← Daftar isi 2 Korintus (2) · bab 18/20

PERBAURAN ANTARA KEILAHIAN DENGAN KEINSANIAN

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 3:18; 4:7-15

LANGKAH-LANGKAH UTAMA

DALAM KESELAMATAN PENUH ALLAH

Dalam keselamatan penuh Allah ada sejumlah langkah yang utama. Langkah-langkah ini meliputi penebusan, kelahiran kembali, transformasi, dan pemuliaan. Sebagai ciptaan Allah, kita diciptakan oleh Dia untuk menggenapkan tujuan-Nya. Namun, kita telah jatuh. Jatuh berarti hilang. Kita telah hilang karena kita jatuh ke dalam dosa. Tetapi Allah datang menjadi seorang manusia dalam persona Putra agar Dia dapat menjadi Penebus kita. Sebagai Penebus kita, Kristus mati di atas salib karena dosa-dosa kita. Meskipun kita telah jatuh dan hilang, tetapi Allah datang sebagai manusia untuk menggenapkan penebusan dan membawa kita kembali kepada diri-Nya.

Namun, penebusan hanyalah langkah awal dari keselamatan penuh Allah. Ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita ditebus bagi Allah. Tetapi pada waktu yang sama Roh Allah, dengan penebusan Kristus sebagai dasarnya, masuk ke dalam diri kita. Roh itu terutama masuk ke dalam roh kita untuk melahirkan kita kembali, membawa hayat Allah masuk ke dalam roh kita yang telah mati dan membuat roh kita menjadi hidup. Dengan cara ini kita dilahirkan kembali dari Allah. Dilahirkan kembali ini tidak sama dengan dilahirkan dari orang tua kita untuk menerima hayat jasmani; dilahirkan kembali adalah dilahirkan dari Allah untuk menerima hayat rohani. Ini berarti Allah yang adalah hayat masuk ke dalam roh kita untuk menjadi hayat kita, sifat kita, dan persona kita.

Dalam pengalaman kita, penebusan dan kelahiran kembali terjadi pada waktu yang sama. Kita telah ditebus dan dosa-dosa kita telah diampuni. Hasilnya, kita dibenarkan oleh Allah dan didamaikan dengan Dia. Sekarang, karena Kristus telah menebus kita bagi Allah, maka tidak ada lagi masalah antara kita dengan Allah. Pada saat yang sama, kita dilahirkan kembali, dilahirkan lagi dari Allah. Melalui kelahiran kembali kita telah menjadi anak-anak Allah.

TRANSFORMASI, PENYUSUNAN, REORGANISASI

Sama seperti penebusan, kelahiran kembali hanyalah merupakan permulaan, langkah awal dari keselamatan Allah. Sebagaimana kelahiran adalah permulaan dari hidup manusia, maka kelahiran kembali adalah permulaan dari kehidupan rohani. Setelah kelahiran kembali, kita memerlukan transformasi.

Jika kita ingin memahami makna transformasi, kita perlu memakai istilah-istilah seperti penyusunan dan reorganisasi (pembentukan kembali). Dalam hubungannya dengan transformasi, pemakaian kata penyusunan ini berarti ada satu unsur baru ditambahkan ke dalam diri kita dan tersusun ke dalam kita. Tentunya, unsur yang ditambahkan ke dalam kita ini adalah unsur ilahi. Sebelum kita dilahirkan kembali, kita tidak memiliki unsur ilahi. Entah kita baik atau buruk, kita semua hanya memiliki unsur insani. Orang-orang yang telah jatuh dan yang telah ditebus ini sama dalam hal memiliki unsur insani.

Kita dapat membandingkan diri kita dengan segelas air. Entah gelas itu bersih atau kotor, gelas ini tidak berisi hal lainnya selain air putih. Gelas ini tidak memiliki isi lainnya, tidak ada unsur lainnya. Karena itu, apa yang ada di dalam gelas itu tidak memiliki bau atau warna lain selain air. Namun, jika teh ditambahkan ke dalam air di dalam gelas ini, maka ada unsur lain yang dimasukkan ke dalam air ini. Jadi, ada dua substansi, yaitu air dan teh, teh dan air, yang dibaurkan bersama-sama. Perbauran ini adalah yang kita maksud dengan penyusunan. Air ini disusun ke dalam teh dan teh disusun ke dalam air.

