DUA PERJANJIAN DAN DUA JENIS ANAK
Pembacaan Alkitab: Gal. 4:21-31; 2:19b-20a; 6:12-13, 15
Dalam berita terdahulu telah kita tunjukkan bahwa dalam 4:19 Paulus berkata, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata dalam kamu.” Kalau kita membahas ayat ini dengan konteksnya, kita nampak memang para pewaris janji itu perlu membiarkan rupa Kristus terbentuk ke dalam mereka. Orang-orang yang menjadi anak-anak Abraham melalui iman adalah para pewaris janji itu, yakni yang mewarisi berkat itu. Para pewaris itu perlu dipenuhi, diduduki, dan diresapi oleh Kristus. Mereka perlu membiarkan rupa Kristus terbentuk di dalam mereka.
DIRESAPI DAN DIJENUHI OLEH KRISTUS
Kalau kita ingin mengerti makna terbentuknya Kristus di dalam kita, kita perlu tidak saja membahas Kitab Galatia, tetapi juga Kitab Efesus, Filipi, dan Kolose. Kitab Galatia menunjukkan bahwa Allah menghendaki Kristus tergarap ke dalam umat pilihan Allah, sehingga mereka boleh menjadi anak-anak Allah. Untuk menjadi anak-anak Allah, perlulah kita diresapi dan dijenuhi oleh Kristus.
Kristus harus menduduki seluruh diri kita. Namun, orang-orang Galatia telah diselewengkan dari Kristus kepada hukum Taurat. Karena itu Paulus berulang-ulang mengatakan kepada mereka bahwa meninggalkan Kristus dan berbalik lagi kepada hukum Taurat adalah perbuatan yang sama sekali keliru. Kaum beriman harus kembali kepada Kristus, yang adalah keturunan yang menggenapi janji Allah kepada Abraham, juga adalah tanah permai itu, yakni Roh almuhit yang menjadi kenikmatan kita. Sebagai kaum beriman, kita perlu kenikmatan penuh atas berkat ini, yaitu kenikmatan penuh atas Roh pemberi hayat. Kita perlu dijenuhi, diresapi, dimiliki, dan diambil alih sepenuhnya oleh dan dengan Roh ini. Berdasarkan konteks Kitab Galatia, membiarkan rupa Kristus terbentuk di dalam kita berarti membiarkan Dia meresapi diri kita dan menjenuhi bagian-bagian batiniah kita. Ketika Kristus telah menduduki insan batiniah kita sedemikian rupa, tentu rupa-Nya terbentuk di dalam kita.
DIDUDUKI OLEH ROH ALMUHIT
Untuk membiarkan rupa Kristus terbentuk di dalam kita, perlulah kita membuang setiap perkara yang di luar Kristus, tak peduli bagaimana baiknya perkara-perkara itu. Bahkan perkara-perkara yang berasal dari Allah dan yang Alkitabiah pun boleh jadi bukan Kristus itu sendiri. Walaupun diberikan oleh Allah, hukum Taurat harus kita kesampingkan, agar semua kedudukan dalam diri kita boleh kita berikan kepada Kristus. Kita perlu membiarkan-Nya meresapi setiap bagian insan batiniah kita. Ia harus menduduki kita dan menjenuhi pikiran, emosi, dan tekad kita. Membiarkan Kristus memiliki seluruh diri kita berarti membiarkan rupa-Nya terbentuk di dalam kita.
Dalam Efesus 3:17 kita nampak Paulus berdoa, “Sehingga oleh imanmu Kristus tinggal di dalam hatimu.” Kita tahu bahwa hati mencakup pikiran, tekad, emosi, dan hati nurani. Membiarkan Kristus berumah di dalam hati kita berarti Ia berumah di dalam semua bagian insan batiniah kita. Jika Kristus ingin berumah di dalam hati kita, perlulah Ia tinggal menetap di batin kita. Hal ini lagi-lagi berarti membiarkan rupa Kristus terbentuk di dalam kita.
