← Daftar isi Kolose (2) · bab 5/21

KEDEWASAAN PENUH DI DALAM KRISTUS

Pembacaan Alkitab: Kol. 1:27-29; Ef. 4:13

Kitab Kolose mewahyukan bahwa Kristus yang almu-hit dan yang alwasi ini harus menggantikan setiap faktor, unsur, dan aspek kehidupan manusia alamiah kita. Kehi-dupan insani kita sebagian besar terdiri atas kebudayaan. Ditinjau dari segi manusia, kebudayaan sangat baik. Setiap masyarakat terlindung dan terpelihara oleh kebudayaan. Jika manusia tidak mempunyai kebudayaan, tugas pihak kepolisian dan pengadilan akan bertambah banyak. Dewasa ini, tugas polisi dan pengadilan merupakan tambahan bagi kebudayaan suatu masyarakat. Bila seseorang tidak berke-lakuan sesuai dengan kebudayaan, polisi mungkin akan menindaknya. Setiap bangsa, masyarakat, dan komunitas, terpelihara oleh kebudayaan, hukum, dan polisi.

FUNGSI YANG TEPAT DARI KEBUDAYAAN

Kalau para orang tua Kristen setelah membaca berita tentang Kristus berlawanan dengan kebudayaan lalu me-ngatakan kepada anak-anaknya bahwa mereka tidak perlu kebudayaan lagi, itu adalah kekeliruan yang gawat. Tanpa kebudayaan, anak-anak akan bertindak seperti binatang. Anak-anak harus dibesarkan menurut standar kebudayaan. Sebelum mereka mencapai umur yang tepat untuk mene-rima Kristus, mereka harus dibesarkan di dalam kebuda-yaan. Semakin dilatih menurut kebudayaan, anak-anak ma-kin menjadi baik. Anak-anak harus diajari menghormati orang tua mereka, mengasihi saudara saudari mereka, ber-tindak dengan sopan terhadap tetangga atau sesama me-reka, menjadi murid yang baik di sekolah, menaati semua hukum, dan menghormati guru-guru dan orang yang lebih tua. Karena anak-anak terlalu muda untuk bertindak me-nurut Kristus, mereka harus dididik untuk bertindak me-nurut kebudayaan. Jika kita tidak memiliki kebudayaan, kita akan menjadi orang Barbar.

Fungsi kebudayaan dapat diibaratkan seperti fungsi hukum Taurat di dalam Alkitab. Hukum Taurat diberikan oleh Allah. Roma 7:12 mengatakan bahwa “Hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.” Jika digunakan dengan tepat, hukum Taurat dapat menjaga umat pilihan Allah sampai kedatangan Kristus. Keluarga kaya pada zaman kuno mempunyai pen-jaga yang menjaga anak-anak. Demikian pula, kebudayaan memelihara anak-anak dalam pengawasan. Tetapi, seperti ditunjukkan dalam Kitab Galatia, hukum Taurat telah di-salahgunakan oleh para penganut agama Yahudi. Seka-rang, karena Kristus telah datang, hukum Taurat harus mengantarkan umat pilihan Allah kepada Kristus. Tetapi para penganut agama Yahudi menyalahgunakan hukum Taurat, bahkan menggunakannya secara berlebihan. Para penganut agama Yahudi tidak membiarkan hukum Taurat melepaskan umat pilihan Allah dan menyerahkan mereka kepada Kristus, malah menggunakannya untuk memisah-kan orang dari Kristus. Konsepsi para pengamat agama Yahudi bahkan menjalar ke dalam gereja, menyesatkan kaum beriman Yahudi sejati di dalam Kristus untuk kembali ke-pada hukum Taurat. Walaupun kebudayaan benar dan per-lu, kebudayaan juga bisa disalahgunakan dan benar-benar dapat memisahkan orang dari Kristus. Kebudayaan harus dipakai untuk menjaga anak-anak sampai mereka dapat menerima Kristus dan hidup menurut Kristus. Anak-anak perlu dijaga oleh kebudayaan sementara mereka bertumbuh.

Seperti Musa memberikan perintah kepada umat pilih-an Allah, orang tua harus memberikan perintah kepada anak-anak mereka. Tetapi bila anak-anak sudah mampu memahami keperluan mereka atas Kristus dan bertobat, kita harus menyuplaikan Kristus yang kaya kepada anak-anak dan membantu mereka menerima-Nya. Kita harus memberi tahu anak-anak kita bahwa kebudayaan yang kita berikan kepada mereka hanya berfaedah untuk waktu ter-tentu dan mereka sekarang perlu menerima Kristus. Jadi, kebudayaan dipakai Allah melalui para orang tua untuk menjaga anak-anak mereka sampai waktunya tiba bagi me-reka untuk menerima Tuhan. Sangatlah penting bagi kita untuk menyadari penggunaan yang tepat dari kebudayaan.

