← Daftar isi Latar Belakang dan Subyek Kitab ini · bab 22/24

ROH KEPUTRAAN MENGGANTIKAN PENJAGAAN HUKUM TAURAT

Pembacaan Alkitab: Gal. 3:27-29; 4:1-7; Rm. 8:14-16

Dalam berita yang lalu telah kita tunjukkan bagaimana Paulus memberi kesimpulan atas Galatia 3 dengan tiga hal penting: dibaptis ke dalam Kristus, mengenakan Kristus, dan kesatuan semua orang yang percaya di dalam Kristus. Dibaptis ke dalam Kristus berarti masuk ke dalam kesatuan yang organik dengan Allah Tritunggal. Dalam ekonomi-Nya Allah berkehendak menaruh kita ke dalam diri-Nya dan Ia akan masuk ke dalam kita serta hidup di dalam kita. Itulah yang kita artikan kesatuan yang organik, yaitu suatu keesaan yang organik dalam hayat.

PERCAYA KE DALAM KRISTUS

DAN DIBAPTIS KE DALAM KRISTUS

Untuk dapat mengalami kesatuan yang organik dengan Allah Tritunggal ini perlulah kita percaya ke dalam Kristus dan dibaptis ke dalam-Nya. Percaya dan dibaptis merupakan dua bagian dari satu langkah. Pertama-tama kita percaya ke dalam Kristus, kemudian kita dibaptis ke dalam Kristus. Kata depan (preposisi) bahasa Yunani eis yang dipakai dalam Yohanes 3:16, 18, dan 36 berarti “ke dalam”. Ayat-ayat itu menunjukkan bahwa kita perlu percaya ke dalam Anak. Dengan percaya ke dalam Kristus kita masuk ke dalam Kristus. Melalui percaya kita memasukkan diri kita ke dalam Kristus. Kita melihat bahwa M.R. Vincent mengatakan, preposisi ini seperti yang dipakai dalam Matius 28:19 mengandung arti kesatuan yang mistis dan rohani dengan Allah Tritunggal. Sekelompok orang China mungkin percaya kepada Konghucu, namun tidak dapat berkata bahwa mereka percaya ke dalam Konghucu. Orang-orang Yunani juga tidak dapat mengatakan mereka percaya ke dalam Plato. Orang-orang China tidak mungkin bersatu dengan Konghucu. Orang-orang Yunani juga tidak dapat masuk ke dalam suatu kesatuan yang rohani dengan Plato. Akan tetapi, ketika kita percaya ke dalam Tuhan Yesus, kita mengalami suatu kesatuan yang organik dengan Dia. Pada saat kita percaya kepada-Nya, kita percaya ke dalam Dia, dan karena itu kita menjadi satu roh dengan-Nya. Inilah yang kita maksud dengan ungkapan kesatuan yang organik.

Selain percaya ke dalam Kristus, yang bersifat batiniah dan subyektif, kita pun perlu dibaptis ke dalam Dia, ini merupakan suatu tindakan lahiriah yang bersifat obyektif. Kita perlu tindakan batiniah yaitu percaya dan tindakan lahiriah yaitu dibaptis. Dengan jalan inilah kita mengambil satu langkah lengkap untuk masuk ke dalam Allah Tritunggal. Dalam Galatia 3 Paulus sering berbicara tentang iman (kepercayaan) dan percaya. Namun, pada akhir pasal ini ia berbicara tentang dibaptis ke dalam Kristus. Langkah yang diawali dengan percaya ke dalam Kristus dilengkapi dengan dibaptis ke dalam Kristus. Dengan cara ini terjadilah suatu kesatuan organik yang sempurna antara orang-orang yang percaya dengan Allah Tritunggal.

MENGENAKAN KRISTUS

DAN SATU DI DALAM KRISTUS

Setelah dibaptis ke dalam Kristus, kini kita harus mengenakan Kristus. Mengenakan Kristus berarti memperhidupkan Kristus. Mengenal perlunya kita mengenakan Kristus dan memperhidupkan Kristus adalah perkara yang penting bagi setiap orang Kristen. Menurut Roma 13:14, kita memperhidupkan Kristus melalui mengenakan Kristus.