Membiarkan rupa Kristus terbentuk di dalam kita berarti membiarkan Roh almuhit itu menduduki setiap bagian insan batiniah kita. Hukum Taurat tidak seharusnya diberi ruang apa pun dalam pikiran, emosi, atau tekad kita. Seluruh ruang dalam batin kita harus menjadi milik Kristus. Kita harus membiarkan Kristus menduduki kita sepenuhnya. Ia tidak boleh hanya tersebar ke dalam pikiran, emosi, dan tekad kita saja, tetapi Ia harus benar-benar menjadi pikiran, emosi, dan tekad kita. Biarlah Kristus menjadi pikiran, keputusan, dan kasih Anda. Biarlah Ia menjadi segala sesuatu Anda. Inilah artinya membiarkan rupa Kristus terbentuk di dalam Anda. Segala sesuatu yang di luar Kristus harus dikurangi, dan Kristus harus menjadi segala sesuatu kita dalam pengalaman kita.
KENIKMATAN PENUH ATAS BERKAT INJIL
Hari ini Kristus adalah Roh Pemberi hayat sebagai berkat Injil, berkat yang telah dijanjikan oleh Allah. Memiliki kenikmatan penuh atas berkat ini berarti membiarkan rupa Kristus terbentuk di dalam kita. Ini berarti jika kita ingin memiliki kenikmatan penuh atas berkat Injil, kita perlu membiarkan rupa Kristus terbentuk sepenuhnya di dalam kita. Kalau rupa Kristus belum terbentuk sepenuhnya di dalam kita, kenikmatan kita atas berkat Perjanjian Baru juga belum penuh. Walaupun kita telah menikmati berkat itu sebagian, tetapi kita harus maju untuk membiarkan Kristus menduduki kita sepenuhnya, mengambil alih serta meresapi tiap bagian insan kita dengan diri-Nya sendiri. Berbuat demikian berarti menikmati berkat Injil sampai sepenuh-penuhnya. Inilah sasaran Paulus menulis suratnya kepada kaum beriman Galatia. Tatkala ia memohon kasih mesra mereka dalam 4:8-20, Paulus memiliki tujuan ini dengan jelas dalam benaknya. Ia memohon kasih dari kaum beriman, agar rupa Kristus boleh terbentuk di dalam mereka demi penggenapan sasaran Allah.
Galatia 4:21 mengatakan, “Katakanlah kepadaku, hai kamu yang mau hidup di bawah hukum Taurat, tidakkah kamu mendengarkan hukum Taurat?” Kitab Galatia dengan hebat menanggulangi penyimpangan terhadap Kristus dengan berada di bawah hukum Taurat. Penyimpangan ini membuat kaum beriman tidak bisa menikmati Kristus sebagai hayat dan segala sesuatu mereka.
DUA JENIS ANAK
Kita telah nempak dalam 4:8-20 betapa Paulus berbicara dengan sikap kasih dan memohon perasaan mesra dari orang-orang Galatia. Ia berbuat demikian dengan maksud menyuplaikan Kristus kepada mereka. Tetapi dalam ayat 21 Paulus kembali pada nada yang dipakainya dalam pasal 3. Pada faktanya, ia berbicara kepada mereka dengan nada yang lebih keras. Dalam ayat 22 dan 23 ia melanjutkan, “Bukankah ada tertulis bahwa Abraham mempunyai dua orang anak, seorang dari perempuan yang menjadi hambanya dan seorang dari perempuan yang merdeka? Tetapi anak dari perempuan yang menjadi hambanya itu dilahirkan seperti biasanya, sedangkan anak dari perempuan yang merdeka itu dilahirkan karena janji.” “Dilahirkan seperti biasanya” menurut bahasa aslinya adalah “dilahirkan menurut daging”. Menurut daging berarti bersandar pada usaha daging manusia; dilahirkan karena janji berarti dilahirkan melalui kuasa Allah dalam anugerah yang terkandung di dalam janji-Nya. Ismael dilahirkan menurut daging, tetapi Ishak karena janji. Berdasarkan konteksnya, hukum Taurat menuruti daging, dan anugerah menuruti janji. Anak yang dilahirkan hamba perempuan itu dilahirkan menurut daging, sedang yang dilahirkan perempuan merdeka itu dilahirkan menurut anugerah. Karena anugerah menuruti janji, maka dilahirkan melalui janji berarti dilahirkan melalui anugerah.
