← Daftar isi 2 Korintus (2) · bab 19/20

PARA MINISTER DARI PERJANJIAN YANG BARU (8)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 6:1-13

APA ADANYA KITA

DAN APA YANG KITA LAKUKAN

Dalam 2Korintus 2:12-3:11 Paulus menyinggung tentang ministri dari perjanjian yang baru, dan dalam 2Korintus 3:12-7:16, tentang para minister dari perjanjian yang baru. Bagian tentang para minister dari perjanjian yang baru dalam Surat Kiriman ini lebih panjang daripada bagian tentang ministri perjanjian yang baru. Alasannya adalah karena Allah jauh lebih memperhatikan para minister daripada ministri. Dengan kata lain, Allah lebih memperhatikan apa adanya kita daripada apa yang kita lakukan. Ini berarti bahwa apa adanya kita jauh lebih penting bagi-Nya daripada apa yang kita lakukan.

Hari ini dalam dunia orang Kristen dan dunia sekuler perhatian yang lebih banyak itu diberikan kepada apa yang dapat dilakukan seseorang daripada memperhatikan apa adanya orang itu. Orang-orang Kristen terutama memperhatikan pekerjaan atau ministri, namun mengabaikan apa adanya orang yang mengerjakannya. Mereka memperhatikan pekerjaan dan ministri jauh lebih banyak daripada memperhatikan pekerja dan minister. Tetapi menurut Alkitab, Allah lebih memperhatikan apa adanya kita daripada apa yang kita lakukan atau apa yang dapat kita lakukan. Dia memperhatikan bagaimana diri kita dan bagaimana kehidupan yang kita tempuh. Karena itu, dalam 2 Korintus Paulus pertama-tama menyajikan ministri Perjanjian Baru. Kemudian ia melanjutkan memperlihatkan bahwa ministri yang unggul dan yang menakjubkan ini memerlukan para minister yang unggul dengan hayat yang unggul.

Kita perlu sangat terkesan dengan fakta bahwa Allah jauh lebih memperhatikan apa adanya kita daripada apa yang kita lakukan. Apa yang kita lakukan itu harus diukur dengan apa adanya kita. Selain itu, manusia kita ini harus sesuai dengan pekerjaan kita, yaitu, apa adanya kita harus sesuai dengan apa yang kita lakukan. Diri kita harus sesuai dengan perbuatan kita. Jadi, diri kita dan perbuatan kita berjalan seiring. Jika kita hanya memperhatikan apa yang kita lakukan dan tidak memperhatikan menjadi orang yang benar, maka apa yang kita lakukan itu tidak akan memiliki bobot. Perbuatan kita akan berbobot hanya bila perbuatan itu sesuai dengan apa adanya kita.

BEKERJA DENGAN HAYAT YANG SERBA SESUAI

Dalam 2Korintus 6:1 Paulus berkata, “Dan sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan menyia-nyiakan anugerah (kasih karunia) Allah yang telah kamu terima.” “Dan” di sini menunjukkan suatu kelanjutan. Pada bagian terakhir dari pasal 5 (ayat 16-21) rasul memberi tahu kita bahwa mereka, para minister dari perjanjian yang baru, telah diberi amanat ministri pendamaian bagi ciptaan baru Tuhan. Mulai pasal 6:1 sampai akhir pasal 7, dia meneruskan memberi tahu kita bagaimana mereka bekerja. Mereka bekerja bersama Allah bersandarkan hayat (bukan karunia apa pun) yang serba kaya dan serba cukup, matang dalam segala, dapat menyesuaikan segala situasi, yaitu dapat menahan perlakuan macam apa pun, dapat menerima lingkungan macam apa pun, dapat bekerja dalam keadaan apa pun, dan dapat memegang kesempatan apa pun, untuk merampungkan ministri mereka.