Mengenakan Kristus berarti menyelubungi diri kita dengan Kristus. Bila kita berbusana dengan cara tertentu, itu berarti kita ingin hidup secara itu. Demikian pula, mengenakan Kristus berarti kita hidup berdasarkan Kristus, hidup di dalam Kristus, dan hidup bersama Kristus. Pada khususnya, ini berarti kita memperhidupkan Kristus. Kristus menjadi ekspresi kehidupan kita. Begitu kita telah diletakkan di dalam Kristus dan masuk ke dalam kesatuan yang organik dengan Dia, kita harus segera memperhidupkan Kristus, mengenakan Kristus dalam kehidupan kita. Hari demi hari kita harus mengenakan Kristus dan mengekspresikan Dia melalui hidup di dalam Dia, berdasarkan Dia, dan bersama Dia.

Dalam 3:28 Paulus berkata bahwa kita “adalah satu di dalam Kristus Yesus”. Ini ditujukan kepada kehidupan gereja, satu Tubuh, satu manusia baru.

Ada tiga butir yang penting dalam 3:27-28. Pertama: kita masuk ke dalam Kristus; kedua: kita mengenakan Kristus dan mengekspresikan Kristus melalui memperhidupkan Dia; dan ketiga: kita memiliki kehidupan gereja, di sini, dalam satu manusia baru, satu Tubuh, kita semua adalah satu di dalam Kristus. Jika kita memiliki ketiga perkara ini, kehendak kekal Allah akan terwujud, dan kedambaan hati Allah akan terpuaskan.

Kitab Galatia memperlihatkan bahwa Paulus adalah seorang penulis yang unggul. Setelah banyak berargumentasi atau berdebat dalam pasal 3, Paulus lalu menarik kesimpulan dengan mengatakan bahwa kita telah dibaptis ke dalam Kristus, telah mengenakan Kristus, dan adalah satu di dalam Kristus. Kita yang memiliki pendengaran tentang iman telah diletakkan ke dalam Kristus. Sekarang kita perlu memperhidupkan Kristus dan mengekspresikan Kristus. Ini akan membuat kita menjadi satu di dalam Kristus dalam kehidupan gereja.

Adalah hal yang bodoh jika orang-orang beriman Galatia kembali kepada hukum Taurat. Paulus seolah-olah berkata kepada mereka, “Kalian semua sudah dibaptis ke dalam Kristus dan ke dalam satu Tubuh. Sekarang kalian harus menerima Kristus sebagai pakaian kalian, ekspresi kalian, dan memperhidupkan Dia. Jangan kembali kepada hukum Taurat untuk berusaha memenuhi permintaannya. Tinggallah bersama Kristus dan perhidupkanlah Kristus. Ingatlah, kalian adalah anggota dari satu Tubuh, dan anggota dari satu manusia baru. Tinggallah bersama semua orang yang berada di dalam Kristus, dan tempuhlah kehidupan gereja, agar kehendak Allah dapat tergenap. Kalau kalian kembali kepada hukum Taurat, kalian akan diperhamba lagi. Keinginan hati Allah tidak dapat dipuaskan melalui upaya kalian memelihara hukum Taurat. Allah hanya dapat dipuaskan jika kalian tinggal bersama Kristus dan memperhidupkan Dia.” Puji Tuhan kita telah masuk ke dalam kesatuan yang organik dengan Dia, dan sekarang kita memperhidupkan Kristus di dalam gereja, Tubuh itu. Ini pasti dapat memuaskan Allah.

BEBERAPA BUTIR PENTING

Dalam berita ini kita akan membahas 4:1-7, yang menyinggung tentang Roh keputraan menggantikan penjagaan hukum Taurat. Pendahuluan dan kesimpulan Kitab Galatia masing-masing terdapat dalam 1:1-5 dan 6:18. Dalam 1:6-4:31 kita nampak wahyu Injil rasul. Kemudian, dalam pasal 5:1-6:17 kita nampak perilaku anak-anak Allah. Dalam 1:6-4:31 terdapat banyak butir yang penting. Di sini kita melihat betapa Anak Allah berlawanan dengan agama manusia (1:6-2:10), dan Kristus menggantikan hukum Taurat (2:11-21), serta Roh oleh iman berlawanan dengan daging oleh hukum Taurat (3:1-4:31). Dalam 3:1-14 kita melihat Roh itu adalah berkat dari janji oleh iman di dalam Kristus; dalam 3:15-29, hukum Taurat adalah penjaga ahli-ahli waris janji; dalam 4:1-7, Roh keputraan menggantikan penjagaan hukum Taurat; dalam 4:8-20, Kristus perlu terbentuk di dalam para pewaris janji; dan dalam 4:21-31, anak-anak yang menurut Roh itu berlawanan dengan anak-anak yang menurut daging.

