← Daftar isi 2 Korintus (2) · bab 14/20

MEMBAWA KEMATIAN YESUS DAN PEMBARUAN MANUSIA BATINIAH (2)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 4:10-18

Dalam 2Korintus 4:10 Paulus berkata, “Kami selalu membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya hayat Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kamu” (Tl.). Dalam ayat ini Paulus membicarakan tentang “membawa kematian Yesus”. Mengapa Paulus memakai ungkapan ini di sini? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat sekali lagi siapakah Yesus ini.

Asal mula dan sumber dari manusia Yesus ini adalah Allah. Yesus adalah Allah yang berinkarnasi, Allah yang dikandung di dalam rahim seorang dara. Secara lahiriah, Yesus adalah seorang manusia, tetapi secara batiniah, Dia adalah Allah. Jadi, Yesus itu tidak sederhana. Orang Nazaret ini adalah satu persona yang ajaib. Ketika Dia di bumi, secara lahiriah Dia itu rendah dalam setiap hal. Dia lahir di palungan, dan Dia dibesarkan di rumah seorang tukang kayu yang miskin di kota Nazaret yang hina. Meskipun demikian, secara batiniah Yesus ini mulia, karena Allah yang mahatinggi ada di dalam Dia. Secara lahiriah Yesus adalah manusia yang hina; tetapi secara batiniah Dia adalah Allah yang mahatinggi. Yesus ini benar-benar ajaib.

KEMATIAN YESUS

Sekarang kita harus melanjutkan untuk melihat tentang kematian Yesus. Ketika orang-orang Kristen menyinggung tentang kematian Yesus, pemahaman mereka terbatas pada penebusan. Menurut konsepsi mereka, kematian Yesus hanyalah untuk penebusan. Mereka sering mengutip ayat yang mengatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (Yoh. 1:29). Memang benar bahwa kematian Kristus adalah bagi penebusan. Kita percaya kepada hal ini sedikitnya sama seperti orang Kristen lainnya. Namun, penebusan hanyalah satu aspek dari kematian Kristus. Kematian-Nya masih memiliki banyak aspek lainnya.

Dalam 2Korintus 4 kita bukan melihat aspek penebusan dan penyaluran hayat, melainkan aspek penghancuran, pengausan, atau pengikisan. Menurut pasal ini, kematian Yesus adalah untuk menghabisi, mengikis manusia lahiriah kita. Karena alasan ini, dalam 2Korintus 4:16 Paulus mengatakan bahwa “manusia lahiriah kami merosot”.

Meskipun manusia Yesus adalah Allah yang berinkarnasi, yaitu Allah yang menjadi manusia, tetapi manusia lahiriah-Nya pun perlu dihabisi. Menurut keadaan lahiriah, Tuhan Yesus itu rendah. Tetapi dalam hal rohani, Tuhan Yesus bukanlah seorang manusia yang tidak berarti. Sebaliknya, Yesus sama dengan seluruh ciptaan lama. Ketika Dia disalibkan, yang mati di atas salib itu bukan hanya seorang manusia dari Nazaret. Ketika Yesus disalibkan, seluruh ciptaan lama, termasuk kita semua, disalibkan juga. Tuhan Yesus mati bagi penggenapan tujuan kekal Allah, bukan hanya bagi penggenapan penebusan.

Sasaran yang pertama dalam tujuan kekal Allah adalah mengakhiri ciptaan lama. Tuhan Yesus, sebagai Allah yang menjadi manusia, adalah bagian dari ciptaan lama. Dia menjadi seorang manusia dalam ciptaan baru itu bukanlah melalui inkarnasi. Sebaliknya, melalui inkarnasi Dia menjadi seorang manusia dalam ciptaan lama, seorang manusia yang perlu dihabisi.

Pada umur tiga puluh tahun Tuhan Yesus keluar untuk melayani. Selama tiga setengah tahun dari ministri-Nya, Dia senantiasa diletakkan pada kematian. Sebagai orang dewasa yang berumur tiga puluh tahun, Dia terus-menerus berada di bawah proses pembunuhan. Jangan mengira bahwa Yesus disalibkan hanya selama enam jam, saat Dia berada di atas kayu salib itu. Tidak, sedikitnya selama tiga setengah tahun Dia disalibkan setiap hari. Setiap hari Dia menempuh kehidupan yang tersalib.

