan ini meng-hasilkan satu kasih terhadap Allah dan terhadap saudara.

Jika kita ingin memenuhi syarat kedua dari persekutuan ilahi mengasihi Allah dan mengasihi saudara kita harus mengenal Allah. Jika kita mengenal Dia, kita akan menuruti firmanNya. Jika kita menuruti firmanNya, kita akan menerima suplai hayatNya. Kemudian kasih Allah akan disempurnakan di dalam kita. Pengalaman dan kenikmatan kita atas kasih Allah akan menghasilkan satu kasih terhadap Allah dan saudara. Inilah pemenuhan syarat kedua untuk memelihara persekutuan ilahi.

Dua syarat persekutuan ilahi meliputi dosa di pihak negatif dan kasih di pihak positif. Di pihak negatif, kita perlu menanggulangi dosa; di pihak positif, kita perlu melatih diri untuk mengasihi Allah dan mengasihi saudara. Karena itu, dosa harus ditanggulangi, dan kasih harus disempurnakan. Jika kita menanggulangi dosa dan melatih diri untuk mengasihi Allah dan mengasihi saudara, kita akan memenuhi syarat-syarat menjaga diri di dalam persekutuan hayat ilahi.