Pasal 3 membahas dua butir utama. Pertama: Roh itu adalah berkat Injil. Kedua: hukum Taurat adalah penjaga yang menjaga anak-anak Allah. Kita harus bertanya kepada diri sendiri, apakah kita lebih suka berkat atau penjagaan. Jika kita telah menerima terang dari kitab ini secara wajar, pasti kita akan memilih Roh itu, yang adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Dalam 4:1-7 Paulus melanjutkan pemikiran pasal 3. Di sini ia berupaya menjelaskan bahwa Roh keputraan telah menggantikan penjagaan hukum Taurat.

WAKTU YANG DITETAPKAN BAPA

Galatia 4:1 mengatakan, “Yang kumaksudkan ialah: Selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikit pun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu.” Kata Yunani yang diterjemahkan belum akil balig mengacu kepada orang yang lebih kecil, anak-anak. Dalam ayat 2 Paulus melanjutkan “Tetapi ia berada di bawah perwalian dan pengawasan sampai pada saat yang telah ditentukan oleh bapaknya.” Wali adalah penjaga, dan pengawas (pengurus) adalah pengurus administrasi. Ini menjelaskan fungsi hukum Taurat dalam ekonomi Allah. Saat yang telah ditentukan oleh bapaknya mengacu kepada saat Perjanjian Baru, dimulai dengan kedatangan Kristus kali pertama.

Galatia 4:3 menerangkan, “Demikian pula kita: Selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia.” “Roh dunia” ditujukan kepada asas-asas pokok, pengajaran dasar hukum Taurat. Dalam Kolose 2:8 ungkapan yang sama ini dipakai pula, di sana ditujukan kepada ajaran-ajaran dasar dari orang-orang Yahudi maupun orang kafir, yang terdiri dari peraturan-peraturan makanan, minuman, pembasuhan, dan pertapaan yang bersifat ritualistis.

KEPUTRAAN — TITIK INTI EKONOMI ALLAH

Dalam ayat 4-5 Paulus melanjutkan, “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” Genap waktunya yang dikatakan dalam ayat 4 menunjuk-kan penggenapan zaman Perjanjian Lama, terjadi pada waktu yang telah ditentukan oleh Bapa (ayat 2). Dalam ayat ini Paulus menggambarkan Anak sebagai yang “lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.” Sudah tentu perempuan ini adalah perawan Maria (Luk. 1:27-35). Anak Allah lahir darinya menjadi keturunan perempuan itu, seperti yang dijanjikan dalam Kejadian 3:15. Selain itu, Kristus lahir di bawah hukum Taurat, seperti yang diwahyukan dalam Lukas 2:21-24, 27, dan memelihara hukum Taurat, seperti yang diwahyukan dalam keempat kitab Injil.

Umat pilihan Allah terkurung oleh hukum Taurat di bawah pengawalannya (3:23). Kristus lahir di bawah hukum Taurat untuk menebus umat pilihan Allah dari pengawalan hukum Taurat, sehingga mereka boleh menerima keputraan dan menjadi anak-anak Allah. Karena itu, mereka tidak boleh kembali kepada pengawalan hukum Taurat dan berada di bawah perhambaannya, seperti yang dilakukan orang-orang Galatia yang tergoda, tetapi mereka harus tetap dalam status anak Allah untuk menikmati suplai hayat dari Roh itu dalam Kristus.

