SYARAT-SYARAT PERSEKUTUAN ILAHI (10)
Pembacaan Alkitab: 1 Yoh. 2:3-11
Dalam berita-berita tentang syarat-syarat persekutuan ilahi ini, kita telah melihat ada dua syarat atau tuntutan untuk memelihara persekutuan ini. Syarat pertama, diurai-kan dalam 1Yohanes 1:5-2:2, adalah pengakuan dosa. Syarat kedua, diuraikan dalam 1Yohanes 2:3-11, adalah mengasihi Allah dan mengasihi saudara-saudara. Karena itu, jika kita ingin memelihara persekutuan kita dengan Allah, kita perlu menanggulangi dosa, dan kita perlu mengasihi Allah dan mengasihi saudara.
Dalam 1Yohanes 2:9-11, Yohanes mengatakan bahwa seseorang yang membenci saudaranya berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Dalam ayat 10 dia mengatakan, “Siapa yang mengasihi saudara seimannya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.” Dalam ayat-ayat ini Yohanes menekankan mengasihi saudara. Beban saya dalam berita ini adalah melihat mengapa Yohanes menyatakan bahwa syarat terakhir untuk memelihara persekutuan ilahi adalah mengasihi saudara.
SASARAN PERSEKUTUAN ILAHI
Untuk memahami mengapa mengasihi saudara adalah syarat atau tuntutan terakhir dari persekutuan ilahi, kita perlu mengerti apakah sasaran persekutuan ilahi. Apakah sasaran persekutuan ilahi? Di dalam persekutuan ini kita menikmati kekayaan hayat ilahi, tetapi untuk apakah kita menikmati kekayaan di dalam persekutuan ini? Kenikmatan atas kekayaan hayat ilahi di dalam persekutuan ilahi adalah untuk hidup gereja. Kita sangat perlu melihat bahwa sasaran persekutuan ilahi adalah hidup gereja.
Persekutuan Rasul-rasul
Dalam 1:3 Yohanes mengatakan, “Apa yang telah kami lihat dan telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus.” Dalam ayat ini kata ganti “kami” mengacu kepada rasul-rasul. Rasul-rasul telah melihat dan mendengar hayat kekal. Mereka memberitakan ini kepada kaum beriman sehingga kaum beriman dapat mempunyai persekutuan dengan rasul-rasul. Karena persekutuan yang diuraikan dalam 1:3 pertama-tama adalah bagian rasul-rasul dalam menikmati Bapa dan Anak melalui Roh (2Kor.13:13), ia disebut persekutuan rasul-rasul (Kis.2:42) dan “persekutuan yang adalah milik kami” (rasul-rasul). Rasul-rasul adalah wakil gereja. Sebab itu, setiap kali Perjanjian Baru membicarakan rasul-rasul, gereja tersirat di dalamnya, karena rasul-rasul mewakili gereja. Prinsip ini tetap berlaku dalam Yerusalem Baru. Mengenai Yerusalem Baru, Wahyu 21:14 mengatakan, “Tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu.” Rasul-rasul mewakili semua orang beriman di dalam gereja. Karena rasul-rasul mewakili gereja dan karena persekutuan hayat ilahi disebut persekutuan rasul-rasul, kita boleh mengatakan bahwa persekutuan ini adalah untuk hidup gereja.
Persekutuan Roh
Dalam 1:3 Yohanes mengatakan bahwa persekutuan yang dimiliki rasul-rasul adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus. Karena itu, persekutuan ini meliputi rasul-rasul dan juga Bapa dan Anak. Di sini hanya disebutkan Bapa dan Anak, tidak menyebut Roh, karena Roh tersirat di dalam persekutuan. Akan tetapi, di tempat lain, dengan jelas dikatakan bahwa persekutuan ini adalah “persekutuan Roh Kudus” (2Kor.13:13). Persekutuan ilahi adalah persekutuan rasul-rasul, wakil gereja, dan juga per-sekutuan antara rasul-rasul ini sebagai wakil gereja dengan Bapa dan Anak. Fakta bahwa persekutuan ilahi juga adalah persekutuan Roh berarti persekutuan ini dilaksanakan oleh Roh. Persekutuan ini tidak hanya “dengan” Roh, tetapi juga “dari” Roh. Artinya ini adalah persekutuan Roh dan perse-kutuan ini dilaksanakan oleh Roh.
