WAHYU YANG ALWASI DARI KRISTUS YANG ALMUHIT
Pembacaan Alkitab: Kol. 3:11, 15-16
Dalam berita ini kita akan membahas secara umum tentang wahyu yang alwasi (memenuhi segala sesuatu, luas tak terbatas) dari Kristus yang almuhit. Banyak di antara kita yang telah nampak kealmuhitan Kristus, tetapi belum nampak kealwasian Kristus. Kitab Kolose justru menekan-kan kealwasian Kristus. Tujuan Paulus dalam menulis kitab ini ialah memperlihatkan wahyu yang alwasi dari Kristus.
Kealwasian Kristus bersifat universal. Tidak seorang il-muwan pun dapat memberi tahu kita dimensi (ukuran) alam semesta ini. Dalam Efesus 3 Paulus menyinggung dimensi-dimensi Kristus seperti lebar, panjang, tinggi, dan dalam. Seperti halnya alam semesta, Kristus tidak terduga atau terukur. Kristus yang sedemikian ini adalah alam semesta kita. Kristus yang tidak terukur yang tercantum dalam Efesus 3 bukan hanya Kristus yang almuhit, Dia juga Kristus yang alwasi; kealwasian-Nya bersifat alam semesta.
BAGIAN ORANG-ORANG KUDUS
Ketika menyajikan wahyu kealwasian Kristus, Kitab Kolose menggunakan sejumlah ungkapan yang unik. Seba-gai contoh, dalam Kolose 1:12 kita nampak Kristus adalah bagian orang-orang kudus. Kata Yunani yang diterjemah-kan “bagian” berarti “bagian yang diundi”. Setelah bani Israel memasuki tanah permai, tanah itu menjadi bagian mereka. Tanah permai yang mengalirkan susu dan madu adalah lambang almuhit dari Kristus. Sebagai tanah permai kita, Kristus adalah bagian kita, bagian semua orang kudus.
Bagian ini juga adalah gambar Allah yang tidak keli-hatan (1:15). Dalam 2 Korintus 4:4 Paulus menggunakan istilah “gambaran Allah”; tetapi, dalam ayat itu ia tidak mengatakan Kristus adalah gambar Allah yang tidak ke-lihatan. Menurut Kolose 1:15, Allah yang tidak kelihatan itu mempunyai satu gambar yang kelihatan.
Dalam ayat 15 istilah “yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan” merupakan keterangan tambahan dari “gambar Allah yang tidak kelihatan”. Tidak adanya kata penghubung yang menghubungkan istilah-istilah itu menunjukkan bahwa istilah-istilah itu merupakan sinonim. Gambar Allah yang tidak kelihatan adalah yang sulung da-ri segala yang diciptakan, dan yang sulung dari segala yang diciptakan adalah gambar Allah yang tidak kelihatan.
REALITAS SEGALA HAL YANG POSITIF
Menurut prinsip dalam Alkitab, yang pertama dalam suatu kategori tertentu, sering mencakup semua butir lain dalam kategori tersebut. Kitab Wahyu mengatakan bahwa Kristus adalah Alfa dan Omega. Tetapi ini tidak berarti Kristus hanya sebagai kedua huruf itu, bukan semua huruf yang berada di antaranya. Karena Dia adalah huruf pertama, maka Dia juga semua huruf lainnya. Prinsip ini serupa dengan pembunuhan anak-anak sulung dalam Kitab Keluar-an. Anak-anak sulung orang Mesir mewakili seluruh orang Mesir. Demikian pula, ketika Alkitab mengatakan Kristus adalah yang sulung dari segala yang diciptakan, hal ini me-nyiratkan bahwa Kristus mencakup setiap butir dari cipta-an itu. Konsepsi ini diperkuat dalam Kolose 2 di mana Paulus mengatakan bahwa hal-hal seperti makan, minum, hari raya, bulan baru, dan hari Sabat adalah bayangan, dan Kristus adalah wujud, substansi dari bayangan-bayangan tersebut. Berdasarkan ilustrasi ini, kita boleh meneruskan mengata-kan bahwa Kristus adalah pakaian, kendaraan, rumah, dan segala sesuatu kita. Tetapi ini sama sekali berbeda dengan menganggap setiap benda materi setara dengan Kristus. Itu panteisme. Menurut Alkitab, kita dapat mengatakan bahwa Kristus adalah makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal kita. Tetapi kita tidak dapat berbalik mengatakan bahwa pakaian, makanan, dan tempat tinggal yang materi itu adalah Kristus. Itu adalah ajaran bidah panteisme yang kasar. Namun demikian, kita mempunyai dasar alkitabiah untuk mengatakan Kristus adalah realitas setiap hal yang positif dalam alam semesta. Dia adalah pintu, terang, ha-yat, gembala, dan padang rumput. Semua aspek Kristus ini dikatakan atau terkandung dalam Injil Yohanes. Sebab itu, kita dapat mengatakan bahwa Kristus adalah segala sesua-tu bagi kita, realitas dari segala hal yang positif.
