BERTEKUN DALAM DOA
Pembacaan Alkitab: Kol. 4:2-6; Ibr. 4:14-16
Dalam berita-berita terdahulu kita telah membahas empat aspek penting tentang perilaku orang Kristen yang diwahyukan dalam pasal 3 dan 4 dari Kitab Kolose: memi-kirkan hal-hal yang di atas, pembaruan manusia baru, da-mai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam batin kita, per-kataan Kristus tinggal di dalam kita. Jika kita memiliki keempat hal ini, kita akan memiliki perilaku orang Kristen yang normal. Para suami akan mengasihi istri mereka, para istri akan tunduk kepada suami mereka, anak-anak akan taat kepada orang tua, orang tua akan memperhatikan anak-anak mereka dengan sewajarnya, bahkan para majikan dan para hamba akan menjalin hubungan yang baik. Segala sesuatunya dalam kehidupan Kristen akan menjadi normal, dan kemuliaan Allah akan hadir di antara kita.
Setelah membahas semua hal ini, dalam Kolose 4:2 Paulus menyuruh kita untuk “bertekun dalam doa”. Berte-kun dalam doa berarti berdoa terus-menerus, dengan tekun, dan dengan gairah.
Sebagai manusia, kita semua bertekun dalam hal-hal tertentu, sering kali dalam hal-hal yang negatif. Dalam ke-hidupan pernikahan, seorang suami dan istri mungkin ber-tekun dalam percekcokan. Begitu perdebatan dimulai, baik suami maupun istri tidak ada yang mau mengalah. Selama bertahun-tahun saya menempuh hidup gereja, saya telah mengamati banyak kasus di mana orang-orang kudus berte-kun dalam mengekspresikan ide-ide, konsepsi-konsepsi, atau opini-opini mereka. Tidak peduli dalam situasi yang bagai-mana, mereka selalu tidak sudi mengubah opini mereka. Contoh-contoh yang negatif ini menunjukkan bahwa kita tidak tahu apa maknanya bertekun.
DOA DAN PEPERANGAN
Menurut perkataan Paulus dalam Kolose 4:2, hal yang harus kita tekuni ialah doa. Kita harus bertekun dalam doa, karena doa berhubungan dengan peperangan, perjuang-an. Kedua pihak, Allah dan Iblis, saling bermusuhan. Na-ma Iblis berarti musuh atau lawan. Iblis adalah musuh di luar juga lawan di dalam. Di satu pihak, dia adalah musuh yang ingin mengalahkan Allah; di pihak lain, dia adalah la-wan di dalam lingkungan Allah yang ingin melakukan pe-rusakan. Selaku lawan, Iblis menentang Allah dari dalam lingkungan Allah, Kerajaan Allah. Itulah sebabnya Alkitab menunjukkan dengan jelas bahkan hari ini Iblis pun bisa masuk ke tempat takhta Allah berada. Dalam Kitab Ayub kita nampak Iblis dapat berdiri di depan takhta Allah dan me-nuduh manusia di depan-Nya (Ayb. 1:6-12). Kita sulit me-mahami mengapa Allah membiarkan musuh-Nya sebebas itu. Menurut Wahyu 12:10, Iblis menuduh kita siang dan malam.
Walau peperangan yang berlangsung di alam semesta terjadi antara Allah dan Iblis, tetapi ada pihak lain yang terlibat. Pihak ketiga ini terdiri atas umat pilihan Allah yang tertebus, yakni orang-orang yang sebenarnya akan menen-tukan hasil peperangan itu. Jika kita berpihak pada Iblis, Allah akan “kalah”, sekalipun Ia Mahakuasa. Sebagai Pen-cipta yang tidak terbatas dan berkuasa penuh, Allah tidak mau merendahkan diri-Nya untuk berperang melawan sa-lah satu makhluk ciptaan-Nya. Karenanya, perlu ada makh-luk ciptaan Allah yang lain — manusia — untuk berperang melawan Iblis. Pada hakikatnya, Allah memerlukan kita. Tanpa kita, Dia tidak mungkin berperang melawan Iblis. Ia harus mempertahankan status-Nya sebagai Pencipta. Karena itulah, Ia memerlukan kita untuk melaksanakan peperangan yang sesungguhnya.
