BERPEGANG TEGUH KEPADA KEPALA, YANG DARINYA SELURUH TUBUH BERTUMBUH DENGAN
PERTUMBUHAN ALLAH
Pembacaan Alkitab:
Kol. 2:16-19; 1:18a; 2 Kor. 3:17a; 2 Tim. 4:22a; 1 Kor. 6:17
Kolose 2:18-19 menyatakan, “Janganlah kamu biarkan pahalamu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendah-kan diri dan beribadah kepada malaikat, serta mengagung-agungkan penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan mem-besar-besarkan diri oleh pikiran daging, sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh yang ditopang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, bertumbuh dengan pertumbuhan Allah” (Tl.). Frase “mengagung-agungkan penglihatan-penglihatan”, dan “tidak berpegang teguh kepada Kepala” berkaitan dengan “digagalkan” (ditipu dan dirampas). Jika kita tidak berpe-gang teguh kepada Kepala, melainkan bersandar pada hal-hal yang telah kita lihat, kita akan digagalkan dari pahala kita, yaitu kenikmatan atas Kristus. Jangan biarkan diri kita digagalkan oleh siapa pun yang bersandar pada hal-hal yang telah ia lihat dan tidak berpegang teguh kepada Ke-pala. Begitu kita tidak berpegang teguh kepada Kepala, kita sudah digagalkan dari pahala kita.
MENIKMATI KRISTUS SEBAGAI REALITAS SEGALA HAL YANG POSITIF
Kita perlu memahami melalui pengalaman, apa artinya berpegang teguh kepada Kepala, dan bagaimana berpegang teguh kepada Kepala. Jangan menerima Kolose 2:19 sebagai apa adanya, menganggap kita telah mengetahui apa yang dimaksud dengan berpegang teguh kepada Kepala. Sebalik-nya, kita harus mendalami ayat ini dan bertanya kepada Tuhan apa artinya. Demikian, kita akan menerima terang.
Untuk mengerti dengan tepat apa artinya berpegang teguh kepada Kepala, kita perlu membaca Kolose 2:16-17, di mana Paulus mewahyukan bahwa Kristus adalah wujud, substansi, realitas dari semua bayangan. Makanan, minum-an, hari Sabat, bulan baru, dan hari-hari raya, adalah ba-yangan dari hal-hal yang akan datang, sedang wujud atau realitasnya ialah Kristus. Berdasarkan fakta ini, Paulus memperingatkan kita agar jangan membiarkan siapa pun dengan sengaja menggagalkan pahala kita. Peringatannya dalam Kolose 2:18-19 adalah berdasar pada fakta yang di-wahyukan dalam ayat 16-17, bahwa Kristus adalah realitas segala hal yang positif. Orang-orang yang ingin menggagal-kan kita adalah mereka yang bersandar pada hal-hal yang telah mereka lihat dan yang tidak berpegang teguh kepada Kepala. Jadi, di antara Kristus sebagai wujud semua ba-yangan dan berpegang teguh kepada Kepala terdapat suatu hubungan. Dengan kata lain, Kristus yang menjadi realitas segala hal positif adalah Dia yang menjadi Kepala Tubuh. Jika kita ingin tahu apa artinya berpegang teguh kepada Kepala, kita harus tahu apa itu menikmati Kristus sebagai realitas segala hal yang positif. Tanpa menikmati Kristus sedemikian rupa, kita tidak dapat benar-benar berpegang teguh kepada Dia sebagai Kepala. Dengan latar belakang ini, kita sekarang dapat mengatakan bahwa berpegang te-guh kepada Kepala tidak lain berarti menikmati Kristus sebagai realitas segala hal yang positif.
Kehidupan orang Kristen yang sejati merupakan suatu kehidupan yang menikmati Kristus. Kita perlu menikmati Tuhan sepanjang hari. Kita telah nampak bahwa dalam membicarakan soal makan, minum, hari Sabat, bulan baru, dan hari raya, Paulus mengacu kepada hal-hal kenikmatan tiap hari, tiap pekan, tiap bulan, dan tiap tahun. Sebenar-nya, kita makan dan minum beberapa kali dalam sehari. Dalam ilustrasi yang dipakai Paulus dalam Kolose 2:16, ia membahas seluruh masa kenikmatan atas Kristus, yaitu dari tiap jam hingga tiap tahun. Hal ini menunjukkan bah-wa kita harus menikmati Kristus secara terus-menerus. Ke-tika saya minum segelas air, saya harus ingat untuk memi-num Kristus. Ketika saya memakan makanan, saya harus menikmati Kristus sebagai makanan yang sejati. Setiap kali kita menikmati Kristus sedemikian rupa, kita dengan oto-matis berpegang teguh kepada Kristus sebagai Kepala. Jadi, cara yang terbaik untuk berpegang teguh kepada Kepala ialah menikmati Dia. Tidak ada cara yang lebih baik untuk berpegang teguh kepada Kristus selain memakan Dia. Seperti halnya kita memegang makanan melalui menerimanya ke dalam kita dan memakannya, kita pun berpegang kepada Kristus melalui memakan Dia.
