← Daftar isi Kolose (2) · bab 13/21

MATI BERSAMA KRISTUS, TERLEPAS DARI UNSUR-UNSUR DUNIA, DAN BANGKIT BERSAMA KRISTUS, HIDUP

BERSAMA-NYA DI DALAM ALLAH

Pembacaan Alkitab: Kol. 2:20-23; 3:1-3; 2:11-12

Dalam pasal 2 Paulus mengatakan bahwa Kristus ada-lah rahasia Allah dan di dalam Dia tersembunyi segala har-ta hikmat dan pengetahuan. Sekarang karena kita telah me-nerima Kristus yang demikian, kita harus berperilaku di dalam Dia, berakar di dalam Dia, dan dibangun di dalam Dia. Berperilaku di dalam Kristus berarti menempuh kehi-dupan di dalam Dia. Dalam Kolose 2:9-10 Paulus selanjut-nya mengatakan bahwa di dalam Kristus berdiam secara jasmaniah segala kepenuhan ke-Allahan, dan di dalam Dia kita telah dipenuhi. Dalam Kristus kita telah lengkap, sem-purna, tersuplai, dan puas. Tidak hanya demikian, di dalam Kristus kita telah disunat bukan dengan sunat yang dila-kukan oleh manusia, kita telah dikubur bersama Dia dalam baptisan, dan telah dibangkitkan juga bersama-sama di dalam Dia (ayat 11-12). Menurut ayat 14-15, surat hutang dengan ketentuan-ketentuan yang mengancam kita telah di-hapus, dan pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa telah dilucuti. Semua hal ini adalah benar di dalam Kristus.

BERAKAR DALAM KRISTUS

SEBAGAI TANAH YANG KAYA

Semua hal yang disebut di atas merupakan unsur-un-sur Kristus sebagai tanah yang kaya, yang di dalamnya kita berakar. Unsur pertama dari tanah ini ialah kepenuhan ke-Allahan. Unsur lainnya mencakup sunat, penguburan, ke-bangkitan, penghapusan ketentuan-ketentuan, dan pelucut-an penguasa-penguasa kegelapan. Karena kita telah berakar di dalam Kristus, kita sekarang boleh menyerap segala un-sur yang kaya ini ke dalam diri kita.

Dalam pandangan Allah, kaum beriman dapat diseru-pakan sebagai tumbuh-tumbuhan. Itulah sebabnya Paulus dapat berkata, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan” (1 Kor. 3:6). Paulus juga mengatakan bahwa kita adalah ladang Allah, tanah garapan Allah (1 Kor. 3:9). Kita telah ditanam dalam Kristus. Dialah tanah permai yang sangat kaya.

MENIKMATI KRISTUS

AGAR MEMILIKI PERASAAN TUBUH

Ayat 16-19 membentuk satu bagian yang berbeda dalam Kolose 2. Hal-hal dalam ayat 16: makan, minum, hari raya, bulan baru, dan hari Sabat, semua adalah bayangan, dan Kristus adalah realitas, hakikatnya. “Apa yang harus datang” adalah hal-hal yang berkaitan dengan Kristus. Da-lam ayat 18-19 Paulus mengatakan tentang jangan biarkan pahala kita digagalkan dan tentang berpegang teguh kepada Kepala. Kita telah menunjukkan bahwa menurut pengalaman dan prakteknya, berpegang teguh kepada Kepala adalah me-nikmati Kristus sebagai realitas segala hal yang positif. Hasil dari berpegang teguh kepada Kepala yang demikian ini ialah memiliki perasaan akan Tubuh. Apa pun yang kita nikmati dari Kristus berkaitan dengan Dia sebagai Kepala. Itu sebabnya ketika kita menikmati Kristus, kita betul-be-tul berpegang teguh kepada Kepala. Kita menikmati Kristus sebagai makanan, minuman, hari Sabat, bulan baru, dan hari-hari raya. Tetapi Kristus yang kita nikmati dalam se-mua aspek tersebut adalah Kepala yang membuat kita memiliki perasaan Tubuh. Dia yang kita nikmati ini bukan saja Kristus bagi kita, Ia juga Kepala Tubuh. Sebab itu, ha-sil, akibat dari menikmati Kristus dan berpegang teguh ke-pada Dia sebagai Kepala ialah memiliki perasaan akan Tubuh.

