KRISTUS DIGANTIKAN DALAM SETIAP ASPEK
Pembacaan Alkitab:
Kol. 2:2b-4, 6-8; 1:27; 3:3-4; 2:6-7a;
1 Kor. 1:5, 7a, 9, 22-24; 2:2;
Gal. 1:14-16a; 2:20a; 4:19; 5:2, 4
Dalam Kitab Kolose Paulus tidak saja menampilkan wahyu tentang Kristus yang almuhit, juga pengalaman atas Kristus. Ketika kita mengkaji kitab ini, kita perlu nampak baik wahyu maupun pengalaman. Dalam berita ini kita akan melihat bahwa dalam pengalaman orang Kristen, Kristus telah digantikan dalam setiap aspek.
WAHYU KRISTUS
Wahyu tentang Kristus dalam Kitab Kolose adalah yang almuhit dan alwasi. Kitab Kolose mewahyukan bahwa Kristus adalah segala sesuatu. Kristus adalah yang sulung baik da-ri ciptaan lama, alam semesta, dan ciptaan baru, gereja (1:15, 18). Ciptaan baru tidak seluas ciptaan lama, alam semesta. Gereja memang almuhit, tetapi tidak alwasi. Bagi Kristus, menjadi yang sulung dari ciptaan yang semula dan ciptaan baru berarti Dia itu almuhit juga alwasi. Dalam manusia baru hanya ada tempat bagi Kristus; Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu (3:11). Ini menunjukkan keal-muhitan-Nya. Tetapi, fakta bahwa Ia sebagai yang sulung dari segala yang diciptakan menunjukkan kealwasian-Nya. Dalam Efesus 3, Kristus adalah lebar, panjang, tinggi, dan dalam.
Wahyu tentang Kristus yang almuhit dan alwasi terda-pat cukup banyak, penuh, tegas, dan jelas dalam Surat-su-rat Kiriman Paulus, terutama dalam Kitab Kolose. Dalam Kolose 1:25 Paulus mengatakan bahwa dia menjadi pelayan jemaat sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepa-danya untuk melengkapkan firman Allah. Kitab Kolose, di-tulis untuk melengkapkan firman Allah, yakni melengkap-kan wahyu ilahi dalam Alkitab. Tanpa Kitab Kolose, wahyu ilahi Alkitab tidaklah lengkap.
Kelengkapan firman Allah yang terdapat di dalam Kitab Kolose merupakan rahasia ekonomi Allah — Kristus di dalam kita, pengharapan akan kemuliaan (1:27). Ini berarti tanpa Kristus di dalam kita sebagai pengharapan kita yang mulia, wahyu Allah tidak dapat lengkap. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa wahyu-Nya telah lengkap, tercatat, dan disajikan kepada kita.
DISIMPANGKAN DARI KRISTUS
Berabad-abad lamanya, orang-orang Kristen telah memiliki wahyu ini. Tetapi, wahyu ini telah diabaikan. Walaupun Kristus telah diwahyukan dengan memadai, tegas, ditekankan, dan penuh, tetapi dalam pengalaman orang Kris-ten, Dia telah digantikan oleh banyak hal lain. Walau ada jutaan orang Kristen di negara ini, tidak banyak yang me-naruh perhatian yang cukup pada Kristus di dalam kita menjadi pengharapan akan kemuliaan. Bahkan di antara kita juga demikian. Khususnya, kebudayaan telah meng-gantikan Kristus. Tahun 1961 saya menulis sebuah kidung, “Bukan huruf Taurat Tuhanlah hayat” (Kidung No. 402). Tetapi dalam kidung ini saya tidak menyinggung sesuatu tentang kebudayaan. Ketika saya menulisnya, saya tidak nampak bahwa kebudayaan merupakan pengganti Kristus yang terkuat dan terlicik dalam pengalaman kita. Namun, lebih dari empat puluh lima tahun yang lalu, saya tidak nampak bahwa Allah tidak menghendaki apa pun selain Kristus. Walaupun visi ini sangat jelas, tetapi saya harus mengakui bahwa saya masih belum memperhidupkan Kristus secukupnya. Dari saat ke saat saya telah disimpangkan da-ri Kristus kepada hal-hal lain.
