Daftar isi Kolose (3) · Berita Keenam Puluh Lima · bab 21/21

Berita Keenam Puluh Lima

BERTEKUN DALAM DOA

Pembacaan Alkitab: Kol. 4:2-6; Ibr. 4:14-16

Dalam berita-berita terdahulu kita telah membahas empat aspek penting tentang perilaku orang Kristen yang diwahyukan dalam pasal 3 dan 4 dari Kitab Kolose: memikirkan hal-hal yang di atas, pembaruan manusia baru, damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam batin kita, perkataan Kristus tinggal di dalam kita. Jika kita memiliki keempat hal ini, kita akan memiliki perilaku orang Kristen yang normal. Para suami akan mengasihi istri mereka, para istri akan tunduk kepada suami mereka, anak-anak akan taat kepada orang tua, orang tua akan memperhatikan anak-anak mereka dengan sewajarnya, bahkan para majikan dan para hamba akan menjalin hubungan yang baik. Segala sesuatunya dalam kehidupan Kristen akan menjadi normal, dan kemuliaan Allah akan hadir di antara kita.

Setelah membahas semua hal ini, dalam Kolose 4:2 Paulus menyuruh kita untuk “bertekun dalam doa”. Bertekun dalam doa berarti berdoa terus-menerus, dengan tekun, dan dengan gairah.

Sebagai manusia, kita semua bertekun dalam hal-hal tertentu, sering kali dalam hal-hal yang negatif. Dalam kehidupan pernikahan, seorang suami dan istri mungkin bertekun dalam percekcokan. Begitu perdebatan dimulai, baik suami maupun istri tidak ada yang mau mengalah. Selama bertahun-tahun saya menempuh hidup gereja, saya telah mengamati banyak kasus di mana orang-orang kudus bertekun dalam mengekspresikan ide-ide, konsepsi-konsepsi, atau opini-opini mereka. Tidak peduli dalam situasi yang bagaimana, mereka selalu tidak sudi mengubah opini mereka. Contoh-contoh yang negatif ini menunjukkan bahwa kita tidak tahu apa maknanya bertekun.

DOA DAN PEPERANGAN

Menurut perkataan Paulus dalam Kolose 4:2, hal yang harus kita tekuni ialah doa. Kita harus bertekun dalam doa, karena doa berhubungan dengan peperangan, perjuangan. Kedua pihak, Allah dan Iblis, saling bermusuhan. Nama Iblis berarti musuh atau lawan. Iblis adalah musuh di luar juga lawan di dalam. Di satu pihak, dia adalah musuh yang ingin mengalahkan Allah; di pihak lain, dia adalah lawan di dalam lingkungan Allah yang ingin melakukan perusakan. Selaku lawan, Iblis menentang Allah dari dalam lingkungan Allah, Kerajaan Allah. Itulah sebabnya Alkitab menunjukkan dengan jelas bahkan hari ini Iblis pun bisa masuk ke tempat takhta Allah berada. Dalam Kitab Ayub kita tampak Iblis dapat berdiri di depan takhta Allah dan menuduh manusia di depan-Nya (Ayb. 1:6-12). Kita sulit memahami mengapa Allah membiarkan musuh-Nya sebebas itu. Menurut Wahyu 12:10, Iblis menuduh kita siang dan malam.

Walau peperangan yang berlangsung di alam semesta terjadi antara Allah dan Iblis, tetapi ada pihak lain yang terlibat. Pihak ketiga ini terdiri atas umat pilihan Allah yang tertebus, yakni orang-orang yang sebenarnya akan menentukan hasil peperangan itu. Jika kita berpihak pada Iblis, Allah akan “kalah”, sekalipun Ia Mahakuasa. Sebagai Pencipta yang tidak terbatas dan berkuasa penuh, Allah tidak mau merendahkan diri-Nya untuk berperang melawan salah satu makhluk ciptaan-Nya. Karenanya, perlu ada makhluk ciptaan Allah yang lain — manusia — untuk berperang melawan Iblis. Pada hakikatnya, Allah memerlukan kita. Tanpa kita, Dia tidak mungkin berperang melawan Iblis. Ia harus mempertahankan status-Nya sebagai Pencipta. Karena itulah, Ia memerlukan kita untuk melaksanakan peperangan yang sesungguhnya.