Setelah memakai ilustrasi air dan teh ini, kita akan menunjukkan bahwa air tidak mungkin menjadi teh tanpa adanya unsur teh yang ditambahkan kepada air itu. Hanya ada satu cara supaya air dapat menjadi teh, yaitu dengan memasukkan teh itu ke dalam air. Ketika unsur teh itu ditambahkan ke dalam air, maka unsur ini akan menyusun air itu menjadi teh. Begitu air menjadi teh, maka air itu memiliki dua unsur; teh dan air. Siapa saja yang minum teh ini akan menerima dua unsur ini. Ia mengambil satu jenis minuman ke dalamnya, tetapi ia menerima dua jenis unsur. Ia menikmati air untuk meleraikan dahaganya dan menikmati teh untuk memberikan satu rasa yang khas kepadanya.

TIDAK ADA SUBSTANSI KETIGA

YANG DIHASILKAN

Namun, kita perlu jelas bahwa perbauran antara teh dan air ini tidak menghasilkan substansi yang ketiga, yaitu substansi yang bukan teh juga bukan air. Mengatakan bahwa unsur teh dibaurkan dengan unsur air itu bukan berarti bahwa dua substansi asalnya, yaitu teh dan air itu, lebur dan tidak ada lagi. Sebaliknya, air itu tetap air, dan teh itu tetap teh. Perbedaannya adalah begitu teh dan air itu dibaurkan, maka keduanya tidak dapat dipisahkan lagi. Keduanya itu berbeda, tetapi keduanya tidak dapat dipisahkan, karena keduanya telah berbaur dan tersusun menjadi satu kesatuan, menjadi satu minuman. Sama prinsipnya, ketika keilahian berbaur dengan keinsanian, keilahian dan keinsanian itu tetap ada. Tidaklah benar bila kita mengatakan bahwa perbauran ini menghasilkan substansi yang ketiga, yaitu sesuatu yang bukan ilahi atau bukan insani.

PERMULAAN PERBAURAN

Ketika kita dilahirkan kembali, teh ilahi ditambahkan ke dalam kita. Sebelum itu, entah kita baik atau jahat, kita hanya memiliki unsur keinsanian. Baik perampok bank maupun seorang yang sangat beretika sama saja dalam hal tidak memiliki unsur ilahi sebelum mereka dilahirkan kembali. Kita memuji Tuhan bahwa pada waktu kita dilahirkan kembali, Allah masuk ke dalam diri kita. Pada waktu itu Persona ilahi dengan hayat ilahi, sifat ilahi, dan apa adanya ilahi ditambahkan kepada kita. Sungguh suatu perbedaan yang hebat! Sekarang sebagai orang-orang yang telah diselamatkan dan telah dilahirkan kembali, kita memiliki dua unsur ini unsur insani dan unsur ilahi. Selain itu, kita memiliki hayat ilahi dan hayat insani, dan memiliki sifat ilahi juga sifat insani. Unsur keilahian telah ditambahkan ke dalam unsur keinsanian kita.

Penambahan unsur ilahi atas diri kita pada waktu dilahirkan kembali itu menandai awal perbauran keilahian dengan keinsanian di dalam kita. Karena itu, kelahiran kembali, hanyalah merupakan awal dari perbauran ini. Ketika teh ditambahkan kepada air, maka air dan teh itu bekerja untuk menghasilkan satu kesatuan, satu minuman. Kita dapat mengatakan bahwa teh dan air itu bekerja sama untuk menghasilkan minuman ini. Sama prinsipnya, begitu Allah ditambahkan ke dalam diri kita, maka Dia mulai bekerja di dalam kita. Sekarang kita perlu bekerja sama dengan pekerjaan Allah, yaitu dengan operasi-Nya.

Sejak kita dilahirkan kembali, ada satu proses penyusunan dan transformasi yang terjadi di dalam kita. Proses ini juga mencakup reorganisasi. Melalui kelahiran kita sebagai manusia kita diorganisir dengan cara tertentu. Tetapi sekarang ada unsur yang baru, unsur ilahi, yang telah masuk ke dalam diri kita, maka perlu ada reorganisasi. Karena itu, kita perlu penyusunan, transformasi, dan reorganisasi.

