SYARAT-SYARAT PERSEKUTUAN ILAHI (8)
Pembacaan Alkitab: 1 Yoh. 2:3-6
Dalam berita ini kita akan melanjutkan membahas 1 Yohanes 2:3-6.
Kita telah nampak bahwa 1 Yohanes 2:1-2 adalah satu penutup dari perkataan dalam 1:5-10 mengenai pengakuan dosa kita dan pengampunan Allah atas dosa kita. Pengakuan dosa kita adalah syarat pertama dari kenikmatan kita atas persekutuan hayat Allah. Menurut 2:3-11, syarat kedua adalah kita menuruti firman Tuhan dan mengasihi saudarasaudara.
TANDA YANG MENYATAKAN
BAHWA KITA ADA DI DALAM TUHAN
Dalam 2:5 Yohanes mengatakan, “Tetapi siapa yang menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Dia.” Kata “dengan itulah” dalam kalimat terakhir mengacu kepada masalah menuruti firman Tuhan dan membiarkan kasih Allah disempurnakan di dalam kita. Frase “di dalam Dia” mengacu kepada diri kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Ini adalah ungkapan yang tegas, yang menekankan fakta bahwa kita bersatu dengan Tuhan.
Jika kita membaca konteks ayat-ayat ini, kita akan memahami bahwa kita perlu sekali mempunyai satu tanda yang menunjukkan bahwa kita ada di dalam Tuhan. Bagai-mana kita dapat membuktikan bahwa kita ada di dalam Allah Tritunggal? Apakah tandanya bahwa kita benar-benar di dalam Dia? Tanda pertama yang menunjukkan kita ada di dalam Dia adalah kita mengenal Allah secara pengalaman dalam kehidupan kita sehari-hari.
Ketika Yohanes berbicara mengenai mengenal Allah (ayat 3), dia berbicara tentang mengenal Dia tidak secara doktrinal, melainkan secara pengalaman, dengan menuruti perintah-perintahNya. Kita tidak boleh hanya mengenal secara doktinal saja bahwa Allah itu Mahakuasa dan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi. Kita perlu mengenal Allah dalam pengalaman sehingga mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Orang lain mungkin heran mengapa Anda tidak berbagian dalam hiburan duniawi tertentu. Alasan Anda tidak berbagian dalamnya haruslah karena Anda mengenal Allah, karena Anda mengenal Dia dalam sifat-Nya yang kudus. Karena sifat kudus Allah tidak mengizinkan Anda berbagian dalam hiburan semacam itu, maka Anda menahan diri untuk melakukannya. Demikian juga, jika kita mengenal Allah dalam sifatNya, ini akan mempengaruhi cara kita berbelanja. Mengenal Allah secara demikian juga akan membuat kita menjadi tulus dalam berhubungan dengan orang lain. Karena kita mengenal Tuhan dalam sifatNya yang tulus, kita tidak akan berpolitik. Karena itu, alasan kita berperilaku dan membawa diri secara demikian seharusnya bukan ka-rena kita menuruti ajaran Alkitab secara luaran, tetapi ter-lebih karena kita mengenal sifat dan karakter Allah dan hidup menurut apa adanya Allah.
Kadang-kadang orang lain mungkin mencoba meya-kinkan Anda bahwa Anda tidak perlu terlalu ketat dalam kehidupan Anda. Mereka mungkin mengatakan, misalnya, “Tidak ada salahnya menggunakan waktu untuk mencari hiburan.” Anda boleh menjawab mereka dengan mengatakan, “Aku tidak memandang ini sebagai masalah benar atau salah. Kesaksianku adalah aku mengenal Allahku. Aku mempunyai satu Allah yang hidup yang berhuni di dalamku, dan aku ada di dalam Dia dan bersatu denganNya secara organik. Ini berarti sifatNya menjadi sifatku dan apa adanya Dia menjadi susunanku. Akibatnya, aku mengenal Dia secara subyektif dan pengalaman. Inilah alasannya aku tidak dapat mem-bawa diri dalam cara yang sama dengan yang dilakukan oleh orang lain. Orang-orang yang tidak percaya tidak memiliki Dia, dan tentu saja, mereka tidak mengenal Dia atau mengalami Dia. Tahukah kalian mengapa aku berkelakuan seperti ini? Ini karena aku memiliki Dia, mengenal Dia, dan me-nikmati Dia. Tuhan bukan hanya hayatku Dia adalah segala sesuatuku. Aku tidak hidup menurut peraturan atau syarat-syarat tertentu. Ini adalah satu masalah hayat ilahi di dalamku. Tuhan berhuni di dalamku, dan aku mengenal Dia secara pengalaman.”
