← Daftar isi 2 Korintus (2) · bab 13/20

MEMBAWA KEMATIAN YESUS DAN PEMBARUAN MANUSIA BATINIAH (1)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 4:10-18

Kita telah melihat bahwa sebagai kelanjutan dari 2Korintus 3, pasal 4 ini membentangkan satu gambaran dari satu hayat yang membuat para minister dari perjanjian yang baru itu menjadi satu dengan ministri mereka. Bagaimana para rasul dapat membuktikan bahwa mereka adalah para minister dari perjanjian yang baru? Mereka dapat membuktikannya dengan menempuh kehidupan yang digambarkan dalam pasal 4. Oleh hayat inilah mereka bersatu dengan ministri mereka

Dalam 2Korintus 4 Paulus tidak membicarakan pekerjaannya. Ia tidak menunjukkan apa yang telah ia lakukan atau genapkan. Sebaliknya, ia membicarakan satu kehidupan, yaitu kehidupan yang ditempuh oleh dia dan sekerja-sekerjanya. Menurut pasal ini, Paulus dan sekerja-sekerjanya hidup sedemikian rupa sehingga kehidupan mereka itu menjadi ministri mereka.

NAMA YESUS

Dalam membentangkan kehidupan yang ia tempuh sebagai minister dari perjanjian yang baru, Paulus memakai nama Yesus dengan sangat khusus. Di tempat lain dalam tulisannya, Paulus tidak memakai nama Yesus seperti yang ia lakukan dalam 2Korintus 4. Dalam ayat 10 Paulus berkata, “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan (hayat) Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” Di sini Paulus menunjukkan kematian Yesus dan hayat Yesus. Dalam ayat 11 ia selanjutnya berkata, “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup (hayat) Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.” Paulus juga memakai nama Yesus dalam ayat 14: “Karena kami tahu bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Ia juga akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya.” Dalam ayat-ayat ini Paulus berkali-kali memakai nama Yesus ini.

Kita perlu menemukan mengapa dalam pasal ini Paulus memakai nama Yesus demikian khusus. Tidaklah mudah untuk menjelaskan alasannya. Sebenarnya, mungkin ada lebih dari satu alasan. Dalam berita ini kita akan mulai melihat mengapa Paulus memakai nama Yesus seperti yang ia lakukan dalam 2Korintus 4 ini.

SATU CATATAN KEHIDUPAN

Kita telah menunjukkan bahwa dalam pasal 4 Paulus menggambarkan kehidupan yang ia dan para sekerjanya tempuh. Ini adalah kehidupan yang membuat mereka bersatu dengan ministri mereka. Kehidupan ini berlawanan dengan pekerjaan yang ditekankan di antara orang-orang Kristen pada hari ini. Kekristenan telah menjadi satu agama. Setiap agama bergantung pada pekerjaan-pekerjaan tertentu, karena tanpa pekerjaan-pekerjaan itu, agama tersebut tidak akan dapat bertahan. Suatu agama tidak mungkin ada jika penganut-penganutnya tidak melaksanakan pekerjaan-pekerjaan tertentu. Hasilnya, dalam agama kita memiliki pekerjaan yang bermacam-macam. Dalam agama kita mudah menunjukkan pekerjaan-pekerjaan, tetapi sulit sekali menemukan sesuatu yang berasal dari hayat. Jadi, prinsip dasar agama adalah agama itu penuh dengan pekerjaan, tetapi kekurangan dalam hayat. Ini berlaku bukan hanya bagi agama Kristen, melainkan juga dengan yang lain. Setiap agama penuh dengan pekerjaan, kegiatan, dan perbuatan-perbuatan. Tetapi dalam agama tidak ada hayat.