Jika kita ingin berperang bagi pihak Allah untuk me-lawan Iblis, kita perlu bertekun dalam doa. Ketekunan ini diperlukan karena seluruh dunia cenderung menjauhi Allah. Berdoa berarti melawan arus, kecenderungan dalam alam semesta yang telah merosot. Bertekun dalam doa ibarat men-dayung perahu ke hulu sungai. Jika Anda tidak bertekun, Anda akan hanyut terbawa arus. Tidak usah disangsikan, bertekun sedemikian ini, baik dalam mendayung atau ber-doa, memerlukan kekuatan yang sangat besar. Alam se-mesta berada di bawah pengaruh Iblis dan berlawanan de-ngan kehendak Allah. Karena itu, ada satu arus yang deras dalam dunia ini yang melawan kehendak Allah. Sebagai orang-orang yang berpihak kepada Allah, kita nampak bahwa alam semesta ini menentang kita, khususnya menentang doa kita.
Banyak pengalaman kita yang berkaitan dengan doa kita setiap hari membuktikan Iblis menentang doa kita de-ngan segala cara. Sebagai contoh, sewaktu Anda berdoa un-tuk hal yang sangat penting tiba-tiba telepon berdering. Anda sudah berdoa hingga masuk ke dalam Roh, dan Anda telah menjamah surga. Pada detik itulah telepon berdering. Anda mungkin menjawab telepon itu yang ternyata salah sambung. Roh doa Anda benar-benar terganggu oleh kejeng-kelan yang disebabkan telepon itu. Ketika kita berdoa, mung-kin kita juga diganggu oleh anak-anak, oleh tamu-tamu yang menunggu di depan pintu, atau oleh binatang-bina-tang peliharaan. Karena begitu banyak yang akan menentang doa kita, maka kita benar-benar perlu bertekun dalam doa.
Ada beberapa saudari menyatakan bahwa mereka tidak ada banyak waktu untuk berdoa. Untuk membela diri, me-reka mungkin mengatakan bahwa mereka harus melaku-kan banyak tugas setiap hari. Tetapi, saudari-saudari itu juga yang mempunyai banyak waktu untuk bergosip di te-lepon. Mereka merasa mudah sekali mengobrol di telepon, tetapi sukar sekali untuk berdoa. Berdoa bagi mereka iba-rat mendaki gunung, yang mana membuat mereka penat dan menghabiskan banyak energi. Tetapi mereka tidak me-rasa mengobrol itu meletihkan. Contoh ini menunjukkan bahwa lawan kita dalam berdoa bukan hanya berada di luar kita, bahkan di batin kita sendiri. Itulah sebabnya kita se-mua merasa sukar untuk berdoa.
BERNAZAR UNTUK KEHIDUPAN DOA
Dalam terang fakta adanya perlawanan hebat terhadap doa, marilah kita sekarang membahas secara riil bagaimana kita bertekun dalam doa. Sebelum Anda mencoba bertekun dalam doa, Anda harus terlebih dulu mengadakan perjanjian dengan Tuhan mengenai kehidupan doa Anda. Berdoalah kepada-Nya dengan tegas begini, “Tuhan, aku ingin ber-sungguh-sungguh dengan-Mu dalam masalah doa ini. Aku minta langit dan bumi bersaksi bahwa mulai saat ini aku ingin memiliki kehidupan doa. Aku tidak mau menjadi se-orang yang tidak berdoa. Sebaliknya, aku ingin menjadi pendoa.” Jika Anda tidak ada doa yang demikian kepada Tuhan, Anda tidak mungkin bisa bertekun dalam doa. Kita perlu berkata kepada-Nya, “Tuhan, aku ngotot dalam hal ini. Aku persembahkan diriku kepada-Mu, agar aku dapat me-miliki kehidupan doa. Tuhan, jagalah aku dalam roh doa. Jika aku lupa atau lalai akan hal ini, aku tahu Engkau ti-dak akan melupakannya. Ingatkanlah aku selalu untuk berdoa.” Doa semacam ini boleh dianggap sebagai satu na-zar kepada Tuhan. Kita semua perlu membuat satu nazar kepada-Nya untuk kehidupan doa kita. Kita perlu berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku tahu kalau aku melupakan na-zar ini, Engkau tidak akan melupakannya. Sejak awal ini, Tuhan, aku ingin menyerahkan kewajiban ini kepada-Mu dengan jelas. Tuhan, janganlah membiarkan aku. Ingatkan-lah aku untuk berdoa.”
