← Daftar isi Latar Belakang dan Subyek Kitab ini · bab 23/24

KRISTUS PERLU TERBENTUK DI DALAM PARA PEWARIS JANJI

Pembacaan Alkitab: Gal. 4:8-20

Dalam berita ini kita akan membahas Galatia 4:8-20. Ayat-ayat ini menunjukkan betapa rasul Paulus berada dalam situasi yang sulit sehubungan dengan kaum beriman di Galatia. Mereka telah dibawa kepada Tuhan melalui pemberitaan Injil Paulus; Paulus dengan segenap hati memperhatikan mereka. Beban Paulus bukan ingin melaksanakan pekerjaan kekristenan, melainkan melayankan Kristus kepada kaum beriman; ia bersusah payah agar Kristus dapat terbentuk di dalam mereka (ayat 19). Mungkin saja seseorang bekerja bagi Tuhan dan membantu kaum saleh, namun tanpa berbeban untuk melayankan Kristus kepada mereka. Boleh jadi kita sangat gairah bekerja bagi Kristus, tetapi tanpa beban melihat Kristus terbentuk di dalam orang saleh. Karena itu, penting sekali kita nampak bahwa beban Paulus yang dinyatakan dalam ayat-ayat ini sama sekali berbeda dengan beban kebanyakan pekerja Kristen. Boleh jadi kita berbeban untuk mendirikan gereja lokal dan memperkuat gereja-gereja. Namun, mungkin pula kita tidak berbeban melayankan Kristus ke dalam kaum saleh. Memberitakan Injil dan mendirikan gereja adalah satu hal, memikul beban untuk melayankan Kristus ke dalam kaum saleh adalah hal lain. Beban Paulus bukan untuk suatu pekerjaan, melainkan untuk melayankan Kristus ke dalam kaum beriman. Inilah sebabnya dalam 4:8-20 Paulus menggunakan ungkapan-ungkapan intim, yaitu ungkapan-ungkapan yang memperlihatkan keakraban hubungannya dengan kaum beriman Galatia serta kasih sayangnya terhadap mereka. Baiklah sekarang kita membahas 4:8-20 ayat demi ayat.

DIPERHAMBA DAN DITIPU

Ayat 8 mengatakan, “Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhamba diri kepada ilah-ilah yang pada hakikatnya bukan Allah.” Ilah-ilah, berhala-berhala, tidak memiliki sifat ilahi. Mereka dianggap Allah oleh para pemuja mereka yang takhayul, tetapi pada hakikatnya mereka bukanlah Allah.

Dalam ayat 9 Paulus berkata, “Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimana kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhamba diri lagi kepadanya?” “Roh-roh dunia” di sini bukanlah unsur pokok, melainkan prinsip-prinsip dasar dari hukum Taurat, yaitu ajaran-ajaran dasarnya. Di sini Paulus menunjukkan bahwa melalui berbalik kepada unsur-unsur hukum Taurat yang lemah dan miskin itu, kaum beriman Galatia akan memperhamba diri mereka sekali lagi. Dengan istilah, “memperhamba diri” Paulus menunjukkan betapa seriusnya usaha yang dilakukan para penganut agama Yahudi itu terhadap kaum beriman Galatia. Para penganut agama Yahudi telah mempesona mereka dan mengelabui mereka sedemikian rupa sehingga mereka terbawa ke dalam perhambaan. Bagi para penganut agama Yahudi, hukum Taurat merupakan perkara hidup dan mati. Karena itu, mereka sekuatnya berusaha menyesatkan orang-orang Galatia. Paulus tahu, begitu kaum beriman Galatia tertipu, mereka akan diperhamba. Mengatakan orang-orang Galatia diperhamba berarti mereka telah tertipu sepenuhnya.

