DAMAI SEJAHTERA KRISTUS MENJADI JURI DI DALAM HATI KITA
Pembacaan Alkitab: Kol. 3:12-16; Ef. 2:14-18
Dalam Kolose 3 dan 4 terdapat sejumlah hal yang di-atur dalam suatu urutan yang indah sekali, yang berkaitan dengan kehidupan orang Kristen yang tepat. Kalau kita ingin menempuh kehidupan orang Kristen yang tepat, per-tama-tama kita harus memikirkan hal-hal yang di atas. Seperti telah kita tunjukkan, hal-hal ini berkaitan dengan hal-hal yang sedang dilakukan Kristus di surga. Sebagai Imam Besar, Kristus sedang berdoa syafaat bagi kita. Seba-gai pelayan surgawi, Dia sedang menyalurkan kekayaan hayat ke dalam kita. Sebagai pengelola ilahi, Dia sedang melaksanakan ekonomi Allah. Ministri Kristus di surga adalah untuk membangun Tubuh-Nya. Dia damba memba-ngun gereja agar Dia bisa memperoleh mempelai perem-puan-Nya. Dalam perilaku kristiani kita, kita perlu memi-kirkan hal-hal yang di atas.
“MEMBUKA SAKLAR” TERHADAP TRANSMISI ILAHI DEMI PEMBARUAN MANUSIA BARU
Mengikuti memikirkan hal-hal yang di atas ialah pem-baruan manusia baru. Kelihatannya tidak ada hubungan antara memikirkan hal-hal yang di atas dan pembaruan manusia baru. Tetapi sebenarnya, menurut pengalaman kita kedua hal ini erat sekali kaitannya. Pembaruan manusia baru sepenuhnya tergantung pada kita memikirkan hal-hal yang di atas. Itu disebabkan tercakupnya suatu transmisi rohani. Ketika kita memikirkan hal-hal yang di atas, kita membuka diri kita kepada apa yang sedang terjadi di sur-ga. Kita juga menanggapi dan bereaksi terhadap ministri Kristus di surga. Dengan serentak Roh pemberi-hayat yang almuhit itu mengalir ke dalam kita. Transmisi ini dapat digambarkan seperti listrik. Di satu pihak, listrik berada di pusat pembangkit; di pihak lain, listrik juga berada di ru-mah kita. Di antara kedua ujung ini — pusat pembangkit dan rumah kita, terjadi suatu transmisi. Transmisi ini di-sebut aliran arus listrik. Arus listrik sebenarnya adalah listrik itu sendiri yang sedang bergerak. Seprinsip dengan itu, di antara Kristus di surga dan kita di bumi terdapat suatu transmisi ilahi, aliran Roh pemberi-hayat. Melalui transmisi ini, surga dan bumi dipertemukan. Mereka yang berpengalaman memahami bahwa ini bukan suatu impian atau ketakhyulan agama, melainkan satu realitas ilahi, surgawi, dan rohani. Listrik surgawi ini sedang mengalir dan menghubungkan surga dengan bumi.
Roh pemberi-hayat almuhit adalah hasil penebusan Kristus. Galatia 3:14 menunjukkan bahwa Kristus telah menebus kita sehingga kita bisa menerima Roh itu. Kristus menggenapkan penebusan tidak hanya untuk menyelamat-kan kita dari dosa, terlebih lagi untuk menyalurkan diri-Nya ke dalam kita sebagai Roh pemberi-hayat. Puji Tuhan, di alam semesta terdapat suatu “listrik” yang ajaib, surga-wi, dan ilahi, yaitu Roh pemberi-hayat! Ketika kita mem-buka diri kita dan memikirkan hal-hal yang di atas, Roh ini akan mentransmisikan kekayaan hayat ilahi ke dalam kita. Satu hal yang perlu kita lakukan adalah “membuka saklar”, dan arus surgawi akan mengalir. Cara untuk “mem-buka saklar” ialah memikirkan hal-hal yang di atas. Hal ini menyebabkan transmisi surgawi berfungsi dalam peng-alaman kita untuk membawakan esens ilahi Kristus ke da-lam kita. Semakin banyak esens ini tertambah ke dalam diri kita, kita akan semakin mengalami pembaruan manu-sia baru.