DUA PEREMPUAN
Berbicara tentang dua perempuan dalam ayat 22, dalam ayat 24 Paulus berkata, “Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: Yang satu berasal dari Gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar Hagar ialah Gunung Sinai di tanah Arab dan ia sama dengan Yerusalem yang sekarang, karena ia hidup dalam perhambaan dengan anak-anaknya.” Dari kedua perjanjian yang disebut pada ayat 24, yang satu adalah perjanjian dari janji yang diberikan kepada Abraham, yang berhubungan dengan Wasiat yang Baru, perjanjian anugerah; dan yang lainnya adalah perjanjian dari hukum Taurat yang diberikan kepada Musa, yang tidak berhubungan dengan Wasiat yang Baru. Sara, perempuan merdeka itu, melambangkan perjanjian dari janji, dan Hagar, hamba perempuan, melambangkan perjanjian dari hukum Taurat.
Gunung Sinai adalah tempat hukum Taurat diberikan (Kel. 19:20). Perhambaan yang dikatakan dalam ayat 24 adalah perhambaan di bawah hukum Taurat. Hagar, gundik Abraham, melambangkan hukum Taurat. Karena itu, posisi hukum Taurat seperti seorang gundik. Sara, istri Abraham, melambangkan anugerah Allah (Yoh. 1:17), yang mempunyai posisi yang benar dalam ekonomi Allah. Seperti Hagar, hukum Taurat melahirkan anak-anak ke dalam perhambaan, seperti penganut agama Yahudi. Seperti Sara, anugerah melahirkan anak-anak ke dalam keputraan; inilah kaum beriman Perjanjian Baru. Mereka tidak lagi berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah anugerah (Rm. 6:14). Mereka harus berdiri di dalam anugerah ini (Rm. 5:2) dan tidak hidup di luar anugerah (Gal. 5:4).
Dalam ayat 25 Paulus menyinggung, “Yerusalem yang sekarang.” Yerusalem, sebagai pilihan Allah (1 Raj. 14:21; Mzm. 48:3, 9), tentu adalah milik perjanjian dari janji, yang dilambangkan oleh Sara. Namun, karena Yerusalem membawa umat pilihan Allah ke dalam ikatan hukum, Yerusalem itu dihubungkan dengan Gunung Sinai, yang menjadi milik perjanjian dari hukum Taurat, yang dilambangkan oleh Hagar. Pada zaman Paulus, Yerusalem dan anak-anaknya adalah hamba di bawah hukum Taurat.
Perkataan Paulus dalam ayat 24 dan 25 sangat jelas dan keras. Tidak perlu diragukan, para penganut agama Yahudi pasti tersinggung karenanya.
Ayat 26 mengatakan, “Tetapi Yerusalem surgawi adalah perempuan yang merdeka dan dialah ibu kita.” Ibu penganut-penganut agama Yahudi adalah Yerusalem yang duniawi, tetapi ibu kaum beriman adalah Yerusalem surgawi. Yerusalem surgawi akhirnya akan menjadi Yerusalem Baru dalam langit baru dan bumi baru (Why. 21:1-2), yang berhubungan dengan perjanjian dari janji. Yerusalem surgawi adalah ibu kaum beriman Perjanjian Baru, yang bukan hamba di bawah hukum Taurat, melainkan anak-anak di bawah anugerah. Kita, kaum beriman Perjanjian Baru, semuanya dilahirkan dari Yerusalem surgawi dan akan berada di Yerusalem Baru dalam langit baru dan bumi baru.
KETURUNAN ABRAHAM
Ayat 27 mengatakan, “Karena ada tertulis: ‘Bersukacitalah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembira dan bersorak-sorailah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak daripada yang bersuami’.” Ini menunjukkan bahwa keturunan rohani Abraham yang adalah milik Yerusalem surgawi, perjanjian dari janji di bawah kemerdekaan anugerah, lebih banyak daripada keturunan alamiahnya, yang adalah milik Yerusalem bumiah, dan milik perjanjian di bawah perhambaan hukum Taurat.
