SYARAT-SYARAT PERSEKUTUAN ILAHI (7)
Pembacaan Alkitab: 1Yoh. 2:3-6
Sebelum kita membahas 2:3-6, saya ingin mengatakan sepatah kata lagi mengenai pendamaian. Dalam 2:2 Yohanes mengatakan, “Dialah (kurban) pendamaian untuk segala dosa kita dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.” Menurut arti alkitabiahnya, pendamaian memimpin kepada kenikmatan, karena pendamaian mengantarkan persekutuan antara Allah dengan kita. Menurut perkataan Paulus dalam Roma 3:25, Allah telah menyatakan Kristus sebagai tutup pendamaian melalui iman di dalam darah-Nya. Ini menunjukkan bahwa Kristus bukan hanya Seorang yang menggenapkan pendamaian, tetapi juga adalah tempat pendamaian. Kristus sebagai tempat pendamaian adalah tempat di mana Allah dan umat tebusanNya dapat bercakap-cakap, bersekutu, dan saling menikmati.
Dalam suratnya yang pertama Yohanes menunjukkan bahwa persediaan Allah tidak hanya meliputi darah Yesus serta keadilan dan kesetiaan Allah, tetapi juga meliputi Pengacara yang membela kasus kita dengan Bapa dan Dia sendiri adalah kurban pendamaian kita, pendamai kita. Kristus sendiri sebenarnya adalah pendamaian antara Allah dengan kita. Pendamaian ini adalah tumpuan yang di atasnya kita dan Allah dapat bercakap-cakap, mempunyai persekutuan, dan saling menikmati.
Dalam bagian pertama tentang syarat-syarat persekutuan ilahi (1:5-10), masalah yang mempengaruhi persekutuan kita adalah dosa. Jika kita berdosa, kita perlu mengaku. Jika kita mengakui dosa-dosa kita, darah Yesus akan menyucikan kita dari dosa-dosa kita. Kemudian dalam kesetiaan dan keadilan-Nya, Bapa akan mengampuni dosa-dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Lagi pula, Tuhan Yesus akan menjadi Pengacara dengan Bapa untuk menangani kasus kita. Akhirnya, Sang mustika ini akan menjadi pen-damaian kita dan dengan demikian menjadi dasar, tumpuan, di mana kita menikmati Allah dan bersekutu dengan Dia dan Dia dengan kita.
Kita dapat memakai satu contoh dari kehidupan keluarga sebagai satu ilustrasi tentang bagaimana Kristus sebagai kurban pendamaian kita memulihkan persekutuan yang menyenangkan antara kita dengan Bapa. Seandainya anak-anak dalam satu keluarga menyakiti hati ayah mereka dengan tidak menaatinya. Akibatnya, persekutuan mereka dengan sang ayah terputus. Akan tetapi, anak-anak itu bertobat dan mengaku kepada sang ayah, dan sang ayah mengampuni mereka. Namun, situasinya masih belum sepenuhnya menyenangkan. Kemudian sang ibu dapat masuk sebagai pendamai, sebagai orang yang membantu semua pihak menjadi penuh damai dan senang. Dia mungkin menyiapkan sesuatu untuk dimakan sekeluarga sehingga mereka dapat mempunyai satu waktu yang menggembirakan bersama-sama. Ini adalah satu ilustrasi tentang apa yang Kristus lakukan sebagai kurban pendamaian kita. Setelah kita mengakui dosa-dosa kita dan disucikan oleh darah dan diampuni oleh Bapa, Tuhan menangani kasus kita dengan Bapa dan kemudian menjadi kenikmatan yang menenteramkan Bapa. Inilah Kristus sebagai kurban pendamaian kita.