Berdasarkan wahyu lengkap dari Perjanjian Baru, ekonomi Allah ialah menghasilkan anak-anak. Keputraan merupakan titik inti ekonomi Allah. Ekonomi Allah adalah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya, agar mereka menjadi anak-anakNya. Penebusan Kristus membuat kita menjadi anak-anak Allah, agar kita dapat menikmati hayat ilahi. Ekonomi Allah tidak membuat kita menjadi pemelihara hukum Taurat, mematuhi perintah-perintah dan ketetapan-ketetapan hukum Taurat yang di berikan hanya untuk tujuan sementara. Ekonomi Allah membuat kita menjadi anak-anak Allah, yang mewarisi berkat janji Allah, yang diberikan untuk tujuan kekal-Nya. Tujuan kekal Allah adalah memiliki banyak anak untuk ekspresi korporat-Nya (Ibr. 2:10; Rm. 8:29). Karena itu, Ia menakdirkan kita menjadi anak-anakNya (Ef. 1:5) dan melahirkan kita kembali sebagai anak-anakNya (Yoh. 1:12-13). Kita harus tetap dalam keputraan-Nya agar kita bisa menjadi ahli-ahli waris-Nya untuk mewarisi semua yang telah Ia rencanakan bagi ekspresi kekal-Nya. Kita tidak seharusnya menghargai hukum Taurat dan karenanya diselewengkan kepada Yudaisme.

Untuk memberikan satu definisi yang tepat atas keputraan tidaklah mudah. Keputraan mencakup hayat, kematangan, posisi, dan hak. Selaku anak-anak Bapa, kita perlu memiliki hayat Bapa. Tetapi, kita harus maju untuk dimatangkan dalam hayat itu. Hayat dan kematangan memberi kita hak, kuasa, kedudukan untuk mewarisi semua kekayaan Bapa. Menurut Perjanjian Baru, keputraan mencakup hayat, kematangan, posisi, dan hak.

ROH ANAK (PUTRA)

Dalam 4:6 Paulus mendeklarasikan, “Karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita yang berseru, ‘Ya Abba, ya Bapa!’” Anak (Putra) Allah adalah perwujudan hayat ilahi (1Yoh. 5:12). Karena itu, Roh Putra Allah adalah Roh hayat (Rm. 8:2). Allah memberi kita Roh hayat-Nya bukan karena kita adalah pemelihara hukum Taurat, tetapi karena kita adalah anak-anak-Nya. Sebagai pemelihara hukum Taurat, kita tidak berhak menikmati Roh hayat Allah. Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki kedudukan dengan hak penuh untuk berbagian dalam Roh Allah yang memiliki suplai hayat yang limpah. Roh yang sedemikian, Roh Putra Allah, adalah titik pusat berkat janji Allah kepada Abraham (3:14).

Ayat 4-6 dalam pasal ini membicarakan Allah Tritunggal yang menghasilkan banyak anak untuk penggenapan tujuan kekal-Nya. Allah Bapa mengirimkan Allah Putra untuk menebus kita dari hukum Taurat, sehingga kita bisa diterima menjadi anak; Ia juga mengirim Allah Roh untuk menyalurkan hayat-Nya ke dalam kita, sehingga kita dapat menjadi anak-anak-Nya dalam realitas.

Pada dasarnya, keputraan merupakan masalah hayat. Posisi dan hak tergantung pada hayat. Jika kita ingin menikmati hak keputraan, kita perlu Roh itu. Di luar Roh itu, tidak mungkin kita dilahirkan dari Allah dan mendapatkan hayat ilahi. Setelah kita dilahirkan oleh Roh itu, kita perlu Roh itu untuk bertumbuh dalam hayat. Tanpa Roh itu, kita tidak ada posisi, hak, atau kuasa keputraan. Semua butir penting menganai keputraan itu tergantung pada Roh itu. Berdasarkan Roh itu, kita memiliki kelahiran ilahi dan hayat ilahi. Melalui Roh itu, kita bertumbuh dewasa. Karena Roh itu, kita memiliki posisi, hak, dan kuasa keputraan. Jadi, tanpa Roh itu keputraan akan sia-sia belaka, hanya sebuah istilah yang kosong. Tetapi, bila Roh itu tiba, keputraan menjadi riil. Kita akan memahami sepenuhnya keputraan Allah dalam hayat, kematangan, posisi, dan hak. Roh keputraan tidak dapat diganti dengan apa pun, sebaliknya setiap perkara, khususnya hukum Taurat, harus diganti dengan Roh keputraan.

Dalam konsepsi Paulus, hukum Taurat adalah penjaga atau wali. Walaupun hukum Taurat bisa menjaga kita, tetapi ia tidak dapat memberi kita hayat, kedewasaan, kedudukan, dan hak keputraan. Hukum Taurat tidak mampu memberikan posisi kepada anak-anak, hanya dapat berperan sebagai penuntun anak. Namun, Roh itu dapat memberikan hayat, kedewasaan, kedudukan, dan hak. Karena itu, hukum Taurat tidak seyogianya menggantikan Roh itu, sebaliknya, Roh itulah yang harus menggantikan hukum Taurat.