Dalam Kolose 1:16-17 Paulus mengatakan, “Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik peme-rintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala se-suatu dan segala sesuatu menyatu (berkelangsungan) di da-lam Dia.” Di sini kita nampak bahwa segala sesuatu dicip-takan di dalam Kristus, oleh Kristus, dan untuk Kristus. Tidak hanya demikian, segala sesuatu sekarang berkelang-sungan di dalam Kristus. Dia yang di dalam-Nya, yang oleh-Nya, dan yang untuk-Nya segala sesuatu diciptakan, dan yang di dalam-Nya mereka berkelangsungan, ialah gambar, ekspresi Allah. Karena itu, Allah terekspresi dalam pencip-taan segala sesuatu di dalam Kristus.
Dalam Kolose 1:18 kita nampak Kristus tidak saja sebagai yang sulung dari segala yang diciptakan, tetapi juga sebagai yang pertama bangkit dari antara orang mati. Ini menunjukkan ciptaan baru Allah. Ciptaan lama terjadi oleh aktivitas penciptaan Allah, sedangkan ciptaan baru terjadi melalui kebangkitan Kristus. Kristus adalah yang pertama baik dari ciptaan lama maupun ciptaan baru — yaitu gereja, Tubuh Kristus. Dalam gereja sebagai ciptaan baru Allah, Kristus adalah segala sesuatu. Menurut Kolose 3:10-11, Kristus berada di dalam seluruh anggota manusia baru dan adalah seluruh anggota itu.
PENDAMAIAN SEGALA SESUATU
Dalam Kolose 1:19-20 Paulus melanjutkan, “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Dia, dan melalui Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di surga, sesudah Ia mengadakan pendamaian dengan da-rah salib Kristus.” Kepenuhan Allah berkenan tinggal di da-lam Kristus dan mendamaikan segala sesuatu kepada diri-Nya. Di mana saja dalam Perjanjian Baru kita nampak bahwa pendamaian mencakup umat pilihan Allah, tetapi di sini kita nampak pendamaian segala sesuatu dengan Allah. Segala sesuatu diciptakan di dalam Kristus, oleh Kristus, dan untuk Kristus. Tetapi karena kejatuhan manusia, se-gala sesuatu itu telah hilang atau tersesat. Sebab itu, se-gala sesuatu itu perlu didamaikan dengan Allah di dalam Kristus. Melalui penebusan Kristus, pendamaian segala se-suatu itu telah terjadi.
Perhatikan ayat 20 tidak mengatakan “segala manu-sia”, tetapi “segala sesuatu”, mengacu kepada segala sesua-tu, yang menurut ayat 16-17 diciptakan di dalam Kristus dan kini berkelangsungan di dalam Dia. Melalui penebusan Kristus, semua hal ini telah didamaikan dengan Allah. Hal-hal ini tidak saja mencakup umat manusia, juga semua makhluk ciptaan.
