BERAKAR DAN DIBANGUN DALAM KRISTUS DENGAN ALLAH YANG MELALUI PROSES
Pembacaan Alkitab: Kol. 2:2, 7, 19; 4:2; Ef. 4:13
Kita telah menunjukkan bahwa Kitab Kolose pertamatama memberikan satu wahyu obyektif dari Kristus yang almuhit dan alwasi, kemudian menampilkan ministri yang subyektif, yaitu kepengurusan, rumah tangga yang olehnya Kristus yang almuhit disalurkan ke dalam kita. Terakhir kitab ini membicarakan pengalaman riil atas Kristus yang disuplaikan ke dalam kita. Karena itu, dalam Kitab Kolose kita memiliki wahyu yang obyektif, ministri yang subyektif, dan pengalaman yang riil.
SANG ALMUHIT DALAM ROH KITA
Kita yang mengalami Kristus memiliki hubungan yang akrab, dalam, intim, dan subyektif dengan Dia. Tetapi kita perlu menanyakan tiga hal: Siapakah Kristus? Apakah Kristus? Di manakah Kristus? Karena Kristus sedemikian kaya, sulit dikatakan dengan memadai siapa dan apa Dia. Pertama-tama, Kristus adalah Allah. Menurut Kitab Kolose, Dia adalah yang sulung dari segala yang diciptakan. Alki-tab menunjukkan bahwa Kristus adalah realitas berbagai jenis pohon: pohon ara, pohon zaitun, pohon anggur, dan po-hon cedar. Kristus juga adalah lembu, domba, singa, elang, dan merpati yang sejati. Tidak hanya demikian, Kristus adalah makanan, air, susu, madu, udara, cahaya matahari, hujan, embun, dan salju yang sejati. Terakhir, Kristus men-jadi tanah yang almuhit, tanah yang di dalamnya terdapat gunung, bukit, lembah, mata air, sumber, sungai, batu, besi, dan tembaga. Karena Kristus adalah Sang almuhit yang se-demikian, ketika Ia berada di bumi, Ia dapat memakai ber-bagai obyek alam sebagai ilustrasi mengenai diri-Nya sendiri.
Mengenai di manakah Kristus, kita perlu mengenal bah-wa walaupun Dia Mahahadir, dan khususnya berada di se-belah kanan Allah di langit tingkat tiga, tetapi Ia pun ber-huni di dalam kita (1:27). Namun, tidaklah mudah untuk memahami Kristus benar-benar berada di dalam kita. Kita adalah manusia yang rumit, dengan banyak ruangan-ruang-an, banyak bagian batin. Amsal 20:27 membicarakan bagi-an batin manusia, yaitu ruangan-ruangan dalamnya. Ruang-an-ruangan ini mencakup pikiran, emosi, tekad, hati, jiwa, manusia batiniah, dan manusia yang tersembunyi. Satu Petrus 3:4 membicarakan manusia yang tersembunyi, dan Efesus 3:16, membicarakan manusia batiniah. Kita mung-kin percaya bahwa Kristus berada di dalam kita, tetapi da-lam ruangan yang manakah Ia berada? Dua Timotius 4:22 menunjukkan bahwa Tuhan berada di dalam roh kita.
Sekarang kita harus bertanya apakah roh dan apa bedanya dengan hati dan jiwa. Terjemahan Mandarin me-makai istilah yang aneh, yakni “roh-hati”. Tetapi dalam ba-tin kita tidak ada benda “roh-hati” itu. Sayang sekali para penerjemah versi Mandarin memakai istilah itu untuk mem-bicarakan roh manusia! Walaupun para penerjemah itu sarjana, tetapi mereka telah keliru dalam hal ini. Yang lain menyatakan bahwa roh sama dengan jiwa. Di satu pihak, roh manusia bukan hati; di pihak lain, roh manusia juga bukan jiwa. Pikiran, emosi, tekad, jiwa, dan hati merupa-kan bagian batin manusia, tetapi tidak satu pun dari se-mua itu yang adalah roh. Roh manusia ada dalam inti bagian batin manusia. Adanya Kristus di dalam roh kita berarti Dia berada dalam inti diri kita, yaitu di dalam bagian yang paling dalam.