Kalau kita memperhatikan masalah ini, kita akan me-nyadari bahwa ini bukan hanya satu doktrin, tetapi adalah sesuatu yang sangat bersifat pengalaman. Dari pengalaman kita tahu bahwa bila kita mengakui dosa-dosa kita, kita mempunyai perasaan bahwa darah itu telah membersihkan kita dan Bapa telah mengampuni kita. Dengan segera, juga ada satu perasaan nikmat. Kenikmatan ini adalah Kristus sebagai kurban pendamaian kita. Dengan kenikmatan ini, dengan Kristus sebagai pendamaian kita, kita dapat bercakap-cakap dengan Allah dan Dia dengan kita, dan bersama-sama kita dapat menikmati Kristus dan mempunyai persekutuan dengan Kristus. Karena itu, Kristus adalah kenikmatan bagi kita di hadapan Allah sebagai kurban pendamaian. Akhirnya, Dia menjadi tumpuan dari persekutuan kita dengan Bapa. Dengan cara inilah persekutuan kita, yang terputus karena dosa, dapat dipulihkan. Puji Tuhan bahwa dengan kelima persediaan-Nya — darah, kesetiaan dan keadilan Allah, peng-acara, dan kurban pendamaian — kita dipulihkan kepada persekutuan yang penuh dengan Allah!
SYARAT KEDUA UNTUK MEMELIHARA PERSEKUTUAN ILAHI
Satu Yohanes 2:1-2 adalah penutup dari perkataan dalam 1:5-10 mengenai pengakuan kita dan pengampunan Allah atas dosa-dosa kita, yang mengganggu persekutuan kita dengan Dia. Itulah syarat pertama, tuntutan pertama untuk kenikmatan kita atas persekutuan hayat ilahi. Ayat 3-11 membahas syarat kedua, tuntutan kedua untuk persekutuan kita dengan Allah, yaitu menuruti firman Tuhan dan mengasihi saudara-saudara.
Dalam ayat 3 Yohanes berkata, “Dan dalam hal ini kita tahu bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintahNya” (Tl.). Sangatlah bermakna bahwa ayat ini dimulai dengan kata sambung “dan”. kata sambung ini digunakan pada awal kalimat menyatakan bahwa Yohanes hendak berbicara mengenai syarat yang lain untuk memelihara persekutuan kita.
Kita telah nampak bahwa syarat pertama dari persekutuan ilahi adalah menanggulangi dosa. Jika kita tidak menanggulangi dosa, dosa akan merusak persekutuan kita. Karena itu, agar dapat memelihara persekutuan kita dengan Bapa, kita perlu mengakui dosa-dosa kita. Ini tidak hanya benar secara doktrinal, tetapi juga benar menurut pengalaman rohani kita. Dari pengalaman kita tahu bahwa untuk memelihara kenikmatan kita atas hayat Allah dalam persekutuan, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menanggulagi dosa. Jadi, menanggulangi dosa adalah syarat pertama, tuntutan pertama untuk menjaga diri kita tetap di dalam persekutuan hayat Allah. Sekarang karena Yohanes melanjutkan membahas syarat kedua, dia memulai ayat 3 dengan kata sambung “dan”. Kata ini menerangkan syarat yang lain, tuntutan yang lain, untuk memelihara persekutuan ilahi.
MENGENAL ALLAH DALAM PENGALAMAN
Dalam ayat 3 Yohanes berkata, “Dalam hal ini kita tahu bahwa kita mengenal Dia” (Tl.). Dalam bahasa Yunani kata “mengenal” dalam ayat ini juga dapat diterjemahkan “memahami”. Di sini artinya adalah memahami bukan secara doktrin, melainkan dalam pengalaman melalui menuruti perintah-perintah Tuhan.
Kata Yunani yang diterjemahkan “mengenal Dia” secara harfiah berarti “mulai mengenal Dia”. Ini menyatakan bahwa kita sudah mulai mengenal Dia, dan bahwa kita terus mengenal Dia sampai saat ini. Ini mengacu kepada pengenalan kita terhadap Allah berdasarkan pengalaman dalam hidup kita sehari-hari dan berhubungan dengan persekutuan kita yang akrab dengan Dia.
Pengenalan kita akan Tuhan telah dimulai dan terus berlanjut. Pengenalan yang berkelanjutan akan Tuhan ini adalah satu pengenalan secara pengalaman. Jika kita me-ngenal Tuhan dalam pengalaman, kita pasti akan menuruti perintah-perintah-Nya.
