PARA MINISTER DARI PERJANJIAN YANG BARU (9)
Pembacaan Alkitab: 2Kor. 6:3-13
Dalam 2Korintus 6:1-2, kita melihat pekerjaan ministri pendamaian dan dalam 2Korintus 6:3-13, kita melihat hayat yang cukup untuk ministri ini. Dari 2Korintus 6:3 sampai akhir pasal 7, para rasul menggambarkan hayat yang serba sesuai untuk merampungkan ministri dari perjanjian yang baru ini. Dalam 2Korintus 6:3 Paulus berkata, “Dalam hal apa pun kami tidak menyebabkan orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.” Di sini pelayanan adalah ministri dari perjanjian yang baru (3:8-9; 4:1). Dalam berita ini kita akan melihat hayat yang cukup untuk ministri yang demikian. Hayat ini adalah hayat yang serba sesuai.
KATEGORI YANG PERTAMA
DARI SYARAT-SYARAT ITU
Menahan dengan Penuh Kesabaran
Dalam 2Korintus 6:4 Paulus berkata, “Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: Dalam menahan dengan penuh kesabaran, dalam penderitaan, kesusahan dan kesukaran.” Dalam ayat 4-7 Paulus memberikan kategori yang pertama dari syarat-syarat para minister Allah, para minister dari perjanjian yang baru (2Kor. 3:6). Bertahun-tahun yang lalu, ketika saya membaca ayat-ayat ini, saya terganggu oleh fakta bahwa syarat yang pertama yang diberikan oleh Paulus adalah kesabaran. Saya mengira, dalam membicarakan syarat-syarat dari minister Perjanjian Baru, Paulus seharusnya memulai dengan sesuatu yang besar. Sebaliknya, ia memulai dengan kata-kata “dalam menahan dengan penuh kesabaran”. Jika hari ini seorang beriman ingin melamar untuk menjadi misionaris medis, tentunya ia akan menyebutkan pendidikannya. Tetapi apakah ia akan menyatakan bahwa ia memiliki syarat kesabaran ini? Bagaimanapun, syarat pertama yang dituliskan Paulus adalah kesabaran.
Banyak penerjemah yang menyetujui bahwa kata Yunani yang diterjemahkan penuh kesabaran dalam 2Korintus 6:4 ini berarti sabar. Ada versi lain yang memakai kata sabar sebagai pengganti kesabaran. Namun, menerjemahkan kata Yunani ini sekadar sabar tidaklah cukup. Ada perbedaan antara sabar dengan kesabaran. Tentunya, baik sabar maupun kesabaran ini adalah kebajikan yang positif. Tetapi sabar itu masih di bawah kesabaran. Sabar itu tidak menyiratkan penderitaan, sedangkan kesabaran menyiratkan penderitaan. Jika Anda berbicara kepada saya untuk jangka waktu yang lama, maka saya perlu sabar mendengarkan Anda. Tetapi untuk menjalani beberapa penderitaan, saya memerlukan kesabaran sebagai tambahan untuk sekadar sabar.
Syarat yang pertama dari seorang minister Perjanjian Baru adalah mampu menahan penderitaan. Minister yang demikian harus dapat bertahan terhadap tekanan, penindasan, penganiayaan, kesusahan, atau ujian apa pun. Saudara Watchman Nee pernah mengatakan bahwa orang yang paling penuh dengan kekuatan adalah orang yang dapat menahan dengan penuh kesabaran. Kesabaran memerlukan kekuatan. Jika kita ingin bertahan terhadap kesulitan, kita perlu dikuatkan, bahkan penuh dengan kekuatan.
Kesabaran ini dinyatakan di dalam diri saudara Nee selama dua puluh tahun ia dipenjara. Menjadi seorang martir dadakan (seketika) adalah satu hal, sangat berbeda dengan berada di dalam penjara selama bertahun-tahun. Seorang martir dadakan mungkin ditangkap, diuji, dan dijatuhi hukuman, dalam waktu yang singkat. Untuk hal ini, tidak diperlukan kesabaran. Tetapi jika seseorang dijebloskan ke dalam penjara dan kemudian diuji selama bertahun-tahun, ini mutlak memerlukan kesabaran.
