← Daftar isi Kolose (2) · bab 15/21

SATU POSISI, SATU HAYAT, SATU KEHIDUPAN, SATU NASIB, DAN SATU KEMULIAAN DENGAN KRISTUS

Pembacaan Alkitab: Kol. 3:1-4; 1 Yoh. 4:15, 13; 1 Kor. 6:17

Kolose 3:1-4 menyiratkan bahwa kita dengan Kristus mempunyai satu posisi, satu hayat, satu kehidupan, satu nasib, dan satu kemuliaan. Karena kita dengan Kristus mem-punyai satu posisi, maka kita berada di tempat Dia berada. Kita dengan Kristus juga memiliki satu hayat, yaitu hayat yang sama. Hayat yang Ia miliki juga kita miliki. Lagi, kita dengan Kristus memiliki satu kehidupan. Kehidupan kita adalah kehidupan Dia. Bila kita hidup, Dia pun hidup, sebab Dia hidup dalam kehidupan kita. Kalau kita mempu-nyai satu kehidupan dengan Kristus secara riil dari hari ke hari, maka apa pun yang kita lakukan, Dia juga melaku-kan. Ini berarti bila kita berbicara, Dia juga berbicara. Ka-lau kita melakukan sesuatu yang berbeda dengan apa yang Kristus lakukan, itu berarti kita tidak mempunyai satu kehidupan dengan Dia. Sebagai contoh, jika kita marah dan Kristus tidak marah, berarti kita tidak mempunyai satu kehidupan dengan Dia pada waktu itu. Dalam keadaan de-mikian, kehidupan kita bukan kehidupan Dia. Kita harus mengekang diri dari amarah, tetapi bukan karena kita ingin berusaha menaati perintah Alkitab, melainkan karena kita merasa Kristus yang di dalam kita tidak marah. Kalau kita hanya ingin mengontrol amarah kita, kita adalah seorang yang agamis. Tetapi jika kita tidak marah-marah karena kita hidup bersama Kristus, kita adalah satu dengan Dia dalam hayat dan kehidupan. Puji Tuhan, kita mempunyai satu posisi, hayat, dan kehidupan dengan Kristus!

Kita juga memiliki satu kemuliaan dan satu nasib de-ngan Kristus. Kemuliaan adalah masa depan dan tujuan kita. Tuhan Yesus sekarang berada dalam kemuliaan. Tetapi, Dia sekarang berada dalam kemuliaan dengan cara yang tersembunyi dari manusia. Jika Anda bertanya kepada orang di dunia ini di manakah Yesus berada, mereka akan men-jawab bahwa mereka tidak tahu. Tetapi kita tahu Dia ada di mana, Dia ada dalam kemuliaan. Pada suatu hari Kristus akan berada dalam kemuliaan tidak lagi secara tersem-bunyi, tetapi secara terbuka, yaitu secara nyata. Kemudian setiap orang di bumi akan mengetahui bahwa Tuhan Yesus berada dalam kemuliaan. Nasib Kristus ialah akan berada dalam kemuliaan secara terbuka. Itu pula nasib kita. Kita dapat berkata, “Kemuliaan adalah tujuan dan nasib kita. Kita sedang menuju ke kemuliaan. Tujuan kita tidak hanya surga, tetapi juga kemuliaan.” Karena kemuliaan itu tujuan atau nasib kita, maka pada akhirnya kita akan memiliki satu kemuliaan dengan Kristus. Tidaklah mungkin kita me-lukiskan kemuliaan ini sekarang, sebab kita masih belum memasukinya. Namun saya percaya, jika kita berada dalam kemuliaan, kita akan lupa diri karena sukacita dan kegembiraan luar biasa. Kita mungkin akan menari-nari, berteriak-teriak, dan memuji-muji Tuhan. Dalam kemuliaan kita akan memahami Allah kita itu sangat menggirangkan. Ketika kita berada dalam kemuliaan bersama Kristus, kita pun akan girang.