Ada orang, begitu membaca sampai di sini, mungkin berkata, “Ini adalah perkataan yang baik untuk para sekerja dan minister, tetapi tidak dapat diterapkan kepadaku. Aku adalah orang awam, bukan minister.” Tetapi dalam pemulihan Tuhan tidak ada orang awam. Setiap orang adalah minister, sekerja, dan bahkan memiliki potensi dan kapasitas untuk menjadi seorang rasul. Di tempat lain, kita telah menunjukkan bahwa para rasul adalah teladan dan pola dari bagaimana semua orang beriman itu seharusnya. Dalam Efesus 3 Paulus mengatakan bahwa ia adalah yang terkecil dari semua orang kudus. Selain itu, nama Paulus itu berarti “kecil”. Jika Paulus yang menganggap dirinya yang terkecil dari orang-orang kudus ini, dapat menjadi seorang minister dan seorang rasul, bagaimana dengan Anda? Kita semua memiliki kapasitas untuk menjadi minister-minister dari perjanjian yang baru. Mengenai hal ini, pene-kanan kita tidak seharusnya pada apa yang kita lakukan, melainkan pada apa adanya kita. Kapasitas kita itu terutama bukanlah kapasitas untuk melakukan sesuatu melainkan kapasitas untuk apa adanya kita.

Saya ingin mengatakan bahwa dalam 6:1-7:16 kita dapat melihat bahwa para rasul bekerja bersama Allah dengan hayat yang serba sesuai. Bagian dari 2 Korintus ini tidak menunjukkan bahwa mereka bekerja bersama Allah dengan kekuatan yang serba cukup atau dengan karunia yang ajaib. Namun, orang-orang Kristen pada hari ini menaruh perhatian mereka terutama pada kekuatan dan karunia-karunia. Ada yang mungkin bertanya, “Apakah Anda memiliki kekuatan atau kuasa? Tidakkah Anda tahu bahwa Doktor anu adalah seorang pengkhotbah yang penuh dengan kuasa? Karunia apakah yang Anda miliki? Oh, Doktor anu itu sangat berkarunia.” Tetapi orang-orang Kristen pada hari ini sedikit sekali yang membicarakan tentang hayat atau tentang kehidupan. Orang-orang yang tidak memiliki kekuatan yang sejati mungkin berpura-pura penuh dengan kekuatan. Misalnya, dengan sombong mereka mungkin berdoa, “Di dalam nama Yesus yang berkuasa aku mengikat semua roh-roh jahat!” Tetapi sangatlah menarik bahwa dalam 2 Korintus ini Paulus tidak berbicara seperti ini. Sebenarnya ia sedikit sekali membicarakan tentang karunia maupun kekuatan. Seperti yang dipakai dalam 2 Korintus, karunia itu bukan mengacu kepada karunia-karunia yang ajaib, dan kekuatan itu tidak seperti konotasi secara umum pada orang-orang Kristen hari ini. Jika Anda dengan teliti membaca seluruh Kitab 2 Korintus ini, Anda akan nampak bahwa konsentrasi Paulus adalah pada hayat. Jadi, dalam 2Korintus 6:1-7:16 kita nampak bahwa ia bekerja bersama Allah dengan hayat yang serba sesuai.

Menjadi seorang minister dari perjanjian yang baru itu tidak tergantung kepada karunia atau kekuatan; melainkan tergantung kepada hayat yang dapat sesuai dalam situasi apa pun. Memang, dalam 2Korintus 6:1-13 kata “serba sesuai” ini tidak dipakai. Tetapi jika Anda melihat apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini, Anda dapat nampak bahwa ayat-ayat ini menggambarkan satu hayat yang benar-benar serba sesuai. Seperti yang akan kita lihat dalam berita selanjutnya, di sini Paulus menyinggung delapan belas syarat, tiga kelompok perkara, dan tujuh macam orang. Karena itu, Paulus layak menjadi seorang minister dari perjanjian yang baru dalam setiap aspek.

Dalam 2Korintus 6:1-13 Paulus tidak menuliskan di antara syarat-syarat itu hal-hal seperti filsafat atau psikologi. Jika kita ingin menjadi minister-minister dari per-janjian yang baru yang tepat, kita harus memiliki delapan belas syarat yang disinggung oleh Paulus dan tiga kelompok perkara itu, dan kita perlu menjadi tujuh macam orang itu. Hanya dengan cara inilah kita layak menjadi sekerja Allah bagi ministri Perjanjian Baru-Nya.

