← Daftar isi Kolose (2) · bab 18/21

PEMBARUAN MANUSIA BARU

Pembacaan Alkitab: Kol. 3:5-11; Rm. 12:2

Kedua pasal terakhir dari Kitab Kolose membahas ber-bagai aspek tentang kehidupan orang Kristen. Aspek per-tama ialah kita mencari hal-hal yang di atas dan memi-kirkan hal-hal itu. Pesan Paulus untuk mencari hal-hal yang di atas berdasar pada wahyu yang disajikan dalam pasal 1 dan 2. Ini berarti pencarian hal-hal yang di atas yang kita lakukan harus berdasar pada wahyu dari persona dan pekerjaan Kristus. Dalam Kolose 1 dan 2 Kristus di-wahyukan secara ajaib. Lagi pula, pekerjaan yang telah Kristus rampungkan bagi kita juga disajikan secara leng-kap. Dalam pasal-pasal tersebut Kristus diwahyukan seba-gai Sang almuhit. Berdasarkan wahyu persona dan peker-jaan Kristus ini, kita dapat mencari hal-hal yang di atas. Seperti telah kita tunjukkan, hal-hal tersebut ditujukan kepada ministri surgawi Kristus, yaitu ministri-Nya sebagai Imam Besar, pelayan, dan pelaksana ekonomi Allah.

BERHUBUNGAN DENGAN

MINISTRI SURGAWI KRISTUS

Kristus tidak malas. Ia selalu berdoa syafaat, melayani, dan melaksanakan pemerintahan Allah. Kita di bumi wajib menanggapi aktivitas Kristus yang di surga. Walau Kristus dalam ministri-Nya yang di bumi telah sepenuhnya meram-pungkan penebusan bagi keselamatan kita, tetapi Ia belum merampungkan pembangunan Tubuh-Nya. Untuk pemba-ngunan Tubuh, diperlukan ministri-Nya yang di surga. Memperoleh sejumlah besar manusia yang beroleh selamat saja bukanlah kedambaan Kristus. Ia menghendaki semua orang yang beroleh selamat ini terbangun bersama menjadi Tubuh-Nya. Kristus menghendaki satu Tubuh, sebuah ba-ngunan, seorang mempelai perempuan. Agar Tubuh ini da-pat terbangun, Kristus perlu melaksanakan pekerjaan mi-nistri surgawi-Nya.

Di antara Kristus di surga dan kita di bumi terdapat satu transmisi ilahi, satu arus surgawi. Jika kita mene-rima transmisi ini, kita akan menanggapi pekerjaan Kristus yang di surga. Tetapi, jika kita dalam pengalaman tidak berhubungan dengan Dia secara terus-menerus, atau jika kita membiarkan adanya suatu sekatan di antara kita de-ngan Dia, transmisi itu akan terhenti. Sangat kasihan se-kali, hubungan kebanyakan orang Kristen yang sejati hari ini dengan Kristus yang surgawi dalam pengalaman me-reka telah tersekat. Mereka memang orang-orang Kristen sejati, tetapi mereka tidak mengalami arus ilahi dan tidak ada persekutuan antara mereka dengan Tuhan. Kita ber-harap situasi di antara kita mutlak berbeda. Dalam peng-alaman kita, kita tidak boleh terputus dari Kristus yang surgawi, tetapi harus menerima transmisi ilahi secara terus-menerus. Siang dan malam, kita perlu diinfus dengan suplai dari surga, dan mengalami transaksi antara Kristus yang surgawi dengan kita. Kita harus secara terus-menerus menjawab doa syafaat, pelayanan, dan pelaksanaan pemerintahan Allah yang dilakukan oleh Kristus.

Mencari hal-hal yang di atas berarti kita menanggapi ministri surgawi Kristus. Menurut Kolose 3, berhubungan dengan ministri surgawi Kristus melalui mencari hal-hal yang di atas adalah aspek pertama dari perilaku kita sebagai orang Kristen.