Pembaruan berbeda dengan pengajaran. Kita mungkin diajar tentang Allah namun dalam diri kita tidak ada sub-stansi ilahi yang ditambahkan. Pembaruan tergantung pada transmisi substansi ilahi ke dalam kita. Semakin banyak unsur ilahi tertambah ke dalam kita, kita akan semakin di-perbarui. Sebagian besar orang Kristen hari ini tidak meng-alami pembaruan ini. Yang mereka miliki hanyalah peng-ajaran semata. Bersandarkan belas kasihan Tuhan, sasaran kita dalam pemulihan-Nya bukan hanya menyampaikan ajaran-ajaran, tetapi juga membantu kaum beriman meng-alami transmisi ilahi ini. Dalam ministri ini kita ingin mem-bagi-nikmatkan wahyu dari firman Allah. Kemudian, keti-ka kaum saleh mendengar tentang kepercayaan (iman) ini dan beriman dan membuka diri terhadap Tuhan, yakni “membuka saklar” melalui memikirkan hal-hal yang di atas, mereka akan tersuplai oleh transmisi surgawi. Pada suatu waktu kita mungkin merasa sumpek atau tertekan. Tetapi jika kita terbuka kepada transmisi surgawi, kita akan dipenuhi dengan sukacita. Bahkan kita akan berte-riak dan memuji-muji Tuhan. Perubahan ini disebabkan ada-nya transmisi surgawi yang membawakan unsur ilahi ke dalam diri kita. Inilah yang menghasilkan pembaruan, yang mempengaruhi pikiran, emosi, dan tekad kita. Penting sekali kita melihat dan memahami hubungan antara pembaruan manusia baru dengan memikirkan hal-hal yang di atas.
PERLUNYA DAMAI SEJAHTERA
MENJADI JURI DI DALAM KITA
Menurut urutan Kolose pasal 3, setelah memikirkan hal-hal yang di atas dan pembaruan manusia baru, ada da-mai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam hati kita (ayat 15). Tahukah Anda apakah damai sejahtera Kristus itu? Istilah ini hanya dipakai satu kali dalam Perjanjian Baru. Dalam Kitab Roma dan Filipi Paulus pernah membicarakan Allah damai sejahtera. Tambahan pula, pada awal Surat-surat Kirimannya ia selalu menyinggung tentang anugerah dan damai sejahtera. Tetapi dalam Kolose 3:15 ia mengata-kan kepada kita bahwa damai sejahtera Kristus harus men-jadi juri di dalam hati kita. Kita tidak boleh menganggap kita memahami arti damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam hati kita. Kita tidak seharusnya menerima perka-taan ini begitu saja, kita harus berusaha memperoleh pe-ngertian yang tepat.
Menurut konteks Kolose 3, bila kita memikirkan hal-hal di atas, unsur ilahi akan ditransmisikan ke dalam kita guna pembaruan manusia baru. Ketika manusia baru diperbarui, kita perlu membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam hati kita. Pembaruan manusia baru sebenar-nya adalah penyebarluasan manusia baru di batin kita. Ketika manusia baru tersebar, kita perlu membiarkan da-mai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam batin kita.
Dalam penempuhan hidup gereja sangat mudah terjadi saling melukai atau membuat orang lain tidak senang. Da-lam masalah pengaturan kursi di ruang sidang, boleh jadi seorang saudara merasa tidak senang kalau kursi-kursi itu tidak diatur sesuai dengan opininya. Tetapi jika kita terbu-ka kepada Tuhan ketika kita dilukai dan berkata kepada-Nya bahwa kita mengasihi Dia, ada sesuatu yang surgawi yang akan ditransmisikan ke dalam kita. Kemudian dengan spontan kita akan bergembira dan rukun dengan orang yang melukai kita itu. Ini adalah satu contoh dari damai sejahtera Kristus menjadi juri dalam hati kita.