Kita telah menunjukkan apakah artinya mengatakan persekutuan ilahi adalah persekutuan Roh. Sebenarnya, Roh sendiri adalah persekutuan. Ini berarti persekutuan tidak hanya dilaksanakan oleh Roh, tetapi Roh itu justru adalah persekutuan yang dilaksanakan itu.
Sekali lagi kita dapat memakai listrik sebagai satu ilustrasi dari persekutuan ilahi. Listrik mengalir dari pusat pembangkit ke dalam balai sidang gereja. Akibatnya, bila saklar dihidupkan, semua lampu di langit-langit mempunyai “persekutuan” di dalam arus, aliran listrik. Arus listriklah yang melaksanakan persekutuan ini. Akan tetapi, lebih tepat mengatakan bahwa sesungguhnya arus itu sendiri adalah persekutuan itu. Jika tidak ada arus listrik, tidak akan ada persekutuan apa pun. Arus listrik adalah persekutuan listrik, dan persekutuan ini meliputi pusat pembangkit, balai sidang, dan lampu-lampu.
Hari ini persekutuan ilahi adalah persekutuan rasul-rasul. Ini berarti persekutuan ini adalah persekutuan gereja. Persekutuan ini juga adalah persekutuan kaum beriman dengan rasul-rasul. Selanjutnya, persekutuan ini adalah persekutuan rasul-rasul dan kaum beriman dengan Bapa dan Anak. Karena persekutuan ini dilaksanakan oleh Roh, persekutuan ini disebut persekutuan Roh.
Persekutuan untuk Hidup Gereja
Kita semua perlu menyadari bahwa persekutuan ilahi sepenuhnya bagi hidup gereja. Persekutuan ini bukan hanya untuk kenikmatan, pengalaman, suplai, makanan, dan pem-binaan rohani kita semata. Pada akhirnya, persekutuan ini adalah untuk hidup gereja.
KEHIDUPAN KASIH PERSAUDARAAN
Karena persekutuan ilahi adalah bagi hidup gereja, kita tidak hanya perlu mengakui dosa-dosa kita, tetapi juga perlu mengasihi saudara-saudara. Untuk memelihara persekutuan, hanya mengakui dosa-dosa kita tidaklah cukup. Untuk memelihara persekutuan ilahi, kita perlu mengasihi saudara-saudara. Alasannya adalah hidup gereja adalah satu kehi-dupan yang korporat, satu kehidupan yang meliputi saudara-saudara. Jika kita kehilangan kasih persaudaraan dan jika kita tidak lagi saling mengasihi, apakah jadinya dengan hidup gereja? Jawabannya adalah hidup gereja akan lenyap. Di mana tidak ada kasih persaudaraan, hidup gereja akan berakhir. Sebenarnya, kasih persaudaraan adalah hidup gereja.
Pada waktu yang lampau kita telah melihat hidup gereja dari sudut-sudut yang berbeda dan telah menyajikan berbagai definisi hidup gereja dari sudut-sudut yang berbeda ini. Sekarang kita perlu satu definisi hidup gereja dilihat dari sudut kasih persaudaraan. Kita semua perlu mempelajari satu syarat baru untuk menggambarkan hidup gereja kehidupan kasih persaudaraan. Tahukah Anda apakah hidup gereja itu? Hidup gereja adalah kehidupan kasih persaudaraan.
Saya dapat bersaksi bahwa dalam hidup gereja dalam pemulihan Tuhan, kita benar-benar mengalami kasih persaudaraan. Khususnya, saya dapat bersaksi bahwa kita menikmati kasih persaudaraan selama pelatihan-pelatihan setengah tahunan. Selama hari-hari pelatihan, kasih persaudaraan lebih nyata dan unggul, dan kaum beriman dari banyak negara yang berbeda menikmati kasih persaudaraan ini bersama-sama. Seolah-olah semakin internasional, kita semakin mengalami dan menikmati kasih persaudaraan.