Setiap hari Tuhan Yesus dipaku di salib. Adakalanya Dia disalibkan oleh ibu-Nya. Adakalanya Dia disalibkan oleh Petrus atau murid lainnya. Yesus bahkan dipaku di salib oleh kasih dari murid-murid-Nya. Misalnya, semakin Petrus mengasihi Tuhan, ia semakin menyalibkan Dia. Maka, sebelum Dia disalibkan oleh orang-orang Romawi, Yesus telah berkali-kali disalibkan oleh ibu-Nya, saudara-saudara-Nya, dan murid-murid-Nya. Dalam Yohanes 7 kita memiliki satu contoh tentang Tuhan disalibkan oleh saudara-saudara-Nya.

Sebenarnya, selama tiga setengah tahun dari ministriNya, Tuhan Yesus tidak hidup; sebaliknya Dia sedang mati. Dia menempuh kehidupan yang tersalib. Inilah yang dimaksud Paulus dengan membawa kematian Yesus. Ini adalah satu penyaliban yang lambat, perlahan-lahan, dan terus-menerus.

Sekarang kita dapat memahami bahwa Tuhan Yesus disalibkan bukan hanya selama enam jam saat berada di atas salib material. Sedikitnya selama tiga setengah tahun, Dia disalibkan secara terus-menerus, perlahan-lahan, dan lambat. Dalam perkataan Paulus, penyaliban yang perlahan-lahan ini adalah membawa kematian Yesus.

MATI SETIAP HARI

Para rasul ditunjuk oleh Tuhan untuk menjadi pengikut-pengikut-Nya. Mereka ditunjuk oleh Tuhan bukan untuk melakukan satu pekerjaan yang besar, melainkan untuk menempuh satu kehidupan tertentu. Karena itu, mereka bukan untuk menggenapkan pekerjaan dengan mengikuti Kristus yang besar secara luaran. Mereka mengikuti manusia Yesus untuk menempuh kehidupan dari manusia yang kecil ini. Ini bukanlah satu kehidupan yang disambut, melainkan satu kehidupan yang ditolak, satu kehidupan yang selalu disalibkan, dan selalu diletakkan pada kematian. Yesus menempuh kehidupan semacam ini, dan para pengikut-Nya, yaitu para rasul, juga melakukan demikian. Inilah alasan Paulus mengatakan bahwa mereka selalu membawa kematian Yesus di dalam tubuh mereka.

Mengikut Yesus dari Nazaret itu berarti dibunuh, bukan menggenapkan satu pekerjaan yang besar. Lagi pula, mati martir dengan seketika itu agak mudah. Tetapi untuk dibunuh secara perlahan-lahan, lambat, dan terus-menerus itu sangat sulit. Mati secara perlahan-lahan itu melibatkan lebih banyak penderitaan daripada mati martir seketika. Sedikitnya selama tiga setengah tahun Tuhan Yesus diletakkan pada kematian secara perlahan-lahan. Ini juga adalah pengalaman Paulus untuk jangka waktu yang panjang. Ke mana saja ia pergi, ia membawa kematian Yesus di dalam tubuhnya. Mengenai hal ini, dalam 1Korintus 15:31 ia berkata, “Tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut.” Di sini maksud Paulus ialah, “Bukannya hidup, hari demi hari sebenarnya aku malahan mati. Aku sedang menjalani pembunuhan yang lambat, perlahan-lahan, dan terus-menerus.” Pembunuhan yang terus-menerus ini adalah apa yang dimaksud Paulus dengan membawa kematian Yesus.

PENGIKISAN MANUSIA LAHIRIAH

Membawa kematian Yesus adalah untuk mengikis atau menghabisi ciptaan lama di dalam kita. Ketika Yesus, Putra Allah, menjadi seorang manusia, Dia memiliki bagian lahiriah yang melambangkan ciptaan lama dan bagian batiniah yang melambangkan Allah yang kekal. Bagian lahiriah itu dihabisi, dan diletakkan pada kematian, sedangkan bagian batiniahnya dibangunkan, dibangkitkan. Ini terjadi di atas diri Tuhan Yesus, terjadi di atas diri para rasul, dan juga terjadi di atas semua orang beriman.