Dengan memiliki pemahaman tentang agama ini, sekarang marilah kita sekali lagi melihat sejarah Yesus. Bila kita melihat catatan kehidupan Tuhan di bumi, kita akan melihat bahwa penekanannya bukan pada pekerjaan-pekerjaan. Keempat kitab Injil tidak menekankan apa yang Tuhan lakukan, dan tidak menekankan pekerjaan-pekerjaan apakah yang telah digenapkan-Nya. Catatan mengenai Tuhan Yesus dalam kitab-kitab Injil terutama mengenai kehidupan-Nya. Dalam kitab-kitab Injil penekanannya adalah pada kehidupan, bukan pada pekerjaan atau kegiatan. Kitab-kitab Injil adalah biografi yang menyajikan seseorang yang hidup secara khusus. Karena itu, kitab-kitab Injil terutama bukanlah catatan tentang pekerjaan Tuhan yang ajaib; kitab-kitab Injil adalah satu gambaran dari kehidupan Tuhan Yesus di bumi. Inilah salah satu alasan mengapa Paulus dalam 2Korintus 4 sering kali memakai nama Yesus. Pemakaian nama ini dalam pasal 4 membawa kita kembali kepada Tuhan sebagai seorang manusia yang kehidupan-Nya bersatu dengan ministri-Nya. Tuhan hidup sedemikian rupa sehingga persona-Nya bersatu dengan ministri-Nya. Tegasnya, Tuhan tidak menggenapkan satu pekerjaan; sebaliknya, Dia hanya menempuh satu kehidupan tertentu.

Ada orang, mendengar bahwa kitab-kitab Injil menekankan kehidupan Tuhan bukan menekankan pekerjaan-pekejaan-Nya, mereka mungkin akan berdebat, “Saudara Lee, bukankah kitab-kitab Injil juga memberikan catatan tentang pekerjaan-pekerjaan Tuhan Yesus?” Ya, memang demikian. Saya tidak menyangkal bahwa kitab-kitab Injil mengisahkan pekerjaan Tuhan. Namun, jika Anda membaca kitab-kitab Injil dengan teliti, Anda akan melihat bahwa gambaran yang ada di dalamnya itu bukanlah melukiskan catatan pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Sebaliknya, gambaran dalam kitab-kitab Injil itu dilukiskan sedemikian rupa untuk memperlihatkan kehidupan Tuhan. Sedikitnya, dalam gambaran itu kehidupan Tuhan Yesus lebih ditekankan daripada pekerjaan-Nya. Kitab-kitab Injil memperlihatkan kepada kita lebih banyak kehidupan Tuhan daripada pekerjaan-Nya. Ya, kitab-kitab Injil memang menggambarkan pekerjaan-pekerjaan Tuhan, tetapi lebih banyak memperlihatkan kehidupan yang ditempuh Yesus dan memperlihatkan kepada kita bagaimana Dia hidup.

Ada sejumlah petunjuk dalam kitab-kitab Injil bahwa Tuhan Yesus tidak bermaksud melakukan satu pekerjaan yang besar. Kita tahu bahwa selama menunaikan ministri-Nya, Tuhan mengadakan banyak mujizat. Salah satunya adalah memberi makan lebih dari lima ribu orang dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan. Bukankah ini satu mujizat, Tuhan Yesus memberi makan demikian banyak orang dengan lima roti dan dua ikan? Ini benar-benar satu mujizat yang besar. Yohanes 6:14 menggambarkan tanggapan orang-orang terhadap mujizat ini: “Ketika orang-orang itu melihat tanda mujizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, ‘Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.’” Ayat selanjutnya menggambarkan jawaban Tuhan Yesus: “Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri.” Ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus tidak bermaksud mencari banyak pengikut. Bukannya memperhatikan orang banyak, Dia malah pergi. Tetapi jika kita berada di sana bersama Tuhan, kita mungkin akan gembira melihat banyak orang yang mengikuti Dia. Kita mungkin memuji Allah karena berkat-Nya atas pekerjaan ini, bersyukur kepada-Nya untuk pengikut yang banyak. Namun, Tuhan Yesus, tidak gembira. Tuhan tidak membiarkan orang-orang menjadikan Dia sebagai raja mereka. Tuhan meninggalkan orang banyak itu dan pergi ke gunung untuk berdoa.

