← Daftar isi Kolose (2) · bab 14/21

MENCARI HAL-HAL YANG DI ATAS DAN MEMIKIRKAN HAL-HAL YANG DI ATAS

Pembacaan Alkitab:

Kol. 3:1-3; Ibr. 2:9a; 4:14-16; 7:25; 6:19-20; 8:1-2;

Kis. 2:36; Ef. 1:20-23; Why. 4:1-2, 5; 5:6

Dalam Kolose 3:1 Paulus menyuruh kita untuk mencari hal-hal yang di atas, dan dalam ayat 2 menyuruh kita memikirkan hal-hal yang di atas. Dalam berita ini kita akan membahas apa artinya mencari hal-hal yang di atas dan memikirkan hal-hal yang di atas itu.

KEKAYAAN DALAM KITAB KOLOSE

Paulus menulis Kitab Kolose dengan cara yang sangat ringkas. Dalam empat pasal ini saja dia sudah menyajikan banyak kekayaan. Dalam Kolose 1:12 ditunjukkannya bah-wa Kristus adalah bagian orang-orang kudus. Dia yang men-jadi bagian kita adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari segala yang diciptakan, dan yang pertama bangkit dari antara orang mati (1:15, 18). Paulus juga memberi tahu kita bahwa Kristus adalah rahasia Allah (2:2) dan seluruh kepenuhan ke-Allahan berdiam secara jasma-niah di dalam-Nya (2:9). Sebagai rahasia Allah dan perwu-judan ke-Allahan, Dia adalah realitas, wujud, hakikat segala hal yang positif (2:16-17). Semakin menikmati Dia sebagai realitas ini, kita akan semakin berpegang teguh kepada-Nya yang adalah Kepala Tubuh, dan karenanya kita akan me-miliki perasaan Tubuh. Kemudian kita akan mengalami Dia sebagai hayat kita (3:4) dan sebagai unsur manusia baru (3:10-11). Dalam manusia baru ini, Kristus adalah semua anggota dan di dalam semua anggota. Dalam Surat Kirim-an ini, Paulus menyebut semua masalah yang besar ini tanpa mendefinisikannya. Namun, dia menunjukkan bahwa kita yang menikmati Kristus dan mengambil bagian atas Dia, dan yang tersusun menjadi anggota manusia baru, memiliki hidup yang tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah. Sekarang kita harus mencari hal-hal yang di atas dan memikirkan hal-hal yang di atas.

Walaupun Paulus menyuruh kita mencari hal-hal yang di atas dan memikirkan hal-hal yang di atas, tetapi dalam Kitab Kolose dia tidak memberikan definisi tentang hal-hal tersebut. Namun, dalam kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya, antara lain Kitab Ibrani, Kitab Efesus, dan Kitab Wahyu, ada beberapa jendela yang melaluinya kita dapat menero-pong surga dan mengetahui apa yang terjadi di sana. Jika kita memandang melalui jendela-jendela itu, kita akan me-ngetahui hal-hal di atas yang dimaksudnya itu.

DARI KEPENUHAN KEPADA MANUSIA BARU

Jalur tulisan Paulus sangat mirip dengan tulisan Yohanes. Dalam Kitab Kolose Paulus menyajikan Kristus yang adalah kepenuhan Allah yang tidak kelihatan. Setelah menyebutkan aspek demi aspek tentang Kristus yang sede-mikian itu, dia membicarakan manusia baru. Di antara Kristus sebagai kepenuhan Allah dalam pasal 1 dan manu-sia baru dalam pasal 3 kita memiliki pengalaman dan ke-nikmatan atas Kristus. Hasil dari pengalaman dan kenik-matan atas Kristus yang almuhit ini ialah gereja sebagai manusia baru. Karena itu, manusia baru berasal dari ke-nikmatan kita atas Kristus sebagai kepenuhan Allah. Bila kita menikmati Kristus tiap hari, Dia akan digarapkan ke dalam kita dan tersusun ke dalam diri kita. Dengan demi-kian, Kristus menjadi unsur penyusun kita. Hari demi hari, Kristus tersusun ke dalam kita. Pada akhirnya, kita semua akan tersusun sepenuhnya oleh Dia. Hasil dari tersusun-nya kita oleh Kristus ialah kita menjadi manusia baru. Dalam manusia baru ini tidak ada tempat bagi manusia alamiah yang mana pun; hanya ada tempat untuk Kristus. Kristus adalah semua dan di dalam semua dalam manusia baru. Saya ulangi, dalam manusia baru Kristus adalah se-mua anggota dan berada di dalam segala anggota.