CITA RASA SIFAT ILAHI
Berada di dalam Tuhan Yesus Kristus adalah bersatu denganNya secara organik. Ini bukan hanya bersatu dengan Dia secara doktrinal. Bila kita secara organik bersatu dengan Tuhan, Dia adalah hayat kita dan bahkan menjadi sifat kita.
Setiap macam hayat mempunyai sifat yang khusus. Sifat hayat ilahi memiliki semacam cita rasa. Karena kita mem-punyai Tuhan sebagai hayat kita dan karena kita menikmati sifatNya, kita juga mempunyai cita rasa yang berasal dari sifat ilahi itu. Akan tetapi, seseorang yang tidak mempunyai sifat ilahi tidak dapat mempunyai cita rasa ilahi. Tetapi karena kita mempunyai cita rasa sifat ilahi, kita tidak dapat melakukan hal-hal tertentu.
Sebagai ilustrasi tentang apakah yang kita maksud dengan cita rasa sifat ilahi, kita dapat memperhatikan apa yang terjadi bila sesuatu yang pahit diletakkan di dalam mulut seorang bayi. Tidak perlu mengajar anak itu untuk tidak makan sesuatu yang pahit. Begitu satu benda yang pahit diletakkan di dalam mulut seorang bayi, dia akan segera memuntahkannya. Anak itu tidak melakukannya menurut peraturan-peraturan yang diajarkan dari ibunya. Ibunya tidak perlu mengajar bayinya untuk tidak makan benda-benda yang pahit. Dalam hayat anaknya ada satu sifat yang menolak benda-benda yang pahit. Dengan cara yang sama, dalam sifat ilahi ada satu cita rasa khusus yang me-nyebabkan kita menolak hal-hal yang bertentangan dengan sifat “Orang” yang hidup di dalam kita.
MENGENAL ALLAH SECARA SUBYEKTIF
Kita tidak mengenal Allah hanya secara obyektif, doktrinal semata. Itu adalah cara orang Yahudi mengenal Allah. Mereka mengenal Allah secara obyektif, terlepas dari pengalaman subyektif atas Dia. Ini berarti mereka tidak mempunyai pengalaman batiniah tentang Allah yang subyektif. Tetapi sebagai orang yang telah dilahirkan dari Allah dan yang memiliki hayat Allah, kita mengenal Dia tidak hanya secara obyektif, tetapi khususnya kita mengenal Dia secara subyektif dan pengalaman.
Karena kita mengenal Allah secara demikian, kita tidak dapat mengatakan hal-hal tertentu, melakukan hal-hal tertentu, atau pergi ke tempat-tempat tertentu. Orang lain bahkan memfitnah dan menuduh kita dengan tidak benar. Akan tetapi, karena kita mengenal Allah secara subyektif, sering kali kita tidak mempunyai satu keinginan untuk mem-benarkan diri sendiri atau membantah untuk membela diri. Tidak peduli apa yang dikatakan orang lain, kita tahu bahwa kita mempunyai hayat ilahi. Kita mempunyai Allah di dalam kita sebagai hayat dan sifat kita. Akhirnya, Orang yang ber-huni ini akan diekspresikan di dalam karakter dan sikap kita. Dengan demikianlah kita mengenal Allah secara pengalaman, dan pengenalan ini adalah satu tanda yang kuat bahwa kita ada di dalam Dia dan bersatu dengan Dia.