Setiap minister Perjanjian Baru harus belajar bagaimana bersabar. Para rasul, penatua, dan diaken semuanya memerlukan kesabaran. Ada orang-orang kudus yang sangat pandai dalam “mengauskan” penatua. Di sini, izinkan saya mengatakan kepada saudara-saudara yang bercita-cita menjadi penatua: Anda harus siap menghadapi penggilingan yang terus-menerus. Jika Anda ditaruh dalam tanggung jawab penatua, itu berarti Anda ditaruh di antara batu-batu penggilingan. Beberapa saudara dan saudari akan terus-menerus menggiling Anda. Kelihataannya mereka memiliki satu “amanat” untuk menguji kerohanian para penatua. Melalui mereka, Anda akan diuji untuk dilihat berapa lama Anda dapat bertahan. Tetapi bila Anda bertahan dalam kesabaran, Anda akan meministrikan hayat kepada orang lain. Orang-orang yang memiliki kesabaran adalah orang-orang yang meministrikan hayat.
Penderitaan
Paulus menyebutkan penderitaannya dalam 2Korintus 1:8: “Sebab kami mau, Saudara-saudara, supaya kamu tahu tentang penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga mengenai hidup kami.” Inilah syarat lain baginya untuk menjadi seorang minister dari perjanjian yang baru.
Kesusahan
Sulit untuk menyerap makna yang sesungguhnya dari kata yang diterjemahkan “kesusahan”. Darby dalam terjemahannya juga memakai kata kesusahan. Versi China memakai kata kemiskinan. Bila kita berada dalam kekurangan, kekurangan makanan, tempat tinggal, atau pakaian, maka kita berada dalam kesusahan. Dalam 2Korintus 12:10, di mana kata Yunani yang sama dipakai, versi bahasa Chinanya memakai kata yang berarti kesulitan yang menyedihkan. Kata Yunaninya berarti keperluan yang mendesak, yang menekan dengan berat. Ini mengacu kepada penderitaan yang diakibatkan dari malapetaka dan kesulitan yang menyedihkan. Contohnya malapetaka meletusnya Gunung Saint Helens beberapa waktu yang lalu. Itu adalah satu malapetaka bagi orang-orang yang tinggal di sekitar gunung berapi itu. Akibat dari malapetaka itu adalah kelaparan dan kekurangan kebutuhan sehari-hari. Paulus telah melalui banyak malapetaka dan kesulitan yang menyedihkan dan, sebagai akibatnya, ia berada dalam kesusahan.
Orang-orang Kristen pada hari ini menilai seorang hamba Allah bukan dengan pengalamannya dalam kesusahan, melainkan dengan kekayaannya. Jika seseorang memiliki harta yang banyak, ia dianggap diberkati oleh Tuhan. Tetapi jika seorang beriman menjadi miskin, kekurangan makanan, tempat tinggal, pakaian, atau kebutuhan lain untuk kehidupan sehari-hari, banyak orang akan mengatakan, “Saudara ini tidak diperkenan oleh Allah. Karena Allah tidak senang terhadapnya, maka Dia tidak memberkatinya.” Lalu, bagaimana dengan Paulus, yang berada dalam kesusahan? Tentu saja, ia diperkenan oleh Allah. Kita tidak boleh menganggap bahwa kekayaan adalah satu tanda bahwa kita diberkati oleh Tuhan dan diperkenan oleh-Nya. Sebaliknya, kekurangan, kesusahan, dan kemiskinan bisa jadi adalah syarat-syarat yang sejati seorang minister dari perjanjian yang baru.
