PERKATAAN KRISTUS DIAM DI DALAM KITA
Pembacaan Alkitab: Kol. 3:15-18; Ibr. 1:1-2a; Why. 2:1, 7a
KEESAAN ADALAH SYARAT YANG
DIHARUSKAN BAGI PERKATAAN ALLAH
Kolose 3:16 mengatakan, “Hendaklah perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” Setelah Paulus mengatakan tentang da-mai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam kita, ia segera menyuruh kita untuk membiarkan perkataan Kristus diam di dalam kita. Mengapa Paulus lebih dulu menyebut damai sejahtera Kristus, kemudian baru menyebut perkataan Kristus? Jawaban dari pertanyaan ini berkaitan dengan prin-sip dasar yang diwahyukan dalam Alkitab, yakni perkataan Allah menuntut adanya keesaan. Bila umat Allah berpecah-belah, perkataan Allah akan menjadi langka. Allah tidak berkata-kata di tempat yang terpecah-belah. Perpecahan mengakibatkan perkataan Allah berkurang, bahkan berhenti sama sekali.
Ketika bani Israel di padang gurun, Allah berbicara di dalam Kemah Pertemuan. Kemah Pertemuan merupakan satu tanda dari keesaan umat Allah. Kedua belas suku ber-kemah di sekitar Kemah Pertemuan, dan Allah berbicara dengan mereka dari dalamnya. Pada waktu itu orang-orang Israel yang ingin mendengar perkataan Allah harus datang ke Kemah Pertemuan, yakni tempat keesaan.
Bait yang dibangun di Yerusalem adalah kelanjutan dari Kemah Pertemuan. Ketika umat Allah pecah menjadi kerajaan utara dan selatan, perkataan Allah hanya terdapat di selatan, sebab di sanalah tempat Bait dibangun. Karena di utara tidak ada Bait, Allah tidak berbicara melalui para imam di sana. Perkataan Allah yang disampaikan para imam berasal dari tempat maha kudus, yakni inti tabernakel dan Bait Suci.
ALLAH BERBICARA DALAM ANAK
DAN MELALUI TUBUH
Kitab Ibrani diawali dengan perkataan-perkataan: “Allah berulang kali dan dengan berbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi, maka pada zaman akhir ini Ia berbicara kepada kita dengan pe-rantaraan Anak-Nya” (Ibr. 1:1-2a). Sebagai Anak Allah, Tuhan Yesus tidak saja membicarakan perkataan Allah, te-tapi Dia sendiri bahkan disebut firman (Yoh. 1:1, 14; Why. 19:13). Allah berbicara di dalam Anak-Nya dan tidak hanya melalui Anak-Nya. Di mana ada Anak, di situ juga ada fir-man. Tidak hanya demikian, ketika Anak berbicara, Allah pun berbicara di dalam pembicaraan Anak. Anak datang untuk mengekspresikan Allah, mendefinisikan Allah, dan menuturkan Allah. Dalam apa adanya dan persona-Nya itulah, Sang Anak adalah firman Allah.
Niat jahat para agamawan Yahudi ialah mengakhiri Anak Allah, Yesus orang Nazaret, melalui menyalibkan Dia. Tetapi setelah disalibkan, Dia masuk ke dalam alam kebang-kitan, dan di sana Dia menjadi Kepala Tubuh. Sebelum di-salibkan dan bangkit, Tuhan Yesus terbatasi oleh daging; tidak mungkin maha hadir (ada di mana-mana). Tetapi me-lalui kematian dan kebangkitan, Ia telah diperluas dari se-orang manusia yang individual menjadi seorang manusia yang korporat. Pada hari Pentakosta, Kristus telah turun sebagai Roh almuhit ke atas murid-murid-Nya untuk men-jadikan mereka anggota Tubuh-Nya. Tubuh ini adalah ma-nusia yang korporat, mencakup Kristus yang telah bangkit sebagai Kepala dan jutaan orang beriman dalam Kristus se-bagai anggota-anggota Tubuh-Nya. Sekarang, seperti sege-nap tubuh saya berbicara ketika saya berbicara, begitu pula Tubuh Kristus berbicara ketika Kristus berbicara sebagai Kepala. Hari ini Anak Allah tidak lagi bersifat individual, Ia sekarang menjadi seorang yang korporat, manusia uni-versal. Inilah sebabnya, semua anggota Tubuh dapat menu-turkan perkataan Allah. Bahkan orang-orang muda pun da-pat menuturkan perkataan Allah kepada orang tua atau teman-teman sekolah mereka.