Satu-satunya jalan agar Kristus dapat menjadi semua di dalam segala sesuatu dalam manusia baru ialah Dia sen-diri tersusun ke dalam kita. Proses tersusunnya kita oleh Kristus terjadi melalui kenikmatan kita atas Kristus. Kita perlu berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu, aku me-mustikakan Engkau, dan aku menikmati Engkau. Tuhan, aku ada di bumi ini untuk-Mu, dan hanya untuk-Mu.” Se-makin terbuka kepada Tuhan dan berkontak dengan-Nya sedemikian, Ia pun akan semakin menginfuskan diri-Nya ke dalam kita dan memenuhi kita sampai meluap. Ketika kita berseru kepada Tuhan, memuji Tuhan, dan memper-sembahkan syukur dan penyembahan kita, kita akan dipe-nuhi oleh-Nya. Melalui kenikmatan dan pengalaman atas Kristus yang sedemikian ini, kita akan berangsur-angsur tersusun oleh-Nya. Ketika kita menikmati Dia, barulah Dia menyusun kita dengan diri-Nya sendiri.

Makan dan mencerna makanan merupakan satu ilus-trasi yang baik tentang bagaimana Kristus tersusun ke da-lam diri kita melalui kenikmatan kita atas Dia. Melalui satu proses pencernaan dan asimilasi, makanan yang kita makan itu menjadi bagian dari jaringan kita. Jika kita me-mahami hal ini, kita akan berhati-hati terhadap apa yang kita makan. Sebagian ahli diet atau ahli gizi mengatakan, kita adalah apa yang kita makan. Kalau kita makan ma-kanan tertentu dalam jumlah yang sangat besar, kita akan tersusun dari unsur-unsur makanan itu. Beberapa tahun yang lalu, saya perhatikan anak perempuan dari dokter ke-luarga kami di Taiwan kulitnya kekuning-kuningan. Dokter itu menjelaskan bahwa warna itu adalah akibat terlalu ba-nyak makan wortel. Anak perempuannya terlalu banyak makan wortel, sehingga ia tersusun dari wortel dan mem-pengaruhi warna kulitnya. Hal ini adalah bukti dari fakta bahwa makanan yang kita makan menjadi susunan kita. Prinsip ini sama dengan pengalaman kita atas Kristus. Ke-tika kita menikmati Dia melalui memakan Dia, Dia lalu tersusun ke dalam batin kita.

TRANSMISI SURGAWI

Sampai di sini kita mungkin bertanya bagaimana kita bisa menikmati Kristus, dan membiarkan Dia tersusun ke dalam kita kalau Dia kini berada di surga sedangkan kita ada di bumi? Jawabannya terletak dalam fakta bahwa ada suatu transmisi yang terjadi dari Kristus yang di surga kepada kita yang di bumi melalui Roh yang almuhit. Mela-lui transmisi ini, daya listrik dari pusat pembangkit listrik surgawi mengalir ke dalam kita, sama halnya dengan lis-trik mengalir dari pusat pembangkitnya ke rumah-rumah kita dan ke balai sidang ini. Haleluya atas transmisi dari langit tingkat ketiga ke dalam kita! “Dalam mulia ada Dia Sang hayat!” (Kidung No. 383). Kristus adalah Manusia da-lam kemuliaan, tetapi hayat-Nya untuk kita. Kita semua perlu satu visi tentang transmisi surgawi dari Kristus yang dimuliakan itu ke dalam kita. Lagi pula, kita perlu tetap terbuka kepada transmisi ini agar transmisi ini tidak ter-putus. Sebab, asalkan ada sedikit sekatan saja, transmisi ini akan terhenti. Di antara Kristus sebagai kepenuhan Allah dan satu manusia baru, terdapat pengalaman kita atas transmisi surgawi. Semoga tidak ada sekatan yang meng-hambat transmisi ilahi ini.