Kesukaran
Dalam ayat 4 Paulus juga membicarakan tentang kesukaran. Secara harfiah kata Yunani yang diterjemahkan kesukaran itu berarti kesempitan ruangan; karena itu mengacu kepada kesulitan yang menyedihkan, kesulitan-kesulitan, penderitaan-penderitaan. Beberapa penerjemah membalikkan susunan kata-kata dalam ayat 4 ini, dengan memakai kesukaran untuk penderitaan, dan penderitaan untuk kesukaran. Kita dapat mengatakan bahwa kesukaran adalah penderitaan batini yang datang sebagai satu reaksi terhadap penderitaan-penderitaan yang di luar.
Dari berbagai kata yang dipakai oleh Paulus dalam ayat 4 ini kita mengetahui bahwa ia berada dalam berbagai jenis persoalan. Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa kehidupan Paulus adalah satu kehidupan penderitaan, malapetaka, kesulitan yang menyedihkan, kesusahan, dan kesukaran. Apakah Anda senang mendengar hal ini? Apakah Anda masih mau menjadi seorang minister dari perjanjian yang baru setelah Anda mendengar tentang kesulitan-kesulitan dan persoalan Paulus? Hari ini banyak orang muda didorong untuk menjadi pelajar sekolah kependetaan. Setelah lulus dari suatu seminari, mereka mungkin akan dapat menemukan pekerjaan yang baik sebagai seorang pastur atau pendeta. Mereka mungkin disediakan rumah dan tunjangan yang memadai. Namun, Paulus bukanlah minister yang demikian, dan ia tidak menempuh kehidupan yang demikian. Sebaliknya, kehidupannya, yaitu kehidupan yang melayakkan dia untuk menjadi seorang minister dari perjanjian yang baru, adalah kehidupan kesabaran, penderitaan, kesusahan, dan kesukaran.
Menanggung Pukulan
Ayat 5 mengatakan, “Dalam menanggung pukulan, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa.” Dalam menanggung pukulan mengacu kepada pukulan-pukulan yang diterima oleh Paulus. Dalam 2Korintus 11:23 ia mengatakan “menanggung pukulan di luar batas,” di mana kata di luar batas secara harfiah berarti melampaui batas. Dalam 2Korintus 11:24 Paulus berkata, “Lima kali menanggung pukulan oleh orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan.” Selain itu, menurut Kisah Para Rasul 16:23, di Filipi, Paulus dan Silas berkali-kali didera dan kemudian mereka dilemparkan ke dalam penjara (Kis. 16:23).
Penjara
Dalam 2Korintus 11:23 Paulus mengatakan “lebih sering di dalam penjara”. Paulus berkali-kali dilemparkan ke dalam penjara. Kita baru saja menunjukkan peristiwa di Filipi. Dalam Efesus 3:1 Paulus menyebut dirinya sendiri sebagai “tawanan Kristus Yesus,” dan dalam Efesus 4:1 sebagai “orang yang dipenjarakan karena Tuhan.” Juga, dalam 2Timotius 1:8 dan Filemon ayat 9 dan 23, Paulus menyinggung pemenjaraannya.
Kerusuhan
Kerusuhan mengacu kepada pemberontakan, revolusi, dan gangguan yang besar. Kisah Para Rasul 17:5 menggambarkan kerusuhan yang demikian. Kisah Para Rasul 19 menggambarkan kerusuhan yang besar yang terjadi di Efesus. Ayat 23 dari pasal itu mengatakan, “Kira-kira pada waktu itu timbul huru hara besar mengenai Jalan Tuhan.”
Jerih Payah
Dalam 2Korintus 11:23 Paulus mengatakan bahwa ia “lebih banyak berjerih lelah”. Paulus menyinggung hal ini dalam 1Tesalonika 2:9: “Sebab kamu masih ingat, Saudara-saudara, akan usaha dan jerih payah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.” Ia menunjukkan hal ini lagi dalam 2Tesalonika 3:8, di mana ia berkata, “Dan tidak makan roti orang dengan cuma-cuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu.”
Berjaga-jaga
Berjaga-jaga mengacu kepada tidak tidur, seperti yang dialami oleh para rasul dalam Kisah Para Rasul 16:25; 20:7-11, 31; dan 2Tesalonika 3:8. Paulus menunjukkan hal ini dalam 2Korintus 11:27, yang mengatakan “kerap kali aku tidak tidur”. Ini mengacu kepada situasi di mana tidak ada jalan untuk tidur atau tidak ada waktu untuk tidur. Ini adalah satu aspek dari kehidupan Paulus.