Dalam kelakuan dan cara kita berbicara, kita harus mengemban satu tanda bahwa kita ada di dalam Allah. Kita tidak seharusnya berbicara dengan orang lain seperti yang dilakukan oleh orang yang tidak percaya. Jika suami atau istri Anda, anak-anak Anda, tetangga Anda, teman sekelas atau teman sekerja Anda tidak dapat melihat satu tanda bahwa Anda berperilaku menurut pengalaman atas Allah, patut dipertanyakan apakah Anda benar-benar di dalam Allah atau tidak. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa mereka yang ada di dalam pemulihan Tuhan mempunyai kesaksian dalam kehidupan mereka sehari-hari bahwa mereka ada di dalam Allah. Kita mengemban satu tanda bahwa kita ada di dalam Allah, meskipun kadang-kadang kita lemah dan meninggalkan Dia. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa kita mempunyai beberapa bukti, beberapa tanda dalam kehidupan kita sehari-hari bahwa kita ada di dalam Allah. Tanda ini adalah satu petunjuk bahwa kita mengenal Tuhan dalam pengalaman. Karena kita mengenal Dia dalam pengalaman, dengan spontan kita menuruti perintah-perintah-Nya.
TINGGAL DI DALAM DIA
Dalam 2:6 Yohanes selanjutnya berkata, “Siapa yang mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” Berada di dalam Kristus adalah permulaan hidup kristiani; Allahlah yang melakukan hal ini sekali untuk selamanya (1 Kor. 1:30). Tinggal di dalam Kristus adalah kelanjutan kehidupan kristiani, adalah tang-gung jawab kita dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan yang merupakan kembaran hidup Kristus di bumi.
Karena Allah telah meletakkan kita di dalam Kristus sekali untuk selamanya, maka kita sekarang harus memikul tanggung jawab untuk tinggal di dalam Dia. Tinggal di dalam Dia sebenarnya adalah mempunyai persekutuan dengan Dia. Di pihak negatifnya, kita dituntut untuk menanggulangi dosadosa kita; di pihak positif, kita dituntut menuruti firman-Nya.
MENGASIHI ALLAH DAN SAUDARA-SAUDARA
Menurut konteks ayat ini, firman Tuhan di sini mengacu kepada perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya adalah mengasihi Allah dan mengasihi saudara. Kita mengasihi Bapa yang melahirkan kita, dan kita mengasihi anak-anak-Nya, semua yang dilahirkan dari Dia.
Ketika kita tinggal di dalam Tuhan, mempunyai persekutuan dengan Dia, dengan spontan menghasilkan kasih terhadap Allah dan terhadap saudara. Karena itu, syarat yang kedua, tuntutan yang kedua dari persekutuan adalah kita mengasihi Allah dan saudara.
Dalam bahasa Yunani kata “kasih” dalam ayat 5 adalah “agape”. Kata ini menyatakan satu kasih yang lebih tinggi dan lebih terhormat daripada phileo (kasih manusia). Dalam surat ini, hanya “agape” dengan bentuk kata kerjanya yang dipakai untuk kasih. Dalam ayat ini “kasih Allah” menya-takan kasih kita terhadap Allah, yang dihasilkan oleh kasihNya di dalam kita. Kasih Allah, firman Tuhan, dan diri Allah, semuanya saling berhubungan. Jika kita menuruti firman Tuhan, kasih Allah sudah disempurnakan di dalam kita. Ini sepenuhnya merupakan perkara hayat ilahi, yaitu diri Allah sendiri.
Kasih Allah adalah esens batiniNya, dan firman Tuhan menyuplai kita dengan esens ilahi ini, yang dengannya kita mengasihi saudara. Firman sendiri bukanlah esens atau substansi ini. Firman adalah sesuatu yang menyampaikan esens ini dan menyuplaikannya kepada kita. Karena itu, firman menyuplai kita dengan esens Allah, yang adalah kasih ilahi. Akibatnya, kita mempunyai sesuatu yang nyata di dalam kita agar kita dapat mengambil bagian di dalamnya dan menikmatinya. Ini berarti akhirnya esens Allah menjadi kenikmatan kita. Kemudian dari kenikmatan ini akan keluar satu hasil kasih kita terhadap Allah dan anak-anak-Nya.