Karena hukum Taurat tidak mampu menghasilkan realitas keputraan, mungkin Anda heran mengapa Roh itu tidak diutus datang lebih awal. Mengapa Roh itu tidak datang sebelum ada hukum Taurat? Alasannya ialah janji yang diberikan kepada Abraham memerlukan suatu periode waktu untuk digenapi. Meskipun Allah tidak lambat, namun Ia menunggu selama dua ribu tahun sebelum mengutus Putra-Nya untuk menggenapi janji itu. Padahal dalam memberikan janji itu Allah tidak bertindak terburu-buru. Ia tidak segera datang memberikan janji kepada Adam setelah Adam jatuh, yang akhirnya diberikan kepada Abraham. Memang, janji itu sudah diberikan dalam Kejadian 3, yakni keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular. Namun, Allah menunggu sampai terkutuknya manusia dan situasi kejatuhan manusia tersingkap sepenuhnya di Babel, sebelum Ia campur tangan, memanggil Abraham keluar, serta membuat sebuah janji dengannya. Di Babel manusia menjadi kacau balau, dan terpecah belah, ini terungkap sepenuhnya sebagai keadaan di bawah kutuk. Dengan latar belakang yang demikian, tidak usah diragukan bahwa Abraham pasti mengapresiasi janji Allah sedalam-dalamnya. Abraham mengapresiasi janji ini melebihi apresiasi Adam, seandainya janji itu diberikan kepadanya segera setelah ia jatuh. Karena itu, alasan ditangguhkannya janji itu terletak pada pihak manusia, bukan pada pihak Allah.

Prinsip dalam hal penggenapan janji kedatangan Kristus kali kedua pun sama. Misalkan Kristus datang segera setelah janji itu diberikan kepada Abraham, maka penggenapan janji itu agaknya kurang berarti. Perhatikan semua hal yang terjadi selama periode Abraham hingga kelahiran Tuhan Yesus. Dalam waktu dua ribu tahun itu, umat pilihan Allah telah tersingkap habis-habisan. Di satu aspek, hukum Taurat menyingkapkan kebobrokan dan ketidakberdayaan mereka; di aspek lain, hukum Taurat menjaga mereka sampai Kristus datang. Hukum Taurat merampungkan suatu fungsi yang diperlukan dan bermanfaat dengan menjaga bani Israel bagi Allah. Hukum Taurat menjaga umat pilihan Allah bahkan pada waktu ia menyingkapkan mereka.

KEGENAPAN WAKTU

Dalam 4:4 kita melihat Allah mengutus Putra-Nya ketika kegenapan waktunya telah tiba. Kristus datang tepat pada saatnya. Lebih dini akan terlalu cepat, lebih lambat akan terlambat. Kedatangan Kristus tepat pada waktunya. Ini dapat diilustrasikan dengan memetik buah yang matang dari pohonnya. Jika buahnya dipetik agak dini, belum matang, tetapi jika dipetik lambat, terlalu matang. Kristus datang pada waktu yang telah ditetapkan. Karena alasan inilah maka kedatangan-Nya penuh dengan makna.

DUA PENGUTUSAN

Dalam ayat 4 dan 6 ada dua macam pengutusan. Dalam ayat 4 Paulus mengatakan Allah mengutus Putra-Nya, dan dalam ayat 6 Allah mengutus Roh Putra-Nya. Berdasarkan janji dalam Kejadian 3:15, Kristus datang di bawah hukum Taurat sebagai keturunan perempuan untuk menebus orang-orang yang berada di bawah hukum Taurat, agar mereka boleh menerima hak keputraan. Sasaran penebusan Kristus bukan surga, seperti yang dipercayai kebanyakan orang Kristen, melainkan keputraan. Kristus menebus kita supaya kita boleh menerima hak keputraan Allah. Melalui penebusan-Nya, Ia telah membukakan jalan bagi kita untuk memiliki keputraan. Akan tetapi, jika Roh itu tidak datang, keputraan kita akan menjadi hampa. Keputraan itu akan hanya dalam posisi atau bentuk, bukan dalam realitasnya. Realitas keputraan yang tergantung pada hayat dan kedewasaan ini datangnya hanya melalui Roh itu. Karena itu,ayat 6 mendeklarasikan bahwa Allah telah mengutus Roh Putra-Nya ke dalam hati kita.