PERATURAN-PERATURAN AGAMA

Dalam ayat 10 Paulus melanjutkan, “Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun.” Peraturan-peraturan yang ditaati di sini ditujukan kepada peraturan-peraturan agama orang Yahudi. Hari-hari yang disebut di sini adalah hari Sabat dan bulan-bulan baru (Yes. 66:23). Bulan-bulan itu adalah bulan-bulan suci, seperti bulan pertama, Abib, bulan jelai (Kel. 13:4); kedua bulan Ziw, bulan bunga (1Raj. 6:1, 37); ketujuh, Etanim, bulan mengarungi sungai (1Raj. 8:2) dan kedelapan, Bul, bulan hujan (1 Raj. 6:38). Masa-masa yang tetap adalah hari-hari raya seperti hari raya Roti Tidak Beragi, hari raya Tujuh Minggu, dan hari raya Pondok Daun (2Taw. 8:13). Tahun-tahun mungkin mengacu kepada tahun-tahun Sabat (Im. 25:4).

Dalam ayat 11 Paulus menunjukkan kepada orang-orang Galatia, “Aku khawatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia.” Paulus berjerih lelah atas orang-orang Galatia untuk membawa mereka ke dalam Kristus di bawah kasih karunia (anugerah). Namun, mereka berbalik kepada adat istiadat agama Yahudi; ini membuat jerih lelah Paulus atas mereka menjadi sia-sia. Di sini Paulus seolah-olah berkata kepada orang-orang Galatia, “Aku telah bersusah payah untuk kalian, dan melayankan Kristus kepada kalian, mengapa kalian kembali berbalik ke peraturan-peraturan hukum Taurat?” Paulus sungguh tidak mengerti, ia tidak dapat percaya bahwa mereka yang telah menerima ajaran-ajarannya masih bisa terpesona sedemikian rupa sehingga berbalik lagi kepada peraturan-peraturan hukum Taurat dan menghambakan diri kepada mereka.

MENJADI SAMA SEPERTI PAULUS

Ayat 12 mengatakan, “Aku minta kepadamu, Saudara-saudara, jadilah sama seperti aku, sebab aku pun telah menjadi sama seperti kamu. Belum pernah kualami sesuatu yang tidak baik dari kamu.” Paulus lepas dari ikatan adat istiadat orang Yahudi. Ia memohon orang-orang Galatia agar menjadi seperti dia. Paulus dulu menjadi orang bukan Yahudi demi kebenaran Injil. Setelah berupaya dengan sekuat tenaga untuk sama seperti orang-orang Galatia, maka sekarang ia menganjuri mereka untuk menjadi sama seperti dirinya. Ia seolah-olah berkata, “Aku mengasihi kalian dan menjadi sama seperti kalian. Sekarang aku minta kepada kalian, jadilah sama seperti aku. Aku tidak lagi untuk hari-hari, bulan-bulan, masa-masa yang tetap, dan tahun-tahun. Aku untuk Kristus. Karena itu, aku minta kepada kalian, jadilah sama seperti aku.”

Dalam ayat 12 Paulus berkata kepada orang-orang Galatia bahwa mereka tidak melukai (menyalahi) dia sama sekali. Sebagaimana dulu orang-orang Galatia tidak melukai dia, Paulus berharap mereka juga tidak melukai dia sekarang.

KESEMPATAN UNTUK MELAYANKAN KRISTUS

Ayat 13 meneruskan, “Kamu tahu bahwa aku pertama kali telah memberitakan Injil kepadamu karena penyakit pada tubuhku.” Dalam perjalanan ministrinya kali pertama, Paulus tertahan di Galatia karena sakit. Sementara di sana, ia memberitakan Injil kepada orang-orang Galatia. Penyakitnya telah memberinya kesempatan yang baik untuk melayankan Kristus.

Ayat 14 mengatakan, “Sungguh pun demikian, keadaan tubuhku itu, yang merupakan pencobaan bagi kamu, tidak kamu anggap sebagai sesuatu yang hina dan menjijikkan. Tetapi kamu telah menyambut aku, sama seperti menyambut seorang malaikat Allah, malahan sama seperti menyambut Kristus Yesus sendiri.” Di sini Paulus menyinggung kasih mereka melalui mengingatkan mereka betapa mereka telah menerima dia sama seperti seorang malaikat Allah, dan tidak meremehkan dia karena penyakitnya.