Menurut Kejadian 22:17, Allah berjanji kepada Abraham bahwa keturunannya akan seperti pasir di tepi laut dan bintang-bintang di langit. Di sini kita nampak adanya dua jenis keturunan: yang surgawi dan yang bumiah, yang rohani dan yang alamiah. Orang-orang Yahudi adalah keturunan Abraham menurut daging, sedang kaum beriman dalam Kristus adalah keturunannya menurut Roh itu. Keturunan alamiah, orang-orang Yahudi, ibarat pasir di tepi laut, tetapi keturunan rohani, orang-orang Kristen, yang jumlahnya jauh melampaui keturunan alamiah, ibarat bintang-bintang di langit.
Ayat 28 melanjutkan, “Dan kamu, Saudara-saudara, sama seperti Ishak, kamu adalah anak-anak janji.” “Anak-anak janji” adalah anak-anak yang dilahirkan dari Yerusalem surgawi melalui anugerah di bawah perjanjian dari janji.
ISMAEL MENGANIAYA ISHAK
Ayat 29 mengatakan, “Tetapi sebagaimana dahulu, dia yang dilahirkan seperti biasanya, menganiaya yang dilahirkan menurut Roh, demikian juga sekarang ini.” Dua macam anak yang dilahirkan oleh kedua perjanjian itu memiliki sifat yang berbeda. Anak yang dilahirkan oleh perjanjian dari hukum Taurat dilahirkan menurut daging; anak yang dilahirkan oleh perjanjian Allah dilahirkan menurut Roh. Anak-anak yang dilahirkan menurut daging tidak berhak berbagian dalam berkat yang dijanjikan Allah, tetapi anak-anak yang dilahirkan menurut Roh memiliki hak penuh. Penganut agama Yahudi adalah anak-anak macam pertama; kaum beriman dalam Kristus adalah anak-anak macam terakhir. Anak-anak janji (ayat 28) dilahirkan menurut Roh, Roh hayat Allah, yang adalah berkat Allah yang dijanjikan kepada Abraham (3:14).
Menurut Paulus, anak yang dilahirkan menurut daging menganiaya anak yang dilahirkan menurut Roh itu. Ini menyatakan bahwa Ismael menganiaya Ishak (Kej. 21:9). Selain itu, penganut agama Yahudi, keturunan Abraham menurut daging, menganiaya kaum beriman, keturunan Abraham menurut Roh, seperti Ismael menganiaya Ishak. Sama seperti pada hari ini. Ismael-Ismael hari ini, yaitu orang-orang yang menurut daging, sedang menganiaya Ishak-Ishak sejati, anak-anak menurut Roh itu.
KETURUNAN ABRAHAM DAN
ANAK-ANAK PEREMPUAN MERDEKA
Dalam ayat 30-31 Paulus menyimpulkan, “Tetapi apa kata nas Kitab Suci? ‘Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba perempuan itu tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anak perempuan merdeka itu.’ Karena itu Saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka.” Penganut agama Yahudi yang berada di bawah perhambaan hukum Taurat, adalah anak-anak hamba perempuan. Mereka tidak akan mewarisi berkat janji Allah Roh yang almuhit sebagai ekspresi akhir dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Tetapi, kaum beriman Perjanjian Baru, yang berada di bawah kemerdekaan anugerah adalah anak-anak dari perempuan merdeka. Mereka akan mewarisi berkat Roh yang dijanjikan itu. Sebagai kaum beriman di dalam Kristus, kita bukanlah anak-anak hukum Taurat di bawah perhambaan hukum Taurat, melainkan anak-anak anugerah di bawah kemerdekaan anugerah, untuk menikmati Roh almuhit dengan segala kekayaan Kristus. Penting sekali untuk di ingat, yakni perempuan merdeka mewakili anugerah dan janji, sedang hamba perempuan, Hagar, mewakili hukum Taurat dan daya upaya daging. Jadi, hukum Taurat melahirkan anak-anak menurut daging, tetapi janji dan anugerah melahirkan anak-anak menurut Roh itu.