TIDAK MENGASIHI DENGAN KASIH ALAMIAH KITA
Kita tidak seharusnya mengasihi Allah dan anak-anak-Nya dengan kasih alamiah kita. Sebaliknya, kasih alamiah kita perlu diletakkan di atas salib. Kita harus mengasihi Allah dan anak-anakNya dengan kasih ilahi, kasih yang disampaikan kepada kita melalui firman Tuhan dan yang men-jadi pengalaman dan kenikmatan kita.
Hari ini banyak orang Kristen memahami Alkitab secara alamiah, agamawi, atau etika, khususnya mengenai syarat untuk mengasihi Allah, saudara-saudara, dan sesama kita. Sejak muda saya telah mendengar tentang mengasihi sau-dara dan mengasihi sesama kita. Hari ini orang-orang Kristen sering membicarakan tentang mengasihi saudara dan me-ngasihi sesama kita. Suatu kali ketika saya di Houston untuk satu pertemuan, seorang wanita datang kepada saya setelah sidang dan berkata dengan keras, “Orang-orang di Amerika Serikat tidak tahu mengasihi orang lain. Anda harus pergi ke setiap tempat dan mengajar orang-orang Kristen untuk saling mengasihi.”
Ya, Alkitab memang mengatakan bahwa kita harus saling mengasihi dan kita harus mengasihi sesama kita seperti diri sendiri. Akan tetapi, Allah tidak bermaksud menyuruh kita mengasihi orang lain dengan kasih alamiah kita. Sebaliknya, Allah menginginkan kita mengasihi Dia dan anak-anakNya dengan kasih ilahi yang telah kita nikmati.
KASIH ALLAH MENJADI KASIH KITA
Inilah alasannya ayat 5 mengatakan bahwa kasih Allah telah sempurna di dalam kita. Di satu pihak, kasih ini adalah kasih Allah; di pihak lain, kasih ini, setelah dialami dan dinikmati oleh kita, menjadi kasih kita terhadap Allah dan saudara-saudara.
Bagaimana kasih kita terhadap Allah dapat disebut kasih Allah? Karena kasih ini bukanlah kasih kita, tetapi adalah kasih Allah. Akan tetapi, ini bukanlah kasih Allah yang obyektif; ini adalah kasih Allah yang kita alami secara subyektif. Inilah kasih Allah menjadi kasih kita melalui pengalaman dan kenikmatan kita atas Dia. Demikian kasih ini menjadi kasih kita terhadap Allah dan saudara-saudara.
Allah menghendaki kita mengasihi Dia dengan kasih-Nya. Dia juga menghendaki kita mengasihi anak-anakNya, dan bahkan seluruh orang dunia, dengan kasihNya. Pertama-tama kita perlu menikmati kasih Allah dan mengalami kasihNya sampai satu tingkat di mana kasih Allah yang memenuhi kita, menjenuhi kita, dan menjadi esens kita, menyebabkan kita diresapi dengan kasih Allah. Kemudian dengan kasih ini kita akan mengasihi Allah, kita akan me-ngasihi anak-anak Allah, dan kita akan mengasihi semua orang. Kita tidak mengasihi mereka dengan kasih alamiah kita; kita mengasihi mereka dengan kasih Allah yang telah kita alami dan nikmati. Puji Tuhan atas kasih yang ajaib ini! Inilah kasih yang diwahyukan dalam Surat 1 Yohanes.
Pengalaman atas kasih Allah ini sepenuhnya adalah perkara di dalam persekutuan dalam hayat Allah. Jika kita tidak menikmati Allah di dalam persekutuan hayat Allah, kita tidak dapat memiliki kasih semacam ini.
MENGASIHI ORANG LAIN DENGAN KASIH ALLAH
Jika kita mengalami kasih Allah, kita akan mempunyai pemahaman yang dalam bahwa kasih alamiah kita adalah satu hal dan kasih Allah yang menjadi kasih kita melalui pengalaman adalah satu hal lain yang sangat berbeda. Satu perbedaan antara kasih Allah dengan kasih alamiah kita adalah kasih alamiah kita sangat mudah disakiti.