Dalam 2Korintus 6:1 Paulus tidak mengatakan bahwa para rasul bekerja bersama satu sama lain. Tidak, ia mengatakan bahwa mereka bekerja bersama Allah. Para rasul ini bukan hanya diamanatkan oleh Allah dengan ministri mereka, mereka juga bekerja bersama Dia. Mereka adalah sekerja-sekerja Allah (1Kor. 3:9). Paulus dan sekerja-sekerjanya bekerja bersama Allah.

DIDAMAIKAN KE DALAM ALLAH

Jika kita ingin memiliki pemahaman yang tepat terhadap apa yang dimaksud dengan bekerja bersama Allah, kita perlu melihat apa yang dikatakan oleh Paulus pada akhir pasal 5. Paulus mengatakan bahwa ia telah diberi amanat oleh Allah dengan ministri pendamaian, yaitu dengan pekerjaan untuk mendamaikan orang lain kepada Allah.

Bertahun-tahun yang lalu, saya memiliki pemahaman yang sangat terbatas tentang pendamaian ini. Pemahaman saya adalah bahwa sebelum kita diselamatkan, kita adalah musuh-musuh Allah, dan tidak ada damai sejahtera antara kita dengan Allah. Bukannya ada damai sejahtera, kita malah bermusuhan dengan Allah. Tetapi ketika kita bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus, darah-Nya membasuh dosa-dosa kita, dan kita menerima pengampunan Allah. Akibatnya, kita dibenarkan oleh Allah dan didamaikan dengan Dia. Setelah demikian didamaikan dengan Allah, maka tidak ada permusuhan lagi antara kita dengan Allah. Sebaliknya, kita memiliki damai sejahtera bersama-Nya. Pemahaman tentang pendamaian ini sangat jauh dari makna pendamaian yang sesungguhnya dalam Perjanjian Baru. Ini bukanlah makna pendamaian yang sepenuhnya seperti yang diministrikan oleh Rasul Paulus.

Apakah pendamaian yang diministrikan oleh Paulus? Saya telah membaca sejumlah buku yang membahas subyek ini, tetapi tidak satu pun dari buku-buku itu yang menunjukkan bahwa ministri pendamaian bukan hanya membawa orang-orang dosa kepada Allah, bahkan lebih jauh lagi, membawa masuk kaum beriman sepenuhnya ke dalam Allah. Jadi, tidak cukup hanya dibawa kembali kepada Allah; kita juga harus berada di dalam Dia.

Ayat yang terakhir dari pasal 5, yaitu ayat 21 mengatakan, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita menjadi kebenaran Allah” (Tl.). Menurut ayat ini, kita menjadi kebenaran Allah bukan hanya melalui Kristus, dengan Kristus, atau oleh Kristus; kita menjadi kebenaran Allah adalah di dalam Kristus. Dari ayat ini kita juga melihat bahwa kita bukan hanya menjadi benar di hadapan Allah, lebih-lebih kita menjadi kebenaran Allah. Menjadi benar adalah satu hal, menjadi kebenaran adalah hal lainnya lagi. Misalnya, ada satu benda yang mungkin adalah emas, tetapi benda itu mungkin bukan emas murni. Betapa ajaibnya bahwa di dalam Kristus kita dapat menjadi kebenaran Allah!

Apakah Anda memiliki keyakinan untuk mengumumkan bahwa Anda berada di dalam Kristus? Sebagai kaum beriman yang sejati, kita dapat bersaksi bahwa kita berada di dalam Dia. Tetapi apakah kita berada di dalam Kristus secara riil dalam kehidupan kita sehari-hari? Misalnya, apakah Anda berada di dalam Kristus sewaktu Anda bergurau? Sewaktu Anda membuat lelucon, apakah Anda yakin bahwa Anda berada di dalam Dia? Anda harus mengakui bahwa pada waktu itu Anda berada di luar Kristus. Tidak ada tumpuan yang netral: kita berada di dalam Kristus atau di luar Kristus. Karena kita secara riil tidak selalu berada di dalam Kristus, maka kita perlu pendamaian lebih lanjut. Kita perlu didamaikan kembali ke dalam Kristus.