DIPENUHI DENGAN KRISTUS

Sekarang, karena kita telah menerima Kristus, Dia, Sang almuhit dan alwasi, harus menggantikan setiap aspek dari kebudayaan kita dengan diri-Nya sendiri. Kita telah nampak bahwa manusia yang telah jatuh menggunakan kebudayaan sebagai pengganti Allah. Pertama, kebudayaan yang demikian adalah pengganti Allah. Kemudian Kristus datang untuk menggantikan pengganti ini dengan diri-Nya sendiri. Karena kita bukan anak-anak lagi, kita perlu Kristus untuk mmenggantikan setiap unsur dari kebudaya-an kita. Ini tidak berarti kita harus merendahkan kebuda-yaan. Sebaliknya, itu berarti kita harus mengasihi Kristus. Kalau kita dipenuhi dengan Kristus hingga meluap, tidak ada tempat sedikit pun dalam diri kita bagi hal yang lain. Setiap bagian dari diri kita akan diduduki oleh Kristus dan bersama Kristus. Kemudian, dalam pengalaman kita, kita akan memiliki kepenuhan Kristus. Kita akan dipenuhi Kristus sampai batas kapasitas kita. Kristus yang meme-nuhi diri kita akan menggantikan kebudayaan kita dengan diri-Nya sendiri. Inilah wahyu dalam Kitab Kolose.

Karena Kristus itu alwasi dan almuhit, pada-Nya tidak ada kekurangan. Jika kita memiliki Kristus yang sedemi-kian dalam pengalaman kita, kita tidak akan memerlukan hal lain. Tidak ada keperluan yang tidak dapat Dia puas-kan, dan tidak ada kapasitas untuk menerima Dia yang tidak dapat Dia penuhi. Karena kita mempunyai Kristus yang almuhit, kita tidak perlu agama Yahudi, Gnostikisme, atau pertapaan. Kita memiliki Kristus yang almuhit dan alwasi beserta kepenuhan-Nya. Dia dapat memenuhi alam semesta, dan Dia tidak akan habis dipakai. Kita tidak perlu hal lain, baik yang kuno maupun yang modern, untuk menggantikan Kristus. Kita bahkan tidak perlu kebudayaan buatan sendiri atau ketetapan sendiri. Saya prihatin bahwa banyak di antara kita yang tetap hidup menurut kebuda-yaan yang kita tentukan sendiri. Kaum saleh ini selalu menetapkan pengekangan atas diri mereka, dan hidup me-nurut semuanya itu. Kita tidak perlu tinggal di dalam pen-jagaan kebudayaan buatan sendiri. Sebaliknya, kita harus tinggal di dalam Kristus dan dalam kebebasan yang kita miliki dalam Kristus. Kita perlu dipenuhi dengan Kristus sampai meluap. Inilah konsepsi yang mendasari Kitab Kolose. Kristus, Sang alwasi, harus menggantikan setiap unsur ke-hidupan manusia alamiah kita. Ini mengharuskan kita un-tuk tidak berpegang kepada apa pun yang berasal dari kebudayaan kita, sebab hal itu akan menghasilkan suatu campuran. Biarlah Kristus yang murni memenuhi diri kita, dan menggantikan setiap aspek dari kehidupan manusia alamiah kita dengan diri-Nya sendiri.

MENYANGKAL DIRI

Beberapa orang kudus mungkin sangat membanggakan watak atau kebajikan alamiah mereka yang menyenang-kan, seperti rendah hati, sabar, dan baik hati. Jika Anda memiliki watak dan kebajikan-kebajikan seperti itu, Anda tidak boleh membencinya atau memustikakannya. Sebalik-nya, Anda harus membiarkan Kristus yang alwasi meng-gantikan watak dan kebajikan-kebajikan Anda. Allah tidak menghendaki kita memperhidupkan manusia alamiah kita berikut kebajikan-kebajikannya. Jika Anda hidup menurut watak dan kebajikan-kebajikan Anda, Anda tidak akan da-pat berkata seperti Paulus, “Bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Sebaliknya, Anda harus mengakui bahwa bagi An-da hidup adalah manusia alamiah Anda. Dalam gereja seba-gai manusia baru, tidak ada tempat bagi manusia alamiah macam apa pun. Dalam manusia baru Kristus harus men-jadi segala sesuatu dan di dalam segala sesuatu (3:11).