Kita tidak boleh percaya bahwa Roh Putra adalah satu Persona yang terpisah dari Putra itu. Sebenarnya, Roh Putra adalah bentuk lain dari Putra itu sendiri. Kita telah menunjukkan bahwa Persona yang telah disalibkan di atas salib adalah Kristus, tetapi Persona yang masuk ke dalam orang-orang yang percaya adalah Roh itu. Dalam penyaliban untuk penebusan kita, Persona ini adalah Kristus, tetapi dalam hal berhuni di dalam kita sebagai hayat, Dia adalah Roh itu. Ketika Sang Putra mati di atas salib, Dia adalah Kristus, tetapi ketika Dia masuk ke dalam kita, Dia adalah Roh itu. Pertama-tama Ia datang sebagai Putra, datang di bawah hukum Taurat untuk membuat kita memenuhi syarat menerima keputraan dan membuka jalan bagi kita untuk mengambil bagian dalam hak keputraan. Namun, setelah Ia menyelesaikan pekerjaan itu, dalam kebangkitan Ia menjadi Roh pemberi hayat dan datang kepada kita sebagai Roh Putra. Jadi, mula-mula Allah Bapa mengutus Putra-Nya untuk merampungkan penebusan dan melayakkan kita menerima hak keputraan. Kemudian, Ia mengutus Roh itu untuk menghidupkan keputraan dan membuatnya riil dalam pengalaman kita. Hari ini, keputraan sebenarnya tergantung pada Roh Putra Allah.

ROH ITU DALAM HATI KITA

Dalam ayat 6 Paulus mengatakan bahwa Allah mengutus Roh Putra-Nya ke dalam hati kita. Sebenarnya, Roh Allah masuk ke dalam roh kita pada saat kita dilahirkan kembali (Yoh. 3:6; Rm. 8:16). Karena roh kita tersembunyi di dalam hati kita (1Ptr. 3:4), dan karena perkataan di sini mengacu kepada masalah yang berhubungan dengan perasaan dan pengertian kita, yang keduanya berada dalam hati kita, maka ayat 6 ini mengatakan bahwa Roh Putra Allah diutus ke dalam hati kita.

Roma 8:15 adalah satu ayat yang sejajar dengan Galatia 4:6. Roma 8:15 mengatakan bahwa kita yang telah menerima roh keputraan berseru di dalam roh ini, “Ya Abba, ya Bapa!” sedang Galatia 4:6 mengatakan bahwa Roh Putra Allah berseru dalam hati kita, “Ya Abba, ya Bapa!” Ini menunjukkan bahwa roh kita yang dilahirkan kembali berbaur menjadi satu dengan Roh Allah, dan roh kita berada dalam hati kita. Ini juga menunjukkan bahwa keputraan Allah dapat terealitaskan oleh kita melalui pengalaman subyektif kita dalam lubuk batin kita. Dalam ayat ini, Paulus menyinggung pengalaman kaum beriman Galatia untuk mendukung wahyunya. Pembahasan ini sangat meyakinkan dan menaklukkan, karena ini tidak hanya berisi doktrin obyektif, tetapi juga fakta subyektif, yang dapat dialami.

Abba adalah istilah bahasa Aram, juga bahasa Ibrani, dan Bapa adalah terjemahan dari kata pater dalam bahasa Yunani. Istilah ini kali pertama dipakai oleh Tuhan Yesus di Getsemani ketika Dia sedang berdoa kepada Bapa (Mrk. 14:36). Penggabungan gelar bahasa Aram dengan gelar bahasa Yunani menyatakan kasih sayang yang kuat dalam berseru kepada Bapa. Seruan yang begitu penuh kasih sayang menyiratkan hubungan yang akrab dalam hayat antara anak kandung dengan bapa yang memperanakkannya.

