← Daftar isi 2 Korintus (2) · bab 12/20

MANIFESTASI HAYAT MELALUI PEMBUNUHAN SALIB (2)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 4:1-18

Dalam berita sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa 2Korintus 3 adalah satu pasal tentang doktrin dan bahwa 2Korintus 4 adalah satu pasal tentang pengalaman. Selain itu, kita telah melihat bahwa apa yang dibicarakan Paulus dalam pasal 4 adalah satu penegasan dari pengalamannya terhadap apa yang ia katakan mengenai ministri itu dalam pasal 3. Untuk setiap butir utama mengenai ministri dalam pasal 3, ada butir yang bersesuaian dengannya dalam pasal 4. Maka, hayat bersesuaian dengan Roh itu, pembaruan bersesuaian dengan transformasi, dan bobot kemuliaan bersesuaian dengan tingkat kemuliaan. Tetapi apakah yang bersesuaian dengan kebenaran dalam 2Korintus 3? Untuk menjawab pertanyaan ini dengan tepat, kita perlu mempersekutukan lebih jauh tentang kebenaran ini.

SEGALA SESUATU BERADA

DALAM KEADAAN TERATUR

Kebenaran mengacu kepada satu keadaan, satu kondisi, di mana segala sesuatunya berada dalam keadaan teratur. Di mana ada kebenaran, di sana tidak ada gangguan, kekacauan, atau percampuran. Misalnya, di dalam satu sidang gereja kita sering kali dapat melihat kebenaran, karena di dalam sidang itu segala sesuatunya benar dan berada dalam keadaan teratur. Akibatnya, sidang itu berada dalam kondisi, keadaan kebenaran. Tetapi umpamanya para saudara berdebat, dan para saudari marah-marah, dan anak-anak lari-lari di dalam balai sidang. Betapa kacaunya itu! Di dalam situasi yang demikian, keadaan yang kacau, tidak akan ada kebenaran apa pun. Kebenaran mengacu kepada satu keadaan di mana segala sesuatu berada dalam keadaan yang teratur.

Dua Petrus 3:13 mengatakan, “Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.” Kebenaran yang tinggal di langit yang baru dan bumi yang baru ini menunjukkan bahwa segala sesuatunya berada dalam keadaan teratur, dan tidak ada satu pun yang akan salah, marah-marah, atau berada dalam kekacauan. Tidak ada kekacauan dan kebingungan, hanya ada damai sejahtera dan keteraturan. Dalam pandangan Allah, keadaan yang demikian adalah kebenaran. Seluruh keadaan di langit baru dan bumi baru adalah kebenaran. Tidak ada satu pun yang tidak teratur; sebaliknya, segala sesuatunya akan berada dalam keadaan teratur. Keadaan yang teratur ini adalah kebenaran.

Dalam 2Korintus 4:8 Paulus membicarakan tentang ditindas dalam segala hal, atau diserang dari setiap aspek. Tetapi tidak peduli berapa banyak ia ditindas atau diserang, padanya tidak ada kekacauan. Sebaliknya, ada manifestasi hayat. Manifestasi hayat ini menghasilkan satu keadaan yang damai sejahtera dan tenang.

Andaikata Anda dipersulit dari setiap aspek oleh suami atau istri Anda, oleh anak-anak Anda, dan oleh kerabat Anda. Namun Anda tidak terganggu, tidak kacau, Anda malah memanifestasikan hayat; ini berarti hayat tertampil keluar dari diri Anda di dalam situasi itu. Akibatnya, keadaan Anda akan menjadi keadaan yang damai sejahtera dan teratur. Meskipun kesulitan datang menimpa Anda dari setiap aspek, Anda tetap berada dalam kondisi yang teratur dan penuh damai sejahtera. Di dalam Anda, Roh itu yang telah melalui proses, yakni Roh itu yang telah “dimasak”, dialami sebagai hayat yang dapat menenangkan seluruh situasi itu. Inilah kebenaran.

Dalam 2Korintus 4:8 dan 9 Paulus membicarakan tentang ditindas, kehabisan akal, dianiaya, dan dihempaskan. Kita tentu mengira situasi yang demikian itu akan menghasilkan kekacauan. Tetapi jika Anda berada di dalam situasi itu namun segala sesuatunya menjadi tenang dan teratur, itu adalah manifestasi hayat. Selain itu, keadaan yang teratur itu adalah keadaan kebenaran.