DISALIBKAN BERSAMA KRISTUS

Menikmati Kristus, berpegang teguh kepada Dia seba-gai Kepala, berarti menyerap unsur-unsur Kristus yang ka-ya sebagai tanah ke dalam kita. Dua dari unsur ini adalah pengalaman mati bersama Kristus dan dibangkitkan bersa-ma Dia. Dalam Kolose 2:20 Paulus menunjukkan bahwa kita telah “mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari unsur-unsur dunia” dan dalam Kolose 3:1 dia mengatakan bahwa kita “telah dibangkitkan bersama dengan Kristus”. Perjanjian Baru mengatakan dengan jelas bahwa kita telah disalibkan bersama dengan Kristus (Rm. 6:6; Gal. 2:20). Pada waktu saya masih muda, saya berusaha sekuat te-naga untuk memahami kebenaran ini. Bagaimana kita da-pat mati bersama dengan Kristus sedangkan Dia tersalib lebih dari sembilan belas abad yang lalu? Beberapa buku menunjukkan bahwa sewaktu Kristus tersalib, Dia pun mencakup kita. Saudara Watchman Nee dengan Ibrani 7 mengilustrasikan hal tersebut. Menurut Ibrani 7:9-10, “. . . dengan perantaraan Abraham telah dipungut juga persepu-luhan dari Lewi yang berhak menerima persepuluhan, se-bab ia masih berada dalam tubuh bapak leluhurnya, ketika Melkisedek menyongsong bapak leluhurnya itu.” Ini berarti sewaktu Abraham mempersembahkan sepersepuluh kepada Melkisedek, maka Lewi, keturunan Abraham, yang masih berada dalam tubuh Abraham, juga mempersembahkan persepuluhan itu. Jika Abraham mati tanpa memiliki anak, Lewi pun mati. Ilustrasi ini membantu saya untuk mema-hami bagaimana kita tercakup dalam Kristus sewaktu Dia disalibkan.

MENGALAMI PENYALIBAN

KITA BERSAMA KRISTUS

Untuk mencari bantuan lebih lanjut dalam memahami fakta penyaliban kita bersama Kristus, saya telah membaca banyak buku yang menganjuri saya untuk menghitung diri saya telah mati. Tetapi, dalam pengalaman saya, cara meng-hitung yang demikian itu tidak manjur. Malah semakin saya menghitung diri saya mati, saya semakin hidup. Ber-tahun-tahun kemudian, mata saya tercelik. Saya nampak bahwa Kristus yang telah disalibkan di kayu salib itu telah menjadi Roh pemberi-hayat dalam kebangkitan. Ketika kita percaya kepada Kristus, Roh pemberi-hayat ini masuk ke dalam roh kita. Sekarang kedua roh ini — Roh Kudus de-ngan roh manusia — menjadi satu (1 Kor. 6:17). Setiap kali kita berseru, “Tuhan Yesus,” Roh pemberi-hayat itu datang. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus adalah nama dan Roh itu adalah persona. Roh itu sebagai persona sekarang ber-ada di dalam roh kita. Apa saja yang dialami-Nya kini men-jadi sejarah kita. Ia telah mengalami penyaliban dan masuk ke dalam kebangkitan. Setelah masuk ke dalam roh kita untuk membuat kita menjadi satu dengan-Nya, Ia membuat pengalaman-pengalaman ini menjadi sejarah kita. Karena itu, di dalam rohlah kita dapat berbagian dalam kematian Kristus di atas salib. Ini bukan masalah menganggap, me-lainkan masalah persatuan, masalah menjadi satu. Ketika Roh itu masuk ke dalam kita dan menjadi satu dengan kita, Roh itu membawa khasiat kematian Kristus bersama-Nya. Sebab itu, melalui Roh majemuk dalam roh kita, kita dapat berbagian dalam kematian Kristus. Dari hari ke hari kita dapat mengalami khasiat kematian Kristus tersebut.

Roh pemberi-hayat yang majemuk adalah suatu mi-numan almuhit yang mengandung banyak unsur. Dengan minum Roh itu, dengan spontan kita akan menerima se-mua unsur yang terkandung dalam Roh itu. Khasiat kema-tian Kristus merupakan salah satu unsur dalam Roh itu. Inilah yang memungkinkan kita untuk mengalami penya-liban Kristus. Selaku Kepala, Kristus hari ini adalah Roh almuhit dalam roh kita. Untuk berpegang teguh kepada Dia sebagai Kepala, kita harus berada di dalam roh.