Baru-baru ini kami mengadakan satu pertemuan di Stuttgart, Jerman. Pada waktu itu kami semua berada di dalam satu suasana internasional. Kaum beriman yang menghadiri pertemuan itu berbicara dengan berbagai bahasa, dan kidung dinyanyikan dalam bahasa-bahasa itu. Kapan kala saya mendengar satu pujian dinyanyikan dalam berbagai bahasa yang berbeda, saya lupa diri karena sukacita di dalam Tuhan. Kasih persaudaraan sangat unggul sehingga tampaknya tidak perlu diterjemahkan. Suasana kasih persaudaraan sungguh mengagumkan. Kasih persaudaraan ini adalah hidup gereja.
Hidup gereja meliputi kaum beriman yang berbeda ras, negara, bahasa, dan kebangsaan. Semua warna ada di dalam hidup gereja: hitam, putih, kuning, coklat, dan merah. Kita memuji Tuhan bahwa bersama-sama kita menikmati kasih persaudaraan sejati!
Saya ingin menekankan fakta bahwa persekutuan ilahi adalah bagi hidup gereja. Persekutuan ini harus dipelihara dengan kasih persaudaraan. Di satu pihak, kasih persaudaraan adalah hasil, akibat dari persekutuan ilahi; di pihak lain, kasih persaudaraan adalah satu kondisi, satu syarat dari persekutuan ilahi. Jadi, kasih persaudaraan adalah syarat untuk persekutuan ini, juga hasil persekutuan ini.
MENGENAL TUHAN SECARA PENGALAMAN
Kita sendiri tidak dapat menghasilkan satu kasih yang adalah syarat dan hasil persekutuan ilahi. Jalan satu-satunya bagi kita untuk mempunyai kasih semacam ini adalah mengenal Tuhan secara pengalaman dan terus-menerus. Inilah sebabnya Yohanes mengatakan dalam 2:3, “Dan dalam hal ini kita tahu bahwa kita mengenal Dia, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintahNya”(Tl.). Ini mengacu kepada pengenalan kita secara pengalaman terhadap Allah dalam kehidupan kita sehari-hari, satu pengenalan yang berhubungan dengan persekutuan kita yang akrab dengan Dia.
MENURUTI FIRMAN TUHAN
Dalam 2:4 Yohanes selanjutnya berkata, “Siapa yang berkata, ‘aku mengenal Dia’, tetapi ia tidak menuruti perintahNya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.” Menurut 2:3-4, mengenal Allah meli-puti menuruti perintah-perintahNya. Lalu dalam ayat 5 Yohanes membicarakan tentang menuruti firmanNya. “Firman” dalam ayat 5 sinonim dengan “perintah” dalam ayat 3-4. “Perintah-perintah” menekankan perintah; “firman” menyiratkan roh dan hayat sebagai suplai bagi kita (Yoh. 6:63).
Menerima firman Tuhan tidak lain berarti menerima suplai hayat ilahiNya. Suplai ini selalu terkandung di dalam firman Tuhan dan disampaikan kepada kita oleh firmanNya. Karena itu, firman Tuhan adalah satu saluran yang melaluinya suplai hayat yang ilahi mencapai kita. Contohnya, listrik mengalir dari pusat pembangkit ke dalam satu gedung melalui kabel-kabel. Kita dapat mengatakan bahwa kabel-kabel adalah wadah listrik dan sarana yang melaluinya listrik disampaikan dari pusat pembangkit ke dalam suatu gedung. Firman Tuhan dapat dibandingkan dengan kabel listrik ini. Sebagaimana listrik berasal dari pusat pembangkit ke dalam suatu gedung dengan melewati kabel-kabel, demikian juga listrik surgawi mengalir ke dalam kita melalui saluran firman Tuhan.
Kita semua harus mengenal Tuhan secara pengalaman. Dalam pengenalan kita akan Dia, kita perlu menerima firmanNya agar dapat menerima suplaiNya. Karena firman Tuhan adalah saluran yang membawakan kepada kita suplai ilahi, kita perlu menerima firmanNya ke dalam kita dengan cara yang hidup. Inilah sebabnya saya mendorong kalian untuk mendoabacakan firman Allah.