Roh, di mana Kristus berdiam di dalam kaum beriman, berbeda dengan tubuh dan jiwa. Alkitab mewahyukan bah-wa manusia terdiri dari tiga bagian — roh, jiwa, dan tu-buh. Karena roh berbeda dengan jiwa, maka kita harus dengan tegas membicarakan di mana Kristus berdiam di batin kita. Kita perlu mengatakan, menurut Alkitab, Kristus berada di dalam roh kita. Dalam 1 Korintus 6:17 dikatakan bahwa kita dengan Tuhan adalah satu roh. Tuhan adalah Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45), yang bersatu dengan roh kita. Sebab itu, kedua roh itu adalah satu. Tuhan tidak saja berhuni di dalam roh kita, Ia bahkan mempersatukan diri-Nya dengan roh kita. Dengan demikian, kedua roh ini — Roh pemberi-hayat dan roh kita — menjadi satu roh. Betapa akrab dan intimnya hubungan kita dengan Tuhan! Dia dan kita, kita dan Dia adalah satu roh. Hubungan apakah yang dapat lebih akrab dan lebih intim daripada ini? Hubungan semacam ini benar-benar paling akrab dan paling intim. Jika kita ingin mengalami Kristus dengan memadai, kita perlu memahami bahwa kita mempunyai hubungan yang sedemikian intimnya dengan Dia.
HIDUP DALAM SATU ROH DENGAN TUHAN
Akan tetapi, memahami adalah satu hal, mempraktek-kannya adalah hal lain. Kita mungkin mengetahui bahwa kita satu roh dengan Tuhan, tetapi dalam kehidupan se-hari-hari kita mungkin tidak mempraktekkan hidup dalam satu roh dengan-Nya. Sebaliknya, kita mungkin membatasi Tuhan dalam roh kita dan hidup menurut pikiran, perasa-an, dan pilihan kita. Kita mungkin mempertahankan ke-merdekaan kita untuk memilih apa yang kita inginkan, berpikir dengan cara kita sendiri, dan membiarkan emosi kita berlari sendiri. Kita mungkin tidak mau diganggu oleh Tuhan yang berada dalam roh kita. Karena itulah, dalam kehidupan sehari-hari kita yang sesungguhnya, kita mung-kin membatasi-Nya di dalam roh kita. Kita bahkan mung-kin menyangkal roh kita, hidup seolah-olah kita tidak me-miliki roh, tetapi hanya memiliki tubuh dan jiwa. Sebagai contoh, jika kita ingin marah atau banyak omong, kita mungkin berbuat demikian menurut kegemaran kita. Kita justru tidak mempraktekkan hidup dalam satu roh dengan Tuhan. Sewaktu kita berdoa-baca, kita mungkin memuji Tuhan bahwa kita satu roh dengan Dia. Tetapi dalam se-kian banyak masalah yang riil, kita mungkin sama sekali mengabaikan Tuhan yang berada dalam roh kita.
RAHASIA ALLAH
Bagian pertama dari Kolose 2:7 mengatakan, “Hendak-lah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia.” Kata depan dari kata ganti “Dia” ialah Kristus dalam ayat sebelumnya. Menurut 2:2, Kristus ini adalah rahasia Allah. Ini membawa kita kepada pertanyaan lainnya, yaitu apakah rahasia Allah? Karena Kristus adalah rahasia Allah, maka berakar di dalam Kristus berarti berakar di dalam rahasia Allah. Semua orang Kristen mengenal nama Kristus, tetapi tidak banyak yang mengerti istilah rahasia Allah. Allah itu satu rahasia. Selain itu, Allah mempunyai satu sejarah, sa-tu kisah. Apakah sejarah Allah? Allah itu tidak terbatas dan kekal, tanpa permulaan atau kesudahan. Menurut per-kenan-Nya, Ia menciptakan langit dan bumi dan jutaan benda dalam alam semesta. Sebab itu, Allah menggenapkan pekerjaan penciptaan. Kristus adalah kisah Allah, sejarah Allah. Ini berarti Kristus bukan hanya Allah itu sendiri, tetapi juga sejarah Allah. Sejarah Allah mengacu kepada proses yang dilalui-Nya sehingga Ia dapat masuk ke dalam manusia dan manusia dapat dibawa masuk ke dalam-Nya.