Misalnya, Anda berada dalam satu situasi di mana Anda harus mengantri dalam waktu yang sangat lama. Sewaktu Anda menunggu, Anda mungkin merasa sama sekali tidak gembira. Kenyataannya, Anda mungkin sangat kesal. Apakah Anda berada di dalam Kristus pada saat itu? Tidak, Anda berada di luar Dia. Lalu, di manakah Anda berada? Anda berada di dalam diri Anda sendiri. Sering kali, situasi Anda bahkan lebih buruk, karena Anda berada di dalam daging, dan mungkin berada dalam amarah Anda. Karena itu, Anda memerlukan ministri pendamaian untuk sekali lagi membawa Anda kembali ke dalam Allah.

Saya tidak percaya bahwa banyak pembaca 2Korintus 5 yang memiliki pemahaman bahwa pendamaian adalah dibawa masuk ke dalam Allah. Apakah ini pemahaman Anda tentang pendamaian dalam pasal ini? Bagaimanapun, inilah sebenarnya yang dimaksud Paulus dengan pendamaian.

Selama bertahun-tahun saya membaca 2Korintus 5 dan 6 tanpa menyadari bahwa pasal 6 adalah lanjutan dari pasal 5. Dalam 2Korintus 5 Paulus memberi tahu kita bahwa ia diberi amanat berupa ministri untuk mendamai-kan orang lain kepada Allah. Dalam pasal 6 Paulus sedang melaksanakan ministri ini dalam hubungannya dengan orang-orang Korintus.

BERSATU DENGAN ALLAH MELALUI BERBAUR

DENGAN ALLAH

Pemahaman yang Alkitabiah tentang pendamaian ini mencakup lebih banyak daripada sekadar dibawa kembali kepada Allah. Pendamaian adalah dibawa masuk kembali ke dalam Dia. Karena itu, menurut Alkitab, membawa orang lain kepada Allah berarti membawa mereka masuk ke dalam Allah dan membuat mereka mutlak menjadi satu dengan Dia. Namun, dalam kebanyakan pengajaran orang Kristen, perkara kesatuan dengan Allah ini dipahami dengan salah. Menurut konsepsi yang dipegang oleh kebanyakan orang Kristen, menjadi satu dengan Allah dapat dibandingkan dengan istri menjadi satu dengan suaminya. Dalam kasus suami dan istri, ada semacam kesatuan yang korporat. Tetapi dalam Alkitab, menjadi satu dengan Allah itu berarti berbaur dengan Dia. Ini berarti berada di dalam Allah dan membiarkan Allah masuk ke dalam kita. Kesatuan dengan Allah yang Alkitabiah adalah kesatuan yang di dalamnya kita masuk ke dalam Allah dan Allah masuk ke dalam kita. Karena itu, Tuhan Yesus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh. 15:4). Dia tidak berkata, “Tinggallah bersama Aku dan Aku bersama kamu.” Sungguh sangat disayangkan bahwa ada beberapa orang Kristen yang menentang konsep Alkitabiah yang ajaib ini tentang bersatu dengan Allah melalui berbaur dengan Dia!

DIBAWA KEMBALI KE DALAM ALLAH

Sebelum kita sepenuhnya menjadi satu dengan Tuhan, sepenuhnya berada di dalam Dia, dan membiarkan Dia berada di dalam kita dengan mutlak, kita akan terus-menerus memerlukan ministri pendamaian ini, yaitu ministri yang diamanatkan kepada Paulus. Paulus diberi amanat untuk membawa kaum beriman masuk ke dalam Allah dengan cara yang mutlak dan riil. Begitu kita melihat hal ini, kita bersyarat untuk memahami bagian yang terakhir dari pasal 5 dan bagian yang pertama dari pasal 6. Seperti yang telah kita tunjukkan, kata sambung “dan” pada permulaan 2Korintus 6:1 ini menunjukkan bahwa pasal 6 adalah lanjutan dari bagian yang terakhir dari pasal 5.