Pernahkah Anda bertanya kepada diri sendiri berapa banyak Anda memperhidupkan Kristus dari hari ke hari? Kebanyakan kita memperhidupkan Kristus hanya pada waktu kita berdoa dalam roh saja. Dari hal ini kita nampak betapa sedikitnya kita memperhidupkan Kristus dengan se-sungguhnya. Dalam kehidupan sehari-hari kita Kristus te-lah digantikan oleh hal-hal lainnya. Khususnya, hal-hal yang baik dalam pandangan mata kita, itulah yang menjadi peng-ganti Kristus. Sebagai contoh, Kristus mungkin digantikan oleh kerendahan hati Anda. Secara spontan dan tanpa sa-dar, Anda telah memperhidupkan kerendahan hati Anda yang alamiah dan bukan memperhidupkan Kristus. Dalam batin, orang yang rendah hati secara alamiah mungkin sangat membanggakan kerendahan hatinya itu, khususnya ketika ia membandingkan dirinya dengan orang lain. Tetapi kerendahan hati yang dibanggakannya itu adalah pengganti Kristus. Sebenarnya kerendahan hati semacam itu bukan-lah suatu kebajikan dalam pandangan Allah. Karena hal itu menggantikan Kristus, hal itu adalah sesuatu yang sangat tidak menyenangkan. Dari hari ke hari Kristus telah di-gantikan oleh banyak hal. Dia mungkin digantikan oleh kera-jinan, keterusterangan, dan kejujuran kita. Kita tidak mem-perhidupkan Kristus, tetapi kita mungkin memperhidupkan atribut-atribut atau karakteristik alamiah itu.
KRISTUS DIGANTIKAN OLEH
KARUNIA-KARUNIA DAN PENGETAHUAN
Dalam Perjanjian Baru ada tiga kitab yang melukiskan pengganti-pengganti Kristus: 1 Korintus, Galatia, dan Kolose. Satu Korintus menanggulangi karunia-karunia dan pengeta-huan. Dalam 1 Korintus 1:7 Paulus mengatakan bahwa orang-orang Korintus tidak kekurangan dalam suatu karu-nia pun. Lagi pula, mereka memiliki banyak pengetahuan, termasuk pengetahuan rohani. Namun, mereka bersifat da-ging. Pengetahuan mereka tidak dapat membantu mereka dengan memadai dan karunia-karunia mereka pun tidak da-pat membangun mereka. Paulus memberi tahu mereka bah-wa ketika dia untuk kali pertama datang ke tempat mere-ka, dia memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa selain Yesus Kristus dan salib-Nya (1 Kor. 2:2). Paulus tahu bah-wa orang-orang Korintus diduduki oleh pengetahuan dan karunia-karunia. Karena alasan inilah maka dia menekankan Kristus yang telah disalibkan. Hal ini menunjukkan bahwa kaum beriman di Korintus perlu menempuh kehidupan yang tersalib, kehidupan salib.
Dalam 1 Korintus 1:22 Paulus berkata, “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani men-cari hikmat.” Bagi orang-orang Yahudi, Kristus yang disa-libkan adalah suatu batu sandungan dan bagi orang-orang Yunani, Ia merupakan kebodohan. Baik orang Yahudi mau-pun Yunani semuanya tidak memperhatikan Kristus yang sedemikian ini. Mereka lebih suka akan Kristus yang mulia daripada Kristus yang disalibkan. Namun, Paulus berkata kepada mereka bahwa dia tidak mau mengetahu apa-apa di antara mereka selain Kristus dan Dia yang disalibkan.