DALAM KRISTUS, DALAM BAPA, DALAM SURGA

Posisi kita ialah di dalam Kristus. Karena kita di da-lam Dia, maka kita ada di tempat Dia berada, di sebelah kanan Allah (3:1). Dalam Yohanes 17:24, Tuhan Yesus ber-doa, “Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku.” Berada di tempat Tuhan Yesus berada bukanlah satu masalah geo-grafis. Tuhan berada di dalam Bapa, dan Dia berdoa agar murid-murid yang belum berada dalam Bapa dapat dimasuk-kan ke dalam-Nya. Karena itu Tuhan berdoa agar mereka berada di tempat Dia berada.

Mengenal bahwa posisi kita tidak saja di dalam Kristus, tetapi juga di dalam Bapa, adalah satu hal yang penting sekali. Dalam Injil Yohanes kita diberi tahu dengan jelas bahwa Putra berada di dalam Bapa (10:38; 14:10). Ini ber-arti posisi Putra ialah di dalam Bapa. Karena posisi kita hari ini berada dalam Putra, dalam Kristus, maka kita pun berada di dalam Bapa. Sudah pasti Bapa berada di surga. Jadi, kita pun ada di surga. Tetapi dalam membicarakan hal ini, kita mempunyai pengertian yang berbeda dari pe-ngertian kebanyakan orang Kristen. Sering kali ketika orang-orang Kristen mengatakan mereka akan berada di surga, maksud mereka ialah mereka akan berada di surga di luar Bapa. Tetapi ketika kita mengatakan kita berada di surga, berarti kita akan berada di surga di dalam Bapa. Di sini terdapat perbedaan yang besar. Kita berada di dalam Kristus, di dalam Bapa, dan karena itu kita berada di surga.

MENGALAMI TRANSMISI SURGAWI

Jika kita berhenti di sini, kita hanya mempunyai pengertian yang doktrinal tentang posisi kita bersama Kristus. Kita hanya mengetahui fakta bahwa kita ada di dalam Kristus, di dalam Bapa, dan di dalam surga. Yang membuat hal ini menjadi riil ialah kita menjadi satu roh dengan Tuhan (1 Kor. 6:17). Jika kita berada di dalam roh barulah kita berada di dalam Kristus, di dalam Bapa, dan di dalam surga secara riil dan dalam pengalaman.

Lihatlah bagaimana lampu-lampu balai sidang berhu-bungan dengan pusat pembangkit listrik melalui aliran listrik. Tanpa aliran atau arus listrik, lampu-lampu hanya berhu-bungan dengan balai sidang, tidak dengan pusat pembang-kit listrik. Tetapi melalui arus listrik, lampu-lampu itu akan berhubungan dengan pusat pembangkit listrik. Demi-kian pula, melalui transmisi yang kita alami dalam roh kita, kita telah dihubungkan dengan pusat pembangkit listrik surgawi. Puji Tuhan, suatu transmisi sedang berlangsung dari surga ke dalam roh kita! Bila kita mengalami trans-misi ini, kita baru benar-benar berada di dalam Kristus, di dalam Bapa, dan di dalam surga. Roh kita berhubungan lang-sung dengan surga. Transmisi surgawi dimulai dari surga dan berakhir di dalam roh kita. Karena kita boleh meng-alami dan menikmati transmisi yang unik ini, kita tidak perlu pergi ke surga untuk berada di surga. Asalkan kita berada di dalam roh kita di mana kita mengalami trans-misi dari surga, maka kita sudah berada di surga. Sebagai-mana lampu-lampu dalam balai sidang berhubungan dengan pusat pembangkit listrik melalui arus listrik, begitu pula kita berhubungan dengan surga melalui transmisi ilahi yang mengalir dari takhta Allah di surga ke dalam roh kita.

Ketika saya masih muda, saya berusaha sekuat tenaga untuk memahami bagaimana saya dapat berada di surga melalui membaca Alkitab. Menurut pengertian saya, saya masih di bumi dan sama sekali bukan di surga, tidak pe-duli bagaimana gembiranya saya di dalam Tuhan. Kini saya tahu, karena adanya transmisi dari takhta Allah di surga ke dalam roh saya, maka ketika saya menikmati Tuhan di bumi, saat itu juga saya berada di surga.