KEBERKATAN MEREKA

Dalam ayat 15 Paulus berkata seterusnya, “Betapa bahagianya kamu pada waktu itu! Dan sekarang, di mana kebahagiaanmu itu? Karena aku dapat bersaksi tentang kamu bahwa seandainya mungkin, kamu telah mencungkil matamu dan memberikannya kepadaku.” Ungkapan “kebahagiaanmu” yang diterjemahkan dari bahasa Yunani juga berarti keberkatanmu atau kegembiraanmu. Orang-orang Galatia mula-mula menganggapnya suatu berkat bahwa Paulus tertahan di tempat mereka dan memberitakan Injil kepada mereka. Mereka bahagia akan hal ini, dan membanggakannya. Ini menjadi kebahagiaan mereka. Namun, sekarang ketika mereka telah meninggalkan pemberitaan Injil Paulus. Rasul bertanya kepada mereka, “Di manakah bahagiamu, kesenanganmu, berkatmu?”

Ketika Paulus berada di antara mereka, orang-orang Galatia merayakan kegembiraan mereka seorang kepada yang lain dan saling mengucapkan selamat atas kesempatan kehadiran seorang ministri Kristus di tengah-tengah mereka. Tatkala Paulus memberitakan Injil di Galatia, yakni melayankan Kristus kepada mereka, mereka sangat gembira dan menganggap kehadiran Paulus suatu berkat yang besar. Kegembiraan, keberkatan, kebahagiaan ini adalah makna yang terkandung dalam istilah Yunani yang dipakai di sini.

Orang-orang Galatia menghargai pemberitaan Paulus dan mencintainya sampai mereka ingin mencungkil mata mereka dan memberikannya kepada Paulus. Ini bisa menunjukkan bahwa kelemahan tubuh Paulus (ayat 13) ada di matanya. Ini mungkin dapat diperkuat oleh penggunaan huruf besar dalam tulisannya kepada mereka (6:11). Kelemahan ini mungkin juga duri dalam dagingnya, kelemahan fisik yang ia doakan agar dapat diangkat darinya (2Kor. 12:7-9).

PERMINTAAN KASIH DARI KAUM BERIMAN

Dalam ayat 16 Paulus bertanya, “Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?” Perkataan ini menunjukkan adanya sebagian orang yang terkena tipu sehingga menganggap Paulus musuh mereka. Misalkan ada beberapa saudara mengunjungi kaum saleh di daerah tertentu, dan pada mulanya kaum saleh di situ menerima mereka dengan senang hati. Namun, tak lama kemudian, kaum saleh di situ telah diselewengkan oleh suatu ajaran atau praktek dan beralih menentang saudara-saudara yang semula diterima dengan senang hati serta diapresiasi dengan sangat tinggi itu. Dalam kasus demikian, saudara-saudara itu mungkin tergoda untuk meninggalkan kaum saleh di tempat tersebut. Namun, Paulus tidak demikian. Sebaliknya, ia berbeban untuk menyurati mereka dan meminta kepada mereka dengan penuh kasih sayang. Kita harus belajar seperti Paulus, yakni memikul beban kaum beriman yang telah meninggalkan kita. Boleh jadi kita harus menyurati mereka demikian, “Apakah kalian tidak ingat bagaimana kalian pernah melayani kami dalam kasih? Di manakah kasih kalian itu hari ini? Sepertinya sekarang kalian sudah menganggap kami sebagai musuh kalian. Ini benar-benar tidak masuk akal. Apakah karena kami membicarakan kebenaran kepada kalian lalu kami menjadi musuh kalian?”

Dalam menulis Galatia 3, Paulus berbicara seperti pengacara. Tetapi, ketika menulis pasal 4, ia menulis seperti seorang bapa yang penuh kasih. Pasal 4 ditulis menurut kasih mesra pribadi Paulus kepada orang-orang Galatia. Tanpa berdebat secara hukum, seperti seorang hakim, Paulus meminta kasih dari kaum beriman. Jika kita ingin menjadi orang yang melayankan Kristus kepada orang lain, kita harus belajar berbicara seperti ini kepada mereka. Kita tidak seharusnya hanya berbicara menurut kebenaran yang doktrinal, tetapi kita harus meminta kepada orang lain dengan sikap yang penuh kemesraan dan kasih.