Dalam Kolose 2:16-19, Paulus membuat suatu loncatan yang besar, dari Kristus sebagai segala sesuatu untuk kita nikmati, yang berada di tingkat pertama, kepada Kristus sebagai Kepala, yang merupakan tingkat tertinggi dari peng-alaman kita. Ketika kita menikmati Kristus sebagai ma-kanan, minuman, udara, dan segala sesuatu kita, kita akan diangkat oleh sebuah lift ilahi ke tempat yang tinggi, di mana kita berpegang teguh kepada Kristus sebagai Kepala. Tetapi jika kita berhenti menikmati Kristus, dengan segera kita berhenti berpegang teguh kepada-Nya sebagai Kepala. Bila kita menikmati Dia barulah kita juga berpegang teguh kepada-Nya. Ini bukan suatu doktrin yang diajarkan dari buku-buku teologi, melainkan fakta pengalaman orang Kristen. Dari pengalaman saya selama bertahun-tahun, saya telah memahami bahwa berpegang teguh kepada Kepala berarti menikmati Kristus secara terus-menerus. Kita ada-lah wadah yang dibuat untuk menampung Dia, dan kita ber-pegang kepada-Nya melalui makan, minum, dan menghirup Dia. Dengan ini kita nampak bahwa berpegang kepada Kristus sebagai Kepala adalah satu hal yang sangat subyektif.
PERASAAN TERHADAP TUBUH
Dalam Kolose 2:17 Paulus mengatakan bahwa wujudnya adalah Kristus, tetapi dalam ayat 19 dia tidak berbicara mengenai Kristus, melainkan mengenai berpegang kepada Kepala. Alasan pertukaran istilah dari Kristus ke Kepala ialah karena kenikmatan kita atas Tuhan menye-babkan kita memiliki perasaan terhadap Tubuh. Kalau kita adalah orang yang menikmati Kristus terus-menerus, kita tidak akan menjadi orang yang individualistis. Kaum saleh yang individualistis adalah mereka yang tidak menikmati Tuhan dengan konsisten. Semakin menikmati Kristus, kita akan semakin memiliki perasaan terhadap Tubuh. Kita ha-rus menjamah Tuhan pada pagi hari, tetapi pada malam hari kita harus mengikuti sidang-sidang gereja. Tidaklah normal kalau kita menikmati Tuhan pada siang hari saja, tetapi mengabaikan sidang-sidang gereja, yaitu Tubuh-Nya. Sekalipun lingkungan Anda tidak mengizinkan Anda untuk menghadiri setiap sidang, di dalam Anda harus merasa bahwa segenap insan batiniah Anda beserta dengan kaum saleh dalam sidang-sidang gereja. Perasaan terhadap Tubuh ini berasal dari kenikmatan atas Kristus.
Kenikmatan kita atas Kristus hari demi hari sebenarnya berasal dari Dia sebagai Kepala. Inilah alasannya, ketika kita menikmati Kristus, Dia membuat kita memiliki perasaan terhadap Tubuh. Menurut pengalaman kita, kita tahu bahwa semakin menikmati Kristus, kedambaan kita terhadap Tubuh semakin kuat. Namun, kalau kita tidak berkontak dengan Tuhan sejangka waktu, dengan otomatis kita akan mengabaikan hidup gereja atau kehilangan selera terhadap bersidang. Semakin sedikit berkontak dengan Tuhan, semakin banyaklah kritikan kita terhadap gereja atau kaum saleh. Kita akan memperhatikan kesalahan atau kelemahan orang lain. Kekurangan kenikmatan atas Kristus ini akan membukakan pintu bagi musuh. Iblis akan masuk dan menyuruh kita mengkritik anggota yang lain dari Tubuh. Tetapi jika kita mulai lagi menikmati Tuhan, pintu itu akan tertutup sedikit demi sedikit. Akhirnya, jika kita te-kun dalam menikmati Kristus, pintu itu akan tertutup sama sekali. Kemudian, kita tidak lagi mengkritik gereja, melain-kan akan memuji Tuhan karena hidup gereja, dan kita akan bersaksi, betapa kita mengasihi hidup gereja. Yang membawa perubahan seperti ini bukanlah nasihat atau ko-reksi, melainkan terpulihnya kenikmatan atas Kristus.