Dalam Yohanes 12 terdapat contoh lainnya yang menggambarkan bahwa perhatian Tuhan tertuju pada kehidupan, bukan pada pekerjaan. Di Yerusalem ada banyak orang yang memberikan sambutan yang hangat kepada Tuhan Yesus. Mereka mengambil daun-daun palem, pergi menyongsong Dia, dan berseru, “Hosana! Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Yoh. 12:13). Bahkan orang-orang Farisi melihat bahwa seluruh dunia datang mengikuti Dia (ayat 19). Selain itu, ketika Andreas dan Filipus memberitahu Tuhan bahwa orang-orang Yunani sedang mencari Dia, Dia menjawab, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (ayat 23-24). Ini menunjukkan dengan jelas bahwa yang diperhatikan Tuhan Yesus adalah kehidupan, bukan pekerjaan. Dalam keempat kitab Injil ada banyak contoh sedemikian. Kapan saja orang-orang, menurut konsepsi mereka, mengira bahwa ada kesempatan yang baik bagi Tuhan untuk melakukan satu pekerjaan yang besar, Dia tidak pernah mengambil keuntungan dari kesempatan itu. Sebaliknya, Dia pergi meninggalkannya. Dia bukan datang untuk melakukan satu pekerjaan yang besar. Perhatian-Nya adalah pada kehidupan.

DILAYAKKAN OLEH KEHIDUPAN

Dia yang pergi ke salib untuk menggenapkan penebusan bagi perampungan tujuan kekal Allah bukanlah seorang pekerja besar. Bukan pekerjaan yang luar biasa yang melayakkan Tuhan Yesus menjadi Penebus. Yang melayakkan Dia adalah kehidupan yang ditempuh-Nya. Kita tahu dari kitab-kitab Injil bahwa Yesus bukan seorang terkenal yang hidup di sebuah rumah besar di kota besar. Tidak, Dia adalah seorang manusia yang dibesarkan di rumah seorang tukang kayu dari Nazaret, sebuah kota yang hina dari daerah Galilea yang diremehkan. Tetapi kehidupan yang ditempuh-Nya melayakkan Dia untuk menjadi Penebus bagi penggenapan tujuan kekal Allah.

Kita perlu melihat bahwa Tuhan Yesus dilayakkan oleh kehidupan, bukan oleh pekerjaan. Perkara mengutamakan kehidupan melebihi pekerjaan ini adalah satu aspek yang sangat penting dari pemulihan Tuhan pada hari ini. Tuhan ingin memulihkan satu kehidupan; Dia bukan berusaha menggenapkan satu pekerjaan kebangunan.

YESUS YANG MENEMPUH KEHIDUPAN

Sejak reformasi, orang-orang Kristen sering berdoa untuk kebangunan. Ada yang berdoa untuk satu kebangunan yang besar demi merangsang semua orang beriman. Tetapi menurut sejarah, belum pernah ada kebangunan yang demikian. Memang, kira-kira tahun 1904, ada satu kebangunan di Wales. Beberapa pemimpin orang Kristen sangat antusias dan berharap agar kebangunan itu menyebar ke setiap benua. Tetapi kebangunan itu tidak menyebar ke seluruh dunia. Kenyataannya, beberapa tahun kemudian, kebangunan itu akhirnya padam, termasuk di Wales.

Pada tahun 1958, saya diundang ke satu tempat tertentu di London. Pada suatu hari, tuan rumah saya mengantarkan saya melalui daerah pedesaan Inggris dan Skotlandia. Sewaktu mengendarai mobil, ia menunjuk dari jendela dan bercerita tentang orang-orang di pedesaan Skotlandia itu bahwa banyak dari antara mereka yang belum pernah mendengar tentang Yesus. Ia selanjutnya memberi tahu saya bahwa Skotlandia itu seperti negeri kafir. Meskipun demikian, Skotlandia itu tidak jauh dari Wales, di mana kebangunan yang besar pernah terjadi. Ini menunjukkan bahwa cara kebangunan itu tidaklah berhasil. Hanya satu hal yang berhasil dan hal itu adalah kehidupan. Inilah sebabnya Tuhan Yesus tidak datang untuk melakukan satu pekerjaan besar. Sebaliknya, Dia datang untuk menempuh satu kehidupan. Sekarang hayat-Nya telah tersebar ke setiap pelosok bumi ini. Dia bukanlah Yesus yang bekerja, melainkan Yesus yang menempuh kehidupan.