PENUH DENGAN HAYAT DAN KEBENARAN

Setiap kali Roh itu terekspresi sebagai hayat, akan ada kebenaran. Begitu ada kebenaran, segala sesuatunya akan menjadi tenang, penuh damai sejahtera, dan teratur. Jika Anda mengalami hal ini di dalam kehidupan keluarga Anda, anak-anak Anda akan menjadi tenang, dan suami atau istri Anda akan ditundukkan. Hayat yang demikian selalu menenangkan kekacauan. Ketika orang lain menerima hayat ini dari Anda, mereka juga akan menikmati keadaan yang penuh dengan damai sejahtera.

Kehidupan gereja adalah satu kehidupan kebenaran. Dalam kehidupan gereja segala sesuatunya seharusnya tenang, penuh damai sejahtera, dan teratur. Masa milenium, yaitu Kerajaan Seribu Tahun, akan penuh dengan kebenaran. Karena ada kebenaran di dalam kerajaan, maka akan ada damai sejahtera. Kerajaan tidak lain satu alam kebenaran dengan damai sejahtera. Kebenaran ini adalah hasil dari hayat.

Menurut Alkitab, dalam Kerajaan Seribu Tahun, maut akan dikurangi dan dibatasi secara besar-besaran (Yes. 65:20). Sebaliknya akan ada kelimpahan hayat. Akibatnya, lingkungan di dalam Kerajaan Seribu Tahun itu akan penuh damai sejahtera. Alkitab memakai istilah kebenaran untuk menyatakan keadaan dan kondisi yang penuh damai sejahtera itu.

Setelah Kerajaan Seribu Tahun, akan ada langit baru dan bumi baru dengan Yerusalem Baru. Di dalam Yeru-salem Baru, tidak akan ada maut, dan hayat akan mengalir untuk mempertahankan keadaan yang penuh damai sejahtera (Why. 21:4; 22:1). Ini akan menjadi satu kebenaran yang kekal. Kemudian kita semua akan memperhidupkan hayat ilahi dalam satu tingkat kebenaran. Kehidupan gereja pada hari ini harus menjadi miniatur dari keadaan semacam ini. Begitu pula seharusnya dengan kehidupan keluarga kita. Oleh belas kasihan dan kasih karunia Tuhan, kehidupan gereja dan kehidupan keluarga kita dapat penuh dengan hayat dan kebenaran.

Kehidupan yang penuh dengan hayat dan kebenaran merupakan satu penegasan ministri dari perjanjian yang baru. Menurut perkataan Paulus dalam 2Korintus 3, ministri dari perjanjian yang baru adalah ministri Roh itu dan kebenaran. Ministri ini menyuplaikan Kristus sebagai Roh itu dan kebenaran kepada orang. Dalam 2Korintus 4 Paulus membentangkan pengalamannya terhadap Roh itu dan kebenaran. Ketika kita mengalami Roh itu, hayat akan dimanifestasikan. Ketika hayat dimanifestasikan, kita dibawa masuk ke dalam satu keadaan damai sejahtera, di mana tidak ada satu pun yang salah atau tidak teratur. Inilah kebenaran, satu keadaan di mana segala sesuatunya hidup, benar, dan teratur. Dalam pandangan Allah, ini adalah kebenaran. Para rasul mengalami Roh itu, memanifestasikan hayat, dan hidup dalam keadaan kebenaran. Sekali lagi kita melihat bahwa kehidupan mereka dan ministri mereka adalah satu.

MAKIN MEROSOT

Kita telah melihat bahwa pembaruan dalam pasal 4 bersesuaian dengan transformasi dalam pasal 3. Dalam 2Korintus 4:16 Paulus berkata, “Sebab itu, kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami merosot, namun manusia batiniah kami diperbarui dari hari ke hari.” Terjemahan “manusia lahiriah kami merosot” ini adalah satu terjemahan yang tepat. Namun, banyak dari antara kita yang lebih suka mengatakan bahwa manusia lahiriah kita dihabisi, diauskan, dan dikikis. Perbedaannya adalah bahwa “merosot” ini aktif, sedangkan “dihabisi” itu pasif.

Kita dapat memakai gugurnya daun-daun dari pohon-pohon sebagai satu ilustrasi. Pada musim gugur, banyak pohon yang kehilangan daun-daunnya, dan selama musim dingin pohon-pohon ini berhenti bertumbuh. Di satu pihak, gugurnya daun dari sebuah pohon adalah satu perkara yang aktif, tetapi di pihak lain ini adalah perkara yang pasif. Perkara ini aktif karena pohon-pohon itu menggugurkan daun-daunnya. Tidak ada kekuatan dari luar yang menyebabkan daun-daunnya gugur. Pohon itu sendiri yang menjatuhkan daun-daunnya. Kita dapat mengatakan bahwa ketika sebuah pohon meranggas, pohon itu sedang merosot. Ini adalah aktif. Tetapi di pihak lain, pohon-pohon itu dipaksa untuk meranggas. Jika pohon bisa berbicara, ia mungkin akan berkata, “Tolonglah aku! Aku tidak ingin kehilangan daun-daunku. Aku ingin musim berubah dari musim gugur langsung ke musim semi, sehingga daun-daunku tidak akan hilang.” Sebuah pohon yang kehilangan daun-daunnya juga dapat dianggap pasif. Perkataan Paulus “manusia lahiriah kami merosot” ini aktif. Tetapi perkataan ini juga dapat dipahami seperti dalam bentuk pasif. Maka, kita dapat mengatakan bahwa manusia lahiriah kita dihabisi atau dikikis.