POHON ANGGUR, TANAH, DAN KEPALA

Dalam Kolose 2 Paulus mengatakan tentang berakar dan berpegang teguh kepada Kepala, dan dalam Yohanes 15 Tuhan Yesus mengatakan tentang tinggal di dalam pokok anggur. Tinggal di dalam pokok anggur sama dengan ber-akar di dalam tanah, dan berakar di dalam tanah sama de-ngan berpegang teguh kepada Kepala. Di satu pihak, Kristus adalah pokok anggur yang di dalam-Nya kita tinggal; di pihak lain, Dia adalah tanah yang di dalam-Nya kita ber-akar. Tetapi Dia juga Kepala. Kristus adalah pokok anggur, tanah, dan Kepala. Kita tinggal di dalam Dia yang adalah pokok anggur, berakar di dalam Dia yang adalah tanah, dan berpegang teguh kepada Dia yang adalah Kepala. Dalam setiap kasus prinsipnya adalah sama: kita menyerap ke-kayaan Kristus ke dalam kita. Sebagai ranting, kita me-nyerap sari hayat dari pokok anggur; sebagai tanaman, kita menyerap kekayaan tanah; dan sebagai anggota Tubuh Kristus, kita menyerap unsur makanan dari Kepala. Me-lalui menyerap kekayaan Kepala, Tubuh akan bertumbuh dengan pertumbuhan Allah (2:19). Seperti telah kita tun-jukkan, kekayaan yang kita serap ini mencakup disalibkan, dikubur, dan dibangkitkan bersama Kristus. Ketika kita berpegang teguh kepada Kristus sebagai Kepala, kita akan menyerap semua unsur ini ke dalam diri kita.

SUATU PENGALAMAN DARI SAAT KE SAAT

Dalam Kolose 2:20 Paulus mengatakan, “Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari un-sur-unsur dunia, mengapa kamu menaklukkan dirimu pada berbagai peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di du-nia?” Kata Yunani yang diterjemahkan “apabila” juga dapat diterjemahkan “karena”. Karena kita telah mati bersama Kristus, kita tidak seharusnya hidup dalam ketaklukan ke-pada peraturan-peraturan. Adalah satu fakta bahwa kita telah mati bersama Kristus. Tetapi walau Kristus telah ma-ti lebih dari seribu sembilan ratus tahun yang lampau, par-tisipasi kita dalam kematian ini terjadi dari waktu ke waktu pada masa kini ketika kita menikmati Kristus, berpegang teguh kepada-Nya sebagai Kepala. Pengalaman kita atas pe-nyaliban Kristus bukan sekali untuk selama-lamanya. Se-baliknya, itu merupakan perkara dari saat ke saat. Boleh jadi kemarin malam Anda mengalami penyaliban Kristus, tetapi hari ini Anda tidak senang terhadap suami atau istri Anda; Anda sengaja turun dari salib untuk berdebat dan membenarkan diri. Anda telah terhasut dan tidak tahan lagi untuk tetap tenang. Kemarin malam Anda memang te-lah mati bersama Kristus, tetapi sekarang Anda sangat hi-dup dalam diri sendiri. Dalam sebuah kidungnya, A. B. Simpson mengatakan, “Mati serta-Nya sungguhlah nyaman” (Kidung no. 365). Kemarin malam, Anda sangat nyaman, te-tapi sekarang Anda tidak mau menetap dalam kematian Kristus. Ini menunjukkan bahwa ketika kita tidak berada dalam roh, kita juga tidak berada dalam pengalaman mati bersama Kristus. Tetapi, bila kita berada dalam roh, kita telah mati bersama Kristus. Begitu kita tidak berada dalam roh, kita berada dalam diri sendiri, hidup menurut hayat alamiah kita. Dari pengalaman kita tahu, bila kita berpe-gang teguh kepada Kristus sebagai Kepala dalam roh, kita akan memiliki pengalaman telah tersalib bersama Dia. Pada saat-saat yang demikian, kita dapat mengumumkan kepada semua orang, bahkan kepada setan, bahwa kita telah mati bersama Kristus.