Damai sejahtera yang menjadi juri ini akan meme-lihara keesaan dalam hidup gereja. Semua perpecahan yang timbul karena perbedaan opini merupakan suatu perusakan yang serius terhadap hidup gereja dan membuat manusia baru hancur berantakan. Tetapi damai sejahtera Kristus yang menjadi juri yang didatangkan oleh transmisi surgawi ini memelihara kita dalam keesaan dan memelihara manu-sia baru. Saya dapat bersaksi, sering kali ketika saya tidak puas terhadap seseorang dalam hidup gereja, saya lalu ber-kontak dengan Tuhan dan berseru kepada nama-Nya. Se-ring kali saya berkata, “Tuhan Yesus, aku bersyukur kare-na penyertaan-Mu, karena pengurapan-Mu, dan karena segala apa ada-Mu terhadapku.” Sewaktu saya bersyukur kepada Tuhan sedemikian rupa, transmisi ilahi mulai be-kerja. Setelah beberapa menit saya dipenuhi sedemikian rupa sehingga bersukacita sampai lupa diri. Kemudian, dengan spontan saya mulai menganggap orang yang menjengkel-kan saya itu lebih baik daripada saya. Ketika kemudian saya berjumpa dengannya, saya tidak mempunyai masalah lagi dengannya. Karena saya mengalami transmisi dan pen-jurian Tuhan, saya tidak mempunyai masalah dengan kaum saleh yang mana pun dalam pemulihan Tuhan.
Ketika sebuah gereja lokal pertama didirikan, kaum saleh mungkin mengalami bulan madu hidup gereja. Tetapi sebagaimana tidak ada bulan madu yang permanen dalam kehidupan pernikahan, demikian juga tidak ada pula bulan madu yang permanen dalam hidup gereja. Akhirnya timbul-lah gesekan antar orang kudus. Gesekan ini menyebabkan cacat kerut yang dikatakan Paulus dalam Efesus 5. Jika tidak ada damai sejahtera Kristus yang menjadi juri di da-lam kita, maka cacat kerut itu akan berkembang terus. Te-tapi jika transmisi surgawi menyuplai kita dengan unsur ilahi, semua cacat kerut akan tersingkir secara metabolis. Kemudian gesekan akan lenyap dan yang ada hanyalah da-mai sejahtera Kristus sebagai juri.
DAMAI SEJAHTERA
YANG VERTIKAL DAN HORISONTAL
Sebagai manusia yang telah jatuh, kita adalah seteru Allah, dan tidak ada damai antara kita dengan Allah. Lebih lagi tidak ada damai di antara berbagai bangsa di dunia, khususnya antara orang-orang Yahudi dengan orang-orang bukan Yahudi. Di atas salib Kristus telah menebus kita, memperdamaikan kita kepada Allah, dan mengadakan da-mai sejahtera antara kita dengan Allah. Tidak hanya demi-kian, melalui kematian-Nya di atas salib, Kristus telah meng-hapus ketentuan-ketentuan tentang berbagai cara hidup agar terjadi damai sejahtera di antara berbagai suku dan bangsa (Ef. 2:15-16). Karena Kristus telah menghapus ke-tentuan-ketentuan, maka Ia tidak saja telah memperdamai-kan kita dengan Allah, juga memperdamaikan semua orang beriman dari berbagai suku dan bangsa. Saya sangat se-nang bahwa dalam pemulihan Tuhan kita memiliki kaum beriman yang berasal dari berbagai bangsa dan daerah yang berbeda-beda. Semua suku ada wakilnya di sini. Kristus telah merubuhkan dinding pemisah. Lagi pula, menurut Efesus 2:14, Kristus sendiri adalah damai sejahtera kita. Dengan Kristus sebagai pendamai kita, kita sekarang mem-punyai damai sejahtera yang vertikal — damai sejahtera antara kita dengan Allah — dan yang horisontal — damai sejahtera antar kita.