Kejadian 1:1 mengatakan bahwa pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Tetapi Matius 28:19 membi-carakan tentang membaptis kaum beriman ke dalam nama Bapa, Anak, dan Roh. Kita tahu bahwa Bapa, Anak, dan Roh adalah Allah yang dikatakan dalam Kejadian 1:1. Te-tapi, perbedaannya ialah pada waktu Kejadian 1:1 Allah be-lum melalui proses inkarnasi, kehidupan insani, penyalib-an, kebangkitan, dan kenaikan. Perkataan dalam Matius 28:19 diucapkan oleh Tuhan setelah Ia masuk ke dalam kebangkitan, setelah Ia melalui inkarnasi, kehidupan insani, dan penyaliban. Setelah kebangkitan-Nya, Ia menyuruh mu-rid-murid-Nya untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya dan membaptis mereka bukan ke dalam nama Sang Pen-cipta, yang dapat kita sebut sebagai Allah yang belum me-lalui proses, tetapi ke dalam nama Bapa, Anak, dan Roh. Ini berarti membaptis kaum beriman ke dalam Allah yang telah melalui proses. Allah yang telah melalui proses adalah Allah yang tersedia bagi umat pilihan-Nya, dan umat-Nya dapat dibaptis ke dalam-Nya. Walaupun tidak mungkin mem-baptis kaum beriman ke dalam Allah yang diwahyukan dalam Kejadian 1:1, kita dapat membaptis mereka ke dalam nama Bapa, Anak, dan Roh; yaitu, kita dapat membaptis mereka ke dalam Allah Tritunggal yang telah melalui proses.
Hari ini Allah Tritunggal yang telah melalui proses ialah Roh itu. Pada waktu Yohanes 7:39, Roh itu belum ada, karena Yesus belum dimuliakan. Dia belum melalui kematian dan masuk ke dalam kebangkitan. Sekarang karena Kristus telah melalui kematian dan masuk ke dalam kebangkitan, Roh itu ada di sini. Roh itu adalah Kristus, dan Kristus adalah kisah Allah, rahasia Allah. Sebagai kisah Allah, Kristus adalah Allah yang telah melalui proses. Allah telah melalui proses untuk menjadi Roh almuhit, yang sekarang berhuni di dalam roh kita dan yang bersatu dengan roh kita.
MENYERAP KEKAYAAN KRISTUS
Kristus yang di dalamnya kita telah berakar ialah Roh yang almuhit. Ini berarti dalam roh kita ada Allah Tritung-gal yang telah melalui proses sebagai sumber kita. Sumber ini merupakan mata air yang memancar dalam batin kita. Roh almuhit yang berhuni dalam kita mencakup unsurunsur ilahi, insani, inkarnasi, kehidupan insani, kematian, dan kebangkitan. Kita telah berakar di dalam Dia, di dalam sumber ajaib ini, yang adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit.