BERJAGA-JAGA DAN BERDOA

Dalam Kolose 4:2 Paulus mengatakan, “Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah dengan meng-ucap syukur.” Jika ingin tinggal di dalam roh, kita perlu berjaga-jaga dan berdoa, bahkan berdoa tanpa henti (1 Tes. 5:17). Hanya dengan berdoa tanpa henti barulah kita dapat tinggal di dalam roh. Beberapa tahun yang lalu saya tidak begitu mengapresiasi perkataan Tuhan tentang berjaga-jaga dan berdoa (Mat. 26:41). Tetapi pada tahun-tahun belakang-an ini saya menyadari pentingnya perkataan ini. Kita perlu berjaga-jaga entah kita berada di dalam roh atau tidak, dan berdoa agar kita dapat terpelihara di dalam roh. Apakah Anda tergoda untuk bersilat lidah dengan suami atau istri Anda? Berjaga-jagalah! Apakah Anda ingin pergi membeli barang tertentu? Berjaga-jagalah untuk melihat apakah Anda berbelanja dalam roh atau dalam daging. Kita perlu senan-tiasa waspada agar kita dapat tinggal di dalam roh terus.

Kita juga perlu berdoa, “Tuhan, berilah aku anugerah perlindungan, supaya aku tetap tinggal di dalam roh. Tuhan, lindungilah aku di dalam roh.” Jika kita menetap di dalam roh, kita akan mengalami kematian Kristus dalam Roh al-muhit yang majemuk itu. Tidaklah perlu kita menghitung-hitung atau percaya bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus. Yang kita perlukan tidak lain ialah tinggal di da-lam roh melalui berjaga-jaga dan berdoa. Di dalam roh kita barulah kita dapat mengalami kematian Kristus, dan dibebaskan dari segala unsur dunia.

TIDAK LAGI TAKLUK

KEPADA UNSUR-UNSUR DUNIA

Menurut Kolose 2:20, kita telah mati bersama Kristus dari unsur-unsur dunia. Unsur-unsur dunia adalah asas-asas dasar dari agama dan filsafat. Baik kaum beriman Ya-hudi maupun Yunani mencoba memasukkan unsur-unsur dunia ke dalam hidup gereja. Kita juga mungkin takluk ke-pada unsur-unsur itu. Dengan tanda sadar, kita mungkin berada di bawah pengaruh latar belakang agama kita. Asas-asas dasar yang kita warisi dari agama adalah unsur-un-sur dunia.

Dalam Kitab Kolose Paulus menyiratkan bahwa apa pun yang kita pegang erat selain Kristus yang kita alami, itulah unsur-unsur dunia. Sebagai contoh, seorang saudari dalam Tuhan mungkin sangat baik, ramah, dan disiplin, bah-kan sebelum diselamatkan ia sudah memiliki karakter yang demikian. Sekarang, karena telah menjadi seorang beriman, ia membawa karakternya ke dalam hidup gereja. Mungkin orang lain sangat mengapresiasi karakternya, tidak menya-dari bahwa itu alamiah. Tetapi, bila saudari ini hidup me-nurut karakter alamiahnya, berarti ia hidup menurut unsur-unsur dunia, bukan menurut Kristus. Saudari lain dalam gereja boleh jadi memiliki karakter yang sangat kasar. Di-banding dengan saudari yang pertama, ia sangat kasar dan tidak disiplin. Tetapi dari hari ke hari ia berlatih untuk ber-jaga-jaga dan berdoa, dan karenanya ia menetap di dalam roh. Perlahan-lahan orang lain melihat suatu perubahan da-lam kehidupannya. Sulit sekali kita melukiskan cara hidup-nya. Tidak sepenuhnya benar kalau mengatakan ia baik, ramah, atau disiplin. Ia tidak hidup menurut unsur-unsur dunia, melainkan menurut Kristus. Antara kehidupan se-macam ini dengan kehidupan yang menurut karakter ala-miah terdapat perbedaan besar sekali. Unsur-unsur dunia memang berguna dalam masyarakat, tetapi dalam gereja sama sekali tidak ada tempat untuk unsur dunia. Bila kita menetap di dalam roh kita, kita akan dengan spontan meng-alami kematian Kristus yang tercakup dalam Roh yang al-muhit. Dalam kematian inilah kita telah mati terhadap un-sur-unsur dunia itu.

Kita perlu nampak bahwa hal-hal seperti kebaikan-ke-baikan alamiah itu tidak lain adalah unsur-unsur dunia. Di bawah terang visi ini, kita bahkan akan membenci kebaik-an-kebaikan kita, sebab itu bukan dari Kristus, melainkan suatu unsur dari dunia. Kemudian kita akan berusaha me-netap di dalam roh kita guna menikmati Kristus dan meng-ambil bagian dalam kematian-Nya. Bahkan kita akan dapat berkata kepada Iblis, “Aku tidak lagi hidup menurut kebaikan alamiah. Iblis, kau telah menipu aku bertahun-tahun, me-nahan aku di bawah unsur-unsur dunia. Sekarang aku nam-pak bahwa di dalam Kristus aku telah mati dari segala un-sur itu. Di dalam roh aku menikmati Kristus, berpegang teguh kepada Kepala, dan mengambil bagian dalam kema-tian-Nya. Dalam kematian inilah aku telah dibebaskan dari unsur-unsur dunia.”