Dalam Kolose 3:1 Paulus berkata bahwa jika kita telah bangkit bersama Kristus, kita harus mencari hal-hal yang di atas. Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa kita mem-punyai satu posisi dengan Kristus. Bagaimana kita dapat mencari hal-hal yang di atas jika kita tidak berada di atas? Untuk mencari hal-hal yang di atas haruslah kita berada di surga di mana hal-hal itu berada.

DI SURGA ATAU DI BUMI?

Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, kita berada di surga atau di bumi? Dalam menjawab pertanyaan ini kita harus berhati-hati. Jawaban yang tepat ialah ketika kita berada dalam roh kita berada di dalam surga, tetapi ketika kita tidak berada di dalam roh, kita berada di bumi, secara pengalaman, bahkan berada di bawah bumi. Menurut peng-alaman kita, kita tahu bahwa di dalam roh kita mungkin berada di surga selama satu menit, tetapi karena kita tidak tetap tinggal di dalam roh kita, maka kita segera pula ja-tuh ke bumi. Sebagai contoh, ketika Anda beserta dengan Tuhan di waktu pagi, Anda mungkin berada di surga, Anda telah masuk ke dalam roh melalui doa. Tetapi pada waktu sarapan, mungkin istri atau suami Anda mengatakan se-suatu yang membuat Anda jengkel, dan Anda segera terse-ret keluar dari roh ke dalam daging. Anda tidak lagi berada di surga, melainkan berada di bumi. Hal ini menunjukkan bila kita berada di dalam roh barulah kita berada di surga. Jika kita berada di luar roh, kita akan menjadi milik bumi.

Dalam Kolose 3:1 Paulus menganjuri kita untuk men-cari hal-hal yang di atas. Cara untuk mencari hal-hal ini ialah berpaling ke dalam roh dan berseru kepada nama Tuhan. Pengalaman kita memberi tahu kita dengan jelas bahwa bila kita berpaling ke roh, kita akan menjamah sur-ga, sebab roh kita merupakan ujung penerimaan dari trans-misi ilahi, sedangkan takhta Allah di surga adalah ujung transmisi itu. Jadi, melalui berpaling ke dalam roh, kita terangkat ke dalam surga. Kemudian dalam pengalaman kita, kita berada di dalam Kristus, di dalam Bapa, dan di surga. Di dalam roh, kita satu posisi dengan Kristus, mencari hal-hal yang di atas.

SATU HAYAT DENGAN KRISTUS

Dalam Kolose 3:3-4 Paulus dua kali mengatakan tentang hayat. Ini menunjukkan bahwa kita memiliki satu hayat dengan Kristus. Dalam ayat 3 dia berkata bahwa ha-yat (hidup) kita “tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah”. Dalam ayat 4 dia mengatakan apabila “Kristus, yang adalah hayat (hidup) kita”. Untuk memahami hayat ini hayat macam apa, kita pertama-tama perlu membaca ayat-ayat ini, lalu memeriksa pengalaman kita, dan juga membandingkan ayat-ayat ini dengan ayat-ayat lain.

Menurut pengalaman kita dan menurut firman, hayat di sini adalah hayat Kristus yang menjadi hayat kita. Jika ini hanya hayat Kristus, tidak dapat disebut “hayat kita”. Fakta bahwa ini adalah “hayat kita” menunjukkan bahwa hayat ini adalah sesuatu yang telah menjadi milik kita. Tetapi, hayat ini bukan hayat alamiah kita, hayat yang kita warisi dari Adam. Hayat itu selamanya tidak dapat tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah. Allah tidak mungkin mengizinkan hayat alamiah yang diwarisi dari Adam itu tersembunyi di dalam Dia. Satu-satunya hayat yang dapat tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah ialah hayat ilahi, yakni hayat Kristus sendiri. Hayat inilah yang menjadi hayat kita. Pemakaian ungkapan “hayat kita” oleh Paulus ini menunjukkan bahwa kita dengan Kristus, juga dengan Allah sendiri, mempunyai satu hayat. Jangan mengira Allah mempunyai satu hayat, Kristus mempunyai satu hayat lain, dan kita yang percaya kepada Kristus memiliki hayat lain lagi. Tidak, Allah, Kristus, dan kaum beriman memiliki satu hayat. Hayat Allah adalah hayat Kristus, dan hayat Kristus telah menjadi hayat kita. Kita dapat mengumumkan bahwa kita memiliki hayat yang di-miliki Kristus, yakni hayat yang tersembunyi di dalam Allah. Alangkah ajaibnya hayat ini!