TUJUAN PARA PENGANUT AGAMA YAHUDI

Ayat 17 mengatakan, “Mereka dengan giat berusaha menarik kamu, tetapi bukan dengan maksud yang baik, karena mereka mau mengucilkan kamu, supaya kamu dengan giat mengikuti mereka.” Istilah giat dalam ayat ini mengandung arti dengan giat merayu. Para penganut agama Yahudi dengan giat merayu orang-orang Galatia, agar orang-orang Galatia membalas mereka dengan cara serupa. Merayu seseorang berarti mengejar orang itu dalam cinta dan dengan tujuan memperoleh cintanya. Para penganut agama Yahudi mengejar kaum beriman Galatia dengan cara demikian, sebenarnya berarti merayu mereka. Ini menunjukkan para penganut agama Yahudi sangat serius dan sangat giat. Namun, seperti kata Paulus, para penganut agama Yahudi begitu giat merayu mereka itu tidak pada tempatnya, tidak tulus, melainkan dengan maksud mengucilkan mereka. Mereka tidak mengejar orang-orang Galatia dengan cara yang terhormat dan patut dihargai. Tujuan mereka adalah mengucilkan orang-orang Galatia dari Injil anugerah yang diberitakan dengan wajar itu. Mereka ingin mengucilkan orang-orang Galatia dari ekonomi Perjanjian Baru Allah, dari kenikmatan terhadap Kristus, dan dari Roh pemberi hayat yang almuhit. Pada prinsipnya kaum pemecah belah pada hari ini juga demikian. Tujuan mereka ialah ingin mengucilkan umat gereja dari kenikmatan atas Kristus dan membuat orang-orang yang telah mereka tipu itu mengikuti mereka dengan giat.

Dalam ayat 18 Paulus melanjutkan, “Memang baik kalau orang dengan giat berusaha dalam hal-hal yang baik setiap waktu, bukan hanya bila aku ada di antara kamu.” Menarik seseorang kepada hal yang benar atau dalam pemberitaan Injil yang benar itu baik. Namun, ini seharusnya terjadi tidak hanya bila Paulus bersama mereka. Dengan perkataan ini Paulus menyatakan bahwa ia tidak berpikiran sempit, ia tidak melarang orang lain untuk memberitakan Injil kepada orang-orang Galatia; malahan, ia bergembira atas pemberitaan Injil orang lain (Flp. 1:18). Paulus berkenan terhadap penginjilan yang wajar dari orang lain, tetapi ia tidak suka penginjilan yang dengan giat merayu kaum beriman.

PENDERITAAN SAKIT BERSALIN PAULUS

Ayat 19 mengatakan, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.” Di sini Paulus menganggap dirinya sendiri sebagai bapa yang melahirkan dan kaum beriman Galatia adalah anak-anaknya yang dilahirkan olehnya di dalam Kristus (lihat 1Kor. 4:15; Flm. 10). Ini pun merupakan suatu permintaan cinta kasih kepada mereka.

Paulus mengatakan kepada kaum beriman Galatia bahwa ia sedang menderita sakit bersalin lagi karena mereka. Penderitaan sakit bersalin ditujukan kepada kesakitan pada saat melahirkan anak. Dalam kiasan ini Paulus menyamakan dirinya seperti seorang ibu yang melahirkan anaknya. Ia telah berjerih lelah dengan cara ini untuk melahirkan kembali orang-orang Galatia ketika ia memberitakan Injil kepada mereka untuk kali pertama. Karena mereka menyimpang dari Injil yang telah ia beritakan kepada mereka, ia menderita sakit bersalin lagi sampai rupa Kristus terbentuk di dalam mereka. Dalam ayat ini Paulus mengibaratkan dirinya seorang bapa yang memperanakkan juga seorang ibu yang menderita sakit bersalin. Kalau demikian, ia seorang bapa, atau seorang ibu? Ya, ia adalah kedua-duanya, tergantung situasinya. Dalam suatu keadaan, ia adalah seorang bapa yang memperanakkan, dan dalam keadaan lain, ia adalah seorang ibu yang menderita sakit bersalin.