Dia yang mustika dan terkasih, yang kita nikmati se-bagai makanan, minuman, dan napas kita ini tidak lain Ke-pala Tubuh. Karena Paulus mempunyai suatu pengenalan yang menyeluruh atas hal ini, maka dia dapat meloncat dari Kristus sebagai realitas dari segala hal positif bagi ke-nikmatan kita ke masalah Kristus sebagai Kepala. Karena Kristus yang kita nikmati sebagai segala sesuatu adalah Kepala Tubuh, maka semakin menikmati Dia, kita semakin memiliki perasaan terhadap Tubuh. Ini menunjukkan bah-wa kenikmatan atas Kristus bukanlah masalah individual, melainkan masalah Tubuh. Kita perlu menikmati Kristus sebagai anggota-anggota Tubuh secara korporat.
MENGASIHI SETIAP ANGGOTA TUBUH
Dalam Kolose 2:19 Paulus mengatakan tentang “seluruh Tubuh”. Kenikmatan atas Kristus memelihara kita bersatu sebagai anggota-anggota Tubuh. Semakin menikmati Kristus, kita akan semakin mengasihi anggota yang lain dari Tubuh. Kenikmatan atas Kristus membuat kita mengasihi setiap orang dalam hidup gereja. Bahkan mereka yang kita rasa sukar untuk dikasihi juga menjadi manis dan mustika bagi kita. Akan tetapi, jika kita tidak senan-tiasa menikmati Kristus, kita akan merendahkan orang-orang tertentu dalam gereja. Sebenarnya gereja dan para orang beriman tetap sama, yang berubah hanyalah sikap kita sendiri. Tetapi jika ada yang menyuplaikan Kristus kepada kita, dan kita mulai menikmati Kristus lagi, setiap anggota Tubuh akan menjadi manis dan patut dikasihi. Kita akan memiliki perasaan yang menyenangkan bahwa sebagai ang-gota Tubuh, kita mengasihi semua anggota lainnya.
Kenikmatan atas Kristuslah yang membuat Dia men-jadi Kepala dalam pengalaman kita. Kristus tidak mungkin menjadi Kepala kita secara subyektif dalam pengalaman kita jika kita tidak menikmati Dia. Boleh jadi orang mem-beri tahu Anda berulang-ulang bahwa Kristus adalah Kepa-la Tubuh, tetapi Anda tidak mempunyai perasaan apa-apa atas Dia sebagai Kepala, kecuali jika Anda menikmati Dia secara teratur. Semakin menikmati Kristus, Anda akan se-makin memahami dalam pengalaman Anda bahwa Kristus yang Anda nikmati adalah Kepala Tubuh. Pemahaman ini akan membuat Anda memiliki perasaan terhadap tubuh, dan membuat Anda mengasihi semua anggota Tubuh.
DIBAWA KE DALAM KEBANGKITAN
Dalam Kolose 1:18 Paulus mengatakan, “Dialah Kepala Tubuh, yaitu jemaat. Dialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati.” Fakta bahwa Kristus adalah yang pertama bangkit dari antara orang mati menunjuk-kan bahwa Dia adalah Kepala Tubuh di dalam kebangkitan. Sebelum kebangkitan-Nya, Kristus belum menjadi Kepala Tubuh. Efesus 1 menunjukkan bahwa setelah bangkit dan naik ke surga, Kristus dijadikan Kepala atas segala sesuatu bagi gereja. Jadi kekepalaan Kristus berada dalam kebangkitan.