Bila kita mengasihi orang lain, kita menjadi terlibat dengan mereka. Karena itu, sering terjadi orang yang kita kasihi secara alamiah akhirnya menjadi musuh kita. Karena kasih alamiah dapat berakibat demikian, orang yang bijak-sana secara insani sangat lamban dan berhati-hati dalam mengasihi orang lain. Mereka menyadari bahwa jika kita mengasihi orang lain secara bodoh, cepat atau lambat kasih itu akan menyebabkan masalah. Banyak perceraian dan per-pisahan adalah akibat dari kasih alamiah yang bodoh yang dengan mudah menyakiti dan mengarah kepada permusuhan. Contohnya, seorang laki-laki dan perempuan mungkin saling mengenal hanya dalam waktu singkat. Tidak lama kemudian mereka menikah. Lalu hanya dalam waktu yang sangat singkat, mereka berpisah atau bercerai. Pada mulanya mereka saling mengasihi, tetapi tidak lama setelah mereka menikah, mereka menjadi musuh. Inilah akibat saling mengasihi secara alamiah. Jika mereka tidak pernah saling mengasihi secara alamiah, mereka tidak akan menjadi musuh.
Tidaklah mungkin Anda akan menganggap seorang yang tidak Anda kenal yang Anda lihat di jalan sebagai musuh Anda. Siapa saja yang menjadi musuh Anda adalah mereka yang sering Anda kasihi secara alamiah. Inilah se-babnya beberapa orang memakai kebijaksanaan insaninya untuk berhati-hati dalam mengasihi orang lain. Mereka me-nyadari bahwa mengasihi orang lain secara alamiah akan menimbulkan masalah. Untuk menghindari masalah ini, mereka sangat lamban dalam mengasihi orang lain.
Yang penting adalah kita perlu berhati-hati, tidak me-ngasihi orang lain dengan kasih alamiah kita, melainkan, kasih alamiah kita harus diletakkan di atas salib. Kita perlu mengasihi orang lain dengan kasih Allah yang telah kita alami dan nikmati. Jika kita mengalami kasih Allah, kita akan mengasihi Allah dengan kasih ini. Kita juga akan me-ngasihi saudara-saudara dengan kasih yang sama ini. Kasih semacam ini tidak menyebabkan masalah. Semoga kita se-mua nampak bahwa kita perlu mengasihi Allah dan orang lain dengan kasih Allah yang telah menjadi pengalaman dan kenikmatan kita.
PERBENDAHARAAN KATA YANG MENDASAR DARI YOHANES
Sejauh ini, dalam berita-berita ini kita telah membahas 16 ayat dari 1Yohanes, 10 ayat dari pasal 1 dan 6 ayat dari pasal 2. Dalam ayat-ayat ini kita dapat melihat banyak butir dari perbendaharaan kata yang mendasar dari Yohanes: Firman, hayat, Bapa, Anak, persekutuan, sukacita, terang, kebenaran, kesetiaan Allah, keadilan Allah, pengakuan, pengampunan, penyucian, dan darah. Semua butir ini bersifat positif. Di pihak negatifnya, kita mempunyai dosa, dosa-dosa, kejahatan, kegelapan, dan dusta. Semua istilah ini terdapat dalam pasal 1. Dalam pasal 2 kita mempunyai pengacara, kurban pendamaian, firman atau perintah, dan kasih. Saya anjurkan Anda mendoa-bacakan semua istilah ini. Semakin banyak kita mendoa-bacakannya, semakin banyak kita akan menyadari betapa kayanya hal-hal ini. Puji Tuhan atas darah, kesetiaan Allah, keadilan Allah, pengampunanNya, dan penyucianNya! Puji Dia atas firman, hayat, persekutuan, sukacita, terang, dan kebenaran! Puji Dia juga atas penga-cara, kurban pendamaian, firman sebagai perintah, dan kasih Allah!