Sekarang mari kita menerapkan pemahaman ini atas pengalaman sehari-hari. Misalnya ada seorang saudara yang ditindas di setiap aspek. Tentunya orang yang ditindas dan diserang secara demikian akan terkikis, terauskan. Jika Anda adalah orang yang menderita penindasan yang demikian, apakah Anda tidak akan berseru dan berkata, “Selamatkan aku. Aku sedang dihabisi. Kalian semua menghabisi aku dan mengikis aku. Aku dihabisi oleh kalian semua.” Akan tetapi saudara ini dan juga kita semua tahu bahwa sama seperti sebuah pohon ditetapkan untuk kehilangan daun-daunnya, demikian juga manusia lahiriah kita ditetapkan untuk dihabisi.

Dia yang menciptakan pohon-pohon ini menetapkan bahwa ada banyak macam pohon yang akan meranggas. Sebagai “pohon” orang Kristen, kita juga telah ditetapkan untuk “meranggas”. Karena nasib kita adalah meranggas, pasti akan ada sesuatu atau seseorang yang akan memaksa kita untuk meranggas. Allah tidak pernah menghendaki manusia lahiriah kita bertahan lama. Sebaliknya, Dia telah menentukan agar manusia lama kita, manusia lahiriah kita, akan merosot, akan habis. Karena itu, nasib manusia lahiriah kita adalah mati. Anda mungkin hidup sangat lama, tetapi pada akhirnya manusia lahiriah Anda itu akan mati. Memperpanjang hayat manusia lahiriah Anda itu bukanlah maksud Allah. Karena itu, janganlah minta tolong Tuhan untuk memelihara manusia lahiriah Anda, dan jangan minta diselamatkan dari hal-hal atau orang-orang yang akan menghabisi Anda. Sebaliknya, Anda harus berkata, “Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu. Semua orang dan hal-hal ini membantuku untuk meranggas lebih dini dan lebih cepat. Tuhan, aku ingin bekerja sama. Aku ingin membiarkan daun-daunku gugur, karena dengan demikian aku akan lebih cepat matang. Tuhan, aku memuji Engkau untuk bantuan ini!”

Tuhan memakai kehidupan pernikahan kita untuk menghabisi manusia lahiriah kita. Sebelum seorang saudara muda menikah, ia mungkin bermimpi tentang saudari yang akan dinikahinya. Kemudian ia akan mencari saudari yang akan menggenapkan impiannya itu. Demikian juga, saudari-saudari muda mencari seorang “pahlawan” untuk menjadi suami mereka. Semua orang muda memiliki impian mengenai kehidupan pernikahan mereka kelak. Mungkin ada yang bepergian dari satu gereja lokal ke gereja lokal lainnya dengan harapan dapat menemukan saudara atau saudari pilihan mereka. Tetapi, hai orang-orang muda, tidak peduli betapa pandainya Anda, Anda tidak akan dapat mengalahkan Allah. Dia telah menentukan nasib Anda mengenai kehidupan pernikahan ini. Anda tidak perlu mengeluarkan begitu banyak energi untuk mencari istri atau suami impian Anda. Sebaliknya, Anda hanya perlu berdoa, “Tuhan, Engkau telah menentukan nasibku. Aku tidak perlu bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya, untuk mencari pasangan. Aku ingin menjadi Ishak pada hari ini, menunggu Engkau mengirimkan kepadaku orang yang telah Engkau tetapkan bagiku.” Namun, belum tentu sangat banyak orang muda yang akan mengikuti cara ini atau menerima perkataan ini. Tetapi saya yakin bahwa setelah beberapa tahun menempuh kehidupan pernikahan, mereka akan menyembah Tuhan dan berkata, “Tuhan, Engkau sungguh berdaulat. Ini bukanlah perkara pilihanku, melainkan adalah penentuan-Mu.”