MANUSIA BARU DICIPTAKAN DAN DIPERBARUI

Aspek kedua dari perilaku orang Kristen yang terwahyu dalam Kolose 3 ialah diperbaruinya manusia baru. Dalam Kolose 3:10 Paulus berkata, “Dan telah mengenakan ma-nusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memper-oleh pengetahuan yang benar (penuh) menurut gambar Pen-ciptanya.” Di satu pihak, Paulus membicarakan penciptaan manusia baru, di pihak lain, ia menyebut pembaruan ma-nusia baru. Kalau manusia baru telah selesai diciptakan, mengapa ia masih perlu diperbarui? Bagaimanakah manu-sia baru ini diciptakan dan diperbarui? Kita telah nampak bagaimana penciptaan manusia baru terjadi di dalam roh kita. Ketika roh kita dilahirkan kembali, manusia baru ini tercipta. Jadi, kelahiran kembali roh kita sebenarnya ada-lah penciptaan manusia baru. Namun, sejauh menyangkut jiwa, manusia baru ini masih perlu diperbarui. Penting se-kali, pembaruan ini terutama terjadi di dalam pikiran kita, yakni bagian utama dari jiwa. Sebelum kita dilahirkan kem-bali, roh insani kita merupakan bagian dari ciptaan lama. Kemudian, pada saat kita dilahirkan kembali, Allah Roh masuk ke dalam roh kita dengan hayat dan sifat ilahi. Ini berarti Roh Allah melahirkan kembali roh kita dengan un-sur-unsur hayat dan sifat ilahi. Dengan perkataan lain, ke-tika kita dilahirkan kembali, Allah Roh ini membawa ha-yat dan sifat ilahi ke dalam roh kita. Sebelum kelahiran kembali kita tidak memiliki sesuatu yang ilahi. Tetapi pa-da saat kelahiran kembali, ada sesuatu yang ilahi — hayat dan sifat Allah — ditambahkan ke dalam roh kita. Melalui menerima hayat dan sifat Allah, kita dilahirkan dari Allah dan menjadi anak-anak Allah. Sekarang kita bukan hanya anak-anak manusia, tetapi juga menjadi anak-anak Allah. Lagi pula, kita bukan menantu Allah, melainkan adalah anak-anak-Nya di dalam hayat.

Karena hayat dan sifat ilahi telah ditambahkan ke dalam roh kita, maka roh kelahiran kembali kita menjadi bagian ciptaan baru. Perbedaan antara ciptaan lama dengan ciptaan baru ialah ciptaan lama tidak mengandung sesuatu yang dari Allah, tetapi ciptaan baru mengandung sesuatu dari Allah yang ditambahkan ke dalamnya. Roh kelahiran kembali disebut bagian dari ciptaan baru dan manusia baru, karena hayat dan sifat Allah telah masuk ke dalamnya. Dalam roh kita terdapat sesuatu yang ilahi, yaitu hayat dan sifat Allah.

Pada saat dilahirkan kembali, hayat dan sifat Allah telah ditambahkan ke dalam roh kita, sehingga roh kita menjadi ciptaan baru; tetapi jiwa berikut fungsi pikiran, emosi, dan tekadnya tetap berada dalam ciptaan lama. Karena itu, hayat dan sifat ilahi itu perlu menyebar luas dari roh kita ke dalam jiwa kita dan menjenuhi jiwa kita. Proses penyebaran dan penjenuhan inilah yang kita sebut transformasi (pengubahan). Dalam Roma 12:2 Paulus me-nyuruh kita “Berubahlah oleh pembaruan pikiranmu” (Tl.). Karena pikiran merupakan bagian utama dari jiwa, maka pembaruan jiwa tergantung pada pembaruan pikiran. Keti-ka hayat dan sifat ilahi tersebar dari roh kita yang terlahir kembali ke dalam pikiran, emosi, dan tekad, jiwa kita akan diperbarui. Pembaruan jiwa ini sebenarnya merupakan pem-baruan manusia baru.