Dalam Kitab 1 Korintus, akhirnya Paulus menunjukkan bahwa untuk menempuh hidup gereja kita perlu pengalam-an atas Kristus yang disalibkan itu. Hidup gereja seharus-nya merupakan kehidupan yang disalibkan. Yang dibutuh-kan kaum beriman di Korintus ialah memperhidupkan Kristus yang disalibkan, bukan memperhatikan pengetahu-an dan karunia-karunia rohani.
Di Korintus, Kristus telah digantikan oleh pengetahu-an dan karunia-karunia. Dalam gerakan karismatik hari ini, Kristus juga telah digantikan oleh karunia-karunia. Dalam sidang-sidang karismatik yang manakah Kristus te-lah ditekankan dan dipahami secara tepat? Hari ini Kristus masih digantikan oleh pengetahuan dan karunia. Sudah tentu, Dia juga digantikan oleh berbagai macam bentuk, upacara dan peraturan-peraturan agama.
KRISTUS DIGANTIKAN OLEH AGAMA
Dalam Kitab Galatia kita nampak Kristus digantikan oleh agama Yahudi. Agama Yahudi merupakan satu agama yang di dalamnya orang menyembah Allah yang sejati me-nurut Sabda-Nya yang kudus. Agama ini mencakup hukum Taurat, yang diturunkan oleh Allah lewat Musa, dan juga sunat, peraturan-peraturan, serta tradisi-tradisi. Paulus di-besarkan dalam agama ini dan dia lebih maju daripada orang-orang yang sebaya dengannya. Tetapi pada suatu hari, ketika dia dalam perjalanan ke Damsyik, Tuhan Yesus menam-pakkan diri kepadanya. Pada saat itu, Allah mewahyukan Kristus yang hidup ke dalam Paulus (Gal. 1:16a). Jadi, da-lam Kitab Galatia, kita mempunyai catatan yang jelas ten-tang bagaimana Kristus telah digantikan oleh agama Yahudi berikut Taurat, sunat, dan tradisi.
Ketika Kitab Galatia ditulis, orang-orang Yahudi bukan hanya menggantikan Kristus dengan agama yang sedemikian, bahkan banyak orang kudus yang terpengaruh hingga berpaling dari Kristus kepada hukum Taurat dan sunat. Menurut Galatia 5:2, jika kita menyunatkan diri kita, Kristus akan tidak berguna sama sekali bagi kita. Orang-orang yang menuntut untuk dibenarkan oleh hukum Tau-rat sebenarnya telah “lepas dari Kristus” (5:4). Ini berarti jika kita mencoba mencari kebenaran dengan memelihara hukum Taurat, kita akan dilepaskan dari Kristus, dan Dia akan tidak bermanfaat bagi kita. Ini menunjukkan dengan jelas bahwa hukum Taurat dapat menggantikan Kristus dan menjauhkan umat Allah dari Kristus. Lagi pula, sunat mengesampingkan anugerah Allah.
Hukum Taurat diberikan oleh Allah, sunat dan banyak tata lainnya juga ditetapkan oleh Allah. Kelihatannya orang-orang Yahudi memakai semuanya itu untuk Allah. Akan tetapi, hukum Taurat, sunat, dan peraturan-peraturan, se-mua unsur yang membentuk agama Yahudi itu telah meng-gantikan Kristus dan diperalat untuk menyimpangkan kaum beriman dari Kristus. Kaum saleh di Galatia telah disele-wengkan dari Kristus kepada hal-hal tertentu yang diberi-kan dan ditetapkan oleh Allah. Dalam kasus mereka, Kristus digantikan oleh agama.