Kalau kita bukan orang-orang Kristen yang mengalami transmisi substansi ilahi ke dalam kita, opini yang berten-tangan dalam diri kita tidak mungkin dihilangkan. Sebalik-nya, opini yang berbeda-beda itu akan bertambah banyak. Akibatnya ialah permusuhan, perselisihan, dan yang ter-akhir, perkelahian. Tetapi bilamana kita memikirkan hal-hal yang di atas dan mengalami transmisi ilahi, damai sejah-tera Kristus akan menjadi juri di dalam hati kita. Puji Tuhan bagi setiap kunjungan damai sejahtera Kristus! Da-mai sejahtera yang mengunjungi kita ini sebenarnya adalah satu persona yang ajaib, Tuhan Yesus Kristus sendiri. Dialah damai sejahtera yang melaksanakan penjurian di batin kita guna memelihara damai sejahtera antara kita dengan Allah dan dengan sesama kita.
Mengatakan damai sejahtera Kristus menjadi juri di batin kita berarti damai sejahtera ini dapat memecahkan masalah yang disebabkan oleh pertengkaran, perkelahian, atau keluhan. Masalah yang demikian ini sering terjadi an-tara suami dengan istri. Seorang suami mungkin mengkri-tik istrinya dengan suatu cara, istrinya mungkin memberi reaksi dengan mengkritik suaminya. Suatu perdebatan ter-jadi setelah percekcokan yang sengit. Setelah seorang sau-dara berbantah-bantah sedemikian rupa dengan istrinya, ia mungkin merasa dalam lubuk batinnya bahwa Tuhan me-nyuruhnya berdoa dan mengaku dosa. Lalu ia mungkin berdoa, “Tuhan, ampunilah aku karena aku berdebat dengan istriku.” Tuhan mungkin juga akan menunjukkan bahwa ia harus minta maaf kepada istrinya. Ketika ia minta maaf, ia akan mengalami damai sejahtera Kristus menjadi juri dalam hubungan antara dia dengan istrinya.
PENGATURAN DAMAI SEJAHTERA
ADALAH UNTUK MEMELIHARA MANUSIA BARU
Kalau damai sejahtera Kristus ingin menjadi juri dalam hati kita, damai sejahtera itu harus memerintah di dalam batin kita, harus bertakhta sebagai pengatur dan wasit. Saya percaya kita semua telah mengalami bahwa ada Seseorang yang bertakhta di batin kita, mengatur kita, dan membuat keputusan terakhir. Mari kita mengambil satu contoh seorang saudara yang dilukai oleh salah seorang pe-natua. Dalam pelayanan saya pada waktu-waktu permula-an, saya mungkin menganjuri saudara yang dilukai itu un-tuk mengasihi penatua itu dan jangan sampai tersandung olehnya. Tetapi, dari pengalaman saya paham, semakin saya berbuat demikian, saudara yang dilukai itu akan semakin menuduh saya memihak penatua itu. Akhirnya saya pa-ham bahwa yang terbaik ialah berdoa saja semoga Tuhan membelaskasihani saudara yang dilukai itu. Dalam belas kasihan-Nya, Tuhan akan datang kepadanya dan menyu-ruhnya memikirkan hal-hal yang di atas, agar ia sekali lagi dapat mengalami transmisi ilahi yang membangkitkan pen-jurian damai sejahtera Kristus itu. Kemudian, setelah di-atur oleh damai sejahtera Kristus, saudara itu akan meng-akui sekalipun sang penatua itu telah bersalah, tetapi ia sendiri lebih besar kesalahannya. Ia akan segera mengaku dosa kepada Tuhan, menerima anugerah, dan mengasihi penatua itu. Melalui penjurian damai sejahtera Kristus, ma-salah kita akan dibereskan dan gesekan antar orang kudus akan lenyap. Akhirnya hidup gereja akan terpelihara dan manusia baru pun akan terpelihara dengan riil.
Hidup gereja sebagai kehidupan manusia baru tidak hanya terpelihara oleh pengajaran-pengajaran, tetapi juga oleh memikirkan hal-hal yang di atas dan membiarkan transmisi surgawi menyalurkan unsur ilahi ke dalam kita. Kemudian kita akan memiliki pembaruan manusia baru dan mengalami damai sejahtera Kristus memerintah di batin kita. Damai sejahtera Kristus sebetulnya adalah Kristus sendiri dalam aspek tertentu. Karena itu, damai sejahtera Kristus yang menjadi juri itulah Kristus yang bekerja di batin kita guna melaksanakan pengaturan-Nya atas diri kita, yaitu untuk membuat keputusan terakhir. Dalam contoh saudara yang dilukai oleh penatua, perkataan Kristus meng-hendakinya mengasihi penatua itu, mencarinya untuk ber-sekutu, dan menikmati Tuhan bersamanya. Ini berarti Kristus bertakhta sebagai damai sejahtera yang mengatur, memutuskan, dan memberi kesimpulan.