Saya perlu menunjukkan kepada kaum saleh dalam pemulihan Tuhan bahwa banyak dari antara kita, baik yang tua maupun yang muda, masih memperhatikan pekerjaan. Dalam lubuk hati atau secara tidak sadar kepentingan kita itu berhubungan dengan pekerjaan bagi Tuhan. Misalnya, ada yang bercita-cita untuk menjadi penginjil yang besar. Pemikiran untuk melaksanakan satu pekerjaan yang besar mungkin masih ada di dalam hati Anda, di alam ba-wah sadar Anda. Saya mendorong Anda untuk mengesampingkan pemikiran itu. Allah tidak menghargai pekerjaan apa pun. Kebanyakan kerusakan di antara orang-orang Kristen adalah akibat dari pekerjaan manusia. Semakin kita berusaha untuk bekerja bagi Tuhan, semakin banyak kesulitan yang akan kita ciptakan dan semakin banyak kerusakan yang akan kita buat. Saya percaya inilah alasan Paulus memakai nama Yesus, ketika menyajikan penegasan dari ministrinya itu. Ia tidak berkata, “Tuhan Yesus Kristus, Raja di atas segala raja, Tuan di atas segala tuan.” Sebaliknya, ia hanya dengan sederhana berkata tentang Yesus; membawa kematian Yesus, hayat Yesus, dan demi Yesus. Hayat yang dimanifestasikan di dalam tubuh Paulus bukanlah hayat seorang tokoh yang besar, melainkan hayat Yesus, seorang manusia kecil dari sebuah daerah yang diremehkan.

HAYAT DIMANIFESTASIKAN

DALAM DAGING YANG FANA

Dalam 2Korintus 4 Paulus tidak memegahkan pekerjaannya. Ia tidak berkata, “Hai orang-orang Korintus, kamu harus tahu bahwa aku adalah rasul yang paling terkenal. Aku telah mendirikan gereja-gereja sepanjang perjalanan dari Siprus ke Korintus. Aku telah siap untuk pergi lebih jauh lagi, ke Roma, Spanyol, dan kemudian sampai ke ujung bumi. Inilah penegasan dari ministri yang telah diberikan Tuhan kepadaku.”

Paulus tidak membicarakan pekerjaan dan apa yang dirampungkannya, sebaliknya malah membicarakan tentang penindasan. Dalam ayat 8 ia berkata, “Dalam segala hal kami ditindas.” Jika kita menjadi Paulus, kita mungkin akan berkata, “Hai orang-orang Korintus, kami diberkati dalam segala hal. Tidakkah kalian tahu bahwa pekerjaan kami diberkati oleh Tuhan? Berkat atas pekerjaan kami ini membuktikan bahwa ministri kami berasal dari Tuhan dan bahwa pekerjaan kami berasal dari Dia.”

Paulus memberi tahu orang-orang Korintus bahwa ia dan para sekerjanya ditindas dalam segala hal. Orang-orang dunia menganggap ini sebagai satu tanda kutukan, bukan tanda diberkati. Mereka akan bertanya, “Bagaimana mungkin kamu diberkati oleh Allah, jika kamu ditindas? Mengapa kamu sampai ditindas dalam segala aspek?” Tetapi Paulus selanjutnya mengatakan tentang kehabisan akal, dianiaya, dan dihempaskan. Ada yang memberikan nilai tambah kepada Paulus karena ia dianiaya, sebab hal itu mungkin menunjukkan bahwa ia sedang melakukan pekerjaan yang baik. Tetapi mereka tidak akan memberikan nilai tambah kepadanya atas perkara penindasan, kehabisan akal, dan dihempaskan.