DARI KEPENUHAN KE YERUSALEM BARU

Tulisan Yohanes mirip dengan tulisan Paulus dalam masalah transmisi ini. Yohanes 1:16 mengatakan, “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah.” Kepenuhan Kristus adalah kepenuhan Allah. Dari kepenuhan ini kita semua telah menerima anugerah demi anugerah. Akhirnya, hasil dari menerima kepenuhan Kristus adalah Yerusalem Baru. Yerusalem Baru yang di-wahyukan melalui ministri Yohanes itu akan menjadi ke-simpulan terakhir dari manusia baru yang diwahyukan me-lalui ministri Paulus. Di satu pihak, Paulus memulai dari kepenuhan dan menuju manusia baru; di pihak lain, Yohanes memulai dari kepenuhan menuju Yerusalem Baru.

DIMAHKOTAI DENGAN KEMULIAAN

DAN KEHORMATAN

Dalam Kitab Ibrani, Kitab Efesus, dan Kitab Wahyu ter-dapat jendela-jendela yang melaluinya kita dapat melihat hal-hal yang di atas. Aspek pertama dari hal-hal yang di atas tercantum dalam Ibrani 2:9. Menurut ayat ini, kita nam-pak Yesus telah dimahkotai dengan kemuliaan dan kehor-matan. Kalau di bumi Ia diberi mahkota duri, tetapi di atas takhta di surga, Ia dimahkotai dengan kemuliaan dan ke-hormatan. Sebagai persona yang dimahkotai dengan kemu-liaan dan kehormatan, Kristus jauh lebih mustika daripada agama Yahudi atau filsafat Yunani. Memikirkan hal-hal se-perti agama Yahudi dan filsafat Yunani berarti memikirkan “hal-hal di bumi” (Kol. 3:2). Agama Yahudi dan filsafat Yu-nani merupakan hal-hal yang di bumi. Alihkanlah pandang-an kita dari hal-hal itu, dan pandanglah Yesus yang telah dibangkitkan dan naik ke surga, yang telah dinobatkan ser-ta dimahkotai dengan kemuliaan dan kehormatan. Karena kita telah dibangkitkan bersama Kristus, kita harus men-cari hal-hal yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah (3:1). Lupakanlah kebajikan alamiah kita dan pandanglah Tuhan Yesus. Janganlah mengapresiasi pembawaan dan karakter alamiah kita, tetapi apresiasilah persona yang dimahkotai dengan kemuliaan dan kehormat-an ini. Menurut Paulus, perhatian kita harus dipusatkan pada Tuhan Yesus saja; kita tidak boleh terpikat oleh hal lain apa pun.

TUHAN DAN KRISTUS

Dalam Kisah Para Rasul 2:36 kita jumpai aspek lain dari hal-hal yang di atas. Di sini Petrus mengumumkan, “Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, men-jadi Tuhan dan Kristus.” Yesus, tukang kayu dari Nazaret telah diangkat oleh Allah menjadi Tuhan atas segala sesua-tu dan Kristus. Alangkah ajaibnya! Jika kaum beriman di Kolose benar-benar menyadari hal ini, mereka pasti tidak akan diselewengkan oleh agama Yahudi atau filsafat Yunani. Hari ini Yesus adalah Kristus Allah, Sang terurap Allah, Tuhan segala sesuatu.

KEPALA DARI SEGALA SESUATU

Dalam Efesus 1:20-23 Paulus mengatakan bahwa Allah telah membangkitkan Kristus dari antara orang mati; men-dudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga, jauh lebih tinggi dari semua pemerintah, penguasa, kekuasaan, dan kerajaan, dan tiap-tiap nama, dan segala sesuatu telah di-taklukkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia diberikan-Nya kepada gereja, Tubuh-Nya, sebagai Kepala dari segala yang ada. Kekuasaan yang digunakan Allah dalam membangkitkan Kristus dari antara orang mati telah menjadikan Dia Kepala dari segala yang ada bagi gereja. Kristus telah dimahkotai dengan kemuliaan dan kehormatan, Dia kini adalah Tuhan dari segala sesuatu dan Kristus Allah, dan Dia juga adalah Kepala dari segala yang ada bagi Tubuh-Nya, yakni gereja. Sudah tentu, visi tentang Kristus yang sedemikian ini seharusnya membuat kita melupakan kebajikan dan karakteristik alamiah kita, sebab semua itu adalah hal-hal yang di bumi, bukan yang di atas.