Paulus sedang menderita sakit bersalin, agar Kristus dapat terbentuk di dalam orang-orang Galatia. Kristus, persona yang hidup, adalah titik pusat Injil Paulus. Pemberitaan Paulus, yang sangat besar perbedaannya dengan pengajaran hukum Taurat yang tertulis, adalah untuk melahirkan Kristus, Anak Allah yang hidup, di dalam kaum beriman. Sebab itu, Kitab Galatia secara tegas berpusat pada Kristus. Kristus disalibkan (3:1) untuk menebus kita dari kutukan hukum Taurat (3:13), menyelamatkan kita dari arus agama dunia yang jahat (1:4); dan Dia telah dibangkitkan dari kematian (1:1) sehingga Dia dapat tinggal di dalam kita (2:20). Kita dibaptis ke dalam Dia, disatukan dengan Dia, dan telah mengenakan Dia, berjubahkan Dia (3:27). Demikian, kita di dalam Dia (3:28) menjadi milik-Nya (3:29; 5:24). Di pihak lain, Dia telah dinyatakan di dalam kita (1:16). Sekarang Dia tinggal di dalam kita (2:20), dan Dia akan dibentuk di dalam kita (4:19). Bagi-Nya, hukum Taurat telah menuntun kita (3:24), dan di dalam Dia kita semua adalah anak-anak Allah (3:26). Di dalam Dia kita mewarisi berkat yang dijanjikan Allah, dan menikmati Roh yang almuhit (3:14). Selain itu, di dalam Dia kita semua satu (3:28). Kita tidak boleh kehilangan semua manfaat dari-Nya dan karena itu terlepas dari-Nya (5:4). Kita memerlukan Dia menyuplai kita dengan anugerah-Nya di dalam roh kita (6:18), sehingga kita dapat memperhidupkan Dia.

Ketika kaum beriman Galatia dilahirkan kembali melalui pemberitaan Injil Paulus kali pertama, Kristus lahir di dalam mereka tetapi belum terbentuk di dalam mereka. Di sini rasul menderita sakit bersalin lagi, supaya Kristus dapat terbentuk di dalam mereka. Agar Kristus terbentuk di dalam kita, Kristus harus tumbuh sepenuhnya di dalam kita. Pertama Kristus lahir ke dalam kita pada saat kita bertobat dan percaya kepada-Nya, lalu Dia tinggal di dalam kita dalam kehidupan kristiani kita (2:20), dan akhirnya, Dia akan terbentuk dalam kita ketika kita dewasa. Kristus perlu terbentuk di dalam kita agar kita dapat menjadi anak-anak dewasa, dan ahli-ahli waris untuk mewarisi berkat janji Allah, dan supaya kita dapat dewasa dalam keputraan ilahi.

MENYUPLAIKAN KRISTUS

Seperti telah kita tunjukkan, ayat 19 mewahyukan bahwa beban Paulus bukan melaksanakan pekerjaan kristiani, melainkan agar Kristus terbentuk di dalam orangorang yang percaya. Melalui pemberitaan Paulus, Kristus telah masuk ke dalam orang-orang Galatia. Tetapi, karena mereka telah tertipu, maka Kristus belum dapat bertumbuh di dalam mereka dan belum terbentuk di dalam mereka. Karena itulah Paulus harus bersusah payah lagi seperti seorang ibu yang bersalin, agar Kristus dapat terbentuk di dalam mereka. Paulus menulis dengan beban untuk menyuplaikan Kristus ke dalam kaum saleh. Ia berbeban agar Kristus terbangun, terbina di dalam mereka. Kitab Galatia mengatakan bahwa Kristus telah dinyatakan di dalam kita dan Dia hidup di dalam kita. Kini kita mengetahui bahwa Kristus masih harus terbentuk di dalam kita.

Menyuplaikan Kristus kepada orang lain bukanlah hal yang mudah dilakukan, hal ini kerap menuntut kita menderita dan bergumul. Menyuplaikan Kristus jauh lebih sulit daripada melakukan pekerjaan kristiani biasa. Jika Anda ingin memikul beban dan dengan hati yang tulus menyuplaikan Kristus kepada orang lain, Anda akan mengetahui susah payah dan penderitaan apa yang harus Anda alami. Anda harus bersusah payah laksana seorang ibu yang melahirkan anak.