Kita telah menunjukkan bahwa kita tidak seharusnya membenci atau memustikakan manusia alamiah kita. Mem-benci diri kita berarti mempraktekkan pertapaan, suatu bentuk bunuh diri. Jangan mencoba membenci manusia alamiah kita, tetapi turutilah firman Tuhan untuk menyang-kal diri kita. Menyangkal diri berarti tidak mengakui diri, melupakannya, dan tidak memperhatikannya. Misalkan, ke-tika Anda berjalan di trotoar, lalu ada orang menyetop Anda dan meminta uang kepada Anda. Anda tidak usah mem-benci atau mengasihi orang tersebut. Sebaliknya, Anda ha-rus tidak menggubris permintaannya. Akhirnya, karena ia mengetahui bahwa ia tidak dapat memperoleh apa-apa dari Anda, ia akan pergi. Ini mengilustrasikan sikap yang harus kita miliki untuk menghadapi ego. Ego kita serakah, se-lalu meminta-minta. Tidak usah membenci ego atau menga-sihinya, melainkan abaikan saja dia.

TERTARIK OLEH KRISTUS

DAN DIMILIKI OLEH-NYA

Namun, jika kita ingin tidak menaruh perhatian kepada ego, kita harus berkonsentrasi pada sesuatu yang lebih baik daripada ego. Itulah sebabnya kita perlu satu visi tentang kealwasian Kristus, yakni visi yang disajikan dalam Kitab Kolose. Jika kita nampak visi ini, kita akan memusatkan seluruh diri kita pada Kristus yang alwasi, dan kemudian Ia akan memenuhi kita serta menduduki kita. Karena kita telah dipenuhi oleh Kristus yang alwasi, maka kita tidak memerlukan agama Yahudi, Gnostikisme, atau pertapaan. Seluruh diri kita akan diduduki oleh Kristus yang luas, kaya tidak terduga, dan alwasi. Dengan spontan Kristus ini akan masuk untuk menggantikan setiap aspek dari kehidupan insani alamiah kita dengan diri-Nya sendiri.

Kitab Kolose menampilkan satu visi tentang Kristus yang ajaib, alwasi, dan almuhit. Bila kita nampak visi ini, seluruh diri kita akan tertarik oleh Kristus ini, dan akan dimiliki serta diduduki oleh Dia. Kemudian Kristus yang al-wasi yang menduduki perhatian kita ini akan berangsur-angsur menggantikan setiap unsur kehidupan insani ala-miah kita. Bahkan Dia akan menggantikan kebaikan hati, kerendahan hati, dan kasih kita kepada orang tua kita de-ngan diri-Nya sendiri. Kebajikan-kebajikan alamiah kita pa-ling-paling hanya dapat dibandingkan dengan kuningan yang dipoles, tetapi Kristus adalah emas. Nilai-Nya jauh melebihi sesuatu yang kita miliki dari pembawaan. Semakin kita mengalami Kristus yang melampaui segala sesuatu, dan menggantikan segala sesuatu dalam kehidupan alamiah kita dengan diri-Nya sendiri, kita akan semakin dapat meng-umumkan, “Bagiku hidup adalah Kristus.” Kita tidak akan memperhidupkan kerendahan hati, kebaikan, atau kesabar-an. Bagi kita hidup adalah Kristus, yang telah memiliki kita sepenuhnya, dan menduduki serta memenuhi kita de-ngan diri-Nya sendiri. Kristus yang sedemikian ini harus menggantikan seluruh unsur kehidupan insani alamiah kita, ini merupakan berita Kitab Kolose. Jika kita mengerti konsepsi yang mendasar ini, maka Kitab Kolose akan menjadi sebuah kitab yang terbuka bagi kita.

RAHASIA YANG MULIA

Jika kita mempunyai keyakinan yang penuh akan pe-ngertian tentang Kristus yang alwasi yang menggantikan setiap aspek dari kehidupan alamiah kita, kita akan me-mahami apa artinya bertumbuh menjadi dewasa penuh di dalam Kristus. Dalam Kolose 1:25 Paulus berkata bahwa dia menjadi seorang pelayan menurut kepengurusan rumah tangga Allah. Sasaran kepengurusan rumah tangga Paulus adalah menyalurkan Kristus yang alwasi ke dalam umat pi-lihan Allah. Kristus yang alwasi ini merupakan satu rahasia, khususnya bagi orang-orang bukan Yahudi. Dalam Kolose 1:27 Paulus berkata, “Kepada mereka Allah mau memberi-tahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di dalam kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan” (Tl.). Rahasia ini penuh kemuliaan, dan kemuliaan ini mengan-dung kekayaan. Rahasia mulia yang penuh kekayaan ini adalah Kristus di dalam kita.