Melalui kelahiran alamiah kita, kita menjadi orang-orang ciptaan lama, dan melalui kelahiran kembali, kita menjadi orang-orang ciptaan baru. Sebagai orang-orang yang telah dilahirkan kembali, kita masih memiliki bagian lahiriah yang melambangkan ciptaan lama. Bagian ini perlu dihabisi, disingkirkan, dan dikikis. Tetapi pada waktu yang sama kita memiliki satu bagian batiniah yang melambangkan Allah yang kekal. Bagian ini harus dikembangkan, dibangkitkan, dan diperbarui.

Membawa kematian Yesus berhubungan dengan manusia lahiriah, yang perlu dihabisi. Sebagai kaum beriman yang sejati, kita semua memiliki satu bagian dari diri kita yang digambarkan oleh Paulus sebagai manusia lahiriah. Manusia lahiriah ini akan merosot, akan dihabisi, terkikis, dan akan aus. Pengikisan manusia lahiriah kita ini berarti kita membawa kematian Yesus. Jadi, membawa kematian Yesus sebenarnya sinonim dengan pengikisan manusia lahiriah. Di dalam pemulihan Tuhan kita akan mengalami membawa kematian Yesus untuk menghabisi manusia lahiriah. Kita sedang menjalani proses pembunuhan, yaitu proses meletakkan manusia lahiriah pada kematian.

Misalnya ada seorang saudara muda yang sangat pandai. Dalam kelompok-kelompok orang Kristen, orang muda yang pandai itu mungkin dikagumi dan bahkan disanjung. Namun, dalam kehidupan gereja di dalam pemulihan Tuhan, bukannya ditinggikan, ia malah akan mengalami membawa kematian Yesus. Kelihatannya di dalam pemulihan ini, semakin pandai seseorang, ia akan semakin dipakukan ke salib.

Pekerjaan penyaliban ini sering digenapkan Tuhan melalui orang-orang di sekitar kita, khususnya orang-orang dalam keluarga kita. Misalnya, sebelum seorang saudari muda masuk ke dalam kehidupan gereja, mungkin jarang sekali suaminya mempersulit dia. Sekarang, setelah ia berada dalam pemulihan, kelihatannya suaminya sangat menyulitkan. Saudari ini tidak seharusnya menyalahkan suaminya. Tuhan yang mahakuasa di atas takhta sedang memakai suaminya untuk menghabisi ciptaan lamanya, manusia lahiriahnya. Sepertinya Tuhan memberi tugas kepada suaminya untuk melaksanakan pekerjaan pemakuan istrinya ke salib. Saudari ini mungkin menangis dan berseru kepada Tuhan, dan memberi tahu Tuhan bahwa ia tidak tahan. Namun, pekerjaan penyaliban ini akan makin sering menimpanya, dan saudari ini perlu siap untuk hal ini. Tuhan dapat memakai suaminya untuk memakukan satu paku, tetapi Dia mungkin akan memakai saudara dan saudari, bahkan para penatua di dalam gereja, untuk memakukan lebih banyak paku. Kemudian saudari itu mungkin berkata, “Aku tidak tahan terhadap situasi ini dengan suamiku atau dengan gereja. Mengapa para penatua memberikan kesulitan yang demikian kepadaku?” Alasannya adalah karena Tuhan akan memakai orang-orang yang berbeda-beda untuk memakukan saudari ini ke salib, yaitu untuk menghabisi manusia lahiriahnya.

Bila ada orang-orang kudus yang tidak senang dengan gereja di lokal mereka, mungkin mereka ingin pindah ke tempat lainnya. Karena orang-orang kudus memakukan mereka ke salib, meletakkan mereka pada kematian, mereka ingin pergi ke satu gereja di mana mereka mengira situasinya akan berbeda. Sebenarnya, jika mereka pindah untuk tujuan menghindari diletakkan pada kematian Yesus, mereka akan mengalami pemakuan yang lebih banyak di lokal lainnya.

Jika Anda tidak dapat menerima gereja di satu tempat, itu menunjukkan bahwa Anda tidak dapat menerima gereja lokal mana pun. Janganlah pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, sebaliknya tinggallah di tempat Anda berada dan biarkanlah orang-orang kudus meletakkan Anda pada kematian. Lagi pula, menangisi situasi Anda adalah satu petunjuk bahwa Anda belum disalibkan. Orang yang telah mati tidak akan mencucurkan air mata. Jika Anda masih menangisi pengalaman Anda dalam hal dihabisi, itu menunjukkan bahwa Anda perlu lebih banyak diletakkan pada kematian Yesus. Tetaplah tinggal di tempat Anda berada sampai Anda sepenuhnya disalibkan.