Saya mendorong Anda untuk tidak berpegang teguh kepada konsepsi pendamaian yang usang dan terbatas. Anda mungkin telah mempelajari buku-buku agama atau buku-buku rohani dan merasa bahwa Anda memiliki penafsiran yang tepat tentang pendamaian. Tetapi saya ingin mendorong Anda untuk menerima pemahaman yang baru dan yang lebih penuh tentang pendamaian ini, nampak bahwa didamaikan adalah dibawa masuk ke dalam Allah dan bahwa ministri pendamaian ini adalah ministri yang membawa orang lain ke dalam Allah.

Ada banyak masalah di antara kaum beriman di Korintus. Semua masalah itu adalah tanda bahwa kaum beriman itu tidak mutlak berada di dalam Allah. Dalam banyak perkara tertentu mereka tidak berada di dalam Allah. Meskipun mereka telah diselamatkan dan dilahirkan dari Allah, tetapi mereka tidak hidup di dalam Dia. Karena alasan ini, maka terhadap banyak perkara di dalam kehidupan mereka sehari-hari, mereka berada di luar Allah. Karena itu, Paulus berbeban untuk membawa mereka masuk ke dalam Allah. Ini adalah untuk mendamaikan mereka kepada Allah.

BEKERJA BERSAMA ALLAH

Para rasul bukan hanya diberi amanat untuk merampungkan pekerjaan pendamaian, ministri pendamaian, tetapi juga bekerja bersama Allah membawa orang masuk ke dalam Allah. Mereka tahu bahwa bersandarkan diri sendiri mereka tidak mungkin dapat membawa orang masuk ke dalam Allah. Mereka tidak memiliki kekuatan ini, kecakapan ini. Mereka perlu bekerja bersama Allah untuk melakukan hal ini.

Dulu banyak dari antara kita yang mengatakan bahwa kita bekerja bagi Tuhan. Tetapi ketika Anda bekerja bagi Dia, apakah Anda merasakan bahwa Anda bekerja sama dengan Dia? Ada satu perbedaan yang sangat besar antara bekerja bagi Allah dan bekerja sama dengan Dia. Bahkan dalam kehidupan insani kita, bekerja sama dengan orang lain berbeda dengan bekerja bagi orang itu. Mari kita mengambil contoh seorang istri yang memasak makanan bagi suaminya. Seorang istri mungkin menikmati memasak bagi suaminya; namun, ia mungkin tidak suka memasak makanan itu bersama suaminya. Sebaliknya, jika suaminya masuk ke dapur dan berusaha untuk mempersiapkan makanan itu dengannya, ia mungkin akan berkata, “Biarkan aku saja yang memasak makanan ini bagi kamu. Jangan masuk ke dapur untuk menggangguku. Duduklah dan beristirahatlah sampai makananmu siap.” Ini menunjukkan bahwa sang istri ini lebih suka memasak bagi suaminya, bukan memasak dengannya. Sama halnya dengan bekerja bagi Tuhan. Sering kali kita suka bekerja bagi Tuhan, tetapi kita tidak mau bekerja sama dengan Dia. Bahkan mungkin kita bersikap bahwa Tuhan seharusnya tinggal di surga sementara kita bekerja bagi Dia di bumi. Jika kita bekerja secara demikian, kita tidak akan dapat mendamaikan orang lain ke dalam Tuhan. Karena kita sendiri tidak berada di dalam Tuhan secara riil dalam pekerjaan kita, maka kita tidak dapat mendamaikan orang lain ke dalam Tuhan. Hanya dengan bekerja sama dengan Tuhan barulah kita dapat mendamaikan orang lain ke dalam Dia.