Kita semua telah diselamatkan melalui mendengar perkataan Allah. Ketika saya diselamatkan di China lebih dari lima puluh tahun yang lalu, Allah sendiri tidak lang-sung berbicara kepada saya, tetapi saya mendengar perka-taan Allah melalui salah satu anggota Tubuh-Nya. Ini me-rupakan satu contoh dari fakta bahwa Allah hari ini masih berbicara terus-menerus dalam Anak-Nya yang telah diper-besar menjadi satu manusia yang korporat, yakni Tubuh Kristus. Betapa ajaibnya kita semua adalah bagian dari per-luasan Kristus, bagian dari manusia universal yang Kepa-lanya adalah Kristus, dan anggota-anggotanya adalah kita!
Jika kita benar-benar bersatu dengan anggota-anggota Tubuh Kristus lainnya, kita akan dapat menuturkan perka-taan Allah. Tetapi, jika kita tidak bersatu dengan kaum saleh, melainkan penuh dengan keluhan, gerutuan, atau go-sip, tidak mungkin kita dapat menuturkan perkataan Tuhan. Menuturkan perkataan Allah memerlukan keesaan. Di ma-na tidak ada keesaan, di situ tidak ada perkataan. Jika kita membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam kita untuk memelihara keesaan dan keselarasan, kita akan dapat menuturkan perkataan Allah.
Kristus telah mati di atas salib untuk mengadakan da-mai sejahtera melalui menggenapkan penebusan dan mem-perdamaikan kita dengan Allah. Damai sejahtera ini verti-kal, yakni damai sejahtera antara kita dengan Allah. Kristus mati juga untuk mengadakan damai sejahtera horisontal, yakni damai sejahtera antara kita dengan orang lain. Un-tuk hal ini Kristus menghapus semua ketentuan, yaitu ber-bagai cara penyembahan dan cara hidup. Melalui mengha-pus ketentuan-ketentuan, Kristus telah mengadakan damai sejahtera secara horisontal di antara berbagai manusia. Dengan berbuat demikian, Ia telah meniadakan dampak Babel. Di Babel umat manusia telah dikacau-balaukan, di-pisah-pisahkan, dan dicerai-beraikan. Di sana manusia kor-porat ciptaan Allah telah dipecah-belah. Tetapi oleh kematian-Nya di atas salib, Kristus telah menciptakan perdamaian yang vertikal dan horisontal. Karena itu, pada hari Penta-kosta, Kristus dapat turun ke atas kaum beriman sebagai Roh pemersatu dan mendatangkan gereja secara riil. Pada hari Pentakosta orang-orang yang berkata-kata dengan ber-bagai bahasa telah menjadi esa.
Meskipun Kristus telah meniadakan perpecahan untuk menghasilkan keesaan, tetapi kekristenan hari ini telah merusak keesaan dan menghasilkan perpecahan. Karena itu-lah, dalam kekristenan yang telah terpecah-belah tidak ada perkataan Allah. Banyak yang duduk dalam kapel, katedral, dan gedung-gedung kebaktian bukan mendengar perkataan Allah, tetapi mendengar seseorang membicarakan kehidupan sosial atau politik. Itu pasti bukan perkataan Allah di da-lam Putra melalui Tubuh. Kelangkaan perkataan Allah ini disebabkan kelangkaan perdamaian dan keesaan. Karena ti-dak ada keesaan, tidak ada inti, tidak ada tempat suci bagi perkataan Allah.