MENYISIHKAN WAKTU-WAKTU TERTENTU
Setelah kita mengadakan perjanjian dengan Tuhan tentang doa, kita harus menyisihkan waktu-waktu tertentu untuk berdoa. Misalkan, Anda boleh menyisihkan sepuluh menit setiap pagi. Selama waktu tersebut, berdoa harus menjadi prioritas utama. Kita harus menganggap doa se-bagai urusan yang terpenting, dan tidak ada satu hal pun boleh mengganggunya. Jika kita tidak mempunyai sikap yang demikian, kita tidak mungkin memiliki kehidupan doa yang sukses. Tidak peduli berapa banyak hal yang harus kita lakukan setiap hari, setidak-tidaknya kita dapat menyi-sihkan beberapa menit di sana atau di sini untuk berdoa. Kita boleh berdoa sedikit pada pagi hari, dan berdoa lagi di tengah hari setelah selesai bekerja, dan malamnya kita bo-leh menyisihkan waktu lagi untuk berdoa. Melalui menyi-sihkan waktu-waktu tertentu dalam sehari, mungkin kita dapat menyisihkan setengah jam untuk berdoa.
Bila Anda hendak menjaga waktu-waktu tertentu un-tuk berdoa di rumah, putuskanlah hubungan telepon Anda. Ini akan membantu Anda untuk menghindari gangguan. Waktu doa bukanlah waktu bertelepon. Lagi pula, jangan-lah menghiraukan orang yang mengetuk pintu Anda. Wak-tu yang telah Anda persembahkan kepada Tuhan untuk berdoa hanya boleh dipakai untuk berdoa, bukan untuk hal-hal yang lain. Dalam hal ini, Anda harus kuat dan tekun.
Agar kita mempunyai lebih banyak waktu untuk ber-doa, kita perlu menghemat waktu dalam sehari. Sebagai contoh, mungkin kita dapat mengurangi waktu yang dipakai untuk berdandan atau bercakap-cakap dengan orang lain. Per-cakapan yang tidak perlu akan melemahkan roh doa kita, merusak suasana doa, dan menyita waktu yang dapat kita pakai untuk berdoa. Pergumulan untuk doa itu berlangsung terus-menerus, mungkin akan berlangsung hingga masa kekal.
Apa yang telah saya persekutukan tentang doa ini bukan satu doktrin belaka, melainkan berasal dari peng-alaman bertahun-tahun. Sejauh yang menyangkut masalah doa, harus saya akui bahwa saya pernah mengalami ba-nyak kegagalan. Saya dapat membanggakan sukses besar dalam kehidupan doa saya. Sebaliknya, saya pernah meng-alami banyak kegagalan karena adanya tentangan dari mu-suh, gangguan-gangguan di sekeliling, dan bahkan hambat-an-hambatan dari dalam batin. Saya tahu jelas bahwa doa merupakan satu peperangan. Karena doa itu suatu pepe-rangan, perjuangan, kita harus bertekun di dalamnya.
MANFAAT DOA
Bertekun dalam doa mengandung banyak manfaat. Me-lalui doa, kita memikirkan hal-hal yang di atas. Pada haki-katnya, doa merupakan satu-satunya cara untuk memikir-kan hal-hal yang di surga. Ketika kita memikirkan hal-hal yang di atas melalui berdoa, kita tidak akan berdoa untuk hal-hal yang sepele. Sebaliknya, doa kita akan diduduki oleh doa syafaat, ministri, dan pemerintahan Kristus yang sur-gawi. Karena Kristus sedang berdoa syafaat bagi gereja-ge-reja di seluruh dunia, kita pun berdoa bagi semua gereja. Biarlah Tuhan yang memperhatikan semua hal kecil dalam kehidupan kita. Kewajiban kita ialah mencari dahulu Kera-jaan Allah dan kebenaran-Nya. Karena Bapa mengetahui keperluan kita, Ia akan memperhatikan kita dan mencu-kupi keperluan kita.