Dalam beberapa abad yang pertama dari sejarah gereja ada guru-guru Alkitab pada zaman dulu yang melihat perkara perbauran, mengalaminya, dan mengajarkannya. Namun, ada guru-guru yang sangat ekstrem dan menyatakan bahwa dalam perbauran antara keilahian dan keinsanian di dalam Kristus, kedua sifat asal itu menghasilkan sifat yang ketiga. Itu adalah bidah, dan dikutuk oleh Konsili Chalcedon. Setelah itu, guru-guru Kristen takut membicarakan tentang perbauran antara keilahian dengan keinsanian. Namun, kita telah mengamati bahwa selama berabad-abad ada orang yang tetap mengajarkan dengan tepat mengenai perbauran keilahian dengan keinsanian. Belakangan ini saya membaca dua buku yang ditulis oleh orang-orang Katholik yang membicarakan perbauran ini dengan benar.

LAMBANG DARI PERBAURAN

Kurban sajian yang tersusun dari tepung halus yang dibaurkan dengan minyak adalah lambang dari perbauran keilahian dengan keinsanian. Adakalanya minyak dicurahkan ke atas tepung halus itu, adakalanya minyak dibaurkan dengan tepung untuk membuat roti yang dipakai dalam kurban sajian, maka dua substansi ini, tepung dan minyak, dibaurkan. Minyak bukan hanya ditambahkan kepada tepung, melainkan dibaurkan dengannya. Tetapi dalam perbauran ini tidak ada dari unsur-unsur ini yang hilang. Tidak, minyak tetap minyak, dan tepung yang halus itu tetap tepung. Tetapi melalui proses perbauran, tepung dan minyak telah menjadi satu kesatuan. Namun, baik minyak maupun tepung itu tidak kehilangan sifatnya karena perbauran ini. Selain itu, perbauran antara minyak dengan tepung itu tidak menghasilkan sifat ketiga, yaitu substansi yang bukan tepung maupun bukan minyak. Produk dari perbauran ini adalah sebuah roti dengan dua sifat, dua unsur, dan dua substansi.

Kurban sajian adalah lambang Kristus. Keinsanian Kristus dilambangkan oleh tepung yang halus itu, dan keilahian-Nya dilambangkan oleh minyak. Perbauran minyak dengan tepung yang halus itu menunjukan bahwa di dalam Kristus, keilahian bukan hanya ditambahkan kepada keinsanian, lebih-lebih dibaurkan. Sama seperti minyak berbaur dengan tepung, demikian juga di dalam Kristus keilahian itu berbaur dengan keinsanian. Karena itu, Kristus memiliki dua sifat, keilahian, dan keinsanian, yang berbaur bersama di dalam satu persona-Nya. Selama hidup-Nya di bumi, Dia terlihat sebagai manusia sejati. Tetapi sering kali ternyata bahwa Dia benar-benar adalah Allah. Pada roti yang dipakai dalam kurban sajian, minyak dan tepung dapat dirasakan. Demikian juga, pada Kristus ternyata keilahian dan keinsanian.

KEPALA DAN TUBUH

Hari ini Kristus adalah Kepala Tubuh, dan kita, pengikut-pengikut-Nya, adalah anggota-anggota-Nya. Sebagai Kepala, Dia memiliki dua sifat, dan sebagai anggota-anggota-Nya, kita juga memiliki dua sifat yang sama. Kristus, Sang Kepala, memiliki keilahian dan keinsanian; kita, anggota-anggota-Nya, juga memiliki keinsanian dan keilahian. Lihatlah tubuh jasmani Anda: kepala dan anggota-anggota tubuh itu memiliki substansi yang sama. Kepala tidak mungkin memiliki satu substansi dan anggota-anggota tubuh memiliki substansi lainnya. Tidak, seluruh tubuh memiliki substansi yang sama, unsur yang sama. Di seluruh tubuh kita ada darah yang sama, hayat yang sama, dan sifat yang sama. Ini juga berlaku bagi hubungan Kristus dan gereja. Apa adanya Kristus dan milik Kristus, juga adalah apa adanya kita dan milik kita sebagai anggota-anggota-Nya. Kristus memiliki keinsanian dan keilahian, kita juga memiliki keilahian dan keinsanian. Ini berarti Kristus dan kita yang percaya kepada-Nya, yang adalah anggota-anggota-Nya, memiliki dua sifat. Namun, kita ingin menekankan sekali lagi bahwa perbauran antara keilahian dengan keinsanian di dalam kita ini tidak meng-hasilkan satu sifat yang ketiga. Keinsanian kita tidak hilang. Keilahian maupun keinsanian tidak musnah dalam perbauran ini.