TIDAK KEKURANGAN PERKATAAN ALLAH
Kita bersyukur kepada Tuhan karena situasi dalam pe-mulihan-Nya sama sekali berbeda. Kita memiliki perkataan Tuhan yang berlimpah-limpah. Renungkanlah, berapa ba-nyak perkataan Allah yang telah disampaikan di antara kita dalam pemulihan selama bertahun-tahun yang telah silam. Sebab-musabab adanya begitu banyak perkataan Allah da-lam pemulihan ialah karena di sini ada keesaan yang sejati. Kita mengalami keesaan ini dan keselarasan dalam Roh itu tidak saja pada waktu gereja-gereja berkumpul bersama da-lam suatu sidang istemewa, tetapi juga dalam persidangan berbagai gereja lokal. Dalam tiap sidang kita menerima perkataan Allah, dan kita dibina, dipelihara, dan diterangi. Bila damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam kita dan memelihara kita dalam situasi yang penuh keesaan dan harmonis, kita menjadi tempat Allah berbicara, yakni men-jadi tempat suci-Nya. Dalam lubuk roh saya tahu bahwa si-dang adalah suatu tempat suci, tempat Allah dapat masuk untuk berbicara.
Sekarang kita nampak kaitan antara 3:15 dan 16. Damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam kita untuk memelihara kita dalam satu kondisi yang tepat untuk menerima perkataan Allah. Damai sejahtera Kristus yang menjadi juri adalah untuk tempat suci Allah, yakni tempat Dia berbicara.
Untuk memiliki perilaku orang Kristen yang tepat kita perlu memikirkan hal-hal yang di atas. Bila kita berbuat demikian, berarti kita “membuka saklar” kepada transmisi surgawi, arus “listrik” ilahi yang mengalir dari takhta di surga ke dalam kita di bumi. Transmisi ini menyebabkan pembaruan manusia baru, karena transmisi ini membawa-kan unsur baru, substansi ilahi, ke dalam diri kita. Setelah pembaruan, kita mempunyai damai sejahtera Kristus yang menjadi juri. Unsur Kristus yang ditransmisikan ke dalam kita menjadi esens damai sejahtera yang memerintah di ba-tin kita. Damai sejahtera yang menjadi juri ini tidak sekadar memecahkan problem kita, juga meniadakan problem tersebut. Damai sejahtera ini memungkinkan kita terpelihara dalam keesaan dan terjaga dalam kondisi yang serasi. Da-mai sejahtera ini juga membuka jalan bagi perkataan Allah untuk masuk dengan suplai yang berlimpah-limpah. Karena kita mempunyai damai sejahtera yang menjadi juri, maka pemulihan Tuhan tidak kekurangan perkataan Allah.
FUNGSI PERKATAAN ALLAH
Menerangi
Sekarang kita harus melanjutkan untuk membahas ba-gaimana perkataan Allah ini berfungsi di batin kita. Perta-ma-tama, perkataan Allah menerangi kita. Jika kita tidak mempunyai firman, kita akan berada dalam kegelapan. Te-tapi karena perkataan Allah penuh dengan terang dan me-nerangi kita, maka kita dapat menjadi sangat jelas tentang berbagai hal.
Memelihara
Kedua, perkataan Allah ialah makanan, penuh dengan gizi. Ini berarti perkataan Allah memelihara kita sementara ia menerangi kita. Saya dapat bersaksi, sepanjang tahun-tahun ini saya telah dipelihara sepenuhnya melalui perka-taan Allah. Perkataan Allah benar-benar sebagai makanan saya dalam pengalaman saya.
Meleraikan Haus
Perkataan Allah juga meleraikan haus kita. Haus lebih gawat daripada kelaparan. Biasanya seorang yang tanpa makan lebih tahan lama hidupnya daripada orang yang tan-pa minum. Jika tidak ada air, kita sama sekali tidak dapat hidup. Alangkah indahnya, perkataan Allah bukan hanya makanan, tetapi juga air hidup! Perkataan Allah menerangi kita, memelihara kita, dan meleraikan haus kita.
Menguatkan
Aspek lain dari fungsi perkataan Allah di batin kita ialah menguatkan. Perkataan Allah menguatkan kita. Orang Kristen lemah karena mereka haus dan kurang gizi. Tidak ada orang yang lapar dan haus bisa kuat.