MENURUTI PERINTAH-NYA
Dalam ayat 4 Yohanes selanjutnya mengatakan, “Siapa yang berkata, ‘Aku mengenal Dia’, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta, dan di dalamnya tidak ada kebenaran.” Dalam ayat ini kebenaran menyatakan realitas Allah yang disalurkan dan diwahyukan dari firman ilahi. Ini mewahyukan bahwa setelah kita mengenal Tuhan, kita harus menuruti perintah-perintahNya. Jika kita mengatakan bahwa kita telah mengenal Tuhan, tetapi kita tidak menuruti perintah-perintahNya, maka kebenaran (realitas) itu tidak ada di dalam kita, dan kita menjadi pendusta.
Ketika saya masih muda, saya dibingungkan dengan kata “diperintah” dalam ayat-ayat ini. Saya mengira istilah ini selalu mengacu kepada Sepuluh Perintah dari hukum Taurat Musa, dan saya heran mengapa Yohanes di sini menyebutkan hukum Taurat ini, menyuruh kita menuruti kesepuluh perintah itu. Sebenarnya, perintah dalam ayat ini adalah perintah dalam Perjanjian Baru, bukan perintah dari hukum Taurat Musa. Perintah Perjanjian Baru ini adalah perintah Tuhan Yesus yang diberikan secara langsung oleh-Nya, atau perintah yang diberikan melalui para rasul. Dalam Injil Yohanes, Tuhan memberi kita perintah yang tegas untuk saling mengasihi, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh. 13:34). Perintah saling mengasihi ini diberikan oleh Tuhan Yesus sendiri. Jadi, ini bukanlah satu perintah Perjanjian Lama, melainkan satu perintah Perjanjian Baru. Perintah-perintah Perjanjian Baru yang lainnya diberikan oleh Tuhan Yesus secara tidak langsung melalui rasul-rasul-Nya.
Jika kita mengatakan bahwa kita mengenal Tuhan dalam pengalaman menurut Perjanjian Baru, kita harus menuruti perintah-perintah Perjanjian Baru. Tetapi jika kita tidak menuruti perintah-perintah ini, ini menyatakan bahwa sesungguhnya kita tidak mengenal Dia, meskipun kita me-ngatakan mengenal. Menurut perkataan Yohanes dalam ayat 4, jika kita mengatakan bahwa kita telah mengenal Dia, tetapi tidak menuruti perintah-perintah-Nya, kita adalah pendusta, dan kebenaran tidak ada di dalam kita.
MENURUTI FIRMAN-NYA
Dalam ayat 5, Yohanes melanjutkan, “Tetapi siapa yang menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Dia.” Firman di sini bersinonim dengan “perintah-perintah” dalam ayat 3-4, meliputi semua perintah. “Perintah-perintah” menekankan instruksi-instruksi, “firman” menyiratkan roh dan hayat sebagai suplai bagi kita (Yoh. 6:63).
Firman dalam ayat 5 adalah totalitas, jumlah dari semua perintah. Tidak peduli berapa banyak perintah yang ada, secara keseluruhan perintah-perintah ini adalah firman Tuhan. Sebab itu, dalam ayat 5 Yohanes membicarakan tentang menuruti firman-Nya. Maksudnya, kita harus menuruti firman yang diucapkan baik oleh Tuhan sendiri secara langsung atau yang diucapkan melalui para rasul.
KASIH ALLAH SEMPURNA DI DALAM KITA
Dalam ayat 5 Yohanes mengatakan bahwa di dalam orang yang menuruti firman Tuhan, kasih Allah telah sempurna. Dalam ayat ini kata “kasih” dalam bahasa Yunaninya adalah “agape”. Kata ini menyatakan kasih yang lebih tinggi dan lebih terhormat daripada phileo (lihat catatan 71 dan 72dalam 2Petrus 1 versi pemulihan), kasih sayang manusia. Dalam surat ini, hanya istilah ini dengan bentuk kata kerjanya yang dipakai untuk kasih. Di sini “kasih Allah” menyatakan kasih kita terhadap Allah, yang dihasilkan oleh kasih-Nya di dalam kita. Kasih Allah, firman Tuhan, dan diri Allah, semuanya saling berhubungan. Jika kita menuruti firman Tuhan, kasih Allah sudah sempurna di dalam kita. Ini sepenuhnya merupakan perkara hayat ilahi, yaitu diri Allah sendiri. Kasih Allah adalah esens batini-Nya, dan firman Tuhan menyuplai kita dengan esens ilahi ini, yang dengannya kita mengasihi saudara. Karena itu, ketika kita menuruti firman ilahi, kasih ilahi disempurnakan melalui hayat ilahi yang dengannya kita hidup.