Sasaran pelayanan kita dalam gereja atau dalam ministri haruslah menyuplaikan Kristus kepada orang lain. Hanya mengatakan kita dapat memberitakan Injil saja itu tidak cukup, sebab kita mungkin memberitakan Injil tanpa menyuplaikan Kristus kepada orang lain. Beban kita haruslah menyuplaikan Kristus kepada orang lain. Sekali lagi saya katakan bahwa hal ini memerlukan susah payah dan penderitaan. Hal ini memerlukan doa, kesabaran, dan kasih sayang. Menurut pengalaman kita, pelayanan yang sedemikian merupakan suatu peperangan, pergumulan. Si licik, musuh Allah, aktif sekali berusaha menghalangi kita atau menyelewengkan kita. Kita tidak mengetahui dari arah mana ia akan menyerang kita selanjutnya. Karena itu, kita harus belajar dari Paulus untuk berbeban menyuplaikan Kristus serta meminta kasih dari kaum saleh, agar hati mereka dapat terjamah.

KEHABISAN AKAL PAULUS

Dalam ayat 20 Paulus berkata, “Betapa rinduku untuk berada di antara kamu pada saat ini dan dapat berbicara dengan suara yang lain, karena aku telah habis akal menghadapi kamu.” Rasul ingin berbicara dengan suara yang lain, dari suara yang serius menjadi suara yang lemah lembut seperti suara seorang ibu yang berbicara dengan penuh kasih sayang kepada anak-anaknya. Paulus habis akal menghadapi orang-orang Galatia. Ia sedang mencari cara yang terbaik untuk memulihkan mereka dari penyimpangan terhadap Kristus.

Ayat 20 menunjukkan bahwa Paulus merasa tidak cukup dengan menyurati kaum beriman Galatia, ia ingin mengunjungi mereka dan tinggal bersama mereka, sebab ia tahu bahwa kehadirannya akan menggenapkan lebih banyak hal daripada tulisannya. Paulus kehabisan akal menghadapi orang-orang Galatia. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi mereka, dan bagaimana menangani kasus mereka. Di satu pihak, ia menyebut mereka “Orang-orang Galatia yang bodoh”, di pihak lain, ia menyebut mereka “saudara-saudara yang kukasihi”. Ini menunjukkan betapa Paulus kehabisan akal ketika itu.

PERLU MOTIVASI YANG MURNI

Dalam menulis Galatia 4, Paulus penuh dengan kasih sayang dan meminta kasih sayang dari kaum beriman Galatia. Memohon kasih sayang mesra dari orang lain secara wajar adalah suatu hal yang sangat sukar. Berbuat demikian memerlukan kemurnian motivasi. Jika motivasi kita tidak murni, kita harus hati-hati terhadap kasih kita kepada kaum saleh. Berhubungan dalam kasih dengan kaum saleh maupun meminta kasih dari orang lain adalah perkara yang sangat perlu. Namun, kita harus mengakui bahwa permohonan yang sedemikian itu memang sangat sukar, sebab kita mudah menampilkan kasih alamiah madu. Untuk bersikap murni seperti Paulus dalam Galatia 4 tidaklah mudah. Paulus adalah orang yang telah “digarami”. Itulah sebabnya ia dapat memohon kasih mesra dari orang-orang Galatia dengan cara yang demikian murni. Bahkan ia dapat menegur mereka dan menghakimi para penganut agama Yahudi dengan maksud yang murni. Jika kita mencoba mempraktekkan hal ini, kita akan mengetahui betapa sulitnya hal ini. Ketika kita menegur orang lain, kita perlu motivasi yang murni. Ketika kita meminta kasih mesra dari orang lain, kita lebih-lebih harus bermotivasi murni. Dalam kebanyakan situasi kita tidak akan bisa menyuplaikan Kristus kepada orang lain dan menderita sakit bersalin agar Kristus terbentuk di dalam mereka, jika kita tidak dapat meminta kasih mereka.

Setelah membahas semua butir ini, kita nampak bahwa pasal 4 sama pentingnya dengan pasal 3. Saya bersyukur kepada Tuhan karena Paulus telah menulis pasal ini. Kalau tidak, mungkin kita akan menaruh kesan bahwa ketika Paulus menyurati orang-orang Galatia, ia bersikap kaku, tanpa kasih mesra. Namun, dalam pasal 4 Paulus memiliki kasih sayang dan meminta kasih kaum saleh demi tujuan menyuplaikan Kristus kepada mereka.