Karena kekepalaan Kristus berada dalam kebangkitan, maka kenikmatan atas Kristus dengan sendirinya memba-wa kita ke dalam kebangkitan, dan menyelamatkan kita dari manusia alamiah kita. Kita semua alamiah. Jika kita tidak dibawa ke dalam kebangkitan melalui menikmati Kristus, kita akan tetap berada dalam pribadi alamiah kita. Puji Tuhan bahwa kenikmatan atas Kristus membawa kita ke dalam kebangkitan! Semakin banyak kita menikmati Dia, semakin berkuranglah alamiah kita. Sekali lagi, ini bukan satu doktrin belaka, melainkan satu fakta dari peng-alaman orang Kristen.
DIBAWA KE DALAM SURGA
Kenikmatan atas Kristus juga membawa kita ke dalam kenaikan ke surga. Semakin kita menikmati Dia, kita akan semakin berada di surga dalam pengalaman. Ini berarti melalui menikmati Kristus kita akan semakin surgawi. Kita bukan hanya tidak lagi alamiah, tetapi juga tidak lagi duniawi. Kenikmatan atas Kristus membuat kita menjadi orang yang berada dalam kebangkitan dan kenaikan ke sur-ga. Semakin kita menikmati Kristus, kita semakin berada di surga. Sebab itu, berpegang teguh kepada Kristus seba-gai Kepala berarti berada dalam surga di dalam pengalam-an kita. Mengatakan berada di surga berarti berpegang teguh kepada Kepala, ini juga benar. Dalam pengalaman, berpegang teguh kepada Kepala dan berada di dalam surga merupakan satu hal yang sama.
Jika dalam pengalaman kita, kita mengesampingkan Kristus untuk sementara waktu dan tidak terus-menerus berpegang teguh kepada Dia selaku Kepala, kita akan me-rasa diri kita menjadi duniawi. Sebagai contoh, bila seorang saudari tidak berpegang teguh kepada Kristus sebagai Ke-pala dalam masalah berbelanja, maka setidak-tidaknya un-tuk sementara waktu, selama ia berbelanja, ia telah menge-sampingkan Kepala.
Demikian pula dalam kehidupan pernikahan kita. Keti-ka seorang suami atau istri bercekcok, mereka tentu tidak berada di surga dalam pengalaman mereka. Setidak-tidak-nya mereka adalah duniawi, sebab ketika mereka berban-tah-bantah, mereka tidak berpegang teguh kepada Kristus sebagai Kepala. Setiap kali kita duniawi, kita tidak berpe-gang teguh kepada Kepala. Tetapi jika dalam kehidupan pernikahan kita menikmati Kristus secara konstan, kita akan berpegang teguh kepada Dia sebagai Kepala, dan ber-ada di surga dalam pengalaman kita. Maka kita akan men-jadi orang yang surgawi. Tidak ada apa pun yang dapat me-nyeret kita dari surga ke bumi. Sayang sekali, dalam pengalaman kita, kita cepat sekali merosot ke bawah. Bah-kan sepatah kata atau sebuah wajah yang kurang manis saja dapat membuat kita jatuh dari surga ke bumi. Begitu cepatnya dalam kehidupan sehari-hari kita berhenti berpe-gang teguh kepada Kepala!
Menurut Kolose 3:1-4, kehidupan kita seharusnya ada di surga, di mana takhta Allah berada. Di satu pihak, Kristus sebagai Kepala kita di dalam roh kita; di pihak lain, Dia berada di surga, bukan di bumi. Hanya bila kita berada di surga barulah kita berpegang teguh kepada Dia sebagai Kepala. Menikmati Kristus berarti berpegang teguh kepada Kepala, dan berpegang teguh kepada Kepala berarti berada di surga.
PERLUNYA KITA BERADA DI DALAM ROH
Dalam pengalaman, bagaimana kita dapat berada di surga? Kita dapat mengalami berada di surga hanya mela-lui menikmati Kristus, Sang Kepala, sebagai Roh pemberi-hayat di dalam roh kita. Dua Korintus 3:17 mengatakan, “Kini Tuhan adalah Roh itu” (Tl.). Jika Kristus hanya seba-gai Kepala dan bukan sebagai Roh itu, mustahillah kita berkontak dengan Dia atau berpegang teguh kepada Dia da-lam pengalaman kita. Meskipun posisi Kristus adalah Ke-pala, dalam pengalaman kita Dia adalah Roh pemberi-hayat. Menurut 2 Timotius 4:22, Tuhan, yang adalah Roh itu kini menyertai roh kita. Alangkah ajaibnya! Di surga, Kristus adalah Kepala, tetapi di dalam roh kita, Dia adalah Roh itu. Sebab itu, berpegang teguh kepada Kristus sebagai Kepala tidak saja berarti menikmati Dia dan berada di surga, te-tapi juga berarti di dalam roh kita. Jika kita ingin berpe-gang teguh kepada Kepala, kita harus berada di dalam roh.