KEILAHIAN DAN KEINSANIAN

DITENUN BERSAMA-SAMA

Dalam Pelajaran-Hayat Keluaran kita telah menunjukkan bahwa efod, yaitu pakaian yang dipakai oleh Imam Besar, tersusun dari benang emas dan benang lenan yang ditenun bersama-sama. Dua jenis benang ini bukan hanya ditenun samping menyamping atau ditumpukkan satu dengan yang lainnya, melainkan ditenun bersama-sama menjadi satu bahan tekstil. Di dalam tenunan ini benang emas dan benang lenan itu dapat dilihat. Ini juga melambangkan perbauran antara keilahian dan keinsanian di dalam Kristus. Benang emas melambangkan keilahian Kristus, dan benang lenan, melambangkan keinsanian-Nya. Penenunan benang emas dan benang lenan ini bersama-sama di dalam efod itu menunjukkan bahwa di dalam Kristus kedua sifat ini, keilahian dan keinsanian, bukan hanya ditambahkan melainkan ditenun, dibaurkan. Selain itu, sebagaimana penenunan benang emas dan benang lenan ini tidak menghasilkan satu substansi yang ketiga, demikian juga perbauran keilahian dan keinsanian di dalam Kristus tidak menghapuskan keilahian dan keinsanian untuk menghasilkan satu sifat yang ketiga.

PROSES PERBAURAN

Adalah sangat penting bila kita menyadari bahwa setiap orang Kristen yang sejati, setiap orang yang benar-benar percaya Kristus, adalah orang yang mengalami perbauran antara hayat ilahi dan sifat ilahi dengan hayat insani dan sifat insani. Hayat ilahi ini tidak hanya sekali dibaurkan dengan hayat insani kita, lebih-lebih terus-menerus berbaur dengan hayat insani. Hasilnya, kita menjadi manusia ilahi. Inilah sebabnya kita mengatakan bahwa orang-orang Kristen adalah manusia-manusia Allah. Hayat kita adalah hayat manusia-Allah; kehidupan kita, seperti yang ditunjukkan oleh efod yang tersusun dari benang emas dan benang lenan, adalah satu kehidupan dari keilahian yang berbaur dengan keinsanian. Pakaian rohani kita bukan hanya lenan; tetapi juga emas. Kita memiliki emas dan lenan yang ditenun menjadi satu pakaian. Inilah perilaku kita, karakter kita, kehidupan kita.

Kita memuji Tuhan bahwa proses perbauran ini masih berlangsung di dalam kita. Proses yang berlanjut ini adalah transformasi. Kita juga dapat mengatakannya sebagai penyusunan dan reorganisasi.

Alkitab mewahyukan bahwa sebagai kaum beriman dalam Kristus kita sedang ditransformasi, disusun, dan direorganisasi. Namun, ini tidak diajarkan di antara kebanyakan orang Kristen pada hari ini. Sebaliknya, kaum beriman diajar untuk memperbaiki karakter dan perilaku mereka. Namun, pengajaran semacam ini tidak sesuai dengan Alkitab. Apa saja yang dikatakan Alkitab tentang perilaku kita atau tingkah laku kita itu berkaitan dengan transformasi. Kita harus nampak bahwa transformasi adalah jalan yang benar. Ini sangatlah penting. Dalam proses transformasi, unsur Allah, yaitu keilahian, senantiasa bekerja di dalam kita untuk mentransformasi keinsanian kita, supaya keinsanian yang alamiah ditransformasi menjadi keinsanian yang rohani. Tetapi ini bukan berarti keinsanian kita akan hilang, juga bukan berarti keilahian itu akan berubah atau terpengaruh sedikit. Tidak, keinsanian kita dan keilahian Allah tidak akan berubah; namun, keduanya berbaur bersama menjadi satu kesatuan, satu persona. Perbauran ini menghasilkan manusia-manusia Allah yang sejati. Ini juga akan menghasilkan air teh surgawi untuk kita minum dan kita nikmati hari demi hari.