HIDUP (BERPERILAKU) DALAM KRISTUS, TELAH BERAKAR DAN DIBANGUN DALAM DIA
Pembacaan Alkitab: Kol. 2:6-8, 16-17
Pikiran utama dan yang mendasari Kitab Kolose ialah bahwa menurut ketentuan Allah, Kristus harus mengganti-kan semua unsur dan faktor kehidupan insani alamiah kita dengan diri-Nya sendiri. Unsur-unsur dan faktor-faktor ini dapat diringkas dalam satu istilah, yakni kebudayaan. Kehi-dupan insani kita tersusun dari berbagai aspek kebudayaan, yang terdiri atas sejumlah faktor dan unsur. Kita telah nampak bahwa Kitab Kolose menanggulangi faktor-faktor, elemen-elemen, komponen-komponen, dan unsur-unsur po-kok kehidupan insani kita. Kitab ini mewahyukan Kristus yang alwasi yang menjadi pengganti segala unsur itu da-lam kehidupan insani kita.
FILSAFAT, TRADISI, DAN UNSUR-UNSUR DUNIA
Dalam Kolose 2:8 Paulus mengatakan, “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafat dan tipuan yang kosong menurut ajaran turun-temurun (tradisi manusia) dan unsur-unsur dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” (Tl.). Filsafat adalah faktor utama dalam kebudaya-an, dan kebudayaan tidak dapat eksis tanpa tradisi. Istilah kebudayaan dan tradisi hampir merupakan sinonim. Un-sur-unsur dunia yang dibicarakan dalam Kolose 2:8 adalah asas-asas awal, ajaran-ajaran yang permulaan. Filsafat, tradisi, dan unsur-unsur dunia adalah penyusun kebudaya-an. Semuanya itu berlawanan dengan Kristus. Ayat ini me-nunjukkan bahwa Kristus telah datang untuk mengganti-kan filsafat, tradisi, dan unsur-unsur dunia. Jadi ayat ini menampilkan suatu perbedaan yang jelas antara Kristus dengan filsafat, tradisi, dan unsur-unsur dunia. Kalau sese-orang tidak memiliki Kristus, ia pasti akan memiliki ketiga unsur kebudayaan tersebut. Tetapi, begitu kita menerima Kristus, hal-hal itu harus digantikan oleh Kristus.
PERBEDAAN ANTARA KRISTUS DENGAN
BAYANG-BAYANG, PERATURAN-PERATURAN,
DAN KEBUDAYAAN
Dalam Kolose 2:16-17 Paulus berkata, “Karena itu, jangan biarkan orang menghakimi kamu mengenai makan-an dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedangkan wujudnya ialah Kristus.” Dalam ayat 16 Paulus menyebutkan empat hal sebagai ilus-trasi: makanan dan minuman, hari raya, bulan baru, dan hari Sabat. Hal-hal ini mewakili segala sesuatu dalam kehidupan insani kita. Khususnya, hal-hal yang disebutkan ini berkaitan dengan Yudaisme, dengan peraturan-peratur-annya tentang makanan dan minuman, tentang pemelihara-an hari-hari dan bulan-bulan baru, dan hari Sabat. Jadi, ayat 16 mengatakan tentang berbagai peraturan yang men-jadi penyusun hidup orang Yahudi. Tetapi, seperti yang di-katakan Paulus dalam ayat berikutnya, segala hal itu, “hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedangkan wujudnya ialah Kristus.” Jadi, dalam ayat-ayat ini kita nampak satu perbandingan lain, yaitu perbandingan antara bayangan dan Kristus.