Bila kita berpegang teguh kepada Kepala melalui menetap di dalam roh kita, kita akan menyerap semua unsur yang kaya dari Roh majemuk itu. Satu di antara unsur-un-sur ini ialah kita disalibkan bersama Kristus. Hanya di da-lam roh baru kita benar-benar bebas dari unsur-unsur dunia. Hanya ketika kita di dalam rohlah baru kita dapat meng-umumkan bahwa kita tidak bersangkut-paut dengan aga-ma, filsafat, budaya, atau kebajikan alamiah. Bila kita ber-ada dalam roh, kita dapat membenci semuanya itu, sebab kita mengenal dan mengakui bahwa semua itu duniawi dan bukan berasal dari Kristus. Tidak ada jalan untuk menge-sampingkan unsur-unsur dunia selain kita berada di dalam roh. Jika kita mencoba untuk melakukan ini di luar roh, usaha kita akan sia-sia. Tetapi bila kita tinggal di dalam roh melalui berjaga-jaga dan berdoa, kita akan memiliki peng-alaman mati bersama Kristus terhadap unsur-unsur dunia.

BANGKIT BERSAMA KRISTUS

Prinsip bangkit bersama Kristus juga sama. Jika kita tinggal di dalam roh, kita akan merasa dalam lubuk kita bahwa kita telah diangkat tinggi, yaitu bangkit bersama Kristus. Adakalanya kaum saleh mengatakan keadaan me-reka “tenggelam”. Itu karena kita tidak berada di dalam roh. Bila kita berada di dalam roh, kita sudah dibangkitkan. Tetapi kita tidak mungkin membangkitkan diri sendiri. Se-makin kita mencoba hal itu, kita akan semakin tenggelam. Namun jika kita berpaling ke roh dan berseru kepada nama Tuhan Yesus, kita akan dibangkitkan bersama Kristus.

MEMIKIRKAN HAL-HAL YANG DI ATAS

Dalam Kolose 3:1 Paulus mengatakan, “Karena itu, apabila kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, cari-lah hal-hal yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di se-belah kanan Allah.” Perhatikan bahwa Paulus tidak mengata-kan “hal-hal surgawi”, tetapi “hal-hal yang di atas”. Hal-hal ini adalah hal-hal yang tinggi dan unggul. Namun keba-jikan-kebajikan alamiah kita adalah rendah dan kelas ba-wah. Dalam Kolose 3:2 Paulus melanjutkan, “Pikirkanlah hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi.” Apakah yang dimaksud dengan hal-hal yang di atas? Waktu saya masih kanak-kanak, orang mengajarkan kepada saya bahwa hal-hal yang di atas itu ialah berbagai ciri dari surga: gedung besar, gerbang-gerbang mutiara, dan jalan emas. Namun, jika kita mengikuti prinsip Alkitab menafsirkan Alkitab, kita akan nampak bahwa arti “hal-hal yang di atas” dalam ayat-ayat ini bukan demikian. Menurut Perjanjian Baru, hal-hal yang di atas mencakup kenaikan Kristus, penobat-an-Nya, dan pelantikan-Nya menjadi Kepala, Tuhan, dan Kristus. Dalam Kisah Para Rasul 2:36 Petrus mengatakan bahwa Allah telah membuat Yesus menjadi Tuhan dan Kristus. Dalam Ibrani 2:9 dikatakan bahwa Tuhan Yesus telah dimahkotai dengan kemuliaan dan kehormatan. Da-lam Efesus 1:22 kita nampak bahwa dalam kenaikan-Nya, Kristus telah menjadi Kepala atas segala sesuatu bagi ge-reja. Dalam Wahyu 5:6 kita nampak Kristus sebagai Anak Domba dengan tujuh mata sekarang bertakhta melaksana-kan pemerintahan Allah. Hal-hal inilah yang dimaksud de-ngan hal-hal yang di atas.