Ketika Kitab Kolose ditulis, konsepsi Gnostik yang menganggap hakikat setiap benda itu jahat sangat berpe-ngaruh di Kolose. Menurut konsepsi ini, setiap hal yang ber-kaitan dengan dunia materi semuanya jahat. Tetapi Paulus menunjukkan bahwa benda-benda yang dianggap jahat oleh penganut Gnostik adalah bagian dari yang diciptakan di da-lam Kristus. Selain itu, benda-benda itu termasuk dalam hal-hal yang telah didamaikan dengan Allah melalui kema-tian Kristus. Segala sesuatu telah didamaikan dengan Allah, “baik yang ada di bumi, maupun yang ada di surga”. Betapa luasnya Kristus sebagai Penebus, dan alangkah luasnya pendamaian yang telah Ia genapkan!
Dalam membicarakan pendamaian di sini, maksud Paulus ialah menekankan fakta bahwa Kristus bukan saja Penebus umat manusia, tetapi juga Penebus segala sesuatu. Renungkan gambaran bahtera yang dibuat oleh Nuh. Bah-tera bukan hanya menyelamatkan kedelapan anggota ke-luarga Nuh, tetapi juga menyelamatkan setiap jenis bina-tang. Dalam Kisah Para Rasul 10 konsepsi Petrus terhadap keselamatan Allah sangat sempit, sebab ia dipengaruhi oleh agama Yahudi. Demikian pula, konsepsi kita terhadap usa-ha pendamaian Kristus telah dibatasi oleh pengaruh ajaran-ajaran tradisional. Ketika saya masih muda, saya mengeta-hui bahwa Kristus adalah Penebus kita. Tetapi pada suatu hari saya dibingungkan oleh ayat-ayat dalam Kitab Kolose yang mengatakan tentang pendamaian segala sesuatu ini. Saya bertanya kepada diri sendiri, apakah ini mencakup semua makhluk. Ya, pendamaian Kristus yang luas menca-kup segala benda ciptaan.
POROS ALAM SEMESTA
Dalam Kolose 1:17 Paulus mengatakan bahwa segala sesuatu ada atau hidup di dalam Kristus. Para ilmuwan mengakui fakta adanya sejenis kekuatan dalam alam se-mesta yang menopang segala sesuatu. Fakta ilmiah ini co-cok dengan konsepsi Paulus tentang berkelangsungan sega-la sesuatu di dalam Kristus. Kristus merupakan inti yang menopang segala sesuatu sekaligus, seperti poros yang menopang semua jari-jari. Segala sesuatu dalam alam semesta, yang hidup maupun tidak hidup, semua berkelangsungan di dalam Kristus yang adalah poros. Jika kita tidak mempunyai Kristus sebagai pusat penopang, segala sesuatu dalam alam semesta akan runtuh. Kelihatannya kita eksis di atas bola dunia, bumi, padahal kita eksis di dalam Kristus. Segala sesuatu ada di dalam Dia. Ini adalah aspek lebih lanjut dari keluasan Kristus.
SANG ALWASI ADALAH HAYAT KITA
DAN ADALAH SEMUA DAN DI DALAM
SEGALA SESUATU DALAM GEREJA
Aspek lainnya terdapat dalam Kolose 2:16-17, di mana Paulus mengatakan bahwa makanan, minuman, hari raya, bulan baru, dan hari Sabat adalah “bayangan dari apa yang harus datang, sedangkan wujudnya ialah Kristus.” Perka-taan Paulus menunjukkan bahwa Kristus adalah realitas segala hal yang positif. Dialah makanan, minuman, pakai-an, tempat tinggal, kendaraan, matahari, bulan, dan bumi kita yang sejati. Karenanya, perkataan Paulus yang seder-hana dalam ayat ini menyiratkan suatu yang luar biasa, menyiratkan alwasi (memenuhi segala sesuatu, luas tak terbatas) Kristus yang almuhit.
Kemudian, dalam Kolose 3:4 Paulus berkata lebih lanjut bahwa Kristus yang alwasi (memenuhi segala sesuatu, luas tak terbatas) adalah hayat kita. Walaupun kealwasian Kristus bersifat alam semesta, tetapi Ia menjadi hayat kita secara spesifik dan khusus. Puji Tuhan, Kristus yang alwasi ini telah menjadi hayat pribadi kita! Secara alam semesta, Ia adalah Sang alwasi, tetapi dalam pengalaman pribadi kita, Ia adalah hayat kita.