Sekalipun kita telah dilahirkan kembali, kita sering cenderung hidup menurut manusia lama, yakni menurut ciptaan lama. Namun, dalam lubuk roh kita terdapat suatu kedambaan, hasrat, untuk hidup dalam kebaruan hayat. Hasrat ini berasal dari manusia baru dalam roh kita yang ingin menyebarkan hayat dan sifat ilahi ke dalam jiwa kita. Penyebarluasan semacam ini berarti pembaruan manusia baru.

Tidak banyak orang Kristen yang telah nampak bahwa pembaruan manusia baru tergantung pada kita mencari hal-hal yang di atas. Jika kita tidak mencari hal-hal yang di atas dan memikirkan hal-hal itu, sulitlah kita diperbarui di dalam jiwa kita. Tetapi bila kita memikirkan hal-hal yang di atas, manusia batiniah kita dengan spontan diperbarui. Pengalaman kita membuktikan hal ini.

Paulus menasihati kaum beriman Kolose untuk mencari hal-hal yang di atas karena mereka telah disimpangkan kepada hal-hal yang di bumi, kepada unsur-unsur dunia seperti agama Yahudi, Gnostikisme, mistikisme, dan pertapaan. Selama mereka disimpangkan oleh hal-hal ini, mereka tidak ada hubungan dengan hal-hal yang di atas. Inilah alasan Paulus menyuruh mereka melupakan agama Yahudi, Gnostikisme, filsafat Yunani, mistikisme, dan se-gala jenis kebudayaan, serta menyuruh mereka mencari hal-hal yang di atas dan memikirkan hal-hal itu. Hal-hal yang di atas tidak mencakup agama, filsafat, atau kebuda-yaan yang mana pun. Sebaliknya, hal-hal yang di atas mencakup imamat, ministri, dan pemerintahan Kristus be-serta semua aktivitas-Nya. Penting sekali kita memahami bahwa Kristus adalah Kepala kita dan kita adalah anggota Tubuh-Nya. Kristus dan kita bersama-sama membentuk sa-tu menusia baru yang universal. Sebagai persona yang di surga, Dia adalah Kepala, sebagai orang-orang yang di bumi, kita adalah Tubuh. Ketika Kepala bekerja di surga melalui doa syafaat, pelayanan, dan pemerintahan, kita, Tubuh-Nya, bekerja di bumi menanggapi ministri surgawi Kristus dan memantulkan apa yang Ia lakukan di surga. Alangkah he-batnya hal ini! Kita tidak seharusnya memperhatikan agama di bumi, filsafat duniawi, dan unsur-unsur lain dari dunia, tetapi harus mencari hal-hal yang di atas dan memikirkan hal-hal ini. Jika kita berpaling kepada Kristus yang sur-gawi beserta segala aktivitas-Nya dan memikirkan hal-hal ini, pembaruan manusia baru akan terjadi secara otomatis.

Yang kita pikirkan dari hari ke hari menunjukkan apa-kah pikiran kita. Pada saat Paulus menulis Kitab Kolose, para penganut agama Yahudi memikirkan agama mereka, para pengikut Gnostik memikirkan filsafat mereka. Namun, kita tidak seharusnya memikirkan agama, filsafat, atau kebudayaan, melainkan memikirkan Kristus dan ministri surgawi-Nya. Semakin kita memikirkan hal-hal yang di atas — Kristus dan ministri surgawi-Nya, unsur-unsur ilahi dalam roh kita semakin menjenuhi jiwa kita dan memper-baruinya. Semua yang berada dalam roh kita akan beroleh jalan bebas untuk meluas ke seluruh manusia batiniah kita. Melalui penjenuhan dan penyebaran demikianlah jiwa kita diperbarui.

Jika kita hanya mempunyai Roma 12:2 tanpa Kolose 3, agak sukarlah kita memahami arti diubah oleh pembaruan pikiran. Tetapi Kolose 3 menjelaskan bahwa pembaruan ini berkaitan dengan mencari hal-hal yang di atas dan memikirkan hal-hal itu.