Jika kita dipelihara dan diperkuat oleh perkataan Allah, kita akan menjadi kuat tidak saja di dalam roh, juga di da-lam jiwa. Dengan kata lain, kita akan kuat secara jiwani dan rohani. Tidak hanya demikian, perkataan Allah bahkan akan memperkuat kita secara jasmani. Saya dapat bersaksi bahwa tubuh saya sangat sehat tidak saja karena saya me-makan makanan jasmani yang tepat, tetapi juga karena saya memakan perkataan Allah sebagai santapan rohani saya. Perkataan Allah dalam roh saya membuat roh saya kuat dan gembira. Kekuatan dan kegembiraan ini membantu saya menjadi sehat secara jasmani. Bila kita bergembira dalam roh dan jiwa, kita pun akan sehat dalam tubuh, ini adalah satu fakta.
Perkataan Allah menguatkan roh dan jiwa kita. Dengan dikuatkan dalam roh dan jiwa, tubuh kita pun akan sehat. Perkataan Allah merupakan obat yang terbaik, yang menguatkan kita dan menyehatkan kita.
Membasuh
Perkataan Allah juga membasuh kita, membasuh diri kita secara organik dan metabolis. Ketika perkataan Allah masuk ke dalam keseluruhan diri kita secara organik, kita akan terbasuh secara metabolis.
Membangun
Selain itu, perkataan Allah juga membangun kita. Se-bagai anggota gereja, Tubuh, kita semua perlu dibangun. Karena kita sangat “antik”, maka orang lain sangat sulit menanggulangi kita, lebih-lebih dibangun bersama. Tetapi, perkataan Allah dapat menjamah kita di dalam batin, dan memungkinkan kita untuk dibangun dalam gereja. Karena kita sangat “antik” dalam diri sendiri, maka kita tidak da-pat dibangun secara demikian kecuali perkataan Kristus diam di dalam kita. Walaupun damai sejahtera Kristus menjadi juri di batin kita, tetapi bukan damai itu yang membangun kita. Damai sejahtera memelihara kita dalam situasi yang wajar agar usaha pembangunan itu terlaksana oleh perka-taan Allah. Karena yang membangun kita adalah perkataan Allah, maka saya mengemban beban yang berat sekali un-tuk menyampaikan firman Allah. Semakin banyak perkata-an Allah disampaikan di antara kita, pembangunan akan semakin banyak.
Melengkapkan dan Menyempurnakan
Perkataan Allah juga melengkapkan dan menyempurnakan. Di tempat lain kita telah menunjukkan bahwa seorang bayi telah lengkap organ-organnya, tetapi fungsinya belum sempurna. Agar organ-organ seorang anak berfungsi dengan baik, anak itu perlu bertumbuh. Kesempurnaan se-lalu berasal dari pertumbuhan. Semakin anak itu bertum-buh, fungsinya akan semakin dilengkapkan dan disempurna-kan. Pengalaman rohani juga sama. Selaku anggota Tubuh, kita semua harus berfungsi. Tetapi jika kita ingin berfung-si, pertama-tama kita perlu disempurnakan oleh perkataan Allah. Karena perkataan Allah memelihara kita, kita dapat bertumbuh. Kemudian melalui pertumbuhan, terbitlah fungsi. Makanan dan gizi yang kita terima dari perkataan Allah melengkapkan dan menyempurnakan kita sebagai anggota Tubuh. Karena itulah kita mengatakan bahwa perkataan Allah menyempurnakan kita.
Membina
Fungsi terakhir dari perkataan Allah yang akan kita bahas dalam berita ini ialah untuk membina kita. Dibangun berbeda dengan dibina. Dibangun berkaitan dengan gereja secara korporat, sedang dibina berarti dibangun secara in-dividual, terutama dalam hal kebajikan. Kita semua perlu dibina atau dibangun secara pribadi, sebab kita semua ke-kurangan sejumlah kebajikan tertentu. Sebagai contoh, kita mungkin kekurangan kebajikan seperti kesabaran, kebijak-sanaan, kerendahan hati, atau keramahan. Perkataan Allah benar-benar dapat membina kita dalam hal kebajikan. Se-makin banyak perkataan Allah yang kita miliki, kita akan memiliki lebih banyak kebajikan. Keramahan, kesabaran, kebijaksanaan, dan kerendahan hati kita semuanya akan bertambah karena perkataan Allah.