Dalam ayat 20-21 Paulus melanjutkan, “Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari unsur-unsur dunia, mengapa kamu menaklukkan dirimu pada berbagai peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan pegang ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini.” Dalam Kitab Roma Paulus berkata bahwa di dalam Kristus kita telah mati terhadap dosa, sedangkan dalam Ki-tab Kolose dia berkata bahwa kita telah mati bersama de-ngan Kristus dan bebas dari unsur-unsur dunia, yaitu dari faktor-faktor kehidupan manusia alamiah kita. Di sini Paulus memberi tahu kita bahwa kita telah mati bersama-sama dengan Kristus dari kebudayaan. Kemudian ia bertanya, kalau memang begitu, mengapa kita masih menaklukkan diri kepada berbagai peraturan tentang memegang, menge-cap, dan menyentuh. Dalam ayat-ayat ini kita menemukan perbandingan lain lagi, perbandingan antara Kristus yang dengan-Nya kita telah mati bersama dengan peraturan-peraturan yang merupakan komponen kebudayaan kita.
Dalam Kolose 3:10 Paulus mengatakan tentang manusia baru, dan dalam ayat 11, menyinggung manusia baru, dia berkata, “Dalam hal ini tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Di sini kita sekali lagi menjumpai perbandingan antara kebudayaan dengan Kristus. Paulus memakai istilah Barbar dan Skit, menunjukkan bahwa ayat ini menanggulangi perbedaan ke-budayaan. Kristus berlawanan dengan semua perbedaan ini.
KRISTUS MENGGANTIKAN KEBUDAYAAN
Kristus telah datang untuk menggantikan semua as-pek kebudayaan yang disebutkan dalam Kolose 2:8, 16-17, 20-21, dan 3:11. Kristus harus masuk ke dalam kehidupan insani kita untuk menggantikan filsafat, tradisi, dan unsur-unsur dunia. Dia harus menggantikan makanan, minum-an, hari-hari raya, bulan baru, dan hari Sabat. Dia harus menggantikan peraturan-peraturan dan semua perbedaan kebudayaan. Ketika semua hal ini telah sepenuhnya diganti-kan oleh Kristus, hanya Kristuslah yang tertinggal. Ini me-wahyukan dengan jelas bahwa dalam Kitab Kolose Kristus adalah pengganti segala faktor dan unsur kebudayaan. Dia harus masuk ke dalam kehidupan kita untuk mengganti-kan setiap hal dengan diri-Nya sendiri. Inilah wahyu ilahi dalam firman kudus. Oh, semoga mata kita tercelik untuk melihat bahwa setiap faktor, unsur, dan aspek kehidupan insani alamiah kita berlawanan dengan Kristus. Dalam eko-nomi Allah, Kristus yang alwasi harus masuk untuk meng-gantikan segala unsur, faktor, dan aspek ini. Akhirnya, dalam kekekalan, Kristus sajalah yang tertinggal.
Kristus adalah faktor utama dalam susunan Alkitab. Karena itu, kita dapat mengatakan dengan sesungguhnya bahwa Alkitab ditulis dengan Kristus. Huruf-huruf abjad merupakan lambang Kristus. Dengan alasan inilah dalam Alkitab Kristus berkata, “Akulah Alfa dan Omega” (Why. 22:13). Kalau Dia adalah huruf yang pertama dan terakhir, Dia seharusnya pula huruf-huruf lainnya. Dalam kehidupan insani kita, Kristus harus menjadi seluruh abjad. Jika Dia abjad kita, dengan sendirinya Dia akan menjadi setiap kata, kalimat, alinea, dan bab, dan akhirnya, seluruh buku. Eko-nomi Allah ialah agar seluruh kehidupan insani kita ditulis, disusun, atau dikarang dengan Kristus sebagai satu-satunya faktor. Karena alasan ini, Kitab Kolose mengungkapkan Kristus yang alwasi, Kristus yang datang untuk memenuhi setiap bagian kehidupan kita. Sebab itu, kamus kehidupan Kristen kita harus berisi satu kata saja: Kristus. Tetapi pa-da bagian bawah halamannya harus tercantum sebuah ca-tatan kaki yang mengatakan: “dan gereja”. Inilah wahyu dalam Kitab Kolose.