Janganlah memperhatikan hal-hal yang di bumi, se-perti agama, filsafat, etika, atau kebudayaan. Hal-hal itu memang dibutuhkan oleh masyarakat dan berfaedah dalam masyarakat. Tetapi, hal-hal itu merupakan hambatan ter-hadap ekonomi Allah, dan merupakan gangguan terhadap penggenapannya. Dalam ekonomi Allah tidak dibutuhkan agama, filsafat, atau kebudayaan. Ekonomi Allah adalah pe-nyaluran diri-Nya sendiri ke dalam kita. Asal kita dalam pemulihan Tuhan memiliki penyaluran Allah, kita tidak perlu agama atau kebudayaan. Seperti halnya mereka dalam Yerusalem Baru tidak memerlukan terang alamiah atau terang buatan manusia, kita dalam gereja hari ini tidak memerlukan agama atau kebudayaan. Namun, agama dan kebudayaan diperlukan dalam masyarakat. Di luar gereja, agama atau kebudayaan dibutuhkan demi memelihara ma-syarakat. Tetapi di dalam gereja kita memiliki penyaluran Allah, karena itu tidak memerlukan agama atau kebuda-yaan. Hari demi hari Allah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Alangkah ajaibnya!

Orang-orang Kristen di Kolose tidak jelas tentang per-bedaan antara kebudayaan dengan ekonomi Allah. Keku-rangan pengertian ini membuka jalan bagi agama, filsafat, dan kebudayaan untuk menyusup ke dalam hidup gereja dan mengganggu penggenapan ekonomi Allah. Pada prinsip-nya, situasi di kalangan kekristenan hari ini juga demi-kian. Bayangkan betapa banyaknya unsur agama, filsafat, kebudayaan, dan segala macam ajaran telah merintangi pe-nyaluran Allah! Karena itu penting sekali kita nampak bah-wa keperluan kita yang unik dalam pemulihan Tuhan adalah Allah yang hidup menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam diri kita secara terus-menerus.

Selama bertahun-tahun pemulihan Tuhan di Amerika Serikat, banyak orang kudus telah mengalami penyaluran Allah. Pada mulanya, berita-berita tentang ekonomi Allah seperti bahasa asing bagi mereka. Tetapi sekarang kebenar-an dan pengalaman tentang ekonomi Allah adalah bagian dari kehidupan mereka. Pada hakikatnya, banyak orang se-karang dapat menunaikan pelayanan menurut jalur yang sama ini. Bahkan di kalangan kaum muda terdapat kema-juan yang sangat besar karena mereka mengalami pemba-ruan oleh hayat dan sifat ilahi. Unsur-unsur ilahi terus men-jenuhi kaum saleh. Penjenuhan ini menciptakan perbedaan yang riil. Beberapa tahun yang lampau, seorang saudara mungkin bisa jengkel karena alasan tertentu. Tetapi seka-rang ketika ia jengkel, keadaannya berbeda. Dalam banyak aspek tindakannya mungkin sama, tetapi hakikinya berbeda. Ada sesuatu yang ilahi yang tergarap ke dalam manusia batiniah orang-orang kudus. Ini bukan sekadar perubahan dalam kelakuan, melainkan perubahan dalam sifat. Melalui perubahan batiniah yang sedemikian, manusia baru meluas dari roh kita ke dalam jiwa kita, dan sebetulnya bertam-bah-tambah di batin kita. Semoga Tuhan melindungi semua orang kudus di dalam hayat, agar manusia baru dapat ber-tambah atau bertumbuh lebih banyak.

Saya ingin menekankan satu fakta, yaitu sekalipun manusia baru telah tercipta dalam roh kita, ia masih perlu diperbarui ke seluruh manusia batiniah kita. Hal ini me-nuntut manusia baru tersebar luas dalam hayat dan sifat ilahi ke seluruh diri kita. Kemudian baru kita diperbarui sepenuhnya.