Kita semua perlu terbina dalam berbagai kebajikan me-lalui perkataan Allah. Ada orang di antara kita yang memi-liki ciri-ciri cepat dan ada pula yang lamban. Dalam situasi tertentu kecepatan memang merupakan satu kebajikan. Ji-ka sekelompok saudara perlu cepat-cepat untuk menepati waktu suatu pertemuan penting, maka kecepatan adalah ke-bajikan yang baik. Tetapi dalam hal merawat orang yang sakit parah, mungkin kelambanan adalah satu kebajikan. Ki-ta perlu dibina agar kita dapat bertindak cepat atau lambat.
Dalam situasi tertentu kita perlu berbicara dengan be-bas dan berapi-api. Tetapi dalam situasi lain kita harus ter-batas bahkan harus membungkam. Dalam situasi yang te-pat, berbicara dengan berapi-api merupakan satu kebajikan, tetapi dalam situasi lain itu bukan. Demikian pula berdiam diri atau membungkam. Dalam hal-hal sedemikian ini kita semua perlu pembinaan.
Hanya perkataan Allahlah yang dapat membina kita dan memberi keseimbangan, pembedaan, dan keluwesan yang sewajarnya. Kita harus memiliki kecepatan atau kelambat-an yang memadai. Bahkan dalam hal kasih pun harus mema-dai. Ada orang beriman yang mengasihi orang lain menurut pasang surut emosinya. Bila kasihnya sedang mengalami pasang, mereka mengasihi orang lain dengan berlebihan. Tetapi ketika surut, mereka tidak dapat menyatakan kasih kepada siapa pun; mereka ibarat sebuah patung ukiran, sa-ma sekali tidak memiliki perasaan. Pertama-tama kita ha-rus terbina secara pribadi dalam hal kebajikan. Kemudian kita dibangun bersama orang lain dalam hidup gereja.
Kita telah nampak bahwa perkataan Allah menerangi, memelihara, meleraikan haus, menguatkan, membasuh, membangun, menyempurnakan, dan membina. Betapa besarnya keperluan kita akan perkataan Allah!
MEMBIARKAN PERKATAAN KRISTUS
BEROLEH TEMPAT UTAMA
Dalam Kolose 3:16 Paulus menyuruh kita untuk membiarkan perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di dalam kita. Kata Yunani yang diterjemahkan “tinggal” ini berarti berada di dalam rumah, bersemayam, berhuni. Ini menunjukkan bahwa perkataan Kristus harus dapat berumah di dalam kita.
Jika suatu tempat menjadi rumah kita, kita harus ada kebebasan untuk melakukan semua pengaturan yang diper-lukan. Kalau kita ingin menyimpan suatu barang, kita bo-leh berbuat demikian; kalau kita ingin membuang sesuatu, kita pun bebas melakukannya. Jika kita tidak mempunyai kebebasan yang demikian, tidak mungkin kita menjadikan tempat itu rumah kita. Demikian pula, jika perkataan Kristus ingin membuat rumahnya di dalam kita, kita harus mem-beri kebebasan, kemerdekaan, dan hak penuh kepadanya. Kita harus berdoa, “Tuhan, aku persembahkan seluruh diri-ku kepada-Mu dan perkataan-Mu. Aku memberi-Mu jalan ma-suk ke setiap bagian dalam manusia batiniahku. Tuhan, jadikanlah manusia batiniahku satu rumah untuk diri-Mu sendiri dan perkataan-Mu.”
Kita semua harus mengakui bahwa sering kali perkataan Tuhan telah mendatangi kita, tetapi kita tidak memberinya tempat yang cukup luas di batin kita, malahan kita membatasi dan mengekangnya. Adakalanya kita telah menerima perkataan Allah, tetapi kita tidak memberinya kebebasan untuk membuat rumahnya di dalam kita. Saya bertanya kepada Anda, dalam pengalaman Anda siapa yang utama, perkataan Kristus, atau Anda? Saya tidak percaya ada yang dapat mengatakan bahwa tempat utamanya selalu diberikan kepada perkataan Allah. Kadang kala mungkin kita memberikan tempat utama kepada perkataan Kristus dan membiarkannya menjadi yang pertama. Tetapi, kita lebih sering mengutamakan diri sendiri. Dengan diam-diam kita menyimpan tempat yang utama untuk diri sendiri. Di-tinjau dari luar, kita bertindak seolah-olah menyediakan tempat utama bagi perkataan Allah, tetapi dengan diam-diam tempat utama itu kita simpan untuk diri sendiri.