Kesimpulan pasal 4 sangat mirip dengan kesimpulan pasal 3. Paulus menutup pasal 3 dengan mengatakan bahwa kita “Adalah keturunan Abraham dan ahli waris menurut janji Allah.” Kemudian, ia menutup pasal 4 dengan kata-kata demikian: “Karena itu, Saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka.” Pada akhir pasal 3 kita nampak bahwa kita adalah anak-anak Abraham, tetapi pada akhir pasal 4, kita adalah anak-anak perempuan merdeka yang berhak mewarisi janji itu. Sebenarnya, kedua pasal ini membicarakan perkara yang sama ditinjau dari sudut yang berlainan.
LIMA HAL YANG POSITIF
Bila kita membahas masalah kedua perjanjian dan kedua jenis anak, perlulah kita terkesan akan janji Allah, anugerah, Kristus, Roh itu, dan anak-anak menurut Roh itu. Berlawanan dengan semua itu, ada hukum Taurat, daging, perhambaan, dan anak-anak menurut daging. Anakanak menurut daging adalah orang-orang yang terikat dalam perhambaan. Dalam berita ini saya berbeban agar kita semua terkesan dengan lima hal yang positif ini: janji, anugerah, Kristus, Roh itu, dan anak-anak menurut Roh itu.
PENGUNGKAPAN HASRAT HATI ALLAH
Janji yang diberikan kepada Abraham merupakan pengungkapan hasrat hati Allah. Ketika Allah membuat janji kepada Abraham, Ia membuka hati-Nya dan mengungkap hasrat hati-Nya. Walaupun manusia telah jatuh dan berada di bawah kutuk, tetapi hasrat hati Allah ialah memberkati semua bangsa. Keinginan-Nya ialah memberikan diri-Nya sendiri sebagai berkat kepada semua bangsa. Allah telah mengatakan kepada Abraham bahwa di dalam dia semua bangsa akan diberkati (Kej. 12:3). Janji ini diberikan karena adanya latar belakang tertentu. Pada waktu janji itu diberikan, semua bangsa berada di bawah kutuk. Sudah pasti Abraham memahami hal itu. Kemudian, Allah yang mulia tiba-tiba menampakkan diri kepadanya dan berjanji bahwa di dalam dia segala bangsa akan diberkati. Betapa hebatnya perkataan ini! Ketika Allah yang mulia menampakkan diri kepada Abraham di Ur-Kasdim, Abraham, sangat tertarik. Ia juga sangat terpikat. Karena ia tertarik oleh Allah, maka Abraham dapat mengikuti-Nya keluar dari Ur-kasdim. Kemudian, ketika Abraham menjelajahi tanah Kanaan, Allah berjanji akan memberikan tanah itu kepada keturunannya. Karena itu, dalam janji Allah kepada Abraham terkandung dua aspek utama, yakni aspek semua bangsa akan diberkati, dan aspek tanah permai. Di satu pihak, semua bangsa akan diberkati melalui penebusan Kristus. Di pihak lain, Kristus, yang di lambangkan dengan tanah permai itu adalah wujud Allah Tritunggal sebagai Roh pemberi hayat almuhit yang menjadi kenikmatan dan suplai yang limpah lengkap. Kedua aspek yang terkandung dalam janji Allah kepada Abraham ini adalah pengungkapan hasrat hati Allah.
Janji yang Allah berikan kepada Abraham mencakup jauh lebih banyak daripada pembenaran oleh iman. Memang, kita tahu bahwa Abraham percaya kepada Allah dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran (3:6). Namun, kita harus nampak bahwa perlakuan Allah terhadap Abraham mencakup jauh lebih banyak daripada itu. Injil yang diberikan kepada Abraham sebenarnya merupakan pengungkapan hasrat hati Allah.
KEDATANGAN KRISTUS DAN ANUGERAH
Dua ribu tahun setelah hasrat hati Allah diungkapkan kepada Abraham Kristus datang. Ketika Kristus datang, anugerah juga datang. Anugerah adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi kenikmatan kita. Anugerah yang sedemikian ini merupakan kegenapan janji Allah, yaitu kegenapan hasrat hati Allah.