Berpuasa
Berpuasa dalam ayat 5 ini bukan mengacu kepada berpuasa untuk berdoa. Ini adalah berpuasa karena kekurangan makanan. Dalam 2Korintus 11:27 berpuasa ini disinggung bersamaan dengan berjerih payah dan bekerja berat, berjaga-jaga, kelaparan dan kehausan. Karena berpuasa ini dicantumkan bersama bekerja berat, maka itu pasti mengacu kepada puasa yang tidak direncanakan karena kekurangan makanan. Maka, puasa demikian berbeda dengan kelaparan. Kelaparan mengacu kepada situasi yang tidak berdaya mendapatkan makanan; puasa yang tidak direncanakan mengacu kepada suatu situasi kemiskinan.
Kemurnian Hati
Ayat 6 melanjutkan, “Dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tulus ikhlas.” Kemurnian hati di sini berhubungan dengan motivasi. Di dalam motivasinya Paulus itu murni.
Kata kemurnian dalam ayat ini menyiratkan banyak hal. Jika maksud kita tidak tulus, berarti kita tidak murni. Jika dalam motivasi, kita adalah bagi sesuatu selain Tuhan sendiri, maka motivasi kita itu tidak murni. Demikian juga, jika sasaran kita adalah untuk memperoleh sesuatu selain kemuliaan Allah, maka sasaran kita itu tidak murni. Kemurnian menunjukkan bahwa kita tidak memperhatikan yang lain, selain Allah dan kemuliaan-Nya.
Pengetahuan
Tentunya, pengetahuan adalah masalah pikiran. Paulus mencantumkan “pengetahuan” menunjukkan bahwa minister Perjanjian Baru tidak boleh menjadi orang yang tidak pandai. Sebagai minister dari perjanjian yang baru kita perlu banyak memiliki pengetahuan. Karena alasan ini, saya mendorong orang-orang muda untuk mendapatkan pendidikan yang tepat dan mempelajari bahasa-bahasa asing. Khususnya, jika Anda ingin dipakai oleh Tuhan, Anda perlu mendapatkan pengetahuan bahasa Yunani atau bahasa Ibrani. Juga akan sangat membantu bila Anda mempelajari sejarah. Tidak diragukan lagi, kita perlu mempelajari Alkitab dan mempelajari wahyu alkitabiah yang tepat. Untuk menjadi minister dari perjanjian yang baru, kita perlu memiliki banyak pengetahuan.
Kesabaran
Sulit untuk membedakan ketekunan dengan kesabaran. Ketekunan mungkin menekankan kekuatan atau kemampuan untuk menderita, dan kesabaran menekankan lamanya bertahan dalam penderitaan itu. Untuk menjadi seorang minister Perjanjian Baru, kita harus menyadari bahwa tidak ada satu pun yang dapat digenapkan bagi tujuan kekal Allah tanpa penderitaan. Sejak manusia jatuh, segala sesuatu dalam kehidupan manusia digenapkan melalui penderitaan. Menurut Kejadian 3, perempuan akan menderita dalam melahirkan anak. Penderitaan diperlukan dalam membesarkan anak-anak kita. Memang, kita yang menjadi orang tua menikmati anak-anak kita. Ketika seorang ibu memeluk anak kecilnya atau memandangnya sewaktu anak itu tidur, ia sangat gembira. Meskipun demikian, kenyataannya anak-anak mendatangkan kesulitan bagi orang tua mereka. Mungkin pada waktu membesarkan anak, lebih banyak penderitaannya daripada kenikmatannya. Selain itu, menurut Kejadian 3, manusia juga harus berjerih lelah untuk mencari nafkah, karena tanah mengeluarkan semak dan duri. Kelihatannya rumput liar selalu tumbuh lebih baik daripada tanam-tanaman yang kita tanam. Ini adalah satu tanda dari kesulitan dan penderitaan hidup manusia.