PERINTIS

Dalam Ibrani 6:19-20 kita nampak bahwa Tuhan Yesus adalah Perintis, Pelopor, yang telah membukakan jalan ke dalam kemuliaan di balik tirai. Berada di balik tirai berarti berada di dalam kemuliaan. Sebagai Perintis, Pelopor kita, Kristus sekarang berada dalam kemuliaan.

IMAM BESAR

Kitab Ibrani juga mewahyukan bahwa Kristus adalah Imam Besar kita, yang “duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di surga” (Ibr. 8:1). Dalam Ibrani 4:14 dikata-kan bahwa kita mempunyai “Imam Besar Agung, yang te-lah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah”. Sebagai Imam Besar surgawi kita “Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang ke-pada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Peng-antara mereka” (Ibr. 7:25). Ketika kita berseru kepada Tuhan dan bersekutu dengan-Nya, kita akan merasa ada sesuatu dari surga ditransmisikan ke dalam kita. Sering kali transmisi ilahi ini membuat kita lupa diri karena gembira. Karena kita mempunyai seorang Imam Besar yang mendoa-kan kita, maka kita harus “dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rah-mat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolong-an pada waktunya” (Ibr. 4:16). Hal-hal yang di atas itu men-cakup ministri doa syafaat dari Imam Besar kita. Karena doa syafaat-Nya, kita dapat menerima rahmat dan anuge-rah bagi keperluan kita pada waktunya.

Karena doa syafaat Kristus di surga, kita pun dibang-kitkan untuk menuntut Tuhan. Jalan kita ialah di bawah petunjuk transmisi dari surga, yaitu transmisi yang berasal dari doa syafaat Kristus. Ketika kita tergoda untuk menun-tut hiburan duniawi dan tidak ingin menghadiri sidang ge-reja, transmisi surgawi ini dapat memimpin kita ke sidang. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa kita telah ber-ada di bawah petunjuk dari doa syafaat Kristus. Doa syafaat Imam Besar kita ini merupakan aspek lain dari hal-hal yang di atas.

PELAYAN SURGAWI

Tidak hanya demikian, menurut Ibrani 8:1-2, Kristus juga Pelayan (Minister) “kemah sejati” yang di surga. Kristus adalah Pelayan surgawi kita. Bila kita ditanya orang gereja apa yang kita kunjungi dan siapa pelayan kita, maka ja-waban yang terbaik ialah bahwa gereja kita berada di surga, dan pelayan kita ialah Yesus surgawi, yang mela-yani di dalam kemah yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia. Kemah ini, tempat kudus ini, ialah langit tingkat ketiga, yakni tempat maha kudus yang surgawi. Puji Tuhan karena tempat maha kudus di surga itu berhu-bungan dengan roh kita! Jadi, dalam pengalaman kita, roh kita yang dilahirkan kembali itu juga adalah tempat yang maha kudus. Roh kita berhubungan dengan langit tingkat ketiga, di mana Kristus melayani untuk kepentingan kita.