KRISTUS DIGANTIKAN OLEH KEBUDAYAAN
Menurut Kitab Kolose, Kristus digantikan oleh kebuda-yaan. Setiap kebudayaan merupakan susunan sejumlah hal. Misalnya, kebudayaan Barat adalah satu susunan agama Ibrani, filsafat Yunani, dan politik Romawi. Ketika Kitab Kolose ditulis, kebudayaan di wilayah Kolose mencakup aga-ma Ibrani, filsafat Yunani, pertapaan, mistikisme, dan Gnos-tikisme. Walau istilah kebudayaan tidak dipakai dalam kitab ini, namun kebudayaan telah tersirat dengan tegas. Dalam Kolose 3:11 Paulus mengatakan bahwa di dalam manusia baru tidak ada orang Yunani atau Yahudi, tidak ada orang bersunat atau tidak bersunat, tidak ada Barbar atau Skit. Istilah-istilah itu menunjukkan perbedaan agama dan kebu-dayaan. Bersunat atau tidak bersunat mengacu kepada aga-ma, sedang Barbar dan Skit mengacu kepada kebudayaan. Jadi, Kitab Kolose menunjukkan bahwa kebudayaan kita adalah pengganti Kristus yang terakhir.
Ketika kita membahas Kitab 1 Korintus, Galatia, dan Kolose, kita nampak banyak pengganti Kristus. Kristus di-gantikan oleh pengetahuan dan karunia-karunia, oleh aga-ma berikut hukum Taurat dan peraturan-peraturannya, dan oleh kebudayaan. Di antara orang-orang Korintus, Kristus telah digantikan oleh pengetahuan dan karunia-karunia ro-hani. Demikian pula halnya orang-orang Kristen hari ini. Beberapa orang mengira bahwa sidang-sidang karismatik cukup hidup. Tetapi, apakah sidang-sidang itu hidup kare-na Kristus atau karena sesuatu yang lain? Jika kita kurang hati-hati, berbagai macam hal mungkin akan masuk meng-gantikan Kristus dalam pengalaman kita. Kalau Kristus ti-dak digantikan oleh pengetahuan atau karunia-karunia, Dia mungkin digantikan oleh agama atau kebudayaan. Kita mungkin memakai beberapa hukum atau peraturan buatan manusia untuk menggantikan Dia. Ajaran-ajaran tertentu mungkin akan masuk menjadi pengganti Kristus. Kebuda-yaan buatan atau ketetapan kita sendiri juga akan meng-gantikan Kristus dalam kehidupan sehari-hari kita. Karena ada begitu banyak pengganti Kristus, maka kita dapat me-ngatakan bahwa dalam pengalaman orang Kristen sepan-jang abad ini, Kristus telah digantikan dalam setiap aspek.
KRISTUS DIGANTIKAN OLEH
KARAKTERISTIK ALAMIAH KITA
Dalam kehidupan sehari-hari kita Kristus sering digan-tikan oleh karakteristik atau watak alamiah kita. Misalnya, seorang saudara berwatak gesit dan saudara lainnya berwa-tak lamban. Saudara yang gesit itu dengan otomatis hidup menurut kegesitan alamiahnya, dan yang lamban hidup menurut kelambanan alamiahnya. Saudara yang gesit akan sering melakukan kesalahan, tetapi saudara yang lamban akan sering menyebabkan keterlambatan. Dalam satu ka-sus Kristus telah digantikan oleh kegesitan; dalam kasus lainnya, Dia digantikan oleh kelambanan. Entah Anda lebih suka yang gesit atau yang lamban, pada faktanya Kristus telah digantikan oleh kegesitan atau kelambanan alamiah kita itu.
MEMPERHIDUPKAN KRISTUS
Akhir-akhir ini dalam suatu sidang ada seorang sau-dara berdiri menyatakan ia ingin membuang kebudayaan-nya. Kemudian saya menunjukkan bahwa usaha membuang kebudayaan hanya akan menghasilkan kebudayaan bentuk lain, yakni kebudayaan yang membuang kebudayaan. Kita tidak perlu membuang kebudayaan kita. Yang kita perlu-kan ialah melihat bahwa kebudayaan merupakan pengganti Kristus, dan kita harus memperhidupkan Kristus. Semakin kita memperhidupkan Kristus, kebudayaan kita akan sema-kin digantikan oleh Kristus. Asalnya kebudayaan kita me-rupakan pengganti Kristus, tetapi sekarang ketika kita memperhidupkan Kristus, Kristus menggantikan kebuda-yaan kita dengan diri-Nya sendiri.