Mudah sekali kita memahami masalah kehidupan kris-tiani secara alamiah. Melihat seorang saudari yang halus, tenang, dan baik, kita mengira dengan memiliki karakteris-tik yang demikian pasti ia penuh dengan hayat. Bila meli-hat seorang saudara yang fasih bicara dan kata-katanya mantap, kita mungkin mengira kemantapan dan kefasihan itu adalah tanda-tanda dari hayat. Tetapi dalam kedua ke-adaan itu yang kita nampak mungkin adalah hayat ala-miah, bukan hayat yang dimiliki Kristus, yakni hayat yang tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah.

TIGA CIRI-CIRI HAYAT KRISTUS

Boleh jadi Anda ingin tahu bagaimana caranya membe-dakan hayat alamiah dengan hayat yang dimiliki Kristus, yakni hayat yang tersembunyi di dalam Allah. Pertama, hayat Kristus adalah hayat yang disalibkan; kedua, hayat Kristus ialah hayat yang dibangkitkan; dan ketiga, hayat Kristus ialah hayat yang tersembunyi di dalam Allah. Ke-tiga ciri-ciri inilah yang dapat membedakan hayat Kristus dengan hayat alamiah kita.

Hayat yang Disalibkan

Seorang saudari boleh jadi sangat ramah, halus, dan baik hati, tetapi semuanya itu mungkin adalah hayat ala-miah, yakni hayat yang belum disalibkan. Ini terbukti me-lalui fakta bila ia dihina atau ditekan ia akan hancur dan menangis. Air matanya menunjukkan bahwa ia hidup da-lam hayat alamiah. Hayatnya bukan hayat yang disalibkan.

Ketika Tuhan Yesus masih berada di bumi, Dia selalu menempuh hidup yang disalibkan. Walau dikritik dan dihi-na dengan hebat, Dia tidak menangisi diri-Nya sendiri. Se-baliknya, Dia dapat berkata, “Bapa, Aku bersyukur bahwa ini adalah menurut kehendak-Mu.” Hayat-Nya adalah hayat yang disalibkan.

Kita kembali melihat contoh saudara yang fasih bicara tadi. Saudara yang demikian boleh jadi juga berada di dalam hayat alamiah. Ia mungkin memamerkan kefasihan bicaranya menurut hayat alamiah, hayat yang belum disalibkan.

Jika seseorang benar-benar sehayat dengan Kristus, maka hayatnya adalah satu hayat yang telah disalibkan. Hayat yang telah kita terima dari Tuhan Yesus bukanlah hayat yang mentah, yang belum melalui proses, melainkan hayat yang telah disalibkan, telah melalui proses, dan telah ditanggulangi seluruhnya. Kalau kita benar-benar mengenal hayat ini, kita tidak akan menangis bila kita dihina. Seba-liknya, kita akan bersyukur kepada Tuhan, bahkan memuji Dia dengan sungguh-sungguh.

Adakalanya ketika kita berada dalam daging dan di-hina orang, kita mungkin berkata “Amin” atau “Haleluya”. Tetapi, “Amin” dan Haleluya” kita pun bersifat daging. Ka-lau kita benar-benar menempuh hidup yang tersalib ketika kita dihina orang, kita tidak akan mengatakan apa-apa. Orang-orang yang berada di atas salib tidak mengatakan “Amin” maupun “Haleluya”. Mereka sama sekali tidak me-ngatakan apa-apa. Hayat yang kita perhidupkan hari ini seharusnya adalah hayat yang disalibkan ini.