Ketika menyurati kaum beriman di Kolose, Paulus berpesan kepada mereka untuk tidak lagi memperhatikan agama Yahudi, ajaran Gnostik, atau pertapaan, sebab semua itu adalah unsur-unsur dunia, hal-hal yang rendah dan kelas bawah. Sebagai orang-orang yang telah dibangkitkan bersama Kristus dan yang sekarang hidup bersama Kristus di dalam Allah, mereka harus mencari hal-hal yang di atas, dan meletakkan pikiran mereka pada hal-hal tersebut. Kristus telah dimahkotai dan dinobatkan; Dia telah dibuat menjadi Tuhan dan Kepala atas segala sesuatu. Dia seka-rang bahkan menjadi Anak Domba yang bermata tujuh yang melaksanakan pemerintahan Allah di alam semesta. Itu se-mua adalah hal-hal yang di atas, yang tinggi, yang unggul, dan kita wajib meletakkan pikiran kita di atas hal-hal ini.

Memikirkan hal-hal yang di atas akan membantu kita untuk mengalami Kristus. Kristus yang dapat kita alami tidak saja sebagai makanan, minuman, hari Sabat, bulan baru, dan hari raya kita. Dia bukan hanya kenikmatan kita tiap hari, tiap pekan, tiap bulan, dan tiap tahun. Dia pun Kristus kita yang dimahkotai dan dinobatkan, Tuhan dan Kepala, yang melaksanakan administrasi pemerintahan Allah. Jika kita memikirkan hal-hal ini, alangkah kayanya kenikmatan kita atas Kristus!

HIDUP DI DALAM ALLAH

Kita dalam gereja-gereja dalam pemulihan Tuhan telah banyak membicarakan kenikmatan atas Kristus. Tetapi kon-sepsi kita tentang menikmati Kristus boleh jadi masih ku-rang tinggi. Menurut konsepsi kita, Kristus adalah makan-an, minuman, pakaian, kendaraan, dan tempat tinggal kita. Sudah tentu semua itu tidak salah. Namun, kenikmatan kita atas Kristus masih perlu ditingkatkan. Kita harus tahu bahwa hayat kita tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah. Ini berarti alam lingkungan kehidupan kita tidak boleh di bumi, tetapi harus di dalam Allah sendiri. Dalam Kolose 3:3 Paulus berkata dengan jelas bahwa hidup kita “tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah”. Paulus tidak mengatakan hidup kita tersembunyi bersama Kristus di surga, sebab jika demikian berarti menekankan sesuatu yang terlalu materi. Dia mengatakan bahwa hidup kita tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah. Bila kita berada di dalam roh, kita telah dibangkitkan dan kita mem-punyai perasaan bahwa kita sekarang berada di dalam Allah, jauh melampaui segala hal, benda, dan manusia. Pada saat demikian, kita hidup di dalam Allah. Tetapi, ketika kita tidak berada di dalam roh, kita merasa bahwa kita tetap tinggal di bumi. Allah itu tinggi, jauh melampaui segala hal, benda, dan manusia, bahkan melampaui surga. Bila kita berada di dalam roh, berarti kita hidup di dalam Allah.

Kita telah nampak bahwa menurut Kolose 2:16-19, me-nikmati Kristus berarti berpegang teguh kepada Dia sebagai Kepala. Bila berpegang teguh kepada Kepala, kita akan me-nyerap segala unsur Kristus yang kaya ke dalam diri kita. Dua unsur di antara kekayaan itu ialah fakta bahwa kita mati bersama Kristus, dan bangkit bersama Dia. Ketika kita menetap di dalam roh sambil berpegang teguh kepada Kepala, kita dapat menyatakan bahwa kita telah mati ter-hadap segala sesuatu yang di luar Kristus. Kita telah mati, telah terlepas dari segala unsur dunia. Kita pun dapat meng-umumkan bahwa kita telah bangkit bersama Kristus, dan sekarang telah tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah. Kita akan mempunyai keberanian untuk bersaksi bahwa alam lingkungan hidup kita bukan bumi, tetapi Allah. Puji Tuhan, kita telah mati, telah terlepas dari segala unsur du-nia, dan telah bangkit serta hidup bersama Kristus di dalam Allah! Beranikah Anda mengatakan Anda sekarang hidup di dalam Allah? Bila Anda berada di dalam roh, Anda akan mempunyai keberanian ini. Tetapi jika Anda berada dalam daging dan hidup di bumi, Anda tidak mempunyai keberani-an tersebut. Hanya bila kita berpegang teguh kepada Kepala melalui tinggal di dalam roh barulah kita mempunyai peng-alaman mati terhadap unsur-unsur dunia, dan bangkit ser-ta hidup bersama Kristus di dalam Allah.