Kristus telah diwahyukan sepenuhnya dalam Alkitab, hal ini tidak dapat diragukan lagi. Tetapi siapakah di antara umat Tuhan yang benar-benar memperhidupkan Kristus? Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, berapa banyak kita memperhidupkan Kristus. Adakalanya kaum saleh berbi-cara tentang jalan yang terbaik untuk mengadakan sidang-sidang gereja. Akan tetapi, perhatian kita tidak boleh tertuju pada cara sidang, melainkan pada memperhidupkan Kristus. Apakah kita memperhatikan untuk memperhidupkan Kristus dengan cara yang benar, atau kita hanya ingin memiliki sejenis sidang tertentu? Sidang-sidang gereja tidak boleh menjadi suatu pertunjukan, tetapi harus menjadi suatu pameran dari kehidupan sehari-hari kita.
Kita bersyukur kepada Tuhan karena semua yang te-lah Ia perlihatkan kepada kita mengenai wahyu tentang Kristus di dalam Kitab Kolose. Sekarang kita harus maju ke depan untuk mengalami Kristus dan memperhidupkan Dia. Apa yang kita perlukan bukanlah lebih banyak dok-trin, melainkan lebih banyak pengalaman atas Kristus. Kita perlu didorong sekali demi sekali untuk memperhidupkan Kristus dari hari ke hari. Di mana saja kita berada, di ru-mah, di sekolah, atau di tempat kerja, kita perlu memperhi-dupkan Kristus. Paulus dapat berkata, “Bagiku hidup ada-lah Kristus” (Flp. 1:21). Berapa banyak orang di antara kita yang dapat memberikan kesaksian yang demikian? Bila kita diuji oleh Tuhan dalam hal ini, kita perlu merendahkan di-ri kita dan mengakui bahwa kita tidak banyak hidup oleh Kristus. Betapa kita perlu menerima anugerah untuk mem-perhidupkan Kristus setiap hari! Jika kita memperhidup-kan Dia secara konsisten dan memadai, semua pengganti Kristus akan lenyap.
Kalau kita nampak terang tentang bagaimana Kristus telah digantikan dalam kehidupan sehari-hari kita, kita akan mengaku kepada Tuhan bahwa kita tidak memperhidupkan Dia, malah memperhidupkan hal-hal lain. Kita mungkin berkata kepada-Nya, “Tuhan, aku mengaku bahwa aku tidak banyak hidup oleh-Mu. Aku menempuh hidup yang bersih dan murni, tetapi tidak memperhidupkan Kristus. Walau-pun aku berhati-hati agar tidak berdosa dan bersalah kepa-da orang lain, tetapi aku tidak memperhidupkan Engkau.” Bertahun-tahun yang lampau, saya menggunakan banyak waktu untuk mengakui kegagalan dan kekhilafan saya; te-tapi, pada waktu itu saya tidak mengakui kekurangan saya dalam memperhidupkan Kristus. Namun, akhir-akhir ini kebanyakan dari pengakuan dosa saya tertuju pada satu hal, yaitu kekurangan saya dalam memperhidupkan Kristus. Kita semua perlu membuat pengakuan dosa yang demikian ini kepada Tuhan.