Sebatang pohon yang berakar dalam tanah menyerap unsur yang kaya dari tanah ke dalamnya. Ketika diserap ke dalam pohon, unsur-unsur itu menjadi gizi pohon itu. Pohon itu kemudian bertumbuh karena unsur-unsur itu. Tanpa menyerap kekayaan tanah, tidak mungkin ia bertumbuh. Semakin dalam pohon itu berakar di dalam tanah, ia akan semakin menyerap makanan yang kaya dari tanah. Pada prinsipnya, pertumbuhan kita di dalam Kristus juga demi-kian. Kita telah berakar dalam-dalam di dalam Kristus se-bagai tanah, yakni Allah Tritunggal yang telah melalui pro-ses, pemberi-hayat yang almuhit yang berhuni dalam roh kita. Sekarang kita sedang menyerap kekayaan Kristus ke dalam diri kita. Hasilnya, kita akan terbangun dengan ke-kayaan Kristus yang telah kita serap tersebut. Apa yang kita serap ke dalam diri kita itu menjadi bahan yang de-ngannya kita dibangun.
BERTAMBAH DALAM PERAWAKAN ROHANI
Pemakaian kata “dibangun” dalam 2:7 tidak langsung mengacu kepada pembangunan Tubuh Kristus. Ungkapan ini menunjukkan suatu pertambahan dalam perawakan ro-hani kita, yang dapat dibandingkan dengan pertambahan perawakan seseorang ketika ia bertumbuh secara jasmani. Satu-satunya cara supaya seorang anak dapat bertumbuh secara jasmani ialah melalui menyerap gizi makanan. De-mikian pula, kita bertumbuh secara rohani juga melalui menyerap gizi Kristus yang kaya itu. Itulah arti dari kata dibangun dalam Kristus yang tercantum dalam 2:7. Perta-ma-tama Paulus mengatakan kita telah berakar di dalam Kristus, kemudian ia mengatakan kita sedang dibangun di dalam Kristus. Tidak ada sebatang pohon yang dapat ber-tumbuh tanpa berakar terlebih dahulu. Pertumbuhan pohon juga berarti pembangunan pohon.
Jika kita kekurangan perawakan rohani, tidak ada gunanya membicarakan pembangunan Tubuh. Dalam Efesus 4:13 Paulus berkata, “Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang penuh tentang Anak Allah, mencapai kedewasaan penuh, mencapai tingkat per-tumbuhan (perawakan) yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Tl.). Tubuh Kristus mempunyai satu perawakan, dan pera-wakan ini memiliki suatu tingkat pertumbuhan (ukuran) penuh. Kita semua perlu bertumbuh hingga mencapai ukur-an penuh dari perawakan Tubuh Kristus. Bagi kita, dibangun terutama tidak berarti dibangun sebagai gereja — Tubuh Kristus, melainkan — berarti kita dibangun di dalam Tuhan dan mengalami pertambahan perawakan. Jadi, dalam Kolose 2:7 dibangun sebenarnya berarti bertumbuh. Pertama kita berakar di dalam Kristus sebagai Roh almuhit, kemudian kita dibangun di dalam Dia. Kita dibangun melalui bertum-buh. Pembangunan ini tergantung pada penyerapan keka-yaan Kristus sebagai tanah itu. Setelah menyerap kekaya-an itu ke dalam kita, kita akan bertumbuh dan dibangun. Ketika kita bertumbuh sepenuhnya, kita akan dibangun. Sebab itu, dibangun tak lain berarti bertumbuh. Untuk bertumbuh, kita perlu makanan. Pertumbuhan kita tergantung pada berapa banyaknya makanan yang kita serap melalui berakar di dalam Kristus. Karena telah berakar di dalam Dia, kita menyerap kekayaan Roh yang almuhit itu. Kemudian kita bertumbuh dengan makanan yang kita peroleh dari kekayaan tersebut.