Tidak hanya demikian, dalam Kolose 3:10-11 kita nampak bahwa dalam gereja, yaitu manusia baru sebagai ciptaan baru Allah, Kristus yang alwasi adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Dia adalah seluruh anggota manusia baru, dan berada di dalam seluruh anggota. Berdasarkan Kolose 3:11, kita dapat mengatakan bahwa Kristus adalah kita semua. Alangkah alwasi dan almuhitnya Kristus yang diwahyukan dalam Kitab Kolose!
SANG ALWASI BERLAWANAN
DENGAN KEBUDAYAAN
Dalam berbagai kitab dalam Perjanjian Baru, Kristus diwahyukan untuk maksud-maksud tertentu. Dalam 1 Korintus, wahyu tentang Kristus ditujukan untuk menanggu-langi masalah-masalah dalam gereja, termasuk masalah perzinaan dan perpecahan. Dalam Galatia, Kristus diwahyu-kan berlawanan dengan agama Yahudi dan hukum Taurat. Karena orang-orang Galatia telah diselewengkan kepada hu-kum Taurat dan sunat, Paulus menunjukkan kepada mere-ka bahwa Kristus menggantikan hukum Taurat, Putra Allah berlawanan dengan agama manusia. Sekarang, dalam Kolose, Kristus diwahyukan sebagai persona yang luas dan almu-hit, karena kaum saleh telah tertawan oleh kebudayaan campuran dari agama Yahudi dan filsafat Yunani. Kerancu-an itu telah merajalela di Asia Kecil dan telah menyerbu hidup gereja dan merembesinya. Karena itu, wahyu tentang Kristus yang almuhit dan alwasi ini diberikan guna menanggulangi masalah kebudayaan.
Kolose 3:11, 1 Korintus 12:13, dan Galatia 3:28 adalah ayat yang paralel. Tetapi Kolose 3:11 khusus mengatakan bersunat, tidak bersunat, Barbar, dan Skit. Istilah bersunat dan tidak bersunat berkaitan dengan agama, sedang istilah Barbar dan Skit berkaitan dengan kebudayaan. Pada zaman kuno, orang-orang yang tidak berkebudayaan dianggap seba-gai Barbar. Skit adalah orang-orang Barbar yang paling buas. Kolose 3:11 menunjukkan bahwa tujuan wahyu yang luas tentang Kristus dalam kitab ini bukan untuk menang-gulangi dosa atau hukum Taurat, tetapi kebudayaan.
KEBUDAYAAN MENGGANTIKAN
KRISTUS YANG ALWASI
Kehendak Allah ialah agar kita sebagai umat pilihan Allah dijenuhi, diresapi, dipenuhi, dan disalut dengan Kristus supaya kita dapat memperhidupkan Kristus. Allah meng-hendaki Kristus menjadi hayat dan kehidupan kita, dan menjadi segala sesuatu kita dalam perilaku kita sehari-hari. Inilah rencana kekal Allah dan ekonomi-Nya pada masa kini. Tetapi, kebudayaan telah menggantikan Kristus. Sewaktu menciptakan manusia, Allah ingin menjadi segala sesuatu bagi manusia: hayat, sukacita, hiburan, persediaan, dan perlindungan manusia. Tetapi karena kejatuhan manusia kehilangan Allah, dan karenanya kehilangan faktor yang memberi makna dan tujuan bagi hidupnya. Sebab itu, hari ini manusia hidup di bumi tanpa menyadari makna dan tujuannya. Mereka telah kehilangan Allah sebagai faktor yang memberi makna dan tujuan bagi hidupnya. Setelah kehilangan Allah, manusia beralih kepada kebudayaan se-bagai pengganti Allah dalam kehidupannya. Setiap aspek dari kebudayaan manusia adalah pengganti Allah. Tentu saja, pada hakikatnya kebudayaan benar-benar adalah peng-ganti Kristus. Menurut ketetapan Allah, tanpa Kristus, ma-nusia tidak dapat benar-benar hidup. Tanpa Kristus, eksis-tensi kita di bumi tidak bermakna dan tidak bertujuan. Hari ini jutaan manusia tidak hidup oleh Kristus, tetapi oleh kebudayaan. Jika mereka dicabut dari kebudayaan me-reka, mereka tidak akan bisa hidup.