DUA PERINTAH YANG UNIK
Dalam Perjanjian Baru terdapat satu perintah unik bagi orang-orang yang tidak percaya: Bertobatlah dan percayalah kepada Tuhan Yesus. Orang-orang akan binasa, karena me-reka tidak percaya kepada Tuhan. Sebagaimana bagi orang-orang yang tidak percaya ada satu perintah unik, demikian pula, ada satu perintah unik bagi kaum beriman: Perhidup-kanlah Kristus. Jika Anda bukan seorang beriman, Anda perlu bertobat dan percaya kepada Kristus. Tetapi, jika Anda seorang yang beriman kepada Kristus, Anda sekarang perlu memperhidupkan Kristus. Orang-orang yang tidak percaya melakukan banyak hal untuk menggantikan hal percaya kepada Kristus. Demikian pula, kaum beriman mungkin me-lakukan banyak hal dan bukannya memperhidupkan Kristus. Satu-satunya dosa orang-orang yang tidak percaya ialah tidak percaya kepada Kristus. Tetapi satu-satunya dosa dari kaum beriman ialah gagal memperhidupkan Kristus. Kita perlu mengakui dosa ini dan mempersalahkannya. Kita mungkin rendah hati, jujur, tulus, setia, rajin, dan sangat rohani dalam banyak aspek. Namun, jika kita tidak mem-perhidupkan Kristus, kita tetap berada di bawah hukuman Allah. Allah tidak menginginkan manusia yang jujur, dan tulus, Ia menghendaki kita menjadi manusia Kristus, orang-orang yang memperhidupkan Kristus. Orang Kristen sejati harus menjadi “manusia-Kristus”, bukan hanya seorang ma-nusia yang berbudi pekerti. Kita sangat perlu nampak bah-wa dalam kehidupan kita tidak boleh ada pengganti-peng-ganti bagi Kristus. Khususnya, kita nampak dari Kitab Kolose bahwa Kristus tidak boleh digantikan oleh kebuda-yaan macam apa pun. Kita semua mempunyai satu kebu-dayaan yang kuat, baik itu kebudayaan yang telah kita wa-risi, atau kebudayaan buatan kita, atau yang kita tetapkan atas diri sendiri. Hidup oleh kebudayaan itu berarti hidup oleh sesuatu yang bukan Kristus. Ketika kita hidup oleh kebudayaan kita, mungkin kita tidak melakukan apa-apa yang bersifat dosa. Sebaliknya, kehidupan kita mungkin sangat baik, tetapi itu bukan Kristus. Kita harus menghu-kum praktek penempuhan hidup oleh hal-hal seperti keren-dahan hati, kasih, dan kerajinan tetapi bukan oleh Kristus. Allah menghendaki kita memperhidupkan Kristus.
KRISTUS BERHUNI
DALAM KITA SECARA SUBYEKTIF
Kitab Kolose menampilkan aspek Kristus baik yang obyektif maupun subyektif. Di satu pihak, kitab ini secara obyektif mewahyukan Kristus yang almuhit dan alwasi. Di pihak lainnya, ada petunjuk yang tegas bahwa Kristus ini berhuni di dalam kita secara subyektif. Kita telah melihat Kolose 1:27 di mana Paulus mengatakan bahwa Kristus di dalam kita adalah pengharapan akan kemuliaan. Kristus yang alwasi, yang almuhit ini benar-benar berhuni di da-lam kita. Alangkah subyektifnya hal ini! Menurut Paulus, Kristus yang adalah rahasia ekonomi Allah bukan hanya Kristus yang ada di sebelah kanan Allah di surga, tetapi yang juga ada di dalam kita. Menurut ekonomi Allah, Kristus harus tersalur ke dalam kita untuk pengalaman subyektif kita. Jika Dia hanya bertakhta di surga, kita tidak dapat mengalami Dia. Kita dapat menengadah kepada-Nya, perca-ya kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, dan bersandar kepada-Nya, tetapi tidak dapat mengalami Dia. Puji Tuhan, karena Kristus yang alwasi tinggal di dalam kita menjadi pengha-rapan kemuliaan kita! Ini merupakan titik inti ekonomi Allah, yaitu inti penyaluran Allah.