Dalam Kolose 2:18 Paulus memakai ungkapan “membe-sar-besarkan diri oleh pikiran daging” (Tl.). Pikiran adalah bagian dari jiwa, dan daging berkaitan dengan tubuh jas-mani. Siapa saja yang membesar-besarkan diri oleh pikiran dagingnya berarti tidak berpegang teguh kepada Kristus sebagai Kepala, sebab ia berada dalam pikirannya yang bersi-fat karnal, tidak berada dalam roh. Setiap kali kita berada di dalam pikiran atau daging, itu berarti kita tidak berpegang teguh kepada Kepala. Tetapi sewaktu kita berpaling dari da-ging dan pikiran kepada roh, dengan otomatis kita berpegang teguh kepada Kristus sebagai Kepala. Kalau kita berputar-putar di dalam pikiran daging kita, kita akan mustahil men-jamah Kristus atau berpegang teguh kepada-Nya. Tetapi jika kita berpaling kepada roh, kita akan berpegang teguh kepada Kepala, yaitu Roh pemberi-hayat dalam roh kita.
Kita telah nampak bahwa berpegang teguh kepada Kristus sebagai Kepala mencakup tiga hal. Untuk berpe-gang teguh kepada Kepala kita harus menikmati Kristus, kita harus berada di surga, dan kita harus berada dalam roh kita. Dari pengalaman kita mengetahui bahwa ketiga hal ini terjadi serentak. Bila kita menikmati Kristus, kita berada di surga dan di dalam roh kita, bukan di dalam pi-kiran atau daging kita. Berada di dalam roh dalam penga-laman berarti berada di dalam surga tingkat ketiga. Menurut Alkitab, tempat yang maha kudus berada di surga tingkat ketiga juga di dalam roh kita. Bila kita berpaling ke roh, kita berada di surga menikmati Tuhan. Inilah jalan untuk berpegang teguh kepada Kepala.
MENYERAP KEKAYAAN KRISTUS
BAGI PERTUMBUHAN TUBUH
Ketika kita menikmati Kristus dan berpegang teguh kepada-Nya sebagai Kepala, kita menyerap kekayaan-Nya. Menurut Kolose 2:19, ada sesuatu yang keluar dari Kepala yang membuat Tubuh bertumbuh dengan pertumbuhan Allah. Ketika kita menikmati Kristus dalam surga dan da-lam roh kita, kita akan berpegang teguh kepada Kepala dan menyerap kekayaan-Nya. Kemudian dari Kepala akan ke-luar sesuatu yang menghasilkan pertumbuhan Allah di da-lam kita. Ini berarti lebih banyak unsur Allah bertambah ke dalam diri kita dan karenanya bertambah pula ke dalam Tubuh. Ini menyebabkan Tubuh bertumbuh dengan pertum-buhan, pertambahan Allah.
Kalau kita berpegang teguh kepada Kepala, kita akan menyerap kekayaan Kristus yang alwasi dan almuhit. Ke-kayaan ini adalah unsur-unsur Allah; unsur-unsur yang keluar dari Kepala, dan yang menjadi pertambahan Allah di dalam kita, sehingga Tubuh itu bertumbuh. Pada akhir-nya, Tubuh akan menjadi satu manusia baru yang di da-lamnya Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Karena Kristus adalah unsur pokok yang unik dari manusia baru ini, Dia adalah setiap anggota dari manusia baru, dan di dalam setiap anggota.
Berpegang teguh kepada Kristus sebagai Kepala berarti menikmati Dia secara terus-menerus, berada di surga, dan menetap di dalam roh kita. Melalui berpegang teguh kepada Kristus sebagai Kepala, kita akan memiliki perasaan ter-hadap Tubuh. Dengan mengalami kehidupan tubuh, kita akan menyerap kekayaan yang keluar dari Kepala. Keka-yaan tersebut adalah unsur-unsur Allah yang menjadi per-tambahan Allah dalam tiap anggota Tubuh, sehingga seluruh Tubuh bertumbuh. Sebab itu, pertumbuhan Tubuh merupa-kan hasil dari menikmati Kristus, berpegang teguh kepada Dia sebagai Kepala, dan menyerap kekayaan-Nya.