Kata “sempurna” sangatlah penting. Dalam bahasa Yunani kata “sempurna” di sini adalah teleioo, berarti melengkapi, menggenapi, menyelesaikan. Dalam diri Allah, kasih Allah itu sendiri sudah sempurna dan lengkap. Namun, dalam diri kita, kasih Allah itu perlu disempurnakan dan dilengkapi dalam penyataannya. Kasih Allah ternyata kepada kita dalam hal Allah mengutus Anak-Nya untuk menjadi kurban pendamaian dan hayat bagi kita (4:9-10). Tetapi, jika kita tidak saling mengasihi dengan kasih ini, seperti yang ternyata kepada kita, yaitu jika kita tidak menyatakannya dengan saling mengasihi berdasarkan kasih yang dengannya Allah mengasihi kita, kasih itu tidak akan ternyata dengan sempurna dan lengkap. Kasih ini sempurna dan lengkap dalam penyataannya ketika kita menyatakannya dalam hidup kita dengan membiasakan diri saling mengasihi dengan kasih ini. Hidup kita yang saling mengasihi dalam kasih Allah adalah kesempurnaan dan kelengkapan kasih ini dalam penyataannya dalam kita. Dengan demikian, dalam hidup kita dalam kasih Allah, orang lain dapat melihat Allah ternyata dalam esens kasih-Nya.
Yohanes menyimpulkan ayat 5 dengan mengatakan, “dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Dia.” Kata ganti “Dia” mengacu kepada Tuhan Yesus Kristus. Frase “di dalam Dia” adalah ungkapan yang tegas, yang me-nekankan bahwa kita bersatu dengan Tuhan. Karena kita bersatu dengan Tuhan, yang adalah Allah, maka esens kasih Allah menjadi milik kita. Esens kasih ini disuplaikan kepada kita oleh firman hayat Tuhan agar kita bertindak berdasar-kan kasih, sehingga kita dapat menikmati persekutuan hayat Allah dan tinggal dalam terang ilahi (ayat 10).
Ketika kita membaca ayat 5 kita mungkin bingung apakah kasih Allah di sini mengacu kepada kasih Allah atau kasih yang dengannya kita mengasihi Allah. Versi bahasa Mandarin membicarakan tentang kasih kita kepada Allah, atau kasih yang dengannya kita mengasihi Allah. Tetapi Alkitab versi bahasa Inggris tampaknya menyatakan bahwa Yohanes menyinggung tentang kasih Allah.
Jika kita melihat teks bahasa Yunaninya dan juga memperhatikan konteksnya, kita akan menyadari bahwa ungkapan dalam ayat 5 ini menunjukkan kasih kita terhadap Allah. Akan tetapi, kasih ini berasal dari kasih Allah yang kita nikmati. Pertama-tama kita menikmati kasih Allah; jadi, kasih Allah adalah kenikmatan kita. Kemudian kasih Allah yang kita nikmati, di dalam kita menghasilkan satu kasih yang dengannya kita mengasihi Allah. Inilah kasih Allah menjadi kenikmatan kita dan menghasilkan di dalam kita satu kasih bagi Allah. Di satu pihak, ini adalah kasih yang denganNya kita mengasihi Allah; di pihak lain kasih ini dihasilkan oleh kasih Allah, yang kita nikmati.
Sebenarnya, lebih sulit mengatakan kasih siapa yang dimaksud oleh Yohanes dalam ayat 5. Kita telah nampak bahwa kasih ini adalah kasih Allah yang kita nikmati dan juga adalah kasih yang dihasilkan di dalam kita yang de-ngannya kita mengasihi Allah. Kasih datang dari Allah ke-pada kita dan menjadi pengalaman dan kenikmatan kita. Hasilnya adalah kasih ini menghasilkan satu kasih terhadap Allah di dalam kita. Karena itu, kasih ini datang dari Allah, melewati kita, dan kembali kepada Allah. Kasih ini sungguh ajaib, dan dapat dialami!