DUA SYARAT
Dengan wahyu ini sebagai landasan kita, kita tiba pa-da masalah yang sangat penting tentang hidup (berperilaku) di dalam Kristus (2:6). Ayat 6 dan 7 (menurut bahasa asli-nya) tidak mengatakan, “hendaklah hidupmu tetap di da-lam Dia, hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan diba-ngun di atas Dia”, melainkan “hiduplah di dalam Dia, karena kamu telah berakar dan sedang dibangun di dalam Dia” (Tl.). “Telah berakar” dan “sedang dibangun” adalah bentuk kata kerja purna dan kala kini yang melukiskan bagai-mana kita harus hidup (berperilaku). Kita dapat berperi-laku di dalam Kristus karena kita telah berakar di dalam Dia, dan sedang dibangun di dalam Dia. Kedua syarat ter-sebut harus terpenuhi jika kita ingin berperilaku di dalam Kristus. Berperilakunya kita di dalam Kristus berdasar pa-da kedua syarat tersebut: kita telah berakar di dalam Dia, dan kita sedang dibangun di dalam Dia.
Perkataan kedua ayat ini sangat sederhana; tetapi kita mungkin menganggapnya biasa dan tidak benar-benar me-mahaminya. Dalam ayat-ayat ini terkandung tiga kata yang mendasar: hidup (berperilaku), berakar, dan dibangun.
Dalam Kitab Kolose Paulus membahas masalah-masa-lah wahyu obyektif tentang apa adanya Kristus dan minis-tri subyektif yang olehnya Kristus disalurkan ke dalam kaum beriman. Wahyu obyektif tentang Kristus dan minis-tri yang subyektif tentang Kristus memberi kita peng-alaman yang riil terhadap Kristus. Dalam berita ini dan dalam berita berikutnya kita akan khusus memperhatikan pengalaman yang riil atas Kristus. Wahyu obyektif dari Alkitab mengungkapkan Kristus yang alwasi dan yang al-muhit dan ministri subyektif menyalurkan Kristus yang de-mikian ini ke dalam kita untuk menjadi pengganti setiap unsur dari kehidupan insani alamiah kita. Jika kita nam-pak hal ini, kita akan dapat memahami apa artinya hidup (berperilaku) di dalam Kristus.
BERPERILAKU DI DALAM SESUATU
YANG BUKAN KRISTUS
Istilah “hidup” (berperilaku) di sini dalam bahasa Yu-nani mengandung arti berjalan, bertindak, bertingkah laku, dan membawa diri. Ini menyiratkan setiap hal dalam kehi-dupan sehari-hari kita. Berperilaku di dalam Kristus ber-arti menempuh kehidupan, bertindak, bergerak, bertingkah laku, dan membawa diri di dalam Kristus. Kita tidak boleh hidup, berjalan, bergerak, bertindak, bertingkah laku, atau membawa diri di dalam sesuatu yang bukan Kristus. Se-bagai contoh, ketika seorang saudari berbelanja, ia harus melakukan hal itu di dalam Kristus. Tetapi, tidak banyak saudari yang berbelanja di dalam Kristus. Sebaliknya, me-reka mungkin menentukan untuk berbelanja atau membeli barang-barang tertentu di luar Kristus. Jadi, dalam hal ber-belanja, banyak saudari tidak berperilaku di dalam Kristus. Demikian pula para saudara, sewaktu mereka pergi mencu-kur rambut. Dalam hal mencukur rambut yang riil ini para saudara mungkin tidak berperilaku di dalam Kristus.
Seorang saudara mungkin bersaksi bahwa ia mengasihi Tuhan dan gereja, dan ia sepenuhnya bagi pemulihan Tuhan. Namun, dalam banyak hal ia mungkin tidak berperilaku di dalam Kristus, tetapi di dalam bawaan, kegemaran, atau pilihan sendiri. Sebagai contoh, seorang saudara boleh jadi menganggap sebagai kepala keluarga, ia berhak atas segala sesuatu. Ia mungkin berusaha memberikan kesan bahwa ia bertindak sebagai raja di rumah. Bila seorang saudara ber-tindak demikian, ia bukan berperilaku di dalam Kristus. Ini merupakan satu ilustrasi dari fakta bahwa kita di dalam gereja lokal sering tidak benar-benar berperilaku di dalam Kristus, walaupun kita benar-benar mengasihi Tuhan dan pemulihan-Nya.