DIPERBARUI KEPADA PENGETAHUAN

YANG PENUH

Menurut 3:10, manusia baru terus-menerus diperbarui “untuk memperoleh pengetahuan yang penuh” (Tl.). (Kata “untuk memperoleh” menurut bahasa aslinya lebih tepat diterjemahkan “kepada”. Red.). Ada terjemahan yang mener-jemahkan “dalam pengetahuan yang penuh”, bukan “kepada pengetahuan penuh”. Tetapi, preposisi bahasa Yunani ini se-harusnya diterjemahkan “kepada”. Terjemahan ini menun-jukkan bahwa pengetahuan yang penuh merupakan hasil atau akibat pembaruan, bukan alat atau perantara pemba-ruan. Sebagai contoh, anak-anak bertumbuh kepada penge-tahuan, mereka bukan bertumbuh melalui pengetahuan. Se-makin bertumbuh, anak-anak akan semakin tahu banyak. Namun, tidak benarlah kalau kita mengatakan semakin mereka mengetahui, mereka akan semakin bertumbuh. Jika orang tua memperhatikan pertumbuhan dan perkem-bangan anak-anak mereka, mereka akan nampak bahwa anak-anak itu bukan bertumbuh melalui pengetahuan. Se-baliknya, mereka bertumbuh kepada pengetahuan, mereka bertambah pengetahuannya ketika mereka bertumbuh dan berkembang.

Prinsip pertumbuhan kepada pengetahuan ini berlaku pula dalam kehidupan rohani kita. Jika kita mencari hal-hal yang di bumi, bukan yang di atas, kita tidak akan mengalami pembaruan manusia baru. Ini berarti kita tidak dapat mengalami pertumbuhan manusia baru. Selama kita masih mencari hal-hal yang di bumi, pertumbuhan manusia baru akan luar biasa sulitnya. Tetapi bila kita mencari hal-hal yang di atas, manusia baru ini akan bertumbuh di batin kita. Hasil dari pertumbuhan ini ialah memiliki pe-ngetahuan yang penuh. Jadi, pertumbuhan manusia baru adalah kepada pengetahuan yang penuh. Beberapa tahun yang lalu, manusia baru dalam batin Anda tidak seberapa bertumbuh. Hal itu menyebabkan Anda sukar mengetahui hal-hal rohani. Tetapi sekarang manusia baru telah bertum-buh di batin Anda, sehingga Anda lebih mudah memahami hal-hal rohani. Ini menunjukkan pertumbuhan menghasil-kan pengetahuan. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bah-wa manusia baru terus-menerus diperbarui kepada penge-tahuan yang penuh.

Ketika masih muda, saya membaca buku-buku tentang membedakan roh dari jiwa. Namun, saya tidak dapat mengenali perbedaan antara jiwa dan roh, tidak peduli kerasnya usaha saya untuk menganalisis masalah ini dan membedakannya menurut pikiran alamiah saya. Tetapi ketika saya bertumbuh dalam hayat, mudahlah saya membedakan jiwa dan roh. Ini menggambarkan fakta bahwa hal-hal ro-hani tidak dapat dipahami melalui pikiran alamiah. Hal-hal rohani hanya dapat diketahui melalui pertumbuhan manu-sia baru. Pertumbuhan manusia baru di batin kita meng-hasilkan pengetahuan rohani yang sejati.