Hayat yang Dibangkitkan

Hayat yang kita miliki bersama Kristus juga adalah hayat yang dibangkitkan. Tidak ada apa pun yang dapat menekannya, termasuk maut. Lagi pula, tidak ada air ma-ta dalam kebangkitan. Misalkan, seorang saudari ingin me-nangis ketika ia dikritik karena cara membersihkan sebuah kamar dalam balai sidang. Apakah ini hayat yang dibang-kitkan? Sudah tentu bukan! Tidak ada tempat bagi tangis-an di dalam hayat yang dibangkitkan. Tetapi bila saudari ini menempuh hidup yang dibangkitkan ketika ia member-sihkan balai sidang, ia tidak akan terganggu jika ada orang mengkritik pekerjaannya. Ini adalah perbedaan lain antara hayat yang dibangkitkan dengan hayat alamiah.

Hayat yang Tersembunyi

Jika hayat alamiah kita belum ditanggulangi, pelayan-an kita dalam gereja tidak bisa bertahan lama. Jika kita melayani dalam hayat alamiah, kita akan mudah sekali tersinggung, dan pada akhirnya kita akan berhenti mela-yani. Tetapi jika hayat pelayanan kita adalah hayat yang disalibkan dan dibangkitkan, tidak ada satu hal pun yang dapat menaklukkannya.

Tidak hanya demikian, hayat yang Kristus miliki adalah hayat yang tersembunyi di dalam Allah. Seperti telah kita tunjukkan, hanya hayat ilahilah yang dapat tersembunyi di dalam Allah. Saya sangat mengapresiasi kata “tersembunyi” ini (3:3). Hayat yang dimiliki Kristus bukan satu hayat yang menonjol, melainkan tersembunyi. Jika Anda melayani dengan hayat ini, Anda tidak ingin dilihat orang. Sebaliknya, Anda lebih suka melayani dengan diam-diam. Hayat alamiah kita berlawanan dengan hayat ini, sebab ia suka menonjolkan diri. Agama hari ini justru tertarik kepada unsur hayat alamiah ini. Sebagai contoh, orang-orang yang memberi sumbangan banyak akan dipuji di muka umum, sedangkan orang-orang yang sumbangannya sedikit jarang disebut-sebut, atau bahkan tidak disebut sama sekali. Agama merawat hayat alamiah, tetapi dalam gereja hayat alamiah diakhiri.

Apa pun yang kita lakukan di dalam gereja harus dila-kukan dengan hayat yang tersembunyi di dalam Allah. Da-lam Matius 6 Tuhan Yesus membicarakan tentang melaku-kan sesuatu dengan cara tersembunyi, bukan di hadapan manusia (ay. 1-6, 16-18). Bahkan memberikan persembahan kepada Tuhan pun harus tersembunyi. Segala yang kita perbuat haruslah memperhidupkan hayat yang tersembu-nyi, yaitu hayat yang tersembunyi bersama Kristus di da-lam Allah.

SATU KEHIDUPAN DENGAN KRISTUS

Sekarang mari kita melihat masalah satu kehidupan dengan Kristus. Dalam Kolose 3:1-4 nampaknya tidak ada petunjuk tentang ini. Bahkan kata kehidupan pun tidak dipakai. Tetapi Paulus sebenarnya menyuruh kita mencari hal-hal yang di atas dan memikirkan hal-hal yang di atas. Ini mengacu kepada kehidupan kita. Mencari hal-hal yang di atas dan memikirkan hal-hal yang di atas adalah masa-lah kehidupan kita. Kita tidak hidup dengan cara bumiah atau dengan cara duniawi. Sebaliknya, kita harus hidup dengan cara surgawi, yakni mencari hal-hal yang di atas dan memikirkan hal-hal yang di atas.