Jika kita ingin berperang bagi pihak Allah untuk melawan Iblis, kita perlu bertekun dalam doa. Ketekunan ini diperlukan karena seluruh dunia cenderung menjauhi Allah. Berdoa berarti melawan arus, kecenderungan dalam alam semesta yang telah merosot. Bertekun dalam doa ibarat mendayung perahu ke hulu sungai. Jika Anda tidak bertekun, Anda akan hanyut terbawa arus. Tidak usah disangsikan, bertekun sedemikian ini, baik dalam mendayung atau berdoa, memerlukan kekuatan yang sangat besar. Alam semesta berada di bawah pengaruh Iblis dan berlawanan dengan kehendak Allah. Karena itu, ada satu arus yang deras dalam dunia ini yang melawan kehendak Allah. Sebagai orang-orang yang berpihak kepada Allah, kita tampak bahwa alam semesta ini menentang kita, khususnya menentang doa kita.

Banyak pengalaman kita yang berkaitan dengan doa kita setiap hari membuktikan Iblis menentang doa kita dengan segala cara. Sebagai contoh, sewaktu Anda berdoa untuk hal yang sangat penting tiba-tiba telepon berdering. Anda sudah berdoa hingga masuk ke dalam Roh, dan Anda telah menjamah surga. Pada detik itulah telepon berdering. Anda mungkin menjawab telepon itu yang ternyata salah sambung. Roh doa Anda benar-benar terganggu oleh kejengkelan yang disebabkan telepon itu. Ketika kita berdoa, mungkin kita juga diganggu oleh anak-anak, oleh tamu-tamu yang menunggu di depan pintu, atau oleh binatang-binatang peliharaan. Karena begitu banyak yang akan menentang doa kita, maka kita benar-benar perlu bertekun dalam doa.

Ada beberapa saudari menyatakan bahwa mereka tidak ada banyak waktu untuk berdoa. Untuk membela diri, mereka mungkin mengatakan bahwa mereka harus melakukan banyak tugas setiap hari. Tetapi, saudari-saudari itu juga yang mempunyai banyak waktu untuk bergosip di telepon. Mereka merasa mudah sekali mengobrol di telepon, tetapi sukar sekali untuk berdoa. Berdoa bagi mereka ibarat mendaki gunung, yang mana membuat mereka penat dan menghabiskan banyak energi. Tetapi mereka tidak merasa mengobrol itu meletihkan. Contoh ini menunjukkan bahwa lawan kita dalam berdoa bukan hanya berada di luar kita, bahkan di batin kita sendiri. Itulah sebabnya kita semua merasa sukar untuk berdoa.

BERNAZAR UNTUK KEHIDUPAN DOA

Dalam terang fakta adanya perlawanan hebat terhadap doa, marilah kita sekarang membahas secara riil bagaimana kita bertekun dalam doa. Sebelum Anda mencoba bertekun dalam doa, Anda harus terlebih dulu mengadakan perjanjian dengan Tuhan mengenai kehidupan doa Anda. Berdoalah kepada-Nya dengan tegas begini, “Tuhan, aku ingin ber-sungguh-sungguh dengan-Mu dalam masalah doa ini. Aku minta langit dan bumi bersaksi bahwa mulai saat ini aku ingin memiliki kehidupan doa. Aku tidak mau menjadi seorang yang tidak berdoa. Sebaliknya, aku ingin menjadi pendoa.” Jika Anda tidak ada doa yang demikian kepada Tuhan, Anda tidak mungkin bisa bertekun dalam doa. Kita perlu berkata kepada-Nya, “Tuhan, aku ngotot dalam hal ini. Aku persembahkan diriku kepada-Mu, agar aku dapat memiliki kehidupan doa. Tuhan, jagalah aku dalam roh doa. Jika aku lupa atau lalai akan hal ini, aku tahu Engkau tidak akan melupakannya. Ingatkanlah aku selalu untuk berdoa.” Doa semacam ini boleh dianggap sebagai satu nazar kepada Tuhan. Kita semua perlu membuat satu nazar kepada-Nya untuk kehidupan doa kita. Kita perlu berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku tahu kalau aku melupakan nazar ini, Engkau tidak akan melupakannya. Sejak awal ini, Tuhan, aku ingin menyerahkan kewajiban ini kepada-Mu dengan jelas. Tuhan, janganlah membiarkan aku. Ingatkan-lah aku untuk berdoa.”