Beberapa orang Kristen tidak percaya bahwa Kristus berada di dalam kita. Mereka menyatakan bahwa Dia ber-ada di takhta dan di dalam kita diwakili oleh Roh Kudus. Ini memutarbalikkan firman kudus Allah yang dengan jelas mengatakan Kristus berada di dalam kita. Siapakah yang berhak mengatakan Kristus hanya ada di surga dan tidak ada di dalam kaum beriman pula? Dasar apakah yang orang-orang miliki untuk memutarbalikkan firman Allah dengan mengatakan bahwa Kristus hanya diwakili oleh Roh Kudus di dalam kita? Orang-orang yang menyangkal Kristus berhu-ni di dalam kita menentang kita karena mengajarkan bah-wa Kristus hari ini adalah Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45; 2 Kor. 3:17). Alkitab mengatakan dengan jelas dan tegas bahwa Kristus ada di dalam kita. Jika Kristus bukan Roh pemberi-hayat, bagaimana mungkin Dia berhuni di dalam kita sebagai hayat kita?
TERSEMBUNYI BERSAMA
DENGAN KRISTUS DI DALAM ALLAH
Dalam Kolose 3:3-4 Paulus berkata, “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup (hayat) kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan” (Tl.). Kolose 3:3 me-ngatakan bahwa hayat kita tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Beserta dengan Kristus di dalam Allah berarti kita bersatu dengan Kristus. Dalam 1 Korintus 6:17, orang yang mengikatkan diri dengan Tuhan adalah satu roh. Kita bersama dengan Kristus di dalam Allah ka-rena secara subyektif kita dengan Kristus satu.
Kolose 3:3 adalah sebuah ayat yang dalam dan miste-rius. Bersama dengan Kristus, kita tersembunyi di dalam Allah. Kita bersama dengan Kristus dan tersembunyi di da-lam Allah, bukankah hal ini merupakan satu rahasia? Ini bukan hanya sesuatu yang bersifat obyektif, tetapi juga sua-tu hal yang sangat subyektif.
KRISTUS, HAYAT KITA
Dalam Kolose 3:4 Paulus mengatakan lebih lanjut bahwa Kristus adalah hayat kita. Bagi kita tidak ada yang lebih subyektif daripada hayat kita. Hayat kita sebenarnya adalah diri kita sendiri. Bagaimana Anda dapat memisahkan seseorang dari hayat orang itu? Ini mustahil! Hayat sese-orang adalah orang itu sendiri. Karena itu, mengatakan Kristus adalah hayat kita berarti Kristus menjadi kita. Ini adalah hal yang sangat subyektif.
HIDUP DAN BERGERAK DI DALAM KRISTUS
Dalam Kolose 2:6-7 Paulus berkata, “Kamu telah mene-rima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hi-dupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di da-lam Dia dan dibangun di atas Dia.” Setelah kita menerima Kristus, kita harus hidup (berperilaku) di dalam Dia. Ini berarti hidup, bertindak, bertingkah laku dan membawa diri di dalam Dia. Ini pun bersifat subyektif. Kalau Kristus hanya berada di takhta, mana mungkin kita berperilaku di dalam Dia di bumi? Kita dapat berperilaku di dalam Kristus hanya kalau Dia itu subyektif terhadap kita di dalam peng-alaman kita.
Kolose 2:7 mengatakan kita telah berakar di dalam Kristus dan (sedang) dibangun di atas Kristus. Ungkapan ini berkaitan dengan perilaku kita di dalam Kristus. Jadi, kita berperilaku di dalam Dia, karena telah berakar dan sedang dibangun di dalam Dia. Ini menyiratkan bahwa kita adalah tanaman yang berakar di dalam Kristus. Kita perlu meli-hat lebih banyak makna dari berakar di dalam Kristus dan dibangun di dalam Dia demi berperilaku di dalam Dia.
Beban kita dalam berita ini ialah menunjukkan bahwa maksud Paulus dalam Kitab Kolose adalah membantu kaum saleh memahami tidak boleh ada pengganti apa pun bagi Kristus. Sebaliknya, segala sesuatu harus digantikan oleh Kristus. Kristus di dalam kita adalah hayat kita, dan kita perlu berperilaku di dalam Dia. Jika kita telah berakar di dalam Kristus, dan jika kita dibangun di dalam Dia, kita akan berperilaku di dalam-Nya. Kita akan hidup, bertindak, bertingkah laku di dalam Dia. Inilah arti memperhidupkan Kristus.