Dalam penyelamatan-Nya, Allah tidak hanya menyela-matkan kita dari dosa, hukuman, telaga api, dunia, dan diri; tetapi juga dari segala sesuatu yang menggantikan Kristus, termasuk kebudayaan kita. Karena kebudayaan mengganti-kan Kristus secara riil dalam kehidupan sehari-hari kita, kebudayaan sangat jahat dalam pandangan Allah.
KRISTUS YANG ALWASI
MENGGANTIKAN KEBUDAYAAN
Kristus macam apakah yang dapat menggantikan ke-budayaan kita? Kristus yang menggantikan kebudayaan ki-ta adalah Kristus yang alwasi, bukan Kristus yang terbatas yang dikenal oleh kebanyakan orang Kristen. Semua orang Kristen sejati mempercayai Kristus sebagai Allah yang ber-inkarnasi menjadi manusia, yang mati di atas salib bagi do-sa-dosa kita, yang telah bangkit, yang telah naik ke surga, sekarang Ia duduk sebagai Tuhan segala tuan dan Raja se-gala raja, yang akan kembali lagi ke bumi membangun ke-rajaan-Nya dan meraja bersama dengan kaum beriman. Walaupun semuanya itu benar, tetapi itu adalah pandangan yang sempit dan terbatas atas diri Kristus. Dalam peng-alaman kita, Kristus yang sesempit itu tidak dapat benar-benar menggantikan kebudayaan kita. Dapatkah Kristus yang sedemikian menjadi makanan, pakaian, dan tempat tinggal kita? Kristus yang dapat menggantikan kebudayaan kita dan menjadi segala sesuatu kita adalah Kristus yang almuhit dan alwasi.
Walaupun kita telah kehilangan Allah, namun Kristus telah membawa kita kembali dan mendamaikan kita dengan diri-Nya. Sekarang kita sekali lagi memiliki Allah sebagai faktor yang memberi makna dan tujuan kepada eksistensi kita. Seperti telah kita tunjukkan berkali-kali, Kitab Kolose ditulis untuk mewahyukan Kristus yang alwasi dan almu-hit yang menanggulangi kebudayaan kita, bahkan meng-gantikan kebudayaan kita. Kita tidak perlu memelihara per-aturan-peraturan tentang makanan — kita makan Kristus. Kita tidak perlu memelihara hari-hari tertentu, hari-hari raya, atau bulan-bulan baru — Kristus adalah bulan baru, hari raya, dan hari Sabat kita. Karena Kristus selamanya sama dan Dia adalah realitas setiap hari dalam satu minggu bagi kita, setiap hari adalah sama. Tetapi jika kita mem-pertahankan peraturan-peraturan tentang makanan dan hari-hari, orang lain akan menghakimi kita dalam hal-hal tersebut. Jika kita hanya memperhatikan Kristus yang al-muhit dan hidup menurut Dia saja, bukan menurut kebuda-yaan, tidak seorang pun akan memiliki dasar untuk meng-hakimi kita. Kristus adalah makna dan tujuan hidup kita. Kita semua perlu nampak wahyu yang alwasi dari Kristus yang almuhit sedemikian.
Akhir-akhir ini, setelah mendengar sebuah berita ten-tang bagaimana kebudayaan menggantikan Kristus dalam pengalaman kita, seorang saudara bersaksi dengan kuat bahwa ia ingin membuang segala kebudayaannya. Tetapi, kita tidak mungkin melakukan hal itu. Jika kita mencoba melakukannya, kita hanya akan mengembangkan kebuda-yaan jenis lain, yaitu kebudayaan yang membuang kebuda-yaan. Tetapi, jika seseorang mengatakan bahwa tidak perlu membuang kebudayaan, konsepsi ini akan menciptakan ke-budayaan jenis lain lagi. Kita tidak usah mencoba menang-gulangi kebudayaan kita, kita hanya perlu memperhidup-kan Kristus.