Untuk memiliki perilaku orang Kristen yang tepat dan memelihara hidup gereja, kita perlu damai sejahtera Kristus yang menjadi juri. Jika tidak, tidak ada jalan untuk me-nyelesaikan gesekan. Hanya Kristus yang surgawi, yang ber-doa syafaat, yang melayani, dan yang mengatur itulah yang dapat membereskan segala masalah kita, dan menying-kirkan gesekan. Jika seorang saudara dengan istrinya me-mikirkan Kristus yang di surga, mereka akan mengalami transmisi ilahi. Kemudian, damai sejahtera Kristus akan menjadi juri di dalam mereka.
Dari sidang ke sidang dan dari berita ke berita kita damba menyuplaikan Kristus kepada orang-orang kudus. Bila orang-orang kudus nampak wahyu tentang Kristus dan mengalami damai sejahtera Kristus yang menjadi juri, hidup gereja akan terpelihara dalam kesegaran.
Bila damai sejahtera Kristus bertakhta di dalam hati kita sebagai juri yang unik di batin kita, kita akan ber-damai dengan Allah secara vertikal dan berdamai dengan kaum saleh secara horisontal. Kita memuji Tuhan karena kita sedang menikmati damai sejahtera, dan dalam damai sejahtera ini hidup gereja sebagai manusia baru akan ter-pelihara! Bila damai sejahtera Kristus mengatur dalam hati kita, pembaruan manusia baru akan terjadi secara terus-menerus. Jika kita berada di bawah pengaturan damai se-jahtera Kristus yang bertakhta itu, kita tidak akan berdosa kepada orang lain atau merusak orang lain. Sebaliknya, oleh anugerah Tuhan dan dengan damai sejahtera-Nya, kita akan menyuplai orang lain dengan hayat. Keesaan dalam satu gereja lokal dan antar gereja bukan dipelihara oleh da-ya upaya manusia, melainkan oleh damai sejahtera Kristus yang menjadi juri. Pengelolaan dan pemeliharaan pemulih-an Tuhan bukan tanggung jawab kita. Semua gereja dan pemulihan keseluruhannya berada di bawah damai sejahte-ra Kristus yang menjadi juri. Di dalam kita Kristus adalah anugerah yang menyuplai dan damai sejahtera yang men-jadi juri.
Pertama-tama kita perlu membiarkan damai sejahtera Kristus yang menjadi juri ini bertakhta sebagai raja di ba-tin kita. Jangan mohon Tuhan melaksanakan kedaulatan-Nya atas istri atau suami Anda. Sebaliknya, berdoalah begini: “Tuhan, bertakhtalah dalam batinku dan laksana-kanlah pengaturan-Mu atas diriku.” Jika Anda tidak berdoa agar Anda diatur oleh Tuhan, tetapi memohon Tuhan meng-atur orang lain, Tuhan mungkin akan berkata, “Biarlah Aku menegakkan takhta kerajaan-Ku lebih dulu di dalam kamu. Biarlah Aku mengatur kamu, menundukkan kamu, dan membuat keputusan terakhir bagimu.” Jika kita mem-biarkan damai sejahtera Kristus yang bertakhta ini menjadi juri dalam hati kita, maka kehidupan pernikahan, kehidup-an keluarga, dan hidup gereja kita semuanya akan terpeli-hara dalam keesaan.
Semoga kita terdorong untuk memikirkan hal-hal yang di atas, agar transmisi surgawi dapat membawakan substansi ilahi ke dalam diri kita bagi pembaruan manusia baru. Kemudian, Kristus dalam aspek yang khusus, yaitu damai sejahtera, akan menjadi juri dalam hati kita, dan Tuhan akan mempunyai jalan untuk membangun manusia baru dan mempersiapkan mempelai perempuan bagi kedatangan-Nya.