MENYISIHKAN WAKTU-WAKTU TERTENTU

Setelah kita mengadakan perjanjian dengan Tuhan tentang doa, kita harus menyisihkan waktu-waktu tertentu untuk berdoa. Misalkan, Anda boleh menyisihkan sepuluh menit setiap pagi. Selama waktu tersebut, berdoa harus menjadi prioritas utama. Kita harus menganggap doa sebagai urusan yang terpenting, dan tidak ada satu hal pun boleh mengganggunya. Jika kita tidak mempunyai sikap yang demikian, kita tidak mungkin memiliki kehidupan doa yang sukses. Tidak peduli berapa banyak hal yang harus kita lakukan setiap hari, setidak-tidaknya kita dapat menyisihkan beberapa menit di sana atau di sini untuk berdoa. Kita boleh berdoa sedikit pada pagi hari, dan berdoa lagi di tengah hari setelah selesai bekerja, dan malamnya kita boleh menyisihkan waktu lagi untuk berdoa. Melalui menyisihkan waktu-waktu tertentu dalam sehari, mungkin kita dapat menyisihkan setengah jam untuk berdoa.

Bila Anda hendak menjaga waktu-waktu tertentu untuk berdoa di rumah, putuskanlah hubungan telepon Anda. Ini akan membantu Anda untuk menghindari gangguan. Waktu doa bukanlah waktu bertelepon. Lagi pula, janganlah menghiraukan orang yang mengetuk pintu Anda. Waktu yang telah Anda persembahkan kepada Tuhan untuk berdoa hanya boleh dipakai untuk berdoa, bukan untuk hal-hal yang lain. Dalam hal ini, Anda harus kuat dan tekun.

Agar kita mempunyai lebih banyak waktu untuk berdoa, kita perlu menghemat waktu dalam sehari. Sebagai contoh, mungkin kita dapat mengurangi waktu yang dipakai untuk berdandan atau bercakap-cakap dengan orang lain. Percakapan yang tidak perlu akan melemahkan roh doa kita, merusak suasana doa, dan menyita waktu yang dapat kita pakai untuk berdoa. Pergumulan untuk doa itu berlangsung terus-menerus, mungkin akan berlangsung hingga masa kekal.

Apa yang telah saya persekutukan tentang doa ini bukan satu doktrin belaka, melainkan berasal dari pengalaman bertahun-tahun. Sejauh yang menyangkut masalah doa, harus saya akui bahwa saya pernah mengalami banyak kegagalan. Saya dapat membanggakan sukses besar dalam kehidupan doa saya. Sebaliknya, saya pernah mengalami banyak kegagalan karena adanya tentangan dari musuh, gangguan-gangguan di sekeliling, dan bahkan hambat-an-hambatan dari dalam batin. Saya tahu jelas bahwa doa merupakan satu peperangan. Karena doa itu suatu peperangan, perjuangan, kita harus bertekun di dalamnya.