MENGUMUMKAN KRISTUS

Dalam Kolose 1:28-29 Paulus berkata selanjutnya, “Dia-lah yang kami beritakan bilamana tiap-tiap orang kami na-sihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk mempersembahkan tiap-tiap orang dewasa penuh da-lam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segenap tenaga sesuai dengan kuasa-Nya yang bekerja dengan kuat di dalam aku” (Tl.). Dalam ayat 28 Paulus tidak mengatakan bahwa ia mengkhotbahkan Kristus, tetapi memberitakan atau mengumumkan Kristus. Mengumumkan sesuatu mengandung tingkat keyakinan yang lebih besar daripada sekadar mengkhotbahkannya. Sebagai contoh, ketika para pemimpin mengeluarkan pengumuman pada akhir sidang, mereka bukan mengkhotbahkannya ke-pada kaum saleh. Pengumuman dibuat dengan keyakinan. Demikian pula, Paulus tidak hanya mengkhotbahkan Kristus, ia pun mengumumkan Kristus. Saya pun damba meng-umumkan Kristus yang alwasi dan almuhit ini.

MENASIHATI SETIAP ORANG

Dalam ayat 28 Paulus berkata bahwa dia menasihati tiap-tiap orang. Setelah beberapa orang percaya dan ditun-dukkan melalui pemberitaan kita tentang Kristus, mereka perlu dinasihati. Mendengar tentang Kristus yang almuhit, mungkin membuat mereka ingin dipenuhi oleh Kristus dan memperhidupkan-Nya. Tetapi banyak hal negatif mungkin bangkit menentang hal ini. Musuh ibarat binatang buas yang mengendap-endap, menunggu kesempatan untuk me-nerkam kita supaya kita tidak dapat memperhidupkan Kristus. Kalau Anda mengasihi dunia dan memperhatikan hiburan duniawi, tidak berminat dipenuhi oleh Kristus atau memperhidupkan Kristus, musuh tidak akan terlalu mem-perhatikan Anda. Tetapi jika Anda adalah orang yang me-ngasihi Tuhan dan menuntut untuk hidup menurut Dia, Anda akan menghadapi penentangan.

Puluhan tahun yang lalu di kampung halaman saya ada anak-anak dari pemimpin aliran Kristen tertentu yang menjadi sangat duniawi dan menuntut kenikmatan dunia-wi. Setelah gereja berdiri di tempat itu, sejumlah orang muda ini berpaling kepada Tuhan dan gereja. Banyak di antara orang tua mereka bangkit menentang mereka; dulu ketika mereka mengasihi dunia, orang tua mereka tidak menentang mereka. Tetapi ketika anak-anak muda ini da-tang ke gereja untuk menuntut Kristus, mereka mendapat tentangan yang dahsyat. Ini menunjukkan bahwa musuh sedang mengendap-endap, menunggu kesempatan untuk menyerang orang-orang yang menuntut Tuhan.

Pada waktu Paulus menulis kepada orang Kolose, fil-safat Yunani dan agama Yahudi adalah hal-hal yang me-nyelewengkan kaum beriman. Orang-orang yang menyukai filsafat Yunani mencari kesempatan untuk membujuk orang-orang kafir yang telah beriman kembali ke filsafat Yunani. Demikian pula, para penganut agama Yahudi ingin membu-juk beberapa orang Yahudi yang percaya kepada Kristus. Karena filsafat Yunani dan agama Yahudi membahayakan kaum beriman, maka Paulus menasihati setiap orang. Dalam Kitab Kolose yang pendek ini, Paulus memberikan sejumlah nasihat atau peringatan. Dalam Kolose 2:4 dia berkata, “Hal ini kukatakan, supaya jangan ada yang memperdaya-kan kamu dengan kata-kata yang indah.” Dalam Kolose 2:8 Paulus berkata, “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang me-nawan kamu dengan filsafat dan tipuan yang kosong” (Tl.). Dalam Kolose 2:16 Paulus menasihati orang percaya di Kolose untuk tidak membiarkan orang menghakimi mereka mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat. Dalam ayat 18 Paulus berkata, “Janganlah kamu biarkan pahalamu digagalkan” (Tl.). Paulus menyadari bahwa banyak hal yang digunakan untuk menyesatkan kaum beriman dari Kristus dan hidup gereja. Pada hari ini keadaannya pun serupa. Kaum beriman mungkin tidak ditentang karena keduniawian mereka, te-tapi mereka akan ditentang jika mereka berpaling ke pemu-lihan Tuhan dan menuntut Kristus di dalam gereja.