TERANG DAN KASIH
Suplai ilahi yang datang kepada kita melalui firman mempunyai satu ekspresi khusus, dan ekspresi ini adalah terang ilahi. Setiap kali kita menerima firman Tuhan ke dalam kita, esens suplai ilahi masuk dengan terang sebagai ekspresinya. Ketika suplai datang, terang datang bersamanya. Dari pengalaman kita tahu bahwa setiap kali kita menerima firman Tuhan, kita mempunyai terang. Terang adalah esens ekspresi Allah. Di dalam terang, yaitu di dalam esens ekspresi Allah, kita mempunyai kasih sebagai esens diri Allah. Inilah cara untuk menikmati kasih Allah. Kita menerima firman, terang datang. Setiap kali terang datang, dengan spontan ada kasih.
Dengan kasih yang kita nikmati di dalam terang ilahi ini, kita pertama-tama mengasihi Allah. Kita mengasihi Dia bukan dengan kasih kita sendiri, dengan kasih alamiah kita, tetapi dengan kasihNya sendiri yang kita alami dan nikmati. Tidak hanya demikian, ketika kita mengasihi Allah, kita juga mengasihi setiap orang yang dilahirkan oleh Dia. Ini berarti bila kita mengasihi Bapa, kita mengasihi anak-anakNya. Jadi, dengan cara inilah kita mengasihi saudarasaudara. Karena kita mengasihi saudara-saudara, kita dengan spontan mempunyai keinginan untuk mengambil bagian dalam hidup gereja. Khususnya, kita ingin bersidang.
Bila kita menerima firman Tuhan melalui doabaca, kita menerima terang. Lalu di dalam terang kita mempunyai kasih terhadap Allah dan terhadap semua orang beriman. Akan tetapi, jika kita tidak menerima firman dan dengan demikian tidak di dalam terang, juga tidak ada kasih, kita mungkin acuh tak acuh terhadap kaum saleh dan terhadap hidup gereja. Ketika kita bertemu seorang saudara di dalam Tuhan, kita mungkin tidak ingin menyalaminya dengan hangat. Tetapi bila kita menerima firman dan berada di dalam terang, dengan spontan kita mengalami kasih Allah. Kita mempunyai perasaan yang kuat di dalam bahwa kita mengasihi Tuhan. Lalu jika kita bertemu dengan seorang saudara, kita akan mempunyai perasaan bahwa dia patut disayangi dan kita mengasihi dia. Tanggapan kita kepadanya adalah satu tanggapan kasih. Bukannya bersikap dingin atau acuh tak acuh, sebaliknya kita akan mempunyai satu perasaan hangat yang sejati terhadap dia.
KASIH, PERSEKUTUAN, DAN HIDUP GEREJA
Untuk memiliki persekutuan bagi hidup gereja, kita memerlukan kasih persaudaraan. Jika kita ingin mempunyai kasih ini, kita perlu mengenal Tuhan secara pengalaman. Sebagai orang yang mengenal Tuhan, kita perlu menerima firmanNya sekali demi sekali. Bila kita menerima firman, kita menerima terang. Di dalam terang ini kita dengan spontan mempunyai kasih. Kasih ini adalah satu petunjuk yang kuat bahwa kita juga mempunyai diri Tuhan sendiri, karena kasih adalah esens diri Allah. Sebagaimana terang adalah hakiki ekspresi Allah, kasih adalah hakiki diri Allah. Ini berarti bila kita mempunyai kasih Allah, kita sebenarnya mempunyai Allah sendiri. Dengan kasih ini, kasih ilahi yang kita alami dan nikmati, kita mengasihi Allah dan anak-anakNya. Bila kita mempunyai kasih ini terhadap Allah dan ter-hadap anak-anak Allah, kita mempunyai hidup gereja. Seperti yang telah kita tunjukkan, kasih ini sebenarnya adalah hidup gereja.
Kasih adalah satu syarat persekutuan ilahi dan hasil dari mengalami persekutuan ini. Kasih yang dihasilkan dari terang ilahi, terang yang datang bila kita menerima firman Tuhan di dalam pengenalan kita akan Dia, adalah persekutuan bagi hidup gereja. Semoga kita semua mempunyai kasih ini, kasih Allah, disempurnakan di dalam kita sehingga kita dapat memelihara persekutuan ilahi bagi hidup gereja.