Misalkan, Anda membaca Matius 19:16-22, di mana Tuhan Yesus menyuruh seorang pemuda menjual semua miliknya, memberikannya kepada orang miskin, dan kemu-dian mengikuti Tuhan. Ketika Anda membaca bagian Alki-tab ini, Tuhan mungkin menyuruh Anda meninggalkan hal-hal tertentu. Itu suatu ujian, apakah diri Anda yang utama atau perkataan Allah yang utama. Banyak di antara kita yang melalui pengalaman menyadari betapa sulitnya kita memberi tempat utama kepada perkataan Allah. Untuk ini kita perlu anugerah Tuhan. Kita perlu berpaling kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku tidak dapat melakukan hal ini, tetapi Tuhan, Engkau dapat. Dalam hal ini aku bersan-dar kepada-Mu.”
Kita perlu damai sejahtera Kristus yang menjadi juri untuk memelihara kita dalam keesaan, agar Tuhan dapat berbicara kepada kita. Kemudian kita perlu memberi tempat utama kepada perkataan Allah. Jika kita berbuat demikian, kita akan mengalami fungsi-fungsi dari perkataan Allah: me-nerangi, memelihara, meleraikan haus, menguatkan, mem-perkuat, membasuh, membangun, menyempurnakan, dan membina. Alangkah banyaknya manfaat yang kita peroleh dari perkataan Allah!
DIPENUHI DENGAN SUKACITA
Dalam Kolose 3:16 Paulus mengatakan tentang “meng-ajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menya-nyikan mazmur dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” Ini me-nunjukkan bahwa bila kita dipenuhi dengan perkataan Allah, kita seharusnya dipenuhi pula dengan sukacita. Jika kita menerima perkataan Allah tetapi tidak ada sukacita, itu pasti ada yang tidak beres. Bila kita menerima perkataan Allah, sebetulnya kita menerima Roh itu. Menerima Roh itu seharusnya membuat kita tergugah dan membuat kita ber-sukacita dan bernyanyi.
HASIL MEMBIARKAN PERKATAAN
KRISTUS TINGGAL DI DALAM KITA
Dalam Kolose 3:17-18 Paulus melanjutkan, “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau per-buatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur melalui Dia kepada Allah, Bapa kita. Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagai-mana seharusnya di dalam Tuhan.” Di sini kita nampak hasil dari membiarkan perkataan Kristus tinggal di dalam kita. Jika seorang istri dipenuhi dengan perkataan Allah, dengan spontan ia akan tunduk kepada suaminya. Jika se-orang suami dihuni oleh perkataan Allah, ia pun dengan otomatis dapat mengasihi istrinya. Kebajikan-kebajikan ka-sih dan ketaatan berasal dari perkataan Allah yang tinggal di dalam kita.
Hal-hal yang menyangkut kehidupan orang Kristen yang normal dalam Kolose 3 diatur dalam urutan yang sangat indah. Pertama-tama Paulus menyuruh kita memikirkan hal-hal yang di atas. Bila kita berbuat demikian, kita akan menerima transmisi surgawi dan mengalami pembaruan manusia baru. Kemudian Kristus menjadi damai sejahtera yang menjadi juri di batin kita untuk membereskan prob-lem kita. Lagi pula, firman Allah akan memenuhi kita dan berumah di dalam kita. Dari firman Allah yang berumah ini akan terbit kasih, ketaatan, dan semua kebajikan lain yang diperlukan bagi kehidupan manusia. Inilah jalan atau cara kita berperilaku sebagai orang Kristen.
BERDOA TANPA BERKEPUTUSAN
Dalam berita berikutnya kita akan melanjutkan mem-bahas bahwa situasi yang seindah ini terpelihara oleh doa yang tak berkeputusan. Jika kita ingin mempertahankan kondisi yang indah yang dihasilkan melalui memikirkan hal-hal yang di atas, mengalami transmisi surgawi dan pem-baruan manusia baru, memiliki damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam batin kita, dihuni oleh firman Allah dan karenanya kita memperoleh kebajikan-kebajikan yang diperlukan bagi kehidupan sehari-hari kita, kita perlu berdoa tanpa berkeputusan.