Bekerja bersama Allah berarti kita berada di dalam Dia. Ketika kita berada di dalam Dia, kita dapat membawa orang lain masuk ke dalam Dia. Hanya orang yang berada di dalam Allah baru dapat membawa orang lain masuk ke dalam Allah. Jika Anda tidak berada di dalam Dia, tentu Anda tidak akan dapat membawa seorang pun ke dalam Dia. Keintiman kita dengan Allah adalah ukuran hasil pekerjaan kita. Jika kita jauh dari Allah, kita tidak akan dapat membawa orang lain dekat kepada-Nya. Sejauh mana kita dapat membawa orang lain kepada Allah dan membawa mereka masuk ke dalam Allah, selalu diukur dengan hubungan kita dengan Allah. Jika kita adalah orang-orang yang bersatu dengan Allah, barulah kita dapat membawa orang lain ke tempat di mana kita berada. Karena itu, jika kita ingin membawa orang lain masuk ke dalam Tuhan, kita sendiri harus berada di dalam Dia. Semakin kita berada di dalam Dia, kita semakin dapat mendamaikan orang lain ke dalam Dia. Kiranya hal ini menanamkan kesan yang dalam pada diri kita!

TIDAK MENERIMA KASIH KARUNIA ALLAH DENGAN SIA-SIA

Pada bagian bawah dari 2Korintus 6:1 Paulus mengatakan kepada orang-orang Korintus, “Kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan menyia-nyiakan anugerah Allah yang telah kamu terima.” Nasihat ini adalah pekerjaan pendamaian seperti disebut dalam 2Korintus 5:20.

Paulus menasihatkan orang beriman di Korintus agar tidak menerima kasih karunia Allah dengan sia-sia. Kasih karunia adalah Kristus yang bangkit yang menjadi Roh pemberi hayat untuk membawa Allah yang telah melalui proses dalam kebangkitan ke dalam kita untuk menjadi hayat dan suplai hayat kita, supaya kita dapat hidup dalam kebangkitan. Ini berarti kasih karunia adalah Allah Tri-tunggal yang menjadi hayat dan segala sesuatu kita. Oleh kasih karunia ini, Saulus dari Tarsus, orang yang paling berdosa di antara orang-orang berdosa (1Tim. 1:15-16), menjadi rasul yang paling baik, yang bekerja lebih keras daripada semua rasul (1Kor. 15:10). Kasih karunia Allah selalu membawa kita kembali kepada-Nya. Menurut konteks dari 2Korintus 6:1, tidak menerima kasih karunia Allah dengan sia-sia berarti tidak tinggal dalam keadaan yang menyimpang keluar dari Allah, tetapi dibawa kembali kepada-Nya.

KESELAMATAN PENUH

Dalam 2Korintus 6:2 Paulus selanjutnya berkata, “Sebab Allah berfirman, ‘Pada waktu Aku berkenan, Aku mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku menolong engkau.’ Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.” Frase “waktu perkenanan” mengacu kepada waktu kita didamaikan kepada Allah, mendapat perkenan-Nya. Keselamatan dalam ayat ini, menurut konteksnya, mengacu kepada pendamaian. Pendamaian sebenarnya adalah keselamatan yang penuh.

Dalam pasal 5 Paulus membicarakan pendamaian, dan dalam pasal 6 membicarakan keselamatan. Maka, keselamatan yang disinggung dalam 2Korintus 6:2 sebenarnya mengacu kepada pendamaian. Hanya bila kita kaum beriman, yaitu orang-orang yang telah diselamatkan dalam Kristus, telah sepenuhnya didamaikan kepada Allah, barulah kita dapat diselamatkan sepenuhnya. Sebelum itu kita hanya diselamatkan sebagian; kita belum diselamatkan sepenuhnya.

Dalam 2Korintus 6:1-13 kita melihat satu gambaran dari orang yang diselamatkan sepenuhnya. Kita membuktikan keselamatan kita dengan memiliki hayat yang serba sesuai. Dalam ayat-ayat ini Paulus adalah satu teladan dari seorang beriman yang telah diselamatkan sepenuhnya, satu teladan dari orang yang memperhidupkan hayat yang serba sesuai. Dalam berita selanjutnya kita akan melihat rincian dari hayat ini.