Pada waktu dilahirkan, seorang bayi sudah memiliki semua organ fisik yang dibutuhkan. Namun, jika organ-organ itu ingin berfungsi dengan normal, si bayi harus bertum-buh. Agar bayi dapat sempurna fungsinya, perlu ada per-tumbuhan. Semakin bertumbuh, fungsi seorang anak akan makin berkembang dan sempurna. Akhirnya, pada saat de-wasa, fungsinya akan sempurna sepenuhnya. Demikian pu-la prinsip pertumbuhan manusia baru di batin kita. Ketika manusia baru tercipta di dalam roh kita, organnya telah lengkap. Tetapi karena fungsinya belum sempurna, maka ia perlu bertumbuh dan diperbarui. Akibat pertumbuhan dan pembaruan ialah menghasilkan pengetahuan. Pada hakikat-nya, pengetahuan yang penuh dalam 3:10 sama dengan ber-fungsi. Pertumbuhan dan pembaruan manusia baru meng-hasilkan berfungsinya manusia baru. Tanpa pengetahuan kita tidak dapat berfungsi. Kita bisa mengfungsikan organ-organ kita tergantung pada pengetahuan. Sebagaimana se-mua anggota tubuh jasmani kita berfungsi menurut penge-tahuan, demikian juga manusia baru berfungsi ketika ia diperbarui kepada pengetahuan yang penuh. Pembaruan manusia baru yang menghasilkan pengetahuan itu berarti pembaruan menghasilkan fungsi. Kalau manusia baru ku-rang bertumbuh dan kurang diperbarui, ia akan kurang dapat berfungsi. Ini berarti walaupun manusia baru telah tercipta, fungsinya masih belum sempurna. Karena itu, manusia baru harus bertumbuh, berkembang, dan diperbarui. Kemudian, sebagai akibat pembaruan ini, fungsinya akan menjadi sempurna.

Kita telah nampak bahwa orang-orang Kolose telah diselewengkan dari hal-hal yang di atas kepada hal-hal yang di bumi seperti agama, filsafat, dan kebudayaan. Dalam menulis Surat Kirimannya, Paulus berusaha membawa me-reka kembali dari unsur-unsur dunia kepada hal-hal yang di atas. Ia menghendaki mereka memikirkan hal-hal yang di atas, agar manusia baru dapat meluas dari dalam roh mereka ke dalam pikiran, dan akhirnya menjenuhi seluruh diri mereka dengan unsur-unsur ilahi. Penjenuhan ini akan menghasilkan pengetahuan yang penuh, yaitu kesempurna-an fungsi dari manusia baru.

MENURUT GAMBAR ALLAH

Sekarang kita harus maju ke depan untuk nampak bahwa pembaruan ini sesuai dengan gambar Allah, Pencipta manusia baru. Dengan kata lain, pembaruan manusia baru adalah menurut Kristus, sebab Dialah gambar dan ekspresi Allah. Ketika kita memikirkan hal-hal yang di atas, terbu-kalah jalan bagi manusia beru untuk menyebarluaskan un-sur-unsur ilahi dari roh kita ke dalam jiwa kita. Penyebar-luasan unsur ilahi dalam batin kita ini adalah menurut Kristus, yang adalah gambar, ekspresi Allah. Semakin banyak pembaruan terjadi di dalam jiwa kita, kita akan se-makin mampu mengekspresikan Allah. Dengan kata lain, semakin banyak pembaruan yang kita alami di dalam jiwa, kita akan semakin memiliki gambar Kristus.

Walaupun kita telah dilahirkan kembali, tetapi boleh jadi kita sangat kekurangan gambar Kristus dalam pikir-an, emosi, dan tekad kita. Sebaliknya, boleh jadi kita mele-kat pada gambar Adam yang usang itu. Tetapi jika kita memikirkan hal-hal yang di atas, unsur ilahi dalam roh kita akan meluas ke dalam jiwa kita. Perluasan ini akan menurut Kristus sebagai gambar Allah. Sebagai akibat dari perluasan unsur ilahi, kita akan memiliki gambar Allah, dan menjadi ekspresi-Nya.