Sebagai umat manusia kita tidak saja mempunyai satu roh, kita pun mempunyai pribadi atau diri kita. Pusat pribadi kita ialah hati kita. Bagi kita menjadi anak-anak Allah tidak hanya melibatkan roh kita, tetapi juga melibatkan hati kita sebagai pusat kepribadian kita. Perjanjian Baru mewahyukan dengan jelas bahwa roh berada di dalam hati kita (1Ptr. 3:4). Karena itu, tidak mungkin Roh itu diutus ke dalam roh kita tanpa diutus ke dalam hati kita. Memahami bahwa roh kita adalah pusat, atau bagian inti dari hati kita, adalah hal yang sangat penting. Ketika Roh Allah diutus ke dalam roh kita, Roh itu diutus juga ke dalam inti hati kita. Ketika Roh itu berseru di batin kita, Ia berseru dari roh kita dan melalui hati kita. Jadi, keputraan pasti berhubungan dengan hati kita.

Ketika kita berseru kepada Tuhan dari dalam roh kita melalui hati kita, maka perasaan batin yang kita rasakan terutama adalah di dalam hati, bukan di dalam roh. Ini menyiratkan jika kita ingin benar-benar rohani, kita perlu emosi yang wajar. Saudara Watchman Nee pernah berkata bahwa orang yang tidak bisa tertawa atau menangis tidak dapat menjadi orang yang benar rohani. Kita bukan patung-patung yang mati rasa, kita adalah umat manusia yang berperasaan. Karena itu, semakin kita menyeru, “ya Abba, ya Bapa” di dalam roh, dalam hati kita akan semakin merasa manis dan mesra.

Perasaan yang kita rasakan tatkala kita berseru sedemikian sangat manis dan intim. Walaupun Roh keputraan telah masuk ke dalam roh kita, tetapi Roh itu berseru di dalam hati kita, “Ya Abba, ya Bapa”. Ini menunjukkan bahwa hubungan kita dengan Bapa dalam keputraan itu manis dan sangat mesra. Sebagai contoh, ketika seorang anak memanggil ayahnya “papa” dalam batinnya akan timbul perasaan yang manis dan mesra. Tetapi, bila ia mengucapkan kata yang sama ini kepada mertuanya, perasaannya tentu berbeda. Alasannya adalah ia tidak mempunyai hubungan hayat dengan mertuanya. Tetapi betapa manisnya ketika seorang anak kecil, karena menikmati hubungan hayat dengan ayahnya, berkata dengan lembut kepada ayahnya, “bapa”. Demikian pula, alangkah mesra dan manisnya kita memanggil Allah, “Ya Abba, ya Bapa”. Panggilan yang demikian intim ini melibatkan emosi serta roh kita. Roh keputraan dalam roh kita berseru, “Ya Abba, ya Bapa” dari hati kita. Ini membuktikan bahwa kita mempunyai satu hubungan hayat yang sejati dan tulus dengan Bapa kita. Kita adalah anak-anak-Nya yang sejati!

BUKAN LAGI HAMBA, MELAINKAN ANAK-ANAK

Karena kita memiliki Roh keputraan, maka kita tidak lagi perlu dijaga di bawah penjagaan hukum Taurat. Kita tidak perlu hukum Taurat menjadi pengawal, pengurus, atau penuntun kita. Dalam 4:7 Paulus berkata, “Jadi, kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh perbuatan Allah.” Orang beriman dalam Perjanjian Baru tidak lagi menjadi hamba di bawah hukum Taurat, tetapi adalah anak dalam hayat di bawah anugerah. Kita memiliki Roh almuhit itu yang telah menggantikan penjagaan hukum Taurat. Roh itu adalah segala sesuatu kita. Hukum Taurat tidak mampu memberikan hayat, namun Roh itu memberikan hayat dan membawa kita ke dalam kedewasaan, agar kita boleh menerima kedudukan dan hak keputraan yang penuh. Penjagaan atau pengawalan hukum Taurat telah diganti oleh Roh keputraan.

AHLI-AHLI WARIS OLEH ALLAH

Sebagai anak-anak, kita juga ahli-ahli waris oleh Allah. Seorang ahli waris adalah seorang yang sudah dewasa menurut hukum (Hukum Romawi dipakai sebagai ilustrasi) dan yang memenuhi syarat mewarisi harta ayahnya. Kaum beriman Perjanjian Baru menjadi ahli-ahli waris Allah bukan melalui hukum Taurat atau melalui bapa daging mereka, melainkan melalui Allah, yakni Allah Tritunggal Bapa yang mengutus Putra dan Roh (ayat 4, 6); Putra yang menggenapkan penebusan bagi keputraan (ayat 5); dan Roh, yang melaksanakan keputraan di dalam kita (ayat 6).