Berperilaku di dalam Kristus berarti tidak mempunyai pengganti apa pun bagi Kristus. Karena kejatuhan manu-sia, kebudayaan menggantikan Allah dalam kehidupan ma-nusia. Manusia diciptakan untuk Allah, dan perlu Allah men-jadi hayat, kenikmatan, dan segala sesuatu baginya. Tetapi karena manusia kehilangan Allah, ia menciptakan kebuda-yaan sebagai pengganti Allah. Sekarang, dalam ekonomi-Nya, Allah telah menetapkan bahwa Kristus, Putra-Nya, harus menggenapkan penebusan, yang membawa manusia kembali kepada Allah, dan kemudian mengganti segala peng-ganti itu dengan diri-Nya sendiri. Kita telah nampak bahwa berbagai faktor dan unsur dari kehidupan insani kita se-muanya adalah pengganti Kristus. Tetapi faktor-faktor dan unsur-unsur yang menjadi pengganti Allah sekarang harus-lah digantikan oleh Kristus. Agar hal ini bisa menjadi peng-alaman kita, perlulah kita berperilaku di dalam Kristus.
Dalam hal berbelanja kita harus memperhidupkan Kristus, dan tidak memperhidupkan apa pun yang bukan Kristus. Jangan memikirkan barang-barang apa yang se-dang diobral atau berapa banyak yang Anda miliki dalam tabungan Anda. Sebaliknya, perhidupkan dan perhatikan saja Kristus. Jika seorang saudara hidup dalam keesaan de-ngan Tuhan, ia akan hidup di dalam Kristus ketika ia men-cukur rambut. Dengan spontan ia akan mengetahui bagai-mana seharusnya rambutnya dicukur. Kristus tidak saja sebagai alam lingkungan, wilayah yang di dalamnya kita berjalan, tetapi juga merupakan setiap faktor dan unsur dari kehidupan insani kita. Memiliki Kristus sedemikian ini dalam pengalaman kita berarti hidup atau berjalan di dalam-Nya.
Saya memustikakan fakta bahwa begitu banyak sau-dara mengasihi Kristus dan gereja, dan mutlak bagi pemu-lihan Tuhan. Namun, mereka tidak berperilaku di dalam Kristus, sebaliknya mereka berperilaku dalam gengsi mere-ka. Mereka mungkin mencela kesombongan, tetapi mereka menghargai gengsi mereka. Seorang saudara yang menjadi pemimpin dalam hidup gereja mungkin senang menunjuk-kan gengsinya. Bahkan saudara-saudara muda yang baru menikah mungkin berperilaku menurut gengsi mereka sen-diri, bukan berperilaku di dalam Kristus. Mereka mungkin melatih diri sendiri untuk menegakkan gengsi mereka se-bagai suami terhadap istri mereka. Mereka mungkin sangat jengkel jika istri mereka berbuat sesuatu yang merendah-kan gengsi mereka. Mereka mungkin menganggap tindakan semacam itu sebagai suatu penghinaan terhadap kekepala-an mereka dan kurang menghormati gengsi mereka. Mere-ka menganggap Allah telah menetapkan mereka menjadi kepala atas istri mereka, dan istri mereka harus menghor-mati mereka dan menyegani mereka. Sebab itu, mereka tidak berperilaku di dalam Kristus, melainkan di dalam gengsi mereka.