KRISTUS ADALAH SEMUA

DAN DI DALAM SEMUA ANGGOTA

Dalam Kolose 3:11 Paulus berkata selanjutnya, “Dalam hal ini tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah se-mua dan di dalam segala sesuatu.” Menurut ayat ini, dalam pembaruan manusia baru ini tidak ada tempat bagi manu-sia alamiah yang mana pun — tidak ada tempat bagi orang Yunani atau Yahudi, bagi orang yang beragama atau orang yang tidak beragama, bagi orang yang berkebudayaan atau orang yang tak berkebudayaan. Dalam pembaruan manusia baru ini, Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

Dalam bahasa Yunani, kata “semua” yang pertama ada-lah netral dan ditujukan kepada hal-hal. Tetapi kata “segala sesuatu” yang berikutnya adalah maskulin dan ditujukan kepada manusia. Karena itu, dalam pembaruan manusia baru ini, Kristus adalah semua hal dan Dia ada di dalam semua anggota. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pembaruan manusia baru ini Kristus benar-benar almuhit. Di satu pihak, Dia berada dalam semua manusia, yakni dalam anggota manusia baru, sedang di pihak lainnya, Dia juga sebagai semua hal dalam pembaruan manusia baru.

Mungkin Anda ingin tahu apakah artinya semua hal dalam pembaruan manusia baru. Paling tidak, semua hal ini harus mencakup semua kebajikan dan atribut. Kasih, kesabaran, dan kerendahan hati, semua merupakan keba-jikan yang unggul. Semua kebajikan ini adalah Kristus sen-diri. Dalam pembaruan manusia baru, Kristus adalah se-mua kebajikan yang ajaib, semua hal yang baik, dan semua atribut yang positif.

MEREALISASIKAN KEHIDUPAN MANUSIA BARU

Bagaimanakah kita, kaum beriman Perjanjian Baru, dapat dalam pelaksanaan merealisasikan kehidupan manu-sia baru yang universal? Di antara orang Kristen yang me-mikirkan hal-hal yang di bumi, tidak ada pembaruan manusia baru dan tidak mungkin dalam pelaksanaannya menempuh kehidupan manusia baru. Tetapi ketika kita memikirkan hal-hal yang di atas, manusia baru akan spontan bertum-buh dan diperbarui di batin kita. Ini membuat seluruh diri kita diperbarui dan diubah. Kemudian, di mana saja kita berada, kita dapat memiliki pelaksanaan manusia baru. Akhir-akhir ini saya mendengar ada seorang saudara muda yang bertugas di angkatan laut yang mengunjungi beberapa gereja di Timur Jauh. Ia menikmati persekutuan yang baik sekali dengan kaum saleh di kawasan tersebut. Sudah pasti, saudara ini telah mengalami kehidupan manusia baru. Walau ia berasal dari Amerika Serikat, tetapi ia dapat tercelup di dalam roh persekutuan dengan begitu banyak orang kudus dari kawasan Timur.

Kalau kita tidak mau memikirkan hal-hal yang di atas, kita tidak bisa membuka jalan bagi bertumbuhnya manu-sia baru di batin kita, maka sulit sekali kita mengalami ke-hidupan manusia baru secara riil. Tetapi, jika kita memi-kirkan hal-hal yang di atas, manusia baru akan meluas dari roh kita ke dalam jiwa kita. Kemudian tidak peduli di mana kita berada bersama kaum saleh, kita akan merea-lisasikan kehidupan manusia baru.

Kitab Kolose sesungguhnya merupakan sejilid kitab tentang Kristus yang almuhit. Namun, dalam kitab ini Paulus juga membicarakan manusia baru. Kehidupan ma-nusia baru yang riil berasal dari wahyu dan pengalaman atas Kristus. Bila kita memiliki wahyu atas Kristus dan pengalaman yang memadai atas Kristus, manusia baru akan muncul di antara kita secara riil, dan kita akan merea-lisasikan kehidupan manusia baru.

Sasaran Allah ialah memiliki satu manusia baru, yang akhirnya akan rampung di dalam Yerusalem Baru. Karena itu, Yerusalem Baru akan menjadi perampungan akhir dari satu manusia baru. Ketika kita berada di Yerusalem Baru, kita akan menikmati kehidupan satu manusia baru yang universal. Hari ini kita boleh mencicipi kenikmatan ini me-lalui memikirkan hal-hal yang di atas, dan membukakan sebuah jalan bebas bagi manusia baru dalam roh kita un-tuk menyebar luas ke dalam seluruh diri kita.