BERTUMBUH MELALUI MENYERAP
KEKAYAAN DARI KEPALA
Menurut Kolose 2:19, melalui berpegang kepada Kepala kita bertumbuh dengan pertumbuhan Allah. Dari Kepala, Tubuh bertumbuh dengan pertumbuhan Allah. Allah di sini adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses, seperti tercantum dalam Matius 28:19. Jadi, dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses sebagai sumber kita, Tubuh ber-tumbuh melalui menyerap kekayaan dari Kepala. Tubuh tidak dapat bertumbuh dengan pengetahuan Alkitab, me-lainkan dengan pertumbuhan Allah. Dalam diri-Nya sen-diri Allah tidak terbatas, sempurna, dan lengkap. Karena itu, di dalam diri-Nya sendiri Allah tidak dapat bertumbuh, tetapi di dalam kita Allah dapat dan perlu bertumbuh. Kita bertumbuh dengan pertumbuhan Allah di dalam kita. Kare-na kita memiliki Allah Tritunggal sangat sedikit di dalam kita, maka kita perlu pertambahan Allah bagi pertumbuhan rohani kita. Kita bertumbuh dengan apa yang kita serap dari Kepala.
Butir vital dan yang sangat penting ialah bahwa kita bertumbuh melalui menyerap kekayaan Kristus. Untuk menyerap kekayaan-Nya, kita harus berakar di dalam Dia sebagai Roh yang almuhit. Ingatlah bahwa Roh ini berhuni di dalam roh kita. Tanah itu bukan pikiran, emosi, atau te-kad kita, melainkan Allah Tritunggal almuhit yang telah melalui proses dan berhuni dalam roh kita. Sumber keka-yaan yang kita butuhkan untuk pertumbuhan kita ialah Allah Tritunggal yang telah melalui proses di dalam roh kita. Sama seperti kita pergi ke kran untuk mengambil air, de-mikian pula kita harus berpaling ke dalam roh kita untuk memperoleh kekayaan Allah Tritunggal.
MELATIH ROH
Untuk lebih dalam berakar ke dalam Allah Tritunggal yang telah melalui proses, kita perlu melatih roh kita, bu-kan pikiran, emosi, atau tekad kita. Akan tetapi, lingkung-an sekitar kita tidak setuju atau menyokong latihan roh itu. Sebaliknya, setiap hal dalam lingkungan kita berusaha menjauhkan kita dari roh. Sebagai contoh, sepanjang hari Tuhan (hari Minggu), istri seorang saudara mungkin sangat menyenangkannya. Tetapi justru sebelum sidang Pemecah-an Roti, ia mungkin mengucapkan kata-kata yang tidak baik kepada saudaranya, dan reaksi saudara itu terhadap istrinya membuat saudara itu terpisah dari roh. Dalam si-tuasi yang demikian, saudara itu perlu melatih rohnya dan berseru kepada nama Tuhan Yesus. Melalui melatih roh, ia akan lebih dalam berakar ke dalam Kristus sebagai tanah itu, dan dengan otomatis menyerap lebih banyak kekayaan Roh almuhit itu. Hal ini akan menghasilkan lebih banyak pertumbuhan.
Kita perlu terus-menerus melatih roh kita. Inilah alasannya sampai pada akhir Kitab Kolose Paulus menyu-ruh kita untuk bertekun dalam doa (4:2). Namun, jika kita tidak melatih roh kita, melainkan melatih pikiran, emosi, dan tekad kita, Iblis akan menjauhkan kita dari kenik-matan atas Roh almuhit dalam roh kita. Iblis, si licik dan jahat itu, akan menggunakan lingkungan sekitar kita un-tuk menjauhkan kita dari roh. Karena itu, kita perlu terus-menerus melatih roh kita melalui menyeru nama Tuhan, agar kita berakar lebih dalam ke dalam Roh almuhit itu. Setelah itu kita akan menyerap kekayaan Kristus, bertum-buh di dalam Kristus, serta dengan spontan dibangun di dalam Dia. Akhirnya kita akan hidup dan bergerak di dalam Dia. Jika kita memahami hal ini, kita akan mengetahui apa artinya hidup dan bergerak di dalam Kristus melalui menyerap kekayaan-Nya, dan melalui dibangun dengan apa yang telah kita serap. Inilah pengalaman riil atas Kristus yang kita perlukan.