Yang lain mungkin berperilaku menurut pasang surut emosi mereka, bukan berperilaku di dalam Kristus. Ketika surut mereka menjadi dingin, senyap, dan tidak memperha-tikan keperluan orang lain. Tetapi ketika pasang, mereka menjadi aktif dan sangat cerewet. Mereka berbicara menu-rut suasana hati, bukan menurut Kristus. Banyak orang beriman yang berperilaku dalam suasana hati, tidak berperilaku dalam Kristus. Jika mereka merasa gembira, mereka mau membantu orang lain. Tetapi, bila mereka me-rasa tidak gembira, mereka menarik diri, masa bodoh, dan tidak acuh terhadap orang-orang di sekitarnya. Hal ini me-nunjukkan bahwa walaupun kaum beriman ini mengasihi Kristus dan gereja, mereka tidak berperilaku di dalam Kristus.
Menurut wahyu yang alwasi dari Kristus dalam Kitab Kolose, kita tidak boleh berperilaku dalam apa pun yang bukan Kristus. Ini berarti kita tidak boleh berperilaku di dalam filsafat, tradisi, atau unsur-unsur dunia. Juga tidak boleh berperilaku dalam peraturan-peraturan atau ketetapan-ketetapan tertentu.
Kita mudah berperilaku dalam kebiasaan kita dan bukan di dalam Kristus. Sejak lahir, kita semua hidup dan berperilaku di dalam kebiasaan kita, bukan di dalam Kristus. Selama waktu berdoa, kita mungkin mendoakan diri kita ke dalam roh, dan pada waktu-waktu itu, kita hidup dan berada di dalam Kristus. Tetapi, begitu doa berakhir, kita kembali lagi hidup dan bertindak dalam kebiasaan kita. Jadi, kita tidak berperilaku di dalam Kristus, melainkan di dalam kebudayaan kita.
Berapa banyak Anda berperilaku di dalam Kristus hari ini? Berapa banyak Anda berbicara, bertindak, dan bersi-kap dalam sesuatu yang bukan Kristus? Kita harus meng-akui, kita tidak berperilaku di dalam Kristus, tetapi di da-lam faktor-faktor atau unsur-unsur lain dari kehidupan kita yang merupakan pengganti Kristus. Akan tetapi, me-nurut Kitab Kolose, kita harus berperilaku di dalam Kristus yang alwasi, yaitu di dalam Kristus yang kealwasian-Nya bersifat alam semesta dan yang menjadi segala sesuatu kita. Kita tidak perlu filsafat — Kristus adalah filsafat kita. Kita tidak perlu tradisi — Kristus adalah warisan yang terbaik. Kita tidak perlu asas-asas awal — Kristus adalah setiap asas kita. Yang perlu kita lakukan ialah menerima Kristus sebagai segala sesuatu dan berperilaku di dalam Dia.
Kita harus mengakui, bahkan dalam gereja-gereja lo-kal pun hampir semua dari kita berperilaku di dalam se-suatu yang bukan Kristus. Kita mengasihi Tuhan dan pe-mulihan-Nya, tetapi kita hidup, bertindak, dan berperilaku di dalam hal-hal yang bukan Kristus itu sendiri. Karena se-orang saudara hidup dalam sifatnya yang pemalu, bukan dalam Kristus, ia tidak mau berbicara dengan jujur dan te-rus terang kepada orang lain dalam kasih. Tetapi, ilustrasi ini jangan diartikan bahwa kita harus berperilaku dalam keberanian, tidak boleh takut-takut atau malu-malu. Yang penting di sini ialah kita harus berperilaku di dalam Kristus. Sedikit sekali orang beriman di antara kita yang berperi-laku di dalam hal-hal dosa, tetapi banyak sekali yang berpe-rilaku dalam hal-hal yang baik, bermoral, dan etis. Mereka hidup menurut cara hidup mereka sendiri. Jika kita benar-benar berperilaku di dalam Kristus, kita adakalanya mene-gur orang dengan berani. Menurut Galatia 2, Paulus menegur Petrus dengan terang-terangan ketika Petrus mengundur-kan diri dari makan bersama dengan orang-orang kafir. Bu-kan berarti kita harus menegur orang lain di mana-mana, melainkan semua perilaku kita harus di dalam Kristus.