Bila kita memikirkan hal-hal yang di atas selama waktu doa kita, kita akan menjadi refleksi (pantulan) ministri Kristus di surga. Melalui doa kita, Kristus, Sang Kepala akan mendapat jalan untuk melaksanakan pemerintahan-Nya melalui Tubuh-Nya. Bila kita berdoa, kita adalah duta besar surgawi di bumi yang memperluas Kerajaan Allah. Namun, ketika kita bergosip, kita sama sekali bukan duta besar surgawi. Hanya bila kita berdoalah baru kita benar-benar menjadi duta besar kerajaan surgawi di bumi secara riil.
Ketika kita berdoa, kita masuk ke dalam tempat yang maha kudus, dan menghampiri takhta anugerah. Ibrani 4:16 mengatakan, “Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita me-nerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya.” Doa adalah jalan untuk meng-hampiri takhta anugerah. Dengan menghampiri takhta anu-gerah, kita akan menerima rahmat dan anugerah untuk mencukupi keperluan kita pada waktunya. Bila kita berdoa, menghampiri takhta anugerah, rahmat dan anugerah akan menjadi sebuah sungai yang mengalir ke dalam kita dan menyuplai kita. Betapa indahnya pahala ini! Menerima alir-an anugerah dalam doa sebenarnya lebih penting daripada terkabulnya doa-doa kita. Terkabul atau tidaknya doa kita itu perkara sekunder, tetapi yang primer ialah mengalirnya anu-gerah bagaikan sungai dari takhta dan memasuki diri kita.
Menerima sungai anugerah berarti baterai rohani kita diisi dengan arus listrik surgawi. Arus listrik surgawi atau listrik ilahi ini adalah Allah Tritunggal sebagai anugerah mengalir dari takhta ke dalam batin kita. Suplai dan kenikmatan yang didatangkan olehnya sungguh tidak terkatakan.
Orang Kristen hari ini lemah karena baterai rohani mereka tidak diisi. Karena mereka kurang berdoa, mereka pun kurang transmisi surgawi. Sepanjang hari, kita perlu selalu diisi dengan arus listrik ilahi. Ini benar-benar merupakan satu pahala bagi ketekunan kita dalam berdoa.
Manfaat lainnya dari berdoa berkaitan dengan perseku-tuan kita dengan Tuhan. Kita semua menyukai kehadiran dan pengurapan Tuhan, dan kita semua senang bersekutu dengan-Nya. Tetapi, bagaimanakah kita dapat menikmati penyertaan-Nya dan bersekutu dengan-Nya? Cara satu-satu-nya ialah berdoa. Ketika kita berdoa, kita akan masuk ke dalam persekutuan dengan Tuhan dan menyadari fakta bah-wa kita benar-benar satu roh dengan Dia dan Dia benar-be-nar satu roh dengan kita. Semakin banyak berdoa, kita akan semakin mengalami bersatu dengan Tuhan, dan semakin menikmati penyertaan-Nya dan bersekutu dengan-Nya. Alang-kah indahnya pahala ini!
Untuk menempuh kehidupan doa yang normal pada awalnya memang selalu sulit. Tetapi jika Anda mempraktekkannya cukup lama, akan menjadi semakin mudah, sebab Anda menyadari pahala yang akan Anda peroleh melalui berdoa.
Kita telah nampak bahwa untuk kehidupan orang Kris-ten yang normal, kita perlu memikirkan hal-hal yang di atas, perlu pembaruan manusia baru, perlu damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam kita, dan perlu membiarkan perkataan Kristus berumah di batin kita. Tetapi keempat hal ini, semuanya memerlukan doa. Untuk mempraktekkan dan mengalami hal-hal ini kita perlu berdoa. Doa akan memasukkan kita ke dalam realitas keempat hal ini dan memelihara kita dalam realitas ini.