Sebagaimana kebudayaan telah menjadi pengganti Allah, demikian pula Kristus dapat menjadi pengganti kebudaya-an. Kita telah nampak bahwa setelah manusia kehilangan Allah karena kejatuhan, kebudayaan manusia mengganti-kan Allah dalam kehidupannya. Penebusan Kristus tidak saja menebus kita dari sekian banyak hal negatif, tetapi juga menebus kita dari kebudayaan. Jangan mencoba mem-bebaskan diri dari kebudayaan, berdamai saja dengan Kristus dan terimalah Dia sebagai faktor yang memberikan makna dan tujuan bagi kehidupan kita. Kita harus berdoa, “Tuhan Yesus, mulai sekarang dan seterusnya, aku tidak akan me-nerima yang lain selain Dikau sebagai sasaran dan tujuan-ku. Tuhan, Engkau sajalah standar dan faktor yang mem-beriku makna dan tujuan keberadaanku. Aku tidak mau memperhidupkan apa pun selain diri-Mu sendiri. Aku mau memperhidupkan Engkau dan Engkau semata.” Ketika kita memperhidupkan Kristus, kita akan dengan spontan dile-paskan dari kebudayaan, dan Kristus yang oleh-Nya kita hidup akan dengan otomatis menggantikan kebudayaan. Itulah wahyu yang terdapat dalam Kitab Kolose.
Kita harus mengakui bahwa bahkan kita yang berada dalam pemulihan Tuhan, yang sangat mengasihi Tuhan, dan menuntut Tuhan, sebenarnya lebih banyak hidup oleh kebudayaan daripada hidup oleh Kristus. Sebagai contoh, be-berapa saudari mungkin tidak lagi berdandan bukan karena mereka memperhidupkan Kristus, tetapi karena mereka menyesuaikan diri dengan praktek yang umum terdapat dalam hidup gereja. Mungkin ada yang menyatakan mereka tidak berdandan karena mereka mengasihi Kristus dan ge-reja. Itu mungkin benar. Tetapi, mengasihi Tuhan Yesus adalah satu hal, dan memperhidupkan Kristus adalah hal lain. Kita mungkin melakukan banyak hal karena kita me-ngasihi Tuhan, tetapi dalam hal-hal itu kita mungkin tidak benar-benar memperhidupkan Dia.
Dalam hidup gereja ada kemungkinan kita hidup oleh kebiasaan atau adat istiadat, dengan perkataan lain, oleh suatu kebudayaan tertentu yang berkembang di dalam ge-reja, bukan oleh Kristus. Sebagai contoh, seorang saudara boleh jadi merasa bahwa ia tidak boleh pergi ke bioskop. Te-tapi, yang mencegahnya pergi ke bioskop bukan karena ia memperhidupkan Kristus; melainkan karena ia hidup me-nurut suatu praktek yang umum dalam hidup gereja. Kita perlu mempunyai keyakinan bahwa alasan kita untuk tidak melakukan sesuatu ialah karena kita memperhidupkan Kristus. Kita tidak perlu membuat peraturan tidak boleh ke bioskop. Kita hanya perlu memiliki pengalaman memperhi-dupkan Kristus dalam gereja. Jika kita benar-benar mem-perhidupkan Kristus di dalam gereja, ketika kita menahan diri dari melakukan hal tertentu, itu bukan karena kita menganggap hal itu salah, melainkan karena kita memper-hidupkan Kristus. Keperluan kita hari ini bukan hanya mengasihi Dia, tetapi juga memperhidupkan Dia.