Kita harus hidup dan bertindak di dalam Kristus. Kaum muda tidak boleh mengatakan mereka masih muda, kaum tua pun tidak boleh mengatakan mereka sudah tua. Tidak peduli kita muda atau tua, kita semua harus hidup dan bertindak di dalam Kristus. Dalam gereja tidak ada yang muda atau tua, tidak ada pemberani atau penakut. Hanya ada Kristus, yang adalah seluruh anggota manusia baru dan di dalam semua anggota. Sebab itu, kita semua harus berperilaku di dalam Kristus, bukan berperilaku menurut unsur kebudayaan yang mana pun. Saya ulangi, Kristus tidak saja harus menjadi alam lingkungan kita, yaitu wilayah luas yang di dalamnya kita berperilaku; Kristus pun harus menjadi seluruh unsur dan faktor kehidupan sehari-hari kita.
Kita akui bahwa berperilaku di dalam Kristus tidak mudah. Setelah menyuruh kita berperilaku di dalam Kristus, Paulus segera menambahkan perkataan ini, “Telah berakar dan sedang dibangun di dalam Dia” (Tl.). Jika kita ingin berperilaku di dalam Kristus, kita harus memenuhi syarat telah berakar di dalam Dia dan sedang dibangun di dalam Dia. Dasar kita untuk berperilaku di dalam Kristus ialah kita telah berakar di dalam Kristus. Di satu pihak, kita telah berakar di dalam Kristus; di pihak lainnya kita sedang ber-ada dalam proses dibangun di dalam Dia. Pengakaran, yang telah rampung, merupakan satu syarat bagi berperilaku di dalam Kristus, sedangkan pembangunan yang sedang ber-langsung merupakan syarat lainnya. Mengenai berakar, Paulus memakai ilustrasi tanaman yang berakar dalam di dalam tanah. Mengenai terbangun dalam Kristus, ia mema-kai contoh batu-batu sebagai ilustrasi.
PROSES ORGANIK
Tidak peduli berapa tua atau mudanya kita, kita semua telah berakar dalam-dalam di dalam kebudayaan kita dengan banyak faktor dan unsur-unsur yang menjadi kehi-dupan sehari-hari kita. Sebagaimana kita telah berakar da-lam kebudayaan kita, kini kita harus berakar dalam Kristus. Berakar merupakan masalah hayat. Berakarnya sebuah tanaman dalam tanah mencakup proses organik. Tanpa proses yang demikian, tidak ada tanaman yang da-pat berakar. Semakin dalam akar sebuah tanaman masuk ke dalam tanah, semakin banyak pula proses organik itu ter-jadi. Ketika sistem akar sebatang pohon berkembang, hayat pohon itu berkembang dan meluas. Berakar dalam Kristus berarti mengalami perkembangan, perluasan, dan aktivitas hayat yang sedemikian.
Sekali lagi kita memakai ilustrasi pengokulasian. Da-pat kita katakan bahwa kita, ranting-ranting pohon zaitun liar, kini telah diokulasikan ke dalam Kristus sebagai pohon zaitun yang dibudidayakan. Okulasi juga mencakup proses pertumbuhan organik. Tanpa proses yang demikian, kedua pohon tidak dapat bertumbuh bersama. Melalui okulasi, po-hon-pohon itu melekat jadi satu dan hayat mereka berbaur. Perbauran ini menghasilkan pertumbuhan organik. Dalam pertumbuhan ini, ranting yang diokulasikan, yaitu ranting pohon zaitun liar, berakar dalam-dalam di dalam pohon zai-tun yang dibudidayakan.