BERJAGA-JAGA SAMBIL MENGUCAP SYUKUR
Dalam menganjuri kita bertekun dalam doa, Paulus menyuruh kita berjaga-jaga sambil mengucap syukur (4:2). Hal ini menunjukkan jika kita tidak mengucap syukur ke-pada Allah bagi suatu hal, kita pasti kurang berdoa. Sepan-jang hari kita perlu bersyukur kepada Allah. Kita perlu menjadi orang-orang yang mempersembahkan syukur kepa-da-Nya secara terus-menerus. Jika kita bersyukur kepada Tuhan secara konstan, mungkinkah saudara berbantah-ban-tah dengan istrinya? Pasti tidak! Perdebatan antara suami dengan istri merupakan satu tanda bahwa mereka kurang berdoa. Tanda orang yang bertekun dalam doa adalah ber-syukur. Bersyukur kepada Tuhan yang demikian ini akan memelihara Anda dalam kehidupan doa Anda.
Dalam Kolose 4:2 Paulus tidak mengatakan bertekun dalam doa dan berjaga-jaga, melainkan, “Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah dengan mengucap syukur.” Kita berjaga-jaga dalam doa melalui mengucap syu-kur kepada Tuhan. Jika kita secara terus-menerus mengu-cap syukur kepada Tuhan, maka lawan kita tidak akan berdaya membuat kita meninggalkan kehidupan doa kita. Doa dipertahankan melalui berjaga-jaga sambil mengucap syukur.
ANUGERAH DAN HIKMAT
Dalam Kolose 4:6 Paulus mengatakan, “Hendaklah ka-ta-katamu senantiasa penuh anugerah, seperti diberi garam, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi ja-wab kepada setiap orang” (Tl.). Jika kita adalah orang-orang yang berdoa, kita akan mengucap syukur kepada Tuhan di satu pihak, dan di pihak lain, anugerah akan menyertai per-kataan kita. Dari mulut kita akan mengalir ucapan syukur kepada Allah dan berkata-kata dengan penuh anugerah ke-pada orang lain. Dengan jalan inilah kita akan mengetahui bahwa kita adalah pendoa-pendoa. Tetapi, jika perkataan kita kekurangan anugerah, kita pasti kekurangan doa. Ke-tika kita menyadari kita kekurangan anugerah, kita perlu berdoa lagi dan diisi dengan listrik ilahi. Kemudian mulut kita akan dipenuhi anugerah.
Dalam Kolose 4:5 Paulus mengatakan, “Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, tebuslah waktu” (Tl.). Ini merupakan hasil dari bertekun dalam doa. Jika kita berdoa tanpa henti, mengucap syukur kepada Allah, dan perkataan kita dipenuhi anugerah, kita akan dengan spontan menjadi orang yang sangat berhikmat dan tahu bagaimana menebus waktu kita. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak ada waktu yang akan kita sia-siakan. Jika kita penuh dengan syukur kepada Allah dan anugerah terhadap orang lain, kita akan mempunyai hikmat untuk berperilaku dengan cara yang dapat memuliakan Allah dan membangun orang lain. Kemudian waktu kita akan dapat kita tebus.
Mengenai bertekun dalam doa, saya ingin sekali lagi menegaskan bahwa kita harus bersedia berurusan dengan Tuhan, bahkan bernazar kepada-Nya bahwa kita mau men-jadi pendoa. Jika semua orang kudus di setiap gereja mau berurusan sedemikian dengan Tuhan, pemulihan akan di-perkaya dan ditinggikan secara besar-besaran. Lagi pula, orang-orang kudus akan menikmati Tuhan, kehadiran-Nya, dan pengurapan-Nya yang instan dan konstan. Sepanjang hari mereka akan menikmati senyuman wajah Tuhan. Ke-tika kita bertekun dalam doa, persona Kristus yang hidup akan menjadi pengalaman dan kenikmatan kita.
?