TUJUAN KITA — KEBANGKITAN

Ada orang setelah mendengar perkataan mengenai diletakkan pada kematian Yesus ini, mungkin berkata, “Oh betapa mengerikannya nasib kita dalam pemulihan Tuhan! Kita akan disalibkan, dihabisi, dan diletakkan pada kematian.” Diletakkan pada kematian Yesus mungkin menjadi nasib kita, tetapi itu bukanlah tujuan kita. Tujuan kita adalah kebangkitan. Orang-orang yang tidak rela disalibkan akan menderita. Tetapi orang-orang yang rela disalibkan akan mengalami sukacita. Mereka akan bersukacita dalam kebangkitan.

Dalam 2Korintus 4:14 Paulus menjelaskan bahwa tujuan kita adalah kebangkitan: “Karena kami tahu bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Ia juga akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya.” Di sini Paulus tidak mengatakan dikubur bersama Yesus atau disalibkan bersama Yesus, melainkan dibangkitkan bersama Yesus. Ini adalah satu deklarasi kemenangan. Ini menunjukkan bahwa tujuan kita adalah kebangkitan.

Kehidupan gereja dalam pemulihan Tuhan kelihatannya merupakan satu mezbah, satu tempat pembunuhan. Sebenarnya kehidupan gereja adalah satu kenikmatan dalam kebangkitan. Pada saat Anda rela disalibkan, Anda dapat memiliki sukacita dalam kebangkitan. Kemudian Anda mungkin akan menyesali fakta bahwa dulu Anda menolak untuk dipakukan ke salib. Anda mungkin berkata kepada diri Anda sendiri, “Jika aku rela menerima lebih banyak penyaliban, betapa sukacitanya aku pada hari ini!” Karena tujuan kita adalah kebangkitan, kita tidak boleh menangis karena kita diletakkan pada kematian. Sebaliknya, kita harus dengan roh yang kuat bersorak-sorai dalam kebangkitan.

ROH IMAN

Dua Korintus 4:13 mengatakan, “Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: ‘Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata’, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.” Roh di sini adalah roh perbauran, yaitu Roh ilahi berbaur dengan roh insani yang telah dilahirkan kembali.

Dalam komentar mereka tentang ayat ini, baik Alford maupun Vincent mengatakan tentang roh perbauran, tetapi pembicaraan mereka itu agak kabur. Alford berkata, “Tidak secara khusus Roh Kudus, juga bukan sekadar watak ma-nusia, melainkan Roh Kudus yang berhuni menjenuhi dan menjadi ciri-ciri khas dari keseluruhan manusia yang telah diperbarui.” Di satu pihak, Alford mengatakan Roh Kudus. Di pihak lain, ia menunjukkan bahwa ada sesuatu yang insani, yang ditunjukkan dengan kata watak, juga terlibat di dalamnya. Sebenarnya, yang dimaksud Alford adalah roh manusia. Vincent berkata, “Roh iman, bukan dengan tegas Roh Kudus, juga bukan indra atau watak manusia, melainkan perbauran keduanya.” Kata-kata Vincent adalah perbaikan dari kata-kata Alford. Kata indra itu sebenarnya adalah satu perbaikan atas kata watak. Selain itu, Vincent mengatakan tentang perbauran antara Roh itu dengan satu indra manusia tertentu. Pembauran ini sebenarnya adalah perbauran Roh Kudus dengan roh insani kita.

Hari ini kita memiliki satu pengungkapan yang lebih jelas dan tegas. Kita tidak perlu memakai kata watak atau indra untuk menggambarkan roh iman dalam 2Korintus 4:13 ini, karena kita tahu bahwa roh ini adalah roh kita berbaur dengan Roh Kudus. Kita harus melatih roh ini untuk percaya dan membicarakan hal-hal yang telah kita alami tentang Tuhan, seperti yang dilakukan pemazmur (Mzm. 116:10), terutama tentang kematian dan kebangkitan-Nya. Iman berada di dalam roh kita yang berbaur dengan Roh Kudus, bukan berada di dalam pikiran kita. Keragu-raguan ada di dalam pikiran kita. Roh di sini menunjukkan bahwa oleh roh perbauran inilah para rasul menempuh satu kehidupan yang tersalib di dalam kebangkitan untuk menggenapkan ministri mereka.