Kasih dalam ayat 5 adalah kasih Allah bagi kita dan kasih kita bagi Allah. Inilah kasih Allah menjadi kasih kita melalui kenikmatan kita atas kasih Allah. Ketika kasih Allah menjadi kasih kita, kita mempunyai satu kasih terhadap Allah di dalam kita. Melalui pengalaman kita akan kasih Allah, kasih yang datang dari Dia sekarang kembali kepada Dia.
Kita telah menunjukkan bahwa dalam ayat 5 Yohanes berbicara tentang kasih Allah disempurnakan di dalam orang yang menuruti firman-Nya. Pada hakikatnya, kasih Allah mutlak sempurna, tidak perlu apa pun untuk menyempur-nakan kasih Allah, karena kasih-Nya telah sempurna dan lengkap. Akan tetapi, kasih Allah menjadi kasih yang de-ngannya kita mengasihi Dia, kasih semacam ini perlu di-sempurnakan. Kita mengasihi Allah dengan kasih yang dihasilkan di dalam kita melalui pengalaman kita atas kasih Allah. Meskipun kita mungkin mempunyai kasih ini dan mengasihi Allah dengan kasih ini, kasih kita masih sangat terbatas dan jauh dari sempurna. Karena itu, kasih kita terhadap Allah perlu disempurnakan. Asalkan kita bertumbuh dalam hayat Allah, kasih kita bagi Allah juga akan bertum-buh.
Kasih kita terhadap Allah sebenarnya bukanlah kasih kita sendiri. Ini tetap kasih Allah, tetapi adalah kasih Allah yang menjadi pengalaman kita dan menghasilkan satu kasih terhadap Allah di dalam kita. Melalui mengalami dan me-nikmati kasih Allah, kita mengasihi Allah. Sekarang kasih ini perlu disempurnakan.
Saya percaya bahwa kita semua yang ada dalam pemulihan Tuhan dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Allah. Tetapi kita masih perlu bertanya, sampai di mana, berapa besar kasih kita kepada Dia. Beberapa orang dari kita mungkin mempunyai kasih yang sangat besar terhadap Tuhan, tetapi kasih itu belum sempurna. Saya ingin menekankan fakta bahwa kasih Allah sendiri adalah sempurna. Tetapi kasih yang dihasilkan di dalam kita melalui pengalaman dan kenikmatan kita atas kasih Allah perlu bertumbuh, bertambah, dan disempurnakan.
Dalam mempelajari 2:5 kita mungkin mengajukan dua pertanyaan tentang kasih yang disebutkan dalam ayat ini: pertama, apakah kasih ini adalah kasih Allah atau kasih kita; kedua, mengapa kasih Allah perlu disempurnakan. Saya percaya bahwa sekarang kita mempunyai jawaban yang tepat untuk kedua pertanyaan itu.
Dalam ayat ini kasih Allah tidak disebutkan secara obyektif; Yohanes membicarakan kasih Allah secara subyektif. Di sini Yohanes menunjukkan kasih Allah menjadi kenikmatan kita untuk menghasilkan satu kasih terhadap Allah di dalam kita. Sebab itu, sekarang kita tahu bahwa kasih Allah di sini mengacu kepada kasih Allah yang kita alami dan menjadi kasih kita terhadap Allah.
Tidak hanya demikian, kita telah nampak bahwa kasih ini perlu disempurnakan. Dipandang dari sudut obyektif, kasih Allah tidak perlu disempurnakan. Tetapi dalam penga-laman, secara subyektif, kasih Allah perlu disempurnakan di dalam kita. Kasih yang dengannya kita mengasihi Allah, kasih yang dihasilkan oleh kenikmatan kita atas kasih Allah, tentu saja perlu disempurnakan. Kasih kita terhadap Allah tidak lengkap, tidak sempurna, tidak mutlak. Tidak peduli berapa besar kasih kita terhadap Allah, kasih kita masih belum sempurna. Karena itu, kita perlu membiarkan kasih kita disempurnakan oleh Allah, disempurnakan sepenuhnya.