MANFAAT DOA

Bertekun dalam doa mengandung banyak manfaat. Melalui doa, kita memikirkan hal-hal yang di atas. Pada hakikatnya, doa merupakan satu-satunya cara untuk memikirkan hal-hal yang di surga. Ketika kita memikirkan hal-hal yang di atas melalui berdoa, kita tidak akan berdoa untuk hal-hal yang sepele. Sebaliknya, doa kita akan diduduki oleh doa syafaat, ministri, dan pemerintahan Kristus yang surgawi. Karena Kristus sedang berdoa syafaat bagi gereja-gereja di seluruh dunia, kita pun berdoa bagi semua gereja. Biarlah Tuhan yang memperhatikan semua hal kecil dalam kehidupan kita. Kewajiban kita ialah mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Karena Bapa mengetahui keperluan kita, Ia akan memperhatikan kita dan mencukupi keperluan kita.

Bila kita memikirkan hal-hal yang di atas selama waktu doa kita, kita akan menjadi refleksi (pantulan) ministri Kristus di surga. Melalui doa kita, Kristus, Sang Kepala akan mendapat jalan untuk melaksanakan pemerintahan-Nya melalui Tubuh-Nya. Bila kita berdoa, kita adalah duta besar surgawi di bumi yang memperluas Kerajaan Allah. Namun, ketika kita bergosip, kita sama sekali bukan duta besar surgawi. Hanya bila kita berdoalah baru kita benar-benar menjadi duta besar kerajaan surgawi di bumi secara riil.

Ketika kita berdoa, kita masuk ke dalam tempat yang maha kudus, dan menghampiri takhta anugerah. Ibrani 4:16 mengatakan, “Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya.” Doa adalah jalan untuk menghampiri takhta anugerah. Dengan menghampiri takhta anugerah, kita akan menerima rahmat dan anugerah untuk mencukupi keperluan kita pada waktunya. Bila kita berdoa, menghampiri takhta anugerah, rahmat dan anugerah akan menjadi sebuah sungai yang mengalir ke dalam kita dan menyuplai kita. Betapa indahnya pahala ini! Menerima aliran anugerah dalam doa sebenarnya lebih penting daripada terkabulnya doa-doa kita. Terkabul atau tidaknya doa kita itu perkara sekunder, tetapi yang primer ialah mengalirnya anugerah bagaikan sungai dari takhta dan memasuki diri kita.

Menerima sungai anugerah berarti baterai rohani kita diisi dengan arus listrik surgawi. Arus listrik surgawi atau listrik ilahi ini adalah Allah Tritunggal sebagai anugerah mengalir dari takhta ke dalam batin kita. Suplai dan kenikmatan yang didatangkan olehnya sungguh tidak terkatakan.

Orang Kristen hari ini lemah karena baterai rohani mereka tidak diisi. Karena mereka kurang berdoa, mereka pun kurang transmisi surgawi. Sepanjang hari, kita perlu selalu diisi dengan arus listrik ilahi. Ini benar-benar merupakan satu pahala bagi ketekunan kita dalam berdoa.

Manfaat lainnya dari berdoa berkaitan dengan persekutuan kita dengan Tuhan. Kita semua menyukai kehadiran dan pengurapan Tuhan, dan kita semua senang bersekutu dengan-Nya. Tetapi, bagaimanakah kita dapat menikmati penyertaan-Nya dan bersekutu dengan-Nya? Cara satu-satunya ialah berdoa. Ketika kita berdoa, kita akan masuk ke dalam persekutuan dengan Tuhan dan menyadari fakta bahwa kita benar-benar satu roh dengan Dia dan Dia benar-benar satu roh dengan kita. Semakin banyak berdoa, kita akan semakin mengalami bersatu dengan Tuhan, dan semakin menikmati penyertaan-Nya dan bersekutu dengan-Nya. Alangkah indahnya pahala ini!

Untuk menempuh kehidupan doa yang normal pada awalnya memang selalu sulit. Tetapi jika Anda mempraktikkannya cukup lama, akan menjadi semakin mudah, sebab Anda menyadari pahala yang akan Anda peroleh melalui berdoa.

Kita telah tampak bahwa untuk kehidupan orang Kristen yang normal, kita perlu memikirkan hal-hal yang di atas, perlu pembaruan manusia baru, perlu damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam kita, dan perlu membiarkan perkataan Kristus berumah di batin kita. Tetapi keempat hal ini, semuanya memerlukan doa. Untuk mempraktikkan dan mengalami hal-hal ini kita perlu berdoa. Doa akan memasukkan kita ke dalam realitas keempat hal ini dan memelihara kita dalam realitas ini.