Sebelum kedatangan Kristus, Alkitab tidak memberi tahu kita bahwa Allah bergembira atau berkenan. Namun, ketika Kristus dibaptiskan, Bapa mendeklarasikan: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:17). Ketika Tuhan berada di gunung perubahan bersama tiga orang murid, Bapa juga mengucapkan perkataan serupa (Mat. 17:5). Allah merasa gembira melihat penggenapan kehendak-Nya oleh anugerah, yang sebenarnya adalah satu Persona hidup, Kristus, Anak Allah, perwujudan Allah Tritunggal itu. Persona hidup ini adalah penggenapan hasrat hati Allah. Benarlah jika dikatakan bahwa penggenapan janji Allah adalah oleh anugerah juga oleh Persona hidup Kristus, sebab Persona hidup ini adalah anugerah itu sendiri.
ROH PEMBERI-HAYAT
Hari ini kita sedang menikmati anugerah, Persona hidup ini, yang sekarang adalah Roh Pemberi hayat di batin kita. Jika Kristus bukan Roh Pemberi hayat yang berhuni di dalam kita, kita tidak dapat menjadi satu dengan Dia, dan mustahil bagi-Nya untuk menggarapkan semua kekayaan ke-Allahan ke dalam diri kita. Bagaimana Kristus dapat hidup di dalam kita dan terbentuk di dalam kita kalau Ia hanya sebagai Persona obyektif yang duduk di surga di sebelah kanan Bapa, sebagai Persona yang terpisah dari Bapa dan Roh itu? Itu sama sekali mustahil! Kristus yang sedemikian pasti tidak dapat diwahyukan ke dalam kita, hidup di dalam kita, atau terbentuk di dalam kita. Jika semuanya itu ingin menjadi pengalaman kita, Kristus harus menjadi Roh pemberi hayat. Puji Tuhan, karena anugerah yang kita nikmati adalah Kristus, dan Kristus adalah Roh Pemberi hayat!
ANAK-ANAK MENURUT ROH ITU
Karena kita memiliki anugerah, Kristus, dan Roh pemberi hayat, maka kita adalah anak-anak menurut Roh itu. Betapa bahagianya kita memiliki pendengaran tentang iman dan olehnya kita menerima anugerah! Kita telah nampak bahwa hasrat hati Allah, janji yang diberikan kepada Abraham, digenapkan melalui anugerah, dan anugerah adalah Kristus sebagai Roh pemberi hayat. Roh ini sekarang berada di dalam roh kita dan menjadikan kita anak-anak menurut Roh. Inilah wahyu dalam Galatia 3 dan 4.
Sebagai orang-orang yang menjadi anak-anak menurut Roh itu, kita harus mengesampingkan hukum Taurat, daging, perhambaan, dan anak-anak menurut daging. Kita harus mengucapkan selamat jalan kepada semua itu dan sejak kini menolak gangguannya. Sebaliknya, kita harus menetap dalam penggenapan hasrat hati Allah, menikmati anugerah, Kristus dan Roh almuhit sebagai berkat Injil itu.
PILIHAN KITA
Dalam 4:21-31 kita nampak dua perempuan, dua perjanjian, dan dua Yerusalem. Kita dapat memilih antara Hagar dan Sara, antara Yerusalem bumiah dan Yerusalem surgawi, dan antara perjanjian hukum Taurat dan perjanjian yang dijanjikan, yakni wasiat anugerah. Tambahan pula, kita boleh memilih menjadi anak-anak menurut daging atau menurut Roh itu. Puji Tuhan, karena Ia memperlihatkan kepada kita kedua perjanjian dan kedua jenis anak! Galatia 3 dan 4 begitu jelas bahkan mutlak bening bagi kita. Kita memuji Tuhan, karena kita adalah milik Yerusalem yang di atas, anak-anak dari perempuan yang merdeka! Terpujilah Dia, karena kita adalah anak-anak menurut Roh yang menikmati Roh almuhit sebagai berkat Injil!
?