ANAK DOMBA DI ATAS TAKHTA

Dalam Kitab Wahyu kita nampak lebih banyak hal-hal yang di atas. Apa yang kita miliki dalam kitab ini bukan hanya satu jendela, melainkan satu langit yang terbuka. Langit telah terbuka bagi Yohanes, dan ia melihat “sebuah takhta di surga, dan di takhta itu duduk Seorang” (Why. 4:1-2). Takhta ini bukan hanya takhta anugerah, tetapi juga takhta kekuasaan, yakni takhta pemerintahan ilahi. Dalam Wahyu 4:5 Yohanes melanjutkan berkata, “Dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: Itulah ketujuh Roh Allah.” Yohanes juga memberi tahu kita bahwa di tengah-tengah takhta itu, ia melihat seekor Anak Domba: “Lalu aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan ber-mata tujuh: Itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke selu-ruh bumi” (Why. 5:6). Visi Yohanes dalam Wahyu 4-5 ini berkaitan dengan pemerintahan Allah hari ini. Dari visi Yohanes ini kita memahami bahwa surga bukan tenang atau tanpa aktivitas. Sebaliknya, dari takhta-Nya itu Allah melaksanakan pemerintahan-Nya atas alam semesta. Anak Domba, Sang Penebus, persona yang tersembelih di atas sa-lib bagi dosa-dosa kita, sekarang duduk di atas takhta, dan bermata tujuh, yaitu ketujuh Roh Allah.

PEMERINTAHAN DI SURGA

DAN KEDUTAAN BESAR DI BUMI

Visi pertama dalam Kitab Wahyu ialah tentang ketu-juh kaki pelita emas, yakni ketujuh gereja lokal (1:12, 20). Jadi, visi pertama ialah tentang gereja-gereja di bumi, se-dang visi kedua ialah tentang apa yang terjadi di surga. Bila digabungkan, maka kedua visi ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi dalam gereja-gereja di bumi berkaitan dengan aktivitas di surga. Seperti sebuah meteran listrik menunjuk-kan bahwa transmisi listrik sedang mengalir dari pusat pembangkitnya, demikian pula pergerakan Tuhan dalam ge-reja-gereja sesuai dengan aksi yang ada di atas takhta di surga. Ini berarti apa yang terjadi dalam gereja-gereja lokal harus berada di bawah petunjuk takhta Allah di surga. Agar pemulihan menjadi pemulihan (milik) “Tuhan”, pemulihan itu haruslah di bawah petunjuk-Nya. Selama ada transmisi yang berasal dari surga, maka aliran ilahi pun ada dalam gereja-gereja. Puji Tuhan, menurut Kitab Wahyu, gereja-ge-reja selalu berada di bawah petunjuk pemerintahan surgawi!

Tuhan Yesus, persona yang dimahkotai dengan kemu-liaan dan kehormatan; persona yang adalah Tuhan, Kristus, Kepala, Perintis, Imam Besar, dan Pelayan surgawi ini se-dang melaksanakan pemerintahan Allah di surga. Dialah Anak Domba yang bermata tujuh, ketujuh Roh Allah, yang melaksanakan pemerintahan Allah melalui gereja-gereja lokal. Sebenarnya, gereja-gereja adalah “kedutaan besar” Allah. Karena alasan ini, situasi dunia bukanlah dikenda-likan oleh kepala negara yang mana pun di dunia, tetapi dikendalikan oleh gereja yang melaluinya Allah melaksana-kan pemerintahan-Nya. Seperti halnya kedutaan besar Amerika Serikat di sebuah negara tertentu merupakan per-luasan dari negara Amerika Serikat, begitu pula, gereja-ge-reja sebagai kedutaan besar Allah ialah perluasan dari surga. Markas besar kita, atau pusat pemerintahan kita, berada di surga. Ketika saya ditanya orang tentang markas besar pe-mulihan Tuhan, dari lubuk batin saya berkata, “Markas besar pemulihan Tuhan berada di surga.”

Jangan mau diselewengkan seperti orang-orang Kolose, oleh agama Yahudi atau filsafat Yunani. Pandanglah ke surga, di mana ada takhta dan Allah sedang duduk di atas-nya, dan ada Anak Domba yang bermata tujuh sedang me-laksanakan pemerintahan Allah melalui gereja-gereja sebagai kedutaan besar-Nya. Karena gereja-gereja adalah kedutaan besar Allah, maka gereja-gereja sangat dibenci musuh. Dalam Wahyu 4 dan 5 kita nampak visi dari pemerintahan sentral kita, dan dalam Wahyu 1 hingga 3 kita nampak visi ten-tang gereja-gereja lokal sebagai kedutaan-kedutaan besar. Melalui ketujuh Roh terdapat suatu transmisi yang berasal dari markas besar surgawi mengalir ke dalam kedutaan-kedutaan besar itu. Segala yang ada dalam markas besar itu telah ditransmisikan ke dalam gereja-gereja melalui ke-tujuh Roh tersebut.