Semua orang, yang kaya maupun yang miskin, mempunyai kesulitan. Jika kita sebagai minister dari perjanjian yang baru ingin membantu orang lain dalam penderitaan mereka, bagaimana kita dapat menghindar dari penderitaan? Kita juga tidak terkecuali. Sebaliknya, kita harus menderita dan akhirnya mengalami kesabaran. Jangan mengira bahwa sebagai seorang minister Anda dapat menghindar dari penderitaan. Anda akan memiliki sukacita dalam kehidupan pernikahan atau kehidupan keluarga, tetapi Anda juga akan memiliki penderitaan, malah mungkin lebih banyak penderitaan daripada sukacita. Sebenarnya, seorang minister dari perjanjian yang baru akan lebih banyak menderita daripada orang lain. Seorang minister adalah seorang yang harus menempuh kehidupan insani yang tepat seperti yang ditempuh Tuhan Yesus. Tuhan lebih banyak menderita daripada orang lain. Menempuh kehidupan insani yang sejati adalah menderita. Kehidupan insani terutama adalah suatu kehidupan penderitaan bukan kenikmatan. Semakin kita menempuh kehidupan insani yang meministrikan Kristus kepada orang lain, kita akan semakin menderita. Maka, kita memerlukan syarat kesabaran ini.
Kemurahan Hati
Saya percaya bahwa dalam pemikiran Paulus kesabaran berhubungan dengan kemurahan hati. Biasanya bila kita sedang menderita kita tidak memiliki kemampuan untuk memperhatikan orang lain. Tetapi kemurahan hati itu menyiratkan bahwa kita bagi orang lain. Saya percaya bahwa konsepsi Paulus adalah bahwa sewaktu kita menderita, kita juga perlu memperhatikan orang lain dan murah hati terhadap mereka. Kita berada dalam kesabaran dan juga dalam kemurahan hati. Bahkan ketika kita menderita, kita tetap harus murah hati kepada orang lain.
Roh yang Kudus
Kebanyakan terjemahan Alkitab menganggap roh dalam ayat 6 mengacu kepada Roh Kudus. Karena itu, mereka menulis kata roh dan kudus dengan huruf besar. Tetapi di sini, menurut konteksnya, Paulus tidak mengacukannya kepada Roh Allah, melainkan kepada roh kita. Ini berarti roh kita harus kudus. Kata-kata “Roh Kudus” di sini lebih tepat diterjemahkan “roh yang kudus”, mengacu kepada roh para rasul yang telah dilahirkan kembali.
Kasih yang Tulus Ikhlas
Kasih adalah masalah hati. Dalam ayat ini kita memiliki motivasi, pikiran, hati, dan roh. Dengan pukulan pada tubuh (ayat 5), pengetahan dalam pikiran, dan kasih dalam hati, seluruh diri rasul, termasuk tubuh, jiwa, dan roh, dipakai dalam hidup mereka untuk merampungkan ministri mereka. Untuk menjadi minister-minister dari perjanjian yang baru, seluruh diri kita, yaitu tubuh, jiwa, dan roh kita, harus benar.
Pemberitaan Kebenaran
Dalam ayat 7 Paulus berkata, “Dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah.” Kebenaran di sini mengacu kepada realitas dari perjanjian yang baru. Kebenaran berarti realitas dan mengacu kepada semua hal yang riil yang diwahyukan dalam firman Allah, terutama tentang Kristus sebagai perwujudan Allah dan gereja sebagai Tubuh Kristus. Kata kebenaran adalah pernyataan, ungkapan dari realitas ilahi seperti yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru.
Kekuasaan Allah
Kekuasaan Allah disesuaikan dengan pemberitaan kebenaran. Pemberitaan kebenaran tanpa kekuasaan Allah hanyalah merupakan pengetahuan dalam huruf-huruf. Dalam kekuasaan Allah pemberitaan kebenaran itu menjadi realitas. Kekuasaan adalah Roh Allah, bahkan Allah itu sendiri.
?