Prinsip pengokulasian sama dengan prinsip penanam-an. Untuk mengokulasi sebuah pohon dengan sukses, harus ada tempat dalam tanah agar akar pohon itu bertumbuh dan berkembang. Jika akar-akar itu disiram dan mempunyai tempat untuk bertumbuh, mereka akan berkembang ke da-lam tanah. Demikian pula hubungan kita dengan Kristus. Di satu pihak, kita telah diokulasikan ke dalam Kristus; di pihak lain, kita telah ditanam ke dalam Kristus, bahkan telah diokulasikan ke dalam Dia. Entah kita membicarakan dari sudut okulasi atau penanaman, perlu ada pertumbuh-an ke dalam dan ke bawah. Pertumbuhan ke bawah dari akar berlangsung sangat lambat, sedang pertumbuhan ke atas mungkin sangat cepat. Beberapa orang kudus bertum-buh seperti jamur. Banyak sekali yang tertampil di permu-kaan tanah. Tetapi, mereka kekurangan pertumbuhan akar yang ke bawah, yaitu di bawah tanah.
BERAKAR DALAM KRISTUS
UNTUK BERPERILAKU DALAM KRISTUS
Bila kita telah berakar dalam Kristus, dengan spontan kita akan berperilaku di dalam-Nya. Sebagai contoh, jika seorang saudari berakar dalam-dalam di dalam Kristus, akhirnya caranya berbelanja akan terpengaruh. Tetapi jika seorang saudari mengalami perubahan yang mendadak da-lam cara berbelanjanya, saya kurang percaya pada perubah-annya itu. Itu mungkin menunjukkan semacam pertumbuh-an jamur, bukan yang berasal dari mendalamnya ia ber-akar dalam Kristus dan berperilaku dalam Kristus. Ingatlah, berakar dalam Kristus adalah syarat untuk berperilaku di dalam Kristus.
Kalau kaum saleh berkontak dengan Tuhan, menge-luarkan waktu dalam firman, dan banyak berdoa, mereka akan berakar dalam-dalam di dalam Kristus. Kalau seorang saudari melakukan hal ini sejangka waktu, ia akan berbe-lanja di dalam Kristus, bukan dalam sesuatu yang bukan Kristus. Saya tidak percaya sedikit pun kepada perubahan kelakuan yang berasal dari suatu keputusan setelah mende-ngar sebuah berita. Yang saya percayai ialah suatu perubah-an yang timbul dari dalamnya akar kita di dalam Kristus melalui berkontak dengan Tuhan dan mengeluarkan waktu dalam firman dengan banyak doa. Ketika kita berakar di dalam Kristus, kita tidak perlu bertekad mengenai hal-hal tertentu, sebab dengan spontan kita akan berperilaku di dalam Dia.
Pada berita terdahulu kita mengajukan pertanyaan bagaimana tanaman dapat hidup. Kolose 2:7 membicarakan tentang berakar. Ini ditujukan kepada tanaman. Tetapi Kolose 2:6 membicarakan tentang berperilaku; ini ditujukan kepa-da manusia. Jadi, kita ini dianggap tanaman atau manu-sia? Jawabannya ialah: untuk kehidupan sehari-hari kita adalah manusia, tetapi untuk berakar dalam Kristus, kita adalah tanaman. Dalam 1 Korintus 3 Paulus mengatakan bahwa kita adalah ladang Allah, lahan Allah (ayat 9). Lagi pula, Paulus mengatakan bahwa ia menanam, Apolos me-nyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan (ayat 6). Jadi, da-lam hal pertumbuhan, kita seperti tanaman, tetapi dalam kehidupan sehari-hari tentu kita tidak seperti tanaman, me-lainkan manusia. Kita boleh mengatakan bahwa kita adalah “manusia-tanaman”: manusia dalam berperilaku, dan ta-naman dalam berakar di dalam Kristus.
Satu-satunya jalan untuk berakar dalam-dalam di dalam Kristus sebagai tanah ialah berkontak dengan Dia sebagai tanah dan menyerap air dalam firman dari hari ke hari. Semakin kita berkontak dengan tanah dan menyerap air, kita akan semakin bertumbuh. Pertama kita bertumbuh ke bawah, kemudian ke atas. Setelah kita bertumbuh ke bawah sejangka waktu, dengan otomatis kita tidak akan berperilaku dalam hal-hal di luar Kristus. Sebaliknya, kare-na kita telah berakar dalam-dalam di dalam Kristus, kita akan hidup, bertindak, bergerak, dan berperilaku di dalam Kristus.