KEDUA JENIS MINISTRI KRISTUS

Pada butir ini kita perlu nampak bahwa Tuhan Yesus memiliki dua macam ministri: ministri-Nya di bumi sebe-lum kebangkitan-Nya dan ministri-Nya di surga setelah ke-bangkitan-Nya. Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Ia telah melaksanakan suatu ministri yang besar dan telah berbuat sangat banyak. Dalam proses ministri ini, Ia telah meram-pungkan penebusan bagi kita. Menurut Ibrani 1:3, setelah menyelesaikan ministri-Nya di bumi, Tuhan duduk di sebe-lah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi. Walau ministri-Nya yang di bumi telah genap, ministri-Nya yang di surga masih berlangsung terus.

Hari ini Kristus melayani secara lebih tinggi dan lebih luas. Sebagai Imam Besar, Ia mendoakan kita dan memper-hatikan seluruh gereja, dan mentransmisikan suplai surgawi ke dalam gereja-gereja. Kristus sekarang lebih sibuk daripada ketika Ia berada di bumi. Di bumi Ia terutama memper-hatikan murid-murid-Nya, tetapi di surga Ia memperhati-kan gereja-gereja yang sangat banyak serta jutaan orang kudus. Dia tidak semata-mata mendoakan kita sebagai Imam Besar, Ia juga melayani kita sebagai minister surgawi. Tidak hanya demikian, menurut Wahyu 5, sebagai pengelola pemerintahan surgawi, Ia sedang melaksanakan pemerin-tahan Allah yang universal. Dialah Anak Domba yang ber-mata tujuh, yang melaksanakan pemerintahan Allah. Seba-gai Imam Besar, Ia mendoakan; sebagai minister surgawi, Ia melayani; sebagai Penebus bermata tujuh, mata Allah, Ia melaksanakan pemerintahan Allah bagi penggenapan ke-hendak Allah. Semua ini adalah hal-hal yang di atas, yang perlu kita pikirkan.

BERSATU DENGAN TUHAN

DALAM MINISTRI SURGAWI-NYA

Mencari hal-hal yang di atas dan memikirkan hal-hal yang di atas berarti bersatu dengan Tuhan dalam ministri-Nya yang di surga. Kita perlu menyatukan diri kita kepada persona yang mendoakan, melayani, dan melaksanakan pe-merintahan Allah. Kehidupan kita haruslah merupakan sejenis kehidupan yang di dalamnya kita mencari hal-hal yang di atas, dan memikirkan hal-hal itu. Ini berarti kita hidup melalui bersatu dengan Kristus kita yang surgawi da-lam imamat-Nya, ministri-Nya, dan pemerintahan-Nya. Jika kita semua hidup dengan cara demikian, hidup gereja akan ditinggikan secara luar biasa.

Konsepsi Paulus dalam Kitab Kolose ialah: kita harus berpaling dari setiap hal yang di bumi, yakni dari agama Ya-hudi, Gnostikisme, dan pertapaan, kepada hal-hal yang di atas. Kita perlu menyatukan diri kita kepada hal-hal tersebut melalui memikirkan hal-hal yang di atas. Marilah kita beker-ja sama dengan Kristus dalam ministri-Nya yang di surga. Dalam kehidupan kita yang kita perhatikan haruslah ke-imaman, ministri, dan pemerintahan Kristus yang surgawi. Kita wajib memperhatikan bahwa gereja-gereja disuplai de-ngan transmisi dari surga. Jika demikian, berarti kita men-cari hal-hal yang di atas dan memikirkan hal-hal yang di atas.

Karena Kristus mendoakan gereja tertentu, kita pun mungkin berbeban untuk mendoakan gereja itu. Kemudian kita mohon Tuhan mentransmisikan suplai surgawi-Nya ke dalam kaum saleh di tempat itu. Kapan pun kita menerima berita tentang kebutuhan di suatu tempat, kita wajib segera mendoakannya, menyatukan diri kita kepada Kristus dalam doa syafaat-Nya untuk kebutuhan tersebut. Demikian, berarti kita memikirkan hal-hal yang di atas.

Kita di bumi bukan untuk pekerjaan, pendidikan, ke-hidupan keluarga, atau kesehatan kita. Kita hidup untuk ekonomi, kehendak, dan pemerintahan Allah. Kita bersatu dengan Kristus dalam imamat surgawi-Nya, dan dengan de-mikian kita memiliki satu kehidupan dengan Dia. Jika kita semua memiliki satu kehidupan dengan Kristus secara riil, semua hal yang negatif akan berada di bawah kaki kita. Haleluya, kita memiliki satu kehidupan dengan Kristus!