BERJAGA-JAGA SAMBIL MENGUCAP SYUKUR

Dalam menganjuri kita bertekun dalam doa, Paulus menyuruh kita berjaga-jaga sambil mengucap syukur (4:2). Hal ini menunjukkan jika kita tidak mengucap syukur kepada Allah bagi suatu hal, kita pasti kurang berdoa. Sepanjang hari kita perlu bersyukur kepada Allah. Kita perlu menjadi orang-orang yang mempersembahkan syukur kepada-Nya secara terus-menerus. Jika kita bersyukur kepada Tuhan secara konstan, mungkinkah saudara berbantah-ban-tah dengan istrinya? Pasti tidak! Perdebatan antara suami dengan istri merupakan satu tanda bahwa mereka kurang berdoa. Tanda orang yang bertekun dalam doa adalah bersyukur. Bersyukur kepada Tuhan yang demikian ini akan memelihara Anda dalam kehidupan doa Anda.

Dalam Kolose 4:2 Paulus tidak mengatakan bertekun dalam doa dan berjaga-jaga, melainkan, “Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah dengan mengucap syukur.” Kita berjaga-jaga dalam doa melalui mengucap syukur kepada Tuhan. Jika kita secara terus-menerus mengucap syukur kepada Tuhan, maka lawan kita tidak akan berdaya membuat kita meninggalkan kehidupan doa kita. Doa dipertahankan melalui berjaga-jaga sambil mengucap syukur.

ANUGERAH DAN HIKMAT

Dalam Kolose 4:6 Paulus mengatakan, “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh anugerah, seperti diberi garam, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Tl.). Jika kita adalah orang-orang yang berdoa, kita akan mengucap syukur kepada Tuhan di satu pihak, dan di pihak lain, anugerah akan menyertai perkataan kita. Dari mulut kita akan mengalir ucapan syukur kepada Allah dan berkata-kata dengan penuh anugerah kepada orang lain. Dengan jalan inilah kita akan mengetahui bahwa kita adalah pendoa-pendoa. Tetapi, jika perkataan kita kekurangan anugerah, kita pasti kekurangan doa. Ketika kita menyadari kita kekurangan anugerah, kita perlu berdoa lagi dan diisi dengan listrik ilahi. Kemudian mulut kita akan dipenuhi anugerah.

Dalam Kolose 4:5 Paulus mengatakan, “Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, tebuslah waktu” (Tl.). Ini merupakan hasil dari bertekun dalam doa. Jika kita berdoa tanpa henti, mengucap syukur kepada Allah, dan perkataan kita dipenuhi anugerah, kita akan dengan spontan menjadi orang yang sangat berhikmat dan tahu bagaimana menebus waktu kita. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak ada waktu yang akan kita sia-siakan. Jika kita penuh dengan syukur kepada Allah dan anugerah terhadap orang lain, kita akan mempunyai hikmat untuk berperilaku dengan cara yang dapat memuliakan Allah dan membangun orang lain. Kemudian waktu kita akan dapat kita tebus.

Mengenai bertekun dalam doa, saya ingin sekali lagi menegaskan bahwa kita harus bersedia berurusan dengan Tuhan, bahkan bernazar kepada-Nya bahwa kita mau menjadi pendoa. Jika semua orang kudus di setiap gereja mau berurusan sedemikian dengan Tuhan, pemulihan akan diperkaya dan ditinggikan secara besar-besaran. Lagi pula, orang-orang kudus akan menikmati Tuhan, kehadiran-Nya, dan pengurapan-Nya yang instan dan konstan. Sepanjang hari mereka akan menikmati senyuman wajah Tuhan. Ketika kita bertekun dalam doa, persona Kristus yang hidup akan menjadi pengalaman dan kenikmatan kita.

?