Saudara-saudara, saya menjamin Anda bahwa Tuhan akan memberikan istri yang paling cocok bagi Anda yang akan menindas dan bahkan menyerang Anda supaya manusia lahiriah Anda dapat dihabisi. Setiap istri tahu waktu yang tepat untuk menyerang suaminya. Sesungguhnya ini adalah kedaulatan Tuhan. Kadang-kadang ketika Anda membuat kesalahan, istri Anda akan sangat ramah kepada Anda dan memberi tahu Anda untuk tidak prihatin tentang hal itu. Tetapi ketika Anda tidak salah, dia mungkin akan menyerang Anda dengan keras tanpa alasan. Sebenarnya, ada satu alasannya: Allah dalam kedaulatan-Nya membiarkan dia berbuat demikian supaya Anda, sebagai pohon, dapat menjatuhkan daun-daun Anda.

Di satu pihak, sebuah pohon menjatuhkan daun-daunnya sendiri; di pihak lain, musim dan lingkungan memaksa pohon itu untuk melakukan hal itu. Bila musim gugur tiba, sebuah pohon harus menjatuhkan daun-daunnya, tidak peduli betapa hijaunya dan baiknya daun itu selama musim panas. Demikian juga, bila musim gugur dan musim dingin tiba dalam kehidupan kristiani kita, kita mungkin akan ditindas oleh anggota-anggota keluarga kita. Selama masa yang sangat dingin itu, kita akan dipaksa untuk menjatuhkan daun-daun kita. Ini berarti, di satu pihak, manusia lahiriah kita akan merosot dan di pihak lain, manusia lahiriah kita akan dihabisi.

Ketika kita mengalami kemerosotan manusia lahiriah kita, kita mungkin memberi tahu Tuhan bahwa kita tidak tahan lagi. Namun, Tuhan mungkin menunjukkan bahwa kita harus menanggungnya lebih lama lagi, karena nasib kita adalah manusia lahiriah kita dihabisi. Inilah pemahaman saya tentang hal ini menurut pengalaman saya.

PEMBARUAN MANUSIA BATINIAH

Juga dari pengalaman saya dapat bersaksi bahwa ada sesuatu yang dihasilkan dari kemerosotan dan penghabisan ini pembaruan manusia batiniah. Memang, manusia lahiriah kita merosot, tetapi manusia batiniah kita diperbarui. Jika kita mempunyai pilihan, kita tentu akan memilih pembaruan dan menghindari kemerosotan. Tetapi jika kita dapat menghindari kemerosotan manusia lahiriah ini, tidak mungkin ada pembaruan manusia batiniah. Kita semua lebih suka menjadi seperti pohon yang selalu berdaun hijau. Di satu pihak, bila musim semi tiba, pohon yang selalu berdaun hijau itu tidak begitu segar. Tetapi pohon-pohon yang daun-daunnya rontok dan yang tidur selama musim dingin akan segar ketika musim semi tiba. Sama prinsipnya, ketika kita mengalami kemerosotan manusia lahiriah kita, kita akan menikmati pembaruan manusia batiniah.

Dalam 2Korintus 3 Paulus membicarakan tentang transformasi. Dalam proses transformasi ini ada satu unsur ilahi yang ditambahkan ke dalam diri kita, dan kita akan disusun dengan unsur ini. Penyusunan ini menghasilkan transformasi. Seperti yang telah kita lihat dalam 2Korintus 4, transformasi ini menjadi pembaruan. Pembaruan ini bukan hanya berhubungan dengan penambahan unsur ilahi ke dalam diri kita. Sifat usang kita, manusia lahiriah kita, juga akan dengan riil disingkirkan supaya hayat di dalam kita, yaitu Roh hayat, memiliki kesempatan untuk berkembang. Perkembangan hayat yang di dalam ini adalah pembaruan. Sekali lagi kita dapat memakai pohon-pohon sebagai satu ilustrasi. Selama musim dingin pohon-pohon itu tidur, tetapi pada musim semi kita dapat melihat perkembangan hayat batiniahnya. Ini bukan hanya transformasi, tetapi juga pembaruan.

Transformasi adalah perkara penyusunan; pembaruan mencakup penggantian. Diperbarui berarti manusia lahiriah ini dihabisi. Seperti sebuah pohon rontok daun-daunnya, demikian juga unsur lama dari manusia lahiriah kita akan merosot. Hasilnya, hayat batiniah akan berkembang dengan segar. Bila musim semi tiba, pohon-pohon itu akan menjadi hidup, segar, dan kuat. Daun-daun yang baru akan muncul, dan akhirnya pohon-pohon itu berbunga dan menghasilkan buah. Ini adalah satu gambaran dari pembaruan manusia batiniah kita. Dengan mengalami pembaruan ini, kita beranjak dari kemuliaan ke kemuliaan. Kemuliaan ini ditingkatkan dari satu tingkat ke tingkat lainnya, dari kemuliaan yang sekarang ini ke kemuliaan yang kekal.