Ketika kita berperilaku di dalam Kristus, kita pun ter-bangun di dalam Dia. Kita telah berakar di dalam kebuda-yaan dan terbangun di dalamnya. Bahkan anak-anak pun telah berakar dalam-dalam di dalam kebudayaan mereka. Tetapi ketika mereka berperilaku dalam kebudayaan mere-ka, ada sesuatu dari kebudayaan ini yang terbangun di da-lam mereka. Setiap orang terbangun dalam hal-hal terten-tu. Di satu pihak kita berakar dalam kebudayaan, di pihak lainnya, kita terbangun dalam aspek-aspek tertentu dari ke-budayaan kita itu.
MEMBANGUN EKSPRESI KRISTUS
Paulus beranggapan, Kristus, Sang almuhit dan alwasi ini harus menjadi pengganti setiap faktor dan unsur dalam kehidupan insani kita. Sebab itu, kita harus berperilaku di dalam Kristus. Tetapi berperilaku di dalam Dia memerlu-kan kita berakar di dalam Dia. Sebagaimana kita telah ber-akar di dalam kebudayaan, kini kita harus berakar di dalam Kristus. Setelah kita berakar di dalam Dia, dengan spontan kita akan berperilaku di dalam Dia. Sementara kita berpe-rilaku di dalam Dia, ekspresi Kristus akan terbangun di dalam kita. Pada akhirnya, ekspresi ini akan menjadi Tubuh, yaitu hidup gereja yang korporat, tempat kediaman Allah dalam roh di bumi pada hari ini. Jika kita menyatakan telah berperilaku di dalam Kristus tetapi kekurangan ekspresi Kristus, pernyataan kita itu palsu. Berperilaku di dalam Kristus memerlukan kita berada dalam proses terbangun di dalam Kristus. Ini berarti ketika kita sedang berperilaku di dalam Dia, ekspresi Kristus harus terbangun di dalam kita.
Menurut pengalaman kita, kita tahu bahwa ketika kita berkontak dengan Tuhan dan setiap hari masuk ke dalam firman dengan banyak berdoa, kita akan memenuhi syarat untuk berperilaku di dalam Kristus, karena kita telah berakar di dalam-Nya. Kemudian, ketika kita berperilaku di dalam Dia, setiap hari ekspresi Kristus itu terbangun di da-lam kita. Hal ini memungkinkan orang lain melihat Kristus diperhidupkan dari diri kita. Akhirnya, Kristus yang diper-hidupkan dari diri kita ini akan menghasilkan ekspresi Kristus yang korporat, yakni hidup gereja. Ini adalah jalan yang tepat untuk menempuh kehidupan orang Kristen.
Kehidupan kita tidak boleh menurut apa pun yang bu-kan Kristus. Pengganti Kristus yang paling licik ialah ber-bagai unsur dari kebudayaan kita. Kini Kristus harus ma-suk untuk menggantikan semua pengganti itu dengan diri-Nya sendiri. Jika hal ini yang kita alami, maka kita tidak akan mempunyai apa pun selain Kristus di dalam kehidup-an sehari-hari kita. Kita akan hidup, bertindak, bergerak, bertindak, dan membawa diri dan berperilaku di dalam Kristus. Untuk ini, ada dua syarat: berakar di dalam Kristus dan dibangun di dalam Kristus menjadi ekspresi Kristus. Ekspresi Kristus, yaitu Kristus diperhidupkan dari diri kita, akhirnya akan menjadi ekspresi yang korporat. Itulah ge-reja sebagai Tubuh dan manusia baru. Ketika gereja dalam realitas menjadi satu manusia baru yang sedemikian, itulah saatnya Kristus kembali. Semoga Tuhan membelaskasihi kita dan mengaruniakan anugerah-Nya kepada kita, agar kita dapat memperhidupkan Dia sedemikan rupa di dalam gereja.