ALIHKAN PERHATIAN KITA

KEPADA HAL-HAL YANG DI SURGA

Sekarang sudahkah Anda mengerti apa yang dimaksud dengan hal-hal yang di atas? Kalau kita mengetahui hal-hal ini, kita akan nampak bahwa Tuhan Yesus telah dimah-kotai dengan kemuliaan dan kehormatan, Allah telah mem-buat-Nya menjadi Tuhan dan Kristus. Fakta bahwa Kristus adalah Tuhan dari segala sesuatu berarti seluruh bumi ini milik Tuhan. Kristus yang telah dinobatkan dan dipermulia-kan juga adalah Kepala, Perintis, dan Pelopor, Imam Besar, Pelayan surgawi, dan Anak Domba di atas takhta pemerin-tahan Allah. Dari takhta di surga inilah transmisi ilahi mem-bawakan hal-hal yang di atas ke dalam gereja-gereja lokal.

Jika kita nampak visi tentang hal-hal yang di atas ini, kehidupan sehari-hari kita akan mengalami satu perubahan yang besar. Hal ini akan mengalihkan perhatian kita dari hal-hal yang di bumi kepada hal-hal yang di surga, yakni kepada Yesus yang dimuliakan dan dinobatkan, kepada Imam Besar surgawi, kepada Sang Kepala segala sesuatu bagi ge-reja, dan kepada persona yang melaksanakan pemerintahan ilahi. Marilah kita mencari hal-hal ini dan memikirkan hal-hal ini.

Kita telah menunjukkan bahwa kebajikan dan karakteristik alamiah kita adalah unsur-unsur dunia. Sebagai contoh, kerendahan hati buatan sendiri, memang demikian (2:23). Jangan memperhatikan kebajikan kita sendiri, perhatikanlah Tuhan Yesus sebagai persona yang telah dimahkotai, sebagai Sang Kepala, Perintis, Imam Besar, dan Pelayan. Kita harus memperhatikan takhta di surga tempat Kristus, Anak Domba yang bermata tujuh, sedang melaksanakan pemerintahan Allah melalui gereja-gereja lokal.

Saya dapat bersaksi, dari hari ke hari saya dikuatkan oleh transmisi ilahi yang mengalir dari takhta di surga ke-pada gereja-gereja di bumi ini. Semakin saya melayani ge-reja-gereja, saya semakin tersuplai dan menikmati perhen-tian. Ada sesuatu dari surga yang ditransmisikan ke dalam roh saya.

LUPAKAN PERKARA MILIK BUMI

Dalam 3:1-2 Paulus mengatakan kepada kita bahwa kita tidak saja mencari hal-hal yang di atas, tetapi juga memikirkan hal-hal itu. Ini berarti kita perlu melupakan hal-hal milik bumi: kebudayaan, agama, filsafat, dan keba-jikan-kebajikan insani alamiah. Sebaliknya, marilah kita mengarahkan pandangan kita ke surga dan memikirkan hal-hal yang di atas, yang ajaib dan terbaik. Inilah hal-hal yang dapat membuat kita berubah, sebab hal-hal tersebut mentransmisikan unsur surgawi ke dalam kita. Marilah kita belajar membuka roh dan seluruh diri kita kepada surga dan membuka “tombol” atau “saklar”, agar transmisi dari pusat pembangkit listrik ilahi itu dapat mengalir tan-pa henti ke dalam kita. Jangan mau diselewengkan oleh agama, filsafat, atau hal-hal lainnya. Fokuskanlah perhati-an Anda kepada hal-hal yang di atas dan tetaplah terbuka kepada pusat pembangkit listrik surgawi ini. Setelah itu kekayaan-kekayaan ministri surgawi Kristus akan ditrans-misikan ke dalam Anda, dan Anda akan ditransformasi ser-ta disusun oleh Kristus.