Adalah hal yang biasa jika seorang suami bertengkar dengan istrinya. Ketika istri seorang saudara menyatakan konsepsi yang berbeda dengannya, saudara itu mungkin se-gera berdebat dan tidak mau mengalah. Pada tahun-tahun pertama kehidupan pernikahan saya, sikap saya adalah tidak pernah mau mengalah ketika istri saya menyatakan satu konsepsi yang berbeda dengan konsepsi saya. Yang saya lakukan ialah mempertahankan posisi saya sebagai kepala dan mengharap istri saya tunduk. Walau hal itu tidak saya ucapkan di luar, tetapi itulah sikap dan tindakan saya.
Kemudian saya tahu, sebagai seorang pemimpin dalam gereja dan pelayan firman, tidaklah benar bila saya ber-debat dengan istri saya. Sebab itu, saya mencoba menekan amarah saya dan tidak berdebat. Karena saya mengasihi Tuhan, saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak bercekcok dengan istri saya. Namun, saya tidak hidup oleh Kristus, sebaliknya saya mengerahkan kekuatan diri saya.
HANYA MEMPERHIDUPKAN KRISTUS
Hari ini saya dapat bersaksi bahwa oleh anugerah Tuhan, saya tidak lagi mencoba mengekang diri sendiri. Saya hanya memperhidupkan Kristus. Seperti kata Paulus, “Bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Kristus adalah kebudayaan saya, sasaran saya, makna dan tujuan hidup saya sebagai manusia. Dalam hidup saya sehari-hari semua tempat adalah untuk Kristus. Karena alasan ini, tidak ada tempat bagi dosa, dunia, daging, atau diri. Karena seluruh diri saya untuk Kristus, maka tidak ada tempat bagi ke-budayaan. Saya hanya memperhidupkan Kristus, bukan Kristus yang terbatas, melainkan Kristus yang alwasi, yaitu Dia yang memenuhi segala sesuatu dan di dalam segala se-suatu.
Kristus turun dari surga ke bumi dan kemudian dalam jarak waktu antara kematian dan kebangkitan-Nya, Ia tu-run ke dalam alam maut. Dalam kebangkitan Ia naik dari alam maut ke bumi, dan kemudian, dalam kenaikan-Nya, dari bumi ke surga. Sebagai hasil dari perjalanan universal yang demikian, Kristus memenuhi segala sesuatu. Karena itu, Dia adalah Sang alwasi. Sebagai Sang alwasi, Ia ada-lah hayat kita, dan kita boleh memperhidupkan Dia. Dalam Kitab Kolose Paulus menampilkan Kristus yang alwasi ini guna memberi kesan kepada kita dengan fakta bahwa Kristus ini harus menggantikan kebudayaan kita. Janganlah men-coba membuang kebudayaan Anda. Semua daya upaya Anda dalam berbuat demikian akan sia-sia belaka. Perhidupkan saja Kristus, dan Kristus akan menggantikan kebudayaan Anda dengan diri-Nya sendiri.
Jangan memustikakan ajaran macam mana pun, sebab segala ajaran bersangkut-paut dengan kebudayaan. Jangan hidup menurut suatu ajaran, tetapi perhidupkan saja Kristus, satu persona yang hidup, yang menjadi bagian dari orang-orang kudus, yang adalah gambar Allah yang tidak keli-hatan, yang sulung dari ciptaan lama dan ciptaan baru, yang di dalam-Nya dan untuk-Nya segala sesuatu dicipta-kan, dan yang menjadi hayat kita dalam manusia baru. Kristus yang alwasi inilah yang menjadi pengganti kebudayaan kita.
Dalam Kitab Kolose, perhatian Paulus terutama bukan pada dosa, dunia, bahkan diri. Perhatiannya tertuju pada kebudayaan, yang menjadi faktor yang menggantikan Allah untuk memberi makna dan tujuan kepada kehidupan. Seka-rang karena Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya sendiri, kita harus memperhidupkan Dia dan membiar-kan Dia menggantikan setiap aspek kebudayaan kita. Sebab itu, dalam Kitab Kolose kita nampak wahyu tentang Kristus yang alwasi. Kita perlu menerima Kristus ini sebagai mak-na, tujuan, dan sasaran hidup kita; kita perlu hidup ber-dasarkan Dia.