Standar kita harus ditinggikan. Kita di sini tidak men-cari hal-hal yang di bumi, tetapi satu kehidupan dengan Kristus. Kristus hari ini hidup sebagai Imam Besar, minis-ter surgawi, dan pengelola pemerintahan alam semesta. Kita perlu bersatu dengan Dia dalam kehidupan-Nya, dan satu kehidupan dengan Dia.

SATU NASIB DAN SATU KEMULIAAN

DENGAN KRISTUS

Kita pun memiliki satu nasib dan satu kemuliaan dengan Kristus. Kita bukan tanpa sasaran, kita adalah orang-orang yang mempunyai satu nasib dan satu sasaran. Kita berlomba-lomba dengan satu tujuan tertentu di hadapan kita.

Nasib kita adalah kemuliaan. Hari ini kita tersem-bunyi di dalam Allah, tetapi ketika Kristus dinyatakan, kita akan dinyatakan bersama Dia dalam kemuliaan (3:4). Bila kita dinyatakan bersama Kristus, kita akan menjadi ton-tonan bagi alam semesta. Bahkan setan-setan pun akan me-lihat kita dimuliakan. Namun, hari ini kita tidak seharus-nya memamerkan diri, melainkan harus tetap tersembunyi di dalam Allah, menantikan saat kita mencapai tujuan kita dan memasuki kemuliaan bersama Kristus. Kemudian, pa-da saat yang telah ditetapkan, yakni pada saat ketentuan ilahi dinyatakan, anak-anak Allah akan dinyatakan dalam kemuliaan.

Kita dapat memiliki satu kedudukan, satu hayat, satu kehidupan, satu nasib, dan satu kemuliaan dengan Kristus hanya karena kita adalah satu roh dengan Dia. Seperti yang Paulus katakan dalam 1 Korintus 6:17, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Karena kita satu roh dengan Dia, kita tentu memiliki kedudukan, satu hayat, satu kehidupan, satu nasib, dan satu kemuliaan dengan Dia.

BERSATU DENGAN ALLAH TRITUNGGAL

DAN BERBAUR DENGAN-NYA

Hayat kita adalah Kristus yang berhuni di batin kita, dan hayat ini tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah. Di satu pihak, hayat ini adalah Kristus di dalam kita, di pi-hak lain, hayat ini bersama Kristus di dalam Allah. Di sini kita nampak satu perbauran yang melibatkan Allah, Kristus, dan kita. Kita bersatu dengan Allah Tritunggal dan berbaur dengan Dia. Di mana Dia berada, kita juga ada di sana. Tidak hanya demikian, hayat, kehidupan, nasib, dan kemuliaan Allah Tritunggal, semuanya adalah milik kita.

Para penentang kita akan mengatakan ini adalah bidah. Namun, semua ini sesuai dengan Alkitab. Dengan fir-man Allah sebagai dasar saya, saya dapat bersaksi bahwa kita yang beriman di dalam Kristus mempunyai satu posisi bersama Allah Tritunggal, sehayat dengan Dia, satu kehidupan, satu nasib dan satu kemuliaan dengan Dia.

Satu Yohanes 4:15 mengatakan, “Siapa yang mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di da-lam dia dan dia di dalam Allah.” Kalau bukan perbauran Allah dengan manusia, apakah ini? Allah diam di dalam kita, dan kita diam di dalam Dia. Sudah pasti ini ditujukan kepada perbauran kaum beriman dengan Allah Tritunggal. Selain itu, 1 Yohanes 4:13 mengatakan, “Demikianlah kita ketahui bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita, karena Ia telah mengaruniakan Roh-Nya ke-pada kita.” Puji Tuhan, kita bersatu dengan Allah Tritung-gal dan berbaur dengan Dia! Kita satu posisi, satu hayat, satu kehidupan, satu nasib, dan satu kemuliaan dengan Dia!