KRISTUS HIDUP DI DALAM KITA

Menjadi dewasa penuh di dalam Kristus berarti dipe-nuhi dan diresapi dengan Kristus. Kita tetap kita, tetapi setelah kita diresapi, dijenuhi, dan dipenuhi oleh Kristus, kehidupan kita dengan spontan adalah Kristus. Kita tidak boleh hanya berkata, “Kristus hidup di dalamku.” Kita ha-rus bersikap mutlak terhadap Tuhan, membiarkan Dia hi-dup di dalam kita dari hari ke hari. Jika suami atau istri Anda mempersulit Anda, jangan membela diri atau membe-narkan diri sendiri. Biarkan saja Kristus hidup di dalam Anda. Namun, kita harus mengakui bahwa ini mudah dika-takan, tetapi sulit dipraktekkan.

Kehidupan orang Kristen yang normal bukan masalah etika, moral, karakter atau kelakuan yang diperbaiki. Kehi-dupan orang Kristen ialah Kristus hidup di dalam kita. Kita harus hidup menurut Kristus, tidak menurut kelembutan, kerendahan hati, atau keterusterangan alamiah kita. Kita perlu memperhidupkan Kristus. Kristus harus meresapi, menjenuhi, dan memenuhi kita. Kemudian, dalam kehidup-an kita, Dia akan terekspresi dari dalam kita.

Hubungan kita dengan Kristus dapat diilustrasikan dengan pengokulasian sebuah ranting pohon zaitun liar ke dalam pohon zaitun yang dibudidayakan. Kristus adalah po-hon zaitun yang dibudidayakan dan kita adalah ranting pohon zaitun liar. Mula-mula kita dikerat dari pohon zaitun liar, kemudian kita diokulasikan ke dalam pohon zaitun yang dibudidayakan, ke bagian yang telah disediakan untuk peng-okulasian. Setelah itu, ranting dari pohon zaitun liar itu diikat kepada pohon zaitun yang dibudidayakan. Itulah oku-lasi. Melalui proses okulasi, sari hayat dalam pohon zaitun yang dibudidayakan akan mengalir ke dalam ranting pohon zaitun liar, menjenuhinya, meresapinya, dan memenuhinya. Akhirnya, ranting-ranting itu akan berbuah. Demikian pu-la kita adalah ranting-ranting yang diokulasikan ke dalam Kristus sebagai pohon zaitun yang dibudidayakan. Jika kita dijenuhi, diresapi, dan dipenuhi dengan sari hayat pohon zaitun yang dibudidayakan, kita akan dapat berkata, “Bagi-ku hidup adalah pohon zaitun yang dibudidayakan.” Bila se-batang ranting mencapai tahap demikian, ia akan menjadi dewasa penuh di dalam pohon zaitun yang dibudidayakan. Itu mengilustrasikan apa yang dimaksud dengan kedewa-saan penuh di dalam Kristus. Menjadi dewasa penuh di da-lam Kristus berarti dijenuhi dan dipenuhi dengan Kristus. Ini berarti setiap bagian dari diri kita diduduki oleh Kristus. Inilah kedewasaan penuh dalam hayat dan kematangan di dalam Kristus, hasil dari hayat yang diwahyukan dalam Ki-tab Kolose.

MANUSIA YANG DEWASA PENUH

Kata Yunani bagi dewasa penuh dalam Kolose 1:28 sama dengan yang dipakai dalam Efesus 4:13. Dalam ayat tersebut Paulus mengatakan, “Sampai kita semua telah men-capai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, mencapai kedewasaan penuh, dan mencapai tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Tl.). Tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus tidak lain ialah manusia yang dewasa penuh. Pada akhirnya, kematangan ini akan menghasilkan Tubuh, ekspresi Kristus yang korporat. Kita semua perlu bertumbuh dan menjadi dewasa penuh agar Kristus dapat memiliki manusia korporat yang dewasa penuh, Tubuh, se-bagai organisme yang mengekspresikan Dia.