Paulus tidak berhenti sampai gambaran yang tercatat dalam ayat 8 dan 9. Dalam ayat 10 ia melanjutkan, “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan (hayat) Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” Dalam ayat ini Paulus tidak berkata, “Kami selalu membawa berkat yang besar dari Allah yang mahakuasa di dalam tubuh kami.” Sebaliknya ia membicarakan tentang membawa kematian Yesus di dalam tubuh. Kelihatannya, Paulus adalah seorang rasul yang kasihan yang berada di dalam satu situasi yang kasihan.

Dalam ayat 11 Paulus selanjutnya berkata, “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hayat Yesus menjadi nyata di dalam daging kami yang fana ini” (Tl.). Mungkin kita berharap Paulus akan berkata, “diselamatkan dari maut,” bukannya “diserahkan kepada maut”. Namun, Paulus selalu diserahkan kepada maut supaya hayat Yesus dapat dimanifestasikan di dalam dagingnya yang fana.

Perhatikanlah bahwa di sini Paulus tidak mengatakan “tubuh” fana, melainkan “daging” yang fana (Tl.). Kata tubuh itu positif, sedangkan kata daging adalah negatif. Fana menunjukkan bahwa daging itu sedang sekarat. Saya kira kita tidak akan senang bila seseorang menyebut tubuh kita sebagai daging yang fana. Meskipun demikian, Paulus mengambil ungkapan yang demikian dalam membicarakan dirinya sendiri.

Paulus tidak suka memegahkan diri. Ia lebih suka menjadi kecil dan tetap berada dalam keadaan yang rendah. Kenyataannya, nama Paulus itu berarti kecil. Dalam ayat-ayat ini, maksud Paulus ialah, “Aku lebih suka tinggal dalam kekecilanku. Hayat yang dimanifestasikan atas diriku adalah hayat seorang Nazaret, bukan hayat seorang tokoh yang besar di dunia ini. Selain itu, hayat Yesus ini dimanifestasikan di dalam dagingku yang fana. Aku bukanlah seorang tokoh besar yang memanifestasikan sesuatu yang menakjubkan di atas tubuh yang hebat. Tidak, aku adalah orang yang kecil yang memanifestasikan hayat Yesus, orang dari Nazaret, di dalam dagingku yang fana ini.”

MENYUPLAIKAN HAYAT MELALUI MAUT

Dalam ayat 12 Paulus berkata, “Dengan demikian, maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.” Dalam ayat ini Paulus menunjukkan pekerjaannya. Pekerjaannya adalah pekerjaan maut yang bekerja di dalam dia. Apakah pekerjaan para rasul? Pekerjaan para rasul adalah pekerjaan maut di dalam mereka, supaya hayat dapat bekerja di dalam kaum beriman.

Bagi kita kedengarannya tidak enak bila mendengar bahwa maut bekerja di dalam para rasul. Tetapi, hasil dari pekerjaan maut ini menakjubkan, yaitu menghasilkan hayat dalam orang lain. Inilah pekerjaan yang riil dari ministri dari perjanjian yang baru. Ini bukanlah perkara pekerjaan; ini adalah perkara mati. Di dalam pemulihan Tuhan kita perlu mati supaya hayat dapat bekerja di dalam orang lain. Jadi, kematian kita adalah pekerjaan kita. Tuhan tidak memerlukan Anda menggenapkan satu pekerjaan bagi-Nya. Dia memerlukan Anda mati. Jika Anda mati, hayat akan bekerja di dalam orang lain. Anda akan menyuplaikan hayat kepada orang lain melalui mati. Karena itu, pekerjaan kita adalah diletakkan kepada kematian.

Ayat-ayat yang telah kita lihat dalam berita ini adalah satu jendela yang melaluinya kita dapat melihat ke dalam pengalaman Paulus. Sekarang kita dapat memahami bahwa para rasul itu bukanlah pengikut-pengikut dari seorang tokoh besar, melainkan pengikut seorang kecil, yaitu Yesus dari Nazaret. Selain itu, mereka tidak ditinggikan, sebaliknya selalu diletakkan pada kematian, supaya hayat Yesus dapat dimanifestasikan di dalam daging mereka yang fana itu. Maut bekerja di dalam mereka